Fate/The True King of Heroes


Disclaimer: Naruto©Masashi Kishimoto dan Fate Series©Type-Moon

Ditulis dengan niat tanpa mendapatkan keuntungan materil

Rate: M

Pair: Naruto x Rin

Genre: Action, Fantasy, Supernatural, Magic, Romance.

Warning: Typo, OOC, Bahasa Tidak Baku, Alternate Universe, and Etc.


Summary

Dia kehilangan sahabat terbaiknya dalam sebuah pertempuran mahadahsyat yang disebut dengan Perang Dunia Shinobi IV. Namun, dia harus mati sebagai pahlawan melawan seorang Dewi dan menyelamatkan dunianya. Kini dia dibangkitkan kembali dalam sebuah dunia yang sangat berbeda, hidup sebagai Heroic Spirits dengan kelas Archer.


Opening Theme: UNLIMITS - Cascade

Chapter 1 Prolog

-1-

Dimana aku?

Mengapa aku tidak bisa melihat apapun?

Dimana ini? Aku tidak bisa merasakan tubuhku, aku tidak dapat mendengar apapun. Begitu sunyi, tanpa ada suara, tanpa ada aroma, tanpa ada sentuhan. Aku masih sadar, ini begitu aneh tapi juga nyata. Sekarang, aku bertanya-tanya pada diriku ... Apa yang sebenarnya terjadi?

Kuso!

Sudah berapa lama aku disini?

Aku tidak tahu; berapa detik, menit, jam, bulan dan tahun.

Aku tidak bisa mengingat apapun, yang ada hanyalah kegelapan sunyi dan hampa yang menyelubungiku.

Apa ini yang disebut kematian?

Apa aku sudah mati?

Hanya ada aku disini. Bahkan, aku tidak bisa mendengar ucapan si bola bulu kampret itu lagi. Okay baiklah, mari ku ingat-ingat apa yang terjadi pada diriku. Lalu, sejenak kemudian mataku melebar. Okay, meski perlahan aku mulai dapat mengingatnya, aku mengingat apa yang terjadi. Dan ... entah mengapa lidahku terasa kelu, heh? Bahkan emosiku serasa menjadi tidak stabil.

Aku menang?

A-aku menang dalam perang yang panjang ini?

Tunggu-tunggu, ada sebuah kejadian janggal, apa ini? Kepingan memori ini sangat-sangat ... sangat ... ahh. Begitu yah. Aku mengingatnya dengan senyum kecil, senyum yang hampa. Saat terakhir, Sasuke memberikan sebuah hadiah perpisahan padaku, sebelum dia mengorbankan dirinya untuk melawan sang Dewi Kelinci, Kaguya. Dia harus mati karena melindungiku.

Sial!

Apa itu? Mau jadi pahlawan, huh?!

Tapi, meskipun tak rela, saat itu aku berjanji padanya. Dengan segala pemberianya ini aku akan berjuang dengan segala kekuatan hingga titik akhir; walaupun aku masih dibantu oleh Kakashi-sensei, Sakura-chan dan Obito. Tanpa Sasuke kami kesulitan, itu benar, Sasuke itu ibaratnya setengah kekuatan tempur kami. Meskipun begitu, aku tidak akan pernah melanggar janjiku padanya, karena itulah jalan ninjaku.

Kami melawan Kaguya sepenuh tenaga. Tapi, dia sungguh luar biasa sampai-sampai kami tidak bisa menggores pakaiannya sedikitpun. Bahkan, Obito juga terbunuh oleh Kaguya. Sialan! Tidak ada jalan terakhir lagi, aku harus mengorbankan diriku, aku meniru dia yang kuanggap sebagai sahabat sekaligus rival abadiku. Aku memberitahu Sakura-chan dan Kakashi-sensei tentang rencanaku.

Pada awalnya mereka menolak rencanaku. Tapi aku adalah aku. Bukan Uzumaki Naruto namanya kalau tidak bersikap keras kepala. Karena kesungguhan dan keegoisanku, pada akhirnya mereka menerima rencanaku.

Cukup lama, akhirnya jalan terbuka, dengan hadiah yang Sasuke berikan aku menghancurkan tubuhku, tubuh Kaguya sekaligus dengan sosok Zetsu hitam dengan justu gabungan dan itu dibantu oleh Kakashi-sensei dan Sakura-chan yang hanya bisa menangis di sana.

Lalu,

Aku tersenyum sambil mengingat Shisui-sensei, Jiraya-sensei, Tou-chan, Kaa-chan, Hiruzen-jiji, Sasuke-kampret dan mereka semua yang bertempur atas nama anak-anak dan para orang tua, mereka mengorbankan diri mereka dan aku mengikuti jejak mereka. Sekilas aku teringat tujuanku, hanya untuk diakui oleh seluruh Shinobi di dunia.

Aku tertawa kecil.

Shisui-sensei, maaf karena aku tak bisa menepati janjiku padamu. Aku pernah berjanji padamu untuk melanjutkan semangat juangmu, bukan? Maaf, sepertinya aku harus segera menyusulmu sekarang. Terimakasih karena telah membiarkanku untuk tinggal bersamamu.

Jiraya-sensei, aku akan menyusul dirimu sekarang. Tunggu aku pahlawanku, terimakasih untuk segalanya, terimakasih telah mengajarkanku arti menjadi shinobi sebenarnya. Terimakasih telah mengajariku menjadi seorang pria yang sesungguhnya.

Kaa-chan, aku sungguh bahagia. Aku sungguh bahagia karena dilahirkan olehmu, walaupun selama ini aku terus dihindari dan dihina oleh penduduk desa, itulah yang menjadi batu loncatan bagiku untuk menjadi shinobi sesungguhnya. Tenang, aku masih belum mempunyai kekasih kok, aku juga tidak minum sake, aku juga bisa menyimpan uang tabunganku dengan baik, terimakasih untuk segalanya Kaa-chan.

Tou-chan, jangan marah kalau anak tampanmu ini akan segera menyusul dirimu ya. Di Surga nanti mungkin kaa-chan akan lebih menyayangiku daripada dirimu tehehe, aku memang bodoh tidak sepertimu yang jenius, tetapi aku akan tetap sepertimu karena aku adalah anakmu, dattebayo.

Hiruzen-jiji, terimakasih karena terus melindungi masa kecilku. Terimakasih karena terus mengajariku arti dari sebuah desa dan tekad seorang shinobi Konoha. Dengan Kehendak Api yang jiji ajarkan, aku jadi semakin yakin bahwa mau bagaimanapun aku tetaplah Uzumaki Naruto dari Konoha.

Sasuke, hei kawan maafkan aku. Meskipun dengan bantuan kekuatan yang kau berikan padaku, aku tetap tidak bisa menang dengan keadaan sehat seutuhnya; dia benar-benar kuat, kau tahu? Maa, aku juga akan segera menyusulmu, teman.

Aku akan beristirahat dengan tenang.

Aku ...

Haa?

Pahlawan?

Jangan bercanda! Sangatlah tidak layak untuk orang sepertiku mendapatkan tittle itu. Pahlawan mana yang hanya bisa menatap diam ketika teman-temannya terbunuh?

Kuso!

Aku berharap jika memang keajaiban itu ada, aku berharap jika kesempatan kedua itu ada. Sebuah cara untuk mengembalikan semuanya, aku tahu ini terdengar konyol dan mustahil. Tetapi, aku akan melakukan apapun untuk menggapai harapan itu. Harapan yang bisa mengubah segalanya menjadi lebih baik.

Jika aku diberi kesempatan hidup, itu adalah impianku sekarang.

Itu adalah keinginan yang sangat aku harapkan.

Dalam ruang lingkup pandanganku yang gelap dan kosong, ada kilau cahaya yang menembus sampai ke kelopak mataku.

Secara perlahan, aku akhirnya mampu untuk membuka kelopak mataku.

Silau sekali, apa itu?

Aku menyipitkan mataku ketika melihat sesuatu yang bersinar terang. Awalnya hanya sebesar bola Rasengan, namun tampak kian membesar tiap detiknya. Aku terkejut, aku juga senang.

Apakah itu jalan keluar dari tempat ini?

Bahagia. Dengan segenap tenaga, aku mencoba berlari ke sana namun yang kudapat hanyalah harapanku yang pupus; aku tidak bisa menggerakkan kakiku, semua yang kurasakan hanyalah kehampaan. Sekali lagi, aku kembali melihat ke arah kilau cahaya itu.

Terlihat semakin besar saja, kurasa.

Aku mengeraskan rahangku dan kembali mencoba untuk bergerak ke sana. Aku memang tidak bisa merasakan apapun, namun aku akan tetap berusaha. Aku akan akan pulang dan bertemu dengan teman-temanku dan pergi mencari harapan untuk mengubah segalanya menjadi lebih baik, aku percaya akan hal itu. Aku percaya bahwa jalan Shinobi-ku adalah pantang menyerah.

Sekali lagi, aku mencoba menggerakan kaki-kakiku kembali seraya berharap agar bisa bergerak walaupun hanya satu inci. Teman-temanku, Sakura-chan, Kakashi-sensei, Hinata-chan, paman Teuchi, Ayame-neesan Iruka-sensei, Tsunade Baa-chan tunggu aku, aku akan pulang saat ini dan akan menjadi Hokage.

Tes

Apa ini, air? Di wajah ku?

Apa aku menangis?

Ahh, benar, terasa sesuatu yang mengiris dadaku. Sesuatu yang serasa membuatku putus asa dan sadar bahwa aku tidak akan kembali lagi. Kulihat bola cahaya itu semakin membesar hingga 4 kali lipat lebih besar dari ku, gelapnya tempat ini sekarang berubah menjadi tempat terang-benderang yang disinari oleh cahaya itu.

Secara perlahan, aku merasa kalau mataku semakin tertutup; serasa seperti rasa kantuk, namun lebih dalam dari hal itu. Aku merasa diriku akan menghilang kapan saja, rasakanlah, bahkan kakiku serasa berubah menjadi semakin keram hingga tidak bisa kugerakkan lagi.

"Uzumaki Naruto."

Itu adalah suara penuh wibawa dan rasa hormat dapat terdengar olehku; terasa asing namun terasa nyaman dan menenangkan. Aku senang, aku tidak sendiri di sini; aku ingin membuka mulutku untuk berbicara padanya namun tetap saja tidak bisa. Baik, sekarang mari bertanya-tanya, siapakah dia? Kenapa aku merasa tenang sekali setelah mendengar suara itu?

Auranya begitu hangat dan tenang.

Aku mencoba 'tuk membuka mataku kembali dengan usaha yang menurutku sedikit lebih keras. Syukurlah, akhirnya terbuka juga! Tapi, apa itu? Cahaya tadi kini berada di depanku itu sekarang mengambil bentuk sebuah pintu emas besar dengan pola rumit di setiap sisinya.

Pintu yang aneh, kau tahu? Sampai ke ujung negeri Elemental Nations pun aku tidak pernah melihat pintu seaneh ini.

Demi ketiak Sakura-chan, sumpah!

Pintu berderit terbuka sedikit kemudian mengeluarkan cahaya yang begitu terang di sana; aku merasa tubuhku mulai bisa digerakkan. Jari tanganku, kakiku, hingga semuanya terasa begitu normal, aku tersenyum teduh.

"Aku akan pulang, teman-teman tunggulah."

"Kau sudah mati."

Tidak! Suara itu terdengar lagi, dimana dia? Siapa dia? Aku tidak ingin mati, masih banyak yang ingin aku kerjakan, aku juga masih belum menjadi seorang Hokage. Seseorang tolonglah, jangan bercanda.

Pada awalnya aku masih berpatokan dengan keyakinanku itu, tapi, yasudahlah. Aku sadar kalau itu hanya menjadi angan-angan.

Aku tersadar dalam hening, yah itu benar, aku sudah mati. Tadi, aku memang tidak mempercayai kata itu, tapi sekarang aku tahu bahwa aku telah mati. Mungkin ini adalah pintu ke gerbang akhirat?

"Siapapun itu tolong jawab aku," kataku "Apakah di sana merupakan Surga yang penuh dengan kemurnian?"

Perlahan aku berusaha untuk menggerakan kakiku yang agak keram agar berjalan ke sana, tetapi pintu itu tertutup ketika aku berada di depannya.

"Hei tunggu, aku ingin ke sana!"

Aku berteriak, sekarang aku sadar bahwa aku sudah menerima takdirku.

"Ini adalah gerbang bagi mereka yang telah mencapai status pahlawan. Dimana seseorang yang sudah mencapai perbuatan yang besar di masa lalu, masa kini dan masa depan. Merupakan tempat istirahat dan harapan yang abadi."

A-apa, Pahlawan? Harapan? Apakah benar begitu? Aku merasa janggal dan agak bingung dengan kata-katamu.

"Ini merupakan tempat yang begitu murni; tanpa ada kejahatan, tanpa ada kebohongan, tanpa ada kemunafikan. Yang ada hanyalah tempat dengan segala kebaikan dan kemuliaan. Dan perkenalkan aku adalah Guardian of the Thrones, Keeper of Record."

Oh hei apa? Namamu terdengar begitu aneh, kau tahu? Oh ayolah, aku bingung kenapa kau memiliki banyak nama, aku juga tidak bisa melihat wujudmu. Tapi agaknya aku sedikit mengerti dengan apa yang kau katakan.

"Mengapa aku di sini?"

"Kamu ada di sini karena kamu ditakdirkan untuk berada di tempat ini," Mendengar ucapannya, aku mengerutkan keningku bingung sampai suara itu kembali melanjutkan. "Uzumaki Naruto, maukah kamu menerima takdirmu sekali lagi dan bertarung kembali sebagai seorang yang menyalamatkan orang-orang?"

"Tentu saja aku mau, itu adalah jalan ninjaku. Seberapa berat, seberapa besar dan seberapa jahat aku akan melawannya."

"Apa kamu yakin, Uzumaki Naruto?"

"Dan aku tidak pernah seyakin ini wahai paman Guardian-apalah itu. Apa gunanya aku hidup jika tidak diperuntukkan menyelamatkan orang-orang, huh?" Aku tersenyum miris, kenangan menyakitkan tentang kematian teman-teman kembali menghantui pikiranku. "Lagipula aku juga harus mencari sebuah harapan, sebuah keajaiban, kekuatan yang mampu untuk mengembalikan mereka yang telah kehilangan segalanya."

"Tentang harapan dan keajaiban, aku berjanji bahwa kamu akan mendapatkannya jika kamu berusaha dan dapat menyelesaikannya."

Mataku melebar. "Apa itu benar? Apakah aku bisa mencapai harapan yang tak mungkin itu?"

"Percayalah, kamu akan dapat meraihnya."

Hatiku menghangat. Jika benar bahwa keajaiban itu benar-benar ada, aku Uzumaki Naruto akan berjanji untuk mendapatkannya. Tunggu aku teman-temanku, aku akan kembali dengan harapan yang akan kubawa.

"Kalau begitu aku akan dengan senang hati menerimanya. Tak peduli apapun itu, aku akan meraih dan memenangkannya."

Entah apa, feeling-ku mengatakan kalau paman Guardian-apalah itu sedang tersenyum sekarang.

"Baiklah, kamu sudah mengambil jalan ini, kamu sudah mengklaim takdir ini. Uzumaki Naruto, The True King of Heroes, angkatlah kaki-kakimu dan berjalanlah menuju pintu ini. Berjanjilah pada dirimu bahwa kamu akan dan penuhi takdirmu sebagai HEROIC SPIRITS."

-2-

Rin Tohsaka sudah sangat siap. Dia sudah mempersiapkan semua hal yang diperlukannya dengan sebaik mungkin.

Samar-samar dia mendengar sebuah jam memukul waktu di kejauhan. Sekarang sudah jam dua pagi, waktu yang tepat untuk sirkuit sihirnya yang membaik dan juga waktu yang tepat untuk memunculkan Servant-nya.

Roh Pahlawan yang akan menuntunnya menuju kemenangan di Heaven's Feel ini.

Dia menutup mata hijau-kebiruan miliknya dan merasakan bagaimana sirkuit sihirnya bergemuruh mengitari tubuhnya. Membayangkan pemicunya, ia merasakan sirkuitnya mulai bersenandung. Sambil menarik napas panjang, dia memulai bersuara.

"Tepat waktu! Baiklah, dengan melakukan pemanggilan di pukul dua pagi yang mana saat ini Prana-ku berada pada puncaknya," Rin tersenyum penuh kemenangan. "Yosha! Aku akan mendapatkan Saber walau tanpa katalis sekalipun!" tukasnya dengan semangat.

Dengan begitu, gadis berambut hitam yang diikat kembar ini pun memulai ritual pemanggilan.

"For the element silver and iron.

For the foundation, stone and the Arcduke of contracts.

For the ancestor, my great Master, Schweinorg.

Close the gate of cardinal directions.

Come forth from the Crown and follow the forked road leading to the kingdom.

Fill, fill, fill, fill, fill.

Repeat five times.

But when each is filled, destroy it.

Set!"

Lingkaran sihir pemanggilan di depannya mengambil pola aksara rumit berwarna crimson melambangkan bahwa sihir pemanggilanya akan berjalan sempurna. Aksara rumit itu berfluktuasi yang menandakan kalau ritual pemanggilan yang dilakukan akan berjalan lancar. Sekilas senyum sumringah terpartri di wajahnya, gadis itu pun kembali melanjutkan ritual ini dengan melanjutkan mantera pemanggilannya yang belumlah selesai.

"My will creates your body and your sword creates my destiny.

If you heed the Grail's call and obey my will and reason, then answer me!

I hereby swear, that I shall be all the good in the World.

That I shall, defeat all evil in the world.

You seven heavens, clad in these three great words of power of come forth from the circle of binding, Guardian of Scales!"

Cahaya crimson terang menyinari tempat itu, hingga kemudian meledak ke segala arah menimbulkan ledakan cahaya yang sangat terang.

"Sempurna!" Gadis itu berseru dengan nada bersemangat. "Ehh?!" Dia terdiam dan bingung seraya celingak-celinguk mencari sesuatu, namun nihil, tidak ada apa-apa di depanya selain ruangan yang berdebu, dia bingung dan berkata. "Dimana Servant ku?!"

Dia terdiam seraya mencari dimana letak kesalahanya, tidak, dia rasa semuanya sempurna, tapi dimana dia, dimana Servant itu?

DooooommMMM!

Gadis itu terkejut, suara dentuman terdengar dari ruangan yang tidak jauh darinya. Dengan segera dia berlari ke sana sambil merutuki hal tersebut. Setelah sampai gadis itu terdiam di ambang pintu, bagaimana tidak, di depannya saat ini terlihat sangat berantakan dengan meja-meja yang rusak, kursi-kursi patah dan yang paling parah adalah retaknya permukaan lantai dengan segala benda yang berserakan di sekitarnya.

Eitss. Tetapi tunggu dulu, ada yang janggal, di antara puing-puing berantakan tersebut terdapat sesosok pemuda yang terlihat seumuran dengannya.

Rin terperangah dan cengo beberapa saat.

"Uuuu."

Lalu Rin melihat keseluruhan penampilan pemuda pirang tersebut. Itu adalah pemuda berambut pirang berduri dengan kulit tan kekuningan seperti orang California; juga, pemuda itu mempunyai tiga buah guratan menyerupai rubah pada pipinya. Ia tampak menggunakan celana jingga panjang dan baju jingga-hitam yang ditutup oleh jubah merah dengan corak api berwarna hitam. Tidak lupa dengan iris mata onyx yang memandang ke arahnya dengan datar.

Gadis itu mangap-mangap bagaikan ikan koi yang kekurangan oksigen air, hening beberapa saat, hingga pemuda itu berucap dengan sopan dan penuh wibawa.

"Segala hormat saya bertanya, apakah anda adalah Master saya?"

Mata gadis itu mengerjap beberapa kali. Apa yang dilihat oleh netranya ini adalah nyata, sesosok pemuda yang bisa dibilang cukup tampan tengah berdiri di depannya. Dia bisa melihat, iris mata Onyx itu begitu tajam-setajam silet, auranya menenangkan ditambah dengan senyuman tipis terpatri di sana.

Pemuda itu terdiam sejenak, iris Onyx kelam miliknya bertemu dengan iris hijau-kebiruan milik gadis twintails di hadapannya. Rambutnya hitam pudar dengan gaya ikat kembar, kulit putih dan cerah itu terlihat bagaikan butiran salju, dia juga menggunakan sweater dengan warna merah darah serta sebuah pola salib di bagian dadanya. Rok hitam selutut dengan stocking hitam itu membuatnya terlihat seksi.

Pemuda itu menajamkan matanya mengevaluasi gadis tersebut. Berkat Grail sekarang dia paham dengan semua hal di zaman modern ini; Grail memasukan informasi-informasi dunia modern yang dia ketahui saat ini, bahkan ia cukup yakin mampu mengerti semua bahasa yang ada di dunia ini.

"Sekali lagi saya bertanya, apakah anda adalah Master saya?"

Rin dibuat terkejut.

"Ahh, y-ya! Namaku Rin Tohsaka, dan aku bertanya, apakah kau adalah Servant milikku?" ujar gadis bernama Rin itu dengan sedikit tergagap. Namun pemuda itu hanya mengangguk sebagai jawabannya, Rin menaikkan sebelah alisnya.

'Sikapnya tidak buruk dan cukup sopan kurasa,' pikir gadis tersebut. 'Oh ya, dia belum memberitahukan Class-nya, bukan?'

"Baiklah, karena aku sudah memperkenalkan namaku sekarang perkenalkan siapa namamu dan juga sebutkan Class apa yang kau miliki," tukas Rin. 'Semoga saja dia berada di kelas Saber!' Pikir gadis tersebut optimis.

Pemuda itu terdiam sejenak, sebelum berjalan perlahan ke arah Rin, yang mana membuat gadis itu bingung dengan sikapnya. Namun pemuda itu tidak perduli dan terus saja berjalan ke arah Rin; sampai dimana ketika dirinya berada tepat di depan Rin yang keheranan, ia mengangkat tangan kirinya lalu menyentil kening gadis itu hingga meringis pelan.

"Itte! Hei, apa yang kau lakukan tadi!" protes gadis tersebut dengan nada yang agak tinggi namun hanya dibalas senyuman simpul oleh pemuda itu, dan entah kenapa Rin jadi jengkel kali ini, sudah merusak rumah orang, lalu menyentil keningnya, apa-apaan pemuda kampret ini?!

Dimana letak kesopanannya tadi woi?!

"Maaf, aku tidak bisa memberitahukan kepadamu sekarang mengenai namaku."

Sambil menggosok keningnya, Rin mengernyit. "Hah?! apa katam-"

"Tapi sekarang aku akan memberitahukan kepadamu tentang Class-ku," Pemuda itu lalu tersenyum, membuat Rin sedikit merona tipis. "Kamu bisa memanggilku Archer, Master Rin."

Rin terkejut, alisnya berkedut, dia tidak suka ini. Apa-apaan ini, Tohsaka? Apanya yang Tohsaka, apanya yang marga penyihir terkenal dengan bakatnya. Dia merasa seperti berjalan di atas kumpulan paku meruncing dengan sebuah palu besar di pundaknya. Sebagai keluarga sihir yang terhormat dia merasa malu, merasa dirinya terkurung di goa yang di penuhi magma panas.

Guahh!

Dia merasa gagal. Berkeinginan untuk mendapat Saber, namun yang dia dapat adalah Archer. Tsk, dia mengingat bakat segudangnya, dia pintar, cantik, berbakat dalam segala hal, tetapi mengapa harus Archer.

Seorang Archer!

Menurut teorinya Rin, walaupun Archer termasuk dalam tiga Class Servant terkuat, namun itu tidak menjamin kemenangan untuknya, karena menurutnya Archer itu bukan termasuk pejuang di barisan depan; Rin tidak suka dengan cara bertempur seperti pengecut begitu. Yang bisa seorang Archer lakukan adalah bersembunyi dari kejauhan lalu membidik lawannya ketika lengah. Bukankah itu bagus? Tidak, gadis itu tidak berpikir seperti itu, dia kesal, tetapi dia tidak bisa menyalahkan orang lain karena ini murni kesalahannya.

Memanggil Servant tanpa Katalis? Ugh, tentu saja hal seperti itu tidak mungkin. Mengesalkan memang, tapi dia masih harus bersyukur bisa memanggil salah satu servant yang masuk daftar 3 kelas terkuat. Ahh, kepalanya berdenyut-denyut nyeri, dengan pelan dia mengangkat tangannya dan memijit pelipisnya pelan-pelan.

Wait, oh sialan! Rin baru sadar akan sesuatu; sesuatu yang mungkin menjadi biang keladi dari segala kemalangannya hari ini!

"Mouu, apa salahku, sialan?! Aku lupa jam di sini lebih cepat!"

Rin berteriak kesal dengan mengacak-ngacakan rambutnya, hal itu mau tidak mau membuat pemuda pirang yang berada di depannya memandang aneh gadis tersebut.

"Kamu terlihat kacau, apa perlu kubuatkan secangkir teh hangat untukmu, Master?"

Rin terkesiap, sikap seorang Archer tidak buruk juga menurutnya, tapi tentunya yang dia inginkan adalah Servant dengan kelas Saber bukannya segelas teh hangat, astaga!

"Fiuuhh~"

Rin menghela nafas sambil tangan kanannya memegang kepalanya yang berdenyut-denyut. Itu terasa sakit, ungh. Tapi mungkin segelas teh hangat bukanlah hal yang buruk, lagipula ia juga belum melihat kemampuan dari Servantnya ini bukan?

Seperti kata ibunya; Jangan lihat buku dari sampulnya.

Mungkin saja kemampuan dari Servant ini jauh lebih kuat dari usia yang terlihat. Servant itu masih muda, Rin tahu akan itu. Namun sungguh luar biasa karena dengan semuda itu—servantnya tersebut sudah bisa mencapai suatu pencapaian besar sampai-sampai menjadi seorang Roh Pahlawan.

Meskipun bukan secara de facto, Rin menganggap bahwa itu merupakan salah satu pencapaian besar.

Setelah sekian lama dengan sekelebat pikiran yang mengahantuinya, Rin kemudian menatap manik Onyx dari Archer di depannya.

Entah keberapa kali sudah, Rin kembali menghela nafasnya lagi.

"Yah, aku memang butuh secangkir teh hangat sekarang, tapi ..."

Archer mengernyit heran. "Tapi apa?"

"Kau harus membersihkan ruangan ini nanti!" Rin berseru dengan nyaring, membuat Archer sedikit gelagapan, mengangguk kecil lalu pergi ke dapur membuat secangkir teh hangat untuk Master-nya.

Rin tersenyum tipis melihat tingkah dari Servant di depannya ini. Tingkahnya itu benar-benar murni menunjukan bahwa ia memang masihlah sangat muda. Itu terbukti sudah. Ahh, mungkin ia seharusnya lebih mengenal Archer lebih dalam lagi, dan sejujurnya ia sudah memiliki rencana untuk itu.

"Archer, aku besok ingin mengajakmu keliling kota. Katakanlah mengenalkanmu pada medan perang. Dengan begitu kita bisa menciptakan taktik untuk melawan Servant lainnya." Ucap Rin sedikit tenang.

Dengan senyuman simpul, sang pemuda pirang yang mengaku sebagai Archer tersebut mengangguk kecil.

"Baiklah, Master. Aku menantikannya."


Prologue End


A/N:

Yahallo, Sawadikhap, senpai!

Okay. Ini bukan remake, tapi hanya perbaikan kosa-kata dan pengetikan yang sebelumnya saja. Untuk alur, mungkin ada sedikit perubahan. Ya, semoga sajalah versi revisi ini jauh lebih baik dari yang sebelumnya.

Itu aja, babay!