DISCLAMIRE

Nor Even Wish

Hajime Isyama-Sama

Fic by LONGLIVE AUTHOR

The Very Last Inch of Humanity

Kita akan mati disini,

atau hidup bebas.

Kita akan mati disini, dan setiap inci dari kita akan binasa. Namun akan kita berikan meskipun itu adalah kesempatan paling buruk untuk mati dan meninggalkan dunia ini. Akan kutuliskan sebuah autobiografi. Bukan miliku, tapi kita semua yang telah berjuang sampai saat yang paling akhir.

Maria, Rose, dan Sina.

Nama yang indah namun tak lain hanyalah sebuah sangkar burung besar yang mengekang. Kita akan selalu ingat riuh rendah kota. Mungkin aroma teh hangat di dapur saat kita kecil dulu, atau suara burung-burung yang singgah di pepohonan desa kita setelah melakukan perjalanan jauh dari luar dinding, atau bahkan bau selokan dari pemukiman kumuh kota bawah tanah distrik Stohess.

Kita ingat di hari-hari kemudian kita memutuskan untuk bergabung dengan prajurit itu.

Sayap kebebasan,

dan demi kejayaan umat manusia.

Sebagian dari kita mungkin terseok-seok ketika masa pendidikan, atau memiliki karir yang cemerlang sebagai prajurit muda. Tapi semua itu tidak masalah. Kita menemukan keluarga baru.

Hingga malam itu, atau siang itu, atau pagi itu dimana kita memutuskan untuk melangkahkan kaki kita lebih dekat pada kematian dan kebebasan. Scouting Legion. Kami datang.

Kemudian kematian itu datang pada tugas pertama kita. Bahkan kita kehilangan teman yang belum sempat kita tanya namanya. Tubuh kita gemetaran bukan main ketika melihat kaki-kaki raksasa itu mendekat. Sebagian dari kita mungkin meregang nyawanya di kerongkongan raksasa atau di banting ke pepohonan.

Tubuh kita akan hancur.

Kebingungan, penyesalan, kesedihan, dan ketakutan. Meninggalkan keluarga kita, kekasih kita, dan teman kita. Semua itu hilang ketika kita melihat bayangan kematian. Mengulurkan tangannya dengan damai dan mengatakan bahwa,

"...tugasmu telah selesai."

Dan kita menyapa kematian seperti teman lama.

Sekali lagi ku katakan,

tubuh kita akan hancur sampai ke tulang belulang. Setiap inci dari kita akan binasa. Kecuali satu. Sebuah inci yang di penuhi dengan harapan dan semangat juang yang tak akan pernah padam. Meskipun tumpukan mayat telah menggunung dan dosa-dosa para pemimpin sudah tak terbendung. Sebuah inci yang menandakan bahwa kita adalah sejatinya seorang manusia yang menginginkan kebebasan dan akan terus berjuang untuk itu. Sebuah inci yang tak akan bisa diambil atau dihancurkan oleh musuh manapun.

Jika kematian datang padaku, ku harap dunia akan menjadi lebih baik. Kuharap siapapun yang akan meneruskan perjuanganku tidak akan pernah menyerah. Meskipun aku tidak pernah tertawa denganmu, menangis denganmu, atau bertarung denganmu? seluruh jiwaku akan tetap bersamamu.

Teruslah berharap.

Persembahan untuk seluruh pahlawan yang gugur di medan tempur