.

Akatsuki No Yona

Second Generation

.


.

Chapter 1 – The Bodyguards and The Princesses

Kehidupan generasi kedua dimulai

.


Hanya memerlukan waktu 3 tahun bagi Yona dan Hak yang berhasil mengambil alih tahta kerajaan Kouka. Soo Won menghilang tanpa jejak dan Jenderal yang berpihak padanya tak punya pilihan lain, selain mengakui Hak dan Yona sebagai raja dan ratu kerajaan Kouka selanjutnya. Joo Doh memikirkan nasib anak dan istrinya, sehingga ia menerima amnesti yang ditawarkan Yona (meski Hak sepertinya tak terlalu menyukai hal ini) dimana amnesti tersebut berisi tentang perjanjian di masa depan bahwa Joo Doh akan bertugas dengan baik, melayani raja dan ratu kerajaan Kouka, tak peduli siapa mereka dan mencari penerusnya kelak.

Hak dan Yona menikah lalu memiliki 4 anak perempuan, kembar. Entah ini takdir atau dewa ingin bermain-main dengan mereka, Joo Doh yang menikah dengan Lily juga dianugrahi anak kembar, dua laki-laki yang diberi nama Yahiko dan Takahiro, keduanya dijuluki pengawal kembar karena Joo Doh sudah berjanji akan melatih kedua putranya untuk menjadi penerusnya sekaligus menjadi pengawal dari anak-anak Yona dan Hak, sesuai isi amnesti yang ditawarkan Yona padanya. Pada tahun yang sama dengan kelahiran si pengawal kembar, Kija dan istrinya, Nagisa mendapatkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Zen dan Shina mengadopsi seorang anak laki-laki yang ia ambil dari desa Seiryuu yang diberi nama Bam. Sebagai anak dari 4 Ksatria Naga, Kija dan Shina tentu melatih putra mereka agar kelak mereka juga bisa menjadi pelindung tuan putri kembar ini, meski Hak dan Yona sudah mengatakan bahwa mereka tak perlu mendidik putra mereka untuk menjadi pelindung anak-anak mereka, namun dua Ksatria Naga ini tetap bersikeras. Yona tak punya pilihan lain sehingga ia menerima kebaikan hati mereka, dengan catatan bahwa Zen dan Bam tak perlu bersikap formal selayaknya pengawal dan bisa berteman baik dengan ke-4 putri mereka. Baik Jae Ha dan Zeno hanya memiliki seorang putri, dan sejak awal keduanya tak berniat membuat anak mereka menjadi pengawal anak-anak Yona dan Hak, sehingga Hwaryun (anak perempuan Jae Ha dan Yuri) dan Waka (anak perempuan Zeno dan Kayano, reinkarnasi mendiang istri pertamanya, Kaya) cukup berteman baik dengan ke-4 putri kembar.

Ah, sebelumnya perkenalan dulu dengan ke-4 putri kembar yang terdiri dari Ruri, Umi, Hanna dan Rui, ya?

Putri sulung, Ruri memiliki rambut hitam lurus dan mata biru dari Hak

Putri kedua, Umi memiliki rambut hitam dari Hak meski model rambut yang bergelombang seperti ombak laut itu ia dapat dari Yona, seperti warna mata ungunya yang juga ia peroleh dari Yona

Putri ketiga, Hanna memiliki rambut merah seperti ibunya namun rambutnya lurus seperti ayahnya dan sepasang mata biru dari Hak

Putri bungsu, Rui yang merupakan duplikat ibunya karena ia memiliki rambut merah ikal dan mata ungu dari Yona


Saat ke-4 putri kembar berusia 4 tahun, mereka tak menyangka Yona dan Hak akan mendapatkan anak kembar lagi. Kali ini dua anak laki-laki yang diberi nama Shinmei dan Hokuto. Pangeran kembar yang lahir pada 9 Februari, Shinmei memiliki rambut hitam dan mata biru persis seperti ayahnya dan Hokuto, si bungsu dari 6 bersaudara ini memiliki rambut merah gelap dan mata ungu dari ibunya.

"dapat anak kembar lagi…" gumam Yun, ia membantu persalinan Yona tapi kali ini dia bersyukur karena persalinan Yona yang kedua ini tak sesulit yang pertama.

Yona mengacungkan jempol "paling tidak, aku bersyukur karena kali ini yang keluar hanya dua anak laki-laki dan semuanya lahir dengan selamat".

"Yona yang malang, itu karena kau biarkan Hak tidur denganmu lagi, kan?" goda Jae Ha.

Hak menginjak kepala Jae Ha atas komentarnya barusan sebelum ia duduk di samping Yona dan mengecup kening Yona "setidaknya kita tak perlu repot mencari pewaris tahta, lagipula dengan begini ke-4 putri kita bisa memilih dengan bebas siapa yang akan mereka nikahi nanti. Kau juga lega dengan ini, kan?".

Yona tersenyum lebar, ia merasa lega karena ia setuju untuk yang satu ini.

"terus… kalian berdua masih berniat menjadikan anak-anak kalian sebagai pengawal anak-anak Yona dan Hak?" tanya Jae Ha yang menyerahkan putrinya, Hwaryun ke tangan Yuri, istrinya.

"tentu saja?!" jawab Kija penuh keyakinan sementara Shina hanya menganggukkan kepala.


Karena kelahiran pangeran kembar, akhirnya hal ini diberitahukan pada ke-4 putrinya yang kini berusia 5 tahun, dimana mereka diperkenalkan kembali dengan anak-anak yang biasa menjadi teman main mereka, kelak akan menjadi pengawal mereka.

Rencananya, si kembar Yahiko dan Takahiro akan mengawal Ruri dan Umi, Zen akan mengawal Hanna dan Bam akan mengawal Rui.

Hwaryun yang lebih tua setahun dari si 4 putri kembar protes dan merengek pada Jae Ha "ayah?! Aku juga mau jadi pengawal mereka?! Biar aku jadi pengawal Rui-chan, ya?! Bam jadi pengawal Hanna-chan saja?!".

Jae Ha menggelengkan kepala, pertanda tak setuju "hei, kenapa kau justru malah ikut-ikutan?".

Gadis kecil berambut pirang bermata biru warisan dari ayahnya tapi wajahnya mirip ibunya, Waka yang lebih tua 3 tahun dari Hwaryun terpaksa ikut membujuknya "kalau sekarang kan kita sama-sama masih kecil… bagaimana kalau kita tentukan saat kita sudah dewasa saja untuk menentukan siapa yang pantas menjadi pengawal ke-4 putri kembar? dan selama itu kau bisa mulai berlatih dari sekarang mengingat kemampuan kita tetap masih kalah dari para laki-laki itu".

Ke-4 anak laki-laki calon pengawal ke-4 putri kembar yang hanya setahun lebih tua dari Hwaryun memalingkan wajah mereka secara sontak saat Waka menunjuk mereka dan Hwaryun melotot ke arah mereka.

Hwaryun menyambut ide Waka dengan senang hati, menggenggam kedua tangan Waka dengan mata berbinar "ide bagus, Waka-chan?!".

Sebenarnya Hwaryun memiliki maksud terselubung selain dari fakta bahwa ia ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan si kembar. Mari kita bicarakan ini nanti. Untuk sekarang, mari kita lihat reaksi papa Jae Ha yang overprotektif.

"jangan malah ikut-ikutan begitu, Waka-chan?!" pekik Jae Ha.

"santai saja, Ryokuryuu~" ujar Zeno meniup teh yang dibawakan oleh istrinya, Kayano.

"tenang saja, paman Ryokuryuu… sebagai gantinya, aku juga akan ikut mencalonkan diri bersama Hwaryun. Dengan begini tak masalah kan, ayah, ibu?" tanya Waka pada kedua orang tuanya dan mengacungkan dua jari tangannya membentuk peace.

"silahkan" angguk Zeno.

"yah, asal kau hati-hati saja" ujar Kayano disertai tawa kecil.

"gampang amat?!" pekik Lily.

"selama Kayano dan Waka tetap di sisi Zeno, tak masalah bagi Zeno~".

Setelah Waka lahir dan berusia sekitar 2 tahun lebih, pasca upacara penobatan Yona dan Hak, Zeno dan Kayano memang tinggal di kastil Hiryuu karena Zeno yang bisa mengatur berbagai macam protokol atau administrasi berkat pengalaman lama dan Kayano yang memiliki sedikit pengalaman dengan berbagai pengobatan bisa membantu pekerjaan Yun.

Kembali ke topik utama pembicaraan. Sudah diputuskan, siapapun yang menjadi pengawal ke-4 putri kembar adalah orang yang dipilih dan diakui oleh ke-4 putri kembar ini.

Tapi nampaknya ada satu orang putri yang keberatan "aku tak perlu pengawal, ayahanda, ibunda. Aku bisa menjaga diriku sendiri".

Ke-4 anak laki-laki dan 2 anak perempuan yang dicalonkan sebagai pengawal 4 putri kembar ini melotot ke arah putri sulung, Ruri yang melipat kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi penuh kebanggaan sebagai putri sulung kerajaan Kouka. Sebagai putri kandung Hak dan Yona, ia memiliki kebanggaan dan harga diri yang tinggi, ia percaya dirinya tak memerlukan pengawal di sisinya karena ia mewarisi darah dari pasangan suami istri terkuat di Kouka, diam-diam ia bangga dengan darah yang ia dapat dari kedua petarung tertangguh di Kouka.

Ruri mengusulkan agar Yahiko dan Takahiro mengawal Umi, Zen dan Bam mengawal Hanna lalu Waka dan Hwaryun mengawal si bungsu Rui "tak sepertiku dan Umi, Hanna dan Rui memerlukan pengawasan ekstra, benar begitu kan, ayahanda, ibunda?".

"hei, apa maksudmu memerlukan pengawasan ekstra, kak!?", Hanna protes sembari beradu tenaga ala sumo dengan Ruri "untuk Rui, aku mengerti?! Terus kenapa aku juga diikutkan?".

"bukankah itu sudah jelas? Meniru apa yang akan dikatakan ayahanda, karena kau merepotkan" sahut Ruri yang dengan tenangnya menahan dorongan Hanna, tak bergeming karena ia memang lebih kuat dari Hanna.

Di antara para calon pengawal ini, hanya satu orang yang berani mengajukan keberatannya "saya keberatan jika anda memutuskan seenaknya begitu, tuan putri. Kami dilatih dengan tujuan agar kelak kami bisa mewarisi posisi orang tua kami dan menjadi pengawal anda sekalian. Kenapa anda malah seenaknya saja berkata begitu?".

Ruri mencengkram kerah baju Yahiko yang lebih tua 2 tahun darinya "mau menantangku, Yahiko? Apa yang kukatakan kenyataan, aku hanya akan menerima seseorang sebagai pengawalku jika dia lebih kuat dariku dan cukup kuat untuk melindungiku… apa kau pernah menang dariku meski hanya sekali saja, Yahiko?".

Melihat seringai Ruri, muncul pertigaan di kepala Yahiko. Lily dan Yona menepuk dahi mereka saat kedua anak mereka mulai bertengkar lagi.

Pemandangan ini sudah biasa mereka lihat, tapi kali ini Joo Doh mau tak mau menghela napas "ah, sifat arogannya benar-benar mirip dengan seseorang…".

Hak menggertakkan kedua tangannya dan menyeringai "siapa yang kau maksud, pak tua? nyatanya putri kebanggaanku memang lebih kuat dari putramu".

"hei! Jangan malah ikut-ikutan anak kita, dong?!" protes Lily yang melempar bantal (entah dapat dari mana) ke kepala Joo Doh yang sudah memasang kuda-kuda di saat Yona menahan Hak yang juga sudah memasang kuda-kuda.

Tae Yeon yang kebetulan berkunjung saat itu membisiki sesuatu pada putri kedua kakaknya, Umi yang akalnya paling tajam di antara saudari-saudarinya. Setelah berpikir sejenak, akhirnya Umi melakukan sesuatu sesuai permintaan pamannya untuk meredakan kekacauan kali ini.

"menurutku yang memerlukan pengawasan ekstra bukan hanya Hanna dan Rui, kak Ruri juga…", Umi yang poker face menimpali pembicaraan untuk melerai pertengkaran "malahan kupikir Rui tak terlalu memerlukan pengawasan ekstra selama ia kita percayakan pada salah satu di antara Waka atau Hwaryun. Dan seperti kata kak Ruri, aku tak memerlukan pengawasan ekstra jadi satu pengawal saja cukup. Biar Takahiro yang jadi pengawalku dan Yahiko jadi pengawal kak Ruri".

Yahiko dan Ruri yang sudah mengalihkan perhatiannya pada Umi sejak Umi mencoba melerai mereka berdua, kini berteriak bersamaan dengan wajah yang jelas-jelas tak suka "HAH?!".

"Umi?! jangan diputuskan seenaknya begitu, dong?!".

"benar?! saya keberatan, tuan putri?! Kenapa malah saya yang harus mengawal putri Ruri dan anda meminta adik saya mengawal anda?".

"karena kau satu-satunya yang protes pada kak Ruri yang bersikeras bahwa ia tak memerlukan pengawal, jadi justru kau yang harus menjaganya", Umi menunjuk Yahiko sebelum melingkarkan kedua tangannya pada Takahiro "lagipula, ketimbang denganmu, aku lebih cocok dengan adikmu yang temperamennya tak terlalu parah sepertimu".

Muncul pertigaan di kepala Yahiko "apa maksud anda dengan temperamennya tak terlalu parah?".

Ruri melipat kedua tangannya dan terkekeh "maksudnya yang jauh lebih tenang dan takkan terlalu meributkan hal-hal kecil sepertimu, begitu".

Sebelum kakak kembarnya mulai ribut lagi dengan Ruri, Takahiro berlutut di depan Umi sambil menyilangkan sebelah tangannya di depan dadanya "terima kasih banyak karena telah memilih saya sebagai pengawal anda, tuan putri. Suatu kehormatan bagi saya untuk melayani anda kelak".

"aw, ayolah~ berdirilah Takahiro, kau tak perlu bersikap seformal itu padaku. Kita kan teman…", Umi memegang kedua tangan Takahiro dan tersenyum lembut sambil memintanya berdiri.

Tae Yeon mengelus-elus kepala Umi "good girl, Umi-chan".

Melihat bintang yang bersinar di sekitar mata Umi dan Takahiro, Ruri dan Yahiko menyadari ada persekongkolan di antara saudara kembar mereka berdua dan berpikir, dalam hati ingin mengutuk saudara/i mereka "Umi / Takahiro, dasar pengkhianat?!".

"nah, meski ayah Waka tak keberatan, karena si mata sayu keberatan, maaf… kalian berdua tak bisa jadi pengawal mereka", Hak menepuk kepala Waka dan Hwaryun "lagipula aku merasa ayah yang overprotektif disana akan mengejarku sampai ke ujung dunia kalau sampai terjadi sesuatu pada putrinya tersayang".

Hwaryun merengut saat ia melihat Hak dan Jae Ha bertukar pandangan sambil tertawa terkekeh "yah…".

Yona tertawa kecil, ia tersenyum lebar dan mengelus kepala Hwaryun "ta-pi, kalian boleh kemari kapan saja kalian mau, karena kalian keluarga kami, Hwaryun".

Rui mengangkat kedua tangannya ke atas dan bersorak "Rui mau kak Bam?!".

Bam mengangkat sebelah tangannya, memberi hormat "siap, Rui-chan".

Hanna melipat tangan dan menghela napas sebelum menyeringai "hm, apa boleh buat… sepertinya aku harus puas dengan Zen~".

Zen merasa merinding karena bulu kuduknya berdiri, menggelengkan kepala sambil menunjuk ke arah Hanna "kenapa aku justru merasa kalau aku yang ada dalam bahaya, ayah?".

Mengetahui tingkat keusilan Hanna yang mungkin ia warisi dari Hak, Kija bisa memperkirakan nasib macam apa yang menunggu putranya dan menggelengkan kepala "hanya perasaanmu saja".

Melihat saudara kembar dan temannya sudah memutuskan, Ruri dan Yahiko bertukar pandang dan menghela napas sebelum akhirnya Yahiko memberikan pernyataan perang "lihat saja, tuan putri… kau bilang kau hanya akan menerima seseorang sebagai pengawalmu jika dia lebih kuat darimu dan cukup kuat untuk melindungimu, kan? aku pasti akan berlatih keras sampai tiba saatnya kau memerlukan perlindunganku saat aku jadi lebih kuat darimu!?".

"mimpi di tempat tidur sana", Ruri mendengus sebelum menyeringai, tiba-tiba terlintas ide dalam kepalanya sehingga ia mengacungkan jarinya ke depan Yahiko sambil tersenyum menantang "atau begini saja, akan kuberikan kau kelonggaran… tak perlu menunggu sampai kau lebih kuat dariku karena kau akan kuterima sebagai pengawalku jika sekali saja kau berhasil menolongku saat aku dalam kesulitan atau kau berhasil melindungiku dari bahaya, bagaimana?".

Pupil mata Yahiko melebar karena terkejut "…serius?".

"kalau tak mau, ya sudah, terserahmu…", Ruri mengangkat bahu "lagipula kurasa aku tak selemah itu sampai harus mendapatkan perlindungan darimu".

Dengan semangat prajurit, Yahiko yang muncul pertigaan di kepalanya menunjuk Ruri "suatu saat aku pasti akan melampauimu, lihat saja?!".

Joo Doh menjitak kepala Yahiko sebelum menggiling kepalan tinjunya dengan kepalan tinjunya "semangat yang bagus, tapi bukan begitu cara bicara pada tuan putri, kan?".

Lily mengayunkan tangan "yah, tapi cara bicaranya yang kasar itu kan turunan darimu".

"baiklah, jadi sudah diputuskan, ya~ 8 tahun lagi saat kalian para laki-laki berusia 15 tahun dan ke-4 putri kami berusia 13 tahun…", Yona menepuk tangan untuk memecah pertengkaran yang mungkin akan terjadi dan memberi senyum terbaiknya "selama itu, kalian bisa berlatih bersama putriku sampai tiba saatnya ke-4 putriku memilih siapa yang akan jadi pengawalnya di antara kalian berenam. Ah, kecuali Umi yang sudah memilih siapa pengawalnya".

Lily mengangkat tangan "Yona, aku mengerti syaratmu, tapi kenapa 8 tahun lagi?".

"oh… 8 tahun lagi, saat tuan putri berusia 13 tahun dan putra kita 15 tahun, berarti sama dengan usia ratu dan raja saat beliau mendapatkan Raijuu no Kouka sebagai pengawalnya" ujar Joo Doh menjawab pertanyaan istrinya sebelum Yona menjawab pertanyaannya.

Melihat Hak memalingkan wajahnya yang tersipu dan Yona yang menutupi wajahnya yang merah padam, Lily memegangi kedua bahu Yona dari belakang dan menyeringai "hoo~ so sweet~".

"Lily?!" pekik Yona saat Hak berdehem.

.

~ To Be Continued ~

.


A/N Maya :

Uh-oh, bagaimana kelanjutan kisah mereka? Apa Yahiko akan berhasil mencapai tujuannya? Apa yang akan terjadi 8 tahun kemudian adalah sesuatu yang tak mereka sangka. See you next time~