A/N:

Harap dibaca dari chapter awal lagi, karena ada perubahan-perubahan sekaligus perbaikan dari cerita kecil ini. Juga, chapter baru akan segera menyusul.


Fate/The True King of Heroes


Opening Theme: UNLIMITS - Cascade

ACT 2 Bagian 1

Chapter 6

-1-

Malam yang tak tak kunjung pagi. Bulan yang tak kunjung hilang.

Bersama malam yang diterangi oleh rembulan merah darah, kesedihan merajalela meningkahi keresahan hati. Tangisan pun samar-samar terdengar mengikuti tiupan angin yang entah kemana. Mengalun kesana-kemari menyapa indra yang disebut telinga.

Bersama dengan itu, empat manusia yang masih terjaga menatap tak percaya dengan bola mata membola. Melihat ke arah seorang pemuda yang tengah terkapar dengan anggota tubuh yang tak lagi utuh bersama.

Tubuh yang hanya tinggal badan hingga kepala tersebut merintih kesakitan sembari berusaha untuk tidak terpejam.

"Sasuke!"

"Sasuke!"

"U-uchiha Sasuke!"

"Sasuke-kun!"

Bola mata itu melirik sejenak. Wajahnya tersenyum kaku meski napas serasa sudah sampai di tenggorokan. Dia yang tengah terkapar dengan tubuh tak utuh sesekali terbatuk, namun matanya masih tak bisa meninggalkan pandangannya.

"Sasuke, bertahanlah!"

"Percuma, aku tak memiliki banyak waktu tersisa."

Suara yang begitu rapuh. Rasa sakit ini membuat pita suaranya seakan tak mampu tuk tetap bergetar. Dia hanya menahannya. Sasuke menahan untuk tetap berbicara meski nyawa telah mencapai tenggorokannya.

"Sasuke! Bertahanlah, aku akan menolongmu. Apapun yang terjadi aku akan tetap menolongmu! Jadi, kumohon bertahanlah!"

Sasuke melirik sejenak dan menemukan Naruto yang berteriak sambil menahan amarahnya. Tersenyum sejenak sebelum jemari tangannya yang berlumur darah menggapai tangan Naruto, menggenggam tangan sahabatnya tersebut.

"Maaf, Naruto. Aku sudah kehilangan hidupku, maaf karena tak bisa untuk membantu mewujudkan impian kita bersama. Maaf."

Di sela batuk dan darahnya, sang pemuda terkapar bersuara lemah. Rasa sakit ini, rasa perih ini, sungguh ia tak dapat menahannya lagi. Serangan Kaguya benar-benar mengenai titik vitalnya hingga ia tak mempunyai kesempatan untuk selamat.

"Uhuk! Naruto."

Sasuke kembali bersuara lemah. Naruto menggigit bibir bawahnya kuat. Dia tak tahan melihat sahabatnya kesakitan begini.

"Naruto. Aku mempunyai sebuah permintaan."

"Pemintaan? Katakan padaku hal apa yang ingin kau minta, Sasuke!"

Naruto mengeraskan wajahnya. Ia harus merelakan sahabatnya. Dia harus. Tak peduli seperti apapun dia berjuang, tak perduli takdir apa yang berikan oleh petapa Rikudou, jika nyawa sudah di tenggorokan, dia harus tetap merelakannya.

"H-hei kawan. Kau baru saja berulang tahun, 'kan?" tukas Sasuke dengan memaksakan senyum di wajahnya. "Dari semua orang di dekatmu, hanya aku yang belum pernah memberikan hadiah kepadamu."

Sasuke berbicara meski beberapa kali terbatuk darah. Di belakang Naruto, Sakura benar-benar menangis tak menerima kenyataan ini sedangkan Kakashi dan Obito mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Setelah tersenyum tipis, Sasuke mengambil pedangnya yang tertutup sarung tergeletak tidak jauh dari tangannya. Dia tersenyum kembali.

"Naruto, aku mempunyai hadiah yang akan aku berikan sebagai kado ulang tahun untukmu ..."


"Eh?!"

Rin terbangun dari tidurnya. Baju piyamanya kusut berantakan. Pada kasur yang bersprei putih ini, Rin tengah duduk dengan jemari tangan yang tengah memegang kepalanya yang serasa pening dan berdengung.

"Mimpi apa aku tadi?" gumam Rin pada dirinya.

Setelah beberapa saat, Rin mematikan alarm yang sejak tadi berdering berisik di atas meja dekat tempat tidurnya. Melihat sejenak ke arah jendela yang nampak memancarkan sedikit cahaya melalui celah, Rin bangkit, kemudian menggeser gorden dan membuka jendela kamarnya.

Angin pagi berhembus ikut bersama aroma segar yang meminta untuk menghinggapi paru-paru.

Meski udara dingin yang membawa sejumlah oksigen sehat menghinggapi paru-parunya, Rin tampak sedikit melamun. Pikirannya masih mencerna tentang apa yang ia impikan tadi.

"Uzumaki Naruto, siapa dirimu yang sebenarnya?" Gumam gadis dengan rambut berantakan tersebut berbisik.

Di dalam otaknya, dia berpikir, meski dia mengetahui nama dari Servantnya tersebut ia masih belum tahu betul siapa dan darimana identitas Servant tersebut. Rin sudah mencari dari berbagai sumber dengan mencari nama Uzumaki Naruto baik di internet ataupun dari buku-buku sejarah dunia. Namun, satu pun informasi tak bisa ia dapatkan.

Seolah-olah Uzumaki Naruto tak pernah lahir dalam peradaban dunia ini.

Seolah-olah sosok Uzumaki Naruto itu tidak pernah ada.

"Pagi, Rin."

"E-eh! Naruto! Sejak kapan kau ..."

Rin mengejang sesaat. Kehadiran Naruto yang tiba-tiba membuat Rin terkejut dan hampir terjatuh ke lantai andai kata ia tak segera berpegang di tepian jendela.

Naruto menatap Rin biasa. Di tangannya tersemat sebuah nampan dengan cangkir keramik putih yang terisi oleh teh hangat yang harum dan wangi di sana.

"Teh hangat baik untuk keadaan psikis seseorang. Aromanya yang wangi dapat membuat tubuh menjadi rileks dan membuang beban pikiran."

Setelah menenangkan diri dan menarik napas sebentar, Rin dibuat bingung dengan pernyataan Naruto. Oh ayolah, itu membuatnya terdengar seperti seorang ahli psikologi saja.

"Lalu?"

"Intinya, setelah melihatmu melamun beberapa saat tadi, aku memutuskan untuk segera ke dapur dan menyeduh secangkir teh untukmu. Sepertinya menurut dugaanku, kau baru memiliki mimpi yang cukup buruk ya, Rin." Ucap Naruto menjelaskan.

Rin mendengarkan sambil mengangguk kecil. Melihat Naruto yang cukup perhatian membuat Rin merasa senang dan sedikit menghangat. Sekali lagi, perasaan nyaman seperti yang ia rasakan tadi malam kini menghinggapi dirinya lagi.

"Hooo, begitu. Hmm begitu, begitu ya ... Eh, TUNGGU SEBENTAR, NARUTO! Sejak kapan kau berada di dalam kamarku ini?!"

Setelah bergumam dan mengangguk, tiba-tiba Rin berteriak nyaring dengan jari telunjuk mengacung pada Naruto. Naruto yang sedikit tak mengerti dengan sikap Rin hanya menaikkan sebelah alisnya bingung.

"Tidak begitu lama. Mungkin beberapa menit sebelum kau terbangun dari tidur pulasmu, Rin." Ucap Naruto sambil menunjuk ke arah pojok ruangan mengisyaratkan bahwa di situ lah dia berada tadi.

Tanpa Naruto sadari, wajah cantik milik Rin sudah dipenuhi oleh warna merah padam, ilusi asap-asap putih nampak bertebaran di sekitar wajah gadis pemilik rambut hitam pudar yang sekarang sedang tergerai tersebut. Alisnya berkedut, bibirnya mengkerut.

"B-b-baka! Dasar Naruto bodoh! Mati saja sana kau dasar Servant kuning mesum sialan!"

-2-

Sekarang, Rin tengah berada di dalam ruangan dimana berkumpulnya ratusan buku yang tersusun rapi. Perpustakaan pribadi ini terdapat lebih dari sekian jenis buku yang tercatat di dunia. Buku-buku ini merupakan perpustakaan pribadi yang diperuntukkan kepada generasi-generasi penerus keluarga Tohsaka.

Yang mana buku-buku tersebut berisi sejarah-sejarah mengenai ribuan para pahlawan dari masa lalu. Hal ini dilakukan oleh keluarga Tohsaka agar para penerusnya tidak kesulitan dalam memahami sifat dan karakter yang didapatkan dari Roh Pahlawan yang akan mereka panggil.

Juga, buku-buku ini lah yang memuat legenda-legenda yang dibawa oleh pahlawan tersebut, legenda yang akan menjadi Harta mulia mereka.

Sekaligus,

Legenda yang akan menjanjikan kemenangan untuk mereka.

Seraya membalik-balik halaman buram yang berisikan tulisan-tulisan bertinta hitam, Rin menghela napas dan menunjukkan raut wajah cemberut masam.

"Dasar BakaNaru! Servant sialan! Bodoh! Hentai!" umpat Rin sembari melihat ke arah Command Seals yang berada di punggung tangan kanannya. "Bisa-bisanya dia berada di dalam kamarku dengan santainya tanpa seizin dariku. Apalagi di saat aku sedang lengah-lengahnya. Tch, kalau saja dia sampai macam-macam dengan tubuhku, akan kubuat dia menyesal seumur hidupnya."

Setelah itu, ia kemudian membalik halaman buku yang nampak kusam di depan.

"Ahh, kalau begini aku sudah tidak bisa menjadi seorang pengantin lagi." Gumam Rin dengan ekspresi meringis pelan.

Lalu, ia menatap setumpuk buku di atas mejanya dengan malas. Kira-kira ini sudah buku yang kelima. Bahkan sampai pada mitologi-mitologi tertua pun seorang Pahlawan yang memiliki nama Uzumaki Naruto tetap tidak tertulis di sana.

Ini aneh, sekelebat pertanyaan muncul di kepala Rin, apakah Archer berbohong mengenai namanya?

"Ah tidak, itu tidak mungkin. Raut wajahnya jelas menunjukan bahwa dia sama sekali tidak berbohong." Gumam Rin sesaat.

Kembali membalik halaman kusam dari buku di hadapannya, Rin mengabaikan jam dinding yang bersuara ketika jarum jam telah menunjukkan angka delapan. Seharusnya Rin sudah berada di sekolah dan menerima pelajaran saat ini, namun, karena tubuhnya agak tidak nyaman ia memutuskan untuk membolos saja.

Ini sudah yang kedua kalinya ia membolos di semester ini. Sepertinya reputasi milik Rin akan menurun, umh. Tapi siapa yang peduli, sebetulnya Rin tidak begitu peduli dengan kehidupan sekolah normal. Ia hidup untuk memenuhi tujuannya untuk memenangkan Perang Cawan Suci. Sedangkan, kehidupan normalnya sudah jauh berakhir sejak ia kehilangan, adik, ayah dan ibunya.

Setelah cukup lama terbuai dengan beragam kata tertulis dan aroma kertas, Rin menghela napas dan bersuara.

"BakaNaru, apa kau menemukan sesuatu yang menarik?"

Sebuah suara yang lain terdengar menjawab.

"Tidak ada, Rin. Tapi, di saat aku tengah memeriksa tempat pertarungan kita kemarin malam nampaknya terdapat sesuatu yang salah."

Naruto berdiri tepat di belakang Rin dengan jarak sekitar lima meter. Dengan menggunakan kaos putih dan jeans hitam, Naruto benar-benar terlihat sama seperti manusia modern pada umumnya.

"B-begitu," Rin menutup sampul bukunya, kemudian berdiri dan berbalik ke arah Naruto sehingga ia bisa langsung berhadapan dengan pemuda pirang itu. Sekilas, iris Aqua miliknya bertemu dengan Onyx milik Naruto. "Jadi, bisakah kau jelaskan tentang sesuatu yang salah tersebut, BakaNaru?" Ucap Rin kepada Naruto yang mengernyit dengan nama panggilannya.

"Ada sebuah jejak di sana." Ucap Naruto.

Rin bergumam *Hmmm* setelahnya, memang, pertempuran kemarin pasti mengundang beberapa pihak yang adalah Servant dan Master lain. Terutama, bagi mereka yang cerdas dengan lebih memilih untuk memperhatikan kekuatan tempur musuhnya. Ini adalah strategi umum yang harus dipelajari oleh setiap Master yang berakal.

"Jejak? Apa kau bisa memperincinya, BakaNaru?"

Naruto terdiam sesaat. Pemuda ini agak bingung karena Rin yang memanggil namanya dengan plesetan seperti itu. Meskipun sebenarnya tak masalah baginya, tapi entah kenapa ia menjadi penasaran. Umh, sungguh gadis yang membingungkan, pikir Naruto.

"Ya. Setelah aku selidiki, terdapat jejak Prana yang tak biasa di tempat tersebut. Prana semacam ini tidak pernah kutemui sebelumnya, terlebih Prana tersebut nampak mengeluarkan hawa jahat yang pekat meski hanya sedikit yang tersisa." Ucap Naruto menjelaskan.

Rin mengernyit heran sebagai respons, dia lalu membalikan kursi kayu di sebelahnya ke arah Naruto, kemudian merebahkan bokongnya dengan nikmat.

"Prana dengan hawa jahat?" Rin tampak bertanya-tanya pada dirinya sendiri, tapi ia tak dapat menemukan jawabannya. "Aku tidak pernah mendengar hal semacam itu. Tapi, apa ini merupakan perbuatan seorang Master? Lalu, bagaimana dengan jasad Lancer?"

Naruto mendesah pelan dengan hujan pertanyaan yang diberikan.

"Lancer menghilang tanpa jejak, bahkan darahnya pun tak lagi terlihat. Setahuku, meski seorang Servant itu adalah roh, ketika mereka mati seharusnya jejak darah tetap lah ada; Tapi, untuk kasus ini Lancer hilang begitu saja, seolah-olah ia ditelan oleh bumi kemudian hilang tanpa jejak." Ucap Naruto dengan raut wajah serius.

Rin dibuat berpikir keras untuk mencernanya. Semacam ada sesuatu yang ganjil di sini. Lancer sudah mati, itu sudah dapat dipastikan karena beberapa menit sebelum ia menuju perpustakaan, Kirei Kotomine menghubungi dirinya dan mengatakan bahwa Master of Lancer telah dinyatakan kalah di peperangan ini.

Ini menguatkan fakta bahwa Lancer telah dibunuh oleh Naruto tadi malam. Tapi, informasi yang baru saja Naruto katakan membuat Rin sedikit ragu dengan kebenaran dari kematian Lancer. Kemunculan jejak energi jahat, jasad Lancer yang menghilang tanpa jejak. Rin sempat berpikir bahwa kedua hal ini merupakan teka-teki ini saling berkaitan satu sama lain.

"Ini benar-benar sulit, BakaNaru. Aku tidak tahu apa yang harus kita lakukan untuk hal tersebut." Ucap Rin setelah menggigit bibir bawahnya kuat. Rasa penasaran dan ingin tahu yang tinggi sangat mendominasi pikiran gadis tersebut.

Setelah menaikkan sebelah alisnya, Naruto berjalan pelan dan mengambil satu kursi yang ada di sebelah Rin. Tanpa izin dari sang Master, pemuda pirang tersebut mendudukkan bokongnya dengan rileks sebelum menghela napas pelan.

"Tidak, lupakan saja. Prioritas kita saat ini adalah mengalahkan Servant yang lain dengan cepat. Kita bisa menyelidiki misteri ini sebagai prioritas sampingan." Ucap Naruto sebelum diakhiri dengan senyuman tipis.

Rin menolehkan wajah, menatap pada Naruto sebentar. Melihat Servantnya tersenyum membuat gadis tersebut tersenyum juga. Ia pun menghela napas berat sebelum berdiri membalikkan kursinya ke arah meja lalu mendudukinya kemudian.

"Apa boleh buat. Karena Servant bodoh ini berkata demikian, maka sebagai Master-nya aku akan menurutinya saja." Ucap Rin santai kepada Naruto yang kini menghilang senyumnya.

"Terserah."

Setelah beberapa saat, Rin dibuat sibuk kembali dengan kegiatannya membuka lembaran kusam yang ada di buku bersampul tua yang baru saja ia buka. Ini adalah buku yang menceritakan tentang pahlawan tertua di dunia.

Lembaran-lembaran kusam terlewati dengan aroma tinta yang khas. Tulisan-tulisan tinta yang tercetak dibaca dengan ekstensif. Gadis tersebut masih mencoba mencari informasi tentang Servant bodohnya, pemilik nama Uzumaki Naruto dengan kelas Archer.

Di sebelahnya, Naruto tak berbuat hal lain. Ia hanya memperhatikan gadis yang menjadi Masternya tersebut sedang berkutat dengan lembaran-lembaran berisi tulisan tinta tua. Sejenak, Naruto teringat dirinya di masa lalu yang seringkali berada di perpustakaan Konoha untuk mempelajari jutsu-jutsu baru.

Merasa rindu dengan bacaan dan aroma kertas, Naruto menjulurkan tangannya demi menggapai sebuah buku bersampul coklat tua yang belum dibaca oleh Rin.

Rin melirik Naruto sesaat melalui ekor matanya, sebelum kemudian bertanya.

"Apa yang sedang kamu lakukan, BakaNaru?"

"Membaca."

"Hoo, aku tak menyangka kalau Servant sepertimu juga mempunyai minat terhadap buku."

Naruto menunda sesaat niatnya untuk membuka sampul buku yang ada di depannya. Ia menatap Rin dengan mengernyit sesaat sebelum bertanya.

"Lalu, apa yang salah dengan itu, Rin?"

Rin menutup sampul bukunya sesaat dan menatap balik ke arah Naruto. Matanya memandang malas entah kenapa.

"Tidak ada. Hanya saja, unik sekali ketika mengetahui seorang Roh Pahlawan yang tak hanya lihai dalam urusan dapur namun juga mempunyai minat dengan hal membosankan seperti buku."

Tanpa menunggu respons dari Naruto, Rin kembali membuka bukunya dan menatap ke arah tulisan di buku miliknya.

"Itu saja?" tanya Naruto memastikan dengan nada sedikit terangkat.

Tanpa memandang balik, Rin mengangguk dalam bacaannya.

Naruto menghela napas berat. "Seperti biasa, Rin. Kau benar-benar sangat sulit untuk dipahami dan dimengerti. Aku sekarang sadar alasan mengapa kau sedikit memiliki teman." Ucap pemuda tersebut sebelum melakukan niatnya yang tertunda, ia membuka sampul buku di depannya dan mulai membaca hal yang cukup menarik baginya.

"Apa ada masalah dengan itu?"

"Tidak ada. Dulu, aku juga sama sepertimu."

Lalu setelah berakhirnya percakapan itu hening pun tercipta dengan masing-masing individu memfokuskan diri pada tulisan yang mereka baca.

-3-

"Hohoho, Kirei, apa kau merasa kesal karena telah dikalahkan dengan cepat oleh murid didikanmu sendiri?"

Pada siang ini, di sudut ruangan yang bercahaya lampu redup, terdapat kursi-kursi panjang yang disusun sedemikian rupa berjumlah banyak dan rapi ke belakang. Di depannya, terdapat altar dan patung yang di sebelahnya berdiri lah seorang pria dewasa menggunakan setelah pakaian serba hitam. Matanya selalu memandang tajam, rambutnya yang hitam kecoklatan terkesan acak-acakan, bibirnya tak henti-henti berkomat-kamit mengucapkan kata demi kata yang ia baca, tangan kanannya memegang sebuah kitab dan tangan kirinya diam tak bergerak.

Namanya Kotomine Kirei. Dikatakan bahwa ia adalah seorang Pastur yang diutus untuk mengamati Perang Cawan Suci yang tengah berkecamuk ini.

Di salah satu kursi panjang, duduklah seorang pria dewasa lain dengan pakaian kasualnya yang serba hitam, begitu kontras dengan warna rambutnya yang pirang emas. Mata merahnya menatap ke arah Kirei dengan seringai tipis di bibirnya.

"Setelah susah payah mendapatkan Servant bahkan sampai memotong tangan seorang gadis, namun, kau dikalahkan dengan mudah. Bukankah itu yang dinamakan dengan ironi di atas ironi, Kotomine Kirei?"

Suara tersebut terdengar bergema lagi. Sang pria yang tengah duduk berbicara dengan suara sarkas yang bermatabat. Kata-katanya yang berirama membuatnya terdengar seperti seorang pria menjengkelkan yang terhormat.

Sedangkan,

Individu yang dibicarakan bergeming dan menutup kitab di tangannya cepat. Matanya menatap lurus ke depan, tak memiliki niat sedikit pun untuk menatap balik ke arah pria yang tengah mengejeknya.

"Kamu salah dalam mengartikan sesuatu, Raja Gilgamesh." Ucap Kirei menjawab.

Mendengar hal tersebut membuat pria berambut pirang langsung berdiri dan segera menghampiri Kirei dengan membawa raut wajah tertariknya.

"Hoo, kau sudah berani lancang terhadapku ya, Kotomine Kirei. Tapi itulah yang menjadi daya tarikmu, nfufufu," Pria itu berucap dengan suara khasnya. Kirei mendengus kecil sebelum pria pirang melanjutkan. "Jadi, katakan kepadaku, apa yang salah diartikan oleh diriku ini wahai Pastur Kotomine?"

"Kamu salah mengartikan bahwa diriku sedang kesal." Pria pirang terdiam di sebelahnya. "Fakta bahwa aku tidak merasakan perasaan apapun masih menjadi hal yang tidak menyenangkan untukku. Menjadi duri bagiku, bahkan setelah semuanya, rasa puas masih tidak dapat terasa di dalam diriku."Ucap Kirei menjelaskan.

Pria pirang di sebelahnya menyeringai tipis. Dia menyukai sifat orang ini. Sangat suka sampai-sampai ia harus mengkhianati Master tak berguna menurutnya di Perang Cawan Suci keempat sepuluh tahun yang lalu. Kotomine Kirei adalah eksitensi tanpa perasaan yang telah menarik minatnya. Segala jalan yang ditempuh oleh Pastur dewasa tersebut selalu dapat membuat ia puas.

"Hahaha. Jawaban yang bagus, Kirei. Bahkan setelah sekian banyak manusia yang telah kau bunuh, itu masih tidak lah cukup untuk memenuhi hasratmu," kata pria pirang tersebut yang sedang tertawa terbahak-bahak, setelah cukup dengan tawanya, ia lalu memilirik ke arah sang Pastur dengan seringai di wajahnya. "Saa, Kirei, hal apa yang sebetulnya yang bisa membuatmu puas? Kehancuran dunia kah? Kepunahan manusia kah? Kotomine Kirei, sebagai Rajamu, aku akan selalu menantikan hal apa yang akan kau tunjukkan."

Kirei menyeringai tipis mendengarnya. Ia berjalan perlahan menuju meja yang ada di pojokan dan mengambil beberapa lembar kertas di sana. Setelah dapat, ia kemudian menuju ke arah pria pirang dan menjulurkan kertas berupa dokumen tersebut.

Pria pirang itu tampak membacanya sebentar, untuk kesan awal dia tampak memandang malas hal itu; namun, setelah matanya membaca sampai bagian terakhir. Dirinya menyeringai iblis.

"Menarik, sangat menarik. Aku jadi tak sabar untuk menyaksikan kepunahan umat manusia yang telah menodai bumi milikku ini. Kotomine Kirei, jika apa yang kau tunjukan ini benar adanya, akan kujaminkan kursi hartaku sebagai tempat bagimu untuk menonton akhir dari para anjing-anjing kampung yang membanjiri dunia yang sudah rusak ini."

Kirei menyeringai tipis. Bohong jika ia berkata tidak menantikan hal tersebut. Hal yang mungkin dapat menarik kembali perasaan dalam tubuhnya yang telah hilang sejak lama.

"Black Shadow, Angra Mainyu, nfufufu. Matou Zouken telah menyentuh sesuatu yang tak seharusnya ia sentuh. Akibatnya, seluruh manusia akan dibanjiri oleh lumpur hitam itu, sama seperti yang dulu telah terjadi," Kirei menggeleng kecil. "Tidak, bahkan, ini akan menjadi jauh lebih buruk lagi dari sepuluh tahun yang lalu."

Dalam ucapannya, sosok Emiya Kiritsugu dan saat-saat berakhirnya Perang Cawan Suci keempat berputar kembali menjadi film lama di dalam kepala Kotomine Kirei.

Terakhir,

Kotomine Kirei menyeringai iblis.

-4-

Di dalam ruangan Dewan Siswa, Emiya Shirou masih berkutat dengan Air Conditioner yang masih belum bisa ia perbaiki sepenuhnya. Dengan baju seragam coklat yang ia kenakan, Shirou tampak tak memperdulikan tubuhnya yang dipenuhi oleh peluh dan keringat. Alat-alat ringan seperti kunci khusus dan obeng kecil terlihat berserakan di lantai keramik tempat Shirou duduk.

Dilihat dari sisi manapun, Shirou memang seorang pemuda yang selalu bekerja keras dalam hal apapun.

"Hmm, jangan terlalu memaksakan diri, Emiya. Kau terlihat sudah kelelahan, sekarang sudah jam istirahat, bukan? Seharusnya kau memakan bekalmu dahulu, untuk alat itu bisa diperbaiki belakangan saja." Ucap pemuda yang tengah duduk di kursi tak jauh dari tempat Shirou berada. Dia memiliki rambut hitam kebiruan dengan kacamata tipis menghiasi wajahnya.

"Ya, aku setuju dengan apa yang dikatakan oleh Julian. Sebagai Ketua Dewan Siswa, aku bisa mengajukan proposal permintaan dana kepada kepala sekolah untuk membelikan Air Conditioner yang baru. Lupakan saja permintaan tak masuk akal dari Wakil Ketua Dewan Siswa-ku yang menjengkelkan ini." Sahut pemuda yang duduk bersebrangan dengan pemuda sebelumnya. Ia memiliki visual yang hampir mirip, pemuda ini memiliki rambut hitam kebiruan yang lebih tertata rapi. Juga, ia mengenakan kacamata tipis pada wajah datar tanpa ekspresinya.

Twich!

"Issei Ryuudou! Siapa yang kau panggil dengan sebutan menjengkelkan itu, dasar kacamata sialan?!"

"Huh?! Bukankah kau memang sosok yang menjengkelkan? Lagipula kau juga pengguna kacamata, Julian Ainsworth."

Twich!

Perempatan urat muncul di kening Julian Ainsworth, matanya menatap tajam ke arah pemuda brengsek yang duduk bersebrangan dengannya.

"Apa kau bilang? Tidak sepertimu, aku menggunakan kacamata karena ini adalah gayaku!" Gertak Julian dengan jari telunjuknya mengarah pada Issei yang menghela napas sebentar.

"Yare-yare. Terserahlah, aku tak peduli," Setelah berkata dengan suara lelah, Issei Ryuudou mengalihkan matanya ke arah Emiya Shirou yang tersenyum aneh dengan mata tertutup. "Oi, Emiya. Apa sedang kau senyumkan itu?"

"Tidak, tidak. Hanya saja senang rasanya melihat betapa akrabnya kalian berdua." Ucap Shirou ringan.

Sebagai responsnya Issei dan Julian saling tatap sejenak.

"Kau salah, Emiya. Aku tidak pernah meniatkan diri untuk akrab dengan ketua Dewan Siswa sialan ini." Ucap Julian sebelum memperbaiki letak kacamatanya dengan pose bermatabat.

"Begitu pun denganku. Tak ada niat sekalipun bagiku untuk mengakrabkan diri dengan Wakil Useless ini." Membalas percakapan dari Julian, Issei Ryuudou pun berucap dengan memperbaiki letak kacamatanya juga.

"Maa, maa. Sudahlah, kalian benar-benar pasangan anggota Dewan Siswa yang sangat akrab ya."

"Tidak!"

"Tidak!"

Seperti ini lah kehidupan SMA sang Master of Saber. Dia dikelilingi oleh dua orang temannya yang tak pernah ingin saling mengakrabkan diri namun entah mengapa hal tersebutlah yang membuat hubungan mereka menjadi tak membosankan hingga membuat Emiya Shirou yang bukan anggota Dewan Siswa begitu senang berada di lingkungan ini.

Pada awalnya, Shirou mengenal mereka semenjak terpilihnya Issei dan Julian menjadi ketua dan wakil ketua Dewan Siswa. Kedua pemuda tersebut seringkali meminta bantuan kepada Shirou sehingga Shirou pun menjadi akrab dengan mereka berdua.

"Hmm, ngomong-ngomong, Shirou, kulihat kau sepertinya cukup dekat dengan adiknya Matou Shinji?"

"Iya, terkadang aku juga melihat kau pulang bersama dengannya. Hubungan apa yang sedang kalian jalin, Emiya?"

Shirou menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan Issei yang dilanjutkan oleh Julian.

"Apa yang kalian berdua maksud adalah Sakura?" tanya Shirou yang dijawab anggukan oleh kedua pemuda berkacamata tersebut. "Hmm, bagaimana ya? Hanya saja, aku merasa bahwa ia sedang membutuhkan bantuanku." Lanjut Shirou sebelum berdiri dan menepuk bokongnya sebentar untuk membersihkan debu, kemudian ia berjalan pelan dan mengambil tempat duduk di sebelah Issei.

"Apakah benar begitu? Kau tidak sedang menjalin hubungan asmara tersembunyi dengan adik sahabatmu sendiri 'kan?"

Shirou berkeringat mendengar pertanyaan menyelidik dari Issei, ia menggeleng gugup sebelum menjawab dengan sedikit tertawa.

"Hei apaan pertanyaan itu?"

"Hanya bercanda."

Dan keduanya pun saling menghela napas bergantian, Shirou mengambil bekal dari tasnya dan meletakkan bekal itu di atas meja sebelum membuka bekal tersebut. Aroma nasi dan masakan menyeruak sejenak. Shirou berniat untuk menyatukan kedua telapak tangannya berdoa, namun perkataan yang dikeluarkan oleh Julian memuat niatnya tak terselesaikan.

"Kurasa Matou Sakura sedang dirasuk oleh Dewa jahat sekarang."

Ucapan Julian langsung dibalas tatapan menyelidik dari Shirou dan Issei di hadapannya. Namun, Julian hanya mengeluarkan senyuman canda dan berkata dengan suara ringan.

"Maaf, hanya bercanda."

Shirou menghela napas sebentar sebelum melanjutkan niatnya untuk memakan bekal yang telah dimasak oleh Matou Sakura, seorang gadis yang merupakan adik kelasnya sekaligus adik dari teman sesama anggota club panahan di sekolahnya.

Issei juga terlihat membuka bekalnya juga. Sedangkan Julian nampak sedikit terkejut ketika handpone miliknya berdering, ia melihat nama yang tertera sebelum raut wajahnya berubah serius dan keluar dari ruang Dewan Siswa secara tiba-tiba.

Kepergian Julian diberi tatapan bingung dari Shirou dan Issei. Tapi mereka tak berkomentar apapun, toh ini sudah jadi kebiasaan sang wakil ketua Dewan Siswa tersebut. Jadi, mereka lebih memilih mengangkat bahu sejenak sebelum melanjutkan acara makan mereka.

Sedangkan di luar sana, setelah keluar dari ruangan, Julian mengangkat handpone dan meletekan alat elektronik tersebut di depan telinganya.

"Beri aku kabar baik." Ucap Julian dengan nada tak mengenakan.

Entah apa yang dibicarakan oleh sang penelpon, namun nampaknya apa yang dikatakan membuat Julian menyeringai tipis tiba-tiba.

"Bagus, kalian sudah menemukan lokasi kastil Einzbern. Terus awasi, ingat, aku tidak ingin terjadi kesalahan karena kelalaian kalian. Jika kalian gagal, kalian akan mati."

Setelah menutup handpone-nya, Julian menatap kearah arlojinya sebentar sebelum masuk kembali ke dalam ruangan Dewan Siswa di sana.

-5-

Pada tahun 600 sebelum masehi terdapat sebuah agama tertua di dunia, Zoroastrianisme. Agama ini diikuti oleh orang-orang disebuah desa di Persia Kuno.

Penduduk desa mempraktikan ajaran-ajaran dengan pemikiran yang baik, kata-kata yang baik, dan perbuatan yang baik. Mereka banyak berdoa dan melakukan ritual-ritual sebagai bentuk penghormatan dan ketaatan mereka kepada Ahura Mazda, Tuhan dari mereka.

Namun, orang-orang ini dihadapi oleh sebuah dilema; mereka tahu bahwa kejahatan selalu ada di dalam tubuh manusia mereka, tidak perduli sebersih dan sesuci apapun mereka. Tak berapa lama, akhirnya mereka menemukan sebuah cara untuk membebaskan semua kejahatan yang terdapat dalam diri mereka.

Yaitu dengan cara mengorbankan satu orang dari kaum mereka sendiri. Lalu, membuatnya sebagai sumber dari segala macam kejahatan mereka, dengan begitu semua kejahatan yang terdapat dalam diri mereka dipindahkan ke dalam satu orang, agar orang tersebut disalahkan atas kesalahan mereka.

Mereka menangkap seorang pria dari kaum mereka yang tak memiliki bakat, kemudian dengan gila menyiksanya. Seluruh kata terkutuk diukir paksa oleh mereka pada kulit pria malang tersebut.

Pada waktu itu, dia yang siksa mulai membenci dunia dan manusia yang telah menyiksanya.

Mati di usia tua adalah satu-satunya jalan untuk ia terbebas dari penderitaan yang diarahkan padanya bertahun lamanya.

Akan tetapi, setelah mati pun ia dikutuk dan bergabung dengan dewa kegelapan Persia, Angra Mainyu.

Dengan penderitaan yang telah ia terima, manusia-manusia keji telah menerima manfaat baik dari kekejian mereka.

Tanah-tanah Persia subur seketika, air sungai dan danau yang telah mengering kembali dialiri oleh cairan bening. Hujan-hujan menyirami tanah dunia yang kering.

Namun, orang-orang masih memanggilnya dengan sebutan dan perkataan terkutuk.

Ini adalah kisah dari seorang pria dan dewa jahat. Seorang pria yang dikutuk. Dan, seorang pria yang dipanggil sebagai All the World's Evils.

Musuh sekaligus sumber dari segala macam kejahatan yang ada dunia.


Naruto menutup buku yang ia baca.

"Segala macam kejahatan dari dunia, kah?" Senyum nostalgia entah mengapa terukir di bibir pemuda pirang tersebut. "Hmm, jadi teringat masa lalu." Ucapnya pelan sebelum mengembalikan buku tersebut di atas tumpukan buku yang sudah Rin baca sebelumnya.

"Apa yang kamu ucapkan barusan, Naruto?" tanya Rin.

Naruto berekspresi yang tak bisa Rin artikan. Dalam pikiran pemuda itu, masih tersirat rasa penasaran sekaligus sepercik api amarah setelah membaca buku tadi. Rasanya, pria yang terdapat dalam buku itu memiliki sedikit kesamaan dengan dirinya dahulu.

Disiksa. Dibenci. Dan dijuluki sebagai segala macam kejahatan oleh orang-orang.

Namun, beruntungnya ia masih memiliki beberapa orang yang ia percayai hingga sampai ia dijuluki pahlawan oleh orang-orang yang memanggilnya sebagai iblis dahulunya.

Naruto menghela napas sebentar sebelum melihat tepat ke arah bola mata Rin.

"Tidak ada." Ucap Naruto singkat yang membuat Rin menaikkan sebelah alisnya tak mengerti. Setelahnya, gadis tersebut kembali melanjutkan kegiatan membacanya yang tertunda.

Namun, ada suatu hal yang mengganjal dipikiran gadis tersebut. Adegan-adegan yang ia lihat pada mimpinya tadi terus menerus memenuhi kepalanya. Rasa penasaran kembali menyerang. Dengan begitu, Rin menutup bukunya dan menoleh ke arah Naruto sekali lagi.

"Hmm. Naruto, aku ingin menyakan sesuatu."

"Menanyakan sesuatu? Silahkan."

Setelah meletakkan bukunya dengan anggun, Rin menyempatkan diri menyesap teh yang tersedia di cangkir.

"Kau tahu, tadi aku mengalami mimpi yang sangat aneh," kata Rin. "Sangat aneh sampai-sampai aku tidak bisa berhenti untuk memikirkannya."

Naruto mengangguk sebentar dan mencoba untuk mencerna perkataan Master-nya tersebut. Sampai pada suatu ketika, Naruto pun bertanya dengan sedikit nada bercanda.

"Jadi, mimpi seperti apakah yang kau alami, Rin. Aku tidak menyangka Rin yang rewel ini bisa curhat juga ternyata."

"Naruto!"

"Baik, aku tidak akan mengulanginya."

Setelah menghela napas sejenak, Rin pun melanjutkan perkataannya.

"Sebelumnya, aku ingin mengatakan terlebih dahulu," Rin lalu menarik napas kecil. "Kata ayah, seorang Master yang sudah menjalin kontrak dengan Servant-nya sewaktu-waktu akan mengalami mimpi yang aneh. Semakin dalam hubungan antar Master dan Servant tersebut maka semakin dalam juga pengalamam mimpi yang didapat oleh masternya."

Tak jauh dan tengah duduk di sebelahnya, Naruto mengangguk kecil mendengarnya seolah-olah mengerti apa yang dimaksudkan oleh Rin.

"Jadi?"

"Apa yang kulihat dalam mimpi tadi jelas-jelas adalah kau, Naruto. Tapi, entah mengapa aku melihat adanya banyak perbedaan dengan dirimu yang berada dalam mimpi tersebut dibandingkan dirimu yang sekarang. Aku tidak bisa mengatakannya secara jelas, tapi itu jelas berbeda sekali."

Naruto terdiam mendengar penjelasan Rin. Tentu Naruto sudah tahu apa yang dimaksudkan oleh Rin.

Perubahan. Setiap orang tidak akan selalu sama tiap waktunya. Sekecil apapun itu orang-orang akan tetap mengalami hal revolusioner yang disebut sebagai perubahan. Tak peduli jika perubahan tersebut akan menjadi baik atau bahkan sebaliknya.

Meninjau kembali perkataan Rin. Naruto juga menyadari bahwa ia telah jauh berubah dari sebelumnya. Ia tak tahu mengapa, namun terselip di dalam hati kecilnya ia merindukan masa lalu. Meskipun begitu, entah mengapa ia tak menolak untuk hidup di dunia sekarang, zaman yang telah damai ini.

"Begitu, jadi kau sudah mengalaminya?" Naruto berkata dengan suara rendah.

Alis Rin dibuat merendah olehnya.

Setelah terlihat memaksakan diri untuk tersenyum, Naruto melanjutkan perkataannya.

"Kau pasti sudah melihatnya, bukan?"

"Ya, aku sudah melihat semuanya."

Naruto tetap mempertahankan senyumnya. Meski senyum tersebut terlihat sinis dan nampak dipaksakan.

"Kalau begitu kau pasti sudah tahu. Terlalu banyak hal berharga yang hilang dariku. Aku tak memiliki orang tua, guru-guru ku telah gugur mendahuluiku, bahkan teman-temanku meninggalkanku lebih dahulu. Tidak ada yang tersisa dariku, hanya tangan penuh darah, membunuh tanpa rasa bersalah. Aku menjalani kehidupanku dengan penuh pengorbanan dan keputusasaan."

Mendengar Naruto berkata dengan suara rendah, Rin tidak tahu harus berbuat apa untuk meresponsnya. Rasa kesalnya hilang digantikan oleh perasaan simpati yang mendalam. Apa yang barusan dikatakan oleh Naruto tidak dapat dipungkiri lagi kebenarannya, dari mimpi tadi sudah sangat jelas Rin melihat riwayat hidup Uzumaki Naruto meski tidak semuanya.

Seorang pemuda tanpa ayah dan ibu, dilatih oleh tiga orang pahlawan desa sesungguhnya. Dipanggil iblis oleh orang-orang, bahkan kerap kali dijauhi oleh teman-temannya.

Mengingat itu tentu tidak dapat membuat Rin untuk tidak bersimpati.

Setelah mencoba merangkai kata-kata yang bisa ia gunakan untuk situasi seperti ini, Rin pun akhirnya bersuara.

"Tidak apa, Naruto. Aku masih ada disini."

Entah apa yang merasukinya, Rin secara spontan mengucapkan kalimat tersebut dengan ringan. Sangat ringan sampai-sampai Naruto dibuat terkejut olehnya.

"Maksudmu?"

Mata Naruto membola, melihat tepat ke arah iris Aqua milik gadis di sebelahnya, mencari setitik kebohongan di sana.

"..."

Namun yang justru terlihat bukanlah sebuah kebohongan, melainkan kejujuran yang membuat siapapun akan luluh olehnya.

Dan,

Naruto terenyuh melihat kejujuran itu.

"Aku selalu di sini, menjadi teman untukmu dan takkan pernah meninggalkanmu." Ucap Rin dengan suara halus.

Tenggelam dalam kerenyuhannya, hati kecil Naruto yang mendingin seakan dipaksa untuk menghangat. Apa ini? Perasaan apa ini? Seakan-akan ia kembali pada masa saat ia bersama guru dan teman-temannya dahulu. Rasa ini benar-benar nyata. Sungguh.

Dan,

Dalam beberapa detik kemudian, ia sadar dengan perasaan ini.

Perasaan yang serasa aneh namun entah mengapa terasa nyaman.

Lalu,

Mata hitam itu menatap tepat ke arah mata aqua yang gadis di depannya miliki.

"Terima kasih, Rin."

Setelah beberapa saat kemudian, ketika aroma kertas dan tinta menelusup lebih dalam menuju sukma, Naruto berkata dengan senyuman tulus miliknya.

-6-

Sore di kota Fuyuki, Emiya Shirou memutuskan untuk pulang ke rumah lebih awal dari biasanya. Hari ini berjalan tidak seperti biasa, kadang-kadang orang-orang akan meminta bantuan padanya namun hari ini tidak ada sama sekali, ia hanya mengerjakan pekerjaan yang diberikan oleh wakil ketua Dewan Siswa padanya saat jam istirahat tadi.

"Langsung pulang kerumah, Emiya?"

Ketika Shirou hendak berjalan melewati gerbang sekolahnya, ia dibuat terkejut dengan suara yang tidak terdengar asing di telinga. Shirou berhenti sebentar, senyumnya mengembang, dia lalu menjawab suara tersebut dengan nada bersahabat.

"Yo, Shinji. Begitulah, aku tidak mengikuti kegiatan ekskul manapun saat ini. Jadi, aku memutuskan untuk pulang ke rumah lebih awal."

"Begitu ..."

Bersandar di sisi dari gerbang adalah Shinji yang menghela napas sebentar sebelum berjalan perlahan menuju Shirou di dekatnya.

"Baiklah, ada yang ingin aku tanyakan."

"Silahkan."

Dalam beberapa saat, suara Shinji terdengar menyelidik bersama dengan raut wajah tak mengenakan yang ia perlihatkan.

"Dari yang kudengar, Sakura tinggal di rumahmu, 'kan?"

Emiya Shirou diam sesaat, suara Shinji yang mengintimidasi terdengar agak menakutkan. Tapi, Shirou memutuskan untuk tetap tenang dan membalas perkataan Shinji dengan tetap mempertahankan senyumannya.

"Ya, begitulah. Aku sendiri tidak menyangka. Tapi percaya lah, aku tidak melakukan apapun terhadap adikmu, Shinji."

"Cih!" Dengan decihan yang keluar, Shinji tiba-tiba menarik kerah seragam Shirou kuat hingga menimbulkan kusut di sana. "Sialan, kau selalu saja mengambil lebih dariku!" berkata dengan suara mengancam, Shinji terlihat tak dapat menahan emosi.

Namun, Shirou tetap bersikap seperti biasa. Ia hanya tersenyum dan mengabaikan perlakuan Shinji padanya. Setelah beberapa saat, Shinji pun menarik kembali lengannya.

"Cih, baiklah Emiya. Kau yang telah memulai semuanya."

Setelah mengatakan perkataan tersebut, Shinji berjalan melewati tubuh Shirou yang tak bergeming. Ketika bahu mereka saling menyentuh dengan kasar, sekilas dapat terlihat lirikan mata kebencian pada ekor mata Shinji.

Angin bertiup. Beberapa menit setelah kepergian Shinji, Emiya Shirou mengangkat kepalanya, menatap langit jingga yang tengah berawan sedikit.

"Hari yang begitu sulit."

Bermonolog sebentar sebelum berjalan pergi lah Emiya Shirou dari tempat tersebut.


To Be Continued


A/N:

Yo, ada beberapa bagian yang dihapus dan diubah di chapter ini. Dan kuharap typo-nya menjadi agak berkurang.

Jullian Ainsworth adalah karakter dari Fate Kaleid Liner.

Sekian, terimakasih. Seperti yang sudah kukatakan, aku akan berusaha untuk menamatkan fanfic ini yang InshaAllah kurang dari 20 chapter.