Chapter 2 : Bangun...

Tweet, tweet, tweet ...

Sunset orange itu perlahan terbuka. Tsuna mengedipkan kedua matanya untuk memfokuskan penglihatannya.

'...Dimana...?'.

Si brunet merasakan mencengkeram sesuatu ditangannya; Dia menatapnya lalu mendesah pelan. Dia melihat fedora Reborn, sedikit kotor dengan darah.

"Ini bukan mimpi, huh?".

Dia tertawa pahit sambil perlahan duduk tegak. Tsuna membiarkan matanya melayang ke sekeliling ruangan.

'Hm ... tidak ada yang aku kenal ... kecuali fedora Reborn.'

Si brunet mengayunkan kakinya ke sebelah tempat tidur, tampaknya hendak turun.

'Tempat ini seperti pembuangan sampah ...'

Tsuna mengusap perutnya dan menemukan bahwa lukanya hilang – semua luka yang punya hilang.

Si brunet menemukan pintu balkon dan berjalan keluar.

Dia memejamkan mata untuk kedua kalinya sejak matanya mendapati pencahayaan silau yang baru itu. Perlahan, dia membukanya dan mengedipkan mata karena terkejut.

Dengan matanya yang tajam, dia dengan cepat menemukan bahwa dia berada di Jepang sekarang, dilihat dari tanda dan orang-orang yang berkeliaran.

Dia mengusap pelipisnya, mencoba memilah informasi-informasi baru yang dia dapati sambil berjalan kembali ke kamarnya.

Dia mendesah pelan sebelum melihat sebuah buku catatan usang di meja samping tempat tidurnya; Dia mengambilnya, mengusap sampulnya sejenak sebelum membukanya.

01/0316

H-Halo lagi, ini aku - Dame-Tsuna lagi.

Si brunet mengerutkan alisnya lalu kembali membaca.

A-aku memulai pe-pekerjaan baru di sebuah sekolahmereka tengah mencari beberapa guru. Sekolahnya penuh dengan orang-orang elite, ja-jadi aku sedikit gugup!.

Tsuna mendengus menahan tawa. Kapan pun dia melihat atau mendengar kata 'elite' dia akan langsung memikirkan Nezu-Sensei, yang cukup menjengkelkan b*****d.

Tsuna berusaha untuk tenang lalu ia terus membaca.

02/17/16

I-ini tidak mungkin!. Se-Sesuatu terjadi pada bulan!.

A-aku pikir ini hanya i-imajinasiku, tapi bentuk bulan memang selalu sabit, selama hampir satu bulan ini,

Tsuna mengedipkan mata terkejut dan membaca ulang kata-kata untuk memastikan dia tidak salah baca.

Si brunet lalu berjalan cepat ke balkon dan menatap langit; Matahari perlahan merangkak naik, tapi malam masih terlihat.

Tsuna menyipitkan matanya yang tajam ketika melihat bulan sabit itu; Dia melebarkan matanya saat menemukan bahwa bulan itu memang terlihat salah. Sebagian besar bagian bulan itu hilang.

Tsuna mengerutkan alisnya saat dia kembali menatap jurnal ditangannya sekali lagi.

03/12/16

Kelas E ... Aku sangat khawatir pada mereka.

A-aku dengar kalau mereka menjadi budak di kelas yang lain. Kelas 'E' untuk 'End',

tapi aku pi-pikir itu sa-sangat tidak baik ...

Tsuna memiringkan kepalanya ingin tahu kemudian dia terkekeh.

'Sekarang ... aku tebak kalau aku berada di dunia paralel ...'

Dia tersenyum sedikit. 'Sepertinya 'aku' disini mendidik para siswa ...'

03/24/16

Mengajar kelas C ti-tidak buruk juga...

Tsuna mengerutkan kening saat melihat noda air mata diisi kertas, bersamaan dengan beberapa darah kering ...

A-aku tidak tau harus berpikir apalagi...

Me-mengajar mereka semua i-itu ... menantang ...

... Apakah ada orang yang akan merindukanku jika aku mati?

Tsuna mengerenyit mendengar kata-kata itu; Dia bisa merasakan sakit dan kepahitan mengalir dari tulisan itu.

04/13/16

... Aku sudah memutuskan

Tidak ada yang mengginginkanku disini lagi

Aku pikir bakal lebih baik jika aku... meninggalkan dunia ini.

Maafkan aku Mama-aku tidak tumbuh menjadi orang hebat, seperti yang kau inginkan diakhir hayatmu.

Dan Papa-bukan, Iemitsu.

Kuharap kau bahagia dengan isteri barumu itu.

...

...Selamat tinggal.

Tsuna mengepalkan buku catatan itu erat-erat; Dia melihat noda darah di sudut halaman.

Mata sunset-orange-nya itu melayang dengan hati-hati ke arah pisau bedah bernoda darah di meja samping tempat tidurnya.

'Aku paham...'

Tsuna menutup 'jurnalnya' itu dan akhirnya tau bagaimana kausnya itu terdapat noda darah kering yang berada di sekitar area jantung.

Si brunet mendesah dan melirik jam.

"Kurasa, sekarang ini aku akan melakukan pekerjaanmu...".

Tsuna bersiul riang saat ia berjalan menyusuri jalanan, mengabaikan wajah melongo orang-orang yang dia lewati.

"Dame-Tsuna memakai setelan jas!"

"Tidak mungkin! Dia pasti mencurinya!"

"Apakah itu fedora?. Itu membuatnya terlihat ..."

"... Agak keren?"

"Tidak mungkin!. Itu Dame-Tsuna! Dia tidak mungkin bisa keren!"

Si brunet memutar-mutar fedora Reborn dengan jari telunjuknya, tersenyum pelan.

"Sebagai bos mafia, Kau harus belajar untuk selalu bahagia demi keluargamu-apa pun situasinya."

Saat mengingat itu, Tsuna menyeringai.

"Aku akan melakukan yang terbaik demi kalian, Minna!"

Semua orang terus menatap Tsuna saat ia mulai memanggil murid-muridnya; si brunet rupanya mengajar Kelas D.

Tiba-tiba, speaker dihidupkan, dan terdengar suara yang ceria dari sana.

"Bisakah Sawada Tsunayoshi datang melapor kekantor Ketua Dewan? Itu saja."

Speaker pun dimatikan kemudian bisik-bisik menyebar ke seluruh kelas; ada juga yang tertawa terbahak-bahak.

"Sepertinya Dame-Tsuna pada akhirnya akan dikirim mengajar ke Kelas E ~"

"Hebat! Sekarang kita tidak perlu lagi melihat Dame-Tsuna! Hahaha!"

Tsuna mengabaikan komentar itu dan keluar dari ruangan, menarik fedora Reborn-sekarang fedora itu turun sedikit.

Tok...tok...tok...

"Masuk".

Tsuna melepas fedora-nya saat memasuki kantor.

Icy, coklat-perak berbenturan dengan sunset-orange yang hangat.

Si brunet dalam hati menegang namun tersenyum dari luar.

"Konichiwa, Ketua Dewan."

Pria itu, Asano Gakuho, tersenyum dingin pada Tsuna.

"Maa, Tsunayoshi-kun, bukankah aku menyuruhmu memanggilku 'Asano-san'?"

Si brunet tertawa malu-malu sebagai balasannya.

"Gomenasai, Asano-san - sepertinya aku sudah lupa ..."

Gakuho mengangkat sebelah alis dengan tetap terus tersenyum.

"Anda tampak ... berbeda ...".

Tsuna hanya tersenyum sebagai balasannya.

"Aku sudah cukup sering mendengar hal itu dari tadi...".

Keheningan tercipta diantara keduanya, mereka saling menatap tanpa suara.

Gakuho pun tersenyum sebelum berbicara.

"Saya akan mengirim Anda ke kelas yang berbeda untuk mengajar."

Tsuna memiringkan kepalanya ke arah yang lain.

Gakuho menempelkan jari-jarinya di depan wajahnya.

"Saya akan mengirim Anda ke Kelas E".