DISCLAIMER

Nor Even Wish

Hajime Isyama-Sama

Fic by LONGLIVE AUTHOR

For the Glory of Humanity

Chapter 2

Cahaya matahari menerobos celah-celah ventilasi kamarnya. Hanji terbangun di mejanya. Sepertinya hari sudah beranjak siang. Hanji mengangkat tangan menutup matanya dari panasnya siang matahari. Ia merasakan perih di sekujur tubuhnya. Ia melihat hampir seluruh permukaan tangannya memerah karena terbakar ringan akibat uap panas.

"Kenapa tanganku? Dimana aku?" Ujarnya dalam hati.

Ia melihat pantulan dirinya sendiri di kaca jendela. Tidak ada perlengkapan 3D manuver yang melekat di tubuhnya. Ia pun hanya menggunakan pakaian biasa. Tunggu– ada yang aneh! Ia melihat pantulan wajahnya di kaca jendela dengan jelas. Sudah lama ia tidak melihat pantulan wajahnya seperti ini. Apa yang berbeda?

"Oh!" Pekik Hanji pelan. Ia menyentuh mata kiri nya. Utuh tanpa bekas luka sama sekali. Seharusnya mata kiri nya buta. Kemudian wanita itu melihat sekelilingnya yang sedari tadi tidak sempat ia perhatikan. Dia berada di sebuah kamar, ada kasur yang sedikit berantakan disebelah meja dan lemari kecil tak jauh dari pintu. Di mejanya terdapat obor yang sudah mati dan gelas air putih yang masih penuh. Serta sebuah kertas bertuliskan 'Laporan Desa Ragako'.

"Laporan?" Hanji bingung.

".. aku akan memeriksa keadaan Hanji-san terlebih dahulu, nanti aku akan menyusul." Sama-sama terdengar suara yang sangat ia kenal berada dibalik pintu diikuti dengan langkah kaki yang mendekat.

Cklek!-

"Hanji-san kau benar-benar tidak mendengarkan apa kataku, kau pasti memaksakan diri menulis laporan. Lihat! Bahkan air yang ku bawakan semalam sama sekali tidak kau minum." Moblit merangsek masuk mengoceh seraya membereskan meja kerja Hanji yang berantakan. Sementara yang di panggil Hanji-san itu terdiam mematung.

Ini bukan mimpi kan? Ia kenal betul ocehan Moblit, bahkan ilusi paling gila di dalam mimpinya tidak akan bisa meniru Moblit yang sedang mengoceh. Tapi ia tidak mengerti. Ia ingat betul kenangan terakhirnya tentang Moblit adalah ia yang terhempas uap panas Berthold, karena menyelamatkannya bertahun-tahun yang lalu. Seharusnya Moblit sudah tiada, bahkan butuh baginya berbulan-bulan untuk berhenti berkabung atas kepergian asisten kepercayaannya itu.

"Hanji-san!"

"Hanji-san apa kau mendengar apa yang aku katakan?" Moblit bersungut kesal karena ucapannya tak didengar oleh atasannya.

"Hanji-san"

Bruk!

"Eh?"

Tiba-tiba saja Hanji memeluk Moblit erat sekali. Seakan memastikan kalau yang ia peluk bukanlah debu yang akan hancur begitu saja.

"Err Hanji-san? Ada apa?" Tanya Moblit setengah bingung dan setengah malu. Pasalnya bahkan setelah dijadikan asisten Hanji selama bertahun-tahun belum pernah Hanji memeluknya.

"Hanji-san apa kau bisa melepaskan aku?" Ujar Moblit sekali lagi. Ia mulai merasa sesak napas, bagaimanapun Hanji-san aslinya jauh lebih kuat darinya.

Hanji melepaskan pelukannya. Kemudian menatap Moblit, bahkan tanpa kacamatanya ia tahu yang dihadapannya benar-benar Moblit.

"Maaf, bisa kau tinggalkan aku sendirian?" Kata Hanji pelan.

"B-baiklah.. " Moblit berjalan perlahan meninggal ruangan.

Brugh!

Hanji terjatuh dari pijakannya. Ia memegangi kepalanya kebingungan.

"Gawat, gawat, gawat, gawat! Apa yang sedang terjadi? " Ujarnya dalam hati. Jantungnya berdetak dengan kencang. Dia seharusnya tidak disini. Dia baru saja merobohkan beberapa titan berukuran 40 meter di pelabuhan Odiha. Ia sedang mengulur waktu agar yang lainnya bisa lepas landar karena tangki bahan bakar kapal perlu ditambal. Ia ingat ia sudah terjatuh, kapal sudah lepas landas. Ia seharusnya sudah hancur di injak-injak oleh ratusan titan itu. Ia berlari ke arah jendela, dimana dia? Pemandangan ini, dia berada di distrik Stohess. Di kejauhan ia masih bisa melihat dinding tebal Paradis. Masih utuh. Tidak ada rumbling, tidak ada genosida.

Tunggu! Apa semua yang terjadi hanya mimpi? Semua serangkaian serangan, kematian Erwin, penyerbuan ke Marley, apakah semua hanya mimpi yang di ciptakan otak imajiner nya? Atau kah justru ini adalah kilas balik sebelum kematiannya? Kini Hanji tidak bisa membedakan yang mana realita dan yang mana ilusi, ia bahkan tidak yakin dengan apa yang sedang terjadi. Ia melihat pena yang sudah mengering di mejanya. Tiba-tiba terlintas sesuatu di benaknya. Ia mengambil pena itu dan..

Set!

Ia menggores ujung pena tajam ke telapak tangannya.

"Ouch" Darah mulai bercucuran dari luka melintang itu. Perih, rasa perihnya nyata. Ia tidak sedang tidur dan bermimpi. Tapi dia pun yakin kalau apa yang terjadi tentang Eldia, Eren, dan Marley adalah kenyataan.

"Aku kembali ke masa lalu.. " Lirih nya.