Seorang gadis berpakaian serba putih tengah berlarian di lorong gelap. Jas putih yang ia kenakan melambai-lambai diterpa angin. Ada semacam benda panjang yang melingkari lehernya; itu adalah stetoskop, alat medis akustik yang digunakan untuk mendengar suara jantung dan pernapasan.

Tidak lama kemudian pelariannya telah mencapai tujuan; di depannya terdapat sebuah pintu putih yang kini ia buka perlahan. Suara derit terdengar dan ia telah masuk ke dalam ruangan bernuansa serba putih yang penuh akan aroma obat-obatan. Ruangan itu tidak besar sebenarnya, hanya ruangan berukuran sedang dengan satu ranjang yang diisi oleh seorang anak lelaki berambut pirang.

Dengan mata violet yang tertuju pada bocah pirang, gadis ini tersenyum teduh. Dan melangkah pelanlah kaki-kakinya untuk menghampiri anak lelaki tersebut.

"Kamu sudah siuman ya," kata gadis ini lembut. "Bagaimana perasaanmu? Apa ada bagian tubuh yang terasa sakit atau apa?" tanya gadis ini ketika ia mengambil kursi di sebelah ranjang kemudian duduk nyaman di sana.

Tapi yang ia terima hanya tatapan mata biru kosong sebagai jawabannya.

Gadis ini tersenyum maklum—sedikit miris sebenarnya; mengingat kalau anak itu merupakan satu-satunya yang selamat di antara semua keluarganya—pastilah sangat sulit untuk menenangkan traumanya.

'Sayang seorang anak seperti dia telah kehilangan semua keluarganya.' Ujar gadis ini membatin.

Melihat tatapan kosong dengan wajah suram itu serasa membuat jemari gadis ini tergerak. Lalu ia menyentuhnya. Oh, benar ia menyentuhnya; menggunakan jemari-jemari tangannya yang lentik untuk mengelus surai pirang lembut di sana.

"Ayah dan ibuku dibunuh tepat di depan mataku sendiri." Ujar anak lelaki itu tiba-tiba meski suaranya terbata-bata.

Gadis ini sempat terkejut. Apa anak lelaki pirang ini menyaksikan secara langsung pembunuhan brutal keluarganya?

"Aku ingin mati saja. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Aku sudah tidak punya apa-apa."

Anak lelaki itu berkata lagi, selepas itu menangis terisak dengan tatapan matanya yang kosong.

Melihatnya membuat gadis ini tak enak hati. Ia berdiri dari tempat duduknya, kemudian mengambil satu langkah menuju ranjang dan duduk tepat di samping anak lelaki yang terisak tersebut; tangannya masih mengelus surai pirang anak lelaki itu.

"Tuhan itu jahat. Tuhan itu kejam. Kenapa? Kenapa Dia mengambil hal yang berharga bagiku? Kenapa? Kenapa Dia membiarkan orang jahat merenggut nyawa orangtuaku? Kenapa? Kenapa aku dibiarkan hidup? Kenapa ... apakah Tuhan memang ada?"

Gadis ini menggigit bibirnya pelan. Tekanan mental mengguncang anak lelaki itu dan gadis ini paham betul. Dengan maksud untuk menenangkan anak lelaki, gadis ini menarik anak lelaki itu ke dalam pelukannya yang hangat; membenamkan wajah kosong bernoda sedih itu ke dalam kehangatannya.

"Hei," panggil gadis ini tapi tidak ada jawaban yang didapatinya. "Itu tidak benar kok. Tuhan itu tidak jahat, Tuhan itu tidak kejam. Itu hanya sebagian dari cara-Nya untuk memberitahumu bahwa kamu adalah ciptaannya."

Kemudian gadis ini mengelus lembut rambut anak tersebut—mencoba untuk memberikan kenyamanan. Membiarkan kehangatan ini untuk beberapa saat, lalu gadis ini membuat keputusan di dalam hatinya.

Keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Baik di masa lalu, masa kini dan masa depan.

Maka dengan itu, gadis ini mengeratkan pelukannya.

"Kehilangan orang yang kamu sayangi itu memang sakit, aku tahu penderitaanmu, aku tahu rasa sakitmu," ujar gadis ini. "Karena itulah aku di sini. Aku akan menemanimu dan menjagamu. Aku akan menjadi tempatmu untuk tertawa, tempatmu menangis dan bersedih. Sebagai tisu untuk membersihkan air matamu di saat menetes. Aku akan menjadi ibu untukmu, yang akan memberikan semua kasih sayangku segenap hatiku. Menjadi ayah untukmu, yang akan menjagamu dan melindungimu dengan segenap jiwaku. Menjadi kakak bagimu, yang akan terus memperhatikan kamu. Aku akan menjadi keluargamu, yang selalu ada di sisimu. Aku janji. Karena itulah kumohon, kumohon pedamkan rasa sakitmu, lalu hiduplah. Tetaplah hidup dan jangan berputus asa. Karena aku akan selalu berada di sampingmu."

Ketika ucapan panjangnya berakhir, gadis ini masih memeluk anak lelaki tersebut; membelai rambutnya, mengusap punggungnya, dan memberikan kehangatan seolah mengatakan 'Tak apa, aku ada untukmu'.

Untuk beberapa saat waktu membentang yang diisi oleh keheningan yang hangat. Kemudian ... anak lelaki itu berhenti isakannya.

"Kau ..."

"Uhm?"

Anak itu bersuara meski sebagian suaranya agak teredam oleh pelukan gadis yang ia ketahui sebagai seorang dokter ini.

"Kenapa kau melakukan ini?"

Gadis ini tersenyum lembut. "Apakah diperlukan alasan untuk menyelamatkan seseorang?" ujarnya halus, penuh ketulusan.

Anak lelaki itu terdiam. Gadis ini tidak tahu apa yang anak lelaki itu pikirkan tetapi senyumnya melebar ketika anak lelaki itu bersuara kembali.

"B-begitu. Terimakasih ... Terimakasih ... Terimakasih."

Kemudian anak lelaki itu menangis kembali sembari mengeratkan pelukannya; menenggelamkan kesedihannya ke dalam kehangatan lagi.

Dalam hati gadis ini merasa senang, di samping itu ia juga merasa sedih. Oh, betapa anak ini mengingatkannya pada dirinya dulu, begitu pikir gadis ini. Ia tidak bohong dengan perkataannya; ia benar bersungguh-sungguh; dalam hatinya ia selalu berjanji bahwa dirinya akan selalu ada untuk anak ini.

Kenapa?

Karena gadis ini tahu rasa sakitnya.

Karena gadis ini tahu penderitaannya.

Oleh karena itulah.

Oleh karena itulah gadis ini tidak ingin anak lelaki ini merasakan penderitaan yang pernah ia rasakan dulu sampai-sampai ia hampir dibuat gila olehnya.

Setelah beberapa saat, isakan kembali terhenti. Hanya terjeda agar anak lelaki itu berkata.

"Kamu ... apa aku bisa mempercayaimu?"

Gadis ini tersenyum teduh; setelah semua hal yang dilaluinya, ia tahu betul bahwa sulit bagi anak itu untuk mempercayai orang lain.

"Percaya atau tidaknya kamu denganku itu terserah padamu. Hanya saja, melihat anak semanis kamu menyimpan kesedihan yang berat ini sendirian membuatku tak enak hati."

"B-benarkah?"

"Ya."

"La-lalu ... bagaimana caraku memanggilmu?"

Dengan melepaskan pelukannya lembut, gadis ini lalu memegang kedua pundak anak lelaki itu dan menatap mata biru di depannya dengan tatapan penuh kasih.

"Sāra. Itu adalah namaku, Namikaze Naruto-chan. Dan sekarang kamu adalah adikku dan aku adalah kakakmu. Kamu bisa memanggilku Onee-chan dari sekarang! Karena aku akan mengadopsi kamu."


The King's Incarnation


Disclaimer: Masashi Kishimoto dan Ichiei Ishibumi. Karakter dan teknik yang saya pakai adalah milik owner-nya masing-masing. Saya hanya meminjam dan tanpa berniat mendapatkan keuntungan materil.


« Opening Theme: supercell - My Dearest »


Chapter 4


[ Bagian I ]

Kemarahan adalah situasi di mana jantung akan berdetak lebih cepat, berpacu bersama aliran darah yang menggebu-gebu dengan kondisi mental yang tak terkendali. Begini, kau bisa menyebutnya sebagai situasi saat seorang individu yang naik darahnya sehingga emosinya menjadi tak terkontrol yang mengakibatkan otak akan mengirim perintah ke tubuh agar bertindak lebih agresif dan brutal.

Ini adalah sesuatu yang sedang dialami oleh Naruto sekarang.

Hatinya serasa perih, dan ia sangat marah.

Pikirannya serasa kacau, dan ia sangat marah.

Seluruh tubuhnya bergetar, dan ia sangat marah.

Sialan!

Bajingan!

Bangsat!

Bedebah!

Piece of shit!

Semua sumpah serapah itu serasa ingin ia teriakan kepada dua makhluk rendahan di depannya sekarang. Dua anjing kampung yang saat ini sedang menggerogoti tubuh kakaknya dengan nafsu yang bahkan lebih rendah daripada binatang.

"Na-Naru..."

Sāra berbisik kecil dengan lelehan air mata yang menodai wajahnya yang ayu. Ia tidak tahu harus merasakan senang atau hina karena adiknya menemukan ia yang sedang dalam kondisi seperti ini. Sungguh ia tak enak hati dan merasa rusak karenanya.

Berbeda dari Sāra, kedua pria busuk bernama Kakuzu dan Hidan merasa sangat terganggu dengan kehadiran Naruto. Saking terganggunya, Kakuzu, pria berbandana yang berada di posisi di antara kedua kaki Sāra langsung melotot dan menatap nyalang Naruto.

"Kenapa manusia rendahan bisa ada di sini? Cih! Padahal kenikmatan yang sebenarnya baru saja akan mulai. Fuck!"

"Itu salahmu sendiri, Kakuzu-teme! Siapa suruh kau hanya menjilatinya sejak tadi?!"

"Kenapa jadi salahku, Dobe?! Oral itu nikmat oi! Dan juga kenapa manusia ini bisa menembus [Barrier] yang kau buat?"

"Aku juga enggak tahu, bogeng! Udahlah, lebih baik kita singkirkan saja dia. Lagipula dia hanya manusia rendahan yang bahkan jauh lebih lemah dari semut sekalipun."

"Kau saja dulu yang melawannya, aku ingin menikmati jalang merah ini dulu—"

Sesuatu serasa datang! Dan itu mengagetkan Kakuzu.

"—Fuck!"

Masih dengan rasa kagetnya, Kakuzu menatap ke samping dan matanya langsung berubah menjadi horror ketika melihat sebuah belati perak kecil yang hampir mengenai perut kirinya. Omong-omong saat ini Kakuzu sedang agak menunduk karena aktivitas yang dilakukannya sejak tadi. Kedua tangannya masih memegang paha gadis merah yang berada di bawahnya, merentangkan paha itu agar tidak mengganggu dirinya untuk mendapatkan kenikmatan.

"What the heck!?"

Kakuzu yang menatap horror belati itu mengalihkan tatapannya ke arah Naruto yang masih berdiri di tempatnya tadi, di ambang jalan masuk menuju gang kecil dan gelap ini.

"Kau ... Jangan sentuh dia, bajingan."

Dari tempatnya berada Kakuzu dapat mendengar dengan jelas desisan dan bisikan kecil dari Naruto. Ada hawa dingin di sana yang serasa membuat bulu kuduk Kakuzu merinding sesaat. Tapi karena egonya yang merasa bahwa ia adalah makhluk superior membuat mata Kakuzu memicing dan memandang remeh Naruto.

"Oi, oi, bocah. Nyalimu boleh juga melempar mainan kecil ini," ujar Kakuzu dengan senyuman remehnya, kemudian ia menoleh ke arah Hidan dengan tatapan malas. "Oi, Dobe. Apa kau bisa menyingkirkan bocah itu? Aku janjikan kalau punyamu akan 5 menit lebih lama dariku." Lanjutnya sembari memberi kode mata pada rekannya tersebut.

Seakan mengerti dengan maksud yang Kakuzu utarakan membuat Hidan menyeringai tipis.

"Serius? 5 menit doang?" tanya Hidan memastikan. "10 menit. Jika kau membiarkanku bermain 10 menit lebih lama darimu dengan Ojou-chan ini maka aku akan segera memenggal kepala bocah manusia itu detik ini juga."

Kakuzu mendesah lelah. "Baiklah, baiklah. Terserahmu saja." Jawab Kakuzu sebelum mengambil posisi kembali dengan menempatkan kepalanya di antara kedua paha gadis merah yang terlentang pasrah di hadapannya. Ia bahkan menyempatkan diri untuk menjilati paha putih itu dengan lidahnya.

Hal itu membuat Sāra berteriak kecil. Sedangkan Hidan melebarkan seringainya sebelum berdiri dan melangkah pelan ke arah Naruto yang wajahnya tertutupi oleh gelapnya bayangan malam.

"Yare, yare. Akan kubuat ini cepat."

Dengan tubuhnya yang telanjang, Hidan berhenti tak jauh dari tempat Naruto berdiri. Ia memandangnya remeh sebelum merentangkan tangan kanannya ke samping.

Energi cahaya termaterialisasi di sana. Kemudian materialisasi cahaya terang tersebut nampak memadat hingga membentuk sebuah senjata panjang yang berupa sabit cahaya berbilah tiga bergagang agak panjang.

"Triple-Blade Scythe."

Hidan bergumam pelan. Selepas itu ia mengayun-ayunkan sabit tersebut kesana dan kemari seolah-olah sedang melakukan peregangan otot sesaat.

"Hnh, kan kupenggal kepalamu ... manusia. 'Kan kupotong kedua tanganmu, kedua kakimu. Lalu kucabut usus-ususmu," Ekspresi sadis dan haus darah kini memenuhi raut wajah Hidan dengan matanya yang melotot-lotot. "Setelah itu akan kupersembahkan seluruh tubuh menjijikanmu untuk Jashin-sama. Untuk kekekalannya, untuk kebesarannya."

Namun Naruto tidak bergedik sedikitpun bahkan setelah merasakan tekanan killing intens yang menyeruak dari Hidan yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Naruto masih berdiri di tempatnya, dengan ekspresi tak terbaca.

"All Hail Jashin-sama!"

Dengan sekejap mata Hidan melompat ke arah Naruto sambil mengayunkan Triple-Blade Scythe yang ia genggam dengan maksud untuk menebas pemuda pirang itu. Tak lupa kekehan haus darah pria berambut klimis perak itu suarakan karena mengira kalau pemuda pirang di depannya itu tidak bergerak karena sedang ketakutan.

Namun. Ia salah.

Entah disebabkan oleh keberuntungan yang menimpanya saat ini atau mungkin karena indra perasaanya yang cukup sensitif ... Hidan menghentikan lompatannya secara tiba-tiba dan mendaratkan kaki-kakinya ke tanah segera.

Udara serasa sesak dan maka dari itu Hidan terpaksa dibuat terengah-engah olehnya. Napasnya serasa berat seolah-olah ia sekarang sedang bernapas di dalam air.

"Apa-apaan?!" Hidan yang tidak mengerti dengan situasi ini memandang tanah tempatnya berpijak. Setelah beberapa detik Hidan kembali menatap ke arah Naruto, masih dengan napasnya yang terengah-engah.

Seketika mata pria yang berasal dari ras Malaikat Jatuh itu melebar kelopaknya. Dalam garis pandangannya ia melihat aura keemasan menyeruak gila dari tubuh Naruto yang kini tengah memandang dirinya tajam. Maka dengan itu, langkah kaki pria telanjang ini bergetar sebelum memundurkan langkahnya perlahan ke belakang.

"I-ini gila!" seru Hidan tak senang.

Keringat dingin mengucur deras dari pelipis pria ini. Rasanya ia bahkan bisa melihat kematiannya sekarang!

"Kau ... tak pantas untuk hidup," bisik Naruto kecil ketika distorsi-distorsi emas murni menyegel kehampaan di atas tubuhnya. "Bajingan sepertimu tidak pantas untuk menapaki dunia ini."

Selepas bisikan kecil yang dapat Hidan dengar dengan jelas tersebut terselesaikan, instingnya berteriak untuk segera pergi dari tempatnya berdiri karena ada bahaya yang mengincar dirinya.

"?!"

Apa yang terjadi selanjutnya benar-benar membuat pria Malaikat Jatuh ini shock berat. Ia menatap horror pada distorsi emas yang berada di atas tubuh Naruto; jumlahnya ada enam, dan dari distorsi itu dapat Hidan lihat memunculkan semacam senjata tajam yang mengarah tepat ke arah tubuhnya. Tapi yang membuat pria ini shock berat bukanlah hal demikian, melainkan apa yang terjadi dalam detikan berikutnya.

Itu adalah distorsi dengan energi suci kuat.

Distorsi itu memuntahkan senjata tajam yang masing-masing memiliki kecepatan luar biasa yang tak bisa ditangkap oleh mata, nampak seperti proyektil yang menakutkan, cepat, dan mematikan.

Senjata tajam yang bukan sembarang senjata tajam; senjata tajam yang serasa memberikan penderitaan sesungguhnya ialah yang dapat ia rasakan dari hawa senjata tajam ini.

Mendecak kesal, Hidan memutar-mutarkan Triple-Blade Scythe yang berada di tangan kanannya dengan dalih untuk menepis hujan enam proyekil senjata tajam yang mengarah padanya. Tapi itu sia-sia.

Hidan memang berhasil untuk menghalangi tiga proyektil dengan sangat baik hingga menimbulkan suara denting yang memekakkan telinga, namun sialnya ia tidak cukup beruntung untuk dapat bertahan kemudian.

Tiga proyektil selanjutnya sukses menembak tubuh Hidan yang terpelanting—terlempar beberapa meter ke belakang; membuat pria itu mengaduh kesakitan dan berteriak keras sesaat ketika ia berusaha untuk mendirikan tubuhnya yang tersungkur menyedihkan di tanah.

Hidan mendecih untuk merutuki kondisi tubuhnya yang menyedihkan. Tubunya serasa sakit; luka yang ia terima dari tusukan proyektil-proyektil senjata tajam tadi serasa menembus tubuhnya.

"S-sialan! Sakitnya enggak ngotak!" gerutu Hidan yang sedang terlentang menyedihkan di tanah. Tiga pedang perak nampak menancap di perut kiri, dada kanan dan paha kirinya.

Dengan rasa sakit yang menembus ke tulang, Hidan mencoba untuk bangun dari tempatnya. Namun itu sia-sia. Rasa sakit yang ia terima benar-benar membuatnya tak berdaya. Hingga sampai pada Hidan mengerahkan seluruh kekuatannya dan berusaha untuk mengabaikan rasa sakitnya, ia hanya bisa terduduk dan terengah-engah.

Naruto hanya melirik sesaat ke arah Hidan yang terlihat menyedihkan—tak peduli dengan kondisi lawannya tersebut—lalu ia mengalihkan matanya ke arah Kakuzu yang sedang dalam posisi cukup intim di sana; pria berbandana itu menatap horror ke arah Hidan. Sedangkan Sāra semakin terguncang dengan situasi yang terjadi di sekitarnya.

"Selanjutnya adalah kau."

"Hii!"

Kakuzu langsung berjengit kaget dan entah kenapa bulu kuduknya langsung merinding setelah mendengar gumaman yang disuarakan oleh pemuda berambut pirang yang tidak ia ketahui namanya tersebut. Ia bahkan tidak tahu kekuatan seperti apa yang pemuda itu miliki sampai-sampai mampu membuat Hidan—Malaikat Jatuh bersayap dua pasang—tak berdaya.

"Kau! Siapa kau dan apa tujuanmu kemari?!" ujar Kakuzu bertanya ketika ia berdiri dari tempatnya dan menatap langsung ke arah Naruto.

"..."

Tapi, hanya keheningan dan tatapan tajam yang ia terima sebagai jawaban atas pertanyaannya.

Kakuzu menjadi geram, di samping pemuda tak dikenal ini mengganggu kegiatan bersenggamanya, pemuda ini juga hampir membunuh rekannya. Kegeramannya semakin meningkat kala pemuda itu tidak menjawab pertanyaan yang ia berikan. Cih! Kakuzu tak suka ini. Berani-beraninya manusia rendahan ini bertindak seenak jidatnya di hadapan makhluk superior seperti dirinya, hah?

Dengan kegeramannya yang bergejolak, Kakuzu langsung mematerialisasikan energi cahaya di tangannya untuk mengambil bentuk semacam tombak. Light Lance adalah namanya. Senjata umum yang pastinya bisa digunakan oleh seluruh Malaikat Jatuh bahkan yang tingkat terendah sekalipun.

"Kemarilah kau, Motherfucke-!"

Slash!

Butiran-butiran darah menyembur beterbangan. Naruto menatap dingin, tepat ke arah pria bernama Kakuzu yang kini terkulai lemas sebelum terjatuh, tersungkur ke tanah dengan darah yang menyembur-nyembur.

NnggGGGGGGG!

Bunyi dengungan terdengar melintasi udara ketika sebuah kapak emas besar melintasi ruang kehampaan sebelum bilahnya yang perak bersinar tertancap pada dinding beton. Dalam hitungan ke lima, kapak itu mengurai menjadi kunang-kunang emas yang tertiup oleh angin.

Duk!

Suara hentakan kecil terdengar berbisik ketika sebuah benda yang melayang-layang di ruang kosong jatuh ke tanah akibat gaya gravitasi. Jika lebih diteliti, benda itu memuncratkan cairan-cairan merah yang menyebar kemana-mana ketika benda itu sedang melayang di kehampaan.

"A-apa-apaan?"

Suara tanya terdengar bersuara, nampaknya suara yang menunjukkan rasa terkejut akan sesuatu. Dan ... suara itu berasal dari satu-satunya sosok feminim yang ada di sana. Dia adalah seorang perempuan berambut merah, seorang perempuan yang kini sedang menatap dengan mata melebar—raut wajah shock terlihat jelas di wajahnya—mengabaikan tubuhnya yang kini tak berbusana.

Aroma amis tercium pekat menusuk sukma. Dengan tangan yang bergetar, perempuan ini menyentuh sebagian darah yang menodai tubuhnya. Jiwanya kembali terguncang ... apa-apaan ini?

Ia lalu melirik ke bawah samping. Di samping tubuh tergeletak di sana, ia melihat sebuah kepala. Ya, kepala yang sudah berpisah dari tubuh yang nampaknya masih memuncratkan darah-darah dari bekas penggalannya.

"Hyaaaa!"

Perempuan itu berteriak dan menggeserkan tubuhnya ke belakang untuk menjauhi jasad dan kepala yang sudah tak bernyawa itu. Ia menggigil ketakutan; kenangan lama ketika ia melihat ibunya terbunuh kembali terlintas di ingatan. Itu membuatnya menjadi takut.

Ia tidak bisa memikirkan apa-apa sekarang. Itu mungkin karena efek ketakutannya sehingga ia agak sedikit lupa apa yang sedang terjadi beberapa waktu sebelumnya. Yang bisa perempuan ini lakukan sekarang hanya memeluk tubuhnya sendiri yang bergetar hebat, bahkan hawa dingin serasa semakin menusuk ke dalam kulitnya yang tidak berbalut apapun.

Dan ... ia tidak mengetahui bahwa ada langkah kaki yang mendekat ke arahnya.

Langkah kaki itu semakin dekat, hanya tersisa satu langkah saja bagi seseorang itu untuk berada di posisi yang sama dengan perempuan ini.

"H-hei, kau baik-baik saja, Onee-chan."

Ini ... ini adalah suara yang amat perempuan ini kenal, maka dengan itu, perempuan ini menolehkan kepalanya, hanya untuk melihat pemilik suara itu.

Dan yang ia temukan ada seseorang berambut pirang yang menatapnya dengan mata yang menyiratkan kesedihan dan penyesalan.

"Na-Naru!" Perempuan ini berseru nyaring lalu dengan segera bangkit berdiri untuk memeluk Naruto—seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. "Ugh!" Namun rasa nyeri langsung menyerang dada dan perutnya. Ah, ia ingat sekarang. Bekas nyeri ini diakibatkan kekerasan fisik yang diterimanya tadi, dari dua pria yang tidak ia kenal itu.

Melihat kakaknya yang hendak berdiri namun tak jadi karena seolah sedang kesakitan membuat Naruto khawatir. Pemuda ini dengan segera langsung memegang tubuh kakaknya yang terkulai lemas.

"H-hei Onee-chan. Apa ada bagian yang sakit? Mana coba kulihat." Ujar Naruto, melirik ke arah tubuh tak berbusana kakaknya yang penuh akan peluh dan sedikit bercak darah.

Tapi, Sāra yang sudah mengingat sepenuhnya akan apa yang terjadi sebelumnya hanya memberikan keheningan sebagai jawaban. Ia terlalu malu. Ia terlalu takut. Ia merasa tak enak dengan Naruto karena tubuhnya yang hampir tak suci lagi. Ia takut kalau Naruto tidak akan menyayangi dia lagi. Ia takut kalau Naruto memandang dirinya kotor sekarang meskipun ini hanyalah sebuah kecelakaan.

Tapi ada satu hal yang tidak bisa untuk tidak Sāra lakukan.

Sāra melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Naruto, ia lalu membenamkan wajahnya ke dada pemuda pirang itu. Hal ini ia lakukan karena ia merasa aman sekarang. Kemudian ... emosinya pecah dan ia menangis tersedu-sedu.

Sedangkan Naruto kini menggigit bibir bawahnya keras; ia merasa sangat marah sampai-sampai emosinya campur aduk sekarang. Tapi kemarahannya agak sedikit mereda ketika tangisan dan permintamaafan kakaknya mengetuk indera pendengarnya.

"Maafkan kakak, Naru! Maafkan kakak!" ujar Sāra, menangis tersedu-sedu.

Jujur, hati Naruto merasa hancur melihat kakaknya hampir diperkosa oleh bajingan Malaikat Jatuh itu. Dan kali ini hatinya jadi tambah hancur karena melihat Sāra menangis di dalam pelukannya.

"Tak apa, Onee-chan," ujar Naruto, mencoba tersenyum meski hatinya terasa sesak. "Yang terpenting sekarang Onee-chan selamat. Maka tak apa, tak perlu meminta maaf. Naru tahu kalau itu bukan salahnya Onee-chan. Jadi tolong jangan nangis lagi, okay, Naru tak enak hati melihat Onee-chan menangis seperti ini."

Namun bukannya berhenti, Sāra malah mendongak hanya untuk menatap ke arah Naruto. Mata violetnya yang berair memandang mata biru Naruto yang berembun.

"Tapi, tapi ... itu tadi sangat menyesakkan sekali," ujar Sāra, masih dalam tangisnya. "Aku merasa kotor sekali. Aku takut Naru akan jijik padaku."

"Tak apa, Onee-chan. Seperti yang Naru katakan, ini bukan salahnya Onee-chan. Melainkan salah para bajingan itu, tapi tenanglah, para bajingan itu sudah mati sekarang," kata Naruto, ia melingkarkan kedua tangannya untuk menangkup tubuh Sāra ke dalam pelukannya. "Onee-chan tak perlu takut, Naru tak akan jijik pada Onee-chan, Naru tidak akan menjauhi Onee-chan." Ujarnya, mengelus-elus punggung Sāra dengan lembut, mencoba untuk memberikan kenyamanan.

"Tapi ..."

"Tak apa. Yang perlu Onee-chan lakukan adalah melupakannya. Meskipun Naru tahu bahwa itu sangatlah sulit nantinya."

Mendengar hal itu membuat Sāra tersenyum dalam tangisnya. Ia lalu mengeratkan tangannya untuk membawa dirinya jauh ke dalam kehangatan Naruto-nya.

"Terimakasih, Naru! Terimakasih!"

"Sama-sama, Onee-chan."

Naruto balas memeluk Sāra hangat. Namun tanpa sepengetahuan kakaknya angkatnya itu, Naruto membuat sebuah distorsi emas di belakang Sāra yang mana distorsi emas tersebut nampak mengeluarkan kain berwarna emas bercorak kemerahan yang dengan segera Naruto gunakan untuk menutupi tubuh polos Sāra.

"Gunakan ini, Onee-chan," kata Naruto hangat. "Nanti tubuhmu kedinginan lho kalau telanjang terus."

Wajah Sāra agak memerah dan agar Naruto tidak dapat untuk melihat rona wajahnya, ia menyembunyikan wajahnya ke dalam kehangatan dada Naruto. Untuk balasan atas perkataan yang Naruto berikan, Sāra hanya mengangguk kecil saja.

Naruto tersenyum kecil. Tapi senyum itu segera hilang ketika ia menyadari sesuatu.

"Onee-chan, maafkan adikmu ini yang selalu menyembunyikan hal ini darimu selama ini," kata Naruto yang membuat Sāra bergeming dalam pelukannya. "Ini mungkin sangat sulit untuk dipercaya, namun ini tidak dapat dihindari kembali. Onee-chan, kau akan segera mengetahui sisi lain di balik dunia yang busuk ini. Maka dari itu, persiapkan dirimu."

Sāra tak begitu mengerti dengan maksud yang Naruto utarakan dalam kata-katanya, tapi sebenarnya ia mengingat satu hal; satu hal yang ingin ia tanyai sejak tadi. Dan hal yang ingin ditanyai oleh Sāra adalah sesuatu yang berkaitan dengan emas dan proyektil senjata tajam yang tampak seperti kekuatan dalam film-film fantasi populer.

"Untuk kalian, para makhluk supernatural pengecut yang hanya bisa bersembunyi dalam keheningan segera keluarlah ... makhluk pencari masalah seperti kalian tidak pantas untuk bersembunyi seperti itu."

Dan setelah ucapan frontal yang dikeluarkan oleh mulut Naruto, beberapa figur orang-orang baik laki-laki maupun perempuan nampak muncul mengisi ruang kosong di gang gelap ini. Ada banyak orang di sana; orang dengan sayap seperti merpati, orang dengan sayap seperti kelelawar, orang dengan sayap seperti burung gagak, orang yang seluruh tubuhnya ditutupi oleh semacam jirah besi perak-biru, orang dengan pakaian bangsawan ... dan banyak lainnya. Mereka ada untuk mengisi kekosongan gang ini, ada yang terbang dan ada yang berdiri di tanah. Mereka mengelilingi Naruto dan Sāra yang kini berdiri tegak untuk memandang mereka juga.

"Mulutmu boleh juga, nak. Bila saja kau bukan orang yang memancarkan hawa divinity sedahsyat tadi, mungkin aku akan menyengat mulut menyebalkanmu menggunakan petirku yang agung." Ujar seorang pria dewasa berambut pirang dengan mata coklat. Tubuhnya tinggi dan berotot, keras adalah ekspresi yang diperlihatkan oleh wajahnya yang berjanggut. Pria ini mengenakan jubah merah-putih beraksen emas.

Naruto memandang dingin pria pirang berjanggut itu. Ia mendengus tak suka karena cara pakaian dan ekspresi wajah pria itu nampak hanya cara untuk memamerkan kekuatan dan kekayaannya.

"Hmph. Oh, apa kau tersinggung olehku? Jika iya maka kau mengakui apa yang kukatakan tadi. Kau hanya makhluk penakut yang cuma bisa mengacaukan dunia ini." Ujar Naruto sarkas.

Mendengar ucapan frontal dari Naruto tak ayal langsung membuat pria pirang itu naik pitam. Entah mengapa langit langsung bergemuruh ketika pria itu mengambil satu langkah ke depan untuk mengitimidasi Naruto yang memasang wajah tanpa ekspresi.

"Apa katamu, hah?!" hardik pria pirang ini. "Aku adalah Zeus, aku bisa dengan mudah membuat tubuhmu menjadi abu jika aku mau." Lanjut pria yang mengaku sebagai Zeus tersebut.

Naruto diam sebentar. 'Zeus? Salah satu Dewa tertinggi di mitologi Yunani itu?' pikirnya. Tapi meskipun demikian, Naruto tetap mempertahankan sikap tenangnya dan tidak terpengaruh oleh kata-kata bahkan sikap intimidasi yang diperlihatkan oleh Zeus.

Naruto melihat sebentar ke samping, hanya untuk melihat ekspresi terkejut yang Sāra perlihatkan dan juga nampak tubuhnya bergetar ketakutan. Melihat itu membuat Naruto memegang genggaman tangan Sāra dengan erat, Naruto tahu kalau pasti sulit bagi kakaknya ini untuk percaya. Dan juga, Sāra adalah type perempuan yang takut dengan petir.

"Ah, terserah kau saja. Mau siapapun itu, bagiku kalian hanyalah orang-orang yang tak menghargai apa itu kehidupan. Kalian terlalu bergantung dengan ego yang kalian miliki. Kalian selalu bertindak seolah kalian adalah makhluk superior yang terkuat padahal aslinya kalian hanya makhluk pembawa masalah saja yang bahkan tidak berani untuk menampakkan diri kalian. Huh, bahkan anjing kampung jauh lebih baik daripada kalian."

Dan ucapan tersebut langsung dapat menembak urat saraf dari seluruh makhluk supernatural yang ada di sana. Mereka terkejut sekaligus marah mendengar omongan seorang manusia yang mereka anggap sebagai bocah kemarin sore.

"Hentikan omong kosongmu, nak," ujar seorang pria dewasa berambut merah yang mengenakan pakaian bangsawan. "Aku tidak tahu siapa kau dan alasan sebab mengapa kau berucap demikian, tapi menurutku kau sudah terlalu jauh. Masih terlalu dini bagimu untuk mengatakan hal demikian kepada kami."

Naruto mengalihkan pandangannya dari Zeus ke arah pria berambut merah yang kini sedang melayang di udara dengan kesepuluh sayap kelelawar yang mengembang di belakangnya.

Tersenyum sinis, Naruto lalu berkata. "Masih terlalu dini? Oh, hei paman tomat, tidak ada kata terlalu dini dalam sebuah realita. Aku mengatakan hal yang sebenarnya dan itu adalah faktanya," kata Naruto. "Kuberikan contoh, lihat saja paman yang mengaku sebagai Dewa petir dari mitologi Yunani itu, dirinya tampak terlalu mengumbar-umbarkan kekayaan dan kekuatannya. Benar-benar menjijikan, heh?"

"Cih! Cukup sudah. Aku akan menghajar anak ingusan ini!" seru Zeus yang merasa terprovokasi oleh ucapan frontal yang ia dengar dari mulut Naruto.

Cukup sudah, harga diri Zeus merasa terinjak oleh anak ini. Maka dengan itu ia harus memberikan pelajaran untuk Naruto. Agar manusia ingusan itu tahu di mana tempatnya berdiri.

Dengan gemuruh langit yang menampilkan petir-petir menakutkan, Zeus memunculkan senjatanya dan menerjang maju ke arah Naruto yang berdiri dengan tenang di tempatnya.

Di lain pihak, Naruto mengeratkan genggaman tangan kirinya pada tangan kanan Sāra. Ia menoleh sebentar, hanya untuk memberikan senyuman manis untuk menenangkan satu-satunya mahkota hatinya tersebut.

"Jangan takut, Onee-chan. Adikmu ini akan selalu ada untuk melindungimu, sama seperti kamu yang selalu ada untuk melindungiku." Ujar Naruto, memantapkan senyumnya ketika melihat anggukan kecil dari Sāra. Ia lalu kembali melihat ke depan, tepat ke arah Zeus yang melesat maju ke arahnya.

"Gate of Babylon: Vimana."


To Be Continued


A/N:

Ya-Hallo, Sawadihkap!

Apa kabar, senpai semua? Semoga baik-baik saja ya, amin.

Ugh, saya datang kembali setelah sebulan lebih dari updatean yang sebelumnya. Maafkan kalau lama, hehehe. Saya lama di kampung, so, sulit nemu timing yang pas buat nulis fanfiksi. Dan sekarang saya udah di Palangkaraya, senang rasanya bisa menulis kembali.

Sepertinya banyak juga yang menghujat/memflame chapter sebelumnya ya, hehehe~ Maafkan saya, saya tidak bermaksud untuk apa-apa selain pengembangan cerita. Dan juga, saya tidak bermaksud untuk menyamai karakter Naruto disini dengan Tuhan di DxD Universe. Seperti yang telah saya utarakan dalam chapter sebelumnya, yang sama itu hanyalah tingkat Divinity-nya. Itu bukan berarti dia bisa nyaingin Tuhan atau apa lho ya.

Uhm dan untuk Sāra's Scene ... Ughh! Sebenarnya saya juga enggak tega. Dia adalah waifu favorit saya di anime Naruto lho. Hanya saja ya, mau bagaimana lagi. Itu udah terlanjur, lagipula dia enggak jebol juga hehehehe

Uhm ... sekian saja untuk chapter kali ini. Maafkan bila pendek. Saya akan berusaha lebih-lebih lagi agar keberlangsungan fanfiksi gak jelas ini hahaha!

Babay, dan Selamat Hari Raya Idul Fitri!