Diruang yang tak memiliki rasa kesatuan sama sekali, diruangan itu melayang dengan tenang seorang pemuda bersurai pirang, dia adalah Namikaze Naruto, Knight dengan sejuta bakat yang dimilikinya, meski dia sendiri tidak mengakui jika dia sangat berbakat.

Naruto, melayang diruang itu, terombang-ambing tanpa tujuan sampai tak lama kemudian, dia tersadar dan terlihatlah sepasang shappire indah yang mampu memberikan rasa nyaman bagi siapapun yang menatapnya.

Naruto mengerjapkan matanya beberapa kali, menyesuaikan intesitas cahaya yang masuk kedalam retinanya, setelah pandangannya jelas hal yang pertama Naruto lihat adalah langit dengan warna beranekaragam yang tercampur satu sama lain, Naruto menatap hal jtu sejenak, mengangkat tubuhnya dan mengambil posisi duduk.

Naruto, melempar pandangannya kesekitar dan hanya kosongan saja yang dapat ia lihat. Menyadari jika dirinya berada ditempat yang tidak diketahui, Naruto menghela nafas pelan dan bangkit dari posisi duduknya.

"Baiklah, sekarang apa yang harus aku lakukan? Tempat ini sepertinya mirip dengan [Library World] milik, Ophis."

Naruto bergumam pelan selagi ia mengamati tempat ini, berdasarkan dari pengalamannya, tempat ini memiliki kesamaan dengan dunia yang ditinggali oleh para Divas-nya, bagaimana ia bisa berasumsi seperti itu? Yeah, karena sejauh yang ia tahu, sebelum ia berakhir ditempat ini dirinya sedang beristirahat dikamarnya setelah kelelahan berlatih [Mana Control].

Dari hal tersebut, Naruto mengambil asumsi jika sekarang ini ia sedang berada dialam bawah sadarnya, tapi yang menjadi pertanyaannya disini, dunia milik siapa ini? Tidak ada satupun aspek tempat ini yang dapat disamakan dengan Dunia milik para Divas-nya, dan dengan fakta itu, Naruto menduga jika dia saat ini sedang berada didunia milik...

[Heh~ menarik... Baru kali ini aku melihat ada orang yang setenang ini saat menghadapi situasi terjebak ditempat yang tidak diketahui]

... Makhluk lain... Naruto terdiam mendengar suara berat nan menakutkan yang bergema dibelakangnya, dengan pelan Naruto menoleh kebelakang dan seketika itu juga ia membisu... Tepat didepan Naruto saat ini, berdiri seekor makhluk yang hanya dapat digambarkan dengan satu kata [Monster].

Makhluk... Tidak, Monster itu memiliki bentuk seekor Naga(?) Dengan warna merah agak gelap, Monster itu memiliki panjang tubuh yang dapat dengan mudah melewati ratusan meter. Sejauh ini, Monster didepannya adalah makhluk terbesar yang pernah dilihat olehnya.

Makhluk itu mengerjapkan matanya beberapa kali, ia terlihat bingung mendapati Human didepannya hanya diam dan menatap kearahnya dengan ekspresi datar.

[Uhn, ini aneh. Kenapa kau tidak terkejut setelah melihat wujudku?.]

Makhluk itu bertanya selagi ia memiringkan lehernya dengan bingung, Naruto menghela nafas pelan dan menatap datar makhluk didepannya.

"Ya, katakan-lah aku tidak terkejut saat melihatmu karena aku sudah terbiasa melihat bahkan membunuh makhluk yang memiliki ukuran jauh lebih besar dari ukuran tubuhku."

Itu bukan kebohongan, faktanya Naruto memang pernah bertemu dan melawan makhluk yang ukuran-nya beberapa kali lipat dari ukuran tubuhnya. Viper Desert, Chimera, dan Manticore. Dua dari tiga pertemuannya dengan Monster itu berakhir dengan pertarungan sengit yang berakhir dengan tewasnya monster itu ditangan Naruto. Juga Naruto pernah melihat wujud sejati dari Azi Dahaka yang mana membuat dirinya sedikit merinding saat bertemu dengan Azi Dahaka dalam wujud aslinya. Makhluk itu mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum ia menyeringai kecil, memperlihatkan susunan gigi tajam yang nampak lebih dari mampu menghancurkan tulang dengan mudah.

[Menarik, jadi kau mengatakan kalau kau pernah bertemu dengan makhluk yang jauh lebih besar dan berhasil selamat setelah melawan makhluk itu?.]

"Apa kau mendengarkanku tadi? Aku tidak hanya bertemu dan bertarung dengan mereka tapi aku juga membunuh mereka..."

Ucap Naruto membuat Makhluk besar didepannya mengeluarkan tawa mengelegar yang bahkan mampu membuat organ dalam Naruto bergetar, Makhluk itu tertawa selama beberapa saat sebelum menghela nafas panjang.

[Ya, sudah lama sejak terakhir kali aku bisa tertawa selepas itu, Human-kun. Kau benar-benar menarik.]

"Ya, terimakasih... Jadi..." Naruto bersedekap dada dan menatap datar makhluk besar didepannya."... Siapa kau? Dan tempat apa sebenarnya ini?."

[Untuk pertanyaanmu aku hanya bisa menjawab pertanyaan yang kedua, apa kau tidak masalah dengan itu?.]

Ungkap Makhluk besar itu membuat Naruto mengerutkan dahinya dengan bingung, dia tidak bisa mengatakan siapa dia sebenarnya ya, apa dia memiliki larangan untuk mengungkapkan jati dirinya karena suatu hal? Naruto mengangkat bahu tak peduli, ia tidak ada hubungannya dengan hal itu, jadi tidak masalah... Naruto mengangguk pelan.

"Ya, aku tidak masalah dengan itu..."

[Baiklah. Kalau begitu aku akan menjelaskan tempat apa ini... Tempat ini disebut [Lur Amesta], atau disebut juga [Tanah Impian], ditempat ini mimpi, dan harapan dari para makhluk diseluruh Benua berkumpul dan menjadi satu... Tempat ini terpisah dari hukum dunia nyata, ya lebih mudahnya kau bisa menyebut tempat ini sebagai [Dunia Mimpi]...]

"Tanah Impian... Tempat dimana semua mimpi dan harapan terkumpul... Dunia Mimpi?."

Naruto mengulang perkataan dari makhluk itu seolah memastikan perkataan itu tertanam kuat diotaknya, Naruto terdiam sejenak sebelum ia mengalihkan pandangannya dan menatap datar makhluk didepannya.

"Aku ada pertanyaan untukmu, Makhluk yang tinggal Didalam dunia mimpi..."

[Hooh~ dan apa itu? Aku akan menjawabnya selama aku bisa diijinkan untuk menjawabnya...]

"Kenapa aku bisa berada ditempat ini? Dari apa yang aku tangkap dari perkataanmu sebelumnya, tempat ini adalah dunia yang hanya dapat dimasuki oleh mimpi dan harapan, lalu kenapa aku yang notabene-nya seorang manusia bisa berada ditempat ini?."

Naruto bertanya dengan datar membuat Makhluk besar didepannya terdiam selama beberapa saat sebelum dia mengeleng pelan.

[Aku juga tidak tahu... Memang benar jika dunia ini hanya memperbolehkan mimpi dan harapan masuk ketempat ini, dan kenapa kau bisa berada ditempat ini, aku juga tidak mengetahuinya...]

"Begitu..."Naruto bergumam pelan selagi ia mengerahkan seluruh saraf yang ada diotaknya untuk mencari kesimpulan yang masuk akal kenapa atau bagaimana ia bisa berada ditempat ini, namun tidak peduli seberapa keras Naruto melakukannya ia tidak dapat menemukan titik terang atas masalah ini, Naruto yang tengah berpikir tiba-tiba terintrupsikan ketika mendengar gumaman dari Makhluk besar didepannya.

[Oh! Aku ingat sekarang...]

Makhluk itu memukul telapak tangannya sendiri seolah ia telah mengingat sesuatu yang penting dan menatap kearah Naruto yang juga menatap datar dirinya, Makhluk besar itu mengulas seringai kecil diwajahnya.

[Aku ingat jika dulu pernah ada orang yang bernasib sama sepertimu, yang secara tiba-tiba terbawa ketempat ini...] Makhluk itu memejamkan matanya seolah mencoba mengali ingatannya.[uhm~ jika tidak salah kejadian itu sudah terjadi cukup lama sampai aku tidak bisa mengingat dengan jelas seperti apa rupanya tapi yang jelas orang itu berasal dari Ras Human sepertimu].

"Begitu. ada seseorang yang pernah datang ketempat ini sebelumku... Lalu apa kau tahu bagaimana caranya dia keluar dari tempat ini? Jujur saja aku tidak ingin terjebak didunia ini selama-nya..."

Ucap Naruto datar membuat Makhluk besar itu terdiam sejenak sebelum ia menghela nafas yang entah kenapa terdengar sedih.

[Jika kau ingin keluar dari tempat ini, maka aku bisa mengeluarkanmu dari tempat ini...]

"Benarkah? Lalu bisakah kau mengeluarkanku dari tempat ini secepatnya..."

[Ya, aku dapat melakukannya, sebentar...]

Makhluk besar itu merapalkan Mantra dengan lantunan yang terdengar seperti nyanyian yang terdengar nyaman ditelinga siapapun yang mendengarnya bahkan Naruto tanpa sadar ikut menikmati lantunan musik itu, tak lama setelah rapalan mantra selesai, tepat dibawah kaki Naruto muncul lingkaran magic berwarna merah yang berputar dengan pelan.

"Hooh~"Naruto bergumam takjub melihat lingkaran magic dibawah kakinya, lingkaran magic itu sangat indah hingga membuat orang yang tidak terlalu familliar dengan susunan aksara sihir dibuat terkagum dan mengakui jika susunan lingkaran magic ini sangat indah.

[Nah sekarang tinggal menunggu lingkaran magic itu aktif dan kau akan langsung berada ditempat dimana seharusnya kau berada... Meski singkat tapi aku menikmati obrolan kita tadi...]

Ucap Makhluk besar itu dengan nada yang terdengar lembut namun entah kenapa bagi Naruto yang mendengarnya nada lembut itu menyimpan setitik kesedihan didalamnya, Naruto menatap Makhkuk besar didepannya sebelum ia mengalihkan pandangannya kesekitar dan ia hanya menemukan kehampaan sejauh mata memandang, hanya gelembung-geiembung dengan warna seindah pelangi yang melayang kesana-kemarilah yang menjadi penyejuk ditempat hampa ini...

Begitu... Tempat ini tidak ada seorangpun yang dapat diajak berbicara, tidak aneh jika Makhkuk didepannya yang memiliki kecerdasan merasa kesepian, Naruto terdiam ketika sekelebat ingatan melintas dibenaknya...

[Ada orang didunia ini yang suka hidup sendiri, namun tidak ada satupun orang didunia ini yang mampu bertahan dalam kesendirian.]

'Bahkan itu berlaku untuk Makhluk lain ya...'

Naruto mengulas senyuman tipis lalu mengarahkan pandangannya dan menatap Makhluk besar didepannya yang untuk beberapa alasan juga menatap dirinya.

"Hey... Jika kau mau..."Naruto perlahan menjulurkan tangannya kearah Makhluk itu yang menatap tindakan Naruto dalam diam."... Apa kau ingin ikut denganku?." pertanyaan yang terlontar dengan tulus itu membuat makhluk besar itu terdiam dan melebarkan matanya dalam rasa terkejut yang tergambar jelas diwajahnya.

Makhluk itu nampak terdiam selama beberapa saat sebelum ia mengeleng pelan dan mengulas senyuman tipis.[Aku senang dengan niatanmu, tapi maaf aku tidak neninggalkan tempat ini, tidak sebelum [Waktu Yang Dijanjikan] berakhir...].Tolak makhluk itu dengan nada lembut, Naruto terdiam sejenak, dia tidak mendengar lagi nada sedih dari suara yang dikeluarkan Makhluk besar itu, Naruto mengangguk pelan dan menarik kembali uluran tangannya dan tersenyum tipis.

"Aku hormati keputusanmu itu..., hey..."

[Um... Ada apa?.]

"Apa menurutmu kita dapat bertemu lagi suatu saat nanti?."

Tanya Naruto seraya menatap langsung kemata makhluk besar itu yang terdiam sebelum ia mengeleng pelan.

[Entahlah...]

Makhluk itu menjawab dengan lirih sebelum menatap langsung kemata Naruto.

[Aku tidak tahu, tapi aku berharap kita dapat bertemu lagi... Sudah lama sejak terakhir kali aku bertemu dengan seseorang yang menarik sepertimu]

Ucap Makhluk itu membuat Naruto memasang senyuman tipis diwajah tampannya, perlahan tubuh Naruto mulai bersinar dan terurai menjadi cahaya yang terbang keudara.

"Kalau begitu saat bertemu lagi aku akan menceritakan beberapa kisah pengalamanku yang menarik padamu..."

Naruto mengatakan itu dengan tulus membuat Makhluk itu tersenyum, sebuah senyuman lembut yang membuat Naruto tertegun karena untuk sesaat ia seperti melihat bayangan seorang perempuan yang secara samar muncul dibenaknya, tapi siapa dia Naruto tidak tahu.

[Aku menantikan pertemuan kita yang selanjutnya, sampai jumpa, Human-kun...]

Naruto tersadar dari lamunannya dan mengeleng pelan untuk mengusir pemikirannya barusan, lalu memasang senyuman tipis.

"Ya, sampai jumpa lagi... Ah, ngomong-ngomong namaku, Namikaze Naruto! Kau bisa memanggilku Naruto..."

[Kalau begitu perkenalkan namaku-,]

Tepat saat Makhluk itu ingin mengatakan namanya, Naruto sudah terlebih dahulu tertelan oleh cahaya menyilaukan dari lingkaran magic, dan setelah cahaya itu menghilang hanya kehampaan saja yang terlihat oleh Makhluk itu. Makhluk besar itu menatap tempat dimana Naruto berdiri beberapa saat yang lalu sebelum ia memejamkan matanya dan tersenyum tipis

[Namikaze Naruto... Kah?. Um, akan kuingat nama itu... Naruto... Naruto...]

Makhluk itu menggumamkan nama itu beberapa kali seolah mencoba mengukir nama itu kedalam benaknya, Makhluk itu mendengus geli pada dirinya sendiri karena melakukan hal yang tidak seperti dirinya yang biasanya, Makhluk itu merentangkan sayapnya dan melipatnya sebelum merendahkan tubuhnya, mencari posisi yang nyaman sejenak sebelum ia menutup matanya dan tertidur.

~[Prolog]~

Dipagi hari yang cukup cerah dimana matahari bersinar dengan cukup terang untuk melakukan tugasnya membangunkan para makhluk hidup untuk melakukan rutinitas mereka, tak terkecuali seorang pemuda pirang yang sedang tertidur nyenyak diatas ranjangnya...

Pemuda itu-, Namikaze Naruto mengerang pelan saat sinar matahari masuk dan mengusik waktu tidurnya.

Perlahan pemuda itu membuka kelopak matanya dan memperlihatkan sepasang shappire indah pada dunia, Naruto mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk kedalam matanya, dan setelah pandangannya menjadi jelas, terdiamlah ia ketika melihat atap bangunan yang tidak ia kenal, tunggu sebentar itu bahkan sebuah atap tapi Kanopi! Ini bahkan bukan kamarnya!?

Naruto yang menyadari hal itu mencoba bangkit untuk melihat dimana ia berada, namun saat ia hendak melakukan itu tiba-tiba ia merasa tubuhnya terasa lebih berat daripada biasanya, dan yang lebih aneh lagi tubuhnya terasa berat bukan dibagian dadanya dimana salah satu Diva-nya, Ophis yang menyatakan Dada bidang Naruto adalah wilayah territory miliknya biasa tidur, titik berat yang ia rasakan berada dikedua lengannya, juga entah kenapa ia dapat merasakan sensasi lembut pada kedua lengannya.

Tunggu sebentar, lembut dan hangat?... Mungkinkah!? Naruto dengan cepat menoleh kekanannya dan terkejutlah ia ketika mendapati seorang perempuan cantik bersurai emas tergerai bebas sedang tertidur lelap selagi memakai lengannya sebagai pengganti guling, Naruto kenal perempuan ini karena dia adalah Perempuan yang menjadi tunangan pertama-nya, Ayame [Alvarez] Shaga.

Naruto terdiam menatap wajah damai Shaga sejenak, wajah cantik dengan bulu mata lentik yang menawan, hidung kecil yang nampak imut juga... Naruto menurunkan sedikit pandangannya sedikit kebawah dan matanya terkunci pada bibir pink tipis yang terlihat lembut yang mampu mengelitik minat laki-laki manapun untuk mengecup dan merasakan manis dari bibir itu... Yap, itu adalah wajah tidur yang sangat menggoda!?

'Kuso! Naruto Junior! Apapun yang terjadi bertahanlah!'

Naruto berkomat-kamit mencoba mengusir iblis nafsu dalam dirinya, dan dengan sekuat tenaga memalingkan wajahnya kearah yang berlawanan dan sedetik kemudian ia menyesali keputusannya, tepat digaris penglihatan Naruto wajah damai seorang perempuan yang tak kalah cantik dari Shaga berada tepat beberapa senti didepannya, Naruto menatap wajah perempuan itu, dan ia menangis dalam hatinya saat ia mengenali siapa perempuan itu, dia adalah Arthuria Pendragon, Tunangan keduanya.

Naruto menatap wajah damai Arthuria dan sama seperti Shaga barusan, ia juga menahan diri mati-matian untuk tidak mengecup bibir peach yang terlihat manis itu, Naruto memejamkan matanya dan mengarahkan pandangannya kearah atap kanopi, wajahnya memang terlihat tenang namun didalam hatinya Naruto sedang menjerit tersiksa.

'Buddha-sama! Hotake-sama! Prince Shotoku! Aristoteles! Mashu! Atau siapapun, tolong keluarkan aku dari situasi ini!?.'

Naruto menjerit kacau, bahkan ia tanpa sadar menyebut nama dari bapak ilmu pengetahuan, dan karakter Shielder dari Game Gacha yang ada didunia sebelumnya. Naruto berjuang sekuat tenaga untuk menahan Naruto junior yang ada dibawah sana agar tidak mengamuk dan membabi buta dalam situasi ini.

'Naruto Junior! Bertahanlah! Kau pasti bisa!.'

"Eng... Naruto-kun..."

"Naruto..."

'Gyaaaaa!'

Naruto berteriak dalam batinnya ketika merasakan sensasi lembut yang semakin menekan dikedua lengannya karena Shaga dan Arthuria mengeratkan pelukan mereka pada lengannya, Naruto menangis darah.

'Dareka... Selamatkan aku...'

Naruto memohon dengan tulus dari dasar hatinya yang terdalam, dan seolah tuhan mendengar permohonan itu, Shaga dan Arthuria perlahan membuka kelopak mata mereka, Dark-Purple dan Emerlad indah memberikan salam pada dunia, baik Shaga dan Arthuria mengangkat tubuh mereka dari ranjang dan mengusap pelan mata mereka, dan setelah penglihatan mereka menjadi jernih keduanya menatap kearah ranjang dimana Tunangan mereka, Namikaze Naruto, seorang Knight yang berhasil mengalahkan Wizard berbakat yang membangkitkan Teknik terkuat Clan Uchiha didetik-detik terakhir itu telah menjadi seputih tepung.

"Selamat pagi, Naruto-kun..."

"Se-Selamat pagi, Naruto..."

""Tadi Malam, kau sangat luar biasa...""

Suara yang terucap dengan nada menggoda dan malu-malu itu bagaikan palu godam yang menghantam kesadaran Naruto yang dengan cepat langsung bangkit dari ranjang dengan mata membola sempurna yang menatap kearah Shaga dan Arthuria yang memasang ekspresi menggoda(Shaga) dan malu(Arthuria), tubuh Naruto bergetar.

"Se-semalam... Semalam apa yang sudah aku lakukan pada kalian?."

Naruto bertanya dengan nada gemetar, ayolah jangan katakan jika ia dan kedua tunangan-nya ini baru saja melakukan kegiatan 'kyakya-ufufufu' semalam!.

"Ara, kau tidak mengingatnya? Semalam kau sangat luar biasa, aku sampai tidak bisa mengatakan apa-apa lagi..."

"A-Aku juga, i-itu pertama kalinya aku melihat sesuatu yang menakjubkan seperti itu..."

Shaga menangkup pipinya yang merona dan tersenyum geli sementara Arthuria mengangkat selimut dan menyembunyikan wajahnya yang memerah dengan itu.

Naruto terdiam mendengar perkataan itu, ia dengan segala usaha mengerahkan setiap saraf diotaknya, mencoba mengingat apa yang terjadi semalam dan sialnya ia tidak dapat mengingatnya!?. Apa yang sebenarnya sudah kulakukan pada kalian!?. Naruto berteriak dalam hati. Tanpa Naruto sadari Shaga dan Arthuria saling menukar tatapan dan tersenyum geli, mereka sepertinya senang melihat Tunangan mereka yang biasanya selalu memasang ekspresi tenang dan terkadang dingin itu kesusahan, keduanya tertawa kecil.

Naruto yang sedang putus asa mencoba mengingat perbuatan bejat-menurutnya-semalam terintrupsikan pada suara tawa merdu dari kedua tunangannya, ia mengalihkan pandangannya dan menatap Shaga dan Arthuria yang sedang menahan tawa mereka. Melihat itu, sedetik kemudian Naruto tahu jika ia baru saja dikerjai! Tubuh Naruto bergetar menahan kesal, namun rasa kesal itu lenyap tanpa bekas saat ia melihat kedua tunangannya dapat tertawa dengan begitu bahagia-nya, Naruto tersenyum tipis dan perlahan mengangkat tangannya dan menepuk puncak surai Shaga dan Arthuria yang langsung menatap kearah Naruto dan saat mereka melakukannya, mereka langsung menerima sentilan pada dahi mereka hingga membuat kedua putri bangsawan dengan status sosial atas itu mengaduh kesakitan dan mengusap dahi mereka yang memerah.

"Apa yang kau lakukan Naruto!."

"Benar! Apa yang kau lakukan! Aku menolak KDRT!."

"Apa yang kalian katakan? Aku hanya memberi hukuman kecil pada kalian karena telah berani mengerjaiku, dan Selamat pagi untuk kalian, Hime-Tachi..."

Naruto mengatakan itu dengan senyuman tipis diwajah tampannya, Shaga dan Arthuria terdiam sebelum ia tersenyum tipis. Setelah menukar sapaan, Naruto menatap datar kedua tunangannya itu.

"Jadi, Hime. Apa kalian bisa menjelaskan padaku dimana ini, dan kenapa kita bisa berada disini?."

Shaga dan Arthuria terdiam mendengar pertanyaan itu, keduanya saling pandang sejenak sebelum mereka kembali menatap kearah Naruto.

"Naruto-kun... Apa kau tidak ingat kejadian semalam?."

Naruto menaikan satu alisnya bingung."Kejadian semalam?."ulang Naruto dibalas anggukan kecil dari Arthuria.

"Benar, apa kau lupa semalam kau diundang keistana oleh Yang Mulia, Vasco Strada untuk menghadiri jamuan makan malam?."

"Um, setelah kau mengatakannya aku jadi ingat semuanya."

Benar, seperti yang dikatakan Arthuria, Naruto semalam diundang keistana untuk menghadiri jamuan makan malam yang diadakan oleh Yang Mulia, Vasco-sama, saat itu Naruto tidak sendirian ia bersama dengan teman-temannya yang turut serta menghadiri jamuan itu.

Dirinya, Ikuse Tobio, Cao Cao, Arthur Pendragon, Rock Lee, Asama Miya, dan Souji Okita.

Mereka adalah para pemenang dari turnamen Great Royal yang diadakan oleh Academy Hirozimon, alasan mereka diundang keistana mungkin untuk menerima penghargaan atas usaha mereka memenangkan Turnamen itu, yeah atau setidaknya itulah yang terlihat dipermukaan, alasan sebenarnya kenapa mereka bertujuh diundang adalah karena Vasco Strada ingin menjelaskan kepada keenam Sahabatnya yang lain tentang Rencana skala besar yang sedang Vasco-sama dan dirinya kerjakan...

Awalnya, Vasco Strada mengira jika keenam murid yang merupakan sahabat baik dari Tunangan Cucunya, Namikaze Naruto akan ragu atau mungkin menolak saat ia selesai menjelaskan rincian tentang rencana skala besar itu namun ia salah. Vasco sama sekali tidak melihat keraguan dimata keenam Knight hijau itu, dan Vasco sempat mengulas senyuman tipis saat dia mengingat perjanjiannya dengan Naruto.

Perjanjian dimana salah satunya adalah pemuda itu meminta bahwa teman-temannya yang telah memenangkan Turnamen Great Royal untuk ikut ambil bagian dalam rencana itu, Vaaco sempat menolak karena menurutnya membeberkan Rencana Skala Besar itu sama sekali bukan ide yang bagus, namun setelah menerima argumen yang menyakinkan dari Naruto, Vasco akhirnya menyerah dan memutuskan mengabulkan permintaan Naruto.

Tapi, sayangnya meski Vasco mengizinkan ia masih harus melihat kemampuan mereka berenam untuk melihat sejauh mana Vasco bisa mempercayakan Rencana berskala besar itu pada mereka dan hal hasil mereka berenam melakukan Sparring dengan Vasco Strada, namun dipertengah sparring Naruto meminta ijin untuk ikut dalam sparring, dirinya mengatakan jika tanpa dirinya kemampuan sahabat-sahabatnya tidak akan berada pada puncaknya, awalnya Vasco sempat meragukan perkataan Naruto tapi ternyata apa yang dikatakan Naruto ada benarnya, tepat setelah dirinya masuk kedalam lapangan tanding, udara diarea itu langsung berubah.

Pertarungan yang sebelumnya terasa biasa saja mulai menjadi berat saat Naruto mengambil ahli komando, dan Vasco Strada semakin dibuat terkejut saat Naruto memerintahkan Ikuse Tobio untuk melepas Segel dari [Harta Mulia]-nya dan berkat itu Vasco Strada memberikan Izin penuh kepada Naruto untuk menentukan segalanya, dengan cacatan rencana itu harus berhasil. Dan Naruto menyanggupinya.

Naruto tersenyum tipis semua mengingat itu, tanpa ia sadari Arthuria dan Shaga juga ikut tersenyum melihat dirinya. Naruto menghapus senyuman itu dan menatap kearah kedua tunangan itu.

"Jadi Hime, dimana mereka? Dimana yang lain?."

"Ah, jika kau bertanya dimana yang lain maka..."

"Mereka ada disana..."

Naruto terdiam menatap Arthuria yang menunjuk kearah samping, Naruto mengikuti arah yang ditunjuk Arthuria dan seketika itu juga Naruto membeku, tepat digaris pengelihatannya saat ini, berdiri Totem Polem yang mengintip dari celah pintu dengan susunan dari yang terbawah: Tobio, Miya, Okita, Arthur, Cao Cao dan Lee. Samar-samar Naruto dapat mendengar suara dari arah mereka.

"Mati! Matilah seratus kali! Naruto!."

"I-Ini memalukan..."

"Ufufu~."

"Ane-ue... Kau sudah dewasa..."

"********"

"Etto, Cao Cao-san, bukankah itu Mantra kutukan?!."

Naruto menatap para sahabat-nya itu dengan ekspresi yang tak terbaca, perlahan Naruto beranjak dari ranjang dan melangkah menuju pintu itu, melihat kedatangan Naruto yang mengarah menuju mereka, keenam orang itu dengan panik mencoba melarikan diri, namun entah siapa yang memulai tiba-tiba saja menara Totem Pole itu runtuh dan condong kedepan, mendobrak pintu itu dengan keras.

"Kyaaa!"

"Uwaaa!"

"Lagiiii!?"

Bruuuk!

Naruto terdiam menatap sahabat-sahabatnya yang saling tumpang-tindih layaknya karung beras dipasar tradisional, Naruto menajamkan penglihatannya seraya melepaskan aura haus darah yang langsung membuat keenam orang itu menegang dan secara serentak keenam orang itu langsung mengambil posisi Seiza.

"Jadi... Bisakah kalian jelaskan siapa yang menyuruh kalian untuk mengintip waktu privatku?."

Terdiam, keenam orang itu terdiam sebelum Lee, Cao Cao, Arthur, Okita dan Miya mengarahkan pandangan mereka kearah Tobio yang hanya dapat mengumpat karena dikhianati.

"Jadi ini ulahmu lagi, Tobio!?."

"Sialan! Kalian tidak setia kawan!?."

Setelah penghakiman terhadap tersangka Ikuse Tobio berakhir, Naruto, Shaga, Arthuria dan yang lain pergi keruang makan untuk sarapan pagi tentu setelah Naruto, Shaga dan Arthuria membersihkan diri mereka dan memakai pakaian yang sopan.

Dan kini ruang makan yang luar biasa mewah, diatas meja tersusun beranekaragam makanan yang terlihat mengiurkan, dan disana terlihat sudah ada Yang Mulia, Vasco Strada, Yang mulia, Raja Redric, dan Archduke Ulther Pendragon.

Melihat kumpulan VIP itu membuat rasa kegugup hinggap dihati Tobio, Miya, Cao Cao, Lee, dan Okita. Bagi rakyat biasa seperti mereka, berada disatu ruangan dengan Manusia terkuat, Raja kerajaan ini, dan Jendral tertinggi angkatan bersenjata Pendragon adalah sesuatu yang membuat mereka gugup, mereka lebih baik menghadapi Magical Beast Rank Black Gold daripada harus duduk dan sarapan dengan orang seperti mereka!

"Aku merasa ingin lari dari sini..."

"Kalau begitu, pimpin jalannya, Miya."

"Tu-Tunggu kalau kalian mau kabur ajak aku, Miya-san, Taichou-san..."

"*******"

"Dakara... Cao Cao-san! Sebenarnya kau berniat mengutuk siapa!."

Mereka melakukan percakapan itu dengan suara pelan hampir seperti berbisik. Namun Naruto yang dapat mendengar percakapan mereka hanya bisa menghela nafas, saat ini penampilan Naruto dan yang lain mengenakan seragam hitam bergaris emas dibeberapa bagian khas Academy Hirozimon, hanya Arthuria dan Shaga saja yang mengenakan gaun mewah yang mencolok mata, hal ini dimaksudkan sebagai tanda jika mereka menerima undangan sebagai seorang murid Academy.

"Ah, kalian sudah datang... Silahkan duduk, dan kita sarapan bersama-sama..."

Yang mengatakan itu dengan suara penuh kebijaksanaan adalah Yang Mulia, Raja Redric, mendengar suara itu entah kenapa rasa gugup dari Tobio, Cao Cao, Lee, Miya dan Okita langsung lenyap entah kemana. Mereka dengan pelan duduk dikursi mereka, melihat semua telah berkumpul Yang Mulia, Vasco selaku orang yang mengundang mereka menepuk tangannya dan berkata.

"Ya, selamat makan..."

[[[Selamat makan]]]

Setelah mengatakan itu, sarapan pun dimulai, para kalangan bangsawan(Vasco, Redric, Ulther, Shaga, Arthuria, Arthur dan Naruto), menikmati sarapan mereka dengan tenang berbeda dengan Tobio, Miya, Okita, Lee dan Cao Cao yang nampak kesulitan menikmati sarapan mereka hingga Maid yang berdiri dibelakang mereka memberikan bantuan pada mereka. Dan setelah beberapa saat kemudian sarapan itu selesai.

'Aku tidak dapat menikmatinya sama sekali...'

Tobio tersenyum pahit selagi ia membersihkan mulutnya dengan serbet yang ada didekatnya, meletakannya kembali dan menatap datar kearah Naruto yang juga menatapnya, keduanya saling tatap sebelum Naruto mengangguk paham.

Naruto menarik nafas sejenak sebelum ia menoleh dan meatap kearah Yang Mulia, Vasco yang sedang menikmati segelas jus buah.

"Maaf, Yang Mulia, Vasco-sama... Bolehkah saya meminta waktu anda sebentar?."

"Uhm? Silahkan, apa yang ingin kau bicarakan denganku... Cucu menantu-dono?."

Tanya Vasco selagi ia meletakan gelas itu keatas meja dan menatap Naruto dengan senyuman tipis diwajah mudanya, Naruto terdiam sejenak dan melirik kearah sahabatnya yang lain, dan mereka mengangguk serempak, melihat itu Naruto mengangguk kecil dan kembali menatap kearah Yang Mulia, Vasco dengan tatapan serius.

"Aku ingin anda untuk menjadi perantara kami dengan Academy Horizimon..."

Ucap Naruto serius, Yang Mulia, Vasco menaikan satu alisnya dengan bingung."Perantara ya? Dalam hal apa? Tergantung dari permintaanmu aku bisa mempertimbangkannya, Cucu Menantu-dono."ucap Vasco tanpa melepaskan senyuman diwajahnya. Melihat lampu hijau itu, Naruto tersenyum tipis-, tidak lebih tepatnya ia menyeringai kecil.

"Tenang saja, ini hanya permintaan kecil dari kami bertujuh... Anda bahkan dapat dengan mudah menyelesaikan ini..."

"Ya jika kau berkata seperti itu maka, aku rasa itu sesuatu yang dapat aku lakukan, jadi apa permintaanmu itu, Cucu menantu-dono..."

"Aku-, tidak, kami ingin anda mengajukan surat pengajuan ijin berlibur untuk kami bertujuh selama sepuluh hari terhitung dari besok..."

Hening...

Tidak satupun dari mereka yang ada disana yang mengeluarkan suara sedikitpun, Vasco terdiam dan menatap datar Naruto, ia menyandarkan sikunya dan meletakan sikunya diatas meja dan menaruh dagunya diatas punggung tangannya tanpa melepaskan pandangannya dari Naruto.

"Meminta ijin selama sepuluh hari... Cucu menantu-dono, apa yang sebenarnya kau rencanakan, kenapa kau berencana mengambil liburan selama itu, apa kau hendak melakukan sesuatu?."

Tanya Vasco menyelidik, Naruto terdiam sebelum ia menatap langsung kearah mata Vasco Strada tanpa ragu sedikitpun.

"Aku dan Yang lain berniat berlatih untuk menambah kekuatan kami, jujur saja dengan kemampuan kami yang sekarang, Rencana yang kita susun tidak akan berjalan dengan baik dan berpotensi gagal..."

"Kenapa kau bisa berkata seperti itu, Menantu-dono, menurut pengamatanku, kekuatan kalian sudah sangat jauh melampaui anak usia kalian, dan kau ingin bertambah kuat lagi? Apa yang sebenarnya kau rencanakan..."

"Redric diamlah sebentar, dia belum mengatakan semuanya."

Tegur halus Vasco yang langsung dibalas anggukan kecil dari Raja Redric, Naruto tersenyum tipis.

"Seperti yang dikatakan, Heika. Kekuatan kami memang jauh diatas kemampuan murid seusia kami, tapi perbandingan itu hanya untuk sesama Ras Human, lalu bagaimana jika kami dibandingkan dengan Ras lain?."

Ucap Naruto membuat ruangan kembali hening selama beberapa saat sampai Ulther Pendragon, mengelus janggut putihnya dan mengangguk saat ia memahami sesuatu.

"Begitu, jika kita membandingkan kalian dengan Ras lain maka kemampuan kalian berada dibawah mereka..."

"Tepat sekali, meski kami yakin kami tidak akan kalah oleh Ras lain yang berasal dari kalangan biasa tapi saat menghadapi kalangan elit kami hanya akan dihajar habis-habisan, mungkin kami dapat bertahan saat kami bersama tapi saat kami menghadapi situasi dimana kami terpaksa terpencar maka... Kalian tahu sendiri kelanjutannya."

Percaya atau tidak tapi meski keempat Ras telah setuju untuk tidak saling menginvasi Daerah lain setelah mereka mengikarkan perjanjian [Magna Carta] namun kebencian dan anggapan jika ras mereka lebih superior dari Ras lain masih tertanam kuat didalam ideologi mereka, dan jika mereka bertujuh masuk kedaerah ras lain maka mereka akan menerima diskriminasi yang mungkin jauh lebih buruk daripada diskriminasi antara sesama. Mereka menyadari hal itu dan diam. Naruto melanjutkan.

"Karena itulah aku dan yang lain berencana meningkatkan kemampuan kami agar setidaknya, kami dapat mengalahkan mereka saat bertarung satu lawan satu..."

"Baiklah aku mengerti garis besarnya, tapi apa aku masih ada satu pertanyaan untukmu, Cucu Menantu-dono."

"Ya, silahkan tanyakan saja, Yang Mulia, Vasco-sama..."

"Tidak peduli sekeras apapun kalian berlatih, kalian tidak akan dapat mencapai level kalangan elit Ras lain, apalagi kalian berencana berlatih hanya selama sepuluh hari, tidak peduli bagaimana aku memikirkan itu mustahil, Cucu Menantu-dono."

Ucap Vasco dengan datar, Naruto terdiam dan menundukkan kepalanya hingga ekspresinya tidak dapat dibaca oleh siapapun, Shaga dan Arthuria menatap khawatir melihat tunangan mereka yang tiba-tiba diam.

"Naru-,"

Shaga yang baru saja hendak memanggil tunangannya itu karena khawatir terhenti ketika ia melihat sebuah seringai kejam yang terpatri diwajah tunangannya itu, Naruto secara perlahan membuka sarung tangan hitam yang menutupi kedua tangannya, dan terlihatlah punggung tangan dengan lambang hewan buas berkepala tiga berwarna hitam pekat disana, Naruto dengan pelan menyentuh [Dimension Ring] tingkat rendah yang tersemat manis dijari tengahnya, dan dari sana muncul sebuah gulungan yang langsung ditangkap oleh Naruto, dengan cepat Naruto meletakan gulungan itu diatas meja.

"Biasanya, untuk mencapai level yang setara dengan kalangan elit ras lain membutuhkan waktu yang tidak sebentar, paling cepat dibutuhkan waktu setahun bagi kami untuk bisa mencapai level kalangan elit itu, dan bahkan jika kami berlatih tanpa henti sampai kami muntah darah, kami hanya dapat memotong waktu perlatihan hanya sampai setengah tahun... Tapi..."

Naruto perlahan membuka gulungan kusam itu dan membiarkan semua melihat apa yang ada digulungan itu, dan secara bertahap ekspresi semua orang berubah menjadi terkejut, Naruto mengabaikan hal itu dan kembali melanjutkan.

"... Jika kami berlatih ditempat dimana [Urat Mana] bersemayam maka proses itu akan terpangkas dengan sangat cepat hingga hanya memerlukan waktu tak kurang dari seminggu... Dan tempat dimana banyak [Urat Mana] bersemayan adalah Dungeon..."

Dan secara bertahap ekspresi para Knight muda itu berubah menjadi gelap. Naruto tersenyum tipis.

"dan, beruntungnya dikerajaan ini bersemayam Dungeon yang tidak diketahui oleh siapapun... Dungeon hitam, [Black Malar]..."

And Cut~

Ya, Hallo-Ha! Jumpa lagi dengan Author yang suka ngilang macam Assassin kurang kerjaan, Phantom atau Chronos, atau Rose atau ya terserahlah.

Aku kembali setelah menerima petuah suci setelah melakukan tapa berata didalam GoA yang disebut rumah, setelah merenung, dan mondar-mandir macam orang kebingungan akhirnya aku berhasil menyelesaikan Prolog dari lanjutan The Worst One!? Banzai to me!?... Krik... Krik... Krik...

Tersenyum kecut...

Ya, lupakan itu untuk kedepannya aku akan mencoba yang terbaik untuk mengupdatenya dengan kecepatan tinggi, meski aku tidak yakin, tapi karena moodku sedang datang berkunjung aku akan mengetik semampuku, dan ya berdoalah supaya aku dapat menyelesaikan Arc Dungeon ini...

Chapter depan ada sedikit Kyakya-ufufufu dengan para Heroine dific ini~ nantikan saja, umu... Banyak yang ingin kusampaikan tapi apalah daya waktu tak mungkinkan, maksud hati ini mengenggam gunung tapi takut digaplok sama yang punya...

Baiklah, semua telah kucurahkan, dan saatnya saya undur diri... Sampai jumpa dipertemuan selanjutnya... Jaa ne!?

Phantom Out!