赤い糸

D. Gray-man (c) Hoshino Katsura

Story by Chesee-ssu

Rate: T

Warning: standar applied

Saya tidak mendapat keuntungan apapun dalam pembuatan fanfiksi ini, kecuali kepuasan batin melihat otp saya berlayar XD /ga


Happy reading ...


Semua orang di Kyoudan menyorot Allen, mata mereka penuh dengan tanya.

Allen baru saja ke luar dari ruangan Komui. Ia ke luar bersama dengan bocah berambut biru langit, menggenggam erat tangan Allen sembari berceloteh riang. Allen menanggapi bocah itu ketika mereka berjalan bersama. Mereka berdua seolah-olah tidak peduli akan orang-orang yang menatap mereka dengan tatapan penuh tanya.

Allen bisa mendengar bisik-bisik dari orang-orang di belakangnya. Berkata, "Apakah itu anak, Allen-san?" yang dibalas, "Heee, tentu saja tidak mungkin. Umur duapuluh saja belum," dan ucapan-ucapan tak mengenakkan hati lainnya yang membuat kupingnya panas. Ingin rasanya ia berbalik lalu memaki habis-habisan mereka semua. Namun, tidak. Dia tidak serendah itu. Dia terlalu malas untuk meladeni ucapan menjengkelkan mereka. Memarahi mereka hanya akan membuang energi.

Allen sudah cukup puas ketika Komui dan para petinggi lainnya mengizinkan Timothy berada di sini. Meskipun mereka sempat berdebat panas, tetapi hati Komui dan beberapa petinggi lain melunak juga. Mereka akhirnya memperbolehkan Timothy berada di sini, dengan catatan anak ini harus membantu pekerjaan mereka. Allen setuju, untuk sementara ini Timothy akan dilatih oleh orang-orang Kyoudan, entah Timothy akan menjadi salah satu staf sains, finder, atau eksorsis, biarkanlah waktu yang menjawab. Setidaknya ia bisa membawa Timothy ke sini, sehingga anak di sampingnya bisa aman dan melindungi dirinya sendiri dari akuma.

"Timothy," bocah itu mendongak, Allen tersenyum lembut, "aku baru ingat ada urusan yang belum selesai. Kau bisa pergi sendiri ke kamarmu, 'kan?"

Timothy mengangguk cepat. "Tenang saja, Kakak. Aku sudah tahu, kok!"

Allen senang mendengar jawaban ceria dari Timothy. Tangan mereka akhirnya terpisah, Allen melambaikan tangan kepada Timothy dan bergegas. Timothy menatap Allen sampai sosoknya menghilang dari pandangan.

Timothy akhirnya tersenyum lalu perlahan berlari melintasi koridor. Ia sudah tidak sabar untuk melihat kamarnya. Melihat interior tempat ini saja ia sampai tercengang, bagaimana dengan kamarnya nanti? Ketika ia berada di bibir koridor, tubuhnya terpental beberapa meter. Ia jatuh dan pantatnya mencium lantai, membuat bibirnya refleks berteriak. Ia akhirnya mendongak, hanya untuk melihat lelaki berambut merah dan tinggi seperti jerapah.

"Maafkan aku," Lavi segera mengulurkan tangan. Timothy akhirnya menerima uluran tangan tersebut, ia masih terpana dengan sosok di depannya. Rambut merah, mata hijau, tinggi, dan yang paling penting ... bandana!

K ... keren! Jerit Timothy dalam hati.

"Apa kau orang baru di sini?" pertanyaan Lavi sempat terabaikan beberapa menit sebelum Timothy akhirnya sadar dari pikirannya dan menggangguk cepat.

"Namaku Timothy," anak itu mengulurkan tangan, menawarkan jabat tangan.

Lavi membalas jabatan tangan Timothy "Lavi. Mau kuantar ke kamarmu?"

"Kok tahu kalau aku mau ke kamar?"

"Memangnya ke mana lagi? Kau kan orang baru di sini, pasti mencari kamar tujuan utamamu."

Timothy tercengang. Orang ini ... pintar. Selain itu juga ia bisa merasakan bahwa si Lavi ini merupakan pemerhati yang andal. Anak dengan rambut sebiru langit itu makin terkagum-kagum dalam hati. Lavi menaikkan sebelah alisnya ketika Timothy menatapnya dengan tatapan kagum. Ia bingung kenapa anak ini menatapnya begitu.

"Beritahu aku nomor kamarmu, aku akan mengantarmu—"

KRUKKKKK

Mereka berdua melotot kaget. Kedua orang itu memandang perut Timothy sebelum beradu pandang satu sama lain. Wajah Timothy yang memerah membuat tawa Lavi meledak.

"Jangan malu, dong. Rasa lapar itu manusiawi, kok," Lavi mengelus rambut Timothy. "Ayo ke kantin."

Timothy tersenyum mengiyakan, tak lupa menggenggam tangan Lavi.

Xxx

"Jadi, kau bocah yang diselamatkan Allen dan Yuu?"

Timothy mengangguk dengan mulut penuh makanan. Ia ingin bicara tetapi Lavi mengatakan agar menghabiskan makanannya dulu di mulut. Setelah menelan makanan di mulut, ia segera berujar. "Iya, Kak Allen baik sekali mau mengajakku ke sini, walau harus adu mulut dulu dengan si Kakak Galak."

Lavi tertawa hambar, tahu bahwa sifat Kanda memang demikian. Meski begitu Lavi tetap memberi jempol pada Allen yang melakukan perlawanan habis-habisan terhadap Kanda. Jarang sekali Kanda mau mengikuti ucapan orang, tetapi Allen bisa melakukannya. Allen memang benar-benar istimewa.

"Siapa yang kausebut Kakak Galak, hah!?"

Lavi bisa merasakan aura hitam di belakangnya tanpa menoleh sekalipun. Ia tahu di belakang, Kanda memelototi Timothy dengan pandangan menusuk. Lihat, bahkan Timothy sampai menggenggam lengan bajunya erat.

Lavi akhirnya menoleh lengkap dengan senyum cerah. "Yo, Yuu!"

"Jangan panggil aku, Yuu! Dasar Baka Usagi." Meskipun berkata begitu Kanda ikut duduk bersama mereka, Lavi menatap nampan Kanda yang berada di depannya. Sudah dia duga pasti Kanda pesan soba.

"Apa tidak bosan makan soba terus?" tanya Lavi pada akhirnya. Kanda tak menjawab pertanyaan Lavi dan masih sibuk makan sobanya. Tak lama kemudian, ia berujar. "Kausendiri, apa tidak bosan makan daging terus?"

"Tapi daging kan enakkk," ucap Lavi dengan wajah tidak terima, "daripada soba yang rasanya hambar itu, tentu saja enak daging! Daging itu rajanya makanan, tahu!"

"Ha! Raja makanan kepalamu! Penuh lemak dan kolesterol kaubilang itu raja makanan? Makanan tak sehat seperti itu tak pantas disebut raja makanan."

"Lah, memang soba sehat? Makan soba terus-terusan juga tidak bagus, ya! Yang ada kau kurang gizi."

"Lebih baik kurang gizi dibanding banyak lemak dan terkena penyakit jantung di usia muda."

"Apa kau bilang!"

Timothy terdiam bingung melihat perdebatan mereka berdua. Ia jadi tidak bisa makan dengan tenang. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. Timothy menoleh, melihat sosok lelaki berkacamata tersenyum padanya.

"Mereka memang begini kalau bertemu. Kamu makan denganku saja."

Timothy tentu saja dengan senang hati mengiyakan. Ia segera mengambil nampannya dan mengikuti sosok itu. Dari pakaiannya terukir nama Johnny. Sepertinya lelaki ini dari divisi sains.

Lavi dan Kanda tidak menyadari Timothy meninggalkan mereka. Debat panas mereka lagi-lagi dihentikan oleh senyuman mengerikan dari Lenalee.

Xxx

Setelah makan, Timothy diajak Johnny ke ruangan divisi sains. Ruangan yang penuh buku-buku dan orang-orang berjas putih menyambutnya. Mereka segera mengalihkan perhatian dan menatap Johnny dan Timothy. Sosok pria berumur sekitar tigapuluh tahun mendekati mereka, senyumnya secerah rambut lelaki itu.

"Kaupasti anak baru yang dibicarakan Komui," ia mengulurkan tangan, mengajaknya berjabat tangan. "Reever Wenhamm, kepala divisi sains."

"Timothy Hearst," anak itu melepas jabatan tangan mereka.

"Silakan kalau mau lihat-lihat ruangan ini," Reever berkata sembari merentangkan tangan, wajah-wajah staf lain muncul dan beberapa dari mereka melambaikan tangan. "Ini adalah anggota sains, Johnny juga anggota sains. Nanti kaupasti bisa hapal mereka-mereka ini, hahaha."

Timothy tersenyum. "Apa Kak Lavi juga masuk divisi ini?"

Tawa Reever surut, wajahnya terlihat heran. "Lavi bukan di divisi sains. Dia Eksorsis ... dan calon bookman."

"Hoo, kukira Kak Lavi masuk divisi ini. Dia terlihat begitu pintar."

"Tentu saja, dia kan calon bookman."

Timothy menatap Johnny yang menyahut pertanyaannya. "Memangnya bookman itu apa?"

"Gampangnya, Bookman itu pencatat sejarah," telunjuk Reever mengudara, wajahnya seolah-olah siap menjelaskan lebih detail mengenai bookman sampai ke akar-akar. "Mereka berkelana. Merekam segala peristiwa yang ada di dunia ini lalu menulisnya dalam lembaran buku. Mereka juga ...,"

Timothy tak mendengarkan sisa ucapan Reever, terlalu berat untuk ukuran otaknya. Namun ia tahu sekarang bahwa Lavi bukanlah orang biasa. Maksudnya ... orang-orang di Kyoudan tak ada yang biasa, tetapi Lavi level luar biasanya sedikit lebih tinggi dibandingkan mereka. Ia tak henti-hentinya berimajinasi, kepalanya mengawang memikirkan Lavi berkeliling dunia dan mencatat sejarah ... pasti keren sekali!

Kak Lavi benar-benar panutan! Batinnya menjerit senang.

Xxx

Bookman menengadah, menatap langit-langit dengan pandangan datar. Tak lama kemudian ia menghela napas. Pandangannya menyapu ke segala penjuru, menatap rak-rak berisi buku-buku, jam dinding yang terus berdetak, serta beberapa hiasan-hiasan yang menambah nilai estetika perpustakaan Kyoudan.

Pandangannya kini beralih ke meja dan kursi tempat di mana Lavi biasa di sana. Wajahnya nampak datar dan tenang, seolah tak ada apapun yang ia pikirkan. Namun sorot matanya tak bisa bohong, ketika melihat meja dan kursi itu, mata Bookman memancarkan kegelisahan. Cukup lama ia pandangi sampai akhirnya menghela napas dan menyangga kepalanya dengan sebelah tangan.

Ia sudah tahu sejak dulu bahwa anak muridnya punya benang merah. Lavi bukanlah pembohong yang baik. Dia bodoh sekali dalam hal berbohong. Meski begitu ia tetap membiarkan Lavi menjadi muridnya walau sudah tahu kebenarannya. Ada banyak alasan kenapa ia tidak ingin mengganti Lavi dengan yang lain, salah satu alasannya adalah ... dia sudah tua, tak akan sempat jika mengganti murid baru lagi. Alasan yang lainnya adalah ... dia menyayangi anak itu.

Anak itu sedari dulu punya daya tarik tersendiri, kepribadiannya sebenarnya hangat dan selalu tersenyum. Orang bilang, anak itu personifikasi dari matahari, mungkin benar, mungkin juga tidak. Terkadang, ada kalanya Bookman merasa anak itu bulan, hanya memantulkan cahaya matahari, yang berarti ... jauh di dalam diri anak itu semua serba kosong. Kehampaan.

Tetapi apapun itu sebenarnya ia tidak peduli. Ia suka anak itu, tak peduli sifatnya bagaikan bulan atau matahari. Mereka yang selalu bersama tentu saja menumbuhkan sifat simpati dan ikatan sebagai satu keluarga, walau memang dalam kode etik mereka sendiri mereka tidak boleh memiliki ikatan pada siapapun, apalagi sifat-sifat seperti simpati maupun sayang kepada orang lain.

Bookman tahu itu, tapi ia juga tahu bahwa ia tak bisa sesempurna itu.

Ia hanyalah manusia biasa, mungkin di atas manusia rata-rata. Namun tetap saja ia manusia. Rasa ingin bersama dengan seseorang yang ia sayang tentu ada. Dari dulu sampai sekarang tentu saja ia sempat beberapa kali terperangkap oleh rasa simpati dan kedekatan dengan orang lain. Bahkan dengan para muridnya pun begitu. Meski ia mencoba membunuh perasaan itu berkali-kali, tentu saja disadari atau tidak perasaan tersebut pasti akan ada. Bahkan walaupun usianya makin bertambah bukan berarti ia bisa membunuh semua perasaannya.

Semakin tua, ia makin takut mati.

Semakin tua, ia makin merasa bahwa jalan yang ia pilih adalah kesalahan.

Semakin tua ... semakin ia tidak ingin sendiri.

Bookman mendengkus, masih belum beralih dari meja dan kursi itu. Semakin ia tatap, semakin sedih juga rasanya. Ia tahu bahwa Lavi akhir-akhir ini sering ke luar dari markas. Oh, tentu juga ia tahu bahwa Lavi ke luar tadi malam. Tak sengaja ia lewat perpustakaan dan melihat Lavi bersama dengan seorang lelaki. Bookman tidak tahu siapa ... tapi ia tahu stigmata dan mata emas yang dimiliki sang lelaki. Belum lagi ketika melihat Lavi dan sang lelaki menghilang tanpa jejak, perlahan-lahan seperti terhisap di lantai. Tentu saja ia paham bahwa Lavi berhubungan dengan Noah.

Bookman mengurut pelipisnya, pening dengan anak didiknya yang memiliki takdir sekusut ini.

"Murid bodoh," ujarnya penuh nada sebal, tetapi matanya memancarkan kesedihan. Tubuh rentanya bergetar, merasa khawatir dengan masa depan muridnya.

"Aku tahu Noah bodoh itu pasangan benang merahmu. Bukan salahmu terikat dengannya." Bookman bermonolog, jeda ucapannya digantikan dengan detak jarum jam.

"Kausudah cukup dewasa, kuharap kautahu jalan mana yang akan kautempuh."

Xxx

Kanda berkedip beberapa kali. Ia masih memandangi Marie dan Miranda yang tengah duduk berduaan di taman dengan latar merah muda serta emoji cinta ala komikal yang menyakitkan mata. Ketika ia berbalik, tanpa sengaja ia menabrak Lavi yang sedang membawa peralatan berkebun.

"Argh! Kenapa sih aku sering sekali bertabrakan dengan orang lain? Tak tahu apa ditabrak itu sa—YUU!"

Ucapan riang Lavi dibalas dengan wajah masam Kanda. "Sedang apa kau, Baka Usagi?"

"Ah, ini," Lavi melirik alat-alat kebun yang ia bawa, "tadi aku habis menanam mawar bersama Krory. Kautahu tidak tadi ketika menanam, dia tidak henti-hentinya bercerita tentang Eliade. Eliade ini, lah. Eliade itu, lah. Aku jadi kasihan melihatnya seperti itu. Harusnya tadi kuajak orang lain saja untuk menanam mawar."

Lavi akhirnya kembali menatap Kanda. "Yuu sendiri, kenapa ada di sini? Mau menanam bunga juga?"

Kanda menggeleng cepat, Lavi sempat kaget karena sudah dua kali ia memanggil Yuu tetapi Kanda tidak membentaknya. Wow, anugerah macam apa ini?

"Kautahu mereka berdua sedang apa?"

Lavi akhirnya mengikuti arah pandang Kanda, sosok Marie dan Miranda sedang asik mesra-mesraan membuatnya terdiam sebentar, Lavi memandang Kanda sembari berkata. "Bukannya sudah jelas kalau mereka lagi pacaran?"

Kanda terbengong mendengar penuturan Lavi lalu melotot tidak percaya. Kepalanya bolak-balik menoleh dari Lavi ke dua pasangan itu, lalu ke Lavi lagi. Lavi yang melihat karakter dingin Kanda mulai rusak malah terkikik-kikik senang.

"Aku tidak bohong, mereka resmi pacaran beberapa hari yang lalu."

"Bagaimana—"

"Tentu saja bisa. Yuu sendiri juga sudah tahu kan kalau mereka dekat? Ya pasti bisa, lah, mereka pacaran. Harusnya kautidak perlu sekaget itu."

Kanda tahu kalau baik Marie maupun Miranda sama-sama tertarik satu sama lain. Namun ia berpikir bahwa hubungan mereka tak akan berhasil. Ya ... bagaimana, ya, mereka berdua terlihat lebih seperti kakak adik dibanding pasangan, menurutnya. Namun, memang takdir tak ada yang tahu. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Marie dan Miranda bisa sebegitu cocok.

Kanda kemudian kembali sadar, lalu menatap Lavi. "Aku ke sini untuk mencarimu, omong-omong."

"Wahhh ... aku senang Yuu mencariku, kangen aku, yaaaa?"

"Bukan, Bodoh," sanggah Kanda cepat, "Kau dipanggil Komui. Sana ke ruangannya, dia menunggu."

Kanda langsung melenggang pergi dan tak mendengarkan ucapan, "Ay, Ay, Yuu!" dari Lavi. Lavi yang memandangi Kanda mendadak menopang dagu dan mengerutkan kening.

"Entah perasaanku saja, atau tiap bertemu Kanda aku selalu dipanggil Komui?"

Xxx

"Tyki."

Tyki tersentak, Eeez yang duduk di sebelahnya berkata, "Tyki kenapa?"

"Hah?"

"Dari tadi melamun terus."

"Ah ...," Tyki baru sadar kalau dari tadi dia terus melamun. Ia terlalu sibuk memikirkan hal itu terlalu dalam. Lelaki itu tersenyum singkat. "Bukan apa-apa, Eeez, jangan khawatir."

"Benar, Eeez," Clark menimpali, "paling dia galau karena bertengkar dengan pacar barunya."

"Pacar?"

Momo mengangguk. "Iya. Ingat beberapa minggu yang lalu para pekerja yang lain begitu heboh? Itu karena Tyki punya pacar!"

Eeez terdiam cukup lama. Ia mengangkat wajahnya. "Kenapa segitu heboh?"

"Ya tentu saja tidak ada yang menyangka kalau dia bisa dapat pacar."

Momo mengacungkan jempol, setuju dengan ucapan Clark. "Lihat penampilannya. Dari atas sampai bawah. Siapa yang mau jadi pacar dia? Dekil dan tak terurus begini, perempuan mana yang mau jadi pacarnya?"

Ya, maaf ... tapi pacarku laki-laki. Batin Tyki, meski begitu ia tetap tersenyum singkat mendengar hipotesis mereka.

"Benar! Tahu, sih kalau dilepas kacamatanya dia jadi lumayan. Namun siapa yang mau jalan dengan pria yang modal tampang doang?"

"Nah! Sekarang ini, kebanyakan perempuan, tuh, mencarinya yang berdompet tebal, Eeez. Hidup begitu sulit, pacaran dengan tampang saja nggak bisa bikin perut kenyang."

"Tapi Tyki sekarang juga punya cukup banyak uang," Eeez menatap cangkir yang ia pegang, ketiga mata yang lain pun mengikuti, "Dulu ... kita minum di cangkir yang banyak retakannya. Bibir kita sampai berapa kali berdarah cuma gara-gara minum. Sekarang, nggak cuma gelas. Piring, pakaian, bahkan akhir-akhir ini makanan kita juga tidak hanya roti saja."

"Benar, sih. Semua berkat kerja sampingan rahasia Tyki," Clark tersenyum lalu merangkul Tyki, "Kaubenar-benar keren, Bro."

"Tak perlu berterima kasih," Tyki melepaskan rangkulan Clark. "Oh, ya ... boleh aku minta saran?"

Ketiga orang itu mengangguk cepat. Tyki tersenyum, kedua tangannya menopang kepalanya.

"Pacarku ini ... sepertinya bosan diajak kencan di tempat yang sama," Tyki hampir tertawa melihat wajah ketiganya yang begitu serius, "nah ... rencananya aku mau membawanya ke tempat lain. Namun sampai sekarang aku buntu. Sudah dari tadi aku berpikir tapi tidak ketemu juga. Jadi ... ada yang punya saran?"

"Ke taman bermain saja, bagaimana?" ujar Momo, "biasanya perempuan—"

"Ah aku lupa memberitahukan kalian," Tyki menyela ucapan Momo, "pacarku ini laki-laki."

Ketiganya terdiam. Masih menatap Tyki cukup lama. Setelah mencerna apa yang terjadi teriakan, "APAAA!?" ke luar dari mulut Clark dan Momo. Eeez tak berkata apa-apa, tapi Tyki tahu anak itu cukup kaget dengan ucapannya. Melihat reaksi mereka tentu saja menyenangkan, tak ayal tawa lolos dari bibirnya.

"Kau bercanda, 'kan?"

"Tidak. Aku serius," Tyki tersenyum. "Harusnya tak perlu kaget. Kalian sendiri juga tahu kalau di sekitar kita banyak yang berpacaran sesama jenis."

Ah, ya ... mereka tentu tak akan menyangkal. Tentu saja karena ini daerah pertambangan, tak banyak gadis-gadis di sini, kalau mau berkencan atau melepas hasrat semalam mereka harus berjalan cukup jauh dari sini. Ada yang berpacaran karena faktor keadaan, ada juga yang memang dari awal saling suka. Jadi mereka sama sekali tak heran kalau semisal melihat ada yang sedang bermesraan di sela-sela pekerjaan, sudah biasa.

"Tapi ... kukira kau suka perempuan. Makanya kita kaget."

"Aku juga suka perempuan, kok," ujar Tyki, "cuma, yang sekarang ini laki-laki."

"Yang sekarang? YANG SEKARANG KATAMU!?" ucap Momo dan Clark bersamaan.

"Tyki sialan, sudah berapa kali kaupacaran, hah!? Tega-teganya tak memberitahu kami."

Ucapan Clark dibalas senyum oleh Tyki. "Berapa kali itu tak penting. Yang sekarang ini lebih penting," mata cokelatnya menatap mereka satu-satu. "Jadi ... bagaimana? Apa masih ada yang mau memberiku saran?"

"Karena kalian berdua laki-laki kenapa tidak langsung ke hotel saja?"

Momo langsung sigap menutup telinga Eeez. Walau sebenarnya tentu tidak berguna. Eeez sudah pernah melihat teman-teman mereka melakukan hal-hal yang tak seharusnya ia lihat. Jadi sebenarnya tindakan Momo sungguh amat sangat benar-benar tak berguna.

"Sudah pernah," baik Momo maupun Clark sama-sama melongo, gila, cepat sekali sudah main ke hotel saja? Mereka tidak tahu sisi Tyki yang satu ini.

"Ke restoran saja bagaimana?"

Ketiga lelaki dewasa itu menatap Eeez. Anak itu melepas tangan Momo dari telinganya. "Aku sering dengar dari beberapa teman di sini kalau kencan di restoran bisa membuat makin dekat."

"Wah, aku benar-benar tak memikirkan ini, Eeez," ujar Tyki sembari mengangkat Eeez, lelaki itu segera menaruh kedua kaki Eeez di pundaknya. Tangan Eeez melingkar di atas kepalanya.

"Karena saran Eeez bagus, akan kubelikan es krim." Tyki melenggang pergi, meninggalkan Momo dan Clark yang masih terbengong-bengong.

Setelah mereka cukup jauh dari rumah, Eeez berkata, "Tyki ... apa pacar Tyki tampan?"

Tyki terdiam cukup lama, lalu senyum mampir di bibirnya. "Eeez masih ingat kakak yang di bazar waktu itu?"

"Tentu saja masih," ucap Eeez bersemangat, "kakak itu keren sekali! Aku bahkan masih ingat warna rambut dan matanya."

"Percaya kalau kubilang itu pacarku?"

"Kalau Tyki bilang begitu, Eeez percaya, kok!"

Tyki menghentikan langkahnya. Bola matanya bergulir menatap Eeez dari atas, walau tentu saja tak terlihat. "Ehh ... kenapa begitu? Bagaimana kalau aku bohong?"

"Tak mungkin Tyki bohong," Eeez tersenyum sembari memainkan rambut Tyki, "tadi Tyki melamun ketika memikirkan tempat kencan, aku yakin orang itu sangat spesial."

"Memang menurutmu kakak rambut merah itu spesial?"

"Tentu saja!" Tyki berteriak kecil ketika rambutnya ditarik Eeez, "kakak itu keren banget. Padahal tidak saling kenal tapi mau membelikanku buku. Aku baru bertemu sekilas tetapi berada di dekat kakak itu hangat sekali, aku juga suka senyum kakak itu. Baru pertama kali aku melihat orang yang sekeren itu."

"Senangnya kalau kauberpikir begitu," ujar Tyki, "oh, iya. Tentang pacarku ... itu rahasia kita berdua saja, ya? Aku malas mendengar cuitan Momo dan Clark kalau tahu tentang ini, hahaha."

"Oke, Tyki."


a/n: aaaa dah kelar yeeeyyy, aku gamau bacot apa apa karena capek XD makasih ya dah baca, riview, fav kudos, love uuu uwu