LOVE GAME

oleh Yuzuriha Kanade

Gundam Seed/SD (c) Sunrise, Bandai.

Romance. Friendship. Hurt/Comfort. AU. OOC. Typo. Pergantian POV. DLDR!


~Bab 00~

Lacus POV

"Mengesalkan! Orang-orang kaya itu selalu saja bersikap sombong!"

Seseorang yang baru saja mengutarakan kekesalan itu adalah sahabatku, namanya Cagalli Hibiki. Hmm, sebenarnya ini pertama kalinya aku melihat dia kesal—Tidak, atau lebih tepatnya; ini pertama kalinya aku melihat dia kesal pada seseorang.

Sejenak aku memerhatikan dirinya yang tengah merajuk sembari menyandarkan diri pada dinding di samping jendela kamar, kemudian aku beranjak dari pinggiran tempat tidur guna menghampirinya.

"Bisa beritahukan kepadaku siapa orang itu? Yang membuatmu kesal?" tanyaku kepadanya.

"Tidak mau!" jawab Cagalli dengan bersungut-sungut. "Ini tidak ada hubungannya denganmu!"

Aku tersenyum lembut menanggapi sikap tak acuhnya. "Tentu saja ada," balasku. "Karena aku adalah teman—"

"Kenapa bisa begitu, Lacus?" dia menyela ucapanku dengan cepat, dan juga menaikkan alis sebelah kanannya. "Kau bukan saudara ataupun pacarnya! Kau tidak ada hubungannya dengan Athrun Zala!"

"Eh?"

"Eh, kah? Oi, oi, kenapa kau seterkejut itu, Lacus Clyne?"

"..."

"Ada apa, kau ini?! Sekarang kau malah bergeming. Dasar aneh! Cih, lebih baik aku kembali ke kelas saja—"

"Tunggu!"

Cagalli benar. Ini aneh!

Aneh sekali. Aku tak mengerti mengapa aku bisa sebegitu terkesiap ketika mendengar Cagalli menyebut nama laki-laki itu, dan, aku juga tak mengerti mengapa kini aku mesti menghentikan langkah Cagalli dengan cara mencengkeram salah satu pergelangan tangannya.

"Kau benar." akhirnya aku melanjutkan ucapanku. "Aku bukanlah saudara ataupun pacar dari laki-laki itu." Itu memang benar.

"Baguslah kalau kau mengerti." Cagalli mengangguk dan melepas paksa pegangan tanganku di pergelangan tangannya. "Kau ingin ikut aku ke kelas?"

Aku menggeleng sejenak. "Tidak. Kau saja. Bukankah setelah ini ada pelajaran olahraga?"

"Pelajaran yang sangat merepotkan itu!" dia mendesah sebal. "Aku akan di kelas saja."

"Aku akan membuat alasan pada sensei kalau kau sedang tidak enak badan."

"Tidak perlu, aku hanya ingin dia menyadari aku membolos."

"Baiklah."

Setelahnya tidak ada percakapan apa pun lagi yang tercipta di antara kami. Aku memerhatikan punggung Cagalli yang perlahan menjauh, yang menghilang ke balik pintu yang menghubungkan kamar asrama dengan koridor.

Syukurlah dia pergi tanpa bertanya lebih jauh. Karena, walaupun aku bukanlah saudara ataupun pacar dari Athrun Zala, sebenarnya...

Aku masih ada hubungannya dengan Athrun Zala.

...

Cagalli POV

Mengesalkan!

Ibarat sebuah kertas; Tipis, sepele, mudah dirobek, diinjak-injak, dibakar, lalu dibuang ke tempat sampah. Memangnya dia berpikir aku ini nggak punya harga diri, apa?

Aku punya harga diri, tentu saja. Semua orang punya harga diri. Tapi, sampai sejauh mana seseorang mampu mempertahankan harga dirinya? Setelah disepelekan dan diremehkan oleh kaum... yah, sialnya, anggap saja kaum barbar.

Oke. Sabar. Mungkin kemarin dia menang, menang dengan bermodalkan mulut pedas nan beracun. Tapi, siapa yang tahu dengan hari ini?

Baiklah, aku memang tidak akan pernah tahu hariku sekarang akan berjalan seperti apa. Tapi aku takkan membiarkan diriku terjebak dalam rasa frustasi hanya karena disepelekan dan diremehkan oleh kaum... yah, sialnya, sekali lagi, anggap saja kaum barbar ber-geng di sekolahku.

Walaupun aku sangat geram.

Kuakui, Athrun Zala memang orang kaya, tampan, cerdas dan populer. Aku? Oke, parasku biasa saja, nggak kaya, nggak populer. Memang apa salahnya menjadi biasa-biasa saja? Hanya karena kemarin aku nggak sengaja menabraknya bukan berarti dia mesti menghinaku jelek plus pamer-pamerin kelebihannya, 'kan? Manusia itu nggak ada yang sempurna!

Hah! Bukan gayaku bila hanya diam bak gadis cengeng ketika menanggapi hinaan dari seseorang! Aku harus melawan arus. Arus dingin yang terpancar dari mata hijau Athrun Zala.

Aku harus melawannya!

...

Normal POV

Selagi seluruh teman-teman sekelasnya tengah berada di lapangan, Cagalli malah malas-malasan di dalam kelas.

Tidak dapat dipungkiri; bahwa sebenarnya olahraga adalah salah satu mata pelajaran yang disukainya.

Tetapi apa alasannya? Kenapa ia kukuh untuk berada di dalam kelas?

Cagalli akui; ia muak melihat kedekatan di antara Shinn Asuka dengan Stellar Loussier saat mereka berada di luar kelas, ia benci melihat tatapan iba yang selalu terpancar dari mata teman-teman sekelasnya saat ia menyadari bahwa Shinn dan Stellar kian hari kian bertambah lengket.

"Aku nggak butuh dikasihani!" celetuk Cagalli tiba-tiba dalam kesunyian ruang kelas.

"Memangnya siapa yang sudi mengasihanimu?"

Seketika Cagalli terkesiap karena mendengar suara seseorang dan langkah kaki dari arah luar kelasnya. Dan di saat pintu kelasnya terbuka, Cagalli segera mendongak—mendapati seorang laki-laki tampan tengah memerhatikan dirinya dengan tatapan serius di ambang pintu. Laki-laki itu memiliki rambut berwarna navy blue, matanya berwarna hijau cemerlang, kulitnya putih pucat dan postur tubuhnya tinggi tegap. Ekspresi yang terlukis di wajahnya sebeku karang es Atlantik. Dia adalah laki-laki yang sejak kemarin siang Cagalli tetapkan menjadi musuh; Athrun Zala.

"Jadi di sini kau rupanya?"

"Ada urusan apa mencariku?" kata Cagalli sekenanya.

"Surat ini darimu, 'kan?" Athrun menyodorkan selembar kertas ke arah Cagalli.

Cagalli menengadah, memandang dengan saksama kertas yang tergoreskan tulisan tangan itu.

Ia tidak mengelak. Benar. Kertas yang kini tengah berada di tangan Athrun merupakan sebuah surat darinya.

Sebenarnya, hingga tadi malam Cagalli tidak berpikiran untuk membalas dendam dengan cara kuno seperti meneror laki-laki itu dengan surat. Ia telah memikirkan rencana super jahil untuk membalas dendam kepada Athrun. Hanya saja, karena keterlambatannya datang ke sekolah tadi pagi, ia sampai lupa membawa alat-alat yang semestinya kini telah ia pasang untuk mengerjai Athrun. Setelahnya, karena waktu yang kelewat mepet, rencana cadangan yang terlintas dipikirannya setelah ia sampai di sekolah hanyalah meneror laki-laki itu dengan sebuah surat yang dimasukkan ke dalam loker.

"Ya, surat itu dariku." Cagalli menguap bosan, terlihat nggak berselera berbicara dengan laki-laki di depannya. Ia bahkan tidak mau repot-repot untuk memandang lama wajah Athrun. "Lalu kau ingin membalas dendam, Preppie?"

Athrun tidak membalas ucapan Cagalli, malah berjalan perlahan mengarah ke arahnya. Cagalli sadar, itu artinya tanda bahaya. Laki-laki itu pasti telah tersinggung oleh kata-kata di dalam suratnya, sehingga dia pasti berniat melakukan suatu hal buruk ke Cagalli.

Untungnya, Cagalli selalu siap mengantisipasi segala kemungkinan terburuk. Kalau Athrun berniat macam-macam, ia tinggal mengeluarkan ramuan sakti yang sebelumnya pernah diberikan Lacus kepadanya. Semprotan merica, pasti bakal membuat Athrun berteriak bila disemprotkan ke mata hijaunya. Karena selalu waspada, Cagalli selalu menyimpan semprotan itu di laci mejanya.

"Kau salah." Athrun berhenti dengan jarak satu meter di hadapan Cagalli, lalu mengulurkan sebelah tangan. "Aku ingin minta maaf."

Cagalli melongo skeptis.

Seorang Athrun Zala yang memiliki harga diri setinggi langit mengatakan minta maaf? Cagalli nggak salah dengar, 'kan? Kalau pun benar, itu artinya kata-kata di dalam suratnya jauh lebih sakti dari semprotan merica buatan Lacus.

Dan untungnya—sekali lagi, Cagalli memiliki kapasitas otak yang jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan cacing merah. Sehingga ia tidak mesti berlama-lama terjebak dalam lamunan kebingungan. Sisi di kedua sudut bibirnya kini berkedut, berusaha menahan senyum. Kini tiap titik-titik sel di dalam otaknya menari-nari memikirkan sebuah ide. Ide cemerlang.

"Nggak semudah itu, Preppie." Cagalli berkata datar. "Nggak semudah itu." Ia meyakinkan laki-laki itu.

"Maafkan sajalah, sialan!" Athrun berkata nyolot, mulai terpancing sikap sok jual mahal Cagalli. "Apa susahnya tinggal bilang 'oke, kumaafkan!'"

"Ada syaratnya."

"Jangan bertingkah," Athrun menggebrak pelan meja di hadapan Cagalli, lalu mencondongkan badan ke arahnya. Wajah keras Athrun kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Cagalli. "Kau pikir meminta maaf itu hal yang mudah?"

"Dan kau pikir memaafkan itu hal yang mudah?"

Checkmate.

"Sialan!" umpat Athrun.

Well, bukan Athrun Zala namanya bila membiarkan dirinya kalah dalam perdebatan. Cagalli menyadari itu.

"Syaratnya nggak yang sulit, kok," kata Cagalli berusaha tetap terlihat tenang.

Athrun mengernyitkan sebelah alis. "Hn?" gumamnya.

Kali ini Cagalli menyeringai. "Cukup menjadi pacarku sampai hari kelulusan."

Sekilas Cagalli dapat melihat ekspresi terkejut di wajah Athrun. Kalau saja tadi pagi ia tidak cepat-cepat pergi dari rumah dan meninggalkan ponselnya, sekarang ia pasti sudah memotret ekspresi langka itu—ekspresi yang jarang tercipta dari wajah seorang Athrun Zala—dan memajangnya di papan mading di dalam gedung utama SMA Archangel.

Athrun mengubah ekspresi wajahnya menjadi serius. "Boleh saja. Tapi aku juga akan menuntut beberapa syarat kepadamu."

"Hn?" gumam Cagalli.

Athrun tersenyum licik. "Setiap pagi sebelum jam pelajaran dimulai, kau harus menungguku di pintu gerbang dan membawakan barang-barangku ke dalam kelas. Saat jam istirahat, kau harus sudah menyiapkan bekal untukku. Lalu saat bel pulang telah berbunyi, kau harus sudah standby di depan kelasku dan kembali membawakan—"

"Jangan bermimpi, Preppie!" Cagalli menyela dengan tergelak. "Jadi kau berniat menjadikan diriku orang tolol yang mau disuruh-suruh seperti itu? Jangan mimpi!"

"Kalau begitu lupakan soal berpacaran."

Cagalli mengangkat kedua bahu, tidak sepenuhnya setuju dengan gagasan melupakan soal berpacaran. "Jujur saja, sebenarnya laki-laki seperti dirimu memang bukanlah tipeku. Karena aku lebih menyukai laki-laki brengsek ketimbang laki-laki yang gaya berpakaiannya kelewat rapi seperti dirimu. Tetapi, tetap saja, aku ingin kau menjadi pacarku."

"Oh?" lirih Athrun. Cagalli sulit menebak artinya. "Jadi kau meremehkan laki-laki seperti diriku?"

Cagalli berniat membalas ucapan Athrun. Tetapi ketika ia hendak mengucapkan sebuah kata, tiba-tiba saja mulut Athrun membungkam mulutnya.

Menyadari Athrun menciumnya, Cagalli seketika membelalakkan kedua matanya. Tetapi Cagalli tidak ingin berlama-lama terjebak dalam keterkejutan, sehingga ia segera menjauhkan tubuh Athrun dengan mendorong pundaknya sekuat tenaga.

"Dasar brengsek!" pekik Cagalli. Ia berdiri bangkit dari kursi dan berjalan mundur dua langkah.

"Nah," Athrun tersenyum penuh kemenangan. "Jadi sekarang aku sudah cukup brengsek untuk dapat diakui sebagai tipemu?"

Cagalli membisu, kehabisan kata-kata. Sialan!

"Kenapa diam, Cagalli?" kata Athrun. Senyum kemenangannya perlahan berubah menjadi senyum mengejek. "Oh, jadi masih belum cukup brengsek, ya? Baiklah, kalau begitu aku akan melakukan hal-hal yang lebih brengsek lagi terhadapmu. Sampai kau mengakui bahwa sebenarnya aku telah mampu untuk dikatakan sebagai tipemu. Bahkan melampauinya."

"Jangan mendekat!" Cagalli memperingatkan Athrun ketika dilihatnya laki-laki itu mulai melangkah mendekatinya.

"Ada apa?" kata Athrun masih dengan tersenyum, terus menggerakkan kedua kakinya. "Sekarang kau mulai merasa ketakutan—"

"Kubilang jangan mendekat!"

Karena tidak tahan mendengar kata-kata mengintimidasi yang terus-menerus terucap dari mulut Athrun, Cagalli mulai merasa jengkel sehingga refleks mengangkat sebelah kakinya dan langsung menendang perut laki-laki itu sekuat tenaga.

Cagalli merasa puas ketika memerhatikan Athrun terlempar mundur hingga beberapa meter. Tetapi, ketika ia mendengar pekik kesakitan yang bergema di seluruh penjuru ruang kelas saat punggung laki-laki itu menabrak kerasnya papan tulis, perasaan bersalah seketika menyelimuti hati dan pikiran Cagalli.

Tanpa berpikir panjang Cagalli segera berlari menghampiri Athrun yang kini tengah terduduk di bawah papan tulis. Ia memegang lengan laki-laki itu dengan khawatir. "Apakah sakit?"

"Tentu saja!" bentak Athrun, menahan diri agar tidak merintih kesakitan. "Apa kau sudah gila, hah?!"

Cagalli tersentak. Benar, ia pasti sudah gila telah menendang laki-laki luar biasa seperti Athrun. Putra dari seorang Kepala Dewan Perwakilan Sekolah yang telah mengintimidasinya, yang mampu mematahkan argumennya dalam sekali perdebatan. Cagalli pasti benar-benar sudah gila berniat melukai laki-laki yang akan menjadi cahaya harapan untuknya di masa depan.

"Kau benar," sahut Cagalli. Sejenak ia mengacak-acak rambutnya, terlihat menyesali perbuatannya tadi kepada Athrun. "Kau benar. Aku pasti sudah gila sempat menolak ciuman dari laki-laki brengsek seperti dirimu. Maafkan aku."

Sesaat setelah mengatakan itu Cagalli segera mendekatkan wajahnya ke wajah Athrun, berniat menempelkan bibirnya ke bibir Athrun. Tetapi Athrun segera menolaknya dengan mendorong pelan pundak gadis itu. "Eh?"

"Sebelumnya kupikir kau cukup berotak sehingga mampu menulis kata-kata indah seperti yang tertera di dalam surat itu." Sejenak Athrun memberi jeda pada ucapannya untuk berdiri dan berjalan ke arah pintu. "Tapi tidak, ternyata kau sama tak berotaknya dengan gadis-gadis teledor di luar sana."

Cagalli mengernyitkan sebelah alisnya, tidak memahami maksud dari ucapan Athrun barusan. Tetapi ia segera mengerti ketika melihat tangan Athrun memutar kunci di lubang pintu kelas dan menutup seluruh jendela dengan korden.

Benar juga. Kenapa Cagalli baru menyadarinya? Kenapa ia baru menyadari bahwa laki-laki itu terlalu mengagumkan, terlalu cerdas sehingga mampu memprediksi segala hal terburuk yang mungkin akan terjadi kalau saja mereka tidak menutup pintu serta jendela? Entah apa jadinya bila ada orang lain mengintip mereka tengah berciuman? Cagalli tidak habis pikir membayangkan akibat dari keteledoran itu.

Tapi, tunggu dulu, pikir Cagalli. Jadi sebelum dia menerima surat itu dia menganggap diriku tidak berotak? Dasar brengsek! rutuk Cagalli lagi-lagi dalam hati. Tetapi ia tidak mampu mengungkapkan rutukan itu secara langsung. Karena sekarang kesadarannya tidak mengijinkannya untuk berdebat. Entah mengapa.

"Walaupun aku tidak mengerti permainan apa yang sedang kau rencanakan ketika memintaku untuk menjadi pacarmu," kata Athrun, yang kembali menghampiri Cagalli di dekat papan tulis. "Tetapi aku akan berbaik hati menuruti keinginanmu, karena kupikir kau gadis yang cukup menarik."

"Apakah itu artinya—" Cagalli hendak membalas ucapan Athrun, tetapi lagi-lagi ucapannya segera terhenti karena tiba-tiba saja Athrun kembali menciumnya. Tetapi anehnya kali ini ia tidak menolak ciuman dari laki-laki itu seperti yang sebelumnya.

"Ya," kata Athrun setelah memisahkan bibirnya dari bibir Cagalli. "Aku mau menjadi pacarmu sampai hari kelulusan."

Cagalli membelalakkan kedua matanya. "K-Kau serius?" tanyanya lirih, terlihat skeptis.

Athrun mengangkat sekilas kedua bahu. "Tergantung."

"Tergantung?" Cagalli menaikkan sebelah alis.

"Tergantung seperti apa responsmu menghadapi permainanku."

Tiba-tiba saja Cagalli tertawa kecil. "Berhentilah bersikap sok, Preppie," katanya. "Sekalipun kau bersedia menjadi pacarku sampai hari kelulusan, tapi itu bukan berarti aku akan memaafkanmu begitu saja."

"Aku tidak peduli lagi." Athrun tersenyum miring. "Aku tidak peduli lagi kau mau memaafkanku atau tidak. Yang terpenting sekarang adalah aku sudah memberi ciuman itu kepadamu—sebagai tanda bahwa aku berjanji akan menjadi pacarmu sampai hari kelulusan."

"Apa kau bersungguh-sungguh?" tanya Cagalli.

"Bukankah sudah kukatakan—"

"Tidak apa-apa, 'kah?" sela Cagalli. "Kau tidak keberatan menjadi pacarku?"

Athrun menghela napas sejenak. "Tenang saja," katanya berusaha meyakinkan Cagalli. "Aku tidak keberatan memiliki status sebagai pacarmu, karena aku hanya akan menganggap semua itu sebagai permainan."

"Permainan, 'kah?" Cagalli mengernyit.

"Asal kau tahu; bukan hanya kau saja yang memiliki rencana, tetapi aku juga—"

"Baiklah, aku mengerti." Cagalli mengangguk memahami. "Itu terserah kau saja ingin menganggapnya seperti apa."

"Hoi, gadis menyebalkan! Dengarkan dulu ketika aku sedang berbicara! Ya, ampun, kenapa kau selalu saja memotong ucapan orang seenakmu, sih?!"

"Apa?"

"Hah, sudahlah! Pokoknya jangan lupa setiap hari saat jam istirahat pertama kau harus sudah menyiapkan bekal untukku—"

"Cih, dasar laki-laki cerewet!"

"Hoi!"

.

.

.

.

.

TBC


Bab 00:

~Ciuman Tanda Dimulainya Permainan~


A/N: Saya hanya ingin membuat fanfic, walaupun ini fanfic lama yang saya remake, tetapi tolong hargai Author dengan tidak mengcopy/memplagiat fic ini^^ Trims!

*Kata Preppie di dalam fic ini dimaknakan untuk seseorang yang terlalu rapi dalam berpenampilan, terlalu disiplin dalam beretiket.

Hmm, penasaran dengan surat yang dikirim Cagalli untuk Athrun? Lihat di bawah!

.

.

.

.

Bila aku mengandaikan dirimu seperti bintang-bintang di langit malam, yang mampu kubayangkan hanyalah seseorang yang begitu berkilau, begitu tinggi, begitu sulit untuk diraih sehingga siapa pun tidak mampu melampauimu.

Tetapi, ketika suatu waktu aku memerhatikan langit malam, kadangkala aku melihat bintang jatuh.

Lalu aku mulai berpikir-pikir; benda langit seterang bintang saja bisa terjatuh tanpa daya, apalagi sekadar manusia sombong seperti dirimu? Pasti jatuhnya akan lebih keras.

Urusanmu denganku masih belum selesai, Preppie,

Salam, CH.