Aku, hanyalah seorang anak SMA tahun ketiga disebuah sekolah menengah atas didekat daerah tempatku tinggal, sekolah tempatku menimba ilmu bukanlah sekolah yang terkenal, hanya sebuah sekolah biasa. Selama tiga tahun menjalani masa sekolahku, aku memiliki kehidupan SMA yang biasa dimana aku datang pagi hari, melakukan home room dipagi hari, menghabiskan waktu istirahat siang diperpustakaan, dan mendengarkan ocehan guru sampai waktunya pulang...

Terdengar membosankan tapi ya, itulah kehidupanku SMA-ku... Huh, hari ini pelajaran terakhir sejarah, aku menatap seorang guru yang sudah berusia lanjut, dia adalah Hanegawa-sensei, guru yang sudah mengabdi disekolah ini sejak sekolah ini berdiri, dia adalah guru yang hanya dengan melihatnya saja kau akan kasihan, dia sudah sangat tua, bahkan sangking tuanya ia tidak bisa berdiri diatas kedua kakinya dengan benar, ia juga menjelaskan sejarah jepang pada masa Shogun dengan tempo yang sangat lambat...

Bagus, pelajaran membosankan dengan tempo yang menyamai siput, aku mengalihkan pandanganku keluar jendela dan menatap langit sore yang cukup indah... Malam ini... Sebaiknya masak apa ya?... Kare? Uhm... Tidak buruk...

Ketika aku tengah memikirkan menu makan malam suara lonceng pertanda pulang berbunyi dengan indahnya, mendengar melodi yang sangat indah itu para murid dikelasku langsung berseru dalam suka cita, aku paham kebahagiaan mereka, tidak ada hal yang lebih menyenangkan daripada mendengarkan lonceng pertanda pulang...

Aku mengemasi barang-barangku dan segera pergi dari kelas, hari ini aku harus pergi kesupermarket didekat rumah untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok mingguanku yang sudah mulai menipis.

Ditengah perjalanan, alu mencoba memeriksa isi dompetku dimana disana terlihat beberapa lembaran uang pecahan seribu yen, uhm... Bukannya sombong tapi sebagai seorang indekos yang ditinggal kerja ayah dan ibuku keluar negeri, uang bulananku sedikit lebih banyak dari pada siswa Indekos yang lain yang pada saat pertengahan bulan harus memenuhi perut mereka dengan Monosodium Gulamat atau terkadang obat maag dari apotik terdekat...

Setelah berjalan selama beberapa saat aku sampai didepan supermarket, mengambil troli belanjaan dan segera bergerak menuju tempat dimana bahan-bahan pokok berada, setelah memilih ini dan itu, aku segera mendorong troli belanjaan yang telah penuh ketempat kasir, disana aku disambut dengan senyuman manis oleh seorang Onee-san cantik bersurai hitam panjang...

"Ara, Naruto-kun... Berbelanja untuk minggu ini?."

"Ya, begitulah, persediaan seminggu yang lalu telah habis, aku harus segera mengisinya atau aku akan mati kelaparan..."

Aku sedikit bercanda pada Onee-san yang setidaknya cukup akrab padaku, Onee-san tertawa selagi ia mengurus belanjaanku, setelah beberapa saat Onee-san selesai mengurus belanjaanku dan menyerahkan sekantung besar yang berisikan belanjaan milikku dengan senyuman manis.

"Jika kau kesusahan, kau bisa mengunjungi Onee-san, Onee-san akan menyambut dengan hangat~."

Ah, inilah dia godaan maut, Onee-san... Dia sering menggodaku dengan godaan yang sama setiap aku berkunjung kesini, meski ia cantik dan memiliki bentuk tubuh yang hanya dengan melihatnya saja kau akan meneteskan air liurmu tapi sayangnya aku tahu itu hanyalah sebuah candaan jadi dengan halus aku menolaknya.

"Maaf, Onee-san... Mungkin, lain kali..."

"Muu, kau juga mengatakan itu minggu lalu dan minggu lalunya lagi..."

"Hahaha... Ya, mau bagaimana lagi, aku akhir-akhir ini sibuk karena ujian kelulusan telah didepan mata, jadi aku harus menolaknya..."

Setelah mengatakan itu, aku membayar barang belanjaanku dan segera meninggalkan Onee-san yang cemberut dengan manisnya, aku hanya bisa tersenyum melihat itu... Diluar supermarket aku melihat barang belanjaanku, memastikan tidak ada barang yang lupa aku beli, setelah yakin tidak ada yang terlupakan aku segera pulang, namun baru saja aku akan melangkah, perhatiaanku teralihkan oleh sesuatu yang jatuh dari langit, aku menyipitkan mataku... Bukankah itu... Sebuah surat? Dan itu mengarah kesini?

Surat itu melayang kearahku, akupun menangkap surat itu dan menatapnya dengan bingung, aku mencoba memeriksa surat dari siapa dan ditunjukan untuk siapa dan dahiku berkerut ketika melihat namaku disana...

"Hm? Surat ini untukku?..."

Surat ini... dari Ayah? Atau ibu? Tidak, Tidak, Tidak... Mana mungkin ayah dan ibu mengirimku surat dengan cara seperti menerbangkan sebuah layang-layang? Lagipula aku memegang smartphone, jika mereka ingin mengirim pesan tinggal lewat sana saja... Aku menghela nafas.

"Pada akhirnya, aku harus membacanya untuk mengetahui siapa yang mengirim surat ini..."

Dengan pelan aku membuka surat itu dan membaca isinya, kata perkata masuk kedalam penglihatanku...

"'Anda telah terpilih'..."

Huh? Terpilih? Apa maksudnya itu, apa aku terpilih sebagai pemenang Lotere berhadiah satu juta yen atau semacamnya? Aku kembali melanjutkan membaca kalimat selanjutnya...

"...'berpetualang kedunia fantasy, Arcanaria... Dunia dimana semua unsur fantasi melekat kental disana, sihir, makhluk mistik, monster dan segalanya berada disana, kau telah dipilih untuk berpetualang disana... Dan, ngomong-ngomong setelah kau membaca isi surat ini kau akan segera diteleportasikan'... Huh? Omong kosong macam apa ini... Surat ini pasti ulah orang yang kurang..."

Sring~

"... Kerjaan..."

Hm? Tunggu sebentar, aku merasa sesuatu yang aneh, sejak kapan malam bisa seterang ini? Juga kenapa aspal bisa memiliki tekstur seperti tanah berbatu?. merasakan keanehan, aku mencoba menatap kesekitar dan apa yang ada dihadapanku bukanlah sebuah jalan raya beraspal tapi sebuah hamparan tanah tandus berbatu sejauh mata memandang, aku mengerjapkan mataku beberapa kali sebelum mengalihkan pandanganku kearah surat, membacanya sekilas dan kembali menatap sekitar, kearah surat, sekitar... Surat, sekitar... Aku melakukan beberapa kali sebelum tertawa hambar...

"... Ini pasti mimpi, ya, mimpi aku tadi baru saja dari supermarket dan pulang kerumah, karena lelah aku bermimpi berada disebuah tanah tandus yang panas ini... Ini pasti mimpi... Aku akan segera bangun dan tersadar dikamarku, ya pasti... Ini pasti... Bukan mimpi!?."

Aku membanting surat ditanganku ketanah, sialan! Apa-apaan ini! Kenapa kehidupan biasaku berubah menjadi seperti manga-manga genre fantasy?! Sialan!? Jika ini sebuah canda dari sebuah organisasi elit dunia yang mengembangkan sebuah prototype yang bisa mengirim seseorang ketempat yang jaub maka ini tidak lucu, sungguh!...

Tidak tunggu, Namikaze Naruto... Kau harus tenang, dan memikirkan ini dengan kepala dingin... Baiklah, mari kita urutkan kejadiannya, pertama aku baru saja dari supermarket untuk membeli beberapa bahan pokok untuk seminggu kedepan, kedua ketika aku sudah menyelesaikan urusan berbelanjaku, aku keluar dari supermarket dan entah darimana asalnya sebuah surat melayang kearahku... Ketiga, ketika aku membaca surat yang ditunjukan padaku itu, aku sudah berada ditempat ini...

"Dari ketiga asumsi itu, maka... Sudah jelas ini bukan... Mimpi..."

Menyadari hal itu, Aku merasa lututku melemas dan memasrahkan diriku jatuh berlutut ditanah... Aku, Namikaze Naruto... Putra dari Namikaze Minato dan Namikaze Kushina... Telah diteleportasikan secara sepihak kedunia fantasy...

"Kuso... Salah apa aku padamu, Kami-sama hingga kau membuangku kedunia lain... Kuso, aku ingin menangis..."

And Cut~

Sebuab project yang memiliki tujuan untuk... [Membangkitkan keinginan untuk melanjutkan TWO]...

Baiklah, dengarkan aku baik-baik, aku kehilangan minatku pada TWO, entah kenapa bisa begitu tapi itu faktanya, ketertarikanku padanya menurut drastis, bukan karena aku kehilangan ide hanya saja ketika aku mencoba menulis rasa tulisanku berubah menjadi hambar, aku mencoba, mencoba dan terus mencoba membangun fondasi dari beberapa plot mulai dari sudut pandang Miya, Lavinia Reni, Azazel, Yasaka, Cao Cao bahkan Naruto sendiri namun kenyataa tak seindah khayalan Ch 58 lebih sulit dari kelihatannya, dan atas dasar itu maka Ch 58 akan sedikit membosankan jika sudah diup... Jadi marahlah jika itu memang membosankan...

Lalu, aku merasa ingin tertawa ketika melihat berapa banyaknya para flame yang mengirimkan sumpah serapahnya, mulai dari kebun binatang, alat kelamin bahkan sampai membawa keluarga dalam kalimat hinaannya, tapi prrffft~ lucunya itu didelete sebelum bisa mencemari kolom review~

Tapi, diantara banyakan Flame ada satu Review yang tidak bisa aku biarkan yaitu [Alah, Upnya dilamain biar dapat Review banyak tuh, dasar Author pencari Review, tolol, Anjing, Bangsat, Anak haram...] ya, seperti itulah, tapi faktanya, jika aku memang mencari Review, maka Flame yang berjumlah 90+ hampir mendekati 100 itu akan aku taruh kekolom Review untuk menambah jumlah Reviewnya, tapi nyatanya aku tidak ingin melihat kata-kata sampah, gak mendidik dan asal bacrit gak mikir dulu itu mengotori kolom Review, dan aku sudah mengatakan berkali-kali, jika kau ingin membuat keluhan maka, aku dengan senang hati akan mengadakan pertemuan pribadi dengan kalian, datang dan temui aku, secara khusus aku akan mendengarkan omong kosong kalian...

Moto hidupku adalah [Melakukan segala hal sesimpel mungkin], jadi jangan repot-repot melakukan omong kosong direview karena itu akan hilang dalam sekejap, mengerti?

Maa, sampai jumpa dich berikutnya, dan doakan semoga TWO selesai sebelum dia berusia 1 tahun... Sekian dariku, Phantom~ jaa ne...

Next Chapter: Hidup itu berat~

Phantom Out~