.

Akatsuki No Yona

Second Generation

.


Chapter 19Just Want You To Know

Aku hanya ingin kau tahu

Aku menyayangimu


Di tengah siang hari yang cerah dan terik, tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba badai beserta petir menyambar kastil Hiryuu.

Bukan bercanda, ya. Ini serius.

Penyebabnya ini.

Waka dan Nari tiba di kastil Hiryuu bersama Soo Won. Yahiko dan Takahiro merasa heran saat ayah mereka jadi pucat mengetahui kedatangan Nari dan Waka yang tiba-tiba, bersama ayah Nari.

"dimana yang mulia Raja dan Ratu?", Joo Doh tengok kanan kiri "Zeno, minta penasihat Yun untuk—".

"sudah telat" ujar Zeno menunjuk Hak yang datang bersama Yona, Yun dan Min Soo.

Tanpa ragu, Hak membanting Soo Won sebelum mencengkram kerah baju Soo Won yang ia tindih di atas beton pekarangan istana "masih berani kau tunjukkan wajahmu di hadapanku? Setelah kau menyakiti mereka berdua dan membiarkan dia mati!?".

"aku tidak akan membela diri. Kau berhak marah dan membenciku, Hak", Soo Won mengangkat kedua tangannya "tapi perlu kau ketahui, aku datang kemari hanya untuk meluruskan salah paham dan menyelesaikan masalahku dengan putraku yang minggat dari rumah. Aku sama sekali tidak punya niat buruk padamu dan istrimu".

"dan menurutmu aku bisa percaya pada kata-katamu?" geram Hak yang menunjukkan aura bengis seperti binatang buas.

Nari menepuk-nepuk bahu Hakuren "kakak?! Tolong ayah, dong?!".

"ogah" sahut Hakuren yang tahu permasalahannya. Hakuren memanggil Hak dari kejauhan "yang mulia, terserah saja mau direbus atau dipanggang, tapi tolong lakukan itu di tempat lain selagi saya mengungsikan adik saya".

"Hakuren, yang mulia Raja bisa serius membunuh ayahmu. Apa kau sadar apa yang baru saja kau katakan?" bisik Joo Doh yang menarik lengannya.

"aku tahu", Hakuren menjawab dengan sorot mata yang dingin dan terlihat tenang "apa anda pikir saya tidak tahu apa yang dilakukan oleh ayahku? Termasuk soal anda yang sempat membantunya, Jenderal Joo Doh?".

Sebelum terjadi pembantaian, Jae Ha menarik Hak dan memanggulnya di bahu seperti karung "akan kuungsikan ke hutan terdekat?!".

"memangnya aku beruang!?" pekik Hak yang meronta dan meminta Jae Ha untuk melepaskannya.

"maaf, yang mulia Raja, tapi perintah yang mulia Ratu itu yang paling utama bagi para ke-4 Ksatria Naga. Kau tidak lupa itu, kan?".

"MATA SAYU?!" teriak Hak yang terdengar dari kejauhan saat Jae Ha terbang ke langit.

Yona menghela napas panjang dan memijat keningnya, mendadak migrain "Kija, tolong kau ambil dua kuda dari kandang. Shina, tolong temani aku dan Kija, kita susul Hak dan Jae Ha. Yun, Zeno, tolong minta istri kalian untuk menyiapkan kamar tamu serta pelayanan untuk Soo Won dan Nari. Terakhir, Han Joo Doh, tolong pastikan keamanan kastil. Sekian. Ada pertanyaan?".

"tidak ada, Ratu" ujar Kija, Shina, Yun, Zeno dan Joo Doh melihat aura angker di sekeliling tubuh Yona yang tersenyum dengan aura membunuh yang tak bisa dibantah seolah ia berkata 'lakukan saja perintahku jika masih ingin hidup'.


Sesampainya di hutan belakang kastil Hiryuu, Yona melipat kedua tangannya di hadapan Hak yang menolak untuk menatap langsung istrinya yang kini tengah menatapnya tajam "kau sadar apa yang kau lakukan bisa menurunkan martabat dan harga dirimu sebagai Raja jika tak kuhentikan?".

"apa ini waktu dan tempat yang tepat untuk membicarakan soal ini? Kau serius ingin membahas ini disini dan sekarang?".

"jika kau bisa berjanji padaku untuk tak mencoba membunuh atau menghajar Soo Won di hadapan anak-anak kita, mari kita bicara baik-baik di singgasana istara bersama Soo Won, Yun dan Joo Doh", Yona menghela napas panjang "aku mengerti kemarahanmu, Hak... tapi tolong, kontrol emosimu dan paling tidak, jangan kau tunjukkan amarahmu di hadapan anak-anak kita, kau bisa menakuti mereka. Jika kau dan Soo Won ingin berkelahi dan adu mulut, lakukan saja itu di ruang tertutup dimana tak satupun dari anak-anak kita yang melihat".

Kija, Shina dan Jae Ha hanya bisa menonton pertengkaran mereka berdua kali ini. Memang, saat Hak menghajar Soo Won tanpa ampun tadi, selain empat putri kembar dan dua pengawal kembar, ada juga si kembar pengantin yang tak lain adalah anak Soo Won.

Melihat Hak mengerutkan keningnya, Yona menggenggam tangannya "ayo, kita kembali ke kastil, Hak".


Setelah Nari memeriksa punggung ayahnya yang mungkin akan memar sedikit, Nari meminta agar Soo Won beristirahat dan tak memaksakan diri sebelum ia mulai mendesak Hakuren dan Soo Won "cukup, aku tak mau lagi menerima jawaban 'tidak' dari kalian berdua kali ini. Jelaskan padaku... apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu?".

Hakuren melirik ke arah rekannya, sesama pengawal putri (Bam, Zen, Takahiro dan Yahiko) serta para putri (Ruri, Umi, Hanna dan Rui) sebelum menghela napas panjang dan menatap lurus Nari "baik, kita pindah tempat".

Ketika Joo Doh kembali dan tak menemukan Soo Won, Nari dan Hakuren, Yahiko dan Takahiro menjelaskan pada ayah mereka kemana mereka pergi.

"ayah, penyebab yang mulia Raja bersikap begitu, apa mungkin..." gumam Yahiko yang terpotong karena Joo Doh menatapnya tajam, Yahiko mengerti bahwa ayahnya memintanya untuk tak bicara apapun soal itu di hadapan para putri, rekannya sesama pengawal putri dan adiknya. Yahiko hanya bisa menghela napas "baik, aku mengerti".

Ruri beranjak menghampiri mereka berdua, ia tahu ayahnya memang memiliki karakter keras dan kadang temperamen, tapi ini pertama kalinya ia melihat ayahnya berperilaku seperti itu, layaknya binatang buas yang haus darah "kalian tahu sesuatu, kan? Yahiko, Jenderal Joo Doh, apa penyebab ayahku bertindak seperti itu? Sebenarnya... siapa ayah Hakuren dan Nari? Mereka saling kenal dengan orang tuaku?".

Hakuren muncul di saat yang tepat, Soo Won dan Nari mengikuti di belakangnya meskipun kedua mata Nari terlihat sembab seperti habis menangis "perlu saya jelaskan, tuan putri?".

"tidak perlu!?" ujar Yahiko dan Hak di saat yang bersamaan.

Mereka terkejut melihat Hak sudah kembali bersama Yona, Jae Ha, Kija dan Shina.

"biar ibu yang jelaskan, sayang", Yona meminta para putrinya dan pengawal mereka berkumpul "ayah Nari, Soo Won adalah sepupu ibu. Ayah Soo Won, mendiang pangeran Yu Hon dan ayahku, mendiang Raja Il adalah kakak beradik. Mendiang ibu kandung Nari dan Hakuren, Aina adalah cucu kandung kakek kalian, Son Mundok. Aina... bisa dibilang dia sepupu jauh Hak yang sudah seperti saudara kandung sendiri karena mereka tumbuh besar bersama di Fuuga, di bawah asuhan kakek buyut kalian, Son Mundok".

"saya rasa anda lupa menambahkan satu bagian, yang mulia Ratu", Hakuren menatap tajam Soo Won "fakta bahwa mendiang ibu kandung kami, Aina adalah mantan tunangan suami anda, yang mulia Raja Son Hak. Ibu kami terpaksa memutuskan pertunangan mereka karena harus menjalani pernikahan politik dengan ayah kami. Ada yang kurang?".

"cukup, kak?!", Nari menampar Hakuren "sudah, aku tak mau dengar itu lagi?! Aku tak mau tahu lagi?! Terserah saja jika kau dan ayah tak mau berbaikan, dasar kalian berdua kepala batu?!".

Hakuren mengelus pipinya yang sakit saat Nari pergi meninggalkan tempat itu sambil menangis "Nari?!".

Bam yang merasa cemas, membungkukkan badan di hadapan Rui "putri, bisakah saya—".

Rui menepuk bahu Bam "sudah sana, cepat kejar saja dia, kak Bam?! Dia kekasihmu, kan?!".

"terima kasih, putri!?", Bam mohon diri sebelum dia mengambil langkah seribu "Nari, tunggu!?".

Soo Won yang baru tahu bahwa putrinya, Nari dan Bam, putra Seiryuu Shina adalah sepasang kekasih, hanya bisa menunjuk Bam yang pergi menyusul Nari "...serius?".

"nggak, bercanda" jawab Hakuren ketus sebelum ia berdecak pinggang "tentu saja serius, pak tua".

"dasar anak durhaka, sekarang waktunya mendisiplinkanmu karena telah membuat adikmu yang manis itu menangis. Kau bisa marah dan membenciku tapi jangan pernah buat adikmu menangis, paham?", Soo Won menarik telinga Hakuren sebelum melemparkan senyuman ramah dan hangat yang selalu ia berikan pada Yona dan Hak dulu "bisa kita bicara setelah kudisiplinkan anak ini, Hak, Yona?".

Hak dan Yona bertukar pandangan sebelum Hak meminta Joo Doh dan Yona meminta Yun untuk ikut bersama mereka berdua saat mereka berdua bicara di ruang singgasana bersama Soo Won. Di ruang singgasana istana, Hak meminta maaf pada Soo Won atas perlakuannya yang kasar setelah Soo Won meminta maaf pada Hak atas apa yang ia lakukan padanya dan Aina, termasuk soal Soo Won yang tak dapat menjaga Aina dengan baik.

"aku bahkan tak dapat mencegah kepergiannya yang begitu tiba-tiba, Aina tak pernah sekalipun bicara padaku bahwa kandungannya akan membahayakan nyawanya dan aku harus kehilangannya begitu cepat dan anak-anak kami bahkan tidak sempat merasakan kasih sayangnya", Soo Won tersenyum pilu "kurasa... hingga akhir hayatnya, ia tetap mencintaimu, Hak".

"jawab satu hal: saat ia mati, apakah ia menderita? Apakah ia menangis? Atau tersenyum?" tanya Hak.

"Aina, dia...", Soo Won terpaku, menundukkan kepalanya "...dia tersenyum padaku dan berterima kasih untuk segalanya, sebelum memintaku menjaga anak-anak kami".

"bukankah seharusnya itu sudah jadi jawaban untukmu, dasar bodoh?", Hak menjitak kepala Soo Won "dia mencintaimu dan anak-anak kalian, karena itu ia tersenyum dan berterima kasih untuk segalanya di akhir hayatnya. Jangan pernah lagi berpikir kalau kau hanya membuatnya menderita", Hak merengkuh bahu Soo Won "maafkan aku, seharusnya aku tak lupa... kaulah yang kehilangan dirinya di depan matamu sendiri dan bersedih karenanya, karena kau mencintainya...".

"ah, Aina beruntung sekali, dicintai dua lelaki ini..." gumam Yona berdecak pinggang.

"sayang, kau tahu aku hanya mencintaimu saat ini, kan?" sahut Hak melonggarkan pelukannya pada Soo Won.

Yona tersenyum lebar sebelum memeluk Hak dan Soo Won "iya, aku tahu. Janji? Tidak ada lagi pertengkaran karena dendam masa lalu?".

Soo Won dan Hak mengangguk sebelum keduanya memeluk Yona bersamaan.

Soo Won menyandarkan wajahnya ke bahu Yona sementara satu tangannya merangkul Hak "aku menyayangi kalian berdua".

Joo Doh tersentuh melihat apa yang terjadi, akhirnya, setelah sekian lama. Yun merasa bahwa ini hanya awal yang baru, tapi sepertinya ada sesuatu yang terlupakan?

"ah?! Bagaimana dengan putri kalian?" tanya Yun.

Hak, Yona dan Soo Won bertukar pandangan sebelum mengangkat jari jempol mereka "tenang, bisa diatur".

"aku percayakan putriku Nari pada kekasihnya", Soo Won mengangkat bahu "yah, walaupun... di saat anak perempuanmu punya kekasih, rasanya... antara senang dan sedih...".

"aku mengerti, itu dilema seorang ayah", Hak menepuk bahu Soo Won "di antara putri kita, selain Ruri, kurasa mereka bisa menerima penjelasan Yona tapi sudah kuminta Yahiko untuk mengurus soal Ruri agar ia tak lagi memikirkan soal kita bertiga".

"tumben? Ada angin apa?", Yona berpikir biasanya Hak akan membuat Yahiko menjaga jarak dari Ruri "apa akhirnya kau tak keberatan jika ada yang menjalin hubungan dengan Ruri?".

"aku hanya minta Yahiko untuk menangani Ruri, bukan mengencaninya, kan?" jawab Hak ketus "langkahi dulu mayatku sebelum para lelaki itu berani mendekati putri-putriku yang berharga".

Dalam hati Yona berpikir saat menghela napas "perjalananmu masih panjang, nak Yahiko".


Baiklah, mari kita lihat apa yang terjadi pada anak-anak mereka...

"Nari!? Nari, tunggu?!", Bam menggenggam pergelangan tangan Nari. Saat melihatnya menangis, Bam memeluk Nari dari belakang "apa aku tak bisa melakukan apapun? Jika itu soal ayahmu dan ibumu, aku sudah tahu?!".

"kau... sudah tahu?", Nari tak percaya ini, ia menggelengkan kepala sebelum air matanya kembali berlinang "kalau begitu, kenapa!? Kenapa kau tetap memilih untuk bersamaku sebagai kekasihku? meski kau tahu bahwa aku adalah putri pengkhianat!?".

Memang benar, berdasarkan posisi mereka, ayah Bam adalah salah satu dari ke-4 Ksatria Naga dan ayah Nari adalah mantan Raja Kouka, mereka adalah musuh namun Bam tak peduli dengan semua itu.

"karena apa yang terjadi di masa lalu itu tak ada hubungannya denganmu", Bam menyentuh lembut kedua pipi Nari dan menyandarkan dahinya ke dahi Nari "perlu kau tahu, Nari, tak peduli apapun yang terjadi di masa lalu, siapapun dan apapun yang dilakukan oleh kedua orang tuamu tak akan mengubah apa yang kurasakan padamu. Rasa sayangku padamu lebih besar dari yang kau kira. Aku takkan berhenti meyakinkanmu betapa aku menyayangimu. Aku mencintaimu, Nari".

"aku juga mencintaimu", isak Nari memejamkan matanya perlahan saat Bam menciumnya dengan lembut. Nari tersenyum lebar dan memeluk Bam erat "terima kasih, Bam".

Bam tersenyum dengan lembut dan balas memeluk Nari sambil mengecup kening Nari.

Malamnya, di bawah sinar rembulan yang terang benderang pada malam bulan purnama ini, Ruri membuka pintu kamarnya dan menemui Yahiko bersandar di dinding "Yahiko, kau masih disini?".

"anda keberatan?".

"tidak, justru dengan kau ada disini, itu sangat membantuku... untuk merasa lebih tenang".

"anda tidak bisa tidur?", Yahiko menawarkan teh chamomile kesukaan Ruri "anda mimpi buruk? Atau... kepikiran yang tadi siang?".

"aku kepikiran yang tadi siang", Ruri berterima kasih, menerima teh chamomile hangat yang ia sukai untuk menenangkan pikirannya dan membantunya tidur "maksudku, yah... mungkin adik-adikku bisa menerima penjelasan ibuku tapi tidak denganku. Aku merasa... bukan hanya karena masalah di antara ayah dan paman mengenai bibi Aina, tapi ada masalah lain yang tak kalah besar dan gelap, sesuatu di masa lalu yang berkaitan dengan rahasia gelap keluargaku... Yahiko?".

Ruri terkejut saat Yahiko menarik pergelangan tangan Ruri, menyudutkannya ke dinding. Yahiko berhasil menangkap cangkir gelas teh chamomile yang telah kosong itu sebelum gelas yang refleks terlepas dari tangan Ruri itu jatuh dan pecah berantakan di lantai. Setelah meletakkan cangkir teh itu ke tempat yang aman, Yahiko menempelkan kedua tangannya ke dinding di samping wajah Ruri.

Ruri merasa detak jantungnya melonjak akibat ulah Yahiko "...Yahiko? kenapa...".

"apa itu penting?", Yahiko menyentuh dagu Ruri dan menegakkan wajah sang putri agar ia bisa menatap lurus mata sang putri "aku tak merasa itu hal yang penting, putri".

Ruri terbelalak saat Yahiko menciumnya. Wajah Ruri yang pucat kini merona merah, ia menutup matanya perlahan sambil balas memeluk Yahiko. Yahiko merangkai jemarinya menelusuri rambut Ruri sebelum memperdalam ciuman mereka. Hanya saat mereka butuh oksigen untuk bernapas kembali, Yahiko menjauhkan bibirnya dari Ruri.

Yahiko mengelus kepala Ruri dan mengerutkan keningnya "aku hanya ingin kau tahu... tak peduli apapun yang terjadi, takkan ada yang bisa mengubah besarnya rasa sayangku padamu...".

Ruri mendongakkan wajahnya yang merona merah pada Yahiko, namun sebelum ia bisa bertanya apa yang menggusarkan hati pengawalnya, mereka mendengar seseorang berdehem.

"aku hanya ingin bilang, malam ini giliranku yang patroli bersama ayahmu dan kurasa sebentar lagi ayahmu akan lewat sini, Yahiko", Hakuren tersenyum ramah sebelum menepuk bahu Yahiko "anggap... aku tak lihat apa-apa. Kenapa tak lanjutkan saja di dalam kamar? Tapi jangan sampai kebablasan dan buka baju, ya".

Wajah Ruri sontak tambah merah dan ia bergegas masuk ke dalam kamarnya "...aku mau tidur, selamat malam".

"Ha-ku-ren...", Yahiko memiting leher Hakuren "kau itu ada dendam apa sih padaku, hah?".

"dendam? Tak ada. Kenapa kau malah berprasangka buruk begitu padaku. Hei, aku ini justru sudah menyelamatkanmu, tahu. Kau masih mau hidup, kan?" protes Hakuren sebelum ia pergi patroli sementara Yahiko lanjut berjaga di depan kamar Ruri.

Di tengah patrolinya, Hakuren menengok kanan kiri, memastikan situasi aman sebelum ia bertemu dengan Waka secara diam-diam "aman?".

"aman, ayahku dan ibuku sudah tidur", Waka sudah memastikan kalau malam ini ayah dan ibunya tidur di kamar yang sama. Karena malam ini Hakuren akan berpatroli, mereka berdua berencana untuk pergi ke Kuuto. Waka bahkan sudah menyiapkan dua mantel, untuknya dan Hakuren "jadi, kita pergi sekarang?".

Hakuren tersenyum lebar "tentu saja, ayo".

Dari jendela lantai 2, Jae Ha yang meminum araknya, menurunkan gelasnya saat melihat bayangan dua orang yang ia kenal "hm, aku melihat sesuatu yang menarik~ haruskah kugoda pak tua itu?".

"kau bilang sesuatu?" tanya Yuri yang baru selesai mandi dan bersiap di ranjang "mau tidur atau tidak?".

"tak apa", Jae Ha menyeringai sebelum meletakkan botol dan gelas araknya sebelum menghampiri istrinya "mau olahraga sebentar sebelum tidur?".

Yuri tersenyum menggoda dan melingkarkan kedua tangannya ke bahu Jae Ha "kau tak pernah membuatku bosan di tempat tidur".


A/N Maya :

Harap maklum, tegangan mereka lagi tinggi di malam hari LOL ^o^