Saat dunia hanya antara cinta dan benci

yang bisa Kita perjuangkan adalah

kepercayaan.

.

.

.

.

.

.

WARNING

DLDR, OOC , typo, EYD berantakan, alur gaje Dan bla bla bla.

Flashback

Kuroko termenung sambil mengayunkan kakinya yang dilapisi sepatu boot putih di banch lapangan dengan wajah datar yang masih lekat diparas imutnya itu.

Ia tengah menunggu seseorang, dan nampaknya orang itu akan sedikit terlambat menemuinya, padahal ini jauh dari kebiasaan orang itu untuk telat dalam hal apapun.

Kuroko sedikit menggigil karena dinginnya cuaca yang enggan bersahabat dengannya saat ini, Maka dari itu Ia mencoba mencari kehangatan dengan cara menggosok-gosokkan tangannya lalu menenggelamkannya di saku mantel birunya itu.

"Tetsuya!" panggil seseorang yang berhasil menarik perhatian Kuroko, biru netranya memerhatikan bagaimana Pemuda dengan iris hetero color itu menghampirinya dengan tergesa.

"Sei-kun doumo" kendati Kuroko tetap memasang wajah sedatar papan ujian , tapi jantungnya tidak bekerja sama dengan baik dan malah bertalu tak karuan.

"Hn, langsung saja Tetsuya, Aku ingin mengatakan sesuatu pada mu." Akashi begitu tergesanya Dan langung menyampaikan maksud tujuannya memanggil si baby blue datang.

Kuroko sedikit mengerutkan dahinya melihat sang kekasih berbicara dengan sorot dingin padanya. tapi, kekasih? ya mereka sudah berpacaran sejak kelas tiga sekolah menengah, ketika kepribadian Akashi kembali bersatu.

Saat itu Akashi hanya berkata pada Kuroko untuk berpacaran dengannya dan Pemuda itu tidak menerima penolakan dan jadilah kini mereka berpacaran hampir Satu tahun lamanya. Namun walau begitu Kuroko tetap senang karena Ia mencintai Pemuda itu entah dari kapan Ia memulainya.

"Kau mendengarku?" perkataan Akashi menarik Kuroko dari flashback rianya. pipi pucatnya sedikit merona karena malu melamunkan Masa lalu namun berusaha di cover dengan baik dengan wajah teplon milik Kuroko kembali.

"Ya Sei-kun," Gumam Kuroko kecil namun masih cukup jelas terdengar. Entah ini hanya perasaan Kuroko atau apa, Ia merasa Akashi yang berwajah dingin didepannya seolah membocorkan apayang akan dikatakan Pemuda surai darah itu. Dan seolah tahu apayang akan dikatakan itu, membuat Kuroko merasa sesuatu dalam dadanya teremas dan menimbulkan sesak.

"Aku ingin Kita berakhir sampai disini" Ucap Akashi begitu mulusnya Dan Kuroko yang masih terdiam hanya bungkam Tak berkutik.

"Selama ini Aku mengira Aku menyukaimu... tapi sepertinya Aku Salah paham atas perasaanku sendiri" Lanjut Akashi begitu Tak dapat Ia temukan raut yang sekiranya akan menyelanya.

"Aku menyukaimu,tapi lebih kukira ini adalah rasa terimakasihku karena Kau telah membawa Ku kembali. Aku menyadarinya ketika..."

"Kau jatuh cinta pada Furihata-kun" Sahut Kuroko menyela perkataan Akashi. manik Akashi sedikit membulat namun kembali Ke mode tatapan Akashi yang seolah berkata'Kau tau?' serta merta Kuroko sedikit menghela nafas.

Kuroko tahu, jelas tahu. sejak Ia mengenalkan Furihata pada Akashi, sang kekasih nampak berbeda kala melihat semua tingkah konyol Pemuda Chihuahua itu. Tapi Kuroko menampiknya dengan berpikir mungkin hanya ketertarikan biasa, namun semua terlanjur terbantah Hari ini.

" Hn, ini jadi lebih mudah kalau begitu. Gomen, Aku dan Kouki saling menyukai tapi Dia berkata tidak ingin menyakiti mu, Dia ingin Aku meyakinkannya." entah apa, hati Akashi terasa kebas Saat mengatakan itu, apa ini yang terbaik? tapi Ia sudah tidak bisa mundur lagi kan?.

"Aku mengerti Akashi-kun" Akashi tersentak begitu panggilannya telah berubah. "Yang ingin kutanyakan adalah kenapa Kau mengatakan ini pada Ku?" yah, kenapa? kenapa Pemuda itu mengatakan Hal seperti itu? kenapa tidak langsung memutuskannya dan cari alasan lain? Kuroko bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa harus membuatnya jatuh seperti itu ?.

Akashi memerhatikan raut wajah Kuroko yang menatapnya tanpa ragu. Riak wajahnya masih sedatar tembok nihil emosi, tapi matanya memperlihatkan luka yang telah Ia torehkan pada pemuda mungil itu.

"Kenapa, Akashi-kun mengatakannya saat aku sudah mencintaimu?"

Deg.

Akashi tersentak begitu mendengar Kata yang begitu lirih itu.

"Aku akan pergi jika itu yang Kau inginkan, terimakasih Akashi - Kun atas semuanya Selama ini, bolehkah Aku minta sesuatu?" ujar Kuroko dengan Suara datar namun terdengar goyah di telinga Akashi.

Melihat tampaknya Akashi tidak akan menjawab, Kuroko melanjutkan.

"jika suatu Hari Kau bertemu denganku kembali, tolong jangan menyapa Ku lagi, karena Aku takut sisa perasaanku masih tersimpan untuk mu dan membuatku membencimu"

(flashback end)

Akashi tersentak begitu dering hpnya menarik Ia dari lamunan film Masa lalunya. Ia meraih smarthphonnya yang berada di dashboard dan mengangkat telepon itu.

/hallo, Sei-chan/ Suara melengking menyapanya membuatmembuat Akashi sedikit menjauhkan smartphone itu lalu kembali mendekatkannya Ke telinganya.

"Hn, Reo batalkan pertemuanku siang ini Aku memiliki urusan penting" sahut Akashi yang di balas dengan serentetan pertanyaan dan protes yang malas untuk Akashi dengar, Maka dari itu Ia lansung mematikan sambungan dan keluar dari mobilnya.

"Ayo Kita mulai Tetsuya" Gumam Akashi dengan seringai kecil nan penuh rasa percaya diri.

Kuroko datang Ke tempat Murasakibara setelah Ia pulang dari kantor penerbit dan langsung pergi Ke kedai ini untuk membantu sahabatnya itu sekaligus kerja sambilan sebenarnya.

"Hisashiburi Himuro-kun" sapanya masih dengan tiba-tiba membuat Himuro yang tengah mengelap meja terlonjak kaget.

"Kuroko-kun, kau membuat Aku hampir mati jantungan," Himuro mengelus dadanya yang masih berdetak karena kaget. Kuroko sendiri hanya menghela kecil, dalam benaknya Ia hanya dapat mengeluh sendiri. Apakah Ia sebegitunya membuat si Pemuda manis itu terlonjak hampir jantung seperti itu, padahalkan Ia menyapa Himuro dengan lemah lembut.

"Apa Takao-Kun dan Kise-kun belum datang?" mengabaikan inner sebalnya Ia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan yang tampaknya mulai ramai didatangi pengunjung karena jam sudah menunjukan waktu makan siang.

"Ah, Takao-kun masih di klinik sepertinya dan Kise-kun masih ada jadwal pemotretan" Jawab Himuro sambil tersenyum yang dibalas anggukan kecil dari Kuroko .

Yahh mereka hanya kerja sambilan seperti yang telah dikatakan, hanya saat mereka off dari pekerjaan masing-masing, atau pada akhir pekan. Pekerjaan ini baginya atau Kise dan Takao adalah mengisi waktu luang dan membantu Murasakibara tentunya.

Ting...

Bunyi bell pintu kedai terbuka membuat Kuroko segera bergegas merapikan apron kedai yang bermotif lucu kartun cupcakes dan minuman yang hanya Ia pakai dipinggangnya saja Tampa mengalungkanya kelehernya.

"Konniciwa , selamat datang di kedai ka... mi?" raut datar itu beriak expresi dengan mata bulat yang semakin membulat.

"Konniciwa Tetsuya"

deg

TBC

Author note,

entah bagaimana Aku menulisnya Aku hanya sedang berusaha menuangkan karya yang absurd nauzubillah hahahaha mumpung lagi libur Kuliah.

ahhh, terimakasih atas apresiasinya bagi yang bersedia membaca haha.

gak berharap yang lebih kok, cuman can you give me your sign? review please, but nothing flame OK?

kritik Dan saran dengan sopan sesuai etika akan sangat berharga dibanding sebuah flame yang men stuck ide. hehehe.

OK see you next chap (kalauadayangnungguitujuga)

#Me