BAB II

Cinta adalah kata-kata yang bisa membuat seorang pembunuh menjadi suci, seorang buta dapat melihat cahaya dan seorang malaikat yang menjadi pendosa.

Asami, sama sekali tidak senang ketika mendapati penthousenya kosong dan tidak ada anak kucing kecilnya.

Empat hari tidak ada kontak sama sekali dengan sang fotografer membuat Asami merindukan anak itu. Meskipun ia tidak akan mengakui kerinduannya.

Hanya laporan dari anak buahnya yang membuat Asami tahu setiap aktifitas Takaba, termasuk laporan baru yang mengatakan kekasihnya berada di sebuah restoran bintang lima di Tokyo dan bertemu seorang wanita disana.

Baru ketika jam menunjukan dua dini hari ia mendengar suara pintu terbuka dan langkah kaki yang masuk ke penthousenya.

Tidak ada pengawal yang berani masuk tanpa memberikan pemberitahuan bahkan termasuk Kirisima, seketaris pribadinya dan Suoh sebagai kepala kemanaan dan penjaga utamnya jadi sudah jelas bahwa orang yang masuk adalah Akihito.

Meski begitu Asami tetap berbaring dan tidur sama sekali tidak bergerak atau melakukan rutinitas biasa seperti memeluk, mencium dan menggoda Kittennya.

Kali ini ia sudah terlalu lelah dan kesal, hmm Akihito mungkin harus dihukum karena sekali lagi tidak menaati perintahnya.

Ya..sebuah hukuman menyenangkan dimanan beberapa mainan akan terlibat dalam kegiatan panas mereka, pikir Asami .

Suara langkah itu semakin jelas, bahkan tanpa membuka kelopak matapun, Asami tahu Akihito telah berada di dekatnya, lebih tepat lagi beraa di samping tempat tidur mereka.

Detik, menit dan hampir setengah jam namun Akihito masih berdiri disamping tempat tidur dan memperhatikan kekasihnya dan itu membuat Asami semakin tidak sabar.

Kenapa Akihito tidak langsung berbaring disampingnya? Oh tangan-tangan ini sudah benar-benar gatal untuk dapat menyentuh kittennya.

Kesabarannya malam ini benar-benar diuji dan sepertihalnya dunia bawah tahu bahwa seorang Asami Ryuichi memiliki kesabaran seperti sebijih jagung!

Dia baru saja akan membuka matanya, namun kemudian suara yang telah Asami rindukan selama empat hari itu mengenai pendenagran telinganya.

Suaranya begitu pelan namun lembut, tapi Asami masih dapat mendengar dengan jelas.

" Asami..Asami Ryuichi"

Namanya yang disebut dengan begitu lirih, ini pertama kali Asami mendengar Akihito mengatakan namanya dengan lengkap, tapi kekasihnya mengatakan itu dengan suara yang begitu pelan, namun penuh perasaaan.

Ada jeda sebelum kata-kata selanjutnya membuat Asami hampir membuka matanya.

"Cahayaku..."

Asami ingin tertawa miris mendengar kata itu, seharusnya ia yang mengatakan hal tersebut pada Akihito. Karena anak muda inilah cahayanya dalam gelap dunia.

Tangan lembut itu menyisir halus rambut Asami, terus membelai sampai si empunya benar-benar tertidur.

Hal terakhir sebelum dunia mimpi menyerang Asami adalah perasaan menyesal dan bersalah.

Ia seharusnya tidak pergi dan menghabiskan malam dengan pelacur Ayame.

Musuh terbesar manusia bukan kematian namun waktu itu sendiri

Pagi di penthouse Asami berjalan seperti biasa, dimana Akihito akan memasak sarapan pagi dengan Asami yang tidak henti-hentinya menggoda sang kekasih.

Ini telah menjadi rutinitas selama hampir 2,5 tahun dan membuat keduanya merasa seperti orang normal lainnya.

Ketika Asami akan berangkat bekerja, Akihito akan membantu merapikan jas, memperbaiki lipatan pada kerah dan mengancingkannya. Tapi hari ini sang forografer muda memiliki tambahan lain.

" Tunggu sebentar" minta Akihito pada Asami yang sudah siap keluar dari penthousenya.

Asami tidak menjawab namun ia menuruti permintaan Akihito dan tetap diam didepan pintu.

Hanya beberapa detik sebelum Akihito kembali dan sembari menggenggam sesuatu di tangannya.

Saat ia berada tepat didepan Asami, Akihito meminta untuk sang kekasih sedikit membungkukan badannya yang dibalas dengan alis terangkat Asami.

" Ck..kenapa kau sulit sekali sih Asami!" gerutu Akihito yang tidak sabaran dan langsung merenggut kerah kemeja Asami paksa agar ia dapat menyelinapkan sesuatu pada leher sang kekasih.

Dengan tangan lincah Akihito memasangkan kalung berliontin koin yang ternyata bergambarkan jam dengan diameter 3 cm.

Rantai putih dari perak dan model yang unik membuat perhiasan itu cocok digunakan sang crime lord.

Asami yang menerima hadiah dadakan dari Akihito tentu saja agak bingung namun tidak dapat ia pungkiri bahwa hatinya berdesir dengan kehangatan.

"Gunakan ini selalu, jangan melepasnya, jangan memberikan pada orang lain" Perintah Akihito yang terkesan serius sambil merapikan kembali jas Asami. Sama sekali tidak melihat tatapan hangat dan sayang yang jarang ditampilkan sang tuan kejahatan.

"Hmm...kau banyak menuntut pagi ini kitten" Gumam Asami tepat ditelinga Akihito.

Asami tanpa menunggu atau meminta ijin langsung menggigit telinga Akihito gemas sementara tangannya merengkuh pinggang ramping dengan erat.

Kedekatan mendadak diantara dua sejoli ini membuat Akihito langsung memerah malu dan berusaha untuk keluar dari cengkraman si bos yakuza.

Asami tentu saja tidak akan membiarakan itu terjadi. Semakin erat ia peluk Akihito, sementara bibirnya kini menyerang bibir kisabel si kekasih.

Membuat sesi ciuman panas pagi mereka. Ciuman itu bukan hanya sekedar atas nafsu belaka, Asami menuangkan semua perasaannya yang tidak bisa ia ucapkan dnegan kata-kata. Rasa syukur untuk Akihito yang berada dalam hidupnya, kebahagian dan cinta untuk kekasih kecilnya dan penerimaan dari Akihito terhadap Asami.

Sesi panas itu berlangsung selama lima belas menit sebelum suara ring tone hp milik Asami mengganggu kegiatan panas mereka.

Akihito mengambil napas dalam-dalam, menghirup sebanyak mungkin oksigen kedalam paru-paru, sementara Asami menggerutu kesal pada sekertaris nya, Kirishima Kei yang mengabari bahwa akan ada pertemuan rapat dengan investor dari Kanada 30 menit lagi.

Oh kalau saja tidak ada gangguan dari sekertarisnya, Asami akan membawa akhito ketempat tidur mereka berdua dan melakaukan ini-itu pada kitten manisnya.

" Yak! Dasar pervertd old man! Cepat sana pergi" Teriak Akihito dengan blush merah yang masih setia menghias kedua pipinya.

Asami yang tidak tahan melihat kemanisan kekasih mudanya langsung mengigit pipi merona Akihito dengan gemas.

" YAK! ASAMI Sialan, kau menggigitku!"

Sumpah serapah dengan makian terus keluar dari mulut menggemaskan Akihito sembari tangannya mendorong paksa keluar Asami.

Aishh dasar orang tua mesum.

Akihito menghela napas lelah. Padahal ini masih pagi tapi Asami sudah membuat Akihito luar biasa kecapean meladeni tingkah orang tua itu.

Ck,ck,ck kalau anak buahnya tahu seperti apa sang bos bila telah berada di rumah, mereka mungkin akan mati terkena serangan jantung.

Akihito terkekeh geli membayangkan minion Asami yang selalu bertampang datar dan menyeramkan yang mati terkejut karena kelakuan Mesum dan ooc bos mereka, terutama si kacamata aka sekertaris dan tangan kanan Asami, Kirishima Kei.

Oh, dewa...itu pasti akan sangat lucu.

...

Baru saja Akihito akan bersiap untuk bekerja seperti biasa, saat sakit itu menyerang.

Kepalanya tiba-tiba serasa terbelah menjadi dua, sementara bola mata biru itu menghitam dengan tatapan kosong, seolah melihat hal lain yang tidak berada di tempatnya.

Jatuh berlutut kelantai dengan kedua tangan yang memegang kepala erat, berharap itu akan meringankan sakitnya, yang tentu saja hanya sia-sia.

" Arghhh...Shit" geram Akihito yang masih memegang kedu akepalanya erat semetara tubuhnya kini berbaring dilantai dengan posisi seperti janin.

" Berhenti...berhnnti..ughkk" gumaman permohonan yang tiada arti sedang sakit masih membunuhnya.

Air mata menggenang dan meluncur bebas sedang wajah yang memang sudah pucat kini bertambah pucat bak bulan malam tanpa cahaya.

Seolah kehidupan itu sendiri berusaha keluar dari tubuh fananya.

Ini bukan yang pertama dan bukan pula yang terakhir Akihito akan merasa.

Rasa sakit yang luar biasa bahkan melebihi tembakan senjata api maupun ratusan jarum yang dipaksa bersarang dalam otaknya membuat Akihito memilih kegelapan untuk melarikan diri dari penyiksaan.

Bukan hanya karena sakit ia rasa namun banyaknya informasi yang tiba-tiba masuk dalam penglihatan dan pikirannyalah membuat pemuda tersebut menutup kesadaran dan indranya.

Rintihan dan permohonan menyedihakan tidak lagi keluar dari bibir merahnya. Yang ada adalah keheningan mencekam di penthouse sang bos yakuza.

Sebuah keberuntungan atau mungkin sebaliknya karena tidak ada siapapun di dalam ruangan sementara para penjaga terus stand bye di luar pintu penthouse megah ini, tidak tahu menahu apa yang terjadi pada majikan mereka didalam rumah aman tersebut.


Butuh tiga jam lebih 40 menit ketika Akihito membuka matanya kembali. Penglihatannya masih kabur dan kepalanya juga masih teras sakit meski tingkatannya lebih rendah dibandingkan yang pertama.

Erangan lembut keluar dari bibir yang sering mngumpat, tubuhnya dipaksa untuk berada pada posisi duduk.

Bersender pada kursi, Akihito menutup mata kembali dan menghitung sampai dua puluh sembari mengatur pernapasannya.

Tubuhnya terasa lelah dan lemas, seakan semua energi menguap keluar sementara kepalanya juga berdenyut terus-menerus.

Dua puluh detik berlalu sampai Akihito merasa ia dapat berdiri dan melihat dengan normal kembali.

Yakin bahwa rasa sakit ini bukanlah yang terakhir akan dirasakan, Akihito segera meraih Hp dan menghubungi seseorang yang seharusnya ia kabari sejak lama.

" Moshi-moshi?" Suara bariton didengar jelas Akihito dan untuk sementara waktu Akihito berpikir bahwa mungkin ia tidak harus menghubunginya, bahwa ini adalah kesalahan.

Tapi nasi sudah jadi bubur, tidak ada kembali dan Akihito tahu betul waktu semakin cepat berputar terutama jarum jam miliknya.

" Ini Aku, Takaba Akihito" ada sebuah jeda singkat dari sebrang telepon sebelum akhirnya suara terkejut dan mungkin nada penghhormatan terdengar kemabali.

" Takaba- Sama ! oh tuhan, dimana anda sekarang? Tiga tahun! Tiga tahun lamanya kami mencari dan menunggu kabar dari anda , Takaba-sama. Aku akan menjemputmu sekarang hanya katakan dimana anda, kota, negara, tunggu apakah anda berada di Jepang? Atau di luar negeri? Aku mungkin harus menyiapkan pesawat jet untuk menjemput anda,oh...para tertua mungkin sekarang akan terkena serangan jantung karena mendengar kabar dari anda lagi Takaba-sama...dan..."

Akihito ingin membenturkan kepalanya mendengar cerocosan yang mungkin tidak akan berakhir, tentu saja ia harus telah memprediksi apa yang akan terjadi bila menghubungi orang ini.

Takaba Masao, sepupu sekaligus tangan kanannya memiliki tingkat kecerewetan melebihi Kirishima Kei sang sekertari Asami Ryuichi.

Terkadang ia bertanya-tanya mengapa telinganya masih jernih dan tidak mengalami ketulian karena mendengar omelan-omelan dari sang sepupu.

" Masao, berhenti atau aku bersumpah akan menjahit mulut lebarmu itu. Kepalaku sudah cukup sakit, tidak perlu ditambah dengan mendengar ocehanmu." Gumam Akihito yang tentu saja masih dapat didengar jelas sang penerima telepon.

" Takaba-sama, kepalamu sakit lagi! Oh kami-sama aku seharusnya ada di sana membantu anda! Katakan dimana lokasimu berada dan aku sendiri yang akan menjemput langsung" pinta Masao dengan cemas.

" tidak perlu menjemputku sekarang, beri aku tiga hari dan setelah itu kau bisa emjemputku di Tokyo, lokasi tepatnya akan ku kirim dua hari lagi"

Ya dia menelepon Masao bukan untuk meminta jemputan kilat, namun mengabarkan bahwa dirinya akan kembali dan mengkalim kursi kebesaran sekali lagi.

Waktu liburnya sudah habis, dan ada pekerjaan menumpuk juga tanggung jawab yang tidak bisa terus ia tinggalkan.

" Tiga hari lagi? Hhh...ya tentu saja bila anda mengatakan begitu, siapa aku untuk menolak? Kurasa kami bisa menunggu sedikit lebih lama lagi, tiga hari tidak bisa dibandingkan dengan tiga tahun bukan?"

Akihito merasa rasa bersalah, ia telah meninggalkan keluarganya begitu saja hanya karena tidak ingin tanggung jawab yang akan melekat pada dirinya untuk seumur hidup.

Selama ketidak hadirannya, Masao mungkin yang mengambil alih sementara dan tetap menjaga keamanan serta pekerjaan keluarga mereka.

Sepupunya yang terpaut sepuluh tahun lebih tua bisa menjadi kepala keluarga Takaba, namun sayang dia tidak lahir di keluarga utama.

Akihito juga tidak ingin terus memberatkan sepupunya, menjadi tangan kanan dan orang kepercayaan Akihito sendiri sudah cukup beban untuk Masao apa lagi bila ia menjadi kepala keluarga.

Menjadi kepala keluarga dari klan Takaba mungkin memberi kekuasaan, prestise dan uang namun semua itu ada harganya.

Dan Akihito tidak ingin siapapun membayar harga untuk itu semua.

Cukup dirinya dan para pendahulu dari kepala keluarga Takaba yang harus membayar harga itu.

" Terima kasih Masao, sampai bertemu tiga hari lagi"

" Ya, Takaba-sama, berhati-hati dan selalu menjaga kesehatan anda" salam Masao yang dijawab dengan gumamaman semata.

Akihito memutus sambungan segera dan membaringkan tubuh lemasnya di sofa ruang Tv.

Tiga hari yang tersisa dari kebebasannya akan ia habiskan bersama Asami.

Tapi tiga hari merupakan waktu yang sangat pendek, cepat berlalu dan jauh dalam hatinya, Akihito tahu tiga hari terakhir ini tidak akan bahagia.


tbc