MINE NOTE:

btw, udah berapa abad sih gua gak kelarin nih fanfic? XD

oh hai guys

wah maaf ya karena gua gak lanjutin ffn ini

biasa, banyak alasan gua #plak XD

jadi kali ini gua janji bakal selesaikan ffn ini dulu deh

soalnya gua banyak urusan di dunia nyata (heleh -,-)

tanpa banyak basa basi lagi, kuy!


MINAKO AND KITANE PROJECT

Present

(NEW) MY BOYFRIEND IS SIREN

Inspired from Webtoon "Siren's Lament" by Instantmiso

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pair: Naruto & Hinata

Genre: [Romance, Fantasy] Drama

Warning: AU, TYPO (hanya sedikit mungkin ._.), alurnya kecepetan, ceritanya makin gaje, OOC dan lain-lain

DLDR, Happy Reading


Chap 2: Meet Him


Hinata pun bangun lalu ia menatap si pria pirang berkulit eksotis "Siapa kau?" tanya Hinata.

Sedangkan pria yang ditatap itu menatap Hinata balik dengan wajah ketakutan.

Hinata pun cukup heran dengan sikap pria tersebut dan berusaha menyentuh lengan kekarnya tapi tidak berhasil, pria itu kabur entah kemana.

Pagi harinya, Hinata kembali ke sekolah dengan wajah yang tidak bisa didefinisikan. Sesampainya di sekolah, ia dihampiri oleh kedua sahabat perempuannya dari SMP, yang satunya berambut panjang berwarna pirang pucat dan mata Aquamarine, dan satunya lagi berambut pendek sebahu berwarna pink yang seperti gulali dan bermata Emerald.

"Hei, kok kamu kelihatannya kurang sehat, Hina-chan" ujar gadis pirang.

Hinata pun menatap temannya lembut.

"Aku tidak apa-apa kok, Ino-chan" jawab Hinata.

"Benar kamu tidak apa-apa?" tanya Ino khawatir.

Hinata menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.

"Kalau ada apa-apa, ceritalah pada kami, oke. Jangan kamu sembunyikan terus" ujar gadis gulali sembari merangkul Hinata dari belakang.

"Iya, Sakura-chan" jawab Hinata lalu tersenyum kecil.

Hinata senang memiliki kedua temannya, meskipun mereka berbeda kelas.

Dikelas Hinata sendiri, tidak ada satupun yang mau berteman dengannya dikarenakan Hinata orangnya cukup pemalu. Walaupun begitu, Hinata masih punya teman yang mau berbagi curhat dengannya.

Di kelas, Hinata tidak bisa menyimak pelajaran dengan baik seperti biasanya yang ia selalu rajin mengerjakan tugas dari sensei. Ia hanya bisa melamun, memikirkan kejadian malam tadi saat bertemu pria asing yang merangsek masuk kedalam hidupannya.

Saat jam istirahat pun, Hinata tetap duduk ditempatnya sembari mengambil kotak bekalnya dari dalam laci mejanya dan berdiri lalu berjalan keluar kelas.

Tanpa ia sadari, seseorang menatap Hinata dari ujung kelas dengan wajah ibanya.


M B I S


Sore harinya, Hinata kembali ke pantai itu lagi. Bajunya sudah berganti dari seifuku sailor berwarna jingga menjadi singlet berwarna putih yang dilapisi sweater berwarna biru muda, tak lupa celana kain pendek setengah kaki berwarna biru tua.

Ia berjalan menelusuri sepanjang pasir pantai, kaki mungilnya akan membawanya entah kemana sampai ia berada didepan sebuah gua yang belum ia temui sebelumnya.

'Aku baru tau ada gua disekitar sini' gumam Hinata dalam hati.

Tak lama setelah berpikir panjang, akhirnya Hinata memutuskan untuk masuk kedalam gua.

Awalnya saat memasuki gua tersebut terlihat cukup gelap sampai saat itu ia melihat sebuah cahaya yang cukup terang berada di tengah gua.

Terlihat ditengah gua ada danau dengan air yang cukup jernih berwarna hijau kebiruan ditambah sinar cahaya senja menambah keindahan ditempat itu.

Dan yang paling mengejutkan ialah, terlihat siluet seorang pria berambut pirang membelakanginya tengah duduk dipinggir danau.

"Pria itu.. pria yang tadi malam itu kan" gumam Hinata.

Hinata pun berjalan sangat pelan kearahnya.

Mendengar suara langkah membuat pria berambut pirang menoleh kebelakang dan mendapati mata shappirenya menatap seorang gadis tengah berjalan pelan kearahnya. Ia pun segera terjun ke danau sebelum sebuah tangan mungil itu meraih lengan kanannya dan menahan pergerakannya.

GREP

"T-tunggu!" seru Hinata.

Pria itu menoleh lagi kearah Hinata dengan tatapan dingin.

"Kau mau apa, manusia?" tanya pria dengan nada tajam.

"A-apa m-maksudmu?" tanya Hinata gugup.

"Kheh... kau pikir aku tidak tau apa tabiatmu" ketus pria itu.

Hinata pun melepaskan lengan kekar tersebut dan berjalan mundur.

"A-aku.. aku cuma ingin bilang bahwa a-aku b-berterima kasih padamu s-sudah menolongku waktu itu" ungkap gadis itu dengan polosnya.

Pria itu terkekeh mendengar ucapan Hinata.

"Kau tak perlu berterima kasih padaku. Aku sudah cukup baik menolong manusia sepertimu" ujar pria tersebut.

"Tapi untuk sekarang dan seterusnya kau tak boleh bertemu denganku lagi" sambungnya.

Hinata pun mendongakkan kepalanya.

"K-kenapa?" tanya Hinata.

"Seharusnya aku dilarang bertemu manusia karena keberadaan kami terancam" geram pria itu sembari mengepalkan tangannya.

"M-maksudmu apa kamu.. bukan manusia?" tanya Hinata lagi.

"Sudahlah kau tak perlu bertanya lagi, pergilah!" titah pria tersebut lalu ia menceburkan diri kedalam air.

Hinata pun dibuat kebingungan oleh ucapan pria asing itu.

Bahkan Hinata hanya bisa melihat kaki pria itu terlihat seperti manusia normal kebanyakan.


M B I S


Malam harinya, Hinata duduk di balkon belakang rumahnya sambil membaca novel ditemanin cahaya rembulan.

Suara ombak yang menggulung ditengah laut menjadi harmoni indah pelengkap dimalam hari.

Sesekali kelereng amethys menatap kearah laut, memastikan jika makhluk manusia setengah ikan muncul ke permukaan itu lagi.

Tak lama kemudian, matanya membulat tatkala terkejut melihat penampakan makhluk mitologi itu tengah berenang meloncat keluar lalu masuk kedalam air lagi.

"Apa ini benar-benar nyata?" ujar Hinata sembari mengucek-ngucek matanya lagi lalu Hinata berlari kearah makhluk tersebut pergi.

Makhluk itu terus berenang dan Hinata terus membuntutinya sampai ia berada di tengah gua, tepatnya didekat danau.

Hinata pun bersembunyi diantara dinding gua sembari mengintip kearah danau.

Dan apa yang terjadi?

Makhluk itu berenang keatas permukaan kemudian ia duduk dipinggir danau.

Dan yang lebih mengejutkan Hinata ialah, pada saat kakinya ia angkat yang ia lihat bukan kaki manusia pada umumnya melainkan setengah badan ikan.

Hinata pun menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.

'Jadi dia benar-benar bukan manusia?' gumam Hinata dalam hati.

Disisi lain, pria itu mendecih mendengar suara hati yang digumamkan Hinata.

"Cih, aku tahu kau mengikutiku, manusia" ujar pria pirang.

'D-dia tahu a-aku mengikutinya? Darimana dia tahu?' gumam Hinata didalam hati lagi.

"Sudahlah jangan banyak alasan, cepat keluar!" titahnya.

Mau tidak mau, Hinata pun keluar dari persembunyiannya lalu menampakkan diri dihadapan pria pirang itu sembari menundukkan kepala.

"Aku sudah katakan padamu untuk tidak mencariku, kenapa kau begitu keras kepala, hah?" geram pria itu.

Hinata pun semakin takut, tak mau menjawab pertanyaan pria tersebut.

Pria itu menghela napas sembari menatap Hinata dingin.

"M-maafkan aku, a-aku tahu kamu bakal marah k-karena mengikutimu. Tapi aku c-cuma i-ingin tahu kenapa k-kamu mengatakan hal seperti i-itu padaku" ujar Hinata gugup.

Pria itu diam tidak menanggapi dan masih menatap Hinata tajam.

Gadis itu menahan napas lalu ia menjawab.

"Aku tahu kamu seorang Siren. Dan aku tahu kenapa kamu mengatakannya waktu itu" ujar Hinata tanpa kegugupan.

"Maka dari itu aku akan berusaha melindungi keberadaan kaum Siren" sambungnya.

Mendengar jawaban gadis indigo membuat pria pirang itu tertawa terbahak-bahak. Hinata pun mendongakkan kepalanya menatap pria itu dengan polosnya.

"Hahahaha... Hei, dengar sini. Aku tidak akan percaya pada ucapanmu itu. Aku tahu kau pasti berbohong dan kau bakal pergi untuk mengumumkan keberadaan kaum kami" ejeknya.

"A-aku tidak berbohong. A-aku tidak akan pernah membocorkan dihadapan para publik. Mereka akan mengira kalau aku mengarang cerita bohong" aku Hinata.

"Cih... aku tidak akan pernah percaya pada ucapanmu itu, manusia!" seru pria itu.

"Kumohon, kau harus percaya padaku" ucap Hinata sembari bersujud dihadapan pria itu.

"Kalau kau mau, kau boleh buat aku melupakan semua kejadian yang ku alami ini" sambungnya.

Pria itu tengah berpikir panjang sembari melihat Hinata yang masih bersimpuh didepannya.

"Baiklah, kali ini aku percaya padamu. Tapi kau harus pegang omonganmu itu" ujar pria tersebut.

"Iya, aku janji" ucap Hinata.

Pria itu tersenyum lebar.

"Kalau begitu, aku pergi dulu" ujarnya.

"A-apa aku boleh tau namamu?" tanya Hinata.

Pria itu mendekat kearah Hinata lalu ia mengambil tangan mungil tersebut dan meletakkannya di depan dada kiri.

"Pikirkan namaku itu didalam hatimu dan kau akan dapat jawabannya" gumam pria pirang itu.

Pria itu mulai menjauh dan langsung menceburkan diri kedalam air.

Hinata masih tercengang dengan pernyataan Siren tersebut.

"Pikirkan namanya didalam hatiku dan aku akan dapat jawabannya" beonya.

'Apakah itu namanya adalah...'


T. B. C


Yatta... *baring di kasur*

Selesai juga ya walaupun butuh banyak perjuangan buat bikin ide

Yasudah langsung saja review jika ada kesalahan

Kalo suka, jangan lupa tekan tombol fav atau kalo mau mengikuti perkembangan ceritanya silahkan tekan follow ^ ^

Sankyuu

#salaMine