XV : The Black Casket

Yang terlintas di kepala Haechan saat memasuki foyer apartemen Yukhei adalah, suasana yang diciptakan ruangan ini mirip dengan apartemen Mark. Warna monokrom yang dominan dan interior futuristik yang berwarna senada. Yang membedakan banyak furnitur dan lukisan dengan corak negeri tirai bambu yang kental. Tanpa sadar Haechan menatap takjub lukisan naga yang terpajang di ruang tengah. Panjang lukisan itu jelas lebih tinggi darinya, dengan lebar kurang lebih satu meter. Kanvas krem di hadapannya digores tinta membentuk dua naga yang hendak memakan ujung-ujung ekor satu sama lain.

"Mengagumi lukisan?" Bahu Haechan tersentak saat Yukhei muncul tiba-tiba di sampingnya, sebuah album hitam bertengger di tangan kirinya. Haechan mengusap tengkuk lehernya kikuk.

"Ah itu..."

"Ayo duduk," ujar Yukhei menyelamatkan Haechan dari kecanggungan yang menggelayutinya.

Setengah jam kemudian Haechan sibuk mengamati foto-foto yang tersemat di album berlatar hitam itu. Matanya bergulir pada setiap foto yang diambil pada momen tertentu dengan waktu yang urut. Melihatnya Haechan seperti membaca sebuah memori yang diarsipkan dengan rapi.

Sibuk mengamati album tebal tersebut Haechan tidak sadar hari sudah beranjak petang, segurat selendang oranye pun tidak ada di langit yang kini seperti tinta pekat. Ia terkesiap dan mengumpat dalam hati mengingat dua esai yang menunggunya di meja belajar. Ia buru-buru berpamitan.

"Yukhei hyung sepertinya aku harus-"

"-pulang?" potong Yukhei cepat sambil tersenyum simpul, dan Haechan mengerti kenapa Doyeon dan sebangsanya tergila-gila dengan pria ini. "Kau boleh meminjam album itu kalau kau mau. Dengan satu syarat."

Haechan ingin mencebikkan bibirnya antara setuju dan tidak setuju dengan tawaran Yukhei.

"Aku akan mengantarmu pulang dan kau harus makan dulu."

Itu kan dua. Batin Haechan sangsi namun tidak menyuarakannya. Lagipula, negosiasi bukan keahliannya.

π

Haechan terhuyung melangkahkan kakinya masuk ke apartemen yang berada di lantai sembilan. Kare dan omelette yang mengisi perut yang sempat keroncongan membuat dirinya agak mengantuk. Kesunyian apartemen yang menandakan tidak ada makhluk hidup lain di dalamnya semakin memberatkan kelopak mata Haechan. Namun rasa kantuk itu menguap begitu saja setelah membersihkan diri dan saat matanya melirik album tebal yang tergeletak di meja belajarnya. Tapi mau bagaimana lagi, sepenasaran apapun dia sudah ada esai dan seabrek catatan yang harus dirapikannya.

Ia sudah berada di halaman terakhir esai saat melenturkan jari-jarinya yang kaku karena lama mengetuk-ketuk papan keyboard. Punggungnya yang pegal ia regangkan lalu memijat-mijat lehernya lelah. Matanya melirik jam LED hitam yang berdiri di nakas. Sudah lewat tengah malam, matanya sudah protes ingin segera dipejamkan saat ia berniat membuka album hitam yang seolah mengundangnya mendekat.

Tapi semenarik apapun album misterius itu sepertinya Haechan harus tidur mengingat kelas sastra yang dimulai jam tujuh pagi. Dengan enggan ia berjalan gontai ke kasur dan membaringkan tubuhnya yang lelah. Alam mimpi menyelimutinya begitu kepalanya menyentuh benda persegi empuk dinbawahnya.

π

Haechan sudah terbiasa dengan keadaan apartemen yang hening pada pagi hari selama kurang lebih dua minggu. Karena itu ia mengernyit bingung mendengar sayup-sayup suara orang tengah berdebat dari ruang tengah yang mengganggu tidurnya. Ia mengerjapkan mata menyesuaikan pada keadaan kamar yang masih gelap. Masih sangat pagi bagi orang-orang untuk mengusik waktunya di alam mimpi. Ia menggerutu pelan sambil menyeret langkah menuju ruang tengah dimana ia mendapat pemandangan yang tidak ia duga.

"Hyung?" panggilnya serak. Pandangannya memang terganggu karena cahaya terang yang tiba-tiba menusuk mata, namun figur Taeyong yang sangat familier tidak akan menipu matanya. "Apa yang hyung lakukan di sini?" ia bertanya bingung.

Kerutan di dahinya makin dalam ketika sosok jangkung yang tadinya duduk memunggunginya berdiri menghadapnya. Laki-laki itu tersenyum simpul padanya.

"Halo Haechan."

"Youngho hyung," gumamnya pelan setengah bengong. Otaknya masih terlalu lambat untuk memproses segala sesuatunya. Apalagi saat dua pria yang lebih tua darinya itu memandangnya kaku dan sangat hati-hati seolah Haechan adalah benda rapuh yang akan pecah kapan saja. Bahkan kalau ia perhatikan lebih jauh, sorot mata itu hampir mengasihani.

"Hyung-"

"Duduk dulu," ucap Taeyong datar. Jantung Haechan berdetak aneh melihat mata Taeyong yang dingin dan mengeras menyembunyikan sesuatu yang ingin disembunyikannya namun harus ia katakan. Postur tubuhnya makin kaku di setiap langkah yang Haechan ambil. Haechan tidak tahu kenapa semakin ia mendekat Taeyong tampak frustasi dan kakinya siap memancal pergi dari apartemen kapanpun juga.

Tidak ada yang berbicara saat sejak Haechan mendudukan dirinya di sofa, hanya ada keheningan pagi buta dan sesekali suara mobil yang melintas di jalanan lenggang nan sepi. Rasanya menyesakkan. Laki-laki paling muda itu mencengkram ujung piyamanya mengumpulkan kata-kata untuk dikeluarkan. Namun niatnya kandas saat Taeyong tiba-tiba beralih duduk di sampingnya.

"Apapun yang akan kukatakan, kau pasti tidak akan suka."

"Apa?" suaranya yang parau memantul di udara, darahnya berdesir membuat perasaanya tidak nyaman. Suasana di sekelilingnya seakan menekan laju pernafasannya.

"Siapkan dirimu, kita akan menemui ayah," Taeyong mengabaikan pertanyaan Haechan seolah apapun yang akan keluar dari mulutnya dari awal memang tidak penting. Haechan mengerjapkan matanya, apa yang buruk dari menemui ayah mereka sendiri? Walau ia sempat marah pada laki-laki yang membesarkannya itu tidak lantas membuat Haechan serta merta membencinya.

"Sepagi ini? Aku harus menghadiri kelas."

Lagi-lagi Taeyong mengabaikannya. Dan kata-kata yang keluar dari mulutnya sejurus kemudian membuatnya ingin menganggap ini semua hanya mimpi dan bahwa saat ini Haechan masih tertidur pulas di kamarnya.

"Kita akan menemui ayah di ruang mayat dan mengantar petinya ke pemakaman pagi ini."

π

Waktu Haechan berada di taman kanak-kanak, Taeyong dan Ibunya selalu meninabobokan dirinya dengan sebuah dongeng klasik khas untuk anak-anak. Merasa plot dan setting dongeng yang terlalu klise ia menantang dirinya sendiri membaca cerita bertema horor dan misteri di bangku sekolah dasar. Teman-temannya akan mengernyit tidak suka melihat wajah Hacehan yang terbenam di balik buku seri goosebum dan nightmare. Mereka berpikir apa menariknya. Ia hanya akan mengedikkan bahu acuh tak acuh mendengar komentar tersebut. Seolah-olah membacanya merupakan dosa besar. Mungkin diantara rentetan koleksi buku yang didominasi warna pastel dan primer yang cerah, sampul buku bernada suram dan ilustrasi mengerikan merupakan pandangan menyakitkan untuk bocah berusia sepuluh tahun. Tapi, toh, pikir Haechan, itu kan hanya cerita.

Itu hanya cerita. Kenapa takut?

Kalau seseorang berkata demikian padanya sekarang ia tak tahu harus menangis atau menampar orang tersebut. Tapi di sisi lain ia ingin seseorang mengatakan hal itu padanya, sehingga ia bisa berharap ini semua memang hanya cerita mimpi buruk yang dulu sering dibacanya.

Namun melihat mata Taeyong yang memandang nanar padanya dan raut sendu Youngho pagi itu tidak memberi secercah harapan bahwa ini semua hanya mimpi. Dan Haechan lebih dari tahu setelah ini hidupnya akan menjadi mimpi buruk yang berkepanjangan tak berujung. Pertanyaannya adalah siapa yang akan membangunkannya?

"Haechan, kita sudah sampai."

Kepalanya tersentak ke atas. Sibuk melamun ia tidak sadar pemandangan jalanan di sekitar mobil telah digantikan dengan pencahayaan suram dan dinding beton sebuah basement. Tahu-tahu Youngho sudah berdiri membuka pintu mobil di sampingnya. Ia beranjak mengikuti pria jangkung itu tanpa berkata-kata.

Baru beberapa langkah ia ambil seseorang menahan bahunya. Ia mendongak dan mendapati Taeyong yang menenteng sebuah mantel hitam yang kemudian ia sampirkan pada Haechan.

"Pertama-tama, pakai ini dan naikan tudungnya. Tetap di dekatku dan Youngho."

Lagi, Haechan hanya mengikuti arahan Taeyong dalam diam. Seperti robot. Melihat perlakuan diam Haechan, Taeyong hanya memandangnya penuh pengertian. Dia bisa memahami hiruk pikuk yang berada di kepala Haechan saat ini. Dan dia sedikit banyak tahu pertanyaan macam apa yang kini memebelenggu pikirannya.

"Aku tidak akan bertanya," ucapan serak dan lirih yang keluar dari dua belah bibir Haechan menghentikan tangan Taeyong yang mengancingkan mantelnya. Dagunya mendongak menatap mata lelah Taeyong, membuat yang ditatap berjengit melihat kekelaman yang entah sejak kapan mengkabuti manik Haechan yang biasanya hangat.

"Aku tidak akan bertanya," ia mengulang. "Jadi Hyung tidak perlu khawatir."

Aku yang akan mencaritahunya sendiri.

π

Pemakaman itu berjalan terlalu lancar dan hening untuk sebuah keadaan yang bisa dikatakan tingkat kegentingan dan kekacauannya tinggi. Ironis. Tidak seperti saat pemakaman ibunya, Haechan tidak meneteskan satu bulir air mata pun.

Tidak ada gunanya menangis jika ia tak kunjung terbangun dari mimpi buruk ini.

Mata bulatnya menatap hampa peti hitam yang diturunkan perlahan ke dasar bumi. Ia pernah menyaksikan ini sebelumnya. Jika ditanya hatinya terasa dihancurkan berkeping-keping melihat peti putih ibunya. Namun sekarang hatinya terasa mati, tidak bisa merasakan apapun. Hanya ada kekosongan di sana dan dia tidak tahu harus dengan apa ia menutup lubang yang menganga itu.

Ia tidak menemukan jawabannya bahkan ketika para pelayat satu per satu mengundurkan diri menyisakan dirinya dan beberapa orang lainnya yang memakai setelan formal yang seragam.

"Bahkan sampai akhir pun Ayah tidak memberiku secuil petunjuk sama sekali." Harchan bergumam dari balik tudungnya.

"Kukira Ayah akan memberitahuku jawaban teka-teki Ayah seperti biasanya tapi sepertinya yang kali ini aku harus mencari jawabannya sendiri, ya."

Gumaman Haechan terputus saat desisan tajam Taeyong terdengar di dampingnya. "Apa yang mereka lakukan di sini?"

Haechan mengikuti arah mata Taeyong yang bertumpu pada segerombolan orang dengan setelan jas yang sama dan sebuah simbol rumit yan tersulam di dada kiri. Di antara segerombol orang asing beraura seram itu ia menemui satu sosok familier. Pria berambut pirang berpostur tegap yang ia temui di Pyeongchang tengah berjalan mendekat sambil melepas kaca mata hitamnya.

"Jung," sapa Youngho tenang sebelum Taeyong sempat bertindak.

"Seo," balas Jaehyun ringan disertai senyum tipis. Untuk seseorang yang sedang pergi ke pemakaman, dia tidak terlihat sedang berkabung.

"Kami datang ke sini untuk mengucapkan bela sungkawa. Profesor Lee adalah pria yang baik, kami turut kehilangan."

"Terima kasih. Tapi kami tidak menerima ular di sini, lagipula niat terselubung tidak disambut dengan baik," Taeyong berkata dingin. "Pergilah."

"Sayang sekali. Padahal kukira kejadian ini dapat memperbaiki sejarah buruk kita. Bahkan bos besar juga berpikir demikian," ujar Jaehyun dengan rasa sedih yang kentara dibuat-buat. Haechan mengernyitkan alis bingung, menerka-nerka maksud kedatangan orang-orang ini.

"Tidak ada yang perlu dan bisa diperbaiki, Jung. Laki-laki brengsek itu sudah mendapatkan apa yang ia mau. Mulai sekarang kita akan berjalan di jalan masing-masing," tolak Taeyong sengit.

Mendapat perlakuan sedingin es tidak lantas membuat Jaehyun gentar. Senyum miringnya yang berubah menjadi seringai cukup membuktikannya.

"Aku tidak tahu kalian itu pura-pura bodoh atau memang idiot," suara mencemooh itu tidak lagi disembunyikan. Haechan berjengit mendengar racun yang menetes di setiap silabelnya. "Dari awal sudah jelas apa yang ia inginkan. Tidak ada yang bisa berpaling dari perjanjian itu."

Taeyong menggeram rendah. Di sampingnya, tubuh Youngho mulai menegang. Haechan dapat melihat sudut rahangnya yang mengeras menahan umpatan dan kata-kata tajam. Aura pemakaman yang tenang perlahan menjadi berat dan pekat akan emosi yang menegang dan meletup-letup. Pertarungan dalam diam mereka menjalar ke udara dan seakan mencekat leher Haechan. Tanpa pikir panjang Haechan meraih lengan Taeyong dengan gerakan cepat, membuat tudung mantelnya tersentak turun ke belakang.

"Hyung, ayo pulang," pintanya lirih berusaha mencari mata Taeyong.

Seolah tersadar, mata Taeyong yang tadinya keruh oleh amarah berubah menjadi terkejut lalu khawatir. Bagaimana ia bisa lupa Haechan masih bersamanya?

"Youngho bawa dia-"

"Oh halo, Haechan. Kit bertemu lagi rupanya," potong Jaehyun ringan seolah ia tidak memancing pertikaian beberapa menit yang lalu. Apa yang salah dari orang ini, sih?

"Halo."

Dan dengan bodohnya ia menjawab. Taeyong sudah mengeluarkan suara-suara frustrasi-putus asa saat Jaehyun tiba-tiba sudah berada di hadapannya. Apa dia berteleportasi? Haechan tidak melihat pergerakannya. Pria itu tanpa diduga-duga mensejajarkan wajahnya dengan Haechan setelah menggenggam kedua bahunya. Ia pikir genggaman itu akan terasa keras dan tegas, menekan tulang bahunya alih-alih sangat lembut dan hati-hati seolah ia terbuat dari gelas. Sedikit banyak mengingatkan akan sentuhan ibunya saat menenangkannya dari mimpi buruk.

"Aku tahu ini berat buatmu. Aku minta maaf kau harus mealui ini semua," bisik Jaehyun lembut dan anehnya menenangkan. "Tapi percayalah semua ini ada alasannya dan pada akhirnya kebenaran akan terungkap. Sampai saat itu, kuharap kau bisa bertahan."

Taeyong mendengus sinis. Haechan baru akan membuka mulutnya namun tubuh Jaehyun sudah disentak ke belakang oleh dua orang. Salah satunya adalah... Mark? Sejak kapan dia di sini?

"Maaf hyung, ada masalah di sekitar perimeter."

"Aku tahu, Taeil sudah melapor."

"Bukankah ini klise sekali, Lee?"

Mark hanya menatap datar Jaehyun sebelum mengamit lengan Haechan dan untuk menyeretnya pergi. Awalnya ia ingin protes, Haechan masih belum bisa mencerna kata-kata yang saling ditembakan oleh orang-orang yang lebih tua darinya itu. Namun ia tahu benar bagaimana sifat Mark yang tidak bisa ditentang dan kemungkinan Taeyong akan mengurungnya jika sedikit saja berbuat bodoh.

Meskipun begitu sebelum benar-benar berjalan menjauh ia menolehkan kepala memandang lurus Jaehyun tepat di matanya. Laki-laki yang lebih tua itu tersenyum miring, matanya menyiratkan sesuatu yang samar tidak dapat Haechan tangkap sepenuhnya. Tetapi mata jelinya sempat menangkap pergerakan mulut Jaehyun yang berbisik pada udara untuk dilayangkan padanya.

Sub Rosa.

π

"-chan? Haechan?"

Sayup-sayup suara Mark membuyarkan lamunannya. Ia mengedarkan pandangan guna mendapati deretan pepohonan yang menaungi dua mobil di bawahnya. Harchan terlalu sibuk menyelami pikirannya sampai tidak sadar kemana ia melangkah. Yang jelas ini bukan tempat dimana mobil Taeyong tadi berada.

"Kau tidak apa?" Mark bertanya pelan. Walaupun sebenarnya retoris, tetap saja ia harus memastikan keadaan bocah itu. Ia mengusap pelan tangan pergelangan tangan Haechan yang masih berada di genggamannya. Aliran listrik singkat yang ditimbulkan perlakuan Mark berhasil mengembalikan kesadarannya.

"Ya," Haechan bergumam pelan lebih pada diri sendiri sambil menarik tangannya. Kepalanya tertunduk, ia tidak memiliki cukup energi untuk bertemu manik gelap Mark yang kini memandangnya dalam. Mark menghela nafas panjang melihat respon Haechan.

"Masuklah," Mark berkata seraya bergerak membukakan pintu. Belum sempat pintu itu terbuka, Haechan meletakan tangannya di atas tangan Mark untuk menghentikannya.

"Haechan?"

Kali ini pemuda yang lebih muda itu mengangkat dagunya dan menemui mata lawan bicaranya. Mark hampir tertegun melihat intensitas emosi yang mengalir memenuhi mata Haechan yang sejak pemakaman dimulai kosong. Amarah, kesedihan, dan luka yang teraduk menjadi satu di netra coklat itu seakan menohok ulu hatinya. Tangannya nyaris tergerak menghapus cairan bening yang mulai turun membasahi pipi Haechan, tapi ia tahu benar sekali ia melakukannya semu yang dibangunnya akan runtuh.

"Hyung..." panggil Haechan lirih. Suaranya bergetar.

"Haech-"

Mark tidak sempat menyelesaikan kata-katanya ketika massa asing menubruk tubuhnya dan melilitkan lengan pada torsonya. Ia terdiam cukup lama sampai merasakan cairan hangat merembes melalui jas hitam yang dipakainya dan ia memutuskan untuk menepuk-nepuk punggung Haechan pelan, dagunya ia tumpukan di ujung kepala Haechan sambil mengelus-elus kepala anak itu dengan hati-hati.

Cukup lama mereka berada di posisi itu-dan kewarasan Haechan mulai kembali. Haechan memberi jarak cukup jauh-namun tidak sepenuhnya melepaskan pelukannya-untuk mendongak mencari ekspresi kesal Mark kalau-kalau pria itu tidak suka dengan aksinya yang tiba-tiba.

Alih-alih ekspresi tidak suka, Mark tengah menatapnya tajam seperti biasa dengan pergulatan ambigu di matanya yang tidak bisa Haechan terjemahkan.

"Ah, maafkan aku..."

Merasa bersalah sekaligus malu Haechan menarik tubuhnya dari Mark. Tapi niatnya tidak terwujud saat detik berikutnya ia mendapati tubuhnya terkunci diantara lapisan besi dan kaca mobil yang dingin dan tubuh Mark yang kini kedua tangannya mengurungnya. Haechan tercenung, dan ja tidak tahu harus berkata apa saat satu tangan Mark mengangkat dagunya untuk bertemu wajahnya.

"Hyung?"

"Seperti biasa, kau harus lebih hati-hati, Haechan."

Seolah waktu terlompati dengan cepat, ia tidak benar-benar mengerti apa yang terjadi selanjutnya. Yang Haechan tahu, kini ia sedang berusaha mengais oksigen sebanyak mungkin yang merupakan tugas sulit ketika lidah Mark menari liar di dalam mulutnya dan mengais ke tenggorokannya. Dadanya serasa terbakar kekurangan oksigen, dan sekeras apapun ia meronta dan mendorong dada Mark untuk menjauh, laki-laki itu tidak kunjung melepaskannya. Mark seolah tuli akan permohonan Haechan dan berbalik terus memagut bibir Haechan tanpa belas kasihan.

Haechan tidak tahu harus bagaimana lagi agar Mark menyingkir. Bibirnya sakit dan ia mulai merasakan rasa asin dan besi menjalar di lidahnya. Berani bertaruh walau Haechan sudah terkulai tidak berdaya seperti saat ini Mark tidak akan berhenti.

Haechan benci bagaimana perlakuan Mark saat ini mengambil alih seluruh pikiran dan tubuhnya, bahkan emosinya yang tak karu-karuan dari pagi ini seperti lenyap tersapu angin.

It's like a guilty pleasure. Dan ia benci mengakui bahwa ia mulai menerimanya.

π

A/N: ? ゚リツ? ゚リツ? *halah *paan deh dateng-dateng telat nyuguhin emoji gak ceto, TIGA MINGGU INI KEMANA AJAAAAA?

? ゚リツ? *ngeselin* OKE pertama-tama, maaf ya ini updatenya telat bgt yea i know it's like 3 weeks or so, tapi ya, tapi, kemarin2 sibuk tugas *sekarang juga tapi ini colong2 waktu* jadi baru bisa update. Dan author kurang tidur huhu buat nulis mager bgt *curhat

ANYWAY ini adalah chap 15 semoga kalian suka wkwk... mohon kritik dan sarannya yes

See ya~~? ゚ルニ