I'm Yours, Your Mine

Naruto milik Masashi Kishimoto

I'm Yours, Your Mine milik Munssi

Sasuke Uchiha

Hinata Hyuuga

Di bagian bawah saya akan menjelaskan beberapa hal tentang Fanfiction I'm Yours, Your Mine ini.

Happy Reading

Melihat sepintas saja, Hinata tahu kalau orang ini Tipikal Pria kaku, membosankan, dan penganut teori kolot tentang hidup kebebasan. Sangat disayangkan. Semua hal berbau 'Hidup Lurus' adalah hal yang bertentangan dengan prinsip Hinata. Bagaimana ya, jika sudah menyangkut prinsip. Hinata tidak bisa berkompromi. Jadi sudah pasti ia akan menolak perjodohan dengan pria culun ini. Sudah sering dengar kan, banyak pasangan kekasih memilih putus padahal pacaran sudah lima tahun. Semua karena satu hal, yaitu perbedaan prinsip. Apa kabar dengannya nanti jika tetap memutuskan menikah tapi dari awal mereka berbeda prinsip. Mungkin, usia pernikahan mereka hanya akan berlangsung satu jam? Hinata terlalu keras kepala jika menyangkut tentang prinsip hidup.

Alahkah baiknya jika nanti Hinata memberi penjelasan seperti itu pada orang tuanya. Mungkin mereka akan memikirkan dua kali untuk menjodohkan ia dengan pria culun ini. Bahkan bisa jadi mereka juga akan berhenti menjodohkannya dengan pria yang lain. Hinata terkekeh senang.

"Lihat gadis ini... sepertinya dia sangat bahagia akan menikah denganmu, Sasuke-san," goda Hikari tersenyum melihat kelakuan anaknya.

Hinata tersadar. Ia diam kebingungan. Hinata melirik ibunya sebal. Siapa juga yang mau menikah dengan pria itu.

"Aku menolak!" bisik Hinata sangat pelan dengan senyum terpaksa masih terpantri di sana.

"Kami tidak memberi pilihan dan kau tidak ada hak untuk memilih." Hikari tersenyum bak malaikat namun matanya melotot marah pada Hinata.

"Putri kami sudah besar ternyata." Hikari mengelus rambut panjang Hinata lembut. Tangannya turun ke punggung, mengelusnya perlahan lalu mencubit kulit punggung anaknya kesal. Hinata menggeram kesakitan. Perih. Ibunya benar-benar menyebalkan.

Semua yang menonton adegan romantisme anak dan ibu itu hanya menatap kagum.

Hinata tersenyum lebar untuk menyalurkan rasa sakit cubitan sang ibu.

Bagaimana ini? Hinata tidak mau menikah dengan pria bernama Sasuke itu. Tapi ibunya terlihat menyukai Sasuke. Negosiasi pasti sulit dilakukan. Hinata mengalihkan pandangannya pada Hiashi. Meminta pertolongan pada ayahnya. Biasanya beliau akan menyerahkan keputusan pada Hinata. Namun sepertinya bau pintu kebebasan sudah tertutup rapat. Ayahnya tengah menatap Sasuke dengan mata kepuasaan. Mata putih ayahnya seolah berkata 'Dia yang terbaik'. Hati Hinata memanas. Raut wajahnya seakan ingin mencabik orang hingga mati. Ditambah lagi dengan tak sengaja pandangan Hinata bertemu dengan mata polos Sasuke.

Duar! Luluh lantah sudah emosi di dalam tubuh Hinata. Jari-jarinya mengepal erat. Matanya melototi Sasuke yang sekarang bingung dengan sikap Hinata.

Apa aku melakukan kesalahan? Kurang lebih seperti itu tatapan Sasuke yang Hinata artikan.

Tenang Hinata. Tenang.

Masih ada negosiasi. Masih ada jalan keluar untuk menolak. Tidak ada perjodohan. Pernikahan maupun pemuda itu. Tidak ada. Takan pernah. Tak kan. Kan Menikah. Menikah. Menikah. Hinata tetap akan menikah.

"Sasuke-san bekerja di mana?" Hikari bertanya ramah.

"S-saya bekerja d-di In.."

Hinata serius mendengarnya, tampangnya macam orang dungu sedang melamun. Bibir Hinata sampai terbuka membentuk dua huruf terakhir yang diucapkan Sasuke.

"Intansi Pemerintahan." lanjut Sasuke lancar diakhiri senyum malu.

Terdengar tawa kecil keluar dari bibir ibunya.

Lengkap sudah penderitaan Hinata. Tak hanya harus menikah dengan pria kolot tapi juga gagap. Pria seperti Sasuke bagaimana bisa diandalkan? Bukannya melindungi Hinata malah sebaliknya Ia yang harus melindungi Sasuke. Pria itu pasti tidak pernah menyentuh sesuatu hal berbau kekerasan. Seperti berkelahi. Dan Hinata adalah salah satu perempuan yang cukup disegani abad ini karena kemampuan bertarungnya.

Hinata bisa turun derajat sebagai bos preman jika menikah dengan pria culun macam Sasuke.

Dipikir dengan baik-baik, bukankah selama ini hidupnya baik-baik saja? Keuntungan apa yang akan Hinata dapat dari sebuah pernikahan? Tidak ada. Menikah berarti membatasi segala hal yang ingin ia lakukan. Ruang geraknya tidak sama lagi.

Tak habis pikir, kenapa Hinata harus menerima Sasuke yang notabennya tak lebih baik dari pria lain yang sudah dijodohkan dengannya. Cara bicara, berjalan dan senyumnya aneh. Gerak-geriknya terlalu membosankan untuk dilihat. Sasuke tak ayal seperti anak cupu di SMA yang menjadi sasaran empuk bagi para preman seperti Hinata untuk di Bully. Masa ia harus menikah dengan pria macam itu? Mau ditaruh mana mukanya? Kaum yang sering ia tindas sekarang menjadi pendamping hidupnya. Dosa apa yang Hinata lakukan di masa lalu.

"Ternyata Sasuke PNS," ujar Hikari kagum. Sasuke mengangguk kecil.

Hikari melanjutkan "Meski sibuk bekerja, Hinata pasti menyempatkan diri membuat sarapan pagi untuk kami. Masakannya sangat enak, aku menjamin itu menantu Uchiha."

Uhuuk!

Saking kagetnya mendengar bualan sang ibu. Air teh hendak Hinata minum menyembur kemana-mana. Maksudnya dengan sibuk bekerja itu bertarung, teman-teman. Manis sekali, Hinata merasa jadi wanita lurus yang hobbynya memasak di dapur. Istri idaman semua pria. Huh, itu jauh dari sosok Hinata.

"Maaf-maaf," sesal Hinata menunduk kepala malu. Jadi acaranya telah masuk ke sesi membanggakan anak masing-masing.

Okelah Hinata sebenarnya lelah terus dijodohkan. Belum lama ini, Ia berniat untuk menuruti orangtua agar lekas menikah namun melihat siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya. Hinata terus terang menolak. Harga dirinya terasa diinjak . Namun ia ingat janjinya sendiri untuk tidak membangkang lagi pada ayah dan ibu. Ada banyak alasan kenapa ia menyerah dan menuruti kemauan orangtuanya. Salah satunya adalah Hinata tidak ingin melihat raut kecewa mereka lagi. Selama ini, ia hanya bisa membuat masalah. Lulus SMA jadi penganguran, lalu jadi ketua genk. Berkelahi sudah jadi makanan sehari-hari Hinata, termasuk bonus semprotan dari ayahnya. Itu lebih parah daripada memar di tubuh. Karena tidak bisa memberi sesuatu apapun yang bisa membuat mereka bangga padanya, Hinata pikir apa salahnya menuruti permintaan mereka.

Hinata tidak bisa berbuat banyak untuk menolak. Lalu bagaimana prinsip hidup Hinata yang ia bangga-banggakan? Lupakan itu.

Sebenarnya, Hinata bisa saja menentang perjodohan ini. Macam dorama di tv, tidak bisa menikah dengan pria yang dijodohkan karena ada pria lain yang dicintai. Jadi atas nama cinta, kedua pasangan sejoli datang bersama menemui orangtua sang wanita. Meminta restu, memelas dengan air mata bercucuran. Berkata saling mencintai, tidak bisa hidup tanpanya. Sia-sia, orangtua tetap tak merestui. Hidup memang kejam, nak. Tapi yang menjadi masalah,Hinata tak punya laki-laki yang dicintai.

Ada dua pendapat tentang perjodohan. Pertama, yang kontra berkata: dijodohkan berarti Menikah dengan orang yang belum dikenal. Bagaimana bisa aku yakin jika dia itu jodohku. Orang bilang jodoh di tangan Tuhan. Apa orangtua adalah Tuhan? Bukan. Ini tidak lagi sama dengan masa mereka remaja. Semua hal ditentukan oleh orangtua, Peraturan kolot. Yang menikah siapa? yang menjalani pernikahan siapa? Jika ada masalah siapa yang merasakan? Orangtua? Tentu saja bukan. Apapun hal bernama perjodohan aku membencinya!

Beda lagi yang pro: apa yang dipilihkan orangtua pasti terbaik untuk anaknya. Mana ada orangtua ingin melihat anaknya menderita di masa depan. Lagi pula cinta bisa tumbuh seiring waktu. Jika saling mengenal baik satu sama lain dan menerima kekurangan-kelebihan pasangan. Percaya, pernikahan karena perjodohan bisa berjalan dengan cinta. Banyak keluarga hidup bahagia yang mulanya berasal dari perjodohan. Berpikir positif.

Hinata tidak yakin ia termasuk dalam katagori Pro. Dalam hatinya ia juga memiliki perasaan si Kontra. Anggaplah Hinata itu Pro-kontra. Dua tahun lebih Hinata mengindahkan perintah orangtuanya untuk menikah. Kala itu, usianya masih sangat muda, dua puluh dua tahun. Ia masih ingin menikmati masa muda. Kapan lagi kau bisa melakukan segala hal tanpa batas? Setelah menikah? Yang ada terkurung di rumah, menunggu suami pulang kerja. Membosankan.

Berjam-jam hanya duduk diam mendengar obrolan basa-basi mereka, Hinata beranjak berdiri. Semua mata tertuju padanya. Dengan nada malu ala remaja dimabuk asmara Hinata berkata, "Bisakah aku mengajak Sasuke-san untuk jalan-jalan, maksudku ada taman di belakang rumah, aku…" Kalau Kiba, Shikamaru dan Naruto melihat bagaimana Hinata berbicara tadi, sudah pasti Hinata jadi bahan ledekan berminggu-minggu oleh mereka.

Hinata bergidik ngeri melihat Sasuke tersenyum malu sembari membenarkan letak kacamata sesaat Mikoto-ibu Sasuke- menyuruh pria itu pergi bersamanya. Gadis ini sampai mual dibuatnya. Sasuke mengekor di belakang Hinata.


Sekonyong-konyong merasa aman, hanya mereka berdua. Perempuan ini tiba-tiba mendorong tubuh Sasuke cepat dan keras hingga membentur tembok taman rumah. Hinata merangsek mendekat, tangan kanannya menekan tembok sedangkan kakinya terangkat menendang sisi kiri pria itu.

Sasuke terkejut bukan kepalang. Apalagi matanya tak sengaja menangkap paha mulus Hinata sesaat mini dress biru tersebut tersingkap. Jantung Sasuke berdebar. Fokusnya sudah pecah. Mata-paha-mata-pah-ini buruk! Cepat-cepat Sasuke menatap mata wanita di depannya kaget. Hinata menyeringai. Senang korbannya merasa ketakutan. Setidaknya ia sudah memberi kesan buruk pada Sasuke. Bahwa ia tidak seperti gambaran wanita baik-baik, persis diceritakan ibunya.

Suara gementar Sasuke berkumandang, "K-kakimu."

Hinata mengikuti arah pandangan Sasuke. Paha mulusnya terekspos tanpa pertahanan. Sialan juga pria ini! umpat Hinata membatin.

"Kenapa?! Ingin lihat lebih?!" Hinata menyalak, sengaja menarik tinggi-tinggi dressnya yang tersingkap. Sasuke merona. Hinata menahan tawa melihat ekspresi konyol pria itu. Matanya membulat di balik kacamata, sesekali berkedip cepat. Berapa umurnya? Harusnya dia tidak perlu merasa malu dan terkejut, bukankah ini hal biasa untuk orang dewasa? Naif.

Diamati dari dekat, Hinata rasa laki-laki ini tak terlalu buruk. Kulit wajahnya putih bersih, bentuk bibir pria itu juga lumayan menggoda jemari Hinata untuk menjamahnya. Tak terlalu buruk tapi sayangnya otak Hinata sudah menilai 'Hidup Sasuke itu membosankan'. Hinata berpikir jika ia menikah dengan Sasuke, hidupnya akan berputar pada memasak, bersih-bersih rumah, menunggu suami pulang kerja dan selamanya akan seperti itu. Tidak ada sesuatu yang menantang, datar. Tapi bukankah seorang seperti Sasuke tidak bisa menguasi dirinya? Jenis suami takut istri begitu. Benar juga. Kenapa Hinata baru menyadarinya. Meski ia sudah menikah nanti, Hinata tetap bisa menjalani aktivitasnya seperti sedia kala. Sebelum itu, ia bisa membuat perjanjian pranikah dengan Sasuke. Hanya mereka berdua yang tahu. Ia tersenyum puas.

"Aku tidak pintar basa-basi, langsung saja. Sebelumnya, kita tidak saling mengenal atau bertemu. Aku tidak tahu apapun tentangmu, begitu juga sebaliknya. Perjodohan ini bukan atas kehendakku, itu berarti saat ini aku tidak berminat menjalin hubungan serius dengan siapapun."

Sasuke menatapnya diam, Hinata tak bisa membaca ekspresi pria itu.

"Seperti yang kau tahu, kita bertemu pertama kali. Jika kau berpikir aku menolak perjodohan ini, kau salah. Apa yang kulakukan semata-mata untuk memenuhi keinginan orangtuaku. Meski ingin menolak, aku tak bisa melakukannya. Ya hitung-hitung sebagai balas budi untuk ibu yang mau melahirkanku ke dunia. Meski itu tidak cukup untuk membalasnya, tapi setidaknya aku mengorbankan apa yang berharga bagiku untuk membuat mereka bahagia. Ini akan mudah jika saja aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama, tapi kau tak cukup pintar untuk menarik perhatianku," jelas Hinata. Ia tidak bermaksud melukai hati Sasuke-yang mungkin saja menyukainya- tapi ia harus menjelaskan semuanya.

Hendak Sasuke bersuara, gadis ini menyelanya lebih dulu.

"Aku menawarimu kerjasama. Semacam perjanjian?"

Sasuke tahu nada itu bukan pertanyaan namun pernyataan. Bukankah ia tidak diberi pilihan oleh Hinata. Penolakannya tak akan berguna.


Ini sudah lewat dua minggu sejak pertemuan tersebut. Mereka akan menikah dalam waktu dekat. Hinata bisa bernafas lega, setidaknya setelah menikah nanti tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sasuke menyetujui perjanjian yang ia ajukan.

Perjanjian itu untuk berjaga-jaga, mungkin lebih tepat untuk memenuhi keegoisan Hinata. Perjanjian nikah yang Hinata buat semacam batasan-batasan yang tidak boleh mereka langgar.

Isi perjanjiannya kurang lebih berbunyi seperti ini:

Tidak mengatur atau ikut campur urusan masing-masing. Hidupku adalah hidupku, hidupmu adalah hidupmu. Mereka adalah patner.

Tidak boleh menuntut banyak pada Pihak pertama (Hinata) untuk melayani Pihak Kedua (Sasuke) sebagai seorang istri dengan baik. Karena mereka adalah patner.

Tidak diijinkan untuk melaporkan apapun kegiatan Pihak pertama pada orang tua pihak pertama.

Pihak pertama berjanji untuk menjaga nama baik pihak kedua dan akan selalu melindungi.

Hinata tak pernah main-main dengan keputusan yang diambil. Termasuk pernikahan ini. Entah bagaimana pernikahannya nanti berjalan, yang pasti ia berusaha untuk menjaganya sepenuh jiwa. Hinata tak akan membuat orangtuanya kecewa lebih dalam lagi.

Adanya perjanjian ini semata-mata bertujuan membuat Hinata merasa tidak terlalu terbebani dengan pernikahannya dan menjauhkan dari kata cerai. Hinata ingin memulainya dari hubungan pertemanan. Mungkin jika Hinata sudah bisa menerima Sasuke sebagai seorang teman, bisa jadi hubungannya bisa berkembang dengan cinta di dalamnya. Siapa yang tahu.


Ketika kakinya melangkah dan semua tatapan tamu mengarah padanya, Hinata tahu ini adalah suatu hal nyata. Ia sempat tertegun melihat pria muda berdiri di sana. Orang itukah yang akan mengucapkan janji sehidup semati bersamanya di depan Tuhan?

"Aku menyerahkan dia padamu, Sasuke."

Hiashi menyerahkan tangan Hinata pada Sasuke.

Tatapan mereka bertemu sepintas. Tangan besar Sasuke menggengamnya tanpa keraguan. Pria itu nampak sedikit berbeda. Hinata yakin Sasuke mempersiapkan diri begitu matang. Alih-alih tidak seperti pertama kali bertemu, pemalu dan kurang percaya diri. Sasuke terlihat tegas, gagah dan terlihat sedikit dingin. Sangat laki.

Janji sudah diucapkan. Tamu yang hadir ramai mengucapkan selamat. Sekarang, mereka sah menjadi sepasang suami istri.


Pesta pernikahan berakhir satu jam yang lalu. Sekarang mereka tengah berdiri di depan lift sebuah Hotel yang di pesan untuk tempat istirahat mereka. Wajah Hinata masam. Moodnya buruk karena kelelahan juga kantuk yang mendera. Kakinya menghentak-hentak lantai, menciptakan irama cepat. Mereka sedang menunggu pintu lift terbuka.

"Partner, aku lelah!" keluh Hinata. Panggilan baru untuk suaminya, itu terdengar lebih cocok. Sasuke berkedip, bibirnya bergetar hendak berkata.

"B-bersabarlah Hinata-san."

Hanya itu? tidak peka sekali. Setidaknya Sasuke menawarkan diri menggendong Hinata. Gadis ini melirik kesal.

"Kemari, aku bisa membantumu memegang ujung g-gaunnya."

Belum sempat tangan Sasuke mencapai ujung gaun istrinya, perempuan itu lebih dulu menyentaknya ke belakang.

"Gedong aku!" Sasuke terdiam namun cepat-cepat mengangguk paham.

Hinata sedikit terpukau melihat Sasuke sudah berjongkok di depannya. Pria ini serius. Wah Lebih penurut dari dugaan Hinata. Baguslah. Hinata tertawa dalam hati. Kedua tangan Hinata melingkar sempurna di leher Sasuke. Ia sering minta digendong pada anak buahnya, terutama Kiba. Anak itu punya tubuh tinggi tegap yang sempurna. Ia tersenyum kecil. Aku jadi merindukan mereka, guman Hinata.

"Partner, apa aku berat?" Dagu perempuan ini disandarkan pada bahu Sasuke. Matanya menatap ke atas, mencoba meraih wajah suaminya dari sisi ternyaman Hinata. Tidak ada kecanggungan di antara mereka, itu sih menurut Hinata. Mungkin karena ia terbiasa bergaul dengan manusia berkelamin pria, jadi ia mudah menerima Sasuke di sisinya? Entahlah, ia pikir Sasuke tak seburuk pemikirannya. Pria ini tipe orang yang suka mengkhawatirkan orang lain lebih dulu dibanding dirinya sendiri. Namun Sasuke juga seorang kritikus handal-tanpa disengaja- apa yang diucapkan sesuai dengan isi hatinya. Kau tahu apa maksudnya kan?

Di balik sikap pemalu dan gaya bicaranya yang gagap, banyak rahasia yang tersimpan dalam diri Sasuke.

"Emmh... s-sedikit," jawab Sasuke ragu, takut akan menyinggung perasaan Hinata .

"Padahal Kiba selalu mengeluh aku ini berat. Kau tidak sedang bersikap sok keren kan?" tuduhnya, jari Hinta mengacung-acung ke wajah Sasuke. Perempuan ini bergerak licah dalam gendongan suaminya, sampai membuat tubuh Sasuke oleng karena pergerakan Hinata. Hanya mendapat gelengan kepala suaminya, Hinata mendengus pelan. Niatnya untuk bercanda hilang sudah. Untunglah di dalam lift tidak ada orang selain mereka.

Sasuke melirik sekilas pada Hinata yang kembali tenang. Mata perempuan ini terpejam. Hinata tidur? Secepat itu? Sasuke terkekeh pelan. Ia membenarkan gendongannya. Memang tidak salah perkataan teman Hinata. Istrinya berat.

Pintu Lift terbuka. Sasuke berjalan keluar. Kamar mereka di nomor 2488. Sesekali ia membenarkan gendongannya yang melorot. Tepat di depan pintu, ia kebingungan untuk membuka pintu kamar. Dalam posisi menggedong sekarang ia tidak bisa mengambil kunci di saku celana. Sasuke ragu harus membangunkan istrinya Tapi jika tidak, mereka akan tetap berdiri di luar.

Menelan ludah pelan. Pada akhirnya Sasuke memberanikan diri membangunkan Hinata. Ia menoleh ke samping kiri sembari berkata, "Hinata-san, kita sudah sam-" Dan terpotong keterkejutan pria itu oleh jarak wajah mereka yang terlampau dekat. Sasuke bisa merasakan terpaan nafas Hinata pada wajahnya. Perempuan itu menatapnya intens. Sangat berani. Tidak ada rasa malu atau canggung. Sejak kapan Hinata terbangun? Itu membuat jantungnya berdebar cepat. Hinata masih betah menatap mata sendu di balik kaca mata itu. Ia baru menyadari mata Sasuke begitu indah dan menenangkan, meski terhalang oleh benda sialan tersebut. Ah Hinata jadi ingin membuangnya. Seringai licik terpantri pada bibir Hinata.

Memanfaatkan kelengahan sang suami, Hinata mengigit hidung mancung Sasuke gemas. Membuat pria itu memekik kaget dan melepaskan gendongannya.

Bughh!

"Ya! Sasuke!" teriak Hinata kesal. Ia bangkit berdiri menahan sakit di pantatnya. Sasuke hanya bisa meringis takut mendapat tatapan marah istrinya. Ia tidak bisa berkutik saat Hinata merebut kunci kamar.

"M-maaf Hinata-"

Pintu kamar terbuka.

"KAU TIDUR DI LUAR!"

Blamm!

Sasuke terkesima. Barusan ia tidak di izinkan masuk ke kamar dan harus tidur di luar di malam pertama? Apa ada yang lebih parah nasibnya dari pada Sasuke?

Di balik pintu, Hinata tertawa pelan. Menggoda suaminya ternyata sangat menyenangkan.


TBC


Hai aku balik lagi dengan fanfic baru.

Oke seperti janji aku buat jelasin fanfic ini.

I'm yours, your mine ini adalah fanfiction milik aku sepenuhnya yang aku buat sekitar tahun 2014 dan ini dibuat untuk ikut lomba tapi sayang nggak menang. Aku buat I'm yours your mine ini pertamanya versi korea. Dengan nama tokoh YooHyun dan DongHae. Kalian bisa buka blog . disana ada fanfiction I'm Yours Your Mine buatan saya atas nama Via(ini nama asli aku). Jadi bagi teman-teman mungkin yang udah pernah baca sebelumnnya ff ini dan merasa familiar jangan salah paham oke. I'm yours your mine adalah buatan saya munssi aka via. Semoga penjelasan aku bisa dipahami ya.

Aku rencana buat I'm Yours, Your mine jadi dua chapter doang. Aku mau publish dalam oneshoot tp mata udah gk kuat buat edit lgi. Jadi aku mutusin buat dua chapter atau twoshoot.

Munssi