Aurora

Chapter tiga

Sasuke Uchiha

Hinata Hyuuga

Naruto milik Masashi Kishimoto

Aurora milik Munssi.


Happy Reading


'Hinata-chan."

'Iya Ibu.'

'Jika sudah dewasa nanti menikahlah dengan orang yang kau cintai. Jika itupun tidak bisa, maka belajarlah untuk mencintai suamimu kelak. Karena dengan begitu kau bisa mencintai dirimu sendiri.'

Hinata kecil hanya mengangguk asal. Dia tak paham dengan perkataan ibunya. Namun itulah pesan terakhir yang disampaikan ibunya sebelum meninggal. Mungkin sekarang saatnya bagi Hinata untuk memenuhi permintaan ibunya.

Menikah dengan orang yang tidak dicintai dan mulai belajar mencintai.


Kediaman Hyuuga tampak disibukkan dengan pernikahan Hinata. Para tamu yang terdiri keluarga besar inti Hyuuga datang berkumpul dan wali dari Sasuke; Kakashi, Tsunade, Naruto dan Sakura turut datang dalam acara suci ini.

Suasana ramai namun tetap terlihat tenang teratur. Pernikahan mereka diadakan di Kuil Hyuuga. Tempat Hinata berdoa kala itu.

Jauh dari pelataran Masion, Hinata tengah duduk terdiam sembari memejamkan mata seorang diri. Tidak ada satupun orang di dalam.

Penata rias sudah selesai merias Hinata tiga puluh menit yang lalu.

Mata putih itu terbuka.

Tertegun menatap cermin.

Inilah saatnya.

Hinata menatap dirinya di cermin. Kimono Shiramuku membalut tubuhnya yang kecil, tak lupa Tsuni Kakushi menutup kepala dengan sempurna. Hinata menyentuh penutup kepala itu. Ia ingat perkataan salah satu pelayan saat membantu memakaikan Tsuni Kakushi. Bahwa lambang dari Tsuni Kakushi ini adalah simbol dari perempuan yang akan menjadi istri yang patuh dan kesediaannya untuk melaksanakan perannya dengan kesabaran dan ketenangan.

'Saya harap Hinata-sama bisa seperti makna Tsuni Kakushi.'

Banyak orang memberinya doa bagus untuk pernikahannya. Hinata berterimakasih untuk itu. Ia tidak tahu bagaimana pernikahan ini akan berjalan, Hinata hanya berusaha sekuat tenaga untuk melakukan yang terbaik. Terlepas dari pernikahan ini hanyalah sebuah misi.

Hinata tidak ingin mengecewakan orang-orang yang telah menyayanginya dengan tulus.

Hanya ada dua pilihan. Hinata yang menganggap pernikahan ini bukan sekedar misi dan belajar mencintai Sasuke atau menyelesaikan misi lalu menghilang. Bagaimanapun juga, ketika ia sudah melahirkan anak dari Sasuke. Hinata tidak dibutuhkan lagi.

Maka Hinata akan membuat pilihan ketiga.

Ia dibuang namun tak sepenuhnya mehilang.


Upacara pemberkatan pernikahan Hinata-Sasuke telah selesai. Sasuke membantu Hinata berjalan menuju aula utama di mana para tamu telah menunggu mereka. Hinata menatap tangan Sasuke yang mengenggam tangannya. Tidak erat malah terkesan lemah. Orang yang kini telah menjadi pendamping hidupnya. Lelaki yang akan Hinata panggil sebagai suami selama misi. Suami? Mungkin lebih tepat Partner. Hinata ingat, ini pertama kali ia bertemu langsung dengan Sasuke setelah kejadian malam itu. Saat Sasuke memeluk Sakura. Setelahnya mereka belum berbicara satu sama lain. Hinata mungkin yang terlalu berharap Sasuke akan menjelaskan soal itu. Namun Sasuke tetaplah Sasuke yang cuek-individualis.

Di Aula sudah berkumpul banyak tamu. Suasana meriah menyambut kedatangan Hinata dan Sasuke. Ucapan selamat terlontar dari semua orang. Hinata dibuat gugup dan malu karena tatapan intens mereka. Ia kurang terbiasa menjadi sorotan publik. Maka tanpa sadar Hinata mengeratkan genggaman tangannya pada Sasuke. Gerakannya pelan dan lembut tapi sukses mengambil perhatian Sasuke pada tindakan Hinata barusan.

Sasuke melihat sekilas. Perempuan itu nampak gelisah dan kurang nyaman. Sasuke bisa merasakan dari cara Hinata meremas pelan tangannya. Maka entah inisiatif dari mana, Sasuke mengelus punggung tangan Hinata memakai ibu jarinya dengan sangat pelan. Sentuhan kecil tanpa orang bisa melihatnya. Hinata menatap Sasuke kaget. Hatinya berdeyut sakit karena sentuhan pria itu. Bagaimanapun, Hinata merasa Sasuke ingin menenangkan kegugupannya. Tapi ia tidak berharap banyak karena hal sepele seperti itu. Bisa jadi Sasuke melakukannya tanpa sadar dan tak ada niat apapun. Tetap saja Hinata merasa berterimakasih untuk tindakan Sasuke. Karena hal tersebut, Hinata sadar yang berdiri di sini sekarang tak hanya dirinya namun ada orang lain yang melangkah di sampingnya. Berjalan di jalan yang sama dengan Hinata.

Pria itu masih teguh menatap depan tanpa terganggu oleh tatapan intens Hinata. Sasuke adalah pria yang sulit Hinata pahami jalan pikirannya. Dia tak tersentuh dan pria dengan harga diri selangit. Hanya berdiri di dekatnya, Hinata bisa merasakan betapa kuatnya seorang Uchiha terkahir ini. Dulu bagi Hinata, Sasuke adalah sebuah misteri. Ia tidak takut pada Sasuke tapi bukan berarti rasa tidak takutnya menjadi alasan ia harus berteman atau mengenal Sasuke. Hinata tak tertarik dengan Sasuke. Bagi Hinata, Sasuke hanya seorang kenalan dan teman dari orang yang disukainya. Namun sekarang hatinya mengatakan mungkin ia bisa mencoba memahami Sasuke dan mengenalnya lebih jauh.

Hinata hanya berpikir Sasuke tidak seburuk kelihatannya. Mungkin ia bisa berteman dengan Sasuke jika misi ini berakhir. Hinata tak mengharapkan banyak hal dalam pernikahan misi ini. Selain menjalankan tugasnya sebagai Shinobi, Hinata juga bertekad menjadi istri yang berbakti pada Sasuke apapun keadaanya. Hinata sudah memilih jalannya. Maka semua resiko yang akan datang Hinata siap untuk menanggungnya. Pernikahan adalah hal sakral meski di dasari sebuah misi. Hinata akan menjalankan perannya sebaik mungkin sampai waktunya berakhir.


Pelukan Sasuke dan Sakura kemarin malam masih Hinata ingat dengan jelas. Hatinya sudah tidak di selimuti rasa kecewa. Hinata mencoba menerima. Ia tidak marah atau cemburu. Hanya saja, entah kenapa rasanya Hinata kecewa pada sikap Sasuke. Hinata tidak tahu dengan jelas apa alasanya kecewa, sikap sembrono Sasuke yang memeluk Sakura di kediaman Hyuuga agak disayangkan. Tapi, biar dikata Hinata kecewa. Kekecewaannya tidak bisa membantunya mendapat penjelasaan dari Sasuke tentang pelukan itu. Pernikahan ini hanya sebuah misi. 'Perasaan' tak diperlukan di dalamnya.

Hinata mencoba berpikir jernih. Sasuke pasti punya alasan. Mungkin, Sasuke tak mau menjelaskan soal itu karena Sakura adalah sahabatnya. Hinata kenal Sakura tentu Sasuke tak perlu repot-repot untuk menjelaskan pelukan Hinata tahu siapa orang yang dipeluknya. Penjelasan dari Sasuke tidaklah penting.

Maka Hinata mencoba menempatkan diri sebagai Sakura. Dia sedang bersedih karena pria yang dicintai selama ini akan menikah dengan Hinata, sahabatnya sendiri. Jika Hinata menjadi Sakura, ia juga akan melakukan hal yang sama. Hubungan Sasuke –Sakura sangat dekat. Mereka tumbuh dan besar bersama. Sedih senang mereka lewati sebagai rekan satu tim. Kedekatan itu membuat perasaan kuat terhubung satu sama lain. Meskipun Sasuke tak pernah menganggap Sakura lebih dari sahabat. Berbeda dengan Hinata-Naruto. Perasaan Hinata sama besarnya seperti milik Sakura. Hinata mencintai Naruto dengan tulus dan tak banyak berharap perasaannya akan terbalas. Mereka dekat tapi tidak sedekat Sasuke-Sakura. Pastinya rasa kehilangan jauh lebih banyak dirasakan oleh Sakura. Anggaplah pelukan malam itu adalah bentuk perpisahan dari dua sahabat. Benar, itu yang harus Hinata yakini. Ia tak perlu iri atau cemburu.


"Selamat untuk pernikahanmu, Hinata," ucap Naruto tulus.

"Terimakasih, Naruto-kun."

"Walaupun hanya sebuah misi. Aku harap kalian bisa belajar satu sama lain dan saling memahami."

Hinata mengangguk pelan.

"Sejujurnya aku merasa khawatir pada sifat Sasuke. Dia pendiam dan cuek. Aku harap kau bisa memahami sifat jeleknya itu, Hinata. Dan, jika Sasuke bertindak keterlaluan jangan ragu untuk bilang padaku. Biar kuhajar si Teme!"

Hinata tertawa lirih mendengar nasehat Naruto. Hinata berterimakasih untuk kepedulian Naruto padanya. Setidaknya Hinata masih merasa ada orang yang peduli pada hidupnya. Hinata berharap sifat Naruto yang seperti ini tidak akan hilang. Kepedulian dan kebaikannya yang tulus.

"Kau tahu tidak? Semua orang yang datang tadi terpanah melihatmu. Kau sangat cantik, Hinata-chan. Bagaimana mengatakannya? Ya.. Ehm.. Sasuke beruntung mendapatkanmu."

Tak ayal pujian Naruto membuat wajah Hinata memerah karena malu. Ayolah, Hinata suka Naruto. Dipuji cantik oleh orang yang disuka tentu luar biasa bahagia, bukan? Meski bukan dia yang dinikahi.

Obrolan mereka masih berlanjut, dan hampir dua puluh menit berdiri di sana tanpa menyadari keberadaan Sasuke yang berdiri diam tak jauh dari mereka. Sasuke sudah berada di sana lebih dulu dari pada Naruto-Hinata. Ia mendengar dan melihat semuanya. Termasuk wajah merah Hinata akibat pujian Naruto, tak lupa raut bahagia Hinata ketika tangan pemuda itu mendarat di atas kepala Hinata dan mengelusnya lembut. Tidak ada reaksi berarti dari Sasuke. Ia juga tidak berniat mengintrupsi obrolan mereka. Sasuke lebih memilih pergi meninggalkan mereka.


Sejak awal pertemuan keluarga secara resmi, Sasuke telah mengajukan permintaan pada klan Hyuuga bahwa setelah acara pemberkatan selesai ia akan membawa Hinata langsung ke kediaman Uchiha. Pemuda itu tidak memberi alasan yang berarti, Sasuke hanya bilang 'tidak suka keramaian saat malam pertama' tak tahu makhluk apa yang merasuki Sasuke kala itu. namun permintaan Sasuke yang diucapkan cukup santai membuat Hinata kaget dan malu. Hinata tak menyangka Sasuke cukup nakal untuk ukuran lelaki dingin dan angkuh.

Jadi di sinilah Hinata berada, di Masion Uchiha tepatnya di dalam kamar Sasuke sendirian. Di mana pemuda itu? jangan tanyakan Hinata. Setelah menyuruh Hinata masuk ke dalam rumah, Sasuke pergi menghilang tanpa berkata apapun.

Hinata melihat sekeliling kamar. Sederhana dan identik dengan warna hitam, merah dan coklat tua. Di belakang ranjang terdapat lambang Uchiha yang dilukis langsung di dinding. Ukiran khas terpahat di dinding-dinding kayu. Terkesan masih tradisional.

Hinata membuka jendela kamar. Udara malam langsung menyambutnya. Hinata terdiam takjub menatap pemandangan di balik jendela kamar Sasuke. Ada taman bunga liar dan pepohonan di balik tembok kamar Sasuke. Sangat indah. Apa Sasuke tahu ada tempat indah di balik jendelanya? Mungkin jika Hinata rawat taman itu akan lebih bagus lagi. Hinata perlu mencobanya nanti. Sangat disayangkan masion sebesar ini hanya Ia dan Sasuke yang menempati. Jika Hinata merubah sedikit keadaan Masion Uchiha, suasana tempat ini tidak lagi suram. Jujur, Hinata sedikit merasa kurang nyaman dengan kesunyian tempat ini. Tidak ada kehidupan. Kelam.

Di masion Uchiha ini juga Sasuke besar dalam lingkungan keras dan kejam. Pasti sulit bagi Sasuke kembali ke rumah saat di sinilah pembantaian Uchiha terjadi. Hinata tak bohong jika ia kagum pada Sasuke. Dia masih bisa bertahan dan berubah dengan banyaknya penghianatan yang sudah dialami.

"Sasuke, Kau patut dikasihani."


Tidak tahu harus melakukan apa selama menunggu Sasuke. Hinata beranjak dari kamar. Sudah satu jam ia menunggu Sasuke tapi dia belum menunjukkan batang hidungnya. Hinata belum melepas baju pengantin. Ia baru melepas aksesoris di kepala. Hinata kewalahan menahan beban dari aksesoris tersebut.

Hinata menelusuri lorong rumah. Tidak ada siapapun. Kemana Sasuke? jangan bilang Hinata ditinggal sendiri di sini? Keterlaluan sekali. Hinata jadi agak kesal.

Lebih baik aku kembali ke kamar

Hinata berencana menunggu Sasuke di sana.

Tapi rencana tetaplah rencana. Ketika Hinata berbalik, Sasuke sudah berdiri di depannya dalam kondisi tidak cukup baik. Tubuh Sasuke berlumuran darah dan nafasnya terengah-engah. Hinata terpaku kaget. Bagaimana bisa dia terluka? Apa yang terjadi?

Kesadaran Hinata kembali saat Sasuke sudah tak ada di hadapannya. Pria itu melewati Hinata dengan acuh. Seolah Hinata tidak ada di sana.

"Sasuke." Hinata memanggil pelan tapi cukup di dengar oleh Sasuke. Pria ini diam tak menjawab malah tetap melangkah pergi. Mengabaikan panggilan Hinata.

Hinata menarik tangan Sasuke dan menahannya pergi.

"Darimana kau dapatkan luka ini? kau bertarung?" Hinata tidak bisa menyembuyikan nada khawatirnya.

"Bukan urusanmu, Hyuuga!"

"Ini urusanku juga. Kita satu tim. Sudah selayaknya aku menanyakan hal itu."

Sasuke menangkap kecil nada kesal perempuan itu. Hinata mendengar Sasuke mendecih pelan. Ia tidak suka sikap kasar Sasuke saat menolak kepedulian seseorang. Dan Hinata kenapa harus repot mengurusi Sasuke jika dia saja tak suka dengan kepedulian Hinata. Ia hanya khawatir pada rekannya. Hanya itu. Ayolah, Hinata itu manusia dengan jiwa kepedulian yang besar. Ia tidak bisa menutup mata melihat orang terluka apalagi dia mengenalnya. Apa salahnya sih membantu? Kenapa Sasuke begitu keras kepala.

"Hyuuga,"

Hinata bergeming mendengar namanya dipanggil.

"Kau sama berisiknya dengan yang lain."

Apa?

Kepeduliannya dibilang berisik. Hinata menghela nafas pendek. Bukan saatnya berdebat dengan Sasuke. Luka pria itu lebih penting untuk ditanggani.

"Lukamu harus ditanggani di rumah sakit Sasuke,"

Bagaikan angin lalu saran Hinata tak direspon sedikitpun. Sasuke memilih pergi. Hinata anggap sikap Sasuke adalah penolakannya pergi ke rumah sakit. Berbicara dengan Sasuke lebih sulit daripada mendapatkan perhatian Hiashi. Hinata tidak tahu kalau Sasuke sepelit itu untuk bicara. Mungkin lebih baik Hinata sendiri yang menanggani Sasuke.

"Aku akan mengobatimu. Setidaknya ini yang bisa kulakukan sebagai rekan satu Tim."

Pernyataan Hinata menarik perhatian Sasuke hingga pria itu hanya menatap Hinata lama tanpa berkata apapun. Ini kedua kali Hinata mendapati sikap Sasuke yang memilih menatap lawan bicaranya tanpa berbicara. Itu membuat Hinata canggung. Hinata tak bisa membaca pikiran pria itu.

Mata hitam Sasuke terlihat tajam, tak terbaca dan dingin.

Hinata tidak tahu, apa itu tatapan menilai atau meremehkan khas seorang Sasuke.

Hinata tersentak kala Sasuke melepas genggamannya. Dia pergi meninggalkan darahnya di telapak tangan Hinata.

Hinata menatap sendu punggung tegap Sasuke.


Sudah pukul satu pagi Hinata masih terjaga. Ia lelah tapi tak kunjung bisa memejamkan mata. Hati perempuan ini gelisah. Pikirannya berkecambuk karena banyak hal. Salah satunya rasa kurang nyaman dengan suasana rumah yang cenderung sepi dan tidak bernyawa. Suram. Begitu Hinata menyebutnya. Mungkin ini pertama kali Hinata berkunjung jadi ia masih menganggap wajar rasa kurang nyamanya. Tidak apa, seiring waktu Hinata bisa menyesuaikan diri dan berusaha untuk merubah suasana lebih hangat dan hidup. Namun, rasa gelisah terbesarnya adalah kondisi Sasuke sekarang. Hinata masih memikirkan luka Sasuke. Ia tahu Sasuke tentu bisa menangani luka seperti itu, Meski hasilnya kurang maksimal. Karena Sasuke bukanlah ninja medis.

Hampir tiga jam berlalu mungkin Sasuke sudah terlena oleh bunga mimpi. Hinata memutuskan untuk memeriksanya sendiri. Ia harus tahu keadaan Sasuke, jika tidak mungkin Hinata akan dilanda rasa penasaran dan bersalah karena tidak membantu orang yang terluka. Jadi Hinata pergi untuk melihat kondisi Sasuke.

Masion Sasuke bisa dibilang cukup besar di antara rumah yang berada di kediaman Uchiha. Maka tak heran Hinata perlu mengaktifkan Byagukan untuk mencari ruangan yang ditempati Sasuke untuk istirahat. Cara terefesien untuk keadaan darurat karena penasaran.

Langkah Hinata terhenti di depan pintu coklat berukir yang Hinata yakin sebagai kamar tidur Sasuke. Pintu coklat itu di geser pelan oleh Hinata. Di antara gelap kamar, Hinata masih bisa melihat dengan jelas aliran cakra pria itu yang tenang dan tubuh terbalut dengan perban-meski kurang rapi- Syukurlah. Hinata lega melihat Sasuke masih bisa terbuai oleh mimpi meski dalam kondisi terluka.

Hinata masuk ke dalam. Ia duduk melipat kaki di samping Sasuke. Tanpa membuang waktu, Hinata mengobati Sasuke. Cakra kehijauan miliknya diarahkan pada luka yang ada di tubuh Sasuke. Meski bukan ninja medis tapi Hinata tahu sedikit perihal teknik pengobatan mereka. Ia pernah belajar pada Sakura.

Sesekali Hinata menghentikan aliran cakranya kala Sasuke bergerak pelan atau sekedar mengeryit kening. Sasuke tidak boleh terbangun dan melihat Hinata sedang mengobatinya. Perempuan ini yakin bantuannya akan di tolak mentah-mentah.

Dirasa cukup, Hinata menghentikan pengobatannya. Hinata membenarkan posisi selimut Sasuke sampai menutupi sebatas dada dan merapihkan sedikit bantal yang dipakai oleh Sasuke.

Hinata memandang sejenak Sasuke. Senyum kecil tak lupa terpantri di wajah ayunya. Sekarang rasa gelisah yang bergelanjut di hatinya telah pergi. Dengan begini salah satu kegelisahannya berkurang satu. Hinata beranjak keluar dari kamar Sasuke.

Sekali lagi, Hinata menyakinkan perbuatannya membantu Sasuke karena dia adalah partner pria itu. Tidak lebih.


Kelopak mata milik perempuan Uchiha ini terbuka perlahan. Mata putih itu diarahkan pada jendela kamar yang menyimpan gelap di luar sana. Tubuh Hinata masih lemah karena baru saja terbangun dari tidur singkatnya. Hinata menghela nafas pelan. Diliriknya jam yang menunjukan pukul lima. Ternyata Hinata hanya tidur tiga jam. Hinata menyimbak selimut dan mulai merapihkan Futon berukuran sedang itu. Selesai dengan urusan Futonnya perempuan ini hanya duduk terdiam memikirkan apa yang akan dilakukan setelah ini. Hinata tidak punya keinginan untuk tidur lagi. Ia sama sekali tidak mengantuk walaupun tidur tiga jam saja, atau lebih tepatnya Hinata merasa tidak tahu 'tujuan hidupnya hari ini' jadi tidurpun ia tidak berminat.

Untuk kedua kali di pagi ini, Hinata menghela nafas pelan dan lebih panjang.

Banyak orang tahu, Sasuke dan dirinya tak pernah dekat walaupun saling kenal. Karena situasi inilah yang menyulitkan Hinata untuk bertindak. Meski sebuah misi tapi Hinata tetap harus melakukan tugasnya sebagai istri. Bagaimanapun mereka menikah secara resmi. Alangkah berdosanya Hinata jika tidak melayani suaminya dengan benar. Tapi jika ia melakukan tugasnya, Hinata tidak yakin Sasuke akan suka dan menerimanya. Sasuke benci sesuatu merepotkan. Berat rasanya memulai segalanya yang baru terlebih dulu. Seolah hanya Hinata yang berjuang dengan suasana baru ini. Sesungguhnya Sasuke pun ia rasa seperti dirinya. Hanya saja mungkin pria itu tidak menunjukkannya di depan. Bisa saja kan?

Soal tugas Hinata sebagai istri sungguhan-bukan karena misi- perlu dibicarakan dengan Sasuke? Ia rasa memang perlu.

Baiklah, cukup untuk kebingungan Hinata. Pertama, Ia harus segera mandi, memasak lalu terakhir membangunkan Sasuke. Bicara tentang Sasuke. Hinata baru ingat pemuda itu tengah terluka. Mungkin lebih baik Hinata pergi ke kamar Sasuke untuk kondisinya baru setelahnya Hinata pergi membersihkan diri.

Hinata beranjak menuju kamar Sasuke. Perihal luka Sasuke, Hinata masih bertanya-tanya dimana pemuda itu mendapatkan lukanya dan kenapa?

Apa perlu keadaan Sasuke yang terluka dan kepergiannya tak lama setelah tiba di Masion Uchiha, Hinata laporkan pada Kakashi. Ini juga misi Hinata. Memata-matai Sasuke.

Benar kan beban Hinata di misi ini jauh lebih berat daripada Sasuke. Mungkin jika Hinata ketahuan oleh Sasuke telah berkhianat, Hinata tidak akan menyelesaikan misi dengan selamat. Nyawa Hinata berada di tangan Sasuke.

Pintu coklat tua milik kamar Sasuke di buka pelan. Hinata berdiri di luar mengamati tubuh Sasuke. Kondisinya membaik. Cakra Sasuke juga mengalir normal. Hinata bisa berlega hati sekarang.


Dilihat sekilas Hinata tebak pemiliknya jarang sekali menggunakan dapur rumah. Tempatnya agak kurang terurus. Bisa dimaklumi Sasuke tinggal seorang diri dan jarang sekali berada di rumah. Maka tidak heran rumah dan seisinya terkesan tak bertuan.

Setelah menimbang apa yang akan dilakukan untuk hari ini, Hinata memutuskan untuk mulai dari memasak sarapan pagi untuk dirinya dan Sasuke. Biasanya, mendiang ibu Hinata bangun lebih awal dari anggota keluarga lainnya untuk memasak sarapan. Jadi Hinata mengikuti apa saja yang dilakukan mendiang ibunya selama jadi seorang istri.

Hari ini Hinata memasak menu sederhana saja. Hinata tidak tahu selera makan Sasuke. jadi ia memasak yang umum saja seperti Sup Miso,Tamagoyaki, Nori dan ikan panggang agar Sasuke juga bisa menerima makanannya. Hinata selesai menghidangkan makanannya di atas meja. Senyum puas menghias wajah ayu Hinata. Sekarang tinggal membangunkan Sasuke sebelum makanannya menjadi dingin. Agaknya Hinata tak perlu repot-repot untuk membangunkan Sasuke, Karena pria itu sudah berdiri tak jauh dari ruang makan. Hinata menyapa ramah.

"Pagi, Sasuke-san."

Sasuke tidak membalas dan memilih diam di tempat.

Sebelum datang ke ruang makan Sasuke sudah membersihkan badan dan menganti perban. Tidurnya terganggu oleh bau asing dan suara berisik dari arah dapur. Sasuke bergegas ke sana setelah mandi dan menemukan Hinata tengah menyiapkan sarapan pagi. Sikap Hinata seperti sekarang diluar perkiraan Sasuke. Ia pikir mereka akan hidup masing-masing walaupun tinggal satu atap. Tak memperdulikan satu sama lain. Di misi ini Sasuke hanya butuh tubuh dan rahim Hinata untuk mengandung. Selainnya, Sasuke tak peduli dan seharusnya Hinata pun begitu. Tapi ini apa? Sasuke tak habis pikir Hinata itu bodoh atau memang naif? Sasuke perlu menjelaskan posisi mereka dengan sangat jelas agar tak ada kesalapahaman di antara mereka.

Perhatian Sasuke tertuju pada Hinata kala perempuan itu mengajaknya sarapan.

"Maaf aku belum izin pada Sasuke-san menggunakan dapur ini.

Dan emmm... maaf juga jika tidak sesuai seleramu, mari."

Hinata bisa bernafas lega kala Sasuke tanpa bicara duduk di kursi yang berhadapan dengannya.

"Itadakimasu," ucap Hinata.

"Itadakimasu."

Hinata menunggu Sasuke memulai makannya lebih dulu. Namun Sasuke cukup kesusahan untuk menggunakan sumpit dengan tangan kirinya. Sasuke bukan kidal. Ia harus menggunakan tangan kiri karena tangan kanannya terluka dan sulit untuk digerakan. Melihat kesulitan Sasuke, Hinata dengan inisiatif memindahkan lauk ke atas nasi Sasuke dan meraih sumpit pria itu untuk digantikan dengan sendok. Sasuke diam dan tak menolak atau lebih tepat tidak sempat menolak karena keterkejutannya. Gerakan Hinata luwes seperti tidak ada beban. Seolah bukan hal besar. Sasuke tidak tahu bagaimana sifat dan sikap seorang Hinata yang terkenal pemalu ini. Namun, Sasuke bisa bilang Hinata cukup peka dan perhatian.

"Terimakasih."

Dan Sasuke melihat jelas senyum tulus perempuan di depannya merekah anggun mendengar ucapan terimakasihnya yang terlalu pelan.

"Itadakimasu." Ulang Sasuke.

"Itadakimasu."

Sarapan pagi ini mereka habiskan dalam diam.


"Sasuke-san."

"Hyuuga."

Panggil mereka bersamaan.

"Sasuke-san bisa bicara lebih dulu."

Sasuke mengangguk setuju.

"Tentang Misi kita. Aku ingin menegaskan beberapa hal. Kau bebas melakukan segala hal di rumah ini tapi tidak mengusik satu sama lain."

Hinata perlu mendengarkan sampai akhir penjelasan Sasuke agar ia tidak salah paham nantinya.

"Aku tidak peduli apa yang akan kau lakukan di luar misi kita, selagi itu bukan hal yang akan mengagalkan misi. Aku tidak akan ikut campur. Begitu juga sebaliknya. Seperti makan bersama atau lainnya, kau tidak perlu mengikutsertakan aku di dalamnya. Bersikaplah selayaknya rekan misi."

Dengan kata lain Sasuke ingin mereka tetap menjadi orang asing. Pria itu memasang tembo tinggi tanpa pengecualian. Hinata rasa tak perlu mengutarakan niatnya untuk berperan menjadi seorang istri sesungguhnya-bukan karena misi-. Sasuke tidak menginginkannya.

"Hyuuga,"

Hinata menatap bingung. Sasuke saja masih memanggilnya Hyuuga.

"Seharusnya kau sadar misi ini hanya membutuhkan tubuh dan rahimmu."

Hinata tertegun.

Seperti itukah cara pandang Sasuke terhadapku?

Otaknya bertanya-tanya apa Sasuke begitu dingin dan tak berperasaan seperti ini, jauh dari gambaran Naruto? Atau Hinata yang gagal memahami Sasuke? atau Hinata tersinggung oleh fakta yang di ucapkan Sasuke? Hinata pikir semuanya benar. Sasuke dingin, Hinata yang gagal memahami pria itu dan dirinya yang tersinggung dengan fakta yang ada. Sasuke menyadarkan Hinata dengan kalimatnya. Perannya disini tak lebih seperti penampung benih bayi lalu melahirkan. Fakta tersebut membuat dadanya sesak terpenuhi amarah dan kecewa.

"Aku mengerti." Hinata menjawab tegas. Ia harus sadar, semua ini hanya sebuah misi dimana akhirnya mereka akan berpisah dan menjalani hidup masing-masing.

"Sekarang giliranmu."

"Meski rahim dan tubuhku adalah hakmu Sasuke. Aku ingin melakukannya jika aku dan kau memang menyetujui untuk melakukan hal itu. Jika diantara kita ada yang tak berminat, aku harap tidak ada paksaan. Aku harap Sasuke-san bisa menerima pendapatku."

Jika memang Hinata terlihat rendah di mata Sasuke, setidaknya dengan peraturan yang Hinata minta. Harga dirinya tidak jatuh lebih dalam lagi. Di sini Hinata ingin membuat Sasuke lah yang membutuhkan Hinata tapi jika Hinata menolak, Sasuke tak bisa melakukan apapun dan dengan begitu Hinata bisa menyelamatkan sedikit harga dirinya.

Sasuke menyeringai.

Hyuuga tetaplah Hyuuga. Licik.

"Kau melanggar aturan, Hyuuga!"

"Dimana aku melanggar aturan? Tidak ada aturan tertulis dimana aku harus menurutimu jika kau ingin menyentuhku. Bacalah lagi."

"Aku tidak membutuhkan izinmu."

Arogan. Hinata tidak suka.

"Tentu kau membutuhkannya. Jika tidak kita bisa melenyapkan rumah ini."

Tawa remeh Sasuke mengudara. Hinata penuh kejutan.

"Aku sangat menantikannya, Hyuuga."

Sasuke memaku dagu. Bibirnya tertarik kecil, menyeringai. Mata hitam Sasuke menatap Hinata menggoda. Lihat saja sorot perempuan lemah depannya. Sasuke bisa menangkap kekesalan juga tidak berdayaan seorang Hinata. Perlahan Sasuke menelusuri tubuh Hinata dengan mata penuh penilaian.

"Perhatikan matamu Sasuke!" geram Hinata.

Lucu sekali.

"Bagaimana bisa Hyuuga punya orang tanpa pertahanan sepertimu."

Seringai, senyum dan kalimat merendahkan Sasuke pada Hinata, ia tidak suka. Hinata benci mendengarnya. Tapi Hinata lebih benci pada dirinya kala hanya diam tanpa membalas atau melawan perlakuan buruk Sasuke.

Kenapa? Karena ucapan Sasuke benar adanya. Maka sebenarnya, Hinata marah pada dirinya sendiri.


TBC

Aku kembali dengan chapter 3.

Wow, gak nyangka sama responya bakalan sebanyak ini. Terimakasih terimakasih terimakasih.

Aku bakalan jawab beberapa pertanyaan dari kalian.

Kenapa judulnya Aurora? Jujur waktu lagi nyari judul buat cerita ini*aurora* aku gak ada ide sama sekali buat nemu judul cerita. Setelah nyari-nyari, awalnya aku pengin ambil nama pelangi tapi kok aku kurang sreg. Mikir lagi berkali-kali buat nyari judul yang indah sesuai dengan image Hinata. Aku nemuin Kata Aurora. Aurora itu cantik dan indah banget walaupun baru lihat di gambar hahaha. Jadi aku pengin ngasih pesan bahwa Hinata itu seperti Aurora bagi Sasuke. Hinata adalah keindahan yang sulit untuk dilihat kalau gak lihat secara langsung. Keindahan yang asing dan baru bagi Sasuke. Hinata adalah keindahan hidup Sasuke. eaaaaaaaa

Sasuke punya perasaan ke Sakura? Seperti yang udah di jelaskan sama Kakashi. Sakura untuk Sasuke itu udah kayak keluarga yang harus dijaga gak lebih.

Entah kenapa Hinata selalu dibuat menyedihkan. Kapan Hinata akan membalas semua perbuatan mereka?kenapa? Sifat Hinata disini emang aku buat jadi pengalah. Hinata balas dendam? Coba lihat aja nanti ya.


Ada beberapa review yang pakai bahasa inggris dan aku kurang ngerti artinya apa. hahahahaha saya gak pinter2 banget bahasa inggrisnya. Jadi alahkah baiknya kalian jika ingin review bisa menggunakan bahasa indonesia. Biar aku ngerti apa yang kalian sampaikan dan gak ada salah pengertian diantara kita. Hehehe. Buka aib deh.

Oke terakhir makasih banget buat nunggu fanfiction Aurora. Saya gak janji buat update kilat karena saya juga lagi sibuk dengan real life saya. Tapi saya tetep akan nulis chapter selanjutnya kok. Walaupun bakalan lama buat update.

Ketemu di chapter 4.

Munssi