BUTTERFLY

Bagian 2 - Don't say a single word, just laugh with me

Seoul, Maret 2018

Seperti biasa, pagi ini Kim Mingyu sibuk di dapur. Tangan kanannya memegang spatula untuk membalik telur mata sapi di atas wajan. Sesekali ia meninggalkan kompor dan beralih ke penanak nasi. Menyendokkan nasi ke mangkok sarapannya dan Jin Goo. Ia juga menyendokkan nasi ke tempat makannya dan Jin Goo. Tidak lama, ia mengangkat telur mata sapi itu. Membaginya ke piring plastik bergambar Pororo atau tempat makan siangnya dan Jin Goo.

Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah sembilan. Kelas pertama Jin Goo akan dimulai satu jam lagi. Ia membersihkan tangannya dengan celemek yang dia gunakan sebelum melepas ikatannya dan bergegas keluar dari dapur. Ia tersenyum ketika melihat jagoan kecilnya masih terlelap di dalam selimut. Mingyu mendekati kasur berukuran queen itu dan menyusup ke dalam selimutnya. Ia berbisik di telinga Jin Goo, "Jin Goo-ya, ayo bangun. Sudah siang. Kau tidak ingin terlambat di hari pertamamu bukan?"

Jin Goo bergeming. Kedua matanya masih tertutup dan mulut kecilnya sedikit terbuka. Membuatnya justru kelihatan lebih lucu. Mingyu terkekeh. Ia memeluk Jin Goo dan mengguncang tubuh kecilnya "Aigoo, Jin Goo-ya, ayo bangun! Kita berangkat ke sekolah!"

Jin Goo mengerang, "Appa... jangan..."

Mingyu menghentikan kegiatan mengganggu Jin Goo-nya, "apanya yang jangan? Ayo bangun, Seonsaengnim sudah menunggu Jin Goo di sekolah" Mingyu sedikit menaikkan volume suaranya masih sambil mengguncang tubuh Jin Goo.

Jin Goo terkesiap. Ia terbangun dan mencebikkan bibirnya, "Appa nakal. Jin Goo tidak suka"

Mingyu tertawa, lalu seketika memasang tampang serius, "eoh, benarkah Jin Goo tidak menyukai appa? Baiklah kalau begitu, appa rasa Jin Goo akan pergi ke sekolah sendiri hari ini"

Jin Goo menoleh ke Mingyu, "Tidak! Appa harus menemani Jin Goo ke sekolah. Jin Goo tidak mau sendiri" Mata bulatnya mulai berkaca-kaca.

Mingyu kembali tertawa dan membelai surai hitam Jin Goo yang berantakan, "Kau pikir appa benar-benar akan meninggalkanmu? Tidak! Ayo mandi dan sarapan lalu kita berangkat ke sekolah, eoh?"

Jin Goo menengadah ke Mingyu, ia berlonjak. Tangan imutnya dilingkarkan ke leher Mingyu, berusaha memeluk ayahnya. Ia mengecup bibir Mingyu sekilas, "uhm, ayo!" Mingyu pun menggendong tubuh Jin Goo, dan membawanya ke kamar mandi.

Setelah kematian istrinya, Hong Jisoo atau Kim Jisoo, lima tahun yang lalu, Mingyu menjalankan perannya sebagai orang tua tunggal. Pendarahan hebat saat ia melahirkan Jin Goo merenggut nyawa Jisoo. Sejak itulah Mingyu menjalankan perannya sebagai ayah sekaligus ibu bagi anak mereka satu-satunya.

Orang tua Mingyu dan Jisoo menawarkan Mingyu untuk tinggal bersama mereka, agar mereka bisa membantu Mingyu untuk merawat Jin Goo. Namun, Mingyu menolak tawaran keduanya. Ia memilih untuk merawat anaknya sendiri. Ia tidak ingin membebani orang tua dan mertuanya yang sudah tidak muda lagi. Selama ini, ia merasa bahwa ia masih sanggup mengurus Jin Goo seorang diri. Pekerjaannya sebagai fotografer juga tidak menghalanginya untuk membagi waktunya untuk Jin Goo. Pekerjaannya ini mempunyai jam kerja yang fleksibel. Bahkan jika memungkinkan, Mingyu akan mengajak Jin Goo pergi untuk hunting foto sesekali.

Sekarang Jin Goo sudah rapi dan duduk manis di meja makan. Tangan mungilnya sibuk menyuapkan nasi dan telur ke mulutnya. Seragam sekolahnya juga sudah menempel di tubuhnya. Kombinasi warna putih dan kuning membuat Jin Goo terlihat imut.

Mingyu yang sedang mengancingkan kemeja denimnya itu melongok dari pintu kamar. "Jin Goo-ya, kalau sudah selesai, pakai jaketmu. Diluar masih dingin hari ini."

Jin Goo mengangguk dan melompat dari kursi makannya. Ia berjalan menuju sofa di ruang tivi. Jaket berwarna kuningnya tergeletak di lengan sofa. Ia pun dengan sigap memakai jaket dan tas ranselnya.

Mingyu keluar kamar dan merapihkan tas selempangnya. Ia sudah memasukkan kamera dan perlengkapan fotografinya. Ia berlari kecil ke dapur dan memastikan semua perlengkapan dapur mati. Memeriksa lampu dan air di kamar mandi, juga menutup semua jendela. Ketika dirasa sudah siap, ia pun memakai mantel biru dongkernya dan menggenggam tangan imut Jin Goo, "Ayo kita pergi"

Ayah dan anak itu pun bersegera memakai sepatu dan berangkat. Keduanya melupakan tempat makan di dalam kotak makan siang berwarna hijau muda di meja makan. Bekal makan siang Jin Goo.

Jarak dari TK ke rumah memang tidak terlalu jauh. Hanya melewati sekitar tiga pemberhentian bis atau 15 menit berjalan kaki. Sesampainya disana, Jin Goo sedikit berguncang dalam gendongan Mingyu karena ia setengah berlari dari halte bis. Ia tidak ingin Jin Goo terlambat di hari pertamanya. TK sudah dipenuhi oleh orang tua dan anak-anak yang baru datang. Beberapa dari mereka menangis dan memeluk orang tuanya. Cemas bertemu dengan orang baru membuat hari pertama masuk sekolah menjadi hari yang berat bagi orang tua maupun anak-anak.

Mingyu menurunkan Jin Goo. Seperti yang lainnya, Jin Goo pun cemas, ia seakan memasang wajah waspada. Tangannya menggapai-gapai kaki Mingyu dan mencengkramnya. Mingyu yang sedang terengah dan menyeka keringat di pelipisnya, menunduk dan melihat Jin Goo yang terlihat gelisah. Ia pun berlutut pada salah satu kakinya, menyamai matanya dengan Jin Goo.

Mingyu tersenyum teduh, "haruskah kita masuk dan bertemu Sonsaengnim?." Jin Goo terdiam seketika. Namun, genggaman Mingyu ditangannya seperti memberinya kekuatan. Ia pun mengangguk dan menggamit tangan ayahnya.