I'm Yours, Your Mine

Milik Munssi

Naruto milik Masashi Kishimoto

Sasuke Uchiha

Hinata Hyuuga

Happy Reading


"Sasuke partner."

"Ya," sahut Sasuke asal. Dia sedang fokus pada jalanan.

Hinata memutar mata bosan.

"Apa kemacetan jalan lebih menarik daripada aku, Sasuke?"

Sasuke mengerjap mata polos. Hinata ingin meledak. Ia sudah tidak kuat harus berhadapan dengan sikap polos Sasuke. Apalagi mata pria itu jika tengah menatap tanpa dosa. Mirip anak anjing.

"Maksud Hinata-san apa?"

"Lupakan!" Hinata menyerah.

Lebih baik Hinata menyimpan tenaganya untuk tidur daripada harus buang tenaga menahan sabar untuk manusia tak seberapa yang duduk di sampingnya ini.

Sasuke melirik Hinata lalu membuangnya jauh-jauh ke depan karena tatapan garang Hinata. Perempuan ini mendengus kesal. Kenapa rencana jadi kacau. Hinata kan sebenarnya ingin bertanya sesuatu pada Sasuke. Moodnya hancur karena Sasuke.

"Ingat tentang perjanjian kita nomor satu?" Sasuke mengangguk tanpa menoleh sedikitpun kearah Hinata.

"Boleh aku bertanya? Apa alasanmu menerima perjodohan ini?"

Sasuke nampak merenungi pertanyaan Hinata. Tunggu, rasanya pertanyaan Hinata agak mengarah ke privasi Sasuke. Bukankah Hinata melanggarnya?

"Jangan berpikir aku melanggar perjanjian nomor satu. Sungguh, aku sekedar bertanya. Kau boleh menjawabnya ataupun tidak. Aku tidak memaksamu," jelas Hinata.

"Aku harap Hinata-san tidak tersinggung mendengar alasanku."

Diluar dugaan.

"Aku berjanji," sahut Hinata cepat.

Ia diam menyimak. Orang seperti Sasuke sulit untuk mengungkapkan pikirannya jika tidak dipaksa. Tiba-tiba Hinata merasa agak sedih mendengar alasan Sasuke. Ternyata nasib mereka sama.

"Kau ini penurut sekali. Apa ketika dijodohkan kau juga tidak berusaha menolaknya?"

Sasuke menggeleng cepat. Hinata merasa menjadi pihak yang paling egois dengan mengindahkan perasaan pria itu.

"Alasan kita sama. Aku menerimanya karena perkataan ibuku memang ada benarnya juga. Memang siapa yang mau menikah dengan perempuan yang suka berkelahi dan pengangguran sepertiku, dan wanita mana yang mau menikah dengan pria sepertimu yang kolot, kuno, bicara gagap dan tidak punya daya tarik sedikitpun. Kita memang tidak punya alasan menolak perjodohan itu." Nada bicara Hinata terdengar sedih. Meski nampak tegar perempuan ini menyimpan rasa tertekannya sendiri.

"Aku merasa kita itu pasangan paling mengenaskan, partner. Kau berpikir begitu?" tanya Hinata melirik kecil Sasuke. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi mobil.

"Ya," jawab Sasuke, terdengar asal menjawab di telinga Hinata.

Hinata mendecih pelan. Responnya jelek sekali.

"Kenapa aku menikahi orang seperti ini," gumam Hinata.

"M-maaf?" Sasuke bertanya meminta penjelasan gumaman Hinata barusan.

Dia dengar.

"Apa?" tanya Hinata pura-pura tak mengerti.

"Tadi Hinata-san berkata, 'kenapa aku menikahi orang seperti ini'. Aku minta maaf karena membuatmu harus menikah denganku."

"Sensitif sekali. Sudahlah, fokus saja dengan setirmu." Hinata membuang wajah kesal.

"M-maaf."

"Kenapa masih bilang maaf?!"

Hinata mengerang frustasi.

"Aku merasa bersalah karena sudah membuat Hinata-san kesal, jadi aku minta maaf."

"Terserah." Mereka masih terjebak dalam kemacetan menuju rumah orangtua Hinata. Tadi ibunya menelepon agar mereka datang ke rumah.


Tiket bulan madu ke Swiss. Itu hadiah dari kedua orangtua Hinata. Jika sesuai jadwal, besok mereka akan berangkat. Namun Hinata punya jalan pemikiran sendiri bersama Sasuke. Ia datang ke markas untuk menemui sekumpulan pria idiot yang Hinata rindukan.

"Kalian ingin berlibur? Aku berniat mengajak kalian liburan bersama kami," tawar Hinata. Sasuke terkejut tapi tak protes. Para cecunguk itu bahagia bukan kepalang. Mereka mengiyakan tanpa peduli raut wajah Sasuke yang tak setuju.

"Kita akan pergi ke Enoshima Island besok!" seru Hinata.

Sorak-sorai mengisi ruangan kecil yang digunakan sebagai markas mereka.


Pulau Enoshima adalah sebuah pulau kecil yang terletak di Prefektur Kanagawa tepatnya di Fijisawa Shi Kanagawa Ken. Banyak keindahan yang ditawarkan dari Enoshima. Kuil Enoshima, Gua Iwaya, Enoshima Aquarium. Tak lupa pantai yang selalu ramai dikunjungi saat libur musim panas.

Satu alasan kenapa Hinata memilih Enoshima sebagai tujuan liburan mereka. Jarak Enoshima dari Konoha tak seberapa jauh. Hanya butuh waktu empat jam. Jadi Hinata tak perlu repot-repot merasakan mabuk mobil dan kecapean karena perjalanan jauh. Bulan madu di negeri sendiri tidak kalah enaknya di luar negeri. Dan lagi tidak Buang –buang uang.


Malam menjelang. Setelah berkeliling beberapa tempat wisata di Pulau Enoshima, Hinata bersama Sasuke dan tiga cecunguknya memutuskan untuk pulang ke penginapan. Beberapa orang memilih tidur selama perjalanan pulang termasuk Hinata. Perempuan ini tidur mendengkur, bibirnya sedikit terbuka dan kepalanya menyender pada kaca mobil. Tak ayal menimbulkan rasa geli di perut Sasuke yang memperhatikan wajah istrinya sejak tadi. Kapan lagi Sasuke bisa menatap wajah Hinata sepuas hati jika bukan sekarang.

Bus sudah sampai di penginapan. Sasuke salah tingkah ketika Hinata terbangun. Beruntung Sasuke tidak ketahuan sudah memandang wajah istrinya diam-diam. Hinata menderam kesal. Ia paling tidak suka tidurnya terganggu. Hinata menoleh ke samping mendapati Sasuke tegang menatapnya. Kenapa? Masa bodoh, bukan urusannya.

Sifat jahilnya kambuh, Hinata meminta Sasuke menggendongnya sampai kamar dengan alasan ia tidak bisa berjalan setelah bangun tidur. Itu membuat kepalanya pusing. Padahal hanya akal-akalan Hinata agar bisa menikmati bau harum tubuh suaminya. Tangannya mengalung erat pada leher Sasuke. Sesekali dengan sengaja Hinata meniupi leher putih tersebut. Sasuke berjengit kegelian. Tak tahan, pria itu protes dengan nada malu yang membuat Hinata menggulum senyum jahil. Menggoda suaminya memang menyenangkan.


Pagi keempat Hinata terbangun ketika Sasuke tengah mandi. Ia pura-pura tidur. Rasanya malu harus mengahadapi Sasuke setelah kejadian bodoh tadi malam. Bagaimana bisa Hinata lepas kendali karena terbawa suasana.

Saat tengah malam Hinata tidak bisa tidur begitu pula dengan Sasuke-sebenarnya pria itu takkan terlelap sebelum Hinata tidur lebih dulu- mereka berbagi cerita. Tentang cinta, keluarga, dan teman-teman yang mereka miliki. Dari situlah kesalahan fatal yang Hinata perbuat. Ketika Sasuke menceritakan cinta pertamanya dan berkata terkadang masih memikirkan perempuan cinta pertamanya itu. Hinata dengan jelas menunjukan rasa cemburunya. Dari awal, Hinatalah yang selalu melanggar perjanjian.

"Kau sudah menikah. Bagaimana bisa memikirkan orang lain?! Jika ada wanita yang kau pikirkan, itu adalah istrimu." Hinata terdiam seketika. Ia tidak seharusnya berkata seperti itu. Ini sudah melanggar perjanjian pranikah yang Hinata buat sendiri. Sibuk dengan pemikirannya, ia sampai mengabaikan permintaan maaf Sasuke.

Perhatian Hinata kembali ketika mendengar suara pria itu sedikit bergetar saat menceritakan sang ayah yang telah meninggal. Hinata dapat merasakan kesedihan, penyesalan dan kasih sayang Sasuke pada ayahnya. Karena tidak tahu harus bersikap seperti apa. Hinata hanya mengikuti reaksi tubuhnya. Ia merengkuh tubuh Sasuke ke dalam pelukannya sembari membisikan kata-kata penenang yang entah dari mana Hinata dapat. "Aku ada di sisimu." Dan ia lepas kendali. Hinata ingin memberi kenyamanan lebih untuk pria ini. Ia seolah ditarik paksa mendekat lebih dalam memasuki dunia Sasuke.

Ketika tangan Hinata mengusap lembut wajah Sasuke tanpa sadar ia sudah mencium bibir Sasuke. Kecupan ringan kurang dari lima detik, namun meninggalkan sensasi hebat bagi mereka. Terutama Hinata, wajahnya tak ubah seperti tomat cherry. Merah memanas. Sasuke tak bisa berkedip. Ia terlalu terkejut. Kesadarannya kembali ketika Hinata tiba-tiba pingsan. Setelah itu hanya kekhawatiran yang melanda Sasuke.

Ceklek!

Pintu kamar mandi terbuka. Hinata buru-buru merebahkan tubuhnya kembali, pura-pura tidur. Hidungnya mencium bau shampoo dan sabun yang menyeruak seisi ruangan. Langkah kaki terdengar jelas. Hinata berdebar. Matanya terbuka sedikit mengintip Sasuke. Hinata menahan nafas melihat pandangan menakjubkan yang tertangkap matanya. Handuk putih berudu meliliti pinggang air dari rambutnya yang basah jatuh ke bawah menghujani pria itu. Hinata terpaku sesaat pada tubuh Sasuke yang biasanya tersimpan di balik kemeja besarnya, ternyata menyimpan keindahan tersendiri. Tubuhnya putih… tidak terlalu kekar namun otot-ototnya seakan mampu menunjukan sisi lain dari image culun pria ini.

Jantungnya terpompa cepat dan makin cepat saat Hinata merasakan selimut putih membalut tubuhnya kembali. Lalu merasakan bibir Sasuke menyentuh keningnya lembut. Hinata siap meledak. Pasti wajahnya memerah. Ahhh! Beraninya kau menciumku diam-diam! geram Hinata.


Sejak bangun Hinata selalu berusaha menghindar berinteraksi dengan Sasuke. Sampai makan siang di kedai Ramen. Hinata bagaikan orang sakit tenggorokan. Banyak diam dan menjawab seperlunya ketika ditanya. Hinata gugup luar biasa. Sebisa mungkin ia menghindar bersitatap dengan Sasuke.

Hendak Hinata menyuapkan ramen ke dalam mulut, suara cempreng laki-laki menyapa mereka.

"Hoi! Kita bertemu pengantin baru rupanya."

Hinata menoleh, ekspresinya setengah kaget setengah bingung. Tak jauh berbeda dengan Shikamaru, Kiba dan Naruto juga kaget mengetahui yang menyapa mereka adalah Gaara. Hinata tahu pertemuan kali ini bukanlah kebetulan semata. Ia tidak menyangka musuhnya akan jauh-jauh menyusul ke sini hanya untuk menantang mereka duel. Ini tidak seimbang. Empat lawan sembilan. Hinata tersenyum sinis lalu bangkit.

"Mau main keroyokan otak udang? Baiklah, ayo cari tempat sepi."


Tidak terlintas sedikitpun jika Gaara dan anak buahnya itu benar-benar bernafsu untuk balas dendam. Tiga bulan yang lalu, salah satu anak buah Hinata bertarung dengan anak buah Gaara sampai harus menginap satu bulan lebih di rumah sakit. Semua tahu kalau yang menantang duel lebih dulu itu bukan anak buah Hinata. Tapi karena tak terima Gaara balas dendam. Mengenaskan. Sok keren tapi kalah juga.

Hinata akan membuat perhitungan pada anak buahnya nanti. Anak buah yang terluka, bos yang bertindak. Merepotkan.

Hinata mengelap darah segar di ujung bibirnya akibat tinjuan keras Gaara.

"Cih, Brengsek!"

Kekuatan kubu Hinata kalah jauh dibanding dengan Gaara. Mereka pasti dan Naruto sudah kelelahan. Darah segar menghias wajah mereka. Shikamaru masih ada harapan. Dia melawan tiga orang sekaligus.

"Apa suamimu hanya akan diam saja menontonmu? Atau dia tidak punya kekuatan untuk bertarung? Tidak kusangka seorang gangster sepertimu mau menikahi pria culun seperti dia," Hina Gaara, menyeringai. Hinata melirik Sasuke yang berdiri diam di sana. Raut wajah pria itu nampak khawatir dan cemas. Hinata menghela nafas kasar. Ia yang meminta Sasuke tetap diam dan menontonya.

"Jangan banyak bicara otak udang! Kau tidak usah repot-repot memperhatikan suamiku. Maju, Berengsek!" Hinata maju menyerang. Tangannya melayang di udara. Ia akan menyelesaikan ini segera. Sasuke masih diam di tempat. Ia cemas tapi tak bisa berbuat apapun untuk membantu perempuan itu. Keraguannya lebih besar. Maju, berarti berakhir di sini. Diam, berarti tetap aman namun ia benar-benar seorang pengecut.

"Haruskah sekarang, Hinata? Bisakah kau memaafkanku nanti?" gumam Sasuke. Tangannya mengenggam erat ponsel hitam. Ingatannya kembali pada perkataan Hinata tadi.

'Patner, kau hanya perlu menonton pertarunganku. Jangan menelepon polisi atau ikut membantuku. Karena kau telah menjadi bagian dari Hinata, mereka tak akan membiarkanmu selamat tanpa luka. Aku akan menang untuk melindungimu jadi jangan khawatir. Duduk saja di sana dan nikmati pertunjukannya, oke?'

Buggh!

Hinata jatuh tersungkur akibat tendangan Gaara di perutnya. Sasuke bergerak, bibirnya bergetar menahan marah, namun terhenti kembali. Ketakutannya akan kemarahan Hinata membuat Sasuke mundur untuk membantunya. Sasuke tak ingin melihat mata kekecewaan perempuan itu lagi. Sasuke terhenyak melihat wajah Hinata sudah di penuh darah. Dia tidak bisa berdiri. Gaara menendang perut Hinata berkali-kali, hingga perempuan itu meraung kesakitan. Gaara semakin membabi buta. Ia meninju pipi Hinata.

"Hanya sebatas ini kekuatanmu? Bagaimana bisa wanita lemah sepertimu menjadi bos dan ditakuti banyak orang? Menyedihkan." Gaara menarik kerah baju Hinata, memaksa perempuan itu berdiri.

"Tunjukkan kekuatanmu itu, Setan!" teriak Gaara, menendang perut Hinata hingga limbung.

"Brengsek!" umpat Sasuke, menekan beberapa angka di ponsel. Ia tidak bisa hanya diam menonton. Nyawa istrinya dipertaruhkan sekarang. Sasuke berlari cepat. Sambungan terangkat. "Halo, kantor polisi…"

Jika setelah ini adalah akhir dari kebohonganku. Setidaknya aku telah membuat keputusan tepat. Kau pernah bilang akan memaafkanku jika aku mengorbankan hal terpenting dalam hidupku. Aku sudah melakukannya, Hinata. Aku tahu kebohongan pasti akan terungkap Suatu hari nanti. Meski telah menyiapkan diri begitu matang, berusaha untuk tak menyukaimu, namun sekarang aku begitu takut kehilanganmu. Maukah kau tetap bersamaku setelah mengetahui kebenarannya?

Sasuke menarik pelatuk pistol. Menembaknya keatas lalu mengarahkan pada Gaara. Semua terdiam.

"Detektif Kepolisian Konoha, Uchiha Sasuke. Angkat tanganmu, Sabaku no Gaara."


Kepolisian Enoshima telah memutuskan untuk membebaskan pihak Hinata dan memberi hukuman masa tahanan selama satu bulan kepada Gaara dan denda uang.

Sasuke duduk di depan kamar inap Hinata. Ia tahu perempuan itu sudah sadar beberapa menit yang lalu. Sasuke ingin masuk, sangat. Tapi hati dan pikirannya bertolak belakang. Jika masuk sekarang, Sasuke tak sanggup menerima kemarahan Hinata. Benar, bukan sekarang. Sasuke berdiri. Baru beberapa langkah, suara Naruto memanggil namanya.

"Bos ingin berbicara denganmu, Sasuke."


Mata putih Hinata masih betah memberi tatapan tajam pada Sasuke. Dadanya sesak dipenuhi amarah. Dunianya terasa jungkir balik dalam waktu sekejap. Kebahagian yang di rasakan Hinata karena laki-laki itu hilang tak tersisa. Meksi tak percaya dan mencoba tak percaya, tapi kenyataan membuatnya percaya. Bahwa pria bernama Sasuke yang berhasil memenuhi ruang hati Hinata adalah orang yang ia benci selama ini. Orang yang telah merubahnya menjadi brandalan.

Sasuke berjalan mendekat. Ia tak menggunakan kacamata ataupun berdandan seperti Sasuke palsu layaknya orang idiot. Wajahnya datar dan terkesan dingin. Hinata ingat, sangat mengingat wajah itu. Wajah yang sampai saat ini menghatuinya akan kebencian. Tatapan sendu itu tak ubah menggores luka dalam bagi Hinata. Mengingatkan kembali memori kelamnya akan laki-laki itu yang sudah ia kubur dalam-dalam.

"Kau terlihat pucat sekarang. Istirahatlah, kita bisa bicara besok," ucap Sasuke, tangannya terulur hendak menyentuh rambut hitam Hinata namun di sentak kasar.

"Aku mengingatmu. Hentikan akting sialan itu, Sasuke!"

Bibir Hinata bergetar menahan tangis. Uchiha Sasuke, seharusnya hanya dengan mendengar nama itu Hinata dapat mengetahui jika dia adalah laki-laki yang ia benci. Tapi bagaimana bisa ia tertipu? Apa karena terlalu membenci mampu membuat orang tanpa sadar melupakan orang yang di benci.

Hinata masih ingat jelas memori buruk itu. Saat masih duduk di SMP, Hinata mengenal Sasuke sebagai pemuda tampan sekaligus pintar. Dia kebanggaan sekolah. Sosok yang selalu dieluh-eluhkan banyak siswa termasuk Hinata. Meski tak terlalu mengenal, Hinata kagum pada sikap rendah hati Sasuke. Pemuda itu selalu mendapat rangking paling atas dan Hinata sudah pasti mengekor tepat di bawahnya. Namun ketika itu Hinata sangat kaget, ketika peringkatnya berada paling atas dan beberapa kali menggantikan Sasuke. Hinata tak tahu kenapa nilai Sasuke tiba-tiba menjadi turun.

Satu hari sebelum ujian kelulusan SMP, Hinata secara tak sengaja melihat Sasuke dan beberapa teman laki-laki mencuri soal ujian. Hinata mencoba menghentikan. Tapi yang mengejutkan, ia malah balik diancam oleh mereka. Sasuke tiba-tiba merangsek maju, menarik tubuh Hinata dalam dekapannya. Tubuh Hinata tegang, ia terkejut bukan main. Sasuke tiba-tiba menciumnya, melumatnya kasar. Hinata bergerak gelisah dalam pelukan Sasuke. Kakinya lemas, Hinata bisa saja jatuh jika Sasuke tidak menyanggah tubuhnya.

Sasuke berbisik mengacam, "Aku bisa melakukan hal lebih dari ini jika kau membuka mulut. Jadi diam dan bersikaplah seolah tak tahu apapun yang terjadi, mengerti?" Hinata mengangguk ketakutan. Tanpa memperdulikan Hinata, Sasuke melangkah pergi. Hidup Hinata benar-benar hancur setelahnya. Sasuke dan teman-temannya yang mencuri kertas ujian memutar fakta kalau Hinatalah yang mengambil kertas Ujian tersebut. Semua bukti seolah tertuju pada nyatanya kertas Ujian yang dicuri Sasuke malah tersimpan rapih di dalam laci meja Hinata. Semua orang dan teman-teman sekelasnya tidak ada yang percaya lagi pada Hinata. Mereka menjauh. Namun, pihak sekolah masih memberi kesempatan bagi Hinata untuk tetap mengikuti Ujian. Karena fitnah itu membuat dunia Hinata hancur dan sudah mempermalukan kedua orangtuanya. Ia telah kehilangan mimpi dan kepercayaan orang-orang padanya.

"Kenapa?" tanya Hinata lirih.

"Apa kau ingat, dulu saat kelulusan sekolah aku mencoba meminta maaf dan kau berkata tidak akan memaafkanku jika aku belum kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup. Sekarang aku sudah melakukannya." Hinata nampak bingung, tapi tak lama ia mendecih. Apa maksud perkataan Sasuke adalah alasan sebenarnya pria itu menikahinya.

"Brengsek! Jadi kau merencanakan semua ini?"

"Ya. Untuk mendapatkan maaf darimu, aku sudah kehilangan hal terpenting dalam hidupku, kebebasan. Sama halnya denganmu, kau telah kehilangan mimpimu selamanya karenaku, aku kehilangan kebebasanku selamanya dengan menikahimu. Kita impas sekarang."

Mendengar alasan sebenarnya Sasuke menikahinya jauh lebih menyakitkan. Ia seperti dipermainkan oleh takdir. Hinata tersenyum sinis. Semua sudah jelas. Tapi dalam lubuk hatinya, Hinata menginginkan alasan sesungguhnya Sasuke adalah kebohongan. Ia tidak tahu bagaimana perasaannya sekarang. Terlalu terkejut, marah, kecewa dan benci. Ini akan mudah jika saja Hinata tidak menyukai pria itu. Hinata terisak kecil.

"Hinata, Maaf," ucap Sasuke tulus. Untuk kedua kali ia membuat wanita tegar ini menangis. Semua karenanya.

Diam.

"Aku-" Hinata memotong ucapan Sasuke, "Aku memaafkanmu. Pergilah, sebelum aku berubah pikiran."

Sasuke tak bergeming. Ia tahu kalimat Hinata jauh lebih buruk artinya. Sasuke tak ingin perempuan itu memutuskan hubungan dengannya. Tidak untuk kedua kali.

"Jika kau merasa begitu marah, tumpahkan semua. Jangan kau simpan dalam hati. Kau boleh menjerit, menangis, meraung atau bahkan melemparku jika itu bisa membuatmu merasa baik. Jadi, berhenti menyiksa dirimu sendiri," ucap Sasuke. Hinata tidak berkata apapun. Ketika pria itu menarik tangannya dan meyuruh memukulnya. Hinata memilih diam menatap Sasuke.

Pria itu menghela nafas lelah, "Aku juga merasa sedih melihatmu hanya diam."

"Lalu aku harus bersikap bagaimana, Hah?!" sudut bibir Sasuke terangkat, membuat senyum lega tercetak di sana. Melihat Hinata berteriak itu jauh lebih baik.

"Aku sudah memaafkanmu dan tujuanmu telah tercapai. Aku akan bersikap seperti saat sekolah dulu. Jadi, kau tak perlu merasa khawatir. Sekarang kau bisa pergi. Jangan khawatir, kau tidak akan terikat selamanya denganku. Kita bisa mengakhiri dengan mudah tanpa membuat orangtua curiga."

Tidak. Bukan perpisahan yang diinginkan Sasuke.

"Kau pikir pernikahan ini sebuah permainan?!"

"Tidak. Kau yang membuatnya menjadi permainan. Aku sekedar mengikutinya."

Sasuke terpanah mendengarnya. Sejak awal ia tidak berniat menjadikan ini permainan. Tidak ada pemikiran sampai ke arah itu. Hanya saja jika kebohongannya terbongkar-Sasuke tak mengira akan secepat ini- ia tidak akan memaksa apapun keputusan Hinata. Karena memang tujuannya adalah mendapatkan maaf wanita itu. Namun sekarang Sasuke tak bisa membiarkan pernikahannya berakhir.

"Bagaimana perasaan orangtuamu? Tidak kah kau berpikir ini akan melukai mereka? Kau bilang tujuanmu menikah adalah untuk membuat mereka bahagia. Jadi, kau pikir mereka akan bahagia mendengar pernikahan kita berakhir?" cecar Sasuke.

"Kenapa aku harus repot mempertahankan ikatan dengan seorang pembohong? Mereka pasti akan mengerti alasanku. Dan ya, kau seharusnya merasa senang karena ini kesempatanmu untuk lepas selamanya dari pernikahan. Kau bebas Sasuke." Hinata membuang muka. Menghapus jejak tangisnya sendiri. Ia hanya ingin tidur sekarang dan esoknya, Hinata harap ini hanya mimpi. Penikahannya, rasa cintanya, dan semua kenangan mereka adalah sekedar bunga tidur. Tanpa mempedulikan Sasuke, Hinata membaringkan tubuhnya membelakangi pria itu.

"Kau pernah bilang akan menjaga pernikahan ini sepenuh jiwa, entah apapun yang terjadi. Dan kau bisa membuktikan perkataanmu sekarang. Dengan masalah ini, aku ingin memastikan kalau seorang Hinata bukan seorang pembual. Jika kau tetap bersikeras untuk mengakhirinya. Jangan salahkan aku jika bertindak egois untuk mempertahankannya." Sasuke menarik selimut yang menutupi tubuh Hinata mendadak, membuat wanita ini terperanjat kaget. Kini mereka bersitatap. Mata Hinata terlihat marah. Ia tak bisa bergerak bebas untuk keluar dari penjara tubuh Sasuke.

"Apa maumu, Sasuke?!" Sebisa mungkin Hinata tidak menunjukan rasa takutnya. Mereka hanya berdua. Sesuatu hal buruk mungkin saja bisa terjadi. Tubuhnya dalam kondisi buruk tak memungkinkan untuk melawan Sasuke. Air mata Hinata berhasil lolos saat tangan lembut Sasuke membelai rambut lalu turun menelusuri wajahnya.

"Maaf membuatmu merasa begitu terluka. Aku tak bermaksud melakukannya. Kau boleh marah karena memang ini kesalahanku, tapi jangan membenciku,Hinata. Itu menyakitkan. Mungkin aku memang tak memikirkan akan kearah mana pernikahan kita nanti. Tapi sekarang aku tahu, meski cinta yang tumbuh saat ini belum begitu besar dan entah penolakan seperti apa yang akan kau lakukan nanti. Aku akan mempertahankannya. Kau tahu kan betapa egoisnya Sasuke Uchiha? Karena apa yang telah jadi milikku akan selamanya menjadi milikku." Diakhir kalimat, Sasuke tersenyum tulus. Dan tangisan Hinata pecah.

"Istirahatlah yang banyak. Aku akan kembali esok. Selamat malam," ucap Sasuke, mencium kening Hinata.

Sasuke melenggang pergi. Menyisahkan Hinata yang menangis di dalam. Helaan nafas Sasuke begitu berat. Ia tidak kuat lebih lama melihat wanita itu menangis tanpa melakukan sesuatu. Mereka butuh waktu sendiri untuk menenangkan pikiran masing-masing.


Mereka pernah menjadi orang asing, saling mengenal nama satu sama lain, lalu membenci, hingga bertemu kembali menjadi orang asing yang tidak saling mengenal. Terikat dalam penikahan tanpa cinta hingga cinta tumbuh dalam hati mereka. Seolah takdirlah yang salah, mereka kembali mengenal dan membenci. Waktu yang lama untuk menerima takdir. Tapi ketika Hinata menerima kehidupan-kebenaran dari takdir- berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apa pun terjadi karena kebetulan. Kemunculan Sasuke bak Bom waktu. Datang lalu meledak kapan saja. Hinata tak ingin menyalahkan siapa-siapa. Mungkin karena memang sudah semestinya takdir hidupnya seperti ini. Ia tak keberatan ketika tangan Sasuke membawanya masuk kedalam dunia pria itu. Karena sekali lagi, Hinata telah menerima kehidupan. Dan kehidupannya adalah Sasuke.

Hinata mendongakkan kepala menatap Sasuke yang tengah memeluknya.

"Boleh aku bertanya?"

"Ya."

"Siapa yang menaruh kertas ujian di laciku? "

Sasuke tersenyum.

"Kabuto. Dia yang menaruhnya. Aku sendiri tidak tahu jika dia akan menaruh kertas ujian itu di lacimu. Aku bermaksud untuk mengakui perbuatan kami tapi Kabuto mengancam akan bunuh diri."

"Lalu mengorbankan aku?"

Hinata cemberut. Sasuke menatap Hinata penuh penyesalan. Dipeluknya Hinata lebih erat.

"Maaf, darling," ucap Sasuke mencium kening Hinata lembut. Hinata bisa merasakan ketulusan Sasuke.

"Kau sudah banyak menderita karena aku."

"Maaf, Hinata."

Wajah Hinata bersemu merah. Bagaimana bisa jantunganya berdesir karena mendengar suara rendah penuh ketulusan Sasuke. Apa cinta memang segila ini? Hinata tak tahu. Ia hanya merasa hatinya berbunga-bunga tiap kali Sasuke menatap dan berbicara penuh perasaan tulus dan cinta. Seolah Sasuke akan melakukan apapun yang Hinata inginkan. Hinata merasa menjadi wanita paling beruntung.

"Kau harus lebih bekerja keras untuk mendapatkan maafku."

"Tentu, darling."

Malam ini, Hinata menghabiskan malam dengan Sasuke dengan kemanjaan luar biasa. Mereka baru bertemu setelah satu bulan harus LDR karena tugas Sasuke sebagai Detektif dengan Job padat.

Hinata tidak pernah berpikir jika dirinya akan menikah dengan seorang polisi dan lagi mengingat dirinya adalah ketua geng. Otomatis polisi adalah musuh Hinata. Tapi ngomong-ngomong tentang ketua geng, Hinata sudah pensiun menjadi ketua geng. Sekarang Hinata beralih profesi menjadi ibu rumah tangga.


It's Not The End But… It's Just Another Beginning. -Dae Uchiha-

THE END


Hai, saya balik dengan update i'm yours, your mine chapter 2 sekaligus chapter terakhir.

terimakasih buat temen-temen yang sudah baca, review,follow dan favorite fanfiction i'm yours, your mine. semua dukungan yang kalian berikan ke saya adalah sebuah penyemangat buat saya lanjutin nulis fanfiction. maaf juga updatenya lama. semoga kalian suka. kritik dan saran sangat ditunggu.


Munssi