BB137 proudly presents

A HUNHAN STORY

Inspired by Korean Movie, Secrets Love

WARNING : YAOI or Boys Love story. Romance and Hurts/Angst. M-PREG!

enJOY!

.

..

...

..

.

'CTAR!'

'CTAR!'

'CTAR!'

Suara cambukan kembali terdengar membuat beberapa maid yang berdiri menunduk dalam dengan pandangan miris pada sosok pemuda mungil yang menjadi koban dari cambukan tersebut.

"Kau tahu jika aku sangat benci menunggu. Jika kau membuatku menunggu sekali lagi aku akan menghukummu lebih parah dari ini, Luhan."

"Ma-maaf-k-kan a-ak-ku, S-Seh-H-hun.."

'CTAR!'

'CTAR!'

"Kau pikir dengan siapa kau bicara saat ini, Luhan?" Sehun mendesis geram setelah melayangkan lagi dua cambukan pada Luhan yang sekujur tubuhnya telah dihiasi banyak bilur merah dengan sedikit banyak darah.

"Ma-af-T-tuan-Se-Sehun.."

Sehun memajukan langkahnya kearah Luhan, membuat Luhan refleks mundur dari posisi bersimpuhnya. Sekujur tubuhnya juga bergetar. Tangan Sehun terjulur lalu membuka ikatan dasi yang dengan sengaja ia talikan dileher Luhan. Luhan langsung meraup banyak udara dan memegangi lehernya yang masih terasa tercekik.

"Lain kali pelajari tempatmu dengan lebih baik lagi."

Sehun mendesis lagi, Luhan segera mengangguk dengan cepat. Tapi sebuah tempelengan dengan kasar menghampiri kepalanya membuatnya terayun kearah kanan dan pelipisnya menghantam sudut almari.

"JAWAB AKU, BODOH!"

"Ba-baik, Tuan."

Sehun tersenyum puas. Kemudian ia memberi kecupan dibibir Luhan dan berlalu menuju pintu depan dengan beberapa maid yang sibuk membawa perlengkapan. Setelah memastikan Tuan muda mereka pergi kekantor, para maid segera membantu Luhan. Beberapa ada yang melihat karena terlalu tak tega untuk mendekat dan melihat penampilan kacau Luhan.

"Tuan Luhan, anda berdarah!"

Luhan berdiri perlahan sembari memegangi kepalanya, ia merasakan pening. Pantas saja, ternyata pelipisnya yang terantuk tadi mengeluarkan cukup banyak darah.

"Jangan memanggilku, Tuan. Panggil aku Luhan." Luhan mengatakannya dengan mendesis sakit.

"Tapi anda adalah istri Tuan muda Sehun. Jika kami tidak memanggil anda Tuan, maka Tuan muda Sehun akan memecat kami semua karena bertindak tidak sopan." Seulgi –salah seorang maid- menjelaskan.

"Saya akan memanggilkan dokter." Kali ini suara Irene yang menjawab. Ia sudah memegang ganggang telepon, namun Luhan menahannya.

"Tidak perlu. Aku akan melakukannya sendiri." Tolak Luhan halus.

"Saya akan membantu anda, Tuan." Wendy menyahut kemudian membantu Luhan menuju kamarnya dibantu Joy. Sedangkan Yeri pergi mengambil kotak obat.

Irene selaku kepala maid menatap miris pada sosok Luhan. Sudah rutinitas mereka melihat Sehun menyiksa Luhan. Padahal Irene masih mengingat dengan jelas raut bahagia Sehun saat mengenalkan Luhan sebagai istrinya dua minggu yang lalu. Ia berpikir jika Tuan muda yang sudah seperti adiknya sendiri itu benar-benar bahagia menemukan tambatan baru hatinya. Ia berpikir jika Luhan adalah orang yang berhasil membuat Sehun bangkit dari rasa terpuruknya.

Sampai kemudian Irene sadar.

Jika Sehun bahagia bukan karena adanya Luhan dirumah ini sebagai istrinya.

Sehun bahagia bukan karena ia telah menemukan pasangan hidupnya.

Melainkan karena dendam akan kematian sosok terkasih lima tahun silam bisa ia balaskan.

Karena sumpah untuk membuat orang yang merenggut nyawa terkasihnya menderita bisa ia wujudkan.

Karena Sehun menginginkan Luhan sebagai pelampiasan dari rasa kehilangannya.

Dan Irene berharap jika Sehun dapat menghentikan tindakan tak bernuraninya dengan segera.

.

..

...

Secrets Love

...

..

.

Beijing 2012 (semester dua – Universitas Beijing)

"Luhan, tunggu aku!"

Seorang yang dipanggil Luhan itu menoleh, mendapati sosok yang ia sayangi berlari ke arahnya.

"Ada apa, Luoluo? Bukankah sudah kubilang untuk tidak berlari?" Luhan bertanya sembari mengelus surai kembarannya.

Ya, mereka adalah saudara kembar non indentik. Luhan lahir 7 menit lebih awal dari saudarinya, Luoluo. Keduanya sama-sama memiliki paras yang anggun dan cantik, meski Luhan seorang lelaki. Tapi sayang, sosok dengan nama asli Wu Luo Xian itu tidak seberuntung Luhan. Ia terlahir dengan kelainan katup jantung yang membuatnya harus menjalani perawatan intensif dibeberapa kesempatan. Hal itulah yang membuat Luhan selalu berada disisi Luoluo dan menjaganya. Luhan akan melakukan apapun demi kembarannya itu. Meski itu berarti ia harus mengorbankan apa yang ia miliki. Apapun–

"Sayang.." Sosok dengan perawakan tinggi dan wajah rupawan menghampiri keduanya. Memberikan kecupan dibibir Luoluo tapi matanya menatap kearah Luhan.

meski itu berarti ia harus berbagi orang terkasihnya pada Luoluo.

Robin Van Persie adalah siswa China-Rotterdam dikampus mereka. Ia pindahan dari Belanda dua tahun yang lalu dan sudah menjalin hubungan dengan Luhan sejak satu tahun yang lalu. Mereka adalah pasangan terpopuler disekolah, tak hanya paras elok dan rupawan keduanya namun juga karena otak brilliant mereka yang membuat semua orang bangga. Tapi enam bulan yang lalu Luhan menemukan sebuah fakta mengejutkan, dimana kembarannya diam-diam menaruh perasaan pada Robin. Hal itu membuat Luhan gundah gulana namun karena rasa sayangnya yang lebih besar pada Luoluo, Luhan meminta Robin untuk mengakhiri hubungan mereka dan menambatkan hatinya pada Luoluo.

Robin menolak dengan keras pada awalnya. Menjelaskan dengan lugas jika sosok yang ia cintai hanya Luhan. Tapi Luhan tetaplah Luhan, si keras kepala yang rela melakukan apapun demi Luoluo. Akhirnya Robin menyuarakan keputusan final dengan tetap memiliki Luhan, juga sebisa mungkin memberi perhatian dan afeksi pada Luoluo.

"Bagaimana kuliahmu?" Luoluo bertanya sembari menatap Robin sarat akan pemujaan.

"Melelahkan seperti biasa. Kau tahu, resiko mahasiswa semester akhir. Bagaimana denganmu?"

"Tak ada yang spesial."

"Bagaimana persiapan interviewmu, Robin?" Kali ini Luhan yang bertanya.

"Berlangsung dengan baik."

Kali ini sebuah suara berat lainnya yang menjawab. Mereka menoleh kearah Yifan yang baru saja menyahut. Wi Yifan adalah kakak tertua Luhan dan Luoluo sekaligus rekan Robin.

"Ia bahkan sudah memegang kontraknya. Entah apa yang menahan pikirannya untuk tak segera menandatanganinya. Kurasa ini karena seseorang." Yifan melanjutkan seraya melirik Luhan.

"Apa itu karena aku?" sahut Luoluo menatap Robin dengan sedih. Robin tersenyum seraya mengusak rambut Luoluo. "Terima saja, sayang. Kau tahu sangat sulit untuk bergabung dengan perusahaan besar tersebut. Kau terpilih sejak lama, mereka pasti sangat mengharapkanmu. Lagipula apa kau tak ingin memulai karir di tanah kelahiranmu?" sambung Luoluo.

"Aku akan memikirkannya lagi."

"Ah! Aku akan meminta Yifan ge untuk menemaniku check up. Robin, tolong antarkan Luhan mengurus perpanjangan beasiswanya." Tanpa menunggu persetujuan dari siapapun, Luoluo menarik tangan Yifan dan beranjak pergi.

Hening sejenak.

"Bagaimana menurutmu, Lu?" Luhan mendongak ke arah Robin dan pada saat itu pula sebuah kecupan manis mendarat dibibirnya. "Aku menunggu saran darimu."

Luhan terlihat menimang sejenak, kemudian menjawab dengan ragu. "Terima saja, Robin. Kau tahu itu sebuah peluang yang besar."

"Aku mengenali keraguan dalam suaramu."

Luhan menggigiti bibirnya. "Aku memikirkan Luoluo."

Robin memandang sedih kearah Luhan. Ia menarik Luhan ke sudut koridor lalu memeluk Luhan dengan erat. Kemudian pelukan itu terlepas dan diganti oleh sebuah ciuman panas.

"Aku akan melakukan sesuai keinginanmu, Luhan."

.

..

...

Luhan tersenyum menatap ke arah Luoluo yang tengah bermanja-manja dengan Robin. Ia tengah duduk dikursi penumpang sedangkan Robin menyetir dengan Luoluo disisinya.

"Luoluo, berhentilah dahulu. Aku sedang menyetir dan diluar tengah hujan deras. Aku harus berfokus."

Luoluo yang nakal tak menghiraukan dan tetap mengganggu Robin. Hingga tiba-tiba pekikan Luhan membuat keduanya terkejut dan semua terjadi dengan sangat cepat. Mobil yang mereka tumpangi banting stir untuk menghindari sebuah truk yang melaju dari arah depan, berputar beberapa saat karena jalanan licin dan berakhir dengan menabrak beberapa drum dan tanda proyek dijalanan. Tapi bukan itu yang membuat jantung Luhan berdetak kencang, tapi siluet seseorang dengan baju putih yang tadi sempat dilihatnya.

"Tetaplah didalam mobil." Robin memberi perintah kemudian keluar mengecek keadaan.

"Luoluo, tetaplah didalam. Aku akan menyusul Robin. Berjanjilah padaku." Luoluo mengangguk, dadanya mulai terasa nyeri.

"Bukankah sudah kubilang untuk menunggu didalam?" Robin berteriak marah pada Luhan. Luhan tak menggubris dan melihat kesekitarnya, memastikan penglihatannya.

"Aku melihat seseorang tadi. Aku bersumpah!"

"Tidak ada siapapun, Luhan. Ayo pulang!" Robin menarik Luhan yang sekali lagi kembali memperhatikan sekitarnya.

Setelah memastikan Luhan dan Luoluo masuk kedalam rumah, Robin kembali mengendarai mobilnya melalui jalanan tadi. Beberapa mobil polisi dan ambulance tengah menggerubung lokasi tabrakannya tadi. Ia melihat sekilas sesosok wanita diangkat oleh beberapa petugas kedalam ambulance dengan seorang pemuda berseragam yang menjerit tak terima.

Ia sampai di apartemennya dan segera masuk kedalam kamar mandi dengan nafas terengah-engah. Mulai detik ini, ia adalah seorang pembunuh. Ia mengguyur dirinya dibawah shower dengan pikiran berkecamuk.

.

..

...

"Wu Luhan?"

Luhan menoleh kearah seseorang yang memanggilnya.

"Kami dari kepolisian Beijing, bisa minta waktu Anda sebentar?"

Luhan mengangguk.

"APAAA!? TABRAK LARI?" Luhan membolakan matanya dan menyuarakan keterkejutannya dengan keras membuat beberapa sipir disana tersentak kaget.

"Benar. Seorang perempuan ditemukan tergeletak disana dan meninggal kemudian sesaat setelah mendapat perawatan intensif. Dari rekaman CCTV, mobil anda terlihat melintas ditempat kejadian."

Luhan membelalakkan matanya. 'Jadi benarkah yang kemarin itu adalah seseorang? Aku tak salah lihat? Tapi mengapa Robin berbohong?'

"Saudara Wu?" Sang polisi menyentak kesadaran Luhan yang tengah melamun beberapa saat. "Apa kau mengendarai mobil itu sendiri ataukah ada orang lain didalam?"

Luhan menggigit kembali bibirnya. Kemudian menjawab "Aku sendiri."

"Saat itu aku memang lewat didaerah sana. Mobil itu sempat oleng beberapa saat karena menghindari sebuah truk yang melintas. Sempat menabrak beberapa proyektor disana, tapi saya yakin jika tak ada seorang pun yang berdiri disana." Luhan menggigit bibirnya, tanda jika ia tengah ragu akan ucapannya.

Kesaksian Luhan tengah diproses oleh polisi, Luhan beberapa kali menyerukan pembelaan.

'BANG!'

Semuanya terkejut dan menoleh kearah seorang pemuda yang baru saja menggebrak loker baja disisi kanannya. Seorang pemuda dengan seragam sekolah yang masih melekat ditubuhnya.

"Kami menemukan sampel darah di bagian kap depan mobil Anda, saudara Wu. Dan jika sampel darah tersebut sesuai dengan DNA jenazah, maka dengan berat hati kami nyatakan Anda sebagai tersangka."

.

..

...

Luhan menarik Robin kearah taman kampus mengabaikan tatapan bertanya para murid-murid yang lain.

"Katakan padaku kenapa kau berbohong, Robin."

"Apa maksudmu, Luhan?"

"Kemarin aku diminta pihak kepolisian untuk bersaksi, dan mereka mengatakan jika itu adalah kasus tabrak lari."

Robin menunduk sedang Luhan menatap tak percaya.

"Jadi benar?" ulang Luhan meminta kepastian.

Robin mengambil napas sejenak, kemudian mengangguk.

"Kenapa kau tidak berkata jujur, Robin?" Luhan berteriak marah. Airmata mengalir membasahi kedua pipinya.

"Karena aku tak ingin mengecewakanmu, Luhan." Sahut Robin dengan nada yang sama frustasinya. "Aku sudah menandatangani perjanjian itu seperti yang kau minta, jika aku mengaku aku akan kehilangan semuanya. Karir, reputasi dan kau." Robin memandang Luhan dengan sendu. "Dan jangan lupakan jika ini bukan sepenuhnya salahku. Jika saja saudari kembarmu itu tidak menggangguku, semua ini takkan terjadi."

Luhan yang awalnya terduduk lemas segera mendongak ke arah Robin. Ia berdiri dengan tergesa dengan lelehan airmatanya yang semakin deras.

"Tidak! Jangan libatkan Luoluo dalam masalah ini."

"Lalu apa yang akan kita lakukan? Kau ingin aku dipenjara? Hukuman minimal untuk kasus tabrak lari adalah lima tahun, Luhan. Aku tidak bisa mengabiskan waktuku dengan berdiam diri disana oleh kesalahan yang sepenuhnya bukan milikku."

Luhan terdiam, namun pikirannya melayang dan badannya bergerak resah. Hingga kemudian ia teringat sesuatu. Ia meraih sesuatu itu dari dalam tasnya.

"Aku akan menggunakan ini." Luhan tersenyum kearah Robin sembari menunjukkan sebuah tangkai permohonan yang Robin berikan padanya dihari jadi mereka tiga bulan yang lalu. "Kau ingat ini, bukan? Sisi kanan adalah milikku dan yang kiri milikmu." Luhan menarik dua sisi tangkai tersebut hingga patah.

"Apa yang kau lakukan, Luhan?"

"Sisi kanan lebih panjang, itu artinya kau yang akan mengabulkan semua permohonanku, Robin." Luhan tersenyum. "Lupakan segalanya."

"Wu Luhan!" peringat Robin dengan nada rendahnya.

"Tidak! Kau sudah berjanji dan kau harus menepatinya, apapun permohonanku." Luhan kembali memandang Robin. "Sejak awal aku tak mengatakan pada polisi itu jika aku mengendarai mobil bersama kalian. Mereka hanya akan mencurigaiku, dan mungkin sebentar lagi aku akan menjadi seorang tersangka tabrak lari. Kau pergilah ke Rotterdam dan mulai karirmu disana, jangan kembali jika kau belum sukses dan lupa akan kejadian ini. Jangan beritahu Luoluo, dia tak akan pernah terlibat. Aku akan mengganti posisi kalian dan menebus hukuman itu. Salahku juga tak menghentikan Luoluo dan hanya menjadi saksi bisu. Jika saja aku dapat.. hikss.."

Luhan tak mampu menyelesaikan kalimatnya. Robin memeluk Luhan sembari menangis.

"Tidak, Luhan. Tidak.." Lirih Robin dalam tangisnya.

"Aku mencintaimu, Robin. Jadi jangan buat pengorbananku sia-sia."

Luhan memberi lumatan terakhir untuk Robin sebelum pergi, meninggalkan Robin yang jatuh bersimpuh disana. Juga seorang perempuan yang menangis seraya memegang dada kirinya yang terasa ngilu tak tertahankan.

.

..

...

Luhan memeluk ayahnya dengan erat, lalu beralih pada kakaknya Yifan dan adiknya Yixing. Mereka telah mendengar semuanya dari Luhan. Wu Dengchao sangat terpukul dengan kenyataan ini, ditambah puterinya Wu Luo Xian atau Luoluo tengah menjalani perawatan karena penyakitnya kambuh.

"Yifan, jaga Luoluo untukku." Luhan menatap Yifan dan mengulas senyum. Yifan tak membalas apapun, memilih untuk menarik tubuh mungil Luhan dan menenggelamkannya dalam pelukan.

"Aku akan rutin mengunjungimu, Lu. Aku berjanji." Luhan terkikik kecil lalu memejamkan matanya saat bibir Yifan menyapu keningnya. Yixing memandang Luhan dan Yifan tak tega, memilih menyembunyikan tangisnya dibahu sang ayah.

"Adik kecilku yang pemberani, jaga dirimu baik-baik." Yifan menatap Luhan untuk yang terakhir kalinya sebelum dua orang polisi menggiring Luhan pergi dengan kedua tangannya yang diborgol.

.

..

...

5 years later

(Seoul, 2017)

...

..

.

"Let's party 'till the sun down!"

Seorang pemuda berteriak disahuti seruan-seruan dari para pria maupun wanita yang tengah meliuk-liukan badannya dengan segelas champagne ditangan.

"Seseorang mencarimu, Sehun."

Sehun yang tengah bercumbu dengan empat wanita menggerubungi tubuhnya mendecak malas. Ia melirik tajam pada sahabatnya yang sudah merusak moodnya.

"Fuck you, Jongin!"

"Ayolah, Sehun. Aku tidak akan mengganggumu jika ini tidak penting." Jongin menarik nafas berusaha bersabar pada sikap arogan sahabatnya yang satu ini. "Dia mengatakan tentang seseorang bernama Luhan."

Kali ini Sehun benar-benar menaruh fokusnya pada Kai. Ia menyeringai, lalu mengecup satu per satu wanita jalang yang sejak tadi menemaninya. Ia beranjak pergi setelah melempar segepak uang dimeja yang langsung dijadikan bahan rebutan oleh empat jalang disana.

"Jadi apa lagi kali ini?" tanya Sehun pada orang suruhan yang kini tengah menghadapnya.

"Wu Luhan sudah dinyatakan bebas dari penjara hari ini."

Seringai lebar terulas dibibir tipis Sehun. Ia merasakan mood-nya kembali membaik dengan kabar tersebut.

"Bagus." Desisnya. "Biarkan dulu, setelah ini kita akan menjalankan semuanya sesuai dengan rencanaku."

.

..

...

(Beijing, 2017)

"Luhan?"

"Yifan!"

Luhan menghambur memeluk erat kakaknya, menyalurkan seluruh kerinduan terpendamnya.

"Sudah kukatakan berulang kali panggil aku gege, Xiaolu."

Luhan menggeleng ribut dalam dekapan Yifan.

"Luhan ge!"

Kali ini sebuah seruan datang dari Yixing. Sama seperti Yifan, Yixing menyambut Luhan dengan sebuah pelukan erat.

"Ayo, pulang." Ajak Yixing terlampau bersemangat. "Ayah sedang dalam perjalanan menuju ke rumah."

Luhan mengangguk, mengikuti Yifan dan Yixing yang membawanya pulang ke rumah yang sudah lima tahun ini tidak pernah ia singgahi.

"Yifan, bagaimana dengan Luoluo?"

Yifan mendesah, ada gurat sedih diwajahnya yang Luhan lihat dengan jelas. Bibir Luhan turut melengkung kebawah dengan matanya yang berkaca-kaca.

"Luoluo adalah wanita yang kuat. Dia akan bertahan, Luhan ge." Yixing menepuk pundaknya dari kursi belakang. Luhan tersenyum memandang kearah Yixing, tak ingin adiknya bertambah khawatir ataupun sedih lagi karena dirinya.

"Aku tahu. Luoluo akan bertahan." Ujarnya yakin.

.

..

...

Luhan baru saja kembali dari rumah sakit tempat Luoluo dirawat dalam komanya selama ini. Luhan bersyukur, ayahnya memilih untuk mempertahankan Luoluo meski kemungkinannya sangat kecil. Mereka mungkin sudah menghabiskan banyak biaya, tapi Luhan yakin Luoluo akan segera membuka matanya tak lama lagi.

"BABA TIDAK PUNYA PILIHAN LAIN, YIFAN!"

Teriakan Dengchao membuat Luhan membatu ditempat. Ia hendak mengambil air minum didapur, namun teriakan baba-nya diruang tengah membuatnya urung.

"Apa kita tidak punya pilihan lain, baba?"

Kali ini suara frustasi Yifan. Luhan merasakan jantungnya berdetak dengan cepat pada apa yang diucapkan Dengchao kemudian.

"Ini semua salahku. Tapi aku terdesak, Yifan. Kita membutuhkan uang untuk perawatan Luoluo selama ini, dan juga pembayaran denda Luhan sebagai biaya kompensasi korban. Apalagi saham kita mengalami penurunan drastis setelah Luhan dinyatakan sebagai tersangka lima tahun lalu. Aku terpaksa berhutang pada Zhou Dofu Company, dan menjadikan seluruh aset kita sebagai jaminan."

"Tapi kenapa harus Zhou Dofu, baba?" lirih Yifan.

"Karena Zhou Dofu adalah harapan terakhir saat itu." Sahut Dengchao. "Kita telah kehabisan waktu, Yifan. Sekarang seluruh aset kita telah menjadi milik Zhou Dofu."

"Lalu bagaimana dengan perawatan Luoluo?"

"Dengan terpaksa kita harus menghentikannya."

"TIDAK!"

Baik Yifan maupun Dengchao menoleh, mendapati Luhan yang berdiri dengan lelehan airmata. Mereka juga melihat Yixing yang berdiri tak jauh di balik punggung Luhan.

"Pasti ada pilihan lain, bukan?" Luhan bertanya sembari mendekat kearah Dengchao. Sementara Dengchao hanya menunduk menyembunyikan raut lelah dan tangisannya. Luhan beralih pada Yifan. "Pasti ada jalan keluar, bukan?" Dan sama seperti ayahnya, Yifan memandang kearah lain.

'BRAK!'

Sebuah dobrakan menyeruak ditengah suasana pedih keluarga Wu. Segerombolan orang-orang berbaju hitam masuk dengan menggiring seorang pemuda.

"Kalian naiklah keatas. Aku akan mengatasi ini." Dengchao memberi perintah.

"Tapi-

-kumohon, Yifan."

Yifan menghela napas, lalu membimbing kedua adiknya menuju keatas. Mereka berdiri didekat tralis, menyaksikan dari atas.

"Selamat datang, tuan muda Oh." Dengchao mengucap salam kepada sosok pemuda tersebut.

"Kau pasti tahu tujuanku kemari." Dengan arogan, tanpa menjawab salam dari sosok yang lebih tua darinya,pemuda itu langsung menuju inti pembicaraan.

"Bisakah aku meminta sedikit keringanan waktu? Kami perlu waktu untuk bersiap."

"Dia siapa, Yifan?" Luhan berbisik pada Yifan. Merasa tak terima pada sifat congak pemuda yang tengah berhadapan dengan ayahnya.

"Dia pewaris tunggal keluarga Oh, pemilik Zhou Dofu Company. Oh Sehun."

Luhan sangat tahu betapa agungnya perusahaan besar tersebut. Perusahaan properti yang berpusat di China dan sudah memiliki banyak cabang diberbagai negara Asia, bahkan juga Eropa. Perusahaan yang sama yang merekrut Robin lima tahun silam. Tiba-tiba Luhan merasa sangat bersalah karena membuat babanya harus berurusan dengan Zhou Dofu.

Pemuda bernama lengkap Oh Sehun tadi berjalan ringan sambil mengedarkan pandangannya diseluruh penjuru rumah. Hingga kemudian tatapannya bersirobok dengan Luhan yang memandangnya dari atas. Ia menyeringai tipis, lalu melanjutkan kembali langkahnya untuk berhadapan dengan Dengchao.

"Aku bisa memberimu banyak waktu. Bahkan aku bisa membatalkan penyitaan aset milikmu dan menyediakan biaya pengobatan untuk puterimu yang sedang sekarat." Lagi dengan nada angkuhnya Sehun menjawab.

Yifan menggenggam tralis besi dengan kuat. Merasa muak dengan sikap merendahkan Oh Sehun, dan marah karena tak mampu melakukan apapun untuk menolong babanya.

"Benarkah?" tanya Dengchao terkejut dan tak percaya.

Sehun terkekeh lalu menatap Dengchao dengan raut serius. "Tentu saja." Ia mengeluarkan seringai tipis. "Tapi kau harus menyerahkan 'sesuatu' padaku sebagai gantinya."

Dengchao memandangnya tak mengerti.

'Aku bersumpah akan membuatmu menderita.'

Sehun mengangkat telunjuknya dan mengarahkannya pada seseorang seraya mengucap sebuah nama dengan mendesis, namun cukup jelas. "Luhan."

. .. ... to be continue ... .. .