DISCLAIMER

Nor Even Wish

Hajime Isyama-Sama

Fic by LONGLIVE AUTHOR

For the Glory of Humanity

Chapter 2

Hanji keluar dari kamarnya, sudah membenahi dirinya. Ia telah berpakaian lengkap, merapikan rambutnya dan memasang kacamatnya. Ditangannya ia membawa perkamen laporan yang ia tulis meskipun ia tidak ingat apa yang ia tulis didalamnya. Di luar ruangan sudah ada Moblit dan dan Connie Springer, kadet angkatan 104.

"Hanji-san, kau sudah siap?" Tanya Moblit, masih merasa sedikit aneh dengan kelakuan Mayor nya itu.

"Aku akan mengantarmu dan Connie ke ruangan Komandan. Beliau sudah jauh lebih baik dari kemarin. Kapten dan Komandan Pyxis." Jelas Moblit.

Hanji melenggang bersama Connie dan Moblit. Anak ini, ia melirik Connie Springer, yang kata orang tidak berbakat, nyatanya dia bisa bertahan sejauh itu. Connie memegang sebuah lukisan kecil ditangan kanannya. Sebuah lukisan keluarga, Hanji rasa itu adalah lukisan ayah dan ibunya.Ah, ia ingat! Connie sedari tadi terlihat menahan marah dan air mata. Mukanya memerah tak karuan. Mereka bertiga berhenti di ujung lorong dengan pintu terakhir.

"Kita sudah sampai, aku akan menunggu di luar." Ujar Moblit.

Hanji menoleh pada Connie. Connie mendongak.

"Semuanya akan baik-baik saja. Jadi jangan khawatir." Hanji tersenyum pada Connie. Meski hanya sedikit ada kelegaan tipis di wajahnya. Hanji mengetuk dan langsung membuka pintu tanpa menunggu jawaban.

Ia melihat Erwin dihadapannya dengan wajah yang sedikit berantakan, mungkin sudah beberapa hari ia tidak bercukur karena ada lapisan tipis janggut di dagunya, dan ya tangan kanannya sudah hilang meninggalkan sisa bagian bahu hingga lengan bagian atas. Tapi Erwin masih hidup. Perasaan aneh seperti beban di punggungnya hilang begitu saja. Tentu saja, selama 5 tahun ia menanggung jabatan sebagai komandan, tidak terpikir betapa beratnya jabatan sebagai Komandan Pasukan Pengintai. Tapi saat ini ia melihat Erwin. Meskipun tanpa tangan kanannya, tapi Erwin masih hidup.

Levi sedang duduk di sisi jendela memakan pakaian kasualnya, dan Komandan Pyxis di sisi yang lain.

"Maaf sudah mengaggumu Erwin." Ujar Hanji, kemudian ia memberi hormat.

"Syukurlah anda juga ada disini, Komandan Pyxis." Kata Hanji lagi. "Waktu yang tepat. Dia Tim Pengintai dari Calon Pasukan 104, Connie Springer." Connie meberi hormat.

"Connie berasal dari Desa Ragako." Ujar Hanji, mata Pyxis melebar.

"Desa tempat invasi titan dimulai?" Tanyanya.

"Ya. Sebenarnya saya telah mengkonfirmasi padanya tentang investigasi kami di desa tersebut. Hal itu malah menguatkan hipotesa kami saat itu. Dia kemari untuk melapor." Hanji mengisyaratkan kepada Connie untuk menjelaskan apa yang terjadi di desa Ragako.

Kemudian Connie menjelaskan bahwa tidak ada tanda-tanda penduduk yang melarikan diri disana, tidak ada tanda-tanda perlawanan, ataupun tanda-tanda titan menyerbu masuk kedalam desa. Namun saat Connie dan pasukan pengintai datang, desa itu sudah di penuhi titan tanpa satu orangpun tersisa. Lalu tidak lupa ia menjelaskan bahwa terdapat satu titan abnormal yang tidak bisa berdiri di rumahnya, dan wajah titan itu sangat mirip dengan ibunya. Itu mengapa ia mebawa lukisan orang tuanya sedari tadi, dan ia yakin betul bahwa titan yang ada dirumahnya sangat mirip dengan ibunya. Hipotesis menunjukan bahwa kemungkinan besar masyarakat Ragako itu sendirilah yang berubah menjadi Titan.

"Coba katakan sekali lagi?" Tanya Pyxis. "Para Titan yang bertanggung jawab atas insiden ini…adalah masyarakat Ragako?" Ia tidak percaya.

"Dengan kata lain, identitas titan yang sebenarnya adalah manusia" Tekan Erwin.

Mata hitam Levi melebar.

"Meski begitu aku, kami belum ada bukti apapun. Kami perlu melakukan penyelidikan lebih lanjut." Ujar Hanji.

"Jadi maksudmu selama ini aku membuang tenagaku untuk membantai manusia lain?" Tanya Levi?"

Tiba-tiba saja Erwin tersenyum.

"Oi," Levi menatap Erwin ngeri, "kenapa kau terenyum?" tanya Levi lagi.

"Itu artinya kita sudah selangkah lebih dekat dengan kebenaran." Jawab Erwin.

Hanji menatap Erwin dalam diam. Ia berpikir bagaimana jika Erwin tidak mati ketika melawan Beast Titan. Bagaimana jika Erwin yang dibangkitkan saat itu. Apa yang akan terjadi? Apakah mereka akan tetap menang? Apa dengan Erwin bisa membayar harga kebebasan yang mahal?

"Ya, bagaimana pun kita sudah lebih dekat dengan kebenaran." Hanji mengiyakan.

"Kalau begitu kami undur diri."Ujar Hanji. Kemudian dan Connie pergi meningalkan ruangan.

Seharian itu Hanji sama sekali tidak menyentuh makanan bahkan hingga malam. Ia benar-benar telah kehilangan selera makannya. Gantinya Moblit menyiapkan teh untuknya. Kini ia sendirian berada di aula ketika semuanya sudah selesai makan. Ia masih bingung. Otaknya yang biasanya selalu aktif dengan ide, pertanyaan, atau apapun yang bisa ia pikirkan. Kini beku. Setengah dari dirinya percaya bahwa ia telah kembali ke masa lalu dan memikirkan bagaimana caranya agar masa depan mengerikan seperti Rumbling bisa dihentikan, dia pasti memikirkan jalan keluarnya. Namun setengah dirinya merasa kalau apa yang terjadi adalah mimpi belaka. Bagaimana kalau semuanya hanya mimpi dan sebenarnya Rumbling dan yang lainnya hanya imajinasinya.

"Arrrghhh!"

"Oi, mata empat!"

"Eh? Levi?" Sosok pria yang dijuluki prajurit terkuat umat manusia itu duduk di kursi di sebelahnya, sambil membawa tehnya.

"Ada apa Hanji?" Tanya Levi.

"Eh? Apa?" tanya Hanji lagi.

"Melamun, tidak makan, dan kata Moblit kau bersikap aneh." Kata Levi to the point.

"Eh, benarkah?" Hanji sama sekali tidak terkejut.

Mata Levi menyipit. Ia tahu ada yang berbeda dari Hanji. Levi tahu Hanji bisa menjadi orang yang sangat menyebalkan karena obsesinya terhadap titan. Tapi dia bukan orang bodoh. Orang biasanya mungkin akan menganggap kalau sikap Hanji biasa saja. Namun tidak bagi Levi. Ia tahu kebiasaan Hanji. Saat dia sedang berpikir, sedang kesal, atau sedang senang. Tapi ini berbeda dari biasanya. Hanji memang sedang memikirkan sesuatu tapi ini kelewat janggal bagi Levi.

"Levi, kau tahu banyak rekan-rekan kita yang sudah gugur. Menurutmu apa yang mereka pikirkan ketika mereka sekarat? Apa mereka melihat kilas balik hidup mereka?" Tanya Hanji.

"Entahlah, ku rasa tidak banyak yang sempat melihat kilas balik hidup mereka." Jawab Levi.

Hening kemudian. Keheningan yang dingin tidak mengenakan. Seperti keheningan sebelum badai mendera.

"Sejauh apa kau memikirkan masa depan?" tanya Hanji lagi.

"Oi mata empat ada apa dengan dirimu?" Tanya Levi lagi mulai kesal.

"Ahahaha, tidak tidak, maaf aku meracau. Lupakan saja. Aku akan kembali ke kamarku."

***TBC***