Disclamire Nor Even Wish

Masashi Kishimoto-Sama

Alternative Universe

X-MEN : DARKER

LONGLIVE AUTHOR

PROLOG

"Tuan, anda mau kemana?" tanya sang pengawal.

"Aku ingin berjalan-jalan sebentar. Kejadian akhir-akhir ini benar-benar membuat kepalaku penat." Ujarnya.

Tak lama kemudian pemuda berambut merah itu keluar dari ruangannya. Ia keluar dari gedung bertingkat itu lalu menaiki mobilnya. Mobil itu melaju selama beberapa menit lalu berhenti di sebuah sungai. Sudah sejak lama sungai ini menjadi salah satu sumber mata air untuk negeri yang ia pijak ini. Sungai ini sudah ada bahkan sebelum negeri ini terbentuk. Sungai ini terhubung dengan samudra dan juga beberapa negera terdekat. Tapi bukan itu intinya. Pemuda itu hanya sedang ingin menikmati pemandangan.

Angin yang sedikit kencang membuat rambut merahnya bergoyang. Lalu ia menegadahkan kepalanya ke langit. Mendung. Sangat jarang sekali ia melihat langit mendung seperti ini. Di negerinya yang sangat panas pemandangan ini adalah pemandangan yang sangat langka. Ia bersyukur karena bisa keluar disaat seperti ini. Kemudian ia melihat sungai itu kembali.

Tiba-tiba sesuatu membuat ia memfokuskan matanya. Ia melihat sesuatu berwarna putih mengambang dan terbawa arus ketepian. Pemuda itu berlari ketepi sungai untuk mencari tahu benda apa itu. Ketika ia dekati ia sangat kaget bahwa benda itu adalah sebuah tumpukan tulang belulang yang terbentuk seperti sebuah kepompong. Sangat kokoh dan rapat. Pemuda itu merasa kalau ada sesuatu di dalam peti tulang belulang itu. Lalu sang pemuda mengangkat tangan kananya. Tak lama kemudian sebuah pusaran pasir yang cukup besar muncul membentuk seperti palu dan begitu pemuda itu menggerakkan tangannya palu yang terbuat dari pasir menghantam peti itu sampai bagian atasnya hancur.

Hujan. Tiba-tiba saja hujan.

Ia sangat kaget ketika ia menemukan seorang gadis yang hampir telanjang berada di dalam peti tulang belulang itu. Ia tak sadarkan diri dan dia bukanlah gadis biasa.

"Tidak mungkin!"

Sang pemuda dengan tergesa-gesa mencari ponselnya namun sebuah tangan dingin menahan lengannya.

'Jangan beritahu siapapun.'