Aurora

Kritik dan Saran sangat dirindukan oleh saya ?

Hinata belum beranjak dari kursi yang berada di samping ranjang Sasuke sejak Sakura pergi. Mungkin sudah lewat lima belas menit Hinata habiskan untuk duduk diam menatap jendela kamar rumah sakit yang menampilkan suasana malam musim semi Konoha tanpa berhenti berpikir mengenai dirinya yang terjebak dalam kehidupan cinta Sasuke, Sakura dan Naruto. Seharusnya Hinata tidak ada di sana untuk mengacaukan tali percintaan mereka yang rumit. Hinata tersenyum getir membayangkan hidupnya yang seolah menjadi pelengkap cadangan yang kehadirannya tidak sungguh-sungguh dibutuhkan.

Sejujurnya, Hinata tak pernah meminta hal aneh atau sesuatu yang muluk-muluk pada Tuhan. Hatinya sungguh masih sekuat baja untuk menerima fakta Klan Hyuuga tak menyukainya atau saat Hinata salah paham pada Hiashi dan berpikir beliau seorang ayah pilih kasih yang sangat membencinya. Hinata masih bisa bertahan. Bahkan saat Naruto lebih memilih mencintai Sakura, hati perempuan Uchiha ini masih senangtiasa menerima kenyataan itu dengan lapang dada. Hinata tidak bisa memaksa kehendak dan dia sangat tidak suka sikap seperti itu. Jadi, saat Hinata menerima begitu banyak penolakan selama hidupnya, dia tidak pernah mencoba memaksa mereka menerima dirinya dalam kehidupan mereka. Tidak'kah Tuhan bisa berbelas kasih pada Hinata untuk memberi sedikit kebahagiannya setelah semua yang Hinata lalui?

Hinata juga seorang perempuan dewasa yang ingin dicintai. Tidak perlu Naruto, siapapun itu Hinata hanya ingin ada orang yang memberi hatinya dengan tulus padanya. Seperti Sakura yang dicintai Naruto dan Sasuke yang dicintai Sakura.

"Kau dan Sakura begitu cocok satu sama lain namun juga sama bodohnya. Terlalu angkuh dan selalu merasa dicintai."

Hinata menatap wajah Sasuke dalam remangnya temarap lampu kamar.

"Aku iri."

Pada Sakura juga dirimu, Sasuke.

"Sasuke." suara Hinata tersapu heningnya malam. Bibirnya digigit gelisah. Di dalam kamar inap ini Hinata menyerukan rasa penasarannya yang telah lama menghantuinya.

"Apa kau mencintai Sakura?"

Setidaknya, sekali saja berpikir 'mungkin aku bisa mencoba membalasnya.'

Pernah'kah?

Tidur Hinata terganggu saat suara korden jendela rumah sakit di buka cukup kencang hingga menimbulkan suara gesekan gigi-gigi korden yang memekikkan telinga. Mata Hinata mengerjap untuk menghalau silau sinar matahari pagi yang masuk.

"Pagi Hinata."

Hinata masih berusaha untuk melihat siluet perempuan yang berdiri di dekat jendela. Perempuan itu nampak menggunakan seragam hitam dan menggendong seekor babi kecil. Euh Babi?! Hinata cepat-cepat bangun.

"Sizune-san?!" panggil Hinata, membuka mata lebar-lebar. Dia berdiri canggung sembari merapihkan rambut. Hinata meruntuki dirinya karena bangun kesiangan dan membuat orang lain yang notabennya seorang tamu-meski Sizune adalah asisten Tsunade yang mengurus perawatan Sasuke- harus mendapati dirinya baru bangun tidur.

"Santai saja, Hinata. Aku datang untuk mengecek kondisi Sasuke. Hasilnya cukup ada perkembangan dan kondisinya makin membaik. Bukan begitu, Sasuke?"

Buru-buru Hinata membuang wajahnya pada Sasuke yang tengah duduk bersandar di kepala ranjang sembari menatapnya. Hinata menyapa Sasuke namun terdengar seperti tengah bergumam tidak jelas. Hinata kaget dengan kedatangan Sizune lalu ditambah Sasuke yang tersadar tanpa melepas tatapannya pada Hinata. Sizune tersenyum gemas melihat Hinata yang nampak salah tingkah. Tidak mau menganggu pasangan baru menikah ini, Sizune pamit untuk pergi.

"Aku harus kembali ke kantor Hokage untuk memberikan hasil pengecekannya."

Hinata mengantar Sizune. Langkahnya terhenti di ambang pintu kala Sizune berbalik untuk berpamitan pada Sasuke dan dirinya.

"Aku pergi dulu, Hinata," pamit Sizune.

"Terimakasih." Hinata tersenyum.

Hinata menutup pintu kamar. Kakinya belum beranjak pergi dari sana. Hinata menimbang-nimbang apa yang harus dia lakukan. Menyapa Sasuke atau mengabaikan pria itu dan segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Sepertinya pilihan pertama adalah yang terbaik. Menilik dari sikap Sasuke yang masih betah menatapnya tanpa bicara. Mungkin Sasuke ingin mengatakan sesuatu?

"Pagi, Sasuke. Merasa lebih baik?" Hinata berjalan mendekati ranjang Sasuke lalu berdiri di sampingnya. Pria itu diam. Hinata tak menyerah bertanya untuk mengurangi rasa canggungnya.

"Perlu sesuatu? Mungkin aku bisa bantu?"

"Mandikan aku," pinta Sasuke terdengar lemah namun masih tersisa nada tajam di dalamnya.

Hinata berjengit kaget tapi dengan cepat mengontrol diri tak menunjukkannya. Pipi putih Hinata sedikit bersemu merah. Dia tidak menyangka Sasuke akan memintanya langsung untuk dimandikan meski itu bukan hal baru bagi Hinata.

"Baik, Aku siapkan dulu."

Kaki kecilnya lekas menuju kamar mandi untuk menyiapkan peralatan mandi. Setelah mengambil air yang sudah dicampur dengan antiseptik. Hinata, meraih handuk putih kecil di dalam lemari lalu kembali ke tempat Sasuke dengan peralatan lengkap.

Sasuke tidak bodoh untuk sekedar menemukan kegugupan kecil dari Hinata. Bahkan perempuan ini nampak kebingungan saat ingin memulai melakukan apa dulu.

"Aku partnermu, Hyuuga. Tidak lebih. Jadi jangan ragu untuk melakukkannya." Sasuke tidak bermaksud untuk menenangkan atau mencoba menyakinkan Hinata. Dia hanya ingin segera mandi dan semuanya cepat selesai tanpa ada drama. Tapi bagi Hinata, Sasuke tetaplah pria meski mereka hanya seorang partner. Apalagi Hinata memandikan Sasuke saat sadar. Itu lebih memalukan lagi bagi Hinata. Tidak bisa apa Sasuke berpikir bagaimana di posisinya?

"Hyuuga?" panggil Sasuke.

Hinata tersentak sadar, "Ya."

"Cepat." Rasanya Hinata ingin melempar air dalam baskom ke wajah Sasuke saat mendengar perintah mutlaknya.

"Aku akan membuka pakaianmu dulu, Sasuke."

Sasuke mengangguk setuju. Hinata mulai membuka kancing baju pasien Sasuke. Semua berjalan lancar. Hinata menaruh baju Sasuke di atas kursi. Dari sini, mata Hinata harus bersikap sopan. Dia tidak ingin Sasuke salah paham atau merasa tidak nyaman karena mungkin saja matanya tanpa sadar melihat atau menatap tubuh telanjang Sasuke terlalu intens. Well, Hinata perempuan normal. Dada bidang milik Sasuke, Hinata akui adalah salah satu yang terbaik. Entah kenapa terlihat Sexy meski tertutup perban.

"Maaf, perbanmu akan aku lepas." Tanpa menunggu persetujuan Sasuke, Hinata segera melepas ujung perban yang berada di bagian depan. Hinata sedikit menompang tubuh Sasuke untuk mengeluarkan lilitan perban dari belakang punggung. Baru Hinata ingin memecah keheningan mereka. Suara pintu kamar yang dibuka pelan menghentikan gerakan Hinata. Siapa pagi-pagi sudah berkunjung? Sizune lagi? Hinata menyipitkan mata kaget saat melihat sosok Sakura tengah berdiri di ambang pintu mematung melihat Hinata dan Sasuke.

'Kau salah pilih waktu, Sakura,' gerutu Hinata, agak kesal.

"Oh maaf, mengganggu," ucap Sakura.

"Tidak Sakura. Masuklah. Aku sedang memandikan Sasuke," sahut Hinata ramah. Sakura berjalan masuk. Mata Hinata jatuh pada sekotak bekal di tangan Sakura. Hinata meringgis perihatin dalam hati. Kali ini, Sakura bersikap sedikit berlebihan. Tentu Hinata sangat berterimakasih pada Sakura untuk makanannya. Tapi, itu bukan tugasnya. Siapa sih istri Sasuke? Hinata atau Sakura. Kenapa juga Sakura selalu bersikap terang-terangan jika dirinya peduli dan khawatir pada Sasuke seperti seorang istri. Tidakkah Sakura sedikit saja berpikir bagaimana posisinya sebagai seorang istri-meski hanya misi-di mata banyak orang. Akan sangat aneh dan tidak baik jika orang-orang berpikir tentang perhatian Sakura pada Sasuke yang berlebihan padahal ada Hinata.

"Bagaimana keadaanmu, Sasuke-kun?" tanya Sakura diujung ranjang langsung menghadap lurus Sasuke. Pria itu menggangguk kepala menjawab lalu menyuruh Hinata melanjutkan pekerjaannya tanpa memperdulikan Sakura. Hinata tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Ada apa dengan Sasuke? Hinata merasa ada sesuatu yang dilakukan Sasuke dengan bersikap cuek pada Sakura. Sungguh, Sasuke tidak bisa ditebak. Pria itu luar biasa pintar menyimpan perasaannya.

"Oh ya, aku membawa sarapan pagi," ucap Sakura ceria sembari mengangkat kotak makanan itu tinggi-tinggi.

"Terimakasih, Sakura. Kebetulan sekali, aku bangun kesiangan jadi belum sempat memasak." Hinata melempar senyum. Setidaknnya Hinata berusaha untuk mengeluarkan Sakura dari suasana canggung dan tidak nyaman mereka saat ini.

Sakura tertawa pelan. Setelahnya, Sakura berceloteh ini itu membahas Naruto dan beberapa kejadian yang sudah lalu sekedar untuk memberitahu Sasuke. Hinata sesekali menimpali disela-sela kesibukannya melepas perban. Berbeda dengan Sasuke yang malah tak berniat untuk mendengarnya. Hinata bahkan sampai tak enak hati dengan sikap Sasuke pada Sakura yang memilih diam dan hanya menatap perempuan itu saat diberi pertanyaan.

"Naruto masih mengkhawatirkanmu. Dia tidak sabar untuk segera melihat keadaamu jika sudah sembuh, Sasuke."

Perhatian Sasuke sukses tertuju pada Sakura.

"Tentu kau harus mengatakan pada Naruto jika aku dalam kondisi baik, Sakura."

Sakura mematung diam saat mendengar jawaban Sasuke yang cukup dingin dan tidak bersahabat. Bahkan Hinata sampai mengernyit dalam menatap Sasuke yang juga tengah menatapnya.

"Ya, tentu Sasuke."

Hinata tersenyum pada Sakura. Senyum minta maaf. Sungguh Hinata merasa buruk entah kenapa. Sasuke sudah keterlaluan.

"Oh ya, Apa tadi Sizune ke sini? Apa katanya?" Sakura bertanya ceria. Bagus sekali. Hinata sedikit lega mendengarnya.

"Seperti yang kau lihat Sakura. Kondisi Sasuke membaik."

Hinata mendengar Sakura bergumam lega. Perhatian Hinata kembali pada Sasuke. Berbeda dengan pertama, Hinata merasa jaraknya dengan Sasuke sangat intim. Sasuke sengaja mendekat pada Hinata dan sedikit memberikan tatapan intens atau sentuhan kecil seperti menghirup area sekitar leher Hinata, bahkan yang membuat Hinata hampir terlonjak kala tangan Sasuke menyingkirkan helaian rambut Hinata ke belakang telinga dan berakhir mengusap pipinya kemudian menyusuri kembali helaian rambut Hinata membuatnya terkesima. Hinata tidak bisa menahan sesansi aneh kala tangan Sasuke semakin berani turun ke lehernya dan mengakhiri perjalanan tangannya di sana. Mengusapnya dan sekali memijatnya pelan. Hinata meremang karena sensai sentuhan asing yang diberikan Sasuke. Nafas Hinata terasa sesak. Ada sesuatu yang menahan untuk di keluarkan. Sadarlah Hinata.

Brakk!

Hitana tersadar saat mendengar bantingan pintu yang dilakukan Sakura. Perempuan itu pergi meninggalkan mereka. Dengan nafas memburu dan belum sepenuhnya sadar dengan situasi yang baru saja terjadi, Hinata dibuat kembali terkejut saat Sasuke mendorong tubuhnya menjauh. Hinata menatap Sasuke gemetar. Sasuke menangkap jelas wajah kaget Hinata dengan tindakan anehnya.

"Terimakasih," ucap Sasuke, pelan. Hinata mengedipkan mata tak mengerti. Dia butuh penjelasan yang masuk akal untuk perbuatan Sasuke. Bukan ucapan terimakasih yang terdengar ambigu bagi Hinata.

"Kita partner. Sudah selayaknya saling membantu bukan?"

Hinata tidak bisa menghentikan perasaan sakit di hatinya saat mendengar penjelasan Sasuke. saling membantu? Jadi Sasuke sengaja menyentuh Hinata untuk mengusir Sakura dari sini. Pria itu memanfaatkan Hinata dan dengan bodohnya dia terbawa suasana oleh sentuhannya. Hinata mengeram marah. Harga dirinya seperti diludahi oleh Sasuke. Seharusnya Sasuke memberitahu dia lebih dulu jika berencana mengusir Sakura. Bukan bertindak sesuka hati dan membuat Hinata salah paham.

"Seharusnya kau memberitahu aku lebih dulu," protes Hinata, menggenggam erat handuk putih itu. Emosinya Hinata tahan di sana.

"Sangat mendadak. Tidak ada waktu untuk menjelaskannya padamu." Tidak ada raut bersalah sedikitpun di wajah Sasuke. Pria itu bahkan cuek-cuek saja menatap Hinata.

"Aku merasa sangat dirugikan dan marah."

Sasuke menyeringai kecil.

"Marah karena niatku atau sentuhanku?"

"Kau-" Sasuke langsung memotong Hinata yang hendak memprotes kembali.

"Biar kutebak. Seharusnya kau marah karena niatku. Aneh jika kau marah karena aku menyentuhmu. Tadi kau nampak menikmati semuanya, Hyuuga."

Hinata benci senyum kecil di bibir Sasuke seolah mengatakan ucapan pria itu benar adanya.

"Tidak!"

Handuk putih yang dia pegang tergeletak begitu saja dilantai. Jika kalian berpikir Hinata akan kabur membawa semua amarah dan rasa malunya lalu secara tidak lansung mengakui ucapan Sasuke. Buang itu jauh-jauh dari otak kalian. Sifat Hinata yang ini memang tidak ada satu orangpun yang tahu bahkan terkadang Hinata kesulitan mengontrol sifatnya yang satu ini karena sangat berbanding terbalik dengan dirinya sebenarnya. Sasuke pasti akan kaget. Hinata melangkah dengan percaya diri mendekati Sasuke. Akan Hinata buat Sasuke memakan kembali kalimatnya. Hinata bersumpah dengan keyakinannya jika tadi Sasuke tak pernah lepas menatap bibirnya sejak memulai sentuhannya. Sasuke menginginkan Hinata. Dia tahu pasti.

Tanpa memperdulikan tatapan penuh tanya Sasuke. Hinata mendudukkan diri di atas ranjang. Tangannya terangkat untuk menyentuh helaian rambut Sasuke dan terhenti kala dicekal oleh pria itu. Hinata terdiam. Ditatapnya Sasuke cukup lama hingga matanya beralih menyusuri seluruh wajah tampan lelaki itu. Hinata akui sekali lagi Sasuke memanglah tampan namun sekarang hatinya tidak bisa goyah karena wajah karismatik milik pria itu.

Hinata tersenyum, namun bagi Sasuke itu adalah senyum membingungkan. Banyak makna di senyum Hinata. Sasuke benci mengakui bahwa dia terpancing kala tangan lembut Hinata menyusuri wajahnya dan sesekali mengusapnya. Dia tidak boleh bereaksi meski tubuhnya bergejolak untuk segera mengakhiri sentuhan lambat Hinata.

Jemari Hinata mengusap sekilas di bibir Sasuke. Mata Hinata beralih dari bibir Sasuke kemudian menatap mata kelamnya sebelum menyatukan bibir mereka. Hinata ingin meledak karena gugup, namun niatnya untuk membuat Sasuke kalah lebih besar. Hinata ingin Sasuke mengakui dia juga menginginkan sentuhannya. Bahkan lebih dari Hinata.

Hinata menjauhkan wajah. Ciuman,bukan lebih tepatnya kecupan kecil itu tak mampu membuat Sasuke terpacing. Hinata mengigit bibir bawah tanpa sadar dan membuat Sasuke mengerjap kesal. Sasuke tahu Hinata sengaja menggodanya.

Hinata mencobanya lagi. Kini lebih lama. Namun Sasuke lebih kuat bertahan dari pada dugaannya. Hinata mengangkat wajah. Nafasnya yang sedikit memburu menerpa wajah Sasuke. Ini yang terakhir. Meski hatinya bergemuruh bagai petir. Hinata akan mencoba lebih berani. Dia harus berhasil. Tekadnya kuat untuk membuat Sasuke kalah. Pria itu harus mengakui keinginannya untuk menyentuh Hinata.

Bibir Hinata kembali menempel pada Sasuke. Menekannya kecil, kemudian Hinata tak bisa menahan kekagetanya kala Sasuke menyambutnya dengan hangat. Bibir merah Hinata dilumat lembut dan hati-hati oleh Sasuke. Pria itu menurunkan tangan Hinata yang masih mengudara di atas lalu meletakkan di bahu kirinya. Hinata bisa merasakan panas tubuh telanjang pria itu.

Sekarang Sasuke lah yang memimpin dalam artian sesungguhnya. Sasuke memimpin ciuman. Hinata membuka mata untuk sekedar melihat Sasuke dan tatapan mereka bertemu sebelum keduanya terhanyut dalam ciuman panas. Hinata tersentak kecil kala tangan Sasuke mulai menyentuh belakang lehernya dan terus turun ke bawah memasukkan tangannya ke dalam bajunya. Menyentuh punggung Hinata dan sesekali mengelusnya hingga membuat kesadaran Hinata sedikit hilang. Tidak. Dia harus sadar. Jangan membuat dirimu terlihat menikmatinya, Hinata.

Sasuke memperdalam ciumannya. Bibir bawah-atas Hinata sesekali dia gigit pelan dan menyesapnya. Sasuke penuh gairah. Hinata tahu itu. Namun dia tidak mau berbaik hati untuk menyerahkan diri sekarang. Hinata harus memberi pelajaran pada Sasuke. Maka sebelum tangan Sasuke makin jauh menyentuh tubuhnya. Hinata memukul dada Sasuke pelan dan membuatnya mengeram sakit. Ciuman mereka terlepas. Keduanya sibuk mencari udara dan menenangkan diri. Namun sebelum Sasuke menarik Hinata kembali dalam ciumannya. Perempuan ini buru-buru bangkit.

"Lihat? Siapa yang sebenarnya menginginkan sentuhan? Kau Sasuke." Hinata mengelap bibirnya sensual. Sasuke berdecak kesal. Dia belum selesai dan Hinata memutuskan untuk berhenti. Sasuke menatap tajam Hinata. Meminta perempuan itu tidak main-main dengannya sekarang. Hinata bisa membaca wajah Sasuke yang memintanya untuk mendekat dan melanjutkan kegiatan mereka. Meski sebagian tubuhnya menginginkan hal yang sama-Hinata tidak bohong- dia berusaha menyembunyikannya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Hinata segera pergi meninggalkan Sasuke yang tengah memanggilnya sangat pelan.

Oktavia k.d.

Senin, 17 desember 2018