Disclaimer : Semua tokoh di Naruto hanyalah milik Masashi Kishimoto seorang. Saya hanyalah seorang author yang meluaskan imajinasi saya

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Warning : OC, OOC, Mis-typo (s)

Rated : M

Ringkasan cerita part 1 (Chapter 1-10) :

Nozu Hagoromo, anak perempuan kedua pemimpin klan Hagoromo, Nogo Hagoromo, memilih untuk bergabung dengan Hashirama Senju setelah kakak laki-lakinya, Nozomi memutuskan untuk bergabung dengan Uchiha Madara. Dengan tujuan menghentikan peperangan antar klan yang terjadi, Nozu setuju untuk menjalin aliansi melalui pernikahan politik dengan Tobirama Senju, yang memang sudah dikenalnya dari dulu. Tobirama yang mulanya tidak setuju dengan pernikahan itu, akhirnya setuju karena itu adalah satu-satunya cara mendapat bantuan dari Hagoromo untuk melawan Nozomi di pihak Uchiha. Janji di masa lalu Tobirama pada Hani Yuki, membuat wanita dengan garis keturunan es itu kembali muncul dalam kehidupan pernikahan Tobirama dan Nozu. Suatu waktu, Nozu mendapati Tobirama berkata bahwa pria itu akan menceraikannya setelah perang berhasil dihentikan dan menikahi Hani sesuai janjinya dulu. Merasa kecewa karena hanya dimanfaatkan dan dibuang setelahnya, bagaimana kelanjutan pernikahan Tobirama dan Nozu? Apakah Tobirama mampu berpisah dengan wanita Hagoromo itu setelah waktu-waktu yang mereka lewati bersama? Apakah pernikahan mereka akan berakhir bahagia atau justru sebaliknya?

(* Untuk yang ingin dapat feeling cerita ini lebih baik, saya sarankan baca bab 1-10 di cerita part 1 yaa.. bisa dilihat di profil saya :). Author hanya berusaha agar Reader yang baru bergabung bisa mengerti jalan cerita keseluruhan yang telah terjadi.. )

Terima kasih dan enjoy readingg.. :))

CHAPTER 11 : DISTRUST

Aku menggelengkan kepala berkali-kali, mencoba meyakinkan diri bahwa apa yang baru saja kudengar hanyalah ilusi.

Aku memukul-mukul wajahku dan sialnya aku masih merasakan rasa sakit.

Ini bukan ilusi.

Dari tempat aku bersembunyi, aku hanya bisa mendengar suara terisak Hani yang sudah mulai sedikit tenang. Tobirama tidak mengatakan apapun lagi.

Aku memilih untuk tidak melihat apa yang sedang mereka lakukan. Aku sudah terlalu sakit hati hanya dengan mendengar pembicaraan mereka.

Sayup-sayup, aku mendengar Hani berkata "Baru saja beberapa anggota klan Uchiha bergabung dengan Senju. Bagaimana bila klan Hagoromo membelot karena kau menceraikan Nozu? Pilihan untuk menikahinya membuat segala urusannya jadi panjang. Jika kau menceraikannya, apa yang akan dikatakan anggota klan Hagoromo lain? Bukankah nanti ada perpecahan diantara kalian?"

"Nozu mirip dengan kakak. Dia akan melakukan apapun untuk menghentikan perang ini, termasuk dengan tidak memberitahu apa yang terjadi" balas Tobirama datar.

Aku sungguh tidak percaya. Bagaimana mungkin Tobirama tega memanfaatkanku seperti ini? Apakah ini klan Senju sebenarnya seperti yang dikatakan kak Nozomi? Apa kak Nozomi sudah tahu sifat buruk mereka hingga memutuskan untuk bergabung dengan Uchiha?

Aku menghapus air mata yang membasahi wajahku dan menarik napas dalam-dalam. Aku harus pergi dari tempat ini secepatnya sebelum Tobirama menyadari keberadaanku disini.

Dengan sekuat tenaga, ditengah pikiran yang tengah bercampur aduk, aku berusaha menyembunyikan keberadaanku dan segera angkat kaki dari tempat itu dan berjalan kembali menuju Igaku no Niwa. Bekal makan siang yang kubawa masih utuh. Rasanya, aku tidak ada niat untuk memakannya. Mungkin aku akan memberikannya pada Satsu dan Amari.

"Amari! Amari! Nona Nozu sudah kembali!"

Satsu berseru ceria saat melihatku yang tengah memasuki wilayah Igaku no Niwa. Aku bahkan sudah tidak mampu lagi menggerakkan bibir untuk membalas senyuman tulus Satsu.

"Selamat datang, Nona" Amari menyambutku di pintu masuk. "Mari saya bawakan barang bawaan anda.. Ini.."

Amari melempar pandangan heran saat menerima bungkusan dariku yang masih penuh berisi makanan. "Nona, anda tidak bertemu Tuan Tobirama?"

"Nona, apa yang terjadi padamu? Tidak biasanya kau berwajah seperti ini setelah bertemu Tuan Tobirama. Ada apa?" tanya Satsu yang mulai terlihat khawatir.

"Satsu, persilahkan Nona Nozu untuk masuk dan duduk, baru cerita tentang apa yang terjadi" Amari menarikku masuk kedalam.

"Nona, apa yang terjadi? Ceritakan pada kami" pinta Satsu cemas. "Jika tidak, kau akan membuatku kena penyakit insomnia"

Jujur kata aku bingung harus menceritakan apa yang baru saja terjadi atau tidak. Hatiku terasa begitu penuh, seperti mau meledak. Aku sangat ingin menumpahkan seluruh keluh kesah yang tengah kurasakan saat ini pada Amari dan Satsu. Tapi, apakah memberitahu mereka adalah pilihan yang baik?

Sepertinya otakku sudah tidak berfungsi normal. Aku tertunduk lesu. Kepalaku sakit. Kupikir Tobirama adalah laki-laki yang bisa dipercaya. Aku merasa kosong, seakan ada sesuatu yang ditarik keluar dari dalam tubuhku, entah apa. Akhirnya aku memilih untuk menceritakan apa yang baru saja kulihat dan kudengar.

"Bagaimana bisa Tuan Tobirama setega itu padamu, Nona? Aku sungguh tidak terima perlakuan ini!" Satsu memukul meja dengan keras.

"Aku harus apa?" Perasaanku campur aduk, antara kesal dan putus asa.

"Nona, kita tidak bisa hanya diam saja menerima perlakuan ini" ujar Amari yang juga terlihat marah.

"Kita harus memberi pelajaran pada wanita bernama Hani itu" timpal Satsu. "Nona, kau tidak perlu repot-repot. Katakan saja pada kami bagaimana kau ingin memberi pelajaran padanya dan kami akan melakukan apapun yang kau minta"

"Satsu, tidak perlu.."

"Aku setuju dengan apa yang dikatakan Satsu" sela Amari. "Nona, jangan diam saja menerima perlakuan ini. Mereka menindasmu! Kau harus tunjukkan harga dirimu pada mereka"

"Aku harus apa jika Tobirama memang mencintai wanita itu dan bukan aku? Kita tidak bisa merubah perasaan orang semudah membalik telapak tangan" Aku jadi makin bingung. Aku sangat ingin membalas perbuatan mereka yang membuatku sakit hati. Tapi bagaimana?

"Nona, bila anda tidak ingin melakukan apapun, biar kami yang melakukannya. Anda hanya tinggal diam dan terima bersih" balas Amari.

"Apa yang akan kalian lakukan?" tanyaku bingung. "Kalian mau membunuh Hani? Jangan berbuat sesuatu diluar batas kewajaran"

"Nona tidak perlu khawatir" ujar Satsu tersenyum penuh arti. "Kami akan mengabari Nona saat kami melakukannya"

Aku menelungkupkan kepala dalam-dalam, seakan hal itu bisa meredakan rasa sakit yang menusuk di kepalaku. Percuma, rasa sakit itu malah bertambah, seakan ada lebih banyak pisau yang menghujam kepalaku bergantian dari kiri ke kanan.

Aku mengangkat kepala, menatap Satsu dan Amari bergantian. "Sudahlah, mungkin tidak seharusnya aku menceritakan ini pada kalian. Maaf.."

"Kenapa Nona malah minta maaf?" Amari memotong perkataanku. "Derajat Nona sebagai putri dengan kedudukan tertinggi di Klan Hagoromo tidak bisa disamakan dengan wanita rendahan itu"

"Aku pikir aku butuh istirahat. Terima kasih banyak kalian mau mendengarkan ceritaku" Aku bangkit berdiri. "Amari, Satsu, jika kalian masih ada pekerjaan yang belum diselesaikan disini, tolong bereskan dan kunci pintunya setelah selesai. Aku pulang dulu".

"Nona mau pulang kemana? Ke rumah Tuan Tobirama yang tidak membutuhkan Nona?" Tanya Amari. "Untuk apa Nona kembali ke rumah yang tidak menginginkan Nona?"

'Untuk apa? Yah.. mungkin Amari benar. Untuk apa aku kesana?'

"Aku tidak punya rumah lagi. Hanya itu satu-satunya rumahku" jawabku sendu. "Kumohon jangan lakukan apapun yang diluar batas kewajaran. Sampai besok"

Aku berjalan keluar dari Igaku no Niwa tanpa memperhatikan Satsu dan Amari yang masih menatap kepergianku dengan terheran-heran.

-8-8-8-

Hari yang panjang dan melelahkan ini akhirnya berakhir juga. Sejak beberapa anggota Uchiha menjadi bagian klan Senju, Tobirama mendapat pekerjaan tambahan.

Sebenarnya Ia sendirilah yang menginginkan pekerjaan ini. Entah mengapa rasa ketidakpercayaan yang begitu besarnya pada orang-orang klan Uchiha yang baru saja bergabung membuat Tobirama merasa perlu untuk memeriksa dan menginterogasi mereka satu per satu, memastikan bahwa tujuan mereka hanyalah menginginkan kedamaian, tidak untuk mencuri informasi Senju dan membocorkannya pada pihak Uchiha.

Tobirama berjalan keluar dari ruang rapat. Malam ini Hashirama Senju telah mengatur perumahan klan Uchiha yang baru saja bergabung agar mereka merasa lebih nyaman dengan tempat tinggal baru mereka. Hashirama yang mendapat kabar dari mata-mata Senju bahwa Madara Uchiha dan Nozomi Hagoromo sepertinya sudah kehilangan begitu banyak anggota untuk berperang, berpikir bahwa Uchiha tidak mungkin melakukan serangan balik ke wilayah Senju dalam waktu dekat. Ditambah tersebarnya berita meninggalnya Izuna Uchiha, dengan kekuatan mereka sekarang menyerang Senju sama saja dengan bunuh diri.

Rapat malam ini juga mengangkat Hani Yuki sebagai perwakilan klan Yuki yang akan turut serta membantu rencana perang klan Senju selanjutnya. Dengan bantuan klan Yuki yang memiliki garis keturunan khusus elemen es, pertahanan di rumah-rumah penduduk Senju bisa diperkuat. Di akhir rapat, Hashirama juga menyatakan bahwa dalam waktu dekat, Ia akan bernegosiasi kembali dengan Madara untuk angkat senjata dan menyatukan kedua klan yang sudah menjadi musuh bebuyutan sejak bertahun-tahun silam.

Tentu saja Tobirama tidak setuju dengan keputusan kakaknya untuk mengajak Madara bergabung. Sampai mati, pria bernama Madara Uchiha itu tidak akan mau menjadi satu dengan Senju. Masih terngiang di pikirannya tatapan penuh kebencian yang dilemparkan Madara padanya saat Ia membawa Izuna yang sekarat pergi dari Medan perang.

"Tobirama.."

Suara yang begitu familiar di telinga Tobirama menghentikan langkahnya dan menoleh seketika.

"Ada yang ingin kau sampaikan?" Tanya Tobirama segera.

"Tadi aku berbincang dengan Kak Hashirama. Aku meminta izinnya malam ini untuk menginap di rumahmu. Aku ingin mempelajari struktur dan seluk beluk wilayah ini dengan baik agar bisa memberikan pertahanan maksimal pada tempat-tempat yang butuh perlindungan khusus. Tapi peta wilayah Senju terlalu besar untuk dibawa pergi dan disimpan di rumahmu." Jelas Hani. "Aku ingin membacanya malam ini. Bolehkah?"

Mendadak Tobirama teringat akan keadaan rumahnya yang terasa agak ganjal belakangan ini. Entahlah apakah membawa Hani masuk kedalam rumah malam ini jadi pilihan baik atau tidak. Nozu jadi begitu dingin dan sinis padanya. Entah apa yang tengah dipikirkan wanita itu, tapi kelakuannya sungguh berbeda. Tatapan hangat yang biasa diberikannya pada Tobirama hilang, berganti dengan tatapan dingin dan tak acuh tiap kali mereka bertemu. Mungkin saja Ia akan berlaku yang sama pada Hani.

Tobirama memilih untuk tidak ambil pusing akan hal itu. Ia lebih senang jika ada sesuatu yang membuat Nozu bisa menghapus perasaan dan menjauh darinya. Setidaknya dengan begitu, saat tiba akhir dari perjanjian panjang mereka, akan lebih mudah bagi Tobirama untuk melepaskan wanita itu.

"Tentu saja, kalau kakak sudah bilang begitu" jawab Tobirama datar. "Ikutlah denganku"

"Terima kasih" Hani tersenyum senang sambil menggandeng lengan Tobirama. "Malam ini dingin sekali. Kau harus menjaga kesehatan. Jangan terlalu banyak bekerja. Tidak baik untuk tubuhmu"

Tobirama terdiam menatap Hani yang kini menggandeng lengannya. Mereka berjalan keluar dari gedung pemerintahan menuju kediaman Tobirama.

"Aku sangat senang. Tuhan kembali menyatukan kita" Hani bergumam tiba-tiba.

"Semua akan terjadi jika memang sudah ditakdirkan seperti itu" balas Tobirama singkat.

Hani menatap Tobirama yang lebih tinggi daripadanya. "Bolehkah aku bertanya satu hal padamu?"

Tobirama melempar tatapan ingin tahu.

"Tobirama.. Kau tidak mencintai perempuan itu, bukan? Nozu Hagoromo?"

Tobirama tertegun. "Bukankah jawabannya sudah kukatakan padamu?" Balasnya sambil tetap memasang wajah sedatar mungkin.

Hani menghentikan langkahnya. Ia menatap Tobirama lurus "Nah, sekarang jawab pertanyaanku. Apa kau masih mencintaiku? Apa kau masih menginginkanku?"

Tobirama terdiam. Mendadak Ia teringat akan Nozu yang pasti sudah di rumah menunggu Tobirama pulang, walaupun dengan sikap dinginnya. Mendadak, muncul sebersit rasa bersalah dalam dadanya. Sebersit ingatan akan tatapan Nozu yang hangat dan penuh cinta padanya membuatnya merasa bimbang. Apakah benar bila Ia tetap berbohong pada Nozu? Apakah perbuatan itu manusiawi, memanfaatkan seseorang lalu membuangnya begitu saja saat tujuan tercapai? Apakah tidak keterlaluan melakukan hal ini pada seorang wanita yang bahkan tidak pernah menyakiti Tobirama sekalipun? Pikiran Tobirama melayang jauh, membuatnya tidak mampu mengendalikan tubuhnya dengan baik.

Meski perlahan, ingatan akan janjinya pada Hani di masa lalu ikut merasuk kedalam pikiran Tobirama, membuat Ia tidak mampu mengelak saat Hani menarik pria itu mendekat dan mencium bibirnya dengan dalam di saat yang bersamaan.

Tobirama dengan cepat mengembalikan kesadarannya. Ia segera menjauhkan diri.

"Apa yang kau lakukan?" Tanyanya sinis.

Hani menatap Tobirama lurus. "Ada apa? Ada yang salah dengan ini? Bukankan sebentar lagi aku akan menjadi istrimu? Apa ada bedanya jika kita melakukannya sekarang dan nanti?"

"Kita sedang ada urusan" Tobirama memalingkan wajah, berusaha meredam detak jantungnya yang kini tidak teratur.

Hani memeluk Tobirama. "Sampai kapan jalan pikiranmu sekaku itu? Istirahatkanlah pemikirannya dari hal-hal berat itu bersamaku dan kau akan merasa lebih baik"

"Aku tidak apa-apa" Tobirama melepaskan diri dari pelukan Hani. "Jika kau pikir aku butuh kau kasihani, Aku tidak butuh" Ujarnya sinis.

Tobirama melangkah meninggalkan Hani. "Jika malam ini kau hanya ingin menghabiskan waktu dengan bercakap-cakap tentang perasaanmu, mohon maaf Aku tidak punya waktu".

Hani terdiam menatap punggung Tobirama yang mulai meninggalkannya. Ia kembali berjalan mengikuti pria itu.

'Apa yang terjadi dengannya? Kenapa moodnya sejelek itu hari ini? Apa dia memikirkan sesuatu yang lain?'

Hani berhenti sesaat. Tobirama terlihat tidak peduli apakah Hani masih mengikutinya atau tidak. Ia menatap punggung pria berambut putih itu dengan sendu.

'Tobirama, apa kau mulai mencintai Nozu Hagoromo?'

-8-8-8-

Entah sudah berapa kali kuaduk jus buah yang ada di depanku. Aku menatap jam dinding. Sudah pukul 11 malam.

Aku menggeliat di kursi. Tubuhku terasa begitu lelah, seakan-akan tangan dan kakiku akan copot sebentar lagi, tapi anehnya aku tidak bisa tidur. Sudah kupejamkan mataku sejak pukul 10 tapi yang kudapat hanya pusing karena terlalu lama berbaring dan tidak bisa tidur.

"Sudah jam segini, kenapa Tobirama belum pulang?"

'Apa yang kukatakan barusan?'

Aku menghela napas lagi. Kenapa pula aku harus memikirkan dia pulang atau tidak? Kenapa aku memikirkan orang yang sama sekali tidak memikirkanku?.

Aku tertawa pelan, menertawakan kebodohanku sendiri.

'Cklek'

Siapa lagi yang membuka pintu rumah semalam ini selain Tobirama. Ingatan akan pembicaraan Tobirama dan wanita es itu membuatku enggan bertemu dengannya hari ini. Mungkin lebih baik aku pura-pura tidur. Banyak pekerjaan yang harus kukerjakan besok.

Aku menghabiskan seluruh jus yang masih tersisa di gelas dan berjalan menuju dapur untuk meletakkannya di bak cucian, lalu segera bergegas ke kamar. Langkahku terhenti setelah sayup-sayup kudengar suara wanita dari halaman depan.

'Tobirama pulang dengan seorang wanita? Siapa?''

Entah apa yang terjadi, kakiku seperti berjalan sendiri menuju ruang tamu.

Tobirama menatapku dengan tatapan datarnya yang biasa. Tanpa basa-basi, mataku tertuju pada seorang perempuan berambut putih panjang dengan tatapan mata hijaunya yang teduh.

"Hani Yuki, apa yang kau lakukan malam-malam begini?" Pertanyaan itu seolah terlontar dari mulutku tanpa sadar.

"Selamat malam Kak Nozu" Hani menyapaku dengan sopan. "Malam ini aku minta izin menginap. Aku dan Tobirama harus mendiskusikan sesuatu tentang peta desa kita"

Mataku melebar. "Wah.. diskusi rahasia apa itu? Apa aku bisa ikut?"

"Tidak perlu" balas Tobirama segera. "Ini tidak ada hubungannya denganmu"

Aku membalikkan badan dan menatap Tobirama yang tengah mencari sesuatu di lemari kayu ruang tamu. Kata-katanya membuat kejadian beberapa hari lalu seakan kembali terputar di kepalaku, tentang Ia yang akan menikahi Hani dan hanya memanfaatkanku agar klan Senju dapat bantuan secara cuma-cuma dari klan Hagoromo. Kekesalanku seakan memuncak hingga ubun-ubun, membuatku tanpa sadar mengepalkan tangan.

"Kenapa? Kenapa kau harus marah?" Tobirama bertanya tiba-tiba tanpa menatapku. Ia masih tetap mencari sesuatu dalam lemari itu. "Sudah kukatakan ini tidak ada hubungannya denganmu. Jika kau lelah, istirahatlah. Daripada kau buang-buang tenaga untuk hal-hal tidak berguna"

Aku menghela napas kembali.

"Baik. Lakukan sesukamu"

Kupikir kata-kata itu cukup untuk menumpahkan semua kekesalanku padanya malam itu. Aku tidak peduli apa yang akan dilakukannya dengan Hani. Bola mataku bergulir, mendapati wanita itu yang dengan tenang menonton pembicaraan kami seperti menonton drama.

Dadaku terasa sakit ketika mata kami bertemu. Apa yang akan dilakukan wanita itu dengan Tobirama malam ini? Mereka mau selingkuh terang-terangan di depan mataku dan aku membiarkannya?! Apa yang kulakukan? Istri macam apa aku ini yang mau harga dirinya diinjak-injak seperti itu?

Pikiran itu segera terhapus dari kepalaku saat aku melihat Tobirama yang menatapku dengan tatapan datar tanpa ekspresi. Dia bahkan tidak menunjukkan kepeduliannya sedikitpun.

Baik, jika memang ini yang kalian mau.

Tanpa mengucapkan apapun, aku berjalan menuju kamar. Cukup! Aku sudah muak melihat mereka berdua hari ini.

"Nozu.."

Aku menghentikan langkah, menatap Tobirama yang tiba-tiba memanggilku. Sekarang apa lagi?

"Besok, aku Ingin kau datang ke kantor Senju pukul 7 malam. Ada uji coba rencana perang disana. Kami butuh elemen api dan saranmu untuk menguji seberapa baik rencana yang sudah dibuat"

Aku menatap Tobirama tidak percaya. Memang inilah rencananya. Dia dan klan Senju hanya ingin memanfaatkan kekuatan kami, tidak peduli apapun yang terjadi. Aku memang sudah tahu sebelumnya, namun entah mengapa mendengar kata-kata itu dengan langsung dari seorang Tobirama Senju terasa lebih menyakitkan.

"Aku hanya ingin menyampaikan itu. Kuharap kau datang besok. Jika kau ingin istirahat, silakan" ujar Tobirama yang tengah membawa beberapa lembar kertas dan sebuah kunci di tangannya.

'Sungguh tidak tahu diri!'

Aku memalingkan badan dan bergegas ke kamar.

-8-8-8-

"Dengan bantuan klan Yuki dan Hagoromo, rencana kita sempurna" ujar Hashirama Senju dengan mata berbinar. "Aku begitu senang rasanya hingga Ingin menangis. Bantuan mereka sungguh tidak terhitung jumlahnya"

"Aku setuju" balas Tobirama. "Kemampuan mereka meningkatkan daya tempur kita, Kak"

"Tobirama, kau sudah bicara soal uji coba rencana hari ini dengan Nozu? Dia setuju?" Tanya Hashirama.

Tobirama terdiam. Nozu tidak menjawab apapun kemarin malam. Ia terlihat begitu marah melihat Tobirama membawa Hani ke rumahnya, padahal mereka tidak melakukan apa-apa, hanya berdiskusi mengenai penempatan benteng es di sekitar perumahan penduduk desa. Ia juga sudah mengatakan pada Nozu apa yang akan dilakukannya dengan Hani, kenapa Nozu harus semarah itu?

"Sepertinya dia setuju"

Hashirama mengerutkan dahi. "Kenapa kau berpikir lama hanya untuk menjawab pertanyaanku tadi? Kau tidak bohong kan, Tobirama?" Hashirama tersenyum jahil.

"Untuk apa aku berbohong padamu, Kak" balas Tobirama, berusaha membuat suaranya terdengar sedatar mungkin.

"Wah, wah.. aku penasaran. Bagaimana Nozu akan menghancurkan pertahanan elemen es Hani dengan api birunya?" mata Hashirama berbinar. "Kau tahu rumor itu kan? Api biru milik Nozu terlihat sangat indah seperti batu safir, begitu kata banyak orang. Aku sendiri belum melihat secara langsung kemampuannya bertarung. Nozomi biasa menyimpannya sebagai ninja medis, bukan petarung. Aku sangat senang Nozu bisa jadi kawan kita, bukan lawan. Mengingat Uchiha punya Nozomi dan Hana, akan sangat menguntungkan jika kita punya Nozu"

Hashirama berdiri dari meja kerjanya, menatap keluar jendela. "Elemen es Hani pun tidak kalah menarik. Itu garis keturunan khusus yang tidak dimiliki klan lain. Es yang dibuatnya bukan es biasa. Nah Tobirama, apa kau yakin benteng es Hani dapat menahan elemen api Nozu? Kita analogikan api biru itu seperti api Uchiha, dengan itu kita bisa tahu seberapa baik kualitas benteng es yang akan kita bangun sebentar lagi"

Hashirama menatap jam dinding. "Wah.. sudah pukul setengah 7. Hani sudah disini dari jam 6 tadi, mungkin Nozu sudah datang juga. Ayo kita bergegas ke bawah, Tobirama!" Serunya bersemangat.

Tobirama mengikuti kakak laki-lakinya menuruni tangga batu memutar ke bawah, berjalan menuju halaman depan kantor pemerintahan Senju. Mereka mendapati Hani Yuki tengah duduk di salah satu sudut ruangan. Melihat kedua kakak beradik Senju itu, Hani bangkit berdiri dan memberi salam.

"Selamat malam Kak Hashirama. Selamat malam Tobirama" Hani membungkuk sopan.

"Malam, Hani" balas Hashirama ringan. "Apa Nozu sudah datang?"

"Aku belum bertemu dengannya hari ini" balas Hani dengan suara sopan.

Hashirama tersenyum. Hani Yuki yang dikenalnya dari dulu tidak berubah, dengan rambut putih panjang, tatapan teduh dan auranya yang tenang membuatnya terlihat seperti ratu dari dunia es.

"Kenapa Nozu terlambat? Apa dia sibuk di Igaku no Niwa?" Hashirama mengerutkan dahi.

Tobirama terdiam. Perlahan Ia merasakan seseorang yang datang mendekat. Auranya terasa begitu familiar, membuat Tobirama berkata tanpa sadar.

"Dia datang"

Nozu datang dari halaman depan. Ia berjalan santai memasuki ruangan berlantaikan kayu itu. Sesampainya didepan kakak beradik Senju, Nozu membungkuk hormat, memberi salam.

"Maaf membuat kalian menunggu. Ada sesuatu yang harus kuurus tadi"

"Nozu adikku.. kau sehat?" Hashirama menghampiri Nozu, memeluknya dengan erat. "Apa adik ipar ku sedang sibuk, eh?"

Nozu tersenyum dan memeluk balik kakak ipar laki-lakinya itu. "Aku baik, kak! Kakak harus jaga kesehatan! Aku tahu kakak sering keluar desa akhir-akhir ini"

"Kau memperhatikanku ya?" Hashirama mengangkat alis, bertanya dengan suara bercanda. "Apa aku tersangkanya?"

"Kakak keluar desa untuk 'itu' kan?" Nozu menyikut lengan Hashirama.

Hashirama tertawa lepas. "Nozu, aku tidak selalu melakukan 'itu'.."

"Tapi 'itu'-kan hobi kakak.." potong Nozu segera, membuat Hashirama mendadak tertawa salah tingkah.

Tobirama menatap Nozu dan Hashirama yang tengah berbincang. Hubungan mereka terlihat biasa saja, cenderung lebih hangat dan dekat akhir-akhir ini. Sedangkan hubungannya dan Nozu? Kenapa bukan kakaknya saja yang menikah dengan Nozu Hagoromo? Hubungan mereka tidak akan sedingin hubungan Tobirama dan Nozu sekarang.

"Mereka cocok ya.." Hani mendekati Tobirama. "Mereka berdua bersemangat, akan lebih baik jika mereka adalah suami istri"

Kali ini Tobirama memilih mengacuhkan perkataan Hani.

"Tobirama, kau terlihat lebih kurus akhir-akhir ini. Apa kau kurang makan? Apa Nozu tidak mengurusmu dengan baik?" Hani tidak menyerah.

Tobirama masih memilih diam.

"Jika kau mau, aku bisa tinggal di rumahmu dan membantu Nozu mengerjakan pekerjaan rumah yang mungkin ditinggalkannya karena terlalu sibuk mengurus Igaku no Niwa.."

"Kenapa kau banyak bicara hari ini?" kini Tobirama memilih untuk membuat Hani berhenti bicara.

Sesaat kemudian, Tobirama merasakan ada sepasang bola mata yang menatapnya. Ia mendapati Nozu tengah memperhatikannya dan Hani dari jauh. Walaupun berusaha menyembunyikan perasaannya, ada aura sinis dari tatapan yang diarahkan wanita Hagoromo itu padanya. Sesaat setelahnya, Nozu segera memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Ayo, sudah malam! Uji coba rencana kita harus segera dimulai. Setelah itu kita akan bakar-bakar berhadiah malam ini!" Hashirama berseru girang, berjalan ke arah hutan timur.

Tobirama menatap Nozu yang tengah berjalan mengikuti Hashirama ke hutan timur. Ia merasakan chakra wanita itu mulai bergejolak, seakan tengah bersiap akan pertempuran asli. Tidak biasanya Tobirama merasakan aura bertarung yang begitu kuat dari wanita itu seperti malam ini.

'Nozu Hagoromo, ada apa denganmu? Apa kau cemburu?'

-8-8-8-

Aku kembali menghela napas, entah sudah keberapa kalinya aku melakukan itu.

Tanpa kusadari, aku menghela napas lagi.

Sepertinya ada sesuatu yang salah di kepalaku.

Aku merasa ada yang salah dengan tingkah laku Hani Yuki belakangan ini.

Entah apakah aku yang terlalu sensitif, tapi sepertinya tidak. Semakin lama Ia tinggal disini, semakin aku merasa ada yang tidak beres. Bukan hanya tentang wanita itu yang terlihat sangat menyukai Tobirama, tapi aku punya firasat lain. Firasat tidak baik tentunya.

Sepertinya hanya aku yang merasakan perasaan itu. Semua warga Senju malah terlihat begitu bersahabat dengannya dan semua anggota klan Yuki, termasuk Hashirama yang seringkali mengundang Hani untuk menginap di rumah, menantinya berbincang mengenai budaya antar klan dan lain-lain. Beruntung Satsu dan Amari juga merasakan hal yang sama denganku. Entah karena mereka berpikir begitu karena subjektif atau memang mereka merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan klan Yuki. Walaupun hanya dua orang yang berpihak padaku, kadang itu membuat perasaanku terasa lebih baik.

Sudah sebulan belakangan ini, aku sering mendengar desas-desus apa di kalangan warga saat pergi ke pasar. Banyak yang memuji kecocokan Hani dengan Tobirama. Tidak sedikit juga yang beranggapan lebih baik Tobirama menikah dengan wanita itu saja. Sesungguhnya aku tidak peduli dengan apapun kata orang, tapi entah mengapa untuk hal yang satu itu, aku...

Aku memijat kepalaku yang terasa makin sakit saat mengingat beberapa pembicaraan mereka sore itu, saat aku mendengar Tobirama hanya memanfaatkan kekuatan klanku. Yah, dia tidak akan mendapat bantuan cuma-cuma dari klan sebesar Hagoromo jika Ia tidak menikah denganku atau Hana. Ingin rasanya aku membiarkan Hani dan Tobirama melakukan hal yang mereka mau. Ingin rasanya tidak peduli pada apapun yang mereka lakukan dan apa yang orang katakan tentang mereka. Tapi aku tidak bisa, dan kenapa pula aku harus tidak bisa?

Hatiku mencelos. Rasanya ada sebagian dari diriku yang ingin tutup mata dari segalanya, membiarkan mereka berbuat sesuka hati. Lagipula pernikahan ini memang palsu. Aku sudah tahu itu. Apa lagi yang bisa kuharapkan dari pernikahan semacam ini? Bagaimana bisa aku mengharapkan ada kesetiaan dari pernikahan tanpa perasaan ini? Untuk apa aku merugikan diri sendiri dengan merasa sakit disaat orang lain berbahagia? Aku juga berhak untuk bahagia!

Tapi sebagian dari diriku yang lain berteriak tidak terima akan penindasan ini. Baik, aku memang sudah tahu ini pernikahan politik. Tapi apa karena itu mereka berhak menginjak-injak harga diriku? Memang mereka siapa? Aku adalah anak Nogo Hagoromo, putri tertua klan Hagoromo yang hebat dan mereka dengan lancangnya melecehkanku? Harga diriku tidak bisa menerima ini begitu saja.

Aku melirik jam dengan pasrah. Sudah hampir tengah malam. Hari ini aku memutuskan untuk tidak pulang ke rumah dan menginap di Igaku no Niwa. Satsu dan Amari tidak bisa menemaniku hari ini karena mereka sudah tidak pulang dua hari karena membantuku menyusun tumpukan dokumen di sini. Mereka harus cukup istirahat dan aku tidak apa-apa sendirian disini. Aku minta izin pada kak Hashirama untuk menyelesaikan laporan pemeriksaan klan Uchiha hari ini. Alasan sebenarnya, aku muak bertemu dengan Hani malam ini. Ia pasti menginap di rumah lagi hari ini dan tengah berbincang riang dengan kakak beradik Senju itu.

'Terserah!'

Aku merapikan helaian kertas yang masih berserakan di meja. Ditengah pikiranku yang tengah kacau, Satsu dan Amari dengan baik hatinya mengerjakan beberapa pekerjaanku sehingga semuanya selesai tepat pada waktu pengumpulan. Kepalaku suntuk dan entah kenapa ruangan ini terasa panas. Aku ingin mencari udara segar di luar. Kulirik halaman luar lewat jendela, bulan sedang bersinar terang malam ini. Sepertinya malam yang cukup baik untuk menenangkan diri.

Aku melangkah keluar, membuka pintu dan membiarkan semilir angin malam menerpa tubuhku. Anginnya terasa begitu dingin dan sejuk, berbeda dengan suasana di Igaku no Niwa. Aku berjalan perlahan keluar, melihat pantulan cahaya bulan di permukaan air kolam yang berwarna keperakan membuat perasaanku lebih tenang. Alam seperti menyambutku dengan sangat baik, tidak seperti orang-orang Senju dan Yuki disini.

"Hmm?"

Aku sedang berjalan menuju ke arah barat hingga suara mencurigakan itu terdengar didekat tempatku berdiri. Suara itu membuatku berhenti dan segera mencari tempat untuk bersembunyi.

Aku begitu terkejut mendapati Hani Yuki tengah berjalan setengah berlari ke arah hutan barat. Wajahnya tidak setenang biasanya. Ia membawa sebuah buntalan besar di tangannya yang ditutupi kain putih. Bukankah seharusnya Ia tengah bersama dengan kedua kakak beradik Senju itu di rumahnya? Apa yang dia lakukan? Jika tahu Ia tidak menginap malam ini, seharusnya aku pulang ke rumah saja!

Tapi tunggu dulu...

Saat aku merasa keberadaan Hani mulai menjauh, aku keluar dari tempat persembunyian. Apa yang membuat wanita seperti Hani Yuki keluar rumah tengah malam seperti ini? Aku punya firasat tidak baik. Aku harus tahu apa yang dilakukannya di luar sana malam ini! Harus!

"Kagebunshin no jutsu"

Aku memunculkan kagebunshin di sebelahku. Sungguh berbahaya bila mengikuti wanita itu dengan tubuh asli. Jika hal terburuk terjadi, setidaknya aku tidak akan mati malam ini.

Kagebunshinku mengangguk. Ia yang pastinya sudah tahu apa yang kupikirkan segera bergegas mengikuti jejak Hani sebelum Ia pergi terlalu jauh. Sementara itu aku akan tetap berdiam diri disini, sambil berusaha mengontrol chakra agar kekuatan bayanganku disana stabil.

Hani Yuki terus berjalan menuju hutan barat, sambil melirik sekali-kali, memastikan tidak ada yang melihatnya. Tingkah lakunya sungguh aneh. Sepertinya Ia tengah merencanakan sesuatu, sesuatu yang rahasia pastinya. Beruntung aku punya kemampuan menghilangkan aura yang bahkan bisa menipu Tobirama si tipe deteksi. Bukanlah hal yang sulit untuk menyembunyikan diri dari Shinobi dengan kemampuan deteksi rendah seperti Hani.

Wanita berambut putih panjang itu terus berjalan hingga Ia tiba di sebuah tempat. Aku terkejut. Sejak tinggal disini, belum pernah aku melihat tempat seperti itu di hutan barat sebelumnya.

Ada altar kecil yang dibangun di tengah hutan barat, lengkap dengan beberapa patung Buddha dan banyak lilin disekitarnya. Hani membuka buntalan yang dibawanya dan menyerahkan isinya pada seseorang yang tengah berdoa di altar itu. Aku tidak tahu siapa namanya tapi aku tahu Ia anggota klan Yuki juga. Mereka kemudian berdoa bersama sambil membakar beberapa dupa dengan lilin, membuatku hampir bersin saat bau asapnya sampai menyentuh hidungku.

"Kerja bagus, Hani. Dengan ini, sedikit demi sedikit tujuan kita tercapai"

Aku tidak bisa mendengar apa pembicaraan mereka. Suara mereka terlalu kecil untuk didengar dari jarak sejauh ini.

Hani meletakkan dua buah boneka di depan altar, ia kembali ke tempatnya lagi dan melanjutkan doanya kembali. Awalnya aku tidak begitu tertarik dengan apa yang mereka lakukan, namun entah kenapa mataku tertuju pada dua boneka yang diletakkan Hani didepan tadi.

Boneka itu hanyalah boneka jerami biasa, yang tidak mempunyai wajah. Anehnya ada satu boneka berambut hitam panjang dan boneka yang lain berambut putih pendek. Aku mengerutkan dahi. Walaupun aku rabun jauh, aku yakin apa yang kulihat benar. Mendadak jantungku berdegup kencang. Apakah kedua boneka itu mewakili Hashirama dan Tobirama yang memiliki rambut sama dengan kedua boneka itu? Bulu kudukku berdiri, aku merasakan firasat buruk.

'Hani Yuki, apa yang sedang kau rencanakan?'

To be continued..

-8-8-8-

A/N : Readers , sudah lama tak jumpaa! Tolong maafkan author yang baru bisa kembali melanjutkan cerita ini.. mohon maaf sekali untuk para Readers yang menanti kelanjutan fic ini.. T_T

Sejak balik dari KKN, ada banyak hal yang harus diurus di kehidupan nyata, jadi harus Hiatus dulu dari dunia fanfiction.. T_T

Untuk menginformasikan kepada readers yang sudah setia menunggu dengan sangat sabar bahwa cerita ini sudah diupdate lagi, saya memutuskan untuk publish lanjutannya menjadi part 2..

Saya memang sudah berencana ingin menyelesaikan fic ini (untuk kesenangan pribadi sebenarnya, hehe). Saya sangat senang dan berterima kasih jika ada pembaca yang masih setia menunggu kelanjutan cerita Tobirama dan Nozu.. saya akan berusaha tidak mengecewakan kalian.. mohon doanya dari Readers semua..

Untuk para Readers baru yang baru membaca fic ini, salam kenal ya.. semoga kalian suka dan tetap menunggu kelanjutan cerita ini.. :))

Jangan sungkan untuk menulis saran dan kritik untuk fic ini karena masukan dari Readers semua selalu saya terima dengan senang hati..

See u on the next chapter!