disclaimer

Yang jelas Tetsu-nii bukan hak feto Aku, tapi Akashi sama( plakk) dan kurobas milik Fuji-sensei

.

.

.

Pairing

Akakuro, Aoki, Midotaka, Murahimu

and little bit other pair will be there.

.

.

.

WARNING

BL,typo bertebaran, gaje, OOC, mainstream

DLDR, no flame just fic.

kesamaan cerita,alur, atau de el el, hanya kebetulan semata.

terkadang penyesalan datang disaat yang tidak dibutuhkan. begitu tiba-tiba datang memukul telak relung hati terdalam membuat jiwa nelangsa terkatung-katung. inilah yang dirasakan oleh para S.M (Seme Merana) yang tengah memfokuskan netra mereka Ke berbeda objek observasi yang di tuju.

disebrang kafe yang tengah mereka singgahi terdapat sebuah dessert cafe dengan konsep out dan in door kafe. ah, bukan, jelas bukan kafe itu yang meteka tatap intens melainkan para maid kafe yang tengah melayani pelanggan dengan senyum dan cerah ceria menghias sungging mereka.

Jangan kira mereka adalah para pria hidung blaster yang sedang mengincar calon mangsa. mereka hanya tiga orang yang mencinta namun tersandung kesalahan dimasa lalu yang membuat mereka Tak cukup nyali hanya untuk mendekat.

Akashi, Aomine dan Midorima hanya dapat termenung sambil menjeli pandangan mereka pada entitas dengan raut nihil di definisikan .

"Hhh~ sampai kapan Kita seperti ini" Ujar Aomine yang nampaknya mulai jengah dengan keadaan dan memutuskan untuk jadi yang pertama pemecah bisu yang terlampau menyesakkan.

"Sampai Kau berani berdiri dihadapan Kise nodayo." serta merta Midorima menjawab yang menghasilkan delikan Tak ampuh dari Aomine.

"Secepatnya,..." sahut Akashi yang berhasil mengalihkan perhatian Dua sejawat itu.

"Secepatnya kita akan melakukan pergerakan" lanjutnya tatkala hanya menimbulkan expresi Tak percaya dari Aomine dan Midorima.

"Kau yakin Akashi?" Tanya Aomine ragu atas ujaran yang keluar dari mulut sang iblis merah.

"Kau meragukanku Daiki?" Sarkas Akashi yang dibalas gelengan cepat oleh Aomine yang terlampau ciut dihadapan si boncel.

"Bukannya Aku mau membela Daiki nodayo, tapi apa mereka akan benar - benar menerima , ya bukan berarti Aku tidak percaya diri hanya saja ya Kau tahu." memang dasar si wortel shoutaku itu tsundere maksimal, dalam keadaan seperti ini pun bicaranya berbelit-belit membuat kepala Aomine berkedut kesal sedang Akashi hanya berdecak meremehkan.

"Kita tidak akan pernah tahu sebelum mencoba kan? Aku slalu benar, Dan Aku Tak ingin jika harus disini selamanya tanpa bisa meraih pinguin biru Ku" ujar Akashi yang mendapat tatapan takjub dua sejawat yang tak percaya si iblis merah akan berkata macam itu, namun perkataannya diamini juga oleh Aomine dan Midorima.

Lalu netra mereka kembali Ke entitas objek observasi masing-masing memikirkan cara terampuh untuk hari esok.

"Kuroko - chiiiii, tolong antarkan pesanan cupcakes ini ke meja 12 ssu" Suara cempreng Kise membahana hampir membuat copot jantung seantero pengunjung yang berada di dalam kafe.

Kuroko hanya memasang wajah sedatar papan ujian lalu tanpa suara menghampiri Kise yang tengah celingukan tampak mencari sesuatu.

"Kise-kun"

"duh.. Kuroko-chii Mana ssu" gumam Kise tampak belum menyadari kehadiran si pinguin biru yang janya menghela nafas lalu tanpa permisi mengambil nampan pesanan pelanggan lalu pergi dari sana.

"Hm, sepertinya Kuroko-chii tidak ada ssu, sebaiknya Aku saja yang pergi, Murasaki-chii bisa marah Kalau pelanggannya tidak puas ssu" Kise beranjak untuk mengambil nampan.

"Heeeee, nampannya hilang ssuuuu" kaget Kise histeris tak terkira.

"Kise-kun, nampannya sudah diambil Kuroko kun" Ujar Takao yang tiba-tiba datang disebelah Kise yang masih meratapi nampan ajaibnya

"Heee, benarkah? kapan ?"

"Doumo Kise-kun" si tampang flat datang dengan nampan kosong.

"Kuroko-chii, araaaa kupikir nampanya hilang ssu" sahut Kise sanbil memeluk si baby blue erat membuat Takao meringis prihatin pada Kuroko ywng mendapat pelukan maut Kise .

Ahh ... rasanya baru kemarin mereka menjalin pertemanan erat didasari kesamaan nasib jatuh dari yang namanya menara cinta nan harapan tak bertepi yang remuk tak berbentuk.

Takao ingat, Saat sosok yang dipujanya menolak mentah-mentah, lalu entah kenapa dan mulao dari Mana Ia dan Dua temannya kini bersama membuat benteng rapuh mereka sendiri.

"Takao-kun, daijoubu?" Suara datar Kuroko memecahkan lamunan Takao, dan Takao hanya nyengir dan mengangguk mantap menjawab Kuroko yang masih ada dalam pelukan Kise.

Kise yang masih memeluk Kuroko berhenti lalu menatap Takao intens.

"Yakin ssu? Ne, Kau sehat ssu ? ah, Mau istirahat ssu, neeee Muro-chii Takao-chii..."

"Ne Kise-kun Aku baik-baik saja, hehe" Sela Takao sambil menggaruk ravennya dan tersenyum meyakinkan.

" Ahh, Kalau begitu Aku harus kembali kedapur Ne" Sahut Takao lalu meninggalkan dua orang itu.

"Kise-chin, tolong bawa ini Ke pantry!" Suara Murasakibara memecah keheningan yang sempat tercipta.

"Iya ssuu, Ne Kuroko-chii Aku kedapur dulu ssu" ujat Kise kembalI ceria meninggalkan Kuroko yang termenung dengan wajah flatnya.

Pemuda mungil itu hanya terdiam lalu menghela nafas.

semua terasa normal, tapi...musim dingin ketiga setelah kejadian itu...Akashi-kun...

Tbc or fin?

Araaaaaaaa...

gimana ya, Emh cuman coba-coba sebenernya udah lama juga tapi... Aku gak tau ini hasilnya gimana, I hope this is will be better ...

jadi

give me your sighn , please review this story, no flame , OK?...

#me