Bau dari garam menusuk hidungku.

Dihadapanku saat ini terbentang lautan yang sangat luas, air laut berwarna biru yang sangat jernih memanjakan mata siapapun yang memandangnya.

Saat ini, aku, Namikaze Naruto dan Anggota Club Penelitian Alam sedang berada di Teluk Lusiny. Tempat yang diduga menyimpan petunjuk tentang keberadaan Dungeon yang sedang kami cari.

"Apa benar tempat itu berada disini, Cao Cao-san?"

Souji Okita, yang mengenakan pakaian lokal dari kota pantai bertanya pada Cao Cap yang sedang menatap lautan luas didepannya, Cao Cao menatap laut sejenak sebelum ia menoleh kearah Okita dan tersenyum.

"Ya, tidak diragukan lagi tempat itu ada disini."

"Aku tidak tahu darimana rasa percaya diri itu tapi aku harap kau benar, Cao Cao."

Ikuse Tobio, ketua dari Club Penelitian Alam mengatakan itu dengan datar, tepat dibawah kaki Tobio, Anjing kecil dengan bulu segelap malan tanpa bintang duduk dan mengibas-ngibaskan ekornya dengan lucu, Cao Cao yang melihat Anjing kecil yang bernama Jin itu sedikit mengambil jarak darinya. Jujur saja, Cao Cao sedikit takut pada Jin sebab Anjing itu selalu muncul tiba-tiba dan saat Jin menemukan dirinya maka dia pasti akan langsung menyalak galak bahkan tak jarang mengigit Cao Cao.

"Te-Tenang saja, jika apa yang dikatakan oleh perkamen itu benar maka tempat itu pasti ada disini..."

"Enggh~ jika Cao Cao-san sudah berkata seperti itu maka sudah pasti dia benar."

Asama Miya, wakil ketua dari Club Penelitian Alam meregangkan tubuhnya dan menikmati udara pantai yang cukup segar ini, lekuk tubuhnya yang tersembunyi dibalik pakaian lokal Kota Luxurious mulai terurai saat ia meregangkan tubuhnya. Rock Lee, pemuda bersurai hitam mengalihkan pandangannya kesamping, mencoba menolak godaan didepan matanya itu.

"Are, Lee... Kenapa wajahmu merah? Apa kau demam?"

Arthur Pendragon, mengatakan itu dengan tenang membuat Lee langsung panik.

"Ti-Tidak, ini karena panas dari matahari saja."

"Heh~ panas matahari ya~"

"A-Aku pergi beli jus dulu!"

Setelah mengatakan itu Lee berlari dengan cepat meninggalkan debu dan pasir dibelakangnya, aku menatap datar hal itu sebelum melirik Arthur yang tersenyum tenang.

"Kau melakukan itu dengan sengaja, ya?"

"Um? Aku tidak tahu apa maksudmu, Naruto-san."

Aku memutar mataku dengan bosan, setelah mengenal pemuda tampan ini lebih dekat dia ternyata memiliki kepribadian yang sedikit 'S' dimana dia senang menggoda seseorang lewat kesempatan-kesempatan yang muncul secara tak terduga, aku menghela nafas dan mengalihkan pandanganku kearah Cao Cao yang sedang berjalan mundur berusaha menjaga jarak dari Jin yang ada disamping kaki Tobio.

"Cao Cao, apa kau yakin tentang yang kau katakan sebelumnya?"

Sebelum Aku dan Anggota Club Penelitian Alam datang ketempat ini, Cao Cao meminta waktu sebentar untuk berbicara secara pribadi denganku, dan pembicaraan itu menyangkut keadaanku saat ini.

"Sejak tadi ada yang ingin aku tanyakan... Naruto, kenapa kau bertelanjang dada?"

"Diamlah, Baka Taichou."

Ya, aku saat ini bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek, aku bukan seorang Eksibisionis yang senang memamerkan tubuh telanjangku, aku juga bukan orang yang pesimis pada bentuk tubuhku, karena jujur, berkat latihan neraka yang aku jalani proposional tubuhku mulai terbentuk dengan baik, tidak terlalu berotot tidak juga terlalu kurus, intinya tubuhku masuk kedalam kategori tubuh ideal untuk remaja seusiaku. Cao Cao yang berhasil berlindung dibelakang Okita menghela nafas lega sebelum ia melirik kearahku. Aku memukul pelan dahiku melihat ekspresi bingung yang ditampilkan oleh Cao Cao. Dia pasti tidak mendengarkanku karena fokusnya dia curahkan untuk Jin.

"Kau tidak mendengarku tadi ya... Hah, sudahlah aku akan memastikannya sendiri..."

Aku meregangkan tubuhku dan melakukan pemanasan terlebih dahulu, akan menjadi hal yang tidak lucu jika aku mengalami keram otot saat sedang berada didalam air, aku melakukan pemanasan selama beberapa saat sebelum melangkah menuju laut.

"U-Uhm, apa yang sedang dilakukan Naruto-san?"

"Entahlah, aku juga tidak tahu... Apa kau tahu sesuatu, Cao Cao-san?"

"Naruto-san... Dia sedang memeriksa sesuatu..."

Mengabaikan percakapan ketiga orang itu. Aku terus melanjutkan langkahku. Perlahan, tubuhku mulai terbenam didalam air hingga aku merasakan pijakanku mulai menghilang, aku berenang menjauhi bibir pantai, jika apa yang dikatakan Cao Cao sebelumnya benar maka itu pasti ada disekitar sini. Setelah dirasa posisiku sudah cukup jauh dari bibir pantai, aku memasukan kepalaku kedalam air, dan mencoba melihat kebawah.

'Gelap, aku tidak dapat melihat apapun dengan jelas...'

Aku rasa aku tidak punya pilihan lain, perlahan aku memompa mana didalam tubuhku dan memfokuskan pada mata kananku untuk mengaktifkan salah satu kemampuan yang aku miliki.

[Belial Eye]

Itu adalah kemampuan yan memungkinkanku untuk melihat kejadian sepuluh detik kedepan. Merasakan pandanganku tercelup dalam warna emas aku melihat kebawah sekali lagi, kali ini aku dapat melihat meskipun bidang penglihatanku dipenuhi warna emas, ini seperti melihat menggunakan kacamata yang memiliki fitur night vision. Aku melihat kebawah, mencoba mencari sesuatu yang dikatakan Cao Cao, cukup lama aku mencari sampai pandanganku menangkap sebuah objek besar, itu... Ugh, nafasku mulai habis...

"Puhaaa!"

"Naruto-san! Bagaimana! Apa kau menemukan sesuatu!"

Suara dari Cao Cao memasuki telingaku, aku memutar tubuhku dan menatap Cao Cao yang berteriak dari bibir pantai, aku tersenyum dan berteriak.

"Aku menemukan sesuatu tapi aku belum dapat memastikan kalau itu adalah tempat yang kita cari! Aku akan menyelam dan mencoba melihatnya dari dekat!"

"Begitu kah! Kalau begitu hati-hati! Dari yang aku tahu tempat itu dijaga-,"

Sebelum Cao Cao dapat menyelesaikan perkataannya aku sudah menyelam kedalam air, aku berenang menuju Objek yang aku lihat, semakin aku mendekat semakin jelas penampakan Objek yang aku lihat... Itu, adalah sebuah bangunan yang mirip dengan bangunan kuil dari jaman Yunani Kuno, itu begitu besar dengan tiang batu yang menjulang keatas, aku mencoba berenang lebih dekat, namun saat aku melakukan itu aku merasakan gelombang energi jahat yang menerpa tubuhku, hawa ini... Tidak salah lagi, Ini...

[Master, cepat berenang menjauh dari tempat itu!]

Ini hawa kehadiran Magical Beast!? Aku dengan cepat berenang menjauh saat aku melihat mata merah bersinar dari dalam bangunan kuil yang gelap, satu... Dua... Tidak, itu berjumlah puluhan! Ada apa dengan jumlah yang tidak wajar itu! Aku mengertakan gigiku dan berusaha berenang secepat mungkin menuju pantai. Aku menoleh kebelakang dan aku terkejut ketika melihat puluhan Magical Beast yang mirip seperti campuran antara ikan hiu dan seekor gurita.

[Magical Beast tingkat Silver... Aqua Shastasa! Ini gawat, kenapa dari semua Magical Beast type air malah Makhluk ini yang kita temui]

'Ophis, kau tahu makhluk apa itu?'

[Tentu aku tahu, itu adalah Magical Beast Brutal yang merupakan lawan terburuk saat berada didalam air, kita harus membawa mereka kedarat dan membunuh mereka disana...]

'Itulah yang sejak daritadi coba aku lakukan...'

Aku mengertakan gigiku, ini tidak akan berhasil, aku terkejar! Mereka berenang dengan sangat cepat, hanya tinggal menunggu waktu saja hingga aku tertangkap... Kuuh seandainya aku memiliki tabung oksigen bertekanan tinggi maka akan aku gunakan itu untuk mendorong tubuhku.

Tunggu sebentar, mendorong? Sebuah ide tiba-tiba melintas dikepalaku, benar juga, aku bisa menggunakan itu! Aku mempercepat gerakkan renangku dan menuju permukaan, aku mengambil nafas dan tanpa menghentikan kecepatan renangku, aku berteriak.

"Kaiian! Bersiaplah untuk bertarung!"

"Apa?! Bertarung? Apa yang sebenarnya kau-,"

"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya! Bersiaplah untuk bertarung!"

Aku memotong pertanyaan Tobio dan membalik tubuhku dan aku dapat melihat puluhan magical beast berenang cepat kearahku. Aku mengangkat tangan kananku dan memompa Mana didalam tubuhku, dalam sekejap aku memfokuskan Mana ketangan kananku, perlahan bola energi muncul dan berputar dengan ganas, dengan cepat bola energi itu membesar hingga seukuran bola softball, dirasa cukup aku segera mengangkat tinggi-tinggi tangan kananku dimana teknik yang merupakan ciptaan ayahku tengah berputar dengan ganas!

"Ini pasti akan sakit!"

[Rasengan]!

Blaaar!

Wusssh!

Boom!

Aku dengan cepat menghantamkan [Rasengan] kepermukaan air dan dalam sekejap air laut meledak membuat puluhan galon air laut terangkat keudara, kuatnya ledakan membuat tubuhku terhempas dengan cepat kebelakang sebelum akhirnya berhenti setelah menabrak pasir pantai dengan keras, aku merasakan rasa sakit dipunggungku namun itu tidak separah saat tubuhku disayat dengan kejam oleh ayahku, aku mencoba bangkit dengan cepat, aku melihat Tobio dan yang lain segera berlari kearahku.

"Apa yang sebenarnya terjadi, Naruto? Kenapa kau tiba-tiba melempar tubuhmu dengan menggunakan [Rasengan] seperti itu?"

"Aku tidak dapat menjelaskannya sekarang, Taichou, bersiaplah untuk bertarung..."

"Bertarung? Bertarung dengan siapa, Naruto-san?"

"Akan lebih cepat jika kaiian melihat itu..."

Pada Miya yang bertanya aku menunjuk kedepan, semuanya melihatku dengan bingung sebelum mata mereka melihat kearah yang kutunjuk dan dalam sekejap mereka melebarkan mata mereka saat melihat puluhan Magical Beast berjalan dari laut dalam.

"Ma-Makhluk apa itu..."

"Mereka adalah Aqua Shastasa, Magical Beast Brutal yang sepertinya bisa hidup didarat..."

Aku mengatakan itu pada Okita yang terlihat terkejut melihat kemunculan Makhluk itu. Tak berbeda jauh dari Okita, Miya juga terkejut melihat puluhan Makhluk itu.

"Ju-Jumlah mereka banyak sekali... Bisakah kita menang melawan mereka?"

"Mereka hanya sekumpulan Magical Beast Rank Silver, dengan kekuatan kita saat ini, Kita dapat mengalahkan mereka semua dengan mudah."

"Naruto, aku tahu kau tidak pernah membawa kabar baik, tapi bukankah ini sudah keterlaluan!?"

"Aku minta maaf jika aku selalu membawa kabar buruk, Taichou Brengsek!"

"Kalian berdua! Ini bukan saatnya bertengkar! Mereka datang!"

Setelah mengatakan itu, Cao Cao memanggil Tombak Sakral miliknya dari ketiadaan, tombak dengan bilah putih tanpa noda sedikitpun muncul ditangan Cao Cao. Cao Cao memutar tombak suci yang merupakan salah satu dari ketigabelas senjata pembunuh dewa, Longinus dengan cepat dan menyiapkan fighting stance miliknya, Tobio berdecih sebelum ia melirik kearah Jin yang ada dibawah kakinya, Jin mengangguk dan langsung masuk kedalam bayangan Tobio tanpa seorangpun yang menyadarinya.

"Tsk, tidak ada pilihan lain, kita harus bertarung dan melenyapkan mereka..."

Tepat setelah mengatakan itu, Tobio merentangkan tangannya kesamping dan dalam sekejap sebuah pedang hitam dengan bilah yang dipenuhi oleh simbol kutukan yang sewarna dengan warna darah, simbol kutukan itu terlihat seperti akan mengutuk jiwa bagi siapa saja yang tertebas oleh pedang itu, Tobio menarik pedang itu dan merendahkan tubuhnya.

Arthur, Okita dan Miya menarik pedang yang menggantung dipinggang mereka dan menyiapkan fighting stance mereka, Lee perlahan mendekat kearahku dan menyiapkan gesture bertarung, dia tidak memiliki senjata apapun ditangannya. Diantara Anggota Club Penelitian Alam hanya Lee saja yang tidak memiliki senjata bertarung.

"Lee, apa kau baik-baik saja tanpa senjata?"

"Apa yang kau katakan, Naruto-kun, aku sudah memiliki senjataku disini."

Aku terdiam saat Lee mengangkat tinju miliknya. Benar, untuk Lee, tinjunya adalah senjata, harga diri dan kebanggaannya, aku tersenyum tipis dan menarik Katana [Mithril[ dari dalam penyimpanan [Gate]-ku.

"Kalau begitu, berhati-hatilah agar kau tidak melukai dirimu sendiri."

Aku mengatakan itu sambil membuat gesture bertarung, ini mungkin akan menjadi pertarung sengit antara tujuh orang melawan puluhan Magical Beast Rank Silver.

.

.

.

Naruto dan keenam sahabatnya yang lain memompa [Mana] didalam tubuh mereka, perlahan Aura [Mana] milik mereka menyelimuti tubuh mereka dalam selubung biru tipis. Naruto menguatkan cengkramannya pada katananya.

"Semua bersiap... Serang!"

Tepat setelah mengatakan itu itu, Naruto dan yang lainnya menghentakan kaki mereka dan melesat dengan kecepatan tinggi kedepan, mereka bertujuh memotong jarak dalam sekejap. Okita yang merupakan Knight tercepat diantara mereka sampai didepan musuh dan menebas leher makhluk didepannya yang langsung mati seketika, Naruto yang berada tepat dibelakang Okita melompat tinggi dan mengayunkan pedangnya secara vertikal kebawah dimana seekor Shastasa berada, tebasan kuat dari Naruto memotong Shastasa yang nampak terkejut itu menjadi dua seperti ia memotong tahu.

-Miya dan Tobio-

Tobio yang melihat musuh depannya menyiapkan teknik berpedang mereka, Tobio mencengkram kuat pedang hitam miliknya sebelum dengan cept ia mengayunkan pedang hitam itu secara horizontal dan memotong tiga Shastasa didepannya, tak ingin tertinggal oleh Tobio, Miya menebas Shastasa didepannya, memutar tubuhnya dengan anggun dan menebas Shastasa kedua lalu dengan kecepatan yang tak bisa diikut oleh mata, Miya melakukan [Iai] dan memotong Shastasa ketiga.

-Arthur dan Cao Cao-

Cao Cao memutar [True Longinus] dengan cepat sebelum ia menusuk titik vital Shastasa didepannya, tak berhenti sampai disana, Cao Cao dengan cepat melakukan tusukan tajam kearah Shastasa kedua sebelum ia kembali menusuk Shastasa ketiga tepat dimana organ jantung berada, seakan tak cukup, Cao Cao mengangkat tubuh Shastasa dan melemparnya kearah sekumpulan Shastasa yang langsung membuat mereka yang berjumlah lebih dari empat jatuh membentur tanah dengan keras.

Cao Cao yang melihat musuh didepannya berkurang melirik kearah Arthur dan ia terdiam saat melihat mayat Shastasa bergeletakan tak jauh dari tempat Arthur, kondisi mayat Shastasa itu cukup mengerikan dimana semuanya terbelah menjadi dua bagian, mata Cao Cao melirik kearah pedang berbentuk unik ditangan Arthur, darah terlihat menetes dari ujung pedang unik itu, Arthur mengangkat pedang uniknya dan mengibaskan pedangnya kesamping untuk membersihkan darah yang menempel disana.

Arthur yang sedang membersihkan darah dipedangnya terdiam saat merasakan ada orang yang sedang menatap dirinya, Arthur mengangkat wajahnya dan menoleh kesamping dimana ia melihat Cao Cao sudah menyelesaikan bagiannya.

"Kenapa kau menatapku seperti itu, Cao Cao? Apa ada yang salah dengan wajahku?"

"Tidak, Tidak ada... Aku hanya merasa kau memiliki pedang yang bagus."

"Begitukah? Yah, terimakasih... Ini adalah pedang kesayangan ibuku."

Cao Cao terdiam saat ia mendeteksi nada sedih dibalik kata-kata Arthur dan juga mungkin itu terjadi dalam waktu singkat tapi Cao Cao dapat melihat setitik kesedihan dimata yang terlindungi oleh kacamata berlensa tipis itu, Cao Cao bukanlah orang bodoh yang tidak bisa membaca suasana, ia mengaruk belakang kepalanya yang tak gatal.

"Sepertinya aku sudah menanyakan hal yang salah, aku minta maaf, Arthur-san."

"Kau tidak melakukan kesalahan apapun, kenapa kau meminta maaf?"

"Ini hanya untuk keegoisanku, tolong maafkan aku."

Ucap Cao Cao seraya menundukkan sedikit kepalanya, itu permintaan maaf yang tulus sampai-sampai Arthur dibuat terdiam ditempat, Arthur menghela nafas dan membenarkan letak kacamatanya.

"Jika memang begitu keinginanmu, maka aku memaafkanmu, Cao Cao-san."

"Terimakasih..."

-Lee Side-

Lee menatap tajam Shastasa yang ada didepannya, ia sudah membunuh hampir belasan Magical Beast Rank Silver didepannya dan musuh didepannya adalah yang terakhir, Lee menarik nafas untuk menenangkan detak jantungnya, musuh didepannya sedang mewaspadai dirinya, kepekaannya dalam merasakan bahaya telah naik kelevel maksimal, jika begituia harus menyerangnya dengan cepat tanpa membiarkan Niat membunuhnya keluar, Lee menarik nafas lagi dan melunakkan tubuhnya. Melihat lawannya yang menarik hawa membunuh miliknya Shastasa sedikit menurunkan kewaspadaannya, namun itu adalah kesalahan besar karena setelah ia menurunkan kewaspadaannya Lee sudah ada didepannya dengan telapak tangan didepan wajahnya.

"Pelajaran pertama, jangan turunkan kewaspadaanmu saat berhadapan dengan musuh."

Grep!

Blaaaaar!?

Lee dengan cepat mencengkram wajah Magical Beast Shastasa dengan kuat dan membenturkan Shastasa itu keatas tanah dengan kekuatan yang sanggup untuk menghancurkan batok kepala, menerima benturan yang begitu keras batok kepala belakang Shastasa Hancur berkeping-keping dan menyebabkan kematian instant.

Lee yang melihat lawannya telah mati menegapkan tubuhnya dan segera berjalan menuju Naruto dan Okita yang sudah selesai menghabisi lawan mereka, dan sepertinya yang lain juga telah selesai membereskan bagian mereka.

Naruto menarik lega dan memasukkan kembali katana miliknya. Beruntung musuh kali ini nampaknya tidak secepat gerakan mereka saat didalam air, jika mereka dapat bergerak secepat saat mereka didalam air maka pertarungan ini akan jadi lebih berat. Naruto memutar kepalanya dan melihat teman-temannya yang lain sedang berjalan kearah sini, sepertinya mereka telah membereskan bagian mereka. Tobio yang berlumuran darah dari Magical Beast yang ia bunuh menatap datar kearah Naruto.

"Jadi, bisa kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau bisa dikejar Makhluk itu?"

Dia bertanya dengan nada serius, dan itu membuat kesan konyol yang biasanya selalu ada pada dirinya lenyap tak berbekas, itu sedikit mengintimidasi. Naruto menghela nafas pendek dan menoleh kearah Cao Cao yang juga menatap kearahnya.

"Aku menemukan-nya..."

"Benarkah?"

Naruto mengangguk pelan.

"Ya, itu tepat puluhan meter dibawah laut..."

"Tunggu sebentar, sebenarnya apa yang sedang kalian berdua bicarakan?"

Miya yang nampak bingung mengatakan itu dengan nada menuntut penjelasan, Naruto dan Cao Cao bertukar pandangan sekilas sebelum mereka tersenyum kecut, merasa tak ada pilihan lain keduanya mulai menjelaskan apa yang mereka berdua ketahui, dan setelah Cao Cao menyelesaikan penjelasannya, semua pasang mata melebar dengan sempurna. Tobio yang pertama kali sadar menatap takjub Naruto dan Cao Cao.

"Jadi maksud kalian, tempat itu berada jauh didalam laut?"

"Ya begitulah, aku sudah diminta Cao Cao untuk menyelam dan mencari tahu letak tempat 'itu' dan baru beberapa saat yang lalu aku menemukannya..."

"Tunggu sebentar, jika Tempat itu... Dungeon itu berada jauh didalam laut bukankah itu artinya kita menaklukannya? Lupakan tentang menaklukan Dungeon itu, kita bahkan tidak dapat mencapai pintu masuk Dungeon"

"Apa yang dikatakan Miya-san benar, manusia hanya bisa menahan nafas selama beberapa menit, mencoba menyelam puluhan meter akan menambah beban pada tubuh kita dan membuat pasokan udara pada paru-paru semakin menipis."

"I-Itu namanya bunuh diri..."

Kecemasan Miya, Arthur, dan Okita itu hal yang wajar, sebab diantara mereka tidak ada Wizard type air yang mampu membuat dinding air atau Tipe udara yang dapat membuat gelembung udara untuk bernafas, jika seandainya mereka nekat untuk menyelam dan berenang menuju pintu masuk Dungeon maka sebelum mereka berhasil mencapai pintu masuk Dungeon pasokan udara diparu-paru mereka akan menipis dan memaksa mereka untuk berenang kepermukaan!

"Nah, sebenarnya siapa yang mengatakan jika akan menyelam untuk bisa sampai kesana?"

Semua terdiam dan mengalihkan pandangan mereka kearah Cao Cao yang tiba-tiba mengatakan itu, apa yang orang ini katakan? Bukankah satu-satunya cara untuk sampai ketempat itu adalah dengan menyelam dan berenang? Seolah dapat menebak apa yang dipikirkan oleh teman-temannya Cao Cao mengulas senyuman samar, ia dengan perlahan mengambil perkamen kuno milik Naruto.

"Diperkamen ini dikatakan bahwa [pecahan perak putih akan jatuh tepat diatas cermin raksasa dan menunjukan jalan pada mereka yang menginginkan segala-nya]... Apa kalian tahu apa maksudnya?"

Tanya Cao Cao dengan senyuman samar, senyuman samar diwajah Cao Cao mengembang saat melihat teman-temannya terdiam, Cao Cao kembali melanjutkan.

"[Pecahan Perak Putih] kata ini merujuk pada sinar bulan purnama dan kata [Jatuh Tepat Diatas Cermin Raksasa] ini merujuk pada sebuah bidang besar yang memantulkan sinar bulan purnama dengan kata lain permukaan air laut, dan kata [Dan Menunjukkan Jalan Pada Mereka Yang Menginginkan Segala-nya], maksud dari kata ini adalah ketika sinar bulan purnama jatuh tepat diatas permukaan air laut yang langsung mengenai tempat dimana Dungeon itu berada maka jalan untuk sampai ketempat itu akan terbuka..."

Cao Cao berhenti sejenak dan menatap teman-temannya satu persatu, dan yap, mereka terkejut. Cao Cao tersenyum kecil dan menatap kearah Naruto yang menatapnya dengan mata melebar.

"Alasan kenapa aku meminta Naruto-san untuk menyelam dan mencari keberadaan pintu masuk Dungeon tak lain untuk menguatkan dugaanku saja, dan karena dugaanku benar maka teka-teki ini sudah terpecahkan..."

Terpecahkan... Teka-Teki yang merupakan rintangan mereka satu-satunya untuk menemukan Dungeon tersembunyi berhasil dipecahkan oleh Cao Cao. Senang? Tentu saja! Dengan menemukan tempat itu dan menyelesaikannya maka mereka, tujuh remaja yang berasal dari Ras Human akan memiliki kesempatan untuk bertarung imbang melawan Petarung terkuat dari Ras lain saat turnamen empat Ras dilaksanakan!

Sudah sejak lama Ras Human dipandang sebagai yang terlemah diantara ras yang lain namun jika mereka bertujuh berhasil menyelesaikan Dungeon dan mendapatkan harta karun kuno maka mereka dapat menggunakannya untuk meningkatkan kekuatan mereka dan membuktikan jika Ras Human bukanlah Ras lemah, mereka bertujuh akan merubah pandangan Ras-Ras lain pada Ras Human yang selama ini dianggap sebagai mangsa empuk yang dapat dihancurkan kapan saja... Kini saatnya mangsa berubah menjadi pemangsa dan menancapkan taring mereka pada Ras lain yang sudah meremehkan mereka.

Kuuh! Mereka sudah tak sabar untuk meningkatkan kemampuan mereka!

"Cao Cao, apa kau tahu kapan jalan itu terbuka?"

Tanya Naruto, Cao Cao tersenyum kecil dan berkata.

"Itu malam ini..."

.

.

.

-The Another One-

.

.

.

Udara malam yang dingin berhembus menusuk jauh kedalam kulit, dipinggir pantai yang ditinggalkan terlihat tujuh orang sedang berdiri dan memandang laut malam dengan ekspresi tenang, mereka bertujuh adalah Naruto dan Anggota Club Penelitian Alam( Tobio, Miya, Cao Cao, Arthur, Lee dan Okita). Tobio menatap datar laut yang nampak tenang sebelum ia menoleh kearah samping dimana Naruto yang sejak tadi terus memantau jam kecil yang ada ditangannya.

"Berapa lama lagi sebelum jalan itu muncul, Naruto?"

Tanya Tobio dengan datar, Naruto tidak menoleh namun dia mengangkat tangannya dan menunjukkan kelima jarinya, Tobio terdiam melihat itu sebelum ia menghela nafas pelan dan membiarkan uap putih menghilang keudara.

"Begitu, lima menit ya, itu masih la-,"

"Lima... Empat..."

"Tu-Tunggu itu Lima detik?!"

"... Tiga... Dua... Satu! Jalan terbuka!"

Tepat setelah Naruto mengatakan itu, sinar rembulan jatuh keatas permukaan air laut, dan pada momen itu tiba-tiba kabut pekat muncul diatas permukaan air, Naruto dan yang lain menatap waspada pada fenomena yang terjadi didepan mereka, perlahan kabut mencapai bibir pantai dan menyelimuti semua Anggota Club Penelitian Alam. Naruto mengerutkan dahinya saat tubuhnya bersentuhan dengan kabut, ini... Sensasi ini... Mungkinkan...

[Sebaiknya Master tidak menurunkan kewaspadaan Master, ini jelas bukan kabut biasa karena aku merasakan didalam kabut ini terkandung jumlah Mana yang sangat banyak...]

'Kau juga berpikir begitu, Ophis?'

[Ya, aku tidak tahu siapa yang merilis kabut ini tapi siapapun dia kita harus mewaspadainya...]

Naruto mengangguk setuju, seperti yang dikatakan Ophis, jumlah Mana didalam kabut ini begitu banyak hingga Naruto langsung merasakan nyeri pada mata kanannya saat ia mengaktifkan [Belial Eye] miliknya, perlahan kabut semakin menebal dan menutupi pandangan.

"Semuanya! Saling berpegangan tangan! Kabut ini bukan Kabut biasa!"

Ucap Naruto seraya mengenggam tangan Tobio dan Miya yang berada dikedua sisinya, mendengar perkataan Naruto, yang lain juga mulai menggenggam tangan satu sama lain. Perlahan tapi pasti pandangan mereka bertujuh mulai tertelan oleh kabut, mereka bertujuh terus berpegangan tangan dengan erat karena takut terpisah satu sama lain. Dan tepat sedetik setelah pandangan mereka tertelan oleh kabut tiba-tiba kabut berangsur-angsur menghilang membuat pandangan mereka kembali lagi, dan saat kabut tebal itu sepenuhnya menghilang. Naruto dan Anggota Club Penelitian Alam dibuat terdiam.

Mereka terdiam bukan tanpa sebab, mereka bertujuh terdiam sebab apa yang ada didepan mereka... Tepat didepan mata semua orang terbentang pemandangan dari sebuah hutan ditengah musim gugur... Daun-Daun kering mulai berguguran dan jatuh keatas tanah, itu pemandangan yang luar biasa mengingat pemandangan didepan mereka bertujuh adalah sebuah lautan namun kini berubah menjadi hutan penuh pepohonan yang begitu asri, siapa yang tidak akan takjub melihat keajaiban ini?

Naruto mengedarkan pandangannya dan hanya hutan musim gugur sajalah yang dapat ia lihat sejauh mata memandang. Dimana mereka sekarang? Tempat apa ini? Itulah yang berada dipikiran Naruto dan yang lain. Naruto menoleh kebelakang dan yang ia lihatlah hanyalah sebuah jurang dengan pepohonan berdaun cokelat khas musim gugur sajalah yang ia lihat. Tunggu sebentar, bukankah mereka tadi sedang berada ditepi pantai lalu kenapa sekarang...

"Te-Teman-Teman! Li-Lihatlah itu..."

Mendengar Okita yang tiba-tiba berseru membuat semua orang menatap kearahnya dengan bingung sebelum mereka mengikuti arah yang dilihat oleh Okita dan dalam sekejap ekspresi semua orang menjadi terkejut. Apa yang mereka adalah 'langit' tidak-, itu bukan langit yang sebenarnya melainkan ribuan, tidak jutaan batu Crystal yang menutupi langit-langit, crystal-crystal itu bersinar terang layaknya matahari yang mendukung sistem kehidupan dibumi.

Melihat Crystal-Crystal itu semua kebingungan yang melanda Naruto dan yang lain dalam sekejap lenyap tak berbekas, melihat Crystal-Crystal itu sudah menjadi bukti yang cukup untuk mereka tentang tempat apa ini sebenarnya...

Benar, tidak diragukan lagi... tempat ini tak lain dan tak bukan adalah tempat yang mereka cari-cari... Okita menatap Crystal itu dengan takjub lalu dengan suara lirih ia berkata.

"Kita sudah berada didalam Dungeon..."

And Cut~

Ya-Hallo~ ketemu lagi dengan diriku, Phantom!

Nah, aku kembali dengan Chapter 04, dichapter kali ini aku membuat cerita berfokus pada Naruto dan Anggota Club Peneltian Alam, mereka telah berhasil menemukan dan masuk kedalam Dungeon, disini Dungeon yang akan mereka jelajahi adalah Dungeon yang mengambil bentuk Hutan yang memasuki fase musim gugur, akan ada kejutan didalam Dungeon dan diakhir Arc Dungeon ini aku berniat menunjukan True Power dari salah satu Karakter dific ini, tentunya pemicu Pembangkitan True Power ini berhubungan dengan lawan kuat yang akan segera dihadapi oleh Anggota Club Penelitian Alam!

Namun kapan itu akan segera liris? Masih menjadi sebuah misteri...

Nah aku rasa aku sudah mencapai batasku, besok aku akan mencoba menulis TNOTM secepat yang aku bisa tapi aku tidak dapat berjanji kalau itu akan selesai dalam waktu satu hari.

Segala Typo, penempatan kata yang kurabg atau segala macamnya itu murni dari Author jadi Author mengharapkan kemakluman kalian~

Nah, aku rasa sudah, sampai jumpa dichapter selanjutnya! Ciao!

Next Chapter: Anbu and Seven Sister

Phantom out!