AURORA

Naruto milik Masashi Kishimoto

Aurora milik Munssi

Sasuke Uchiha

Hinata Hyuuga

Semi Canon

Terima kasih untuk dukungan teman-teman buat Fanfiction Aurora.

Happy Reading

Satu hari berlalu setelah penyerahan misi, yang artinya tinggal sisa 2 hari lagi Hinata akan menjalankan misi tersebut. Tidak ada persiapan khusus. Hinata masih dalam kondisi bimbang untuk memikirkan semua itu. Ia tak punya gambaran atau rencana apapun. Terlalu rumit. Ego dan logikanya bertarung tiada henti hingga membuat Hinata lelah dan terkesan putus asa. Jadi Hinata pasrah.

Pasrah pada takdir hidupnya.

Hinata menghela nafa panjang dan berat. Kepalanya menengadah pada langit sore. Di atas sana tidak ada awan putih hanya langit orange yang membentang luas. Hari ini, dari pukul tiga sore setelah berlatih seperti biasa ,Hinata menghabiskan waktunya merenung sendiri di taman pinggir desa. Taman ini jarang ada yang berkunjung karena memang letaknya cukup jauh. Maka Hinata tak salah memilih tempat untuk merenung. Jauh dari kata ramai. Sepi.

Tak terasa langit mulai gelap. Hinata harus bergegas pulang sebelum Hanabi membuat kegaduhan di rumah, menyuruh pelayan mencari dirinya. Hinata berdiri dari ayunan taman. Cukup untuk merenungnya hari. Seberapa banyak Hinata berpikir tak ada jalan keluar untuk semua yang terjadi pada hidupnya.

Langkah Hinata terhenti kala dari kejauhan sosok Sakura berjalan menghampiri. Masalah datang satu lagi. Sakura Haruno. Gadis yang mencintai orang yang akan menikah dengannya. Tak perlu bertanya lagi, Hinata tahu tujuan Sakura menemui dirinya. Mata Hijau itu mengatakannya tanpa pemiliknya harus mengeluarkan kata. Penjelasan. Gadis itu datang untuk mendengarkan penjelasan Hinata.

Aku ingin pulang.

Hinata tersenyum kecil dan sopan pada Sakura. Tak ada balasan. Sakura nampak acuh dengan sapaan Hinata. Dugaan Hinata benar. Sepertinya, berita tentang misi pernikahannya sudah tersebar hanya dalam waktu sehari saja. Tembok Hokage bisa bicara juga. Hinata tersenyum miris. Nasi sudah menjadi bubur, toh lambat laun ia memang harus menghadapi Sakura. Resiko menikah dengan pemuda yang disukai teman sendiri. Rasanya Hinata berubah menjadi penghianat. Ah! Ia tidak suka julukan itu.

Hinata bukan orang yang akan menyakiti teman. Toh, Mereka sama-sama di untungkan dalam misi kebangkitan Klan Uchiha. Jadi jangan sebut Hinata penghianat. Situasinya tidak memberi Hinata memilih untuk menolak.

"Hinata," panggil Sakura pelan, lemah dan sedikit bergetar. Hinata terenyak dari lamunannya.

"Ada yang ingin aku tanyakan."

Hinata menangkap nada marah Sakura meski kecil. Hinata mengangguk pelan menyetujui.

Mungkin Hinata akan pulang telat malam hari ini. Semoga Hanabi tidak membuat keributan di Masion.


"Kenapa?" tanya Sakura lemah namun menuntut.

"Maaf," hanya kata maaf yang mengisi otak Hinata sekarang.

"Aku datang ke sini tidak untuk mendengar kata maaf saja Hinata. Tolong jelaskan!"

Hinata terhenyak kaget melihat reaksi Sakura.

Seberapa besar dia mencintaimu, Sasuke? tanya Hinata dalam hati.

"Kupikir sebelum mencariku, Sakura-san sudah mengetahui semuanya dari Hokage-sama bukan? Jadi penjelasan seperti apa lagi yang ingin kau dengar dariku?"

"Semua! Semuanya!" Mata Sakura sedikit berair. Hinata meremas jemarinya agar menghilangkan rasa gugup dan takutnya.

"Aku tidak ada pilihan. Aku ingin melindungi Hyuuga. Jika aku tetap terus menjadi calon Heiress maka akan ada perang saudara. Hyuuga terdapat dua kubu, yang mendukung Hanabi dan yang mendukungku. Kekuatan dari kubu Hanabi lebih besar. Dari sini kau paham bukan kenapa aku memilih menerima misi ini, Sakura?"

"Dibanding Klan hancur karena perang saudara. Aku memilih menghapus nama Hyuuga untuk menyelamatkan Klan. Apa tindakkanku salah?"

Kini Sakura diam. Hinata berdiri tegas di depan gadis itu. Tangannya meraih pundak Sakura.

"Sakura,"

"Lalu bagaimana dengan Naruto? Perasaanmu padanya?" tanya Sakura.

Perasaanya? Hinata tersenyum miris. Apa pentingnya? Tidak ada orang yang benar-benar peduli akan perasaan Hinata? Naruto? Bahkan pemuda itu tak sedikitpun tahu bahwa Hinata mencintainya dan menjadikan Naruto sebagai panutannya. Tidak ada yang tahu bahwa hati Hinata hancur dengan perlakuan mereka. Dimana hidupnya diatur oleh mereka. Apa mereka peduli? Ia tidak pernah diberi pilihan.

Kadang kala, Hinata berdoa mungkin Tuhan mau membuka mata Naruto untuk melihat Hinata dan membawa pergi dirinya lalu hidup bahagia. Harapan Hinata tak muluk-muluk. Hidup bersama Naruto dan bisa menikmati hidup dengan orang terkasih. Berbagi cerita dan bisa saling mengerti. Ia tak menginginkan tahta Heiress atau harta berlimpah dari Hyuuga. Hinata tak butuh itu.

"Hinata, berjuanglah bersamaku. Aku akan membantumu. Tidak ada yang mustahil jika kau berusaha. Tunjukkan pada mereka bahwa kau adalah calon Heiress kuat. Kau bisa melakukannya Hinata. Jika kau berhasil, peluangmu untuk bisa mendapatkan Naruto makin besar. Kau mencintai Naruto bukan?"

Hinata sadar cinta bisa membutakan siapa saja. Sakura dibutakan olehnya. Dia merancau.

"Apa ini jalan yang akan kau tempuh jika berada di posisiku, Sakura?"

"Tentu! Mereka tak punya hak untuk mengambil hidupku." Tak ada keraguan di mata hijau Sakura ketika mengatakannya. Jika saja Hinata juga punya keberanian seperti Sakura, tapi apa Sakura akan tetap mempertahankan prinsipnya jika,

"Meski, keluargamu adalah taruhannya?"

Sakura termangu menatap Hinata.

"Apa kau akan mempertaruhkan keluargamu hanya untuk cinta sepihak?" pertanyaan Hinata menohok Sakura. Ia mencintai Sasuke dengan segenap jiwanya. Sakura takut kehilangan Sasuke.

Mungkin, sebelum kedatangan Sakura. Hinata berpikir pesimis pada misinya namun sekarang ia tahu, Misi ini akan Hinata jalani demi ayah dan Hanabi.

"Sakura, maafkan aku jika mengambil yang seharusnya menjadi milikmu. Tolong jangan datang lagi untuk memintaku menolak misi ini. Hidupku biar aku yang menentukan. Jalan ninjaku adalah untuk melindungi orang-orang terkasih. Inilah yang kupilih. Tolong hargai keputusanku dan mohon restuilah pernikahan kami, Sakura."

Sore ini, Hinata mendengar isakan Sakura yang pilu.

Sakura, setidaknya masih ada orang yang akan selalu berada di sisimu saat kau terluka seperti saat ini. Naruto akan menghiburmu. Dia akan menjadi tempatmu bersandar. Jadi, setelah itu lihatlah dia sebagai seorang pria yang mencintaimu. Hiduplah bahagia, Sakura. Aku melepaskan Naruto untukmu.


Kau tak pernah mengerti rasa sakit sebelum mengalaminya sendiri.

Hinata duduk di samping Hiashi dengan kepala tegak menatap lurus ke depan. Hari ini, Hiashi mengumumkan pernikahan Hinata pada tetua Hyuuga. Suasana mudah sekali ditebak. Tegang. Seolah jika ada kalimat mengandung perang, maka pedang dan kunai di balik punggung sudah siap untuk di lempar.

"Hinata Hyuuga, putri pertama dari Hiashi Hyuuga akan menikah dengan pria dari Klan Uchiha. Pernikahan diadakan satu hari sebelum penobatan Heiress Hyuuga. Aku Hiashi Hyuuga selaku ayah dari Hinata Hyuuga meminta restu kalian."

Ruangan pertemuan ramai dari bisik-bisik para tetua. Mereka kaget dengan kabar mendadak pernikahan Hinata dan lagi calon suaminya berasal dari Klan Uchiha yang berarti Hinata akan menikahi Uchiha terakhir. Tak lain mantan nukenin Sasuke Uchiha. Apa Hiashi kehabisan akal hingga menyerahkan putrinya sendiri pada setan yang haus darah? Kurang lebih seperti itu pertanyaan di kepala tetua Hyuuga.

Satu persatu mulai mempertanyakan alasan Hiashi mengumumkan pernikahan Hinata secara mendadak dan kenapa harus Uchiha.

"Ini adalah keputusan Hinata. Dengan siapa ia akan menikah bukanlah hakku untuk melarangnya. Hinata mencintai Sasuke dan begitu sebaliknya. Perasaan mereka berkembang tanpa ada satu orangpun yang tahu. Meski berat. Aku percaya Uchiha bisa menjaga Hinata. Karena Hinata menikah dengan pemuda dari Klan luar. Maka Hinata Hyuuga dinyatakan bukan lagi bagian Hyuuga dan harus meninggalkan statusnya sebagai calon Heiress Hyuuga."

Sejurus mata memandang Hinata bisa menangkap mulut-mulut munafik itu mulai beraksi menolak pernikahan Hinata. Setiap ucapan yang keluar dari mereka, Hinata akan mengartikan sebaliknya.

Ya berarti Tidak.

Tolak berarti Terima.

Tinggal berarti Pergi.

Mereka menginginkan Hinata pergi dari Hyuuga.


"Hinata." ini suara Naruto yang sukses menghentikan langkah pulang Hinata.

Hinata terkesima.

Naruto

Pemuda itu tersenyum ramah dan hati Hinata menggila. Munafik jika Hinata tidak memikirkan pemuda ini. Bagaimana pun Naruto adalah orang yang berharga, pemuda yang di cintainya sepenuh hati. Kekuatan Hinata selama ini. Butuh waktu lama jika ingin menghapus perasaan cintanya.

"Hendak pulang?"

Hinata mengangguk pelan. Senyumnya belum pudar.

"Mari Kuantar," tawar Naruto. Tanpa menunggu jawaban Hinata. Naruto memimpin jalan. Kedatangan Naruto yang tiba-tiba-meski Hinata sudah memperediksinya-membuat Hinata cukup terkejut. Dan lagi mengantarkan dirinya pulang, Hinata merasa bahagia meski ia tahu tujuan sebenarnya Naruto ingin bertemu dengannya. Tak lain menanyakan misi itu.

Langkah Hinata menyusul menyamai Naruto. Mereka berjalan berdampingan.

Di gang menunju Masion Hyuuga. Naruto membuka suara.

"Aku sudah mendengar soal misi mu dengan Sasuke."

Hinata diam. Ia tidak tahu harus menjelaskan apa.

"Kau baik-baik saja, Hinata?"

Naruto menatap Hinata lembut. Mereka berhenti melangkah. Hati Hinata berdeyut bahagia hanya karena kekhawatiran Naruto. Semua orang tentu bahagia jika orang yang disukai peduli pada mereka.

"Iya tentu," jawab Hinata terseyum. Ia menyakinkan Naruto, bahwa Hinata baik-baik saja dan tak perlu mengkhawatirkan dirinya.

"Syukurlah." Naruto tidak sepenuhnya percaya dengan perkataan Hinata. Ia memang kurang peka namun bukan berarti ia bodoh untuk sekedar menilai kebohongan Hinata.

"Hinata, kau yakin menerima misi ini?" Naruto adalah orang kedua yang menanyakan hal ini pada Hinata.

"Iya. Tidak ada keraguan di hatiku Naruto."

Kali ini Naruto percaya, ucapan Hinata bukan kebohongan semata. Naruto melihat keyakinan itu dari sorot mata amethystnya. Naruto tersenyum kecil. Tangannya menepuk pundak Hinata pelan.

"Hinata, sebagai seorang sahabat. Aku ingin kau tak salah ambil jalan."

Di mata Naruto, Hinata hanyalah sahabat. Tak lebih dan takan berubah. Meski sakit namun itulah kenyataan yang Naruto beri untuk menjawab perasaan Hinata.

"Sasuke, dia tidak seburuk orang luar nilai. Jangan percaya gosip tentang Sasuke. Aku tahu Sasuke melebihi kalian. Dia orang yang baik. Mungkin benar Sasuke kelihatan seram dan menakutkan namun jika kau sudah mengenalnya. Dia hangat dengan cara sendiri. Kau tahu, Uchiha mempunyai cinta yang besar di hati mereka. Jika kau sudah mendapatkan cintanya, yakinlah Sasuke akan melindungimu dengan nyawanya bahkan desa pun bisa jadi ia hancurkan jika berani mengusikmu."

Perkataan Naruto ada benarnya. Hinata tahu bahwa Uchiha adalah klan dipenuhi cinta di dalam tubuh mereka. Semua itu terbukti dari pengorbanan Itachi dan beberapa Uchiha di masa lalu yang melindungi desa hingga mengorbankan nyawa bahkan menjadi Ninja buronan. Namun bagi Hinata semua penjelasan Naruto punya maksud tertentu. Tidak hanya menyakinkan Hinata tentang Sasuke. Namun sesuatu lebih dalam akan perasaan Naruto yang bersangkutan dengan Sakura. Hinata menangkap itu samar-samar.

"Sejujurnya, aku khawatir pada Sakura setelah mendengar penjelasan Kakashi-sensei perihal misimu. Kau tahu, bagi Sakura, Sasuke adalah panutan sekaligus ambisi yang harus ia raih. Dia juga sangat menyukai Sasuke. Maka ketika aku mendengar kabar itu, aku sangat mengkhawatirkan kau dan Sakura. Dia pasti sangat terpukul dan kehilangan."

Benar dugaan Hinata. Semua ini tentang Sakura. Siapa yang benar-benar peduli padanya? Orang yang Hinata harapakan untuk mendukungnya ternyata sama saja.

"Naruto, apa yang kau inginkan dariku? Menyakinkan aku untuk melanjutkan misi atau menyuruhku untuk menolaknya?"

Pernyataan telak Hinata membuat Naruto merasa bersalah.

"Maaf Hinata,"

Jemari Hinata mengepal erat. Menyampaikan emosi sakit yang tengah melanda hatinya.

"Terimakasih untuk perasaanmu. Aku sangat berterimakasih. Tapi, aku menyayangimu sebagai sahabat, Hinata. Aku tidak pantas menerima rasa sukamu. Kau gadis yang baik dan sudah semestinya mendapatkan yang terbaik juga."

Naruto menatap mata Hinata sendu. Ia tahu gadis di depan tengah menahan perasaan kecewa. Naruto sungguh tulus menyayangi Hinata namun hanya sebatas sahabat. Hatinya telah tertanam erat di dalam hati Sakura. Naruto juga manusia biasa. Ia punya rasa egois sebagai seorang pria. Naruto ingin memiliki Sakura. Ia tidak tahu perasaannya saat ini. Apa ia bahagia atau sedih dengan pernikahan Hinata-Sasuke. Ia sungguh tak tahu. Naruto hanya sedikit berusaha dan sisanya biarkan Tuhan yang mengatur. Ia pasrah.

Maaf Hinata

Hinata mengontrol emosi. Berpikirlah jernih dan terima kenyataan. Tuhan sedang berkata pada Hinata, sudah waktunya melepaskan Naruto. Kebahagian pemuda itu sudah di depan mata-walau bukan dengannya-dan Hinata harus mengikhlaskan.

Hinata taersenyum. Bukan senyum terpaksa. Senyum begitu lembut dan dewasa.

"Sekian lama, aku akhirnya mendapatkan jawaban darimu, Naruto. Terima kasih sudah memberiku semangat dan kepercayaan diri." Hinata menundukan kepala.

"Jagalah Sakura. Hibur dia. Semoga kalian bisa bersama. Aku berdoa untuk kebahagianmu, Naruto."

Naruto terpanah.

Ini Hinata. Kunoichi kuat yang ia kenal. Naruto tersenyum lebar. Betapa indahnya senyum Hinata.

Aku mendoakan segala yang terbaik selalu berada di sekitarmu, Hinata.

"Hinata-chan, ayo kuantar pulang."

Hinata mungkin akan merindukan panggilan khas Naruto untuknya.


Secara resmi, penyerahan misi diberikan oleh Hokage adalah malam hari ini. Di salah satu ruang pertemuan yang berada di gedung Hokage. Misi yang akan mulai dilaksanakan jika kedua belah pihak Shinobi hadir untuk menerimanya. Maka diruangan sudah berada Hinata, Sasuke, Kakashi, Hiashi dan satu tetua Konoha.

Kakashi menjelaskan misi dan aturan yang harus ditaati oleh Hinata dan Sasuke.

Hinata diam menyimak.

"Misi ini bertujuan untuk membangkitkan Klan Uchiha. Hinata, kau ditunjuk sebagai partner Sasuke dalam misi ini. Misi kebangkitan Uchiha menguntungkan kedua belah pihak. Hyuuga saat ini sedang memilih calon Heiress. Hyuuga diam-diam telah bersiasat untuk memilih Hanabi yang notabennya bukanlah seorang Heiress. Dia anak kedua dari Hiashi. Maka jika Hanabi terpilih sebagai Heiress, Hinata akan menjadi Bunke. Untuk membebaskan Hinata, Hiashi menyarankan Hinata untuk menjadi partner Sasuke dalam misi ini. Kau tidak keberatan Sasuke?"

Hinata melirik lelaki yang duduk di depannya. Mata mereka bertemu sesaat sebelum Sasuke membuang muka. Melihat ke arah Kakashi.

"Tidak," jawab Sasuke datar, pelan dan berat. Di mata Hinata, Sasuke itu tak tersentuh. Mata hitam itu seolah menguci segala hal tentang dirinya. Hinata sulit untuk menebak pikiran Sasuke. Pria itu misterius namun terlihat tak terkalahkan.

"Dan Hinata." Gadis ini tersentak kala mendengar namanya dipanggil oleh Kakashi.

Dada Hinata bergemuruh. Hinata ketahuan Sasuke saat memperhatikan pria itu.

"Kau setuju dengan misi ini?"

"Hai!"

Sasuke berkedip menatap Hinata. Sorotnya menilai gadis di depannya. Hinata tak lain perempuan sok kuat. Hyuuga bodoh yang lebih mementingkan orang lain dari pada hidupnya sediri. Pantas, Hyuuga tak sudi memilih dia sebagai Heiress. Lemah. Sasuke menanti seberapa jauh pertahanan Hinata pada misi ini. Sasuke tak mau pandang bulu. Ia hanya peduli dengan misi membangkitkan Klan.

"Kalian sudah menyetujuinya. Konoha memberi beberapa syarat yang harus kau penuhi Sasuke. Konoha meminta kesetiaanmu pada desa. Kau dilarang untuk meninggalkan desa dan jika keturunan Uchiha lahir, Anak dan kau harus disegel di tempat."

Sasuke menatap dingin tetua Konoha. Mereka masih tidak percaya pada Sasuke.

"Maaf Hokage-sama, kenapa Konoha harus menyegelnya juga. Aku agak keberatan." Walaupun agak aneh langsung membahas anak. Tapi Hinata juga seorang wanita yang sebentar lagi akan menikah dan harus melahirkan. Ia calon ibu. Hati nurani seorang ibu tentu akan menetang syarat gila itu meski semua hanyalah misi.

"Hyuuga, perlu kau ingat semua ini hanya misi," sahut Sasuke kalem.

Hinata hendak memprotes lagi kala Tetua Konoha menyela dengan angkuh.

"Itu sebuah kepercayaan yang harus Sasuke bayar untuk Konoha. Tidak ada yang tahu kapan lagi bocah ini akan berkhianat."

"Pastikan anda ingat ini. Kalian adalah orang pertama yang akan aku hancurkan jika aku berkhianat."

Laki-laki tua itu terkekeh mendengar penuturan Sasuke. Bocah sialan.

"Aku keberatan Hokage-sama. Aku bisa mengantikan posisinnya." Sekali lagi Hinata mencoba menolak.

"Hyuuga, polos sekali. Kau tidak ada artinya untuk bocah Uchiha itu. Sia-sia saja jika menyegelmu. Benar begitu Sasuke?"

Hinata mengalihkan perhatiannya pada Sasuke. Ia terhenyak melihat mata merah Sasuke. Sharingan.

"Bisakah anda diam dan cukup menyimaknya, Dai-sama?!" Kakashi mulai jengah. Jika membunuh bukan sebuah kejahatan sudah dari tadi Kakashi Raikiri tetua busuk itu.

Dai mendecih tak suka.

"Jadi Sasuke kau menyetujui syarat ini?" Kakashi mengulang pertanyaan. Mata Sasuke sudah kembali hitam. Hinata lega melihatnya. Susana tadi sungguh menegangkan. Hinata harap Sasuke tak menyetujui syarat itu.

"Aku setuju."

Hinata tak percaya mendengar jawaban Sasuke. Pasti ada yang salah. Pendapat Hinata tidak jadi pertimbangan. Padahal bagaimanapun juga, ia adalah calon ibu dari penerus Uchiha. Sasuke ambisius. Dia takkan menyerahkan begitu saja penerus Uchiha pada tetua Konoha. Hinata yakin Sasuke punya rencananya sendiri.

Rencana? Apa karena ini Kakashi memberi misi secara diam-diam pada Hinata untuk mengawasi gerak-gerik Sasuke tanpa sepengetahuan orangnya. Ini misi rahasia yang disampaikan secara personal. Hanya Hinata dan Kakashi yang tahu.

Kakashi menyodorkan selembar kertas berisi perjanjian ke arah Sasuke.

"Tempelkan darahmu di kertas itu, Sasuke." perintah Kakashi.

Sasuke menggores ibu jarinya dengan kunai lalu menempelkan di atas namanya.

"Kau juga Hinata,"

Hinata membaca sebentar isi perjanjiannya. Jika Hinata menghilang atau melarikan diri dari misi maka ia dianggap sebagai penghianat desa dan ditetapkan sebagai kriminal. Ya, semua sesuai dengan penjelasan Kakashi kala itu. Hinata melakukan hal yang sama seperti Sasuke. Menempelkan ibu jarinya yang sudah mengeluarkan darah.

Kakashi mengambil surat perjanjian. Ia menyegel kertas tersebut.

"Uchiha-san, besok persiapkan diri untuk melakukan ritual sebelum menikah di kediaman Hyuuga. Kau harus secara resmi melamar Hinata," ujar Hiashi.

Sasuke tak menjawab namun ia mendengar ucapan Hiashi.

"Pertemuan selesai. Misi dapat dimulai."


Satu hari sebelum pernikahan. Seperti sudah di atur oleh Hiashi. Sasuke datang secara resmi melamar Hinata. Serangkaian acara harus dilewati. Sasuke cukup lelah dengan acara yang tak kunjung habis. Hyuuga kolot.

Sasuke tak berhenti mengumpat dalam hati. Menikah dengan puteri bangsawan ternyata terlalu rumit dan buang-buang waktu. Untuk menenangkan pikiran Sasuke memilih menjauh dari keramaian para Hyuuga di balai utama. Sasuke berjalan menyusuri area luar Masion Hyuuga. Sasuke berhenti melangkah kala melihat Hinata berjalan keluar dari Balai utama. Gadis itu nampak anggun dengan tubuh terbalut Kimono Homon-gi berwarna putih dengan motif bunga yang menghias seluruh kain Kimononya. Rambut Hinata tergerai dengan sebagian rambut terselip kebelakang kepala. Hinata nampak buru-buru. Sasuke mengikuti diam-diam di belakang.

Tak jauh dari balai utama Hyuuga. Hinata berhenti di depan sebuah Kuil dan masih di dalam area Hyuuga. Gadis itu masuk.

Sasuke masih betah di luar. Mengamati Hinata dari jauh.

Hinata duduk bersimpuh di depan. Tangannya membunyikan loceng. Hinata mulai berdoa.

Langkah Sasuke semakin mendekat. Mengambil jarak teraman namun dekat dari Hinata.

Sayup-sayup, Sasuke dapat mendengar doa yang tengah dipanjatkan Hinata. Sasuke sempat tertegun sebelum memutuskan pergi lebih dulu meninggalkan Hinata di sana.

"Hyuuga," gumam Sasuke.

"Kami-sama, berkatilah pernikahan kami nanti. Izinkan kami berdiri di sisi yang sama. Bantulah hamba untuk menjaga pernikahan ini sampai akhir."

Hinata mengakhiri doanya dengan bersujud dan pengharapan yang besar.


Gadis yang masih memakai Kimono Putih ini tak bermaksud untuk menguping. Sungguh. Hinata dibesarkan dengan sopan santun yang ketat. Menguping bukanlah hal baik. Karena itu melanggar privasi orang. Niat awal Hinata adalah ke kamar utama. Ia ingin tidur. Namun, sosok Sasuke dan Sakura yang tengah berdiri saling menghadap dan tengah berbicara serius mencuri perhatian Hinata.

Biarlah Hinata melupakan sejak sopan santun yang sudah diajarkan. Hinata penasaran. Ia bersembunyi di balik tembok tak jauh dari Sasuke. Mereka sekarang berada di halaman depan Masion Hyuuga.

Hinata melihat punggung Sakura bergetar karena menangis. Ia mengalihkan padangan pada Sasuke. Pria itu nampak tatapannya melunak dan sedikit sendu. Entah kenapa itu membuat hati Hinata memanas dan sedikit sakit. Hinata cemburu? Ia cemburu karena bahkan Sasuke pun lebih memilih menenangkan hati Kunoichi berambut pink itu dari pada dirinya. Hinata cemburu pada Sakura. Ia iri.

Keberanian dari mana ia secara terangan-terangan menampilkan diri untuk melihat Sasuke dan Sakura.

Hati Hinata menangis dan mata Amesthynya menyorot kecewa kala dengan lembut Sasuke membawa Sakura ke dalam pelukannya dan menepuk punggung Sakura pelan.

Sakura menangis di dalam pelukan Sasuke. Hinata menyaksikan semua.

Dalam malam sunyi. Mata hitam Sasuke bertemu dengan mata putih Hinata. Mereka saling menatap dalam diam. Sasuke yang masih memeluk Sakura dan Hinata yang berdiri di sana dengan tatapan yang sulit Sasuke artikan atau lebih tepat tak mengerti kenapa sorot mata gadis itu kecewa.


TBC


Maaf baru bisa update.

Terimakasih buat temen-temen yang sudah meluangkan waktu untuk membacadan mereview.

Special thanks buat Taomi yang selalu memberi review di setiap fanfiction saya.

Saya senang kamu suka dengan Fanfiction The Feeling.

Saya sangat berterimakasih buat semua apresiasi kalian minasan.

Kritik dan Saran sangat diperbolehkan.

Munssi