DISCLAIMER

Nor Even Wish

Hajime Isyama-Sama

Fic by LONGLIVE AUTHOR

For the Glory of Humanity

Orang bilang ketika kita mati, kita akan mengingat kilasan hidup kita–

Mereka semua terdiam, mengumpulkan napas kembali setelah beberapa saat yang lalu Floch menembakan senapan dan dengan gerak refleks yang luar biasa Mikasa mengarahkan kait 3D manuver langsung pada leher Floch. Mantan prajurit Scouting Legion itu diam tidak bergerak setelah lehernya ditembus oleh 3D manuver milik Mikasa. Ya, mantan. Dia telah membelot dan menjadi seorang Yeagerist keras.

"Dia berpikir pergi kesini dan menyerang kapal." Ujar Hanji.

"HANJI!" Onyankopon berteriak dari sisi kapal yang akan mereka gunakan terbang meninggalkan pelabuhan. Hanji menoleh.

"ADA LUBANG DI TANGKI BAHAN BAKAR!"Teriak pria berkulit hitam itu. Oh Tidak! Semuanya pasti berpikir begitu.

"Kita tidak bisa terbang seperti ini!" Teriak Onyankopon lagi.

"Kita harus menambalnya!" Ujar seorang Pria. Ia merupakan bawahan Azumabito.

"Bersiap untuk menambal! Kita bisa menambalnya dengan dengan besi" Ujar pria itu.

"Berapa kau menambalnya?" Tanya Hanji.

"Satu jam!"

BAM! BAM! BAM! BAM!

BAM! BAM! BAM! BAM!

"Suara ini?" Ujar Hanji.

Mereka bisa merasakan tanah di kaki mereka bergetar.

"Tch!" Levi mendecih frustasi.

"Tidak mungkin" Timpal Pieck.

Sementara itu Reiner berlari ke keluar dari Port dan melihat bukit di belakang mereka telah dipenuhi oleh ratusan titan setinggi 40 meter mendekati mereka. Tinggal menghitung waktu sampai ratusan titan itu mendekati mereka dan menginjak mereka hingga rata dengan tanah.

"GUNCANGAN TANAH SUDAH SAMPAI SINI!" Teriak Reiner.

"Cek mesinnya!"

"Cepat!"

"Langsung tuangkan bahan bakar, jika sudah bisa!"

"Tidak bisa! Tidak bisa menyerah sekarang! Jika gagal kita harus coba lagi" Hanji bangkit dan bergabung denganyang lainnya melihat Rumbling yang semakin mendekat.

"Armin, kita kehabisan pilihan!" Ujar Mikasa.

"Uh, Aku, harus mengulur waktu dengan…"

"Tidak bisa! Kau satu-satunya yang bisa menghentikan Eren, aku akan mengulur waktu!" Jerit Reiner sebelum Armin menyelesaikan kata-katanya.

"STOP! " Teriak Hanji. "Kau tidak bisa menggunakan kekuatan Titan mu lagi Reiner, tenagamu sudah habis."

"Hanj-san!" Jerit Armin, tahu apa yang akan Hanji lakukan.

"Aku yang membawa semuanya kemari! Tidak terhitung berapa prajurit yang sudah kubunuh untuk berada disini. Aku akan tanggun beban itu!" Ujat Hanji yang sudah siap dengan tombak petirnya.

Ia berjalan mendekati Armin untuk terakhir kalinya.

"Armin Arlert, aku mempromosikanmu menjadi Komandan Pasukan Pengintai ke 15. Tuntutan untuk menjadi Komandan Pasukan Pengintai adalah– jangan pernah menyerah! Tidak ada yang lebih baik lagi darimu. Aku akan menitipkan semuanya padamu!" Jelas Hanji.

Jantung Armin terasa berhenti untuk sepersekian detik, tidak dapat mencerna apa yang sebenarnya yang terjadi. Jantungnya berdetak begitu keras. Sakit, dan ia kesulitan benapas. Oh, seperti ini rasanya ketika ia tahu akan ditinggalkan oleh rekan seperjuangan yang berharga.

"Well, selamat tinggal semuanya! Oh, dan Armin, Levi sekarang dia adalah bawahanmu, jadi perlakukan dia seperti seharusnya." Ujar Hanji tanpa beban. Hanji hidup untuk ini, dia sudah siap untuk ini semenjak pertama kali ia bergabung dengan pasukan pengintai.

Jean, Mikasa, Armin, Reiner, dan Conny mematung tidak bisa berkata-kata melihat Komandan mereka berpaling. Hanji berjalan menjauh dari mereka ketika ia melihat Levi yang wajahnya masih dipenuhi perban muncul di hadapannya.

"Ah, mata empat!" ujar Levi, suaranya yang lirih tertutup oleh dengan bunyi rumbling.

"Kau tahu Levi, waktuku sudah tiba!" Kata Hanji, berpapasan dengan sang Kapten.

"Aku ingin pergi dengan keren, jadi biarkan aku pergi." Kata Hanji.

Deg– tetiba saja Levi menghantamkan kepalan tangannya ke dada kiri Hanji.

"Abdikan Jantungmu!" Ujar Levi.

Mereka berdua tahu, dan hanya mereka berdua yang tahu dalam kalimat itu ada salam perpisahan yang sangat menyakitkan. Hanya Levi dan Hanji yang tahu dari ratusan perpisahan mungkin inilah yang terberat. Terutama bagi Levi, setelah kehilangan semuanya dan melangkah sejauh ini dengan Hanji. Hanya dia yang tahu betapa sakitnya ditinggalkan oleh rekan yang selama ini ada untuk satu sama lain. Mata tajam Levi redup, sangat redup seperti sebagian jiwanya telah pergi sejak lama.

"Haha!" Hanji tertawa. " Ini pertama kalinya aku mendengarmu mengatakan itu!"

Tidak, Hanji tidak akan mewarnai pesta kepergiannya dengan kesedihan. Ini penjamuan terakhirnya, ini adalah panggungnya dan semua prajurit yang telah gugur tengah menontonnya. Dia harus memberikan penampilan terbaiknya. Levi dan yang lainnya akan baik-baik saja. Hidup atau mati, selama mereka bergerak, mereka tidak akan kalah.

Maka dari itu, Hanji melesat menuju ratusan titan yang berjalan semkain dekat ke arah mereka.

"Titan, sangat luar biasa!" Teriaknya.

Dengan sisa-sisa tenaganya, Hanji menumbangkan satu pesatu titan berukuran 40 meter itu. Memang tidak berpengaruh banyak, namun ia yakin ini bisa menghambat rumbling selama beberapa menit.

"Belum, masih belum"

Bahkan setelah lebih dari lima titan yang ia tumbangkan kapal itu belum lepas landas dari pelabuhan.

"Panas! Panas sekali!" Sebagian besar kulit Hanji sudah melepuh karena uap panas dari titan-titan itu.

"Sekali lagi! Satu lagi, kumohon bantu aku menumbangkan satu lagi!" Ia melesatkan irisan terakhir pedangnya, ketika ujung matanya menangkap sebuah figur kapal lepas landas dari pelabuhan.

"Mereka sudah berhasil!, ah akhirnya"

Ia terjatuh ke tanah, tepat di tengah-tengah salah satu jejak kaki raksasa.

"Kapalnya…" Tubuhnya terbaring melihat ke langit.

"Ya kapalnya sudah lepas landas!"

"Erwin?"

Sama sekali tidak sakit– rasanya damai sekali!

Hanji melihat semua orang ada disana, semua rekan-rekanya yang telah mati. Apa artinya dia sudah mati? Ia melihat Moblit mengulurkan tangannya.

"Moblit?" Ujar Hanji, Moblit tersenyum.

"Apa aku sudah mengerjakan tugasku dengan baik?" Tanya Hanji seraya menatap Erwin. Erwin balik menatapnya dengan lembut. Erwin tersenyum.

"Aku akan mendengarkan ceritamu nanti!" Erwin mengulurkan tanganya. Hanji menyambut tangan Erwin, untuk sesaat dunia rasanya berhenti dan damai sekali. Rasanya ia kembali ke hari-hari menyenangkan bersama teman-teman sepasukannya.

Orang bilang ketika kita mati, kita akan mengingat kilasan hidup kita–

Deg!

Deg!

Deg!

"Ya, kami sudah membuat laporan, sedang diperiksa ulang oleh Mayor Hanji. Kami akan meberikannya sebentar lagi."

"Kapten Levi memberi pesan kalau Komandan Erwin di rawat di sayap timur!"

"Baik, kami akan segera kesana apabila sudah selesai."

"Suara siapa ini? Moblit?" Hanji membuka matanya, Ia tertidur di mejanya dengan sebuah laporan misi.

"Tidak mungkin!"

**To be continue**