choose it! love or to be loved. because just two ways to choose for you, who want to make your love story.

.

.

.

.

.

Takao menghela lelah sambil menumpuk semua berkas pasien yang baru saja melakukan pemeriksaan dan beberapa pasien rawat jalan. lni cukup melelahkan untuk ukuran sebuah klinik yang notabenenya bukanlah sebuah rumah sakit besar. Tapi Ia tidak heran sih melihat latar belakang klinik ini bagaimana mulanya apalagi kalau di lihat latar belakang klinik ini adalah anak cabang rumah sakit besar dengan investors orang terkaya sejepang yang adalah pacar-er mantan pacar- sahabat karib seperjuangannya. Belum lagi title direktur utama rumah sakit yang memiliki Ke famous an seantero jepang sebagai dokter bedah handal dan anaknya yang Sama famous nya itu yang adalah orang yang dicinta -dibencinya-?-.

"Lelah ya?" Takao menoleh sesaat ketika mendengar Suara lembut menyapanya.

"Nana-chan sudah selesai membantu dokter Miya proses melahirkan ya?" Tanya Takao tanpa menjawab pertanyaan sebelumnya dari gadis satu profesi dengannya itu. Gadis itu mengalihkan perhatiannya keseragam scrub suits nya lalu tersenyum jenaka.

"Aku belum sempat berganti pakaian haha" tawa renyah keluar diiringi senyuman Takao. "Takao-kun terlihat tidak bersemangat, lelah ya?" Nanaki mengulang pertanyaannya.

Takao mengerutkan keningnya dan mengghela kasar. "Emh" angguknya. membuat Nanaki mengerucutkan bibirnya.

"Kupikir bekerja dengan Midorima-san, tidak semerepotkan itu" Ujar Nanaki.

Apanya? justru ini lebih dari merepotkan. Bayangkan saja, Dia harus bekerja Sama dengan sang mantan broww, bukan lelah fisik ajaa ini kokoro ikut capek liat doi keliaran di pucuk mata.

"Kau hanya tidak tau saja Nana-chan" Lamat-lamat Takao menjawab. Dan menghebuskan nafas lelah untuk kesekian kalinya.

"Takao-chan, sebenarnya Aku sedang penasaran" Ragu Nanaki tiba-tiba berkata.

"Penasaran? tentang?"

"Takao-kun,"

"Aku?" Takao terpelongo heran. Ia mengamati wajah mungil Nanaki yang kini mengmengangguk dan menatapnya langsung.

"Aku sebenarnya heran melihat mu dan Midorima Sensei" Tukas Nanaki semakin menambah kerutan di kening Takao. Dan tampaknya ekspresi Takao membuat Nanaki kembali melanjutkan rasa penasarannya tanpa ragu kali ini.

"Ah, maksud ku kalian terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang gencatan senjata"

"Apa?!" pekikan Takao nyatanya nyaris membuat Nanaki tersentak kaget. Nanaki terbahak melihat ekspresi Takao yang melongo.

"Bercanda" Ujar Nanaki. entahlah, Ia merasa harus merubah haluan pembicaraan dari serius menjadi candaan. Ia merasa sesuatu tersembunyi antara dokter dan perawat itu. Sedikit informasi yang Ia tahu adalah, bahwa mereka adalah teman Masa remaja labil dulu, selain itu tidak ada informasi lain yang Nanaki bisa kepoin.

Apalagi melihat antipati sikap Takao terhadap dokter magane itu. bukan Tak berminat mengetahui tapi batas privasi jadi principal yang setiap orang-orang kesehatan harus dipatuhi walaupun dalam masalah seperti ini juga.

"Kami tidak punya hubungan apapun, selain dokter dan perawat, atau teman satu sekolahan dulu. no more relationship that I have with him" Ujar Takao. Nanaki mengangguk-anggukan kepalanya berusaha memahami saja.

"Lagi pula, kenapa bisa Kau berkata begitu?" Nanaki merotasikan bola matanya, ketika gerutuan pemuda raven itu masihlah tergumam.

"Aku kan hanya bercanda"

"Ck, tetap sajaaa" Tukas Takao " Banyak orang disini juga berkata begitu"

O,Ouhhh~ ternyata bukan Dia saja tampaknya yang menangkap sinyal aneh diantara keduanya ya? Umhh, memang jelas sih terlihat. Midorima seperti terlihat terus berusaha mengajak berbicara dengan Takao, sedang pemuda itu sendiri malah terlihat dingin sekali menanggapi. Walaupun untuk ukuran sebuah relation antara Dokter dan perawat nya, Takao terlihat begitu dingin.

Tidak dapat dipercaya memang. Takao yang ceria dan mood maker itu bisa bersikap begitu. Aahhh~ Nanaki kemaal sekali sebenarnya. Tapi gimanaaa?.

"Kenapa? Midorima-san kan cukup keren" Tukas Nanaki.

"Keren?" Pekik Takao. Nanaki mengangguk membuat Takao mendengus tak sabar.

"Kau bercanda ya? Yakk! keren Apanyaa? lihatlah, kacamata udiknya ituu, belum lagi barang-barang aneh yang dibawanya. Orang mileneal manaa yang masih percaya lama-eh ramalann?" Nanaki melebarkan bola matanya mendengar cacian Takao barusan. Ia memutar kepalanya mengawasi kalau-kalau adayang dengar.

"Stt.."

"Belum lagi sikap phpnya. Asal Kau tahu saja!" U-uwooww sang perawat tengah curhat tampaknya. Baru saja Nanaki ingin menyela. Tapi bola matanya menangkap entitas surai hijau di belakang mereka tengah menatap terpelongo.

"Kau tidak tahu kan sifat sombong dan tsundere nya itu? Bisa bikin kokoro pataahh" Nanaki ingin membungkam curhatan Takao tapi tak kuasa melihat begitu menggebunya pemuda itu ber-ghibah- ria.

"Emh.." Deheman pertama..

"Dia pikir Dia itu siapa?"

"EMH.." Deheman kedua...

"Dia pikir bisa mempermainkan orang begitu!"

" Ehm, Uhuk, orang itu dibelakang mu nodayo, ehm, ehm uhukk" sepertinya teguran Midorima kini bukan berupa deheman lagi melainkan asma kambuh.

Takao membulatkan matanya sambil menatap Nanaki panik. Yang ditatap malah menunduk dan menggaruk tengkuk.

Takao jelas panik, Wong Dia lagi ghibahin orang eh, orangnya ada di belakangnya. Belum lagi Ia terancam dapat laporan buruk yang berujung pemecatan. Ahh, rasanya ke gep bolos guru bk. Takao memutar kursinya dan langsung berdiri tegap dengan gugup.

"Ehm, ada yang dapat Saya Bantu Midorima-san?" Midorima menatap datar Takao lalu menghela kecil.

"Ikut Aku" Ujar Midorima singkat. Takao kembali menengok Ke arah Nanaki dan memelas ketakutan.

"Resiko Takao-kun." Sahut Nanaki prihatin. Yah.. Mau bagaimana lagi.

Takao pada akhirnya mau tidak mau harus mengekori Midorima dengan hati yang gegana takut kena semprot. Pasalnya tsundere begitu pun Midorima Kalau marah nyeremin, kayak siluman kodok siap nyembur lava -eh, ya ampun malah ngedumel jadinya kan- Takao merutuki batinnya sendiri.

Pintu ruangan ditutup menyisakan desiran aneh dibenak Takao. Ia berbalik mencoba bertanya maksud Midorima. Namun baru saja mulutnya terbuka hendak bertanya, Midorima terlebih dahulu memecah hening.

"Tolong rincian penjelasan semua detail pasien untuk rekap malam. "

" Hah?"

"Tolong rincian penjelasan semua detail pasien untuk rekap malam" Ulang Midorima tanpa menatap Takao dan lebih memilih menatap sebuah x-ray thorax film dengan teliti.

"Ah, Saya sudah menyertakannya dalam riwayat pasien, akan Saya bawa filenya. mohon tunggu sebentar" Jawaban Takao Tak ayal malah membuat Midorima mengerutkan kening dalam.

Jawaban seperti itu..

Takao semenjak Ia datang ke klinik, selalu menggunakan bahasa yang formal dan membuatnya risih untuk sikap pemuda terkasihnya itu. Terdengar tidak professional memang ketidak nyamanannya itu, tapi sungguh Takao tampak membuat sebuah jarak dan batasan untuk dirinya agar tidak mengganggu teritorinya.

Seberusaha pun Midorima mencoba mendekat dan berharap mantan ukenya itu mau buka celah kesempatan, sulit sekali Kalau hanya modal mengamati sedang aksi tak terealisasi. Boro-Boro terealisasi, baru juga mangap udah kabur topik.

' Arghhh, perjuangan ini sesulit menemukan Dragonball ternyata'

Midorima lelah, tapi Ia tau hati Takao lebih sakit dibanding rasa Lelahnya. hell bahkan Ia belum melakukan apapun.

"Ada beberapa yang tampaknya memiliki tinjauan lebih dan sebaiknya mendapat rujukan rumah sakit saja..." Perkataan Takao yang sejak tadi terabaikan kini menjadi pokusnya kembali. Midorima berdehem dan mengangguk.

"Aku akan meninjau terlebih dahulu" Ujar Midorima dan mendapatkan anggukan mengerti Takao.

"Baiklah Aku akan membawa-"

"Takao" Sela Midorima membuat Takao terdiam. Ia merasa Midorima hendak membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan pembicaraannya dengan Nanaki tadi.

"Ya?" Takao berdoa dalam hati agar tidak mendapat omelan panjang.

"Aku, Emh apa sangat menyakiti mu?" Tak dinyana pertaan yang meluncur itu jauh dari prediksi membuat Takao terpaku.

"Ah, Aku tau, yang kulakukan mungkin Aku sangat tidak berguna-"

"Mohon maaf atas ucapan Ku sebelumnya Sensei" Takao menyela Midorima dan memutuskan untuk meminta maaf lebih dahulu. Bagaimana pun Ia sadar Tak seharusnya ia tak boleh terbawa suasana seperti tadi dan menjadi tak professional. Lagi pula, Ia tahu arah pembicaraan Midorima akan berujung kemana. Dan sungguh Ia sangat berusaha untuk menghindarinya.

" A,Aku akan membawa berkasnya sekarang" Sahut Takao lagi hendak beranjak namun kembali tertahan perkataan Midorima kembali.

"Apa Kau membenci ku?" Midorima ikut berdiri dan mendekati Takao yang tergugu.

"Aku tidak " Tukas Takao sambil menatap Midorima. "Maaf jika kata-kata ku membuat mu tersungging. tapi sungguh, Aku tidak bermaksud begitu."

Midorima menatap intens mata Takao yang tak fokus pada dirinya. "Tidak apa-apa" Cicit Takao Tak ayal membuat Midorima mengerutkan keningnya heran. Takao kini menatap Midorima pasti. lalu melanjutkan Kata-katanya.

"lagi pula , itu Masa lalu. hanya ada dua pilihan didunia ini ternasuk kisah cinta. Dicintai atau mencintai. Dulu Aku berpikir akan mulai mengukir kisahku dengan mulai mencintaimu. Tapi kurasa terlalu muluk... Maka dimasa sekarang Aku memutuskan untuk mencari pilihan dicintai,oleh siapa pun itu nantinya." Penjelasan Takao taunya membuat Midorima tiba-tiba terguncang. Apa katanya tadi? maksudnya bagaimana , Maksudnya Takao akan menerima cinta orang lain begitu?

"Jadi Kau tidak perlu merepotkan dirimu sendiri dengan merasa bersalah berkepanjangan padaku." Ujar Takao lagi membuat tambahan beban dikepala Midorima yang serasa mulai macet.

"Ah, Kalau begitu Saya pergi dulu Sensei... " Takao beranjak dari sana menyisakan Midorima yang masih terjebak dalam benaknya yang mulai berspekulasi rumit.

Tidak...

Crap, batinnya menyesakinya. Tidak bisa, ini tidak boleh terjadi. Takao harus mengerti jika Ia bukan hanya sekedar merasa bersalah tapi memang Ia bersalah. Salah dalam menafsirkan perasaannya dulu dan Ia sudah mengerti sekarang. Oh ayolah... Takao tidak bisa begini.

Dengan langkah besarnya Ia membuka pintu ruangannya dan bergerak cepat menuju ruangan para perawat tempat Takao berada tadi. Ia tidak Menghiraukan setiap sapaan suster maupun rekan dokternya. Ia hanya terfokus pada pintu putih itu dan menariknya paksa membuat satu orang yang didalamnya membulatkan matanya terkejut.

"Mi,Midorima- Sensei... ada apa?" dengan ragu-ragu Takao bertanya ketakutan. Ada apa lagi dengan si Magane ini? Ia Sungguh Bosan menghadapinya. Taunya Rutukan Takao dalam hati harus terhenti ketika tubuh bongsor itu meraih tengkuknya dan menyambar bibirnya dalam.

Blank...

Kepala Takao terasa mati begitu saja. Ia tidak tau harus berbuat apa. Anrara menolak atau pasrah begitu saja bahkan ketika Midorima memagut bibir bawahnya.

"Tuh kan Tetsuya, Kita mengganggu" Tiba-tiba Samar suara yang Takao kenali membuatnya tersadar. Seakan sepemikiran dengan Takao Midorima mengernyit dalam ciumannya.

Takao mendorong Midorima kasar lalu mengalihkan atensinya pada dua orang merah-biru di ambang pintu.

"Ta,Takao-kun. Gomennasai." Takao membulatkan matanya ketika melihat Kuroko berada disana.

"Wah,wah... Shintaro, kemajuan mu pesat juga ya." Cibir Akashi yang sukses mendapatkan satu dengusadengusan rendah sang dokter.

Ck, mengganggu saja.

"Ku,Kuroko-kun... I, ini tidak seperti yang Kau lihat.." Dengan panik Takao menghampiri Kuroko dan meraih tangan pucat milik pemuda babyblue itu. Aksi Takao taunya mendapat picingan tajam dari dua Seme yang menatap interaksi mereka tajam.

Sedang Kuroko yang Bingung harus menanggapi apa hanya memamerkan senyuman kecilnya nembuat Akashi berang tidak rela senyuman itu dibagi.

"Daijoubu Takao-kun Aku mengerti." Kuroko mengusap tangan Takao yang masih menggenggam nya.

'Cih, apa-Apaan mereka itu, bertingkah seperti sepasang kekasih.' Rutuk Midorima dalam hatinya.

Berbeda dengan Midorima yang hanya bisa merutuk dalam diam. Akashi yang jadi saksi pertama didepan mata atas segala tingkah dua uke ini tiba-tiba jengkel dan menyuarakan ketidak sukaannya.

"Lepaskan pegangan kalian itu! kalian pikir ini Dimana dasar tidak tahu malu." Tukas Akashi sambil memisahkan tangan Takao dan Kuroko. Kuroko memicing dan mendengus. Apanya yang tidak tahu malu? mereka tidak berbuat Hal aneh Ngomong-Ngomong.

"Suka lupa diri ternyata ya Akashi-kun" Celetuk si biru.

"Apa?" Jawab Akashi acuh.

"Kalian yang sebenarnya tidak punya malu. dan Kau Midorima-kun harusnya tidak boleh main sosor begitu. Tidak sopen. dokter macam apa itu" Cela Kuroko membuat ketiga orang yang mendengarnya membulatkan matanya takjub.

Woahhh, ada apa ini... si malaikat putih bersih ini sudah berani mencela ternyata. Akashi menyeringai penuh kebanggaan.

"Itu benar, Midorima tidak punya malu Sama sekali"

"Sama Seperi ketuanya! dasar Gila. kenapa kalian terus menerus mengganggu sihhh"

"Siapa yang Kau maksud itu Tetsuya?" Akashi mengerling nakal. bagonya menggoda Kuroko yang seda mode seperti ini tuh menyenangkan.

"Hh... Ya Tuhan... Aku pikir datang kesini akan menghilangkan padangan buruk itu.." frustasi Kuroko.

Takao mengernyit mendengar rengekan Kuroko barusan. serta merta Ia bertanya.

"Kalian berdua datang bersama?"

"Lebih tepatnya Aku ketempelan" Sarkas Kuroko.

"Kau pikir Aku setan?" protes Akashi.

"Kau raja setan ngomong-ngomong"

Dengus Kuroko sebelum Ia mengalihkan perhatiannya pada Takao.

"Takao-kun tidak apa-apa?" Tanya Kuroko kemudian, lalu melirik tajam kembali pada Midorima yang berbertingkah Masa bodo.

"Ti,tidak." Jawab Takao terbata. Sungguh Ia malu Kalau harus mengingat tragedi tadi. aduhhhh kenapa harus terpergok sih? eh, / maksudnya kenapa terpergok sebelum Ia mendamprat si magane itu. Harga dirinya terluka iniii..

"Eh, Ngomong-ngomong ada apa kau kemari?" Ubah haluan, Takao tidak Mau lebih malu dari ini Kalau-Kalau teman seperjuangannta mengintrogasi Midorima yang berujung malu setengah hidup untuk Takao, karena bagaimana pun Ia cukup menikmatinya, eh/ tidakk maksudnya cukup membencinya!

Kuroko mengerutkan keningnya dalam melihat Takao yang Baru saja bertanya itu tiba-tiba bergeleng kepala begitu.

"Takao-kun?"

"Ah, ya?" Kuroko menghela nafasnya melihat reaksi Takao barusan. Ia mulai berpberpikir , ini pasti kesalahan akibat tremor tragedi tadi. aduh, Kuroko jadi prihatin Kalau begini.

"Aku hanya ingin mengunjungi mu" Sahut Kuroko-dan menghindari iblis itu- menjawab pertanyaan Takao sebelumnya.

"Maaf mengganggu istirahat mu Takao"

"Tidak apa-apa" Toh sudah sepenuhnya terganggu.

"ehm. serasa milik berdua ya" Deheman itu taunya menyadarkan Takao maupun Kuroko pada kenyataan bahawa dua bakteri itu masih ada disana.

"Kenapa Akashi -kun masih disini?"

"Menurut Tetsuya? menunggu mu Reuni dengan..." perkataan Akashi tersela tiba-tiba oleh Suara melengking yang memasuki ruangan itu.

"Takao-kuuun- EEHH?"

Oh lengkap lah sudah reuni ini.

fin

Gak Deng, becanda...

TBC..

A.N.

Saya Bingung harus bilang apa..

lama baget Kyknya ya

thanks banget udah mo dukung terus fic ini... huhu maaf gak bisa sebut satu2

I tried to made my Wb go away. but its hard I think.

so gomennasai. atas segala typo Yg bertaburan. DLDR yaa. don't flame, the good opinion is most better.

so...

review ?