CHAPTER 6

Kim Kibum menjeblak pintu kamar Kyuhyun dengan tergesa-gesa. Ia menggenggam ponsel di tangan kirinya dan menyalakan lampu senternya. Kamar Kyuhyun gelap gulita, tapi matanya bisa menangkap sosok sepupunya itu yang meringkuk di atas ranjangnya.

Kim Kibum menghampiri ranjang Kyuhyun dengan hati-hati. Alas sandal rumahnya menginjak serpihan-serpihan kaca yang meninggalkan bunyi derak kasar. Kibum mengarahkan ponselnya ke arah Kyuhyun. Sepupunya itu meringkuk di atas ranjang dan kepalanya berada di antara siku-siku tangannya. Rambut dan kasurnya penuh dengan serpihan-serpihan kaca.

"Kyu, Kyuhyun!" panggil Kibum sambil menggoncang bahu Kyuhyun dengan cukup keras.

Kyuhyun masih tetap dengan posisinya semula. Kibum sangat cemas karena sepupunya itu hanya terdiam tak tak bergerak sama sekali. Kibum mengguncang tubuh Kyuhyun lebih keras dan menepuk-nepuk pipinya. Untunglah tak lama berselang Kibum bisa mendengar kalau sepupunya itu mulai menggumam lalu terisak pelan.

"Kau tak apa-apa?" tanya Kibum khawatir.

Hanya ada mereka berdua di rumah dengan asisiten rumah tangga yang tidur di kamar bawah. Orang tua Kyuhyun tidak pulang malam ini karena masih harus menyelesaikan pekerjaan masing-masing.

Kibum menarik tangan Kyuhyun yang menutupi wajahnya. Tangan Kyuhyun amat dingin dan gemetaran. Kyuhyun mendongakkan kepalanya dan memperlihatkan wajahnya yang pucat pasi dan basah oleh keringat dan air mata pada Kibum.

"Kau bisa berdiri?" tanya Kibum hati-hati.

Kibum mencari sandal rumah Kyuhyun yang biasanya ada di dekat ranjang. Kibum menemukannya dan meletakkannya di lantai kamar dekat dengan kaki Kyuhyun karena banyak pecahan kaca berserakan.

Kibum juga membersihkan pecahan kaca yang ada di rambut dan tubuh Kyuhyun. Dengan hati-hati Kibum melakukannya karena ia tak ingin melukai kulit Kyuhyun. Butuh waktu yang agak lama karena rambut Kyuhyun yang tebal membuat Kibum kesulitan membersihkan remahan kaca.

"Ayo, berdiri, kita ke kamarku!" ajak Kibum sambil menarik tangan Kyuhyun.

Kyuhyun menuruti ajakan Kibum itu. Ia memaksa kakinya yang kaku dan gemetaran agar mau diajaknya untuk menopang tubuhnya. Kyuhyun juga tak membantah saat Kibum menuntunnya menuju kamar Kibum. Ia tak punya pilihan lain. Selama ini Kyuhyun paling anti memasuki kamar Kibum yang bernuansa hitam putih. Terlihat sangat monoton dan membosankan menurut Kyuhyun.

"Tunggu di sini sebentar! Aku harus menelepon perusahaan penerangan supaya listrik bisa menyala lagi. Hanya rumah kita yang mati lampu, rumah tetangga baik-baik saja," ucap Kibum setelah Kyuhyun duduk tenang di ranjang Kibum.

Kibum akan melangkah meninggalkan Kyuhyun saat ujung bajunya ditarik oleh sepupunya itu. Kibum menoleh dan mengernyit heran apalagi saat dilihatnya wajah sepupunya itu semakin pucat dan nampak ketakutan.

"Aku ikut, aku tidak mau sendirian," cicit Kyuhyun memelas.

"Hanya sebentar. Aku harus menelepon di bawah," kata Kibum.

"Aku ikut. Kamarmu rasanya dingin dan menakutkan," bantah Kyuhyun.

"Hanya lima menit, Kyu. Lagipula gelap sekali di bawah. Kau bisa jatuh dari tangga dengan kakimu yang gemetaran seperti itu," bujuk Kibum.

Kyuhyun menggeleng kuat-kuat. Ia benar-benar tidak mau ditinggal sendirian. Kipas angin yang bergerak sendiri, lampu yang pecah, kegelapan yang tiba-tiba menyelimutinya, dan suara asing yang terdengar berbisik di dekat telinganya membuat Kyuhyun bergidik ngeri. Kyuhyun tidak mau mengalaminya lagi saat Kibum meninggalkannya sendirian.

"Aku harus menelepon petugas penerangan dan juga meminta tolong Bibi Kim untuk membersihkan kamarmu, Kyu. Hanya lima menit, aku janji," kata Kibum lagi.

Kyuhyun menatap Kibum lama. Ia takut, tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka akan menghabiskan malam dalam kegelapan kalau Kibum tidak menelepon pihak yang berwenang.

"Lima menit saja. Aku janji!" bujuk Kibum lagi sambil mengangkat kedua jarinya membantuk huruf V.

Heol, bujuk-membujuk tak pernah ada dalam bayangan Kibum. Apalagi harus membujuk bocah besar manja semacam Kyuhyun. Namun, Kibum tak punya pilihan lain. Ia harus memprioritaskan mana yang lebih utama meskipun harus melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dilakukannya.

Kibum masih menimbang rayuan macam apa lagi yang harus dilontarkannya pada Kyuhyun. Namun, sebelum itu terjadi, Kibum dapat menarik napas lega, tatkala Kyuhyun akhirnya menganggukkan kepalanya. Anak itu bahkan meraih selimut tebal milik Kibum dan mulai menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut.

Kibum keluar dari kamarnya dengan hati-hati. Ia hampir menjerit kaget saat hampir bertabrakan dengan Bibi Kim di ujung tangga sambil membawa lilin di tangannya.

"Tuan muda Kibum, saya sudah menelepon pihak penerangan. Sebentar lagi mereka ke sini," lapor Bibi Kim pada Kibum.

"Terima kasih, Bibi Kim. Sepertinya lampu kamar Kyuhyun ada yang korsleting dan membuat listrik di rumah kita mati. Besok pagi saja Bibi bersihkan kamar Kyuhyun. Malam ini biar dia tidur di kamarku," kata Kibum.

"Baiklah kalau begitu saya menunggu petugas yang datang di lantai bawah. Anda dapat menemani Kyuhyun-ssi di atas. Kyuhyun-ssi tidak suka kegelapan. Dia pasti merasa takut dan tak bisa tidur," sambung Bibi Kim sebelum turun lagi ke lantai satu.

Kim Kibum berbalik dan menuju kamarnya lagi. Tampaknya, malam ini ia harus merawat bayi besar yang bergelung ketakutan di atas tempat tidurnya.

"Kau sudah menelepon?" tanya Kyuhyun sesaat setelah Kibum menutup pintu kamarnya dan menaruh emergency lamp di atas meja belajarnya.

"Bibi Kim sudah menelepon. Kau tidur saja di sini. Kamarmu masih penuh dengan pecahan kaca," kata Kibum sambil duduk di kursi belajarnya.

Kyuhyun meletakkan kepalanya di atas bantal Kibum. Kamar Kibum sangat terang berkat cahaya emergency lamp yang dipasang Kibum. Ia melihat Kibum yang tampaknya belum mau tidur dan malah membuka bukunya yang setebal kamus.

"Kau tidak tidur, Bum?" tanya Kyuhyun.

"Aku belum mengantuk. Masih jam 11 malam. Aku terbiasa tidur setelah jam 12," jawab Kibum tanpa mengalihkan matanya dari bukunya.

Kyuhyun terdiam. Ia tidur terlentang sambil menatap langit-langit kamar. Kejadian yang baru saja meninpanya benar-benar membuatnya ketakutan luar biasa. Untung saja ada Kibum. Kalau ia hanya sendirian, mungkin ia akan pingsan dan berharap esok pagi ia baru siuman.

"Bum!" panggil Kyuhyun.

"Hmmm," jawab Kibum pendek.

Kyuhyun ragu ingin menceritakan apa yang baru saja dialaminya pada Kibum. Ia juga merasa sangsi apakah yang baru saja didengarnya benar-benar nyata atau hanya ilusi dari ketakutannya.

"Ada apa?" tanya Kibum lalu meletakkan bukunya di atas pangkuannya.

"Uhmm, apa kau pernah mendengar atau melihat sesuatu yang mungkin saja kau ragu apakah kau sebenarnya mendengarnya atau hanya merasa mendengar?" tanya Kyuhyun ragu.

"Huh, apa?" tanya Kibum tak mengerti.

Kyuhyun tak tahu bagaimana harus menceritakan apa yang baru saja dialaminya. Ia tak bisa mendeskripsikannya secara tepat untuk membuat Kibum mengerti.

"Ah, sudahlah, aku juga tak tahu harus bagaimana menceritakannya padamu," kata Kyuhyun kemudian.

Kyuhyun melingkarkan tubuhnya yang rasanya dingin di balik selimut tebal Kibum. Meskipun ia tak pernah menyukai kamar Kibum sebelumnya, namun malam ini ia merasa kamar ini sangat nyaman.

"Bum, aku tidur di sini, ya," pinta Kyuhyun sambil menatap Kibum dengan pandangan memelas.

Kibum mengangguk. Bukankah tadi Kibum juga sudah menyuruh Kyuhyun untuk tidur di sini. Kibum tahu kamar Kyuhyun masih sangat jauh dari kata layak untuk ditempati. Kamarnya masih penuh dengan serpihan kaca yang berserakan.

"Tidurlah! Aku masih harus menunggu petugas yang akan datang untuk membetulkan listrik," sahut Kibum.

"Jangan matikan lampunya! Aku takut," kata Kyuhyun.

Kibum menggumam pelan sebagai jawaban. Ia menatap Kyuhyun yang mulai memejamkan matanya. Semoga saja anak itu tidak bermimpi buruk akibat kejadian barusan.

Kyuhyun masih sangat mengantuk pagi ini. Kepalanya pusing dan matanya terasa perih. Ia tak bisa tidur semalaman. Rasanya baru sekejap ia memejamkan mata, namun Kibum sudah membangunkannya lagi untuk bersiap-siap ke sekolah.

Kamarnya sudah bersih saat Kyuhyun hendak mengambil seragam sekolahnya. Kyuhyun cepat-cepat keluar dari kamarnya karena ngeri. Suara serak yang berbisik memanggil namanya semalam kembali terngiang-ngiang di telinganya dan membuat bulu kuduknya berdiri.

Kyuhyun bahkan rela mandi di kamar mandi yang ada di lantai bawah alih-alih di kamar mandi yang ada di dalam kamarnya sendiri. Ia tak mau ada sosok menyeramkan yang menungguinya ketika sedang mandi.

Pagi ini pun berlalu dengan tenang. Berbeda dengan hari-hari biasa yang penuh dengan kicauan Kyuhyun di pagi hari. Anak itu makan roti panggangnya dalam diam, bahkan begitu jinak saat disuruh Kibum untuk cepat-cepat berangkat.

"Kau tidak apa-apa kan?" tanya Kibum was-was di dalam mobil.

"Aku baik-baik saja," jawab Kyuhyun sambil menyandarkan kepalanya di kursi penumpang.

"Kau yang terlalu diam adalah suatu hal yang mengkhawatirkan," kata Kibum.

"Aku hanya malas bicara," jawab Kyuhyun.

"Itu lebih mencemaskan lagi," sahut Kibum.

"Kau yang banyak bicara juga terdengar menyebalkan, Bum," sindir Kyuhyun sebal.

Tak tahukah Kibum bahwa Kyuhyun baru saja melewati malam yang mencekam. Coba saja Kibum yang mengalaminya, Kyuhyun yakin Kibum tidak akan banyak bicara seperti sekarang.

Tapi, bukannya Kibum yang tak peka. Kibum hanya tak mau sepupunya itu semakin pendiam dan berpikiran yang tidak-tidak. Meskipun seringkali jengkel dengan keributan yang sering dibuat Kyuhyun, tapi Kibum lebih suka Kyuhyun yang cerewet dan suka merajuk.

"Oh, ya, Kyu, kau mau bercerita tentang apa padaku semalam?" tanya Kibum mencoba mengalihkan kekesalan Kyuhyun.

"Kim Kibum, bisa tidak kau tidak mengingatkanku pada kejadian mengerikan semalam?" teriak Kyuhyun jengkel yang sampai membuat sopirnya berjengit kaget.

"Mengerikan? Mengerikan seperti apa?" tanya Kibum ingin tahu.

"Jangan mengajakku bicara lagi! Aku kesal padamu," kata Kyuhyun jengkel.

Kyuhyun sengaja mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil. Ia tidak mau lagi meladeni Kim Kibum. Kibum itu menyebalkan dan sok mau tahu. Kibum itu menjengkelkan dan membuatnya semakin kesal.

Kibum menatap Kyuhyun tapi tak lagi mendesaknya. Ia tahu bukan hal baik memaksa Kyuhyun melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya.

"Tumben kau diam di kelas saat istirahat, Kyu?" sapa seseorang sambil menepuk pundak Kyuhyun.

Kyuhyun mendongak dan ia semakin jengkel saat tahu siapa yang menyapanya. Seseorang sangat tidak ingin dilihatnya.

"Mau apa kau, pengkhianat!" kata Kyuhyun marah.

Orang yang disebut Kyuhyun pengkhianat itu malah menarik kursi yang ada di depan Kyuhyun lalu duduk di situ. Kepala Kyuhyun rasanya makin beruap tatkala orang itu malah tak juga pergi dari hadapannya.

"Kelihatannya kita harus meluruskan masalah ini. Aku tidak mau kesalahpahaman ini sampai berlarut-larut," kata Yesung yang disebut Kyuhyun sebagai pengkhianat.

"Salah paham seperti apa yang kaumaksud?" sembur Kyuhyun jengkel.

Sejak kemarin harinya sudah sangat menyebalkan. Ditambah lagi dengan kejadian semalam membuat hidupnya semakin keruh.

"Well, aku tidak tahu siapa yang mengatakan semua itu padamu. Tapi satu hal yang bisa kupastikan bahwa aku tidak pernah mengatakan hal-hal buruk tentangmu," kata Yesung mencoba menjelaskan.

"Begitukah? Aku tak yakin. Bisa saja kau bermanis-manis seperti sekarang di hadapanku, lalu kau menusukku dari belakang tanpa sepengetahuanku," kata Kyuhyun yang menolak memercayai apa pun yang Yesung katakan.

"Kau boleh tidak percaya padaku, tapi itu yang sebenarnya. Aku juga tidak berharap kau mengerti sekarang, tapi aku sudah mengatakan yang sebenarnya padamu. Mungkin kau bisa mengonfirmasi pada orang yang telah mengatakan semua itu padamu, benarkah aku mengatakan hal-hal buruk tentangmu saat kau tak ada," kata Yesung.

Kyuhyun menatap Yesung, mencoba menelisik anak itu sedang berbohong padanya atau tidak. Yesung memang seperti ember bocor mulutnya, tapi selama ini Kyuhyun tak pernah bermasalah dengannya. Tapi, bisa saja kan Yesung mencoba mencari masalah dengannya melalui cara-cara licik.

Kyuhyun sedang menimbang-nimbang perlunya ia memercayai semua kata-kata Yesung saat serombongan siswi memasuki kelas sambil tertawa-tawa keras. Mata Kyuhyun menangkap sosok orang yang didengarnya tengah membicarakannya kemarin di perpustakaan.

"Ahn Sae Young, aku harus bicara denganmu!" teriak Kyuhyun yang langsung membuat tawa siswi-siswi itu terhenti.

Ahn Sae Young yang dipanggil Kyuhyun pun langsung menatap Kyuhyun horor dan mencekal lengan salah satu kawannya.

"Bi..bicara tentang apa, Kyuhyun-ssi?" tanya Ahn Sae Young tergagap.

Alis Kyuhyun bertaut dan keningnya pun berkerut. Rasanya tak pernah Ahn Sae Young memanggil namannya seformal itu.

"Aku harus bertanya padamu tentang Kim Yesung. Dia pernah bercerita apa tentangku?" tanya Kyuhyun lugas.

"Bercerita tentang apa?" tanya Ahn Sae Young balik bertanya.

"Justru itu yang mau kautanyakan. Kenapa kau malah balik bertanya padaku?" kata Kyuhyun jengkel.

"Yesung tidak pernah bercerita apa-apa padaku. Aku tak begitu kenal dekat dengan orang aneh sepertinya," kata Ahn Sae Young.

"Eh, apa kaubilang? Aku aneh?" kata Yesung tak terima.

Well, ia memang seringkali berbicara dan berbuat di luar dugaan, namun bukan berarti ia aneh.

"Aku pernah mendengarmu berbicara dengan temanmu di perpustakaan tempo hari. Kaubilang Yesung mengatakan bahwa kalian harus hati-hati dengaku kalau tidak ingin menjadi korban berikutnya," kata Kyuhyun.

"Sebentar, sebentar, aku berkata seperti itu?" sela Yesung," tapi kapan?" tanyanya tak mengerti.

"Ah, aku ingat. Kau memang pernah bicara seperti itu. Aku ingat waktu itu kau bicara sendiri ketika Kim Jung Mi jatuh dari tangga. Waktu itu banyak anak yang bergerombol di dekat tangga karena tak berani turun dan mendekati tubuh Kim Jung Mi. Kamu bicara seperti itu dan aku mendengarnya. Kau bilang 'kenapa kecelakaan selalu menimpa gadis-gadis yang tergila-gila pada Kyuhyun?' aku mendengarnya dengan jelas karena saat itu aku berdiri di depanmu," kata Ahn Sae Young.

Mulut Kim Yesung ternganga mendengar ucapan Ahn Sae Youg itu. Waktu itu ia tidak benar-benar ingin menjelek-jelekkan Kyuhyun. Ia hanya sekadar berkomentar untuk dirinya sendiri. Sayangnya ada orang yang tanpa sengaja mendengar gumamannya.

"Tapi kalau dipikir-pikir lagi apa yang kaukatakan itu ada benarnya juga. Sekolah kita tak pernah ada kejadian mengerikan seperti itu sebelumnya. Coba kau hitung sudah ada berapa kejadian mengerikan yang terjadi di sekolah kita dalam waktu hanya beberapa bulan saja? Dan semua itu ada hubungannya denganmu, Kyuhyun-ssi. Para korban itu secara terang-terangan menyukaimu," kata Ahn Sae Young yang membuat semua mata yang ada di dalam kelas saat itu menatap ke arah Cho Kyuhyun.

Kyuhyun menatap belasan pasang mata yang kini memandangnya dengan penuh selidik. Mereka seperti sedang menunggu penjelasan darinya. Astaga, belum cukupkah kesialannya sebelum hari ini? Sekarang mata teman-teman sekelasnya seperti menelanjanginya dan itu membuatnya semakin tersudut.

"Kaupikir aku sengaja membuat keadaan seperti ini. Kaupikir semua itu akulah penyebabnya?" teriak Kyuhyun.

Ia tidak terima kalau ia harus menjadi kambing hitam. Ia tak mau kalau ia yang bertanggung jawab atas semua kecelakaan yang terjadi. Itu semua bukan keinginannya. Itu semua bukan kesalahannya.

Kyuhyun berdiri dan hendak menantang siapa saja yang ingin membuat perkara dengannya. Ia siap meladeni siapa saja yang ingin memperkeruh suasana. Hampir saja ia meluapkan kemarahannya kalau saja tangan Kim Kibum tidak segera menriknya dan menjauh dari kerumunan teman-teman sekelasnya.

Kibum menyeret langkahnya dan tidak menghiraukan Kyuhyun yang mencoba memberontak. Kibum harus bisa paling tidak mendinginkan kepala sepupunya itu sebelum Kyuhyun menyesali apa yang telah diperbuatnya saat ia marah.

Namun sebenarnya bukan hanya untuk alasan itu saja Kim Kibum menyeret Kyuhyun keluar kelas. Ia tak mau sesuatu atau lebih tepatnya seseorang yang berdiri di belakang Ahn Sae Young, yang sejak Kibum memasuki kelas, telah berada di sana sambil menatap tajam Ahn Sae Young akan melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.

TBC

Chapter 6 update lagi dan puji Tuhan tidak keterlaluan molornya seperti chapter terdahulu. Semoga suka dengan chapter ini. Jangan lupa review ya, happy reading.