Fate/Zero Redemption

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto dan Type Moon. Saya hanya meminjam karakter kepemilikan beliau tanpa berniat mendapatkan keuntungan materi sekalipun. Begitu pula dengan para karakter lain yang saya pinjam. Semua pemilik Owner-nya masing-masing.

Presented By : Red Saber-Mordred

Rating : M (For Safe)

Pair : Apa masih perlu dipertanyakan?

Genre : Action, Fantasy, Supernatural, Magic.

Warning : Typo, OOC, HumanNaru!, Bahasa tidak Baku, Alternative Reality, and Etc.

Inspirated By: Fate: Zero Hour Redux by Rein Hellfire

.

.

Summary

Titik awal, titik dimana cerita dimulai, Heaven's Feel keempat. Sebuah kisah tentang para master, para ksatria dan pahlawan. Kisah yang akan menjadi legenda, kisah sedih, yang akan berakhir dengan tragedi, tragedi baik atau buruk. Semuanya akan di tentukan dari jalannya peperangan.

.

.

Opening Theme : FUNKY MONKEY BABYS - Ato Hitotsu

.

.

Chapter 2 Dia dan servant miliknya

.

Perang.

Apa itu perang? Bagi sebagian orang di masa kini, mendengar kata perang adalah hal yang menyenangkan bagi mereka. Karena dengan perang, pahlawan baru akan muncul, dan siapapun pasti akan berusaha menjadi pahlawan itu. Naif sekali, sungguh dan tak terelakkan.

Bagi sebagian orang, perang itu menyenangkan. Mereka bisa beraksi layaknya superhero, datang di saat terlambat lalu mengalahkan kejahatan dan menegakkan keadilan. Pemikiran yang naif sekali.

Perang yang sesungguhnya jauh dari kata memuaskan, menyenangkan, perantara menjadi seorang pahlawan. Bahkan sangat jauh. Orang-orang masa kini telah terperdaya oleh tayangan-tayangan di televisi, bioskop dan internet, yang biasanya menayangkan bahwa peperangan itu adalah hal yang heroik. Itu patut di salahkan, karena perang yang sesungguhnya tak begitu.

Akan ada banyak kesedihan.

Akan ada banyak penderitaan.

Akan ada banyak tangisan.

Akan ada lebih banyak kematian.

Ini adalah defisi dari perang sesungguhnya. Namun ... Apakah perang cawan suci berbeda dengan definisi perang itu?

Itulah yang sedang magus muda, Naruto, pikirkan. Jujur dia sudah lelah berperang, itu melelahkan sekali. Dia berjanji bahwa ini adalah perang terakhir yang dia ikuti, konflik terakhir dalam hidupnya, heaven's feel keempat di Fuyuki. Dia berpendapat, siapa pun yang merancang perang ini pantatnya harus di tendang di kerumunan warga, itu pantas bagi orang yang menyebabkan konflik seperti ini.

Untuk siapa dia bertarung sekarang ... Ada alasannya kah?

Atau mungkin karena keinginan dan harapan. Kadang dia bertanya pada dirinya apa alasan grail memilihnya? Apa keinginan hatinya yang sesungguhnya? Apa keinginannya?

Semua akan terjawab nanti, tepat pada saat dia berdiri di garis akhir peperangan.

.

.

.

Seorang pemuda pirang kini sedang mengaduk-ngaduk bahan yang ada di lemari pendingin, kulkas, di apartemen kecilnya di kota Berlin, Jerman. Sedangkan di sisi lain sedang duduk seorang gadis dengan rok biru dan kameja putih di meja tak jauh di sana, gadis itu sedang memegang peralatan makan di tangan.

"Saber, apa yang ingin kamu makan sekarang?"

"Apapun tak masalah bagiku, master."Jawab gadis pirang itu dengan sabar.

"Huu ... Saber,kamu benar-benar tak masalah akan apa yang kamu makan bukan?" Naruto lalu menggaruk bagian belakang kepalanya yang tak gatal. "Apa benar enggak masalah nih?"

"Apapun yang master masak itu semuanya enak, dan saya suka. Meskipun ..." Entah apa yang gadis itu, saber pikirkan, namun yang pasti sedikit air liur menetes dari mulutnya. "Aku tak bisa memutuskan masakan master yang mana yang paling lezat."

"Terima kasih ... Aku tak pernah berfikir dari sekian banyak keahlianku, ternyata kemampuan memasakku yang di puji." Naruto terkekeh, lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia teringat kalau servant nya ini merupakan gadis yang rakus dalam makanan.

"Tak dapat dipungkiri, bahwa anda benar-benar koki yang sangat luar biasa, master."

Naruto menatap sedih, tepat pada bahan makan yang dia pegang sekarang. Entah mengapa sedikit nostalgia tercetak di wajah pemuda pirang berbaju apron itu. "Ini adalah kebiasannku yang sudah hidup sendiri sejak lama. Aku harus belajar memasak sendiri, tanpa bantuan orang lain."

Keduanya sempat terdiam untuk beberapa saat, gadis pirang tadi sedikit merasa bersalah namun Naruto sudah terlebih dahulu kembali dalam wujud cerianya, dia tersenyum ceria, sedikit dipaksakan memang.

"Aku kan memasak terlebih dahulu, lalu selepas itu kita akan membahas misi yang vampir tua itu berikan nanti." Naruto tersenyum lembut, berjalan ke arah dapur dengan tenang, namun dia sedikit heran karena tidak ada jawaban yang ia dapatkan. Pemuda itu lalu menoleh, ke arah belakang tepat pada meja yangditinggali Saber. "Huu ... Saber apa kau sudah ..."

"..."

"Saber, liurmu menetes keluar tuh."

"Eh?! Err ... M-maafkan aku, master."

Saber terpekik kaget akan kekonyolannya, sedangkan Naruto tersenyum lembut.

"Tak masalah ... Bukankah seharusnya seorang teman harus memperlakukan temannya sebaik mungkin?"

Saber, gadis berpakaian biru dan putih itu hanya membalas tatapan lembut Naruto dengan senyuman kecil, tipis sekali. "Ya ... kita adalah teman."

.

.

.

Servant adalah sesosok alat, tak peduli seberapa terkenal sosok pahlawan itu, selama di panggil dan menerima panggilan itu mereka di kenal dengan nama servant, bagi seorang master mereka hanyalah alat. Mustahil bagi seorang master untuk memiliki pemikiran semacam fantasi yang tak realistis tentang seorang servant, dan menganggap mereka sama seperti teman atau kerabat.

Tidak ... Menurut sebagian besar magus, baik dari pihak asosiasi sihir ataupun pihak gereja kudus, ini adalah pemikiran yang naif dan kekanakan yang akan menjatuhkan harakat dan martabat dari seorang master itu sendiri. Servant adalah alat mencapai kemenangan, itu yang mereka yakini.

Namun berbeda dengan pemuda pirang yang sedang berjalan dengan gadis pirang di sebelahnya, menelusuri jalanan sepi kota Fuyuki, menuju sebuah tempat yang akan mereka jadikan markas nantinya dan tempat untuk mempersiapkan segala sesuatu , baik itu fisik ataupun mental dalam menghadapi perang yang akan terjadi tak lama lagi.

Satu hal yang pasti dari pemuda pirang yang menebar senyum ceria layaknya remaja belasan tahun itu. Dia tak pernah berfikir bahwa gadis di sampingnya, servant nya tersebut sebagai sebuah alat namun dia menganggap bahwa gadis itu adalah temannya. Di hadapan para master lain, mungkin mereka akan menertawakannya karena mengatakan lelucon yang bodoh dan kekanakkan, namun bagi Naruto hal itu tak menjadi masalah.

Sudah sekitar sebulan semenjak ia memanggil perwujudan roh pahlawan King Arthur yang terkenal dengan pedang sucinya, Ex-calibur. Dan telah banyak hal yang mereka jalani bersama, menghabiskan waktu untuk menyelesaikan misi dari vampir tua di berbagai negara, menumpas para magus hitam yang menyebabkan banyak kekacauan terjadi.

Semua itu tak lain hanyalah siasat agar keduanya bisa bekerja sama dengan baik. Dan untungnya kerja sama itu terjalin sempurna, hanya dengan beberapa misi saja.

Kini pasangan master dan servant tersebut terlihat semakin akrab, terlalu akrab malahan. Berjalan berdua dengan pakaian musim dingin, padahal sekarang Jepang baru saja menginjak musim semi. Bahkan beberapa anak yang bermain di jalanan sedikit terperangah melihat kedua orang baru itu, asing dan tak pernah di kenali, membuat mereka segera bersembunyi di balik pintu rumah halaman depan.

Naruto yang melihatnya hanya tersenyum lembut, terkekeh sebentar. Sedangkan gadis yang di sebelahnya, Saber, hanya tersenyum tipis. Jika dibandingkan pada saat ia masih memerintah dulu, memerintah tanah Britania, sangat jarang raja itu melihat anak-anak bisa bermain bebas seperti ini, karena sebagian besar anak di didik semenjak kecil dilatih dan di ajari seni berperang agar kelak di masa remajanya bisa menjadi prajurit kerajaan yang hebat, berperang demi keadilan dan menumpas kejahatan. Saber masih tersenyum tipis, meskipun sedikit kenangan masa lalu membuat dirinya menjadi terenyuh dalam diam.

"Jadi perang sekali lagi datang kepada kita. Konflik lain dalam lingkaran konflik tak berujung." Naruto menghela nafas walaupun ia sedikit serius dengan yang ia bicarakan tadi.

Tapi Arthuria menanggapi dengan sedikit semangat.

"Tapi kita akan menang, Naruto. Bagaimana pun, aku yang terbaik dalam dari kelas servant yang ada. Dan kamu adalah master yang sangat hebat."

"Selama itu tak memakan korban manusia biasa yang menjadi korban perang, itu tak masalah bagiku."

"Yah, kita usahakan yang terbaik saja."

Setelah itu, beberapa menit setelahnya tiada percakapan yang terjadi. Baik Naruto ataupun Arthuria hanya menikmati perjalanan mereka, jalan kaki berdua di jalanan sempit bagian selatan Fuyuki. Wilayah ini di dominasi oleh pergedungan apartemen ataupun perkantoran, tapi banyak juga rumah-rumah sederhana yang saling menunjukan keasrian dan kearifan lokal budayanya.

Dalam menit yang diam itu, Naruto akhirnya memecah keheningan. Dia bertanya pada Arthuria.

"Saber, apa kamu masih memikirkan keinginanmu itu?"

"..."

Naruto menghela nafas ketika Arthuria tak merespon perkataanya. Gadis itu hanya diam, memandang jalanan yang ramai.

"Jadi begitu ... Saber, tak peduli seperti apapun dan bagaimana pun keputusanmu, aku kan selalu mendukungmu di setiap langkah yang kamu ambil." Naruto berkata, kemudian memandang ke arah lain sambil tersenyum tipis.

Arthuria tersenyum, sungguh sihir apa yang Naruto masukan ke dalam kata-kata yang di keluarkannya barusan hingga bisa membuat diri Arthuria menjadi merasa nyaman. Dia menatap Naruto, menatap pemuda yang sedang memandang ke arah lain itu dengan senyum yang di lebarkan.

"Ya ... Terima kasih untuk itu." Arthuria berkata singkat, namun, siapapun pasti tahu dan menyadari bahwa terbentuk sesuatu yang lain dari kalimat yang singkat itu. Sesuatu yang tak bisa di jelaskan dengan kata-kata ataupun sesuatu yang terlukis oleh tinta.

"Tentu saja, karena kita adalah teman."

Tanpa menoleh Naruto berkata, rasanya pemandangan taman yang di penuhi bunga sakura ini membuat matanya merasa nyaman. Namun, andai saja pemuda itu berbalik dan menoleh ke arah gadis di sampingnya, mungkin ia akan sedikit terkejut. Terkejut karena ia akan bisa melihat Arthuria yang untuk pertama kalinya bisa senyum tulus dan penuh makna, senyum yang tak pernah gadis itu berikan kepada orang lain bahkan saat ia masih menjadi seorang raja di masa lalu pun, ia tak pernah memperlihatkan senyum ini.

"Ya ... Kita adalah teman."

.

.

.

"Nah ini adalah tempatnya, tempat yang akan menjadi markas kita selama perang ini." Kata Naruto dengan tersenyum tipis.

Di hadapan mereka berdiri sebuah bangunan yang berisi taman yang terawat baik, tanahnya subur dan terdapat banyak bunga-bunga di sana. Rumah tradisional Jepang yang lumayan besar dengan segala keasrian dan keindahannya.

Naruto berjalan sebentarmasuk ke taman di bagian tengah, menyiapkan beberapa batu yang di susun sedemikian rupa dengan berbagai pola aneh pada setiap batu itu. Mantera telah di ucapkan dan dengan keajaiban mistis dari ilmu sihir, di sekitar magus pirang itu bertiup segumpalan angin sepoi-sepoi. Itu adalah tanda bahwa prana yang di salurkannya mulai menyatu dengan sekitar membentuk sebuah barrier magic dari sebesar bola sepak yang kemudian semakin bertambah besar dengan sendirinya hingga mencapai level melingkupi rumah dan taman itu seperti sebuah bola energi tipis raksasa yang tentu kasat dilihat menggunakan mata normal. Rune magic yang rumit terpasang di setiap penjuru, menjadikan siapapun yang berani masuk tanpa izin akan di pastikan terbunuh terpotong karena elemen angin yang cukup kuat.

Naruto menyeka keringatnya, membutuhkan energi yang lumayan besar untuk membuat sebuah barrier sekuat ini dan itu membuatnya merasa lelah.

Setelah terasa selesai dengan kerjaannya, Naruto menghampiri saber tersenyum lembut seraya mengajak gadis pirang itu berjalan ke teras bagian depan, disana terdapat pintu geser [fusuma] yang terbuat dari bahan kayu dan juga kertas yang mudah di pindah-pindahkan. Di geser Naruto pintu itu dengan tenang dan masuklah mereka berdua ke dalam area pintu masuk [genkan] yang terdesain dengan ruang kecil yang ketinggiannya sama dengan dataran di luar rumah, mereka melepas sepatunya dengan pelan dan tenang. Di Jepang, wajib melepaskan sepatu sebelum masuk ke dalam rumah, bukannya apa hanya saja ini berkaitan dengan tradisi, kemudian sepatu yang dilepas di lantai ditaruh menghadap ke pintu masuk.

Tersenyum, hingga sebuah tepukan menghampiri pundaknya. Naruto lalu memberi Arthuria sebuah senyum lembut.

"Ini adalah markas kita ... Maa, sederhana sih. Pasti berat bagimu yang pernah menjadi seorang raja." Kemudian pemuda itu tertawa, melupakan Arthuria yang hanya menatap datar dirinya.

"Naruto, itu tidaklah lucu. Kita sudah lumayan banyak berpetualang bersama, tak peduli dimana pun dan bagaimana pun tempat kita berada, itu tak masalah." Tukas Arthuria, sebelum ia tersenyum tipis. "Asalkan masakanmu selalu enak seperti biasanya."

Hanya dapat menggeleng pelan, Naruto sungguh tak mengerti mengapa servant miliknya ini sangat menyukai makanan buatannya. Padahal menurut Naruto sendiri, masakannya itu sama seperti masakan di restoran ataupun rumah makan di pinggir jalan. Atau mungkin karena dia mencampurkan sedikit bumbu rahasia dalam masakannya itu ya ... Hmm, mungkin benar begitu.

Setelah bercakap pelan dan mengambil sendal yang berada pada rak kecil [getabako] di samping kiri, mereka berdua akhirnya masuk ke dalam rumah. Arthuria tak bingung akan semua yang berjalan pada zaman ini, ia tak bingung ketika melihat mobil berlalu-lalang di jalanan, ataupun pesawat yang mereka naiki tadi saat menuju ke Fuyuki.

Grail memasukan informasi secara magis ketika mereka di panggil menjadi seorang servant. Informasi yang relevan yang mereka butuhkan agar bisa berbaur dengan masyarakat modern.

Hanya saja, untuk Arthuria, di bandingkan memanggilnya dengan sebutan mobil atau sepeda motor, dia lebih nyaman menyebutnya dengan sebutan kuda besi.

Ketika berjalan hingga mencapai ruang bagian tengah yang merupakan ruang tamu berlantaikan tatami, Naruto dan Arthuria menghentikan langkah mereka. Alis Naruto sedikit berkedut ketika mengetahui bahwa ada orang lain di rumah barunya ini.

"Aku tidak percaya kalau aku sedang berkhayal sekarang ..." Pemuda itu menghela nafas sejenak."Hei pak tua, apa yang kamu lakukan di tempat ini?"

Alis Zeltrech berkedut kesal dari tempatnya duduk. "Tidak bisakah seorang guru datang untuk menyapa muridnya?" Dia bertanya balik, lalu mengambil secangkir teh yang mengepul di sebelahnya kemudian vampir tua berjenggot abu-abu itu menyesap teh manis dengan nikmat, tak lupa meniupnya sedikit menurunkan suhu air yang lumayan panas.

Meskipun sedikit bingung dan mengesalkan, Naruto memberikan tatapan lembut pada gurunya. "Oke baiklah, tapi ... Biarkan aku bertanya apa yang membuatmu berada di sini?"

The dead apostle ancestor itu tersenyum tipis. "Ada yang perlu ku bicarakan." Kata vampir tua berjenggot putih itu yang membuat Naruto menjadi kebingunan.

"Tentang?" Naruto membalas singkat sebelum vampir tua itu melambaikan jari telunjuknya ke kiri dan juga kanan.

"Bukan untukmu, tetapi aku perlu bicara dengan servant mu."

Rasa bingung semakin menyerang Naruto, tak hanya dia namun Arthuria pun juga sedikit bingung. Ini pertama kalinya bagi sang Raja Ksatria bertemu dengan guru dari masternya itu, Kischur Zeltrech Schweinorg, The dead apostle ancestor and Kaleidoscope. Raja berperawakan gadis muda itu bahkan hampir tak percaya bahwa orang yang sekuat Zeltrech bisa bersikap layaknya anak usia lima tahun seperti tadi. Kemudian salah satu orang terkuat yang pernah ia ketahui, Naruto sebagai masternya, juga seringkali bersikap kekanakkan. Sungguh kombinasi guru dan murid yang unik sekali.

Zeltrech, seseorang yang bisa melawan kekuatan alam dengan kekuatan magisnya dan itu tidak bisa dianggap enteng.

"Berbicara dengan Saber? Apa itu sangat penting?" tanya Naruto ketika alis kirinya terangkat, ia tak tahu apa yang ingin di bicarakan vampir itu dengan Arthuria karena ini adalah pertemuan pertama antara raja ksatria dan the dead apostle ancestor itu.

Namun Zeltrech membalasnya dengan suara acuh. "Cukup penting."

Mendengar suara acuh tadi membuat Naruto hanya mendesah dan menghela nafasnya. "Sepertinya cukup serius yah. Apa aku perlu ikut dalam pembicaraan ini?" Naruto bertanya lagi.

"Sebenarnya akan lebih baik jika kamu tidak ikut."

Pemuda pirang itu kembali menghela nafas lagi, entah berapa kali sudah. Tapi baiklah, jika yang di katakan vampir tua itu bahwa pembicaraan ini cukup penting maka akan lebih baik untuk tidak ikut. Oh .. Naruto lupa, dia belum membeli bahan makanan sejak sampai di kota Fuyuki ini, mungkin lebih baik membelinya sekarang agar tak menganggu pembicaraan mereka bukan?

"Maa, baiklah. Aku akan membeli beberapa bahan untuk memasak dulu. Aku akan pergi sekarang."

Naruto ingin berjalan menuju bagian depan rumahnya, namun sebuah panggilan membuat magus pirang itu menoleh sebentar.

"Naruto ... Apa kau akan baik-baik saja jika pergi sendirian?"

Itu adalah suara dari servant nya, Saber Arthuria, dan itu terdengar sedikit khawatir. Namun Naruto hanya tersenyum lembut dan membalas pertanyaan itu dengan suara tenang.

"Tenang, aku akan baik-baik saja kok ... Lagipula, satu-satunya servant lain yang sejauh ini dipanggil adalah Assassins, dan aku yakin kalau aku bisa menanganinya dengan mudah."

"Kalau begitu pergilah dan beli bahan makanan untuk memasak makanan lezat bersama-sama." Bukannya dari Arthuria, namun Zeltrech yang berkata sambil melambaikan tangannya pada Naruto.

Naruto menghela nafas lagi, kemudian berjalan menuju arah pintu keluar dari rumah ini. Berjalan pergi membeli bahan makanan meninggalkan seorang vampir tua dan seorang raja ksatria yang kini saling pandang.

Sedangkan Zeltrech, setelah vampir tua itu melihat Naruto pergi lalu dia berbicara seraya senyum kepada Arthuria [Saber].

"Melihat dari ekspresimu dapat kupastikan bahwa kau bertanya-tanya akan apa yang ingin ku bicarakan denganmu, bukan?"

Arthuria mengangguk. "Tepat sekali, jadi ... Apa yang ingin anda bicarakan dengan saya?"

"Begini ... Ini mengenai bocah pirang itu." Kata vampir tua itu kemudian kembali menyesap teh manisnya dengan nikmat. Sedangkan Arthuria [Saber], hanya memandang dengan alis kiri terangkat.

"Naruto, kah?"

Zeltrech tersenyum mendengarnya, lalu bangkit berdiri dari tempat kursinya tadi kemudian berjalan perlahan menghampiri Arthuria. "Oh ... Jadi sekarang kau sudah memanggil nama depannya yah. Beberapa minggu yang lalu kau menolak untuk memanggil namanya, lalu apa yang membuat Raja yang dingin ini menjadi bersikap sangat ramah di hadapan masternya? Aku ingin tahu."

"..."

Pipi Arthuria sedikit bersemu merah ketika memalingkan wajahnya, sungguh ia tak tahu apa yang membuatnya jadi begini. Beberapa detik kemudian, ketika Raja Ksatria itu mulai tenang, ia kembali ke wujud dinginnya.

"Bagaimanapun aku memanggilnya dan yang ku lakukan dengannya itu bukanlah urusan anda. Bahkan jika anda adalah guru dari Naruto sekalipun. Apa hanya ini yang ingin anda bicarakan?" Tukas Arthuria. Benar yang ia katakan tadi, bagaimanapun dia memanggil Naruto, itu bukanlah urusan dari vampir tua ini, karena bagaimanapun Naruto tetaplah masternya dan juga ... Orang yang telah mengubah cara pandang dari Raja Ksatria tersebut.

"Sebenarnya bukan hanya itu ..." Zeltrech kehilangan senyum cerianya, Vampir tua ini menjadi lebih serius sekarang. "Kau bisa menganggap ini sebagai sebuah permintaan dariku ... Tolong jangan menyakitinya, sungguh."

Raja Ksatria sedikit terkejut dengan apa yang ia dengar. Apa maksud dari ucapan tadi? Arthuria tak mengerti, sungguh.

"Maksud anda? Saya tak mengerti." Kata Arthuria dalam keterkejutannya.

Zeltrech hanya diam, berbalik sebentar kemudian kembali ke arah kursi kayu di belakang. The dead apostle ancestor duduk dengan damai di kursinya. "Dia sangat peduli dengan orang-orang di dekatnya, tak peduli siapapun itu. Jika orang itu berharga baginya, maka bocah itu akan melindungi bahkan bagaimanapun caranya. Bocah itu sama sekali menganggap hidupnya tidak bernilai." Tersenyum layu, mata Zeltrech memandang lunak pada Arthuria. "Pasti dia memandangmu sebagai teman kan?"

Itu benar. Zeltrech sudah cukup lama bersama dengan Naruto, dan tentunya vampir tua itu sudah mengetahui bagaimana sifat muridnya tersebut.

Mendengar ucapan Zeltrech membuat Arthuria menutup matanya lembut.

"Dia manusia yang unik. Dia memang mengetahui statusku sebagai Raja Ksatria, namun dia menolak untuk itu dan hanya memandangku sebagai teman baik. Dan bagiku sendiri pun, dia merupakan partner dan teman yang sangat baik, aku senang mengetahui bahwa dialah yang menjadi masterku." Gadis itu, Arthuria tersenyum lembut. Untuk pertama kalinya dia berbicara panjang seperti ini, sungguh.

Bagi Arthuria, Naruto itu orang yang mengerti dan tahu. Secara keseluruhan pemuda pirang yang menjadi masternya itu merupakan magus yang terhormat, meskipun metode yang digunakan dalam pertempuran sedikit bertentangan dengan prinsip Arthuria itu sendiri. Namun, Naruto tidak pernah berbohong padanya dan juga tidak mengabaikannya. Naruto selalu jujur dan percaya sepenuhnya pada Arthuria, itu yang membuat Raja Ksatria itu sangat segan pada Naruto.

Naruto mempunyai semacam kemampuan untuk mengubah lawan menjadi teman. Arthuria sadar itu setelah beberapa misi yang ia jalankan dengan Naruto. Jujur, Naruto memiliki semua kharisma untuk menjadi seorang Raja. Dalam pertempuran pemuda itu menjadi sangat serius dan menakutkan. Namun dalam kehidupan normal, dia pria yang baik, bahkan berhati mulia.

Aneh memang karena bagaimana manusia dengan tabiat seperti ini bisa ada pada zaman sekarang.

Namun benar kata Zeltrech, satu kekurangan yang Naruto miliki, pemuda itu tak menempatkan nilai sama sekali dalam hidupnya. Untuk seseorang yang memiliki komitmen dan kharisma seperti Naruto, menganggap dirinya sendiri tak berharga itu benar-benar membingungkan.

"Dia memiliki sifat yang sama dengannya bukan?" Zeltrech kemudian terkekeh kecil. "Sama sepertimu yang menganggap dirimu sendiri tidak layak, heeh."

Arthuria mendesah pelan. "Naruto bisa mengubah seseorang ... Sebagai gurunya, kamu mengerti maksudku. Sekarang aku merasa tak yakin akan apa yang aku inginkan, sebagian dari diriku masih merindukan masa lalu yang lebih baik, namun bagian lain dari hati kecil ini merindukan masa depan, bahkan ketika aku sama sekali tak di takdirkan untuk memiliki masa depan itu. Namun ... Aku harus berterima kasih padanya karena telah menyadarkanku, menyadarkan Raja yang buta ini."

Terdiam dalam hening. Tiada yang berbicara, tiada yang bersuara. Hanya beberapa suara dera angin yang menggoyangkan beberapa dedaunan di dekat jendela terbuka. Suara gemuruh kota, kendaraan lewat sudah menjadi hal yang lumrah di dunia modern ini.

"Jaga dia, Saber. Jujur aku benci kehilangan sumber hiburanku, dia dalah orang yang unik dan juga orang yang bisa membuatku terhibur. Tapi hal yang paling penting dan yang harus kamu lakukan ... Tolong selamatkan dia dari dirinya sendiri, dari keinginan semunya yang bertentangan dengan hati kecilnya." Kata Zeltrech kemudian bangkit dari kursi dan berjalan perlahan menuju pintu keluar.

"Aku akan melakukannya bahkan tanpa kau minta sekalipun."

-Dan tanpa Arthuria ketahui, Zeltrech tersenyum tipis dalam perjalanan perginya.

"... Dia jauh lebih baik dari kebanyakan pria yang pernah ku temui, dia dan juga keinginannya." Arthuria bergumam, lalu tersenyum nostalgia namun terlihat cantik dipandang mata. Suara gemerisik pakaian saat dia menegakkan tubuhnya, memandang ke depan dengan mata hijau bersinar. "Sebagai seorang Raja, seorang Ksatria, seorang Pahlawan dan ... Sebagai teman, aku kan mengabulkan permintaan anda. Aku janji."

.

.

.

"Apa kau sudah siap untuk berperang, Saber?"

Naruto tersenyum, lalu melemparkan beberapa map yang berisikan dokumen-dokumen yang mungkin cukup penting ke meja kayu tempatnya berada, di sini, di rumah mereka, di bagian tengah berlantaikan tatami.

Sedangkan seorang gadis yang sebenarnya adalah servant dengan klas Saber hanya menghela napas. "Kau tahu kan, rencana mu ini sangat tidak ku suka sama sekali."

Mendengar perkataan Arthuria membuat alis kiri Naruto terangkat. "Apa kamu ingat. Sebagian besar kemenangan yang kita raih dalam misi adalah berkat strategi yang ku buat."

"Huft ... Baiklah." Arthuria lalu memandang Naruto dengan lembut. "Apa kita sudah menemukan semua identitas dari master yang berpartisipasi dalam perang ini?" tanya Arthuria yang hanya di balas anggukam plus seringai rubah dari Naruto.

"Tentu saja, dua jam lalu aku sudah mengetahui siapa saja yang akan menjadi lawan kita, smua itu berkat mata-mata terpercaya ku." Jawab Naruto percaya diri.

-Dan tentu saja yang dia maksud sebagai mata-matanya itu adalah klon dari dirinya sendiri.

"Naruto, aku hanya meminta datanya." Arthuria berkata dengan datar, matanya menyipit melihat tingkah masternya itu. Bagi Arthuria, pertempuran merupakan hal yang harus dianggap serius.

"Ahhh ... Baiklah kalau begitu." Naruto menarik napas panjang, dan Arthuria dengan segera memutar matanya ke samping saat Masternya bersiap masuk ke dalam mode Khotbah no Jutsu-nya. Pemuda itu benar-benar orang yang bermulut besar.

"Maa ... Seperti yang kita ketahui bahwa ada tujuh Master dalam setiap perang cawan suci dengan tujuh kelas servant. Tiga di antaranya berasal dari keluarga pendiri, Tohsaka, Matou, dan Einzbern. Pihak Asosiasi penyihir mengirimkan satu wakil dan beberapa sisanya di tentukan oleh Grail itu sendiri. Dan menurut mata-mataku tersebut, barisan para Master ini terbukti sangat menakutkan."

Pemuda pirang ini lalu membuka map berwarna merah, lalu menyebarkan lima buah foto di atas meja kayu itu. Pemuda pirang runcing dengan setelan baju hitam yang bagian lengannya di lipat itu tersenyum tipis sebelum melanjutkan.

"Ini adalah beberapa partisipan yang akan bersaing dalam perang ini, daan juga yang akan menjadi lawan kita. Dari keluarga Tohsaka, kepala keluarganya sendiri yang menjadi seorang master, Tokiomi Tohsaka. Dari Einzbern mengirimkan seseorang yang bernama Kiritsugu Emiya. Asosiasi Penyihir mengirimkan orang dengan nama Kayneth Archibald El-Melloi, dia orang yang menyebalkan." Pemuda itu menarik napasnya kembali, ternyata ngomong panjang lebar tanpa jeda itu lelah juga. "Kemudian seorang anak remaja bernama Waver Velvet, tak banyak yang ku ketahui mengenai dirinya. Lalu seorang Pendeta dari pihak Gereja, dia cukup hebat dan namanya adalah Kotomine Kirei. Nah kemudian yang ini adalah Kariya Matou, master dari Keluarga Matou, informasi dari pria ini sedikit sekali."

Raja Ksatria, Arthuria, hanya melipat tangannya bersedekap dada mendengar penjelasan Naruto. "Begitu ... Lalu menurutmu, seberapa bahaya mereka?"

Naruto pun juga ikut melipat tangan bersedekap dada, dia sedikit bersiul sebelum menjawab pertanyaan dari Arthuria.

"Kayneth Archibald El-Melloi, namanya cukup susah sih, tapi aku bisa mengalahkannya dengan mudah. Lalu Waver Velvet adalah penyihir yang masih sangat muda, tak berpengalaman sama sekali. Tohsaka adalah magus yang sangat hebat kataku, dia sangat terampil, namun dia mudah di prediksi. Lalu Kiritsugu dan Kirei ... Secara pribadi, menurutku mereka berdua merupakan Master yang paling berbahaya di seluruh perang ini."

Mendengar bahwa ada orang lain yang di akui oleh masternya sebagai partisipan yang berbahaya tak ayal membuat Arthuria menaikan alis kirinya. "Berbahaya? Apa kamu yakin, Naruto?"

"Ya, sangat yakin." Pemuda pirang itu lalu mengeluarkan ekspresi yang amat sangat serius, membuktikan bahwa dia tak sama sekali bercanda mengenai hal ini, dia tak bercanda ketika mengklaim Kiritsugu dan Kirei cukup mematikan. "Terutama adalah Emiya Kiritsugu, dia di kenal dengan sebutan The Magus Killer."

Emiya Kiritsugu, merupakan seorang pembunuh bayaran, dia terkenal akan itu. Namun kenyataannya, dia sendiri tak memandang dirinya sebagai seorang penyihir [Magus] , dan juga dia sangat hebat dalam melaksanakan pekerjaannya. Alasan Naruto menganggap Kiritsugu berbahaya, adalah karena orang itu ... Kiritsugu itu akan melakukan apapun untuk membunuh targetnya, apapun dan bagaimana pun caranya.

"Dia mirip denganku ..." Kata Naruto, sedangkan Arthuria masih sedikit terkejut melihat keseriusan masternya ini, sungguh hal yang begini jarang terjadi. Namun, Naruto melanjutkan. "Dia seperti cerminan diriku sendiri, dan pria ini memiliki kebiasaan membunuh tanpa rasa penyesalan sama sekali. Jika dia menggunakan sebuah taktik untuk membunuh lawannya, tak memikirkan meskipun itu tempat terbuka, dia akan menggunakan taktik itu tanpa memikirkan berapa banyak jumlah korban yang akan jatuh."

Kiritsugu adalah Master yang menakutkan. Jika pria itu berhasil mendapatkan katalis yang mampu memanggil Roh Pahlawan yang kuat, maka dapat di pastikan bahwa pria itu benar-benar mampu berdiri sampai akhir. Kiritdugu adalah seorang pembunuh, seseorang yang sudah terlatih dan terampil, dan yang terpenting adalah dia tak terikat dengan aturan manapun, bahkan untuk aturan dari Magus jugat tak ia hiraukan, dan pola pokr yang tak bisa di tebak itulah yang membuatnya sangat berbahaya.

Arthuria masih diam, cukup lama sampai akhirnya dia memberanikan diri bertanya. "Apa kamu bisa mengalahkannya, Naruto?"

Naruto yang sedari tadi hanyut dalam keseriusan menjadi tertawa pelan. "Tentu saja, jika dalam pertarungan yang adil sih. Namun sayangnya, pria itu tak pernah bertarung dengan adil, dia bertentang sekali denganku dalam hal ini." Kamudian entah kenapa, Naruto mengeluarkan seringai yang cukup mematikan. Seringai yang haus akan darah. "Lagipula aku bukan hanya seorang magus, aku adalah seorang tentara, seorang yang sudah di didik untuk membunuh, aku juga telah melihat bagaimana dunia mengalami peperangan, dan juga ... Menakhlukan dunia. Jika semua yang ku rencanakan berjalan dengan baik, maka tidak ada seseorang pun yang akan menjadi ancaman di sini."

.

.

.

Tiga hari kemudian...

Pada malam ini, di jalan raya yang terlihat sunyi. Naruto berkedip ketika melihat seorang wanita berambut putih panjang dengan mantel musim dingin putih berjalan lewat. Mata merah layaknya darah dan kulit putih pucat seperti salju. Paras cantik dan terlihat sangat ceria.

"Saber, apa aku tidak salah lihat, tapi kurasa memang benar kalau itu adalah homonculus milik Einzbern."

"Tidak, itu benar-benar homonculus ... Tapi ..."

"Emiya Kiritsugu adalah master dari Einzbern ..." Naruto menyipitkan matanya, memandang dengan intens pada wanita itu. "Ada sesuatu menyangkut kehadirannya, namun aku tak tahu apa itu."

Arthuria yang merasakan sedang di awasi oleh sesuatu dengan segera menyiapkan kuda-kuda bertarung, namun sebelum itu dia bertanya terlebih dahulu kepada masternya, Naruto. "Naruto, kurasa kita sedang di awasi, apa kau merasakannya?"

Naruto mencoba merasakan energi di sekitarnya setelah mendengar penuturan dari Arthuria. Pemuda itu memejamkan matanya sejenak. "Ya aku bisa, dua orang. Mereka beerada di sekitar atap rumah bercat hijau itu." Kata Naruto yang langsung di tanggapi Arthuria dengan menyiapkan gestur bertarung, menyiapkan kuda-kudanya.

"Apa aku harus membereskannya?" Arthuria bertanya.

Naruto menoleh ke arah Arthuria, dengan setelan pakaian kasual dengan lengan di lipat serta celana jeans hitam dengan sepatu ket putih, pemuda itu memberikan senyum ramah. "Tak apa, biarkan saja mereka. Lagipula kurasa mereka tak ada niat untuk menyerang kita. Lebih baik kita bergegas menuju ke kediaman Tohsaka."

Arthuria menghela napas, kemudian memijat keningnya dengan pelan walaupun tak ada sakit kepala yang ia rasa sih. "Apa kamu sadar, ini sudah terlalu malam untuk ke sana." Kata servant berwijud gadis piang manis itu dengan suara lelah.

Mendengar lalu menaikan sebelah alis. Naruto heran dengan sifat Arthuria, tak biasanya Raja Ksatria menjadi seperti ini, lagipula sekarang masih pukul sepuluh malam. "Arthuria, bukankah memang ini tujuan kita. Kita sudah merasakan kemarin bahwa semua servant dan master sudah sepenuhnya di panggil. Jadi, kita harus memastikannya dulu, terutama Tohsaka, karena mansion tempat pria itu tinggal tak jauh dari rumah kita."

"Iya aku tahu ... Tapi, ini akan membuang jam makan malam kita"

"Ugh ... Itu yang kamu khawatirkan." Naruto menggelengkan kepalanya. "Tidak akan, lagipula kita hanya mengawasinya sebentar."

Arthuria menghela napas, dia memang tidak bisa berdebat dengan masternya ini, jika begitu hanya kekalahan yang dia dapatkan. Padahal dia merindukan masakan masternya, dia merindukan hari-hari tenang dengan masternya.

"Baiklah, aku hanya mengikutimu saja." Ucap Arthuria kesal.

Naruto menghela napas dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sungguh ini tak lucu, melihat Arthuria yang awalnya dingin dan tak peduli dengan apapun, kini berubah menjadi gadis yang doyan makan.

"Aku tak mengerti dengan perubahanmu, Saber."

.

.

.

*Syuut*

*Duaaaar!*

Ledakan keras terdengar nyaring ketika seorang Assassins bertopeng putih di tusuk mati dengan tombak dan pedang bergagang emas.

"I-itu Archer." Ucap Arthuria yang wajahnya tiba-tiba memucat. Jujur gadis pirang itu sedikit terkejut.

Sedangkan Naruto hanya bersiul, sepertinya ini menarik bagi pemuda pirang itu. "Sial, ini benar-benar nmengagumkan. Kekuatan yang luar biasa."

Kedua pirang itu sedang duduk di dahan kayu dari pohon rindang tak jauh dari mansion milik keluarga Tohsaka. Mereka mengamati sejak tadi, dan ternyata seorang Servant Assassins telah mencoba untuk menyusup ke dalam kediaman Tohsaka, mengkin ini bisa dibilang sebagai serangan awal untuk membunuh Tokiomi. Namun sayangnya, ketika Assassins mencoba meliak-liuk dengan lincah untuk mencapai permata yang menjadi kunci pertahanan magis Tohsaka, ketika itu lah Servant lain menampakkan wajahnya, dan membunuh Assassins dengan sekali serang.

Dari apa yang di amati oleh Naruto dan Arthuria, Archer adalah seorang pria mudayang memiliki postur tubuh cukup tinggi dengan armor emas dan rambut pirang emas yang berdiri bagai nyala api. Dia tampan dan terkesan elegan. Mata merah laksana darah, dia juga mengeluarkan aura yang memancar misterius yang mungkin akan membuat orang menjadi layu hanya dengan melihatnya saja. Memiliki tubuh yang bisa di bilang sempurna dengan kilau emas menggambarkan bahwa dia memiliki kemegahan yang memancar layaknya armor yang ia kenakan.

Kesan pertama dari Naruto adalah, pria ini cukup kuat atau mungkin setara dengan dirinya yang dulu saat masih berada di Elemental Nations.

"Itu adalah Noble Phantasm." Arthuria bergumam kecil, jujur dia sangat terkejut ketika melihat Archer melemparkan semua senjata mistis dari lingkaran riak air emas di belakangnya, itu sangat mudah untuk membunuh Assassins tadi. " Apa dia benar-benar seorang Archer?" Arthuria masih sedikit tak percaya dengan apa yang ia lihat.

Beda dengan Arthuria yang terkejut, Naruto hanya menghela napas lelah. "Huft ... Sepertinya Tokiomi sudah memanggil Servant yang sangat kuat, bahkan pria itu memiliki banyak sekali Noble Phantasm. Dia benar-benar monster bukan?"

Arthuria mengangguk, namun matanya menyipit ketika mengobservasi Archer melalui mata hijaunya. "Dia benar-benar servant tingkat tinggi."

"Oi ... Cacing kecil yang sedang memanjat pohon di sana. Tunjukan dirimu, jangan sampai kau menderita karena menolak perintah seorang Raja Agung."

Naruto menatap suram pada Arthuria di sampingnya, sebelum kedua pirang itu melompat dari dahan pohon tempat mereka bersembunyi tadi. Setelah semua apa yang Naruto lihat, jujur dia tidak ingin di hujani banyak pedang oleh Archer.

Archer menyeringai kecil melihat kedua pirang itu. "Sekarang jelaskan, apa yang membuatmu berhak menatap keagungan seorang Raja dengan kepala mengadah seperti itu."

Naruto meletakkan telapak tangannya pada bahu Arthuria, dia berfikir saat ini agar bisa keluar dari situasi merepotkan tersebut. Jujur dia masih tak tahu kekuatan penuh dari Archer, itulah yang membuatnya tetap tenang dan berusaha agar tidak gegabah.

Namun Naruto menyadari bahwa Archer tampaknya merupakan seseorang yang memiliki ego tinggi dan sombong tentunya. Itu terbukti karena pria itu menyebut dirinya sebagi Raja berkali-kali.

"Maafkan kami," Arthuria melototkan matanya ketika melihat dan mendengar kalau Naruto berkata halus seperti itu. "Aku dan temanku hanya ingin tahu penyebab keributan seperti tadi. Maaf jika kami mengganggu anda."

Archer, pria berarmor emas itu hanya menaikan alisnya dengan elegan. "Jadi kamu menyadari akan citraku sebagai seorang Raja. Hahaha ... Ku rasa mungkin itu sudah cukup untuk menebus kesalahanmu, zashu!"

Naruto tertawa dalam hatinya, sungguh ia tak menyangka ini akan benar-benar berhasil.

Archer melebarkan seringainya sebelum ia melanjutkan perkataannya. "Namun itu tidak dapat menjelaskan keberanianmu untuk menatap langsung kepada ku. Membungkuk kepada ku sebagi tanda kepengecutanmu, kemudian tunduklah di bawah kaki ku. Jelaskan dengan cepat! Jangan sampai aku menyia-nyiakan hartaku hanya untuk membunuh cacing tanah sepertimu."

Naruto mengeraskan genggaman tangan pada bahu Arthuria, dia tahu kalau Arthuria sebagai Raja Ksatria dan pemimpin dari Knight of the Round Table akan merasa terhina akan itu.

"Maaf, hanya ini yang bisa saya katakan. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, kami hanya ingin tahu penyebab dari kebisingan tadi. Dan begitu kami menemukannya, kami berniat menjauhkan diri dari pertarungan anda agar tidak menghalani pembantaian anda. Maafkan kepengecutan pria ini, Raja yang agung." Naruto lalu membungkuk rendah, lalu memberikan lirikan sebentar pada Arthuria yang enggan untuk melakukan hal sama sepertinya.

Setelah cukup lama, dengan berat hati Arthuria mengikuti sikap masternya. Yah ... Walaupun sebenarnya itu tak menyenangkan sih, sungguh kehormatannya merasa terhina akan itu. Namun dia akan tetap mempercayai masternya, apapun rencana dari magus pirang bermata biru itu selalu di luar dugaan, namun anehnya selalu berhasil.

Jujur bagi Arthuria, dia cukup jengkel dengan gagasan itu. Apalagi harus membungkuk pada pria sombong dan songong seperti itu. Dia benar-benar akan memberikan pelajaran pada masternya itu, sungguh, dia akan memberikannya nanti.

Terdiam dengan suara semilir angin datang melintas. Sampai akhirnya sang Archer berkilauan emas itu tertawa.

"Hahaha ... Kau cukup terampil bermain kata-kata, aku penasaran siapa yang mengajarimu, Zashu! Baiklah, aku kan membiarkan kamu dan temanmu untuk hidup, ini faktanya hanya karena kau sudah cukup menghiburku. Pergilah, kesabaran dan pengampunan dari seorang Raja aku berikan padamu." Kata Archer, dia mengibaskan tangannya pada udara kosong memberikan izin kepada duo pirang di hadapannya untuk pergi menjauh.

Naruto tersenyum tipis. " Terima kasih, Raja Pahlawan."

Dan dengan kilatan kuning emas, kedua pirang itu pergi meninggalkan seorang Archer yang terkejut dalam bingung.

"Menghibur sekali. Benar-benar sandiwara yang amat-teramat menarik."

.

.

.

Kilatan emas muncul di atas ruang tengah yang berlantaikan tatami. Di dalam rumah yang Naruto beli.

Si pemuda pirang dengan poni layaknya jambang membingkai pipinya terlebih dahulu bersuara.

"Huuh ... Beruntung kita tidak terluka sama sekali." Dia kemudian melirik ke arah Arthuria, yang hanya diam dari tadi. "Maaf tentang itu, Saber. Tapi kurasa itu adalah yang terbaik yang bisa kita lakukan."

Arthuria yang bersiap-siap untuk menceramahi masternya itu menjadi lunak ketika melihat mata biru Naruto yang memandang dirinya lembut dan juga ... Tulus. Dari ekspresi itu dapat Arthuria ketahui bahwa ada sedikit rasa penyesalan dari Naruto, dia lalu mendesah lelah sebelum duduk di kursi kayu sebelahnya.

"Kau ku maafkan, Naruto." Kata Arthuria, dan entah mengapa dia terasa lapar kali ini. Mungkin dengan Naruto memasakan sesuatu untuk dirinya, masternya tersebut akan dia maafkan sepenuhnya oleh Arthuria.

"Ah ... Leganya, Arigatou, Saber."

"Tidak semudah itu, ferguso ... Kau harus membuatkanku makan malam ... SEKARANG!"

Naruto memucat, sungguh dia terkejut dengan ini. Sepertinya Arthuria memang benar kesal dengannya, dan apa-apaan dengan kata ferguso itu. Darimana Arthuria mendapatkannya, sungguh misteri yang merepotkan.

"Sial ... Aku sudah menduganya. Maa, tak apalah, lagipula hitung-hitung sebagai permintaan maafku padamu."

Dan begitulah pada akhirnya malam ini ... Naruto dengan segera pergi ke dapur untuk memasakan sesuatu untuk servant rakusnya itu, Arthuria [Saber]. Namun tak masalah, setidaknya dia sudah tahu akan siapa identitas sebenarnya dari servant milik Tokiomi. Mari kita lihat, apa yang akan terjadi dalam beberapa hari ke depan, akan takdir, akan nasib, ataukah baik dan buruk. Semuanya akan terungkap dengan jalannya perang.

Yah ... Perang yang sangat menyebalkan, namun juga menarik untuk di nantikan.

AND CUT...

A/N:

Biar ku perjelas terlebih dahulu, Naruto di sini sudah sedikit lemah di bandingkan Naruto di Canon pada saat Perang Shinobi ke 4. Bisa di bilang dia di nerf sih. Namun latar belakang Naruto pada saat di elemental nation di fic ini akan jauh berbeda dari canon. Yang mana dia sama sekali tidak memiliki Kyuubi dalam tubuhnya. Masa lalu dari Naruto akan sedikit demi sedikit akan terungkap seiring jalannya cerita. Bisa lewat flashback ataupun mimpi yang akan di alami Naruto.

Naruto bukannya takut dengan Gilgamesh, hanya saja di fic ini Naruto tidak bodoh yang langsung main serang aja. Dia pintar, itu sudah di jelaskan di chapter sebelumnya. Dia tidak tahu kekuatan penuh dari Gilgamesh, makanya dia tidak mau melawannya dan memilih untuk berbicara sopan.

Saya sudah mencari referensi cerita dari LN Fate/Zero secara langsung. Dan tentunya alur dalam Fate ini akan saya ubah sepenuhnya. Mungkin akan ada delapan peserta dalam heaven's feel ke 4 ini, nantikan saja kelanjutannya.

Sampai sini saja yah, saya mau langsung ngetik chapter selanjutnya karena jujur saya lebih suka mengentik ini di bandingkan kedua lainnya. Maaf mengecewakan dan saya mohon reviewnya senpai. Please, saya butuh penyemangat untuk mengetik fic ini.

Read and Review, Please..

Thanks, Xie Xie, Danke, Arigatou dan Terima kasih.

Mordred, Out...