Chapter 1 : Prolog


Ruang dengan langit-langit yang lumayan tinggi dan tempat duduk berundak seperti tangga itu cukup sunyi. Detak jarum jam dan dengungan halus mesin pendingin udara seolah meninabobokkan penghuninya. Suasana tenang dan hawa yang cukup dingin semakin memberatkan kelopak mata untuk tetap terbuka.

Di deret keenam paling ujung seseorang sedang menatap keluar jendela. Netra secoklat teh menatap menembus kaca jendela kepada awan mendung yang menggantung rendah. Seiring ia menatapnya langit kian menggelap, warna abu-abu pekatnya siap menangis kapan saja. Awan menghitam berarak cepat seiring hembusan angin yang kian kencang. Ranting kering yang bergesekkan mulai memecah kesunyian yang sempat menyelubungi.

Seperti badai yang siap mengamuk, begitu pikirnya.

"Fokus, Lee Haechan, hujan tidak akan otomatis membuat jarum jam menunjuk angka tiga."

Haechan meringis setengah malu. Nampaknya ia terlalu sibuk melamun sehingga tidak mendengar tiga panggilan beruntun dari guru fisikanya, membuatnya terpaksa menyelesaikan lima soal rumit mengenai gelombang di papan tulis.

Kenapa juga mereka menggunakan kapur, Haechan mengeluh dalam hati sambil mati-matian menahan nafas saat serbuk kapur terhirup olehnya. Soal ini sulit, dan tatapan tajam Mr. Im yang sedari tadi mengawasinya tidak membantu sama sekali. Rasa-rasanya Haechan ingin membalik meja coklat di ujung kelas saking frustasinya. Menyebalkan.

Bel berdering bersamaan dengan goresan kapur yang membentuk angka lima, diam-diam Haechan bersyukur dan melakukan selebrasi dalam otaknya karena akhirnya, ya akhirnya, ia bisa pulang juga. Lepas dari manifestasi penjara anak-anak yang biasa disebut Sekolah Menengah Atas.

Tanpa banyak ulah ia melenggang ke tempat duduknya dan mengalungkan tas abu-abu ke punggung dengan satu gerakan mulus sebelum bergabung dengan siwa-siswa yang mulai berjubelan keluar pintu.

π

Kaki-kaki jenjang itu berlari menembus hujan, hanya berbekal almamater abu-abu sebagai pengganti payung, yang pada realitanya tidak terlalu berguna karena almamater tidak kedap air. Haechan agak menyesal tidak menuruti nasihat ibunya untuk membawa payung.

"Kenapa hujannya harus turun sekarang!?" Haechan berdecak kesal, pasalnya walaupun langit memang mendung gelap hujan tidak turun juga, baru ketika Haechan turun di halte dekat rumah langit seenaknya memutuskan menumpahkan air matanya. Sungguh timing yang tidak tepat.

Sepanjang perjalanan (lari lebih tepatnya) Haechan mengutuk langit dalam hati, ia bahkan tidak memedulikan kubangan yang ada di jalan alih-alih menginjaknya begitu saja, membuat sepatu putihnya basah dan kotor, juga celananya. Di awan imajinernya ia dapat membayangkan omelan yang akan diterima dari ibunya, membayangkannya saja Haechan sudah berjengit malas.

Setelah beberapa menit berlari (dan badan yang basah kuyup) akhirnya rumah berwarna krem dan coklat tertangkap matanya. Ia memacu kakinya lebih cepat lagi ketika cahaya putih berkedip menyelimuti area diikuti gemuruh petir.

"Aku pulang."

Haechan berteriak kalau-kalau suaranya teredam suara hujan. Pilihan yang kurang tepat karena persediaan oksigen yang sudah terkuras karena lari-lari semakin menipis, membuat nafasnya makin tersengal. Walaupun jarak dari halte menuju rumah tidak terlalu jauh, tubuhnya lumayan pegal. Seragamnya yang basah kuyup memeluk tubuhnya menimbulkan rasa tidak nyaman, kemeja dan sweater abu-abu yang menempel dintubuhnya terasa berat.

Aku ingin mandi air hangat sekarang juga, adalah kalimat yang terus berputar ketika ia melewati serambi menuju ruang utama, Haechan tidak memedulikan air yang menetes dari ujung-ujung rambut dan seragamnya, membuat genangan kecil di lantai.

Sayup-sayup ia mendengar tiga suara dari orang yang berbeda sedang bercakap-cakap dari ruang tamu. Dua di antaranya ia kenali sebagai suara orang tuanya, namun satu suara terdengar asing baginya. Suara yang terdengar maskulin, rendah dan relatif dalam itu sudah jelas milik laki-laki, tapi Haechan tidak tahu siapa.

Samar-samar figur orang itu mulai terbentuk walau punggungnya menghadap Haechan, tapi dengan mudah ia dapat menangkap surai coklat-pirang dan bahu lebar milik pria itu. Di kiri depan pria itu ia dapat melihat ibunya berbicara dengan mata yang beebinar, Haechan hampir saja mendengus. Siapa?

"Oh, Haechan, kau sudah pulang?"

Ayahnya berhenti bicara dan beralih menyapanya ketika menangkap sosoknya yang lumayan kacau di ambang pintu. Ia terlonjak kaget, tidak siap dengan sapaan ayahnya karena kini seluruh perhatian teralih padanya, termasuk Si Pria Coklat-Pirang.

"Huh?" Ia berujar bodoh, kemudian matanya beralih ke ibunya yang menatapnya bingung dan berakhir menatap Si Pria Coklat-Pirang.

"Oh, kenalkan ini dulu murid ayah waktu di universitas," menyadari kemana tatapan Haechan, ayahnya menjelaskan.

Haechan baru akan menjawab ketika tiba-tiba orang asing berbaju hitam itu menatapnya, membuatnya melupakan kata-kata yang ada di ujung lidahnya. Mata sehitam arang dengan sorot tajam itu seolah menohok hatinya, bahkan ketika sebuah teriakan menusuk telinganya dan membuat matanya terpejam pun bola mata yang seperti mutiara hitam itu masih membekas di retinanya. Tertanam dengan sempurna.

"LEE HAECHAN BERANI-BERANINYA KAU HUJAN-HUJANAN DAN MASUK RUMAH DENGAN KEADAAN BASAH KUYUP. LIHAT GENANGAN YANG KAU BUAT DI LANTAI-"

Sisa omelan ibunya tidak ia indahkan karena ia menutup telinganya rapat-rapat dan berlari menuju kamarnya. Hal terakhir yang ia ingat sebelum kabur adalah senyuman miring orang asing itu dan beberapa huruf berderet di kartu nama persegi yang tetgeletak di atas meja.

Mark Lee.

A/N: halo, halo, btw ini ff pertamaku jadi maaf ya kalau tulisannya aneh dan belum sempat aku proof-read mungkin nanti kalian akan menjumpai banyak typo. Semoga prolognya nggak terlalu ambigu. Terimakasih bagi yang udah baca, mohon kritik dan sarannya ^^

p.s: crossposted at wattpad