Disclaimer: Naruto beserta tokoh-tokoh didalamnya hanyalah milik Masashi Kishimoto seorang. Saya hanyalah seorang author yang berusaha meluaskan imajinasi saya

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Warning: OOC, OC mis-typo(s)

Rated : M

Chapter 23 : The Beginning

Tobirama menyandarkan punggungnya di kursi Hokage. Tatapannya tertuju pada jam dinding di ruangan kakak laki-lakinya itu. Sudah pukul setengah sebelas siang.

'Kenapa Hiruzen belum juga tiba?'

Tim yang baru pulang ke desa setelah menyelesaikan misi harus memberikan laporan langsung ke ruang Hokage. Ada yang aneh. Tidak biasanya Hiruzen dan teman-temannya pulang terlambat seperti ini. Di surat yang dikirim lusa lalu, mereka mengabari akan tiba di gerbang Timur pukul delapan pagi. Sudah lewat dua jam tiga puluh menit dan mereka belum juga tiba?

'Tok, Tok, Tok'

"Masuk"

Pintu ruangan Hokage terbuka. Rupanya Hana Hagoromo-lah yang sedang berdiri disana.

"Hana, Ada yang bisa kubantu?" tanya Tobirama dari balik meja.

Hana melihat sekeliling ruangan dan mengerutkan kening. "Kak Nozu tidak disini?"

"Nozu belum datang kemari" jawab Tobirama.

"Aku kira dia ada disini untuk menemui kak Tobirama bersama anak-anak itu" balas Hana. "Dia memetik tanaman obat di gerbang Timur. Katanya dia akan mengantarkannya ke Igaku no Niwa setelah anak-anak itu pulang. Sampai sekarang kak Nozu belum datang. Kupikir dia terlalu lama berbincang disini"

Tobirama mengerutkan dahi. Nozu memang sudah memberitahu Ia akan menjemput Hiruzen di gerbang Timur hari ini. Nozu belum ke Igaku no Niwa, berarti anak-anak itu belum datang. Jika Nozu memang menunggu anak-anak itu bukankah seharusnya Ia merasa ada yang aneh dan datang menemui Tobirama disini? Atau mungkin...

"Aku perlu tanaman obat itu sekarang" Hana menghela napas. "Aku akan kesana dan mengambilnya sendiri"

"Tidak, Hana" Tobirama bangkit berdiri dari kursinya. "Bisa aku minta bantuanmu untuk berjaga disini? Aku akan ke gerbang Timur sekarang. Tidak biasanya Hiruzen terlambat seperti ini"

Hana terlihat terkejut. "Kak Tobirama, apa mungkin..."

"Bisa jadi" Tobirama merapikan meja Hokage. "Aku curiga ada yang menyerang Nozu dan anak-anak itu di dekat sana. Aku harap tidak ada hal buruk yang terjadi"

"Jika begitu, aku akan ikut ke gerbang Timur" balas Hana. "Mungkin disana bahaya, kak"

Tobirama menggeleng. "Toka belum datang. Harus ada seseorang yang menjaga tempat ini selagi aku pergi.."

"Kita bisa minta tolong kak Madara" sela Hana. "Bagaimana? Aku ingin ikut dengan kakak"

"Madara tidak disini" balas Tobirama. "Lagipula aku tidak bisa membiarkan Madara menginjakan kaki seperti itu disini. Dia bisa mengira.."

"Aku akan memanggil kak Madara dan memintanya berjaga disini" Hana bersikeras. "Setelah itu, aku akan menyusul kakak ke gerbang Timur"

"Akan lebih aman jika kau yang berjaga disini" balas Tobirama. "Kau tidak perlu khawatir. Aku merasa bisa menangani ini sendiri"

Hana terlihat tidak setuju. "Tapi, kak.."

"Semakin cepat aku pergi, semakin baik" Tobirama segera bergegas meninggalkan ruang Hokage, meninggalkan Hana seorang diri di ruangan itu.

Tobirama berusaha sebisa mungkin untuk tiba di gerbang Timur secepatnya. Setibanya disana, terlihat tiga bingkisan yang hendak diberi Nozu ke anak-anak itu diatas meja pos jaga.

"Selamat pagi, Tuan Tobirama" sapa ninja penjaga gerbang Timur. "Ada yang bisa saya bantu?"

"Kau tahu Nozu Hagoromo pergi kemana?" Tanya Tobirama segera.

"Tadi dia pergi keluar desa bersama Tonare Akimichi" jawab si ninja jaga. "Dia bilang ada yang harus diperiksa di dekat perbatasan Konoha dan Oto. Mereka belum kembali hingga saat ini. Ah! Tadi saya melihatnya memeriksa beberapa tanaman obat. Mungkin mereka mencari tanaman obat di sekitar sana"

Keluar desa disaat seperti ini sangat berbahaya dan Tobirama tahu Nozu mengerti hal itu. Ia yakin Nozu tidak seceroboh itu untuk mencari tanaman obat diluar desa. Ia segera bergegas meninggalkan pos menuju lokasi yang disebut ninja jaga tadi.

'Nozu, kau kemana?'

Tobirama mengaktifkan mode deteksinya. Samar-samar Ia bisa merasa aura chakra Nozu, Tonare Akimichi serta Hiruzen yang kuat dalam jarak yang terbilang jauh dari gerbang Timur. Aliran chakra seperti ini hanya terasa jika mereka terlibat pertarungan.

Ada yang menyerang mereka, entah siapa.

Tobirama bergegas mendekati lokasi pertarungan yang kini sudah tidak jauh lagi. Dalam jarak dua ratus meter, Ia bisa melihat ada kepulan asap tebal di salah satu sudut hutan. Tidak salah lagi mereka pasti disana.

Setibanya di lokasi pertarungan, area itu terlihat sangat berantakan dengan banyak tanah retak dan pohon tumbang. Sepertinya pertarungan mereka sudah terjadi cukup lama. Tobirama melihat Nozu tengah menggunakan ninjutsu medis untuk mengobati Koharu dan Homura yang tergeletak bersimbah darah. sementara Hiruzen yang terlihat kelelahan dan Tonare Akimichi bergantian menyerang lawan mereka, seseorang yang belum pernah dilihat Tobirama sebelumnya.

Tobirama mengamati gerakan pria itu sesaat sambil menganalisa keadaan. Pria itu, sepertinya ninja dengan elemen tanah. Ia bersama kedua temannya sepertinya memiliki jurus yang saling berhubungan. Masing-masing dari mereka punya elemen tanah, petir dan api, yang digabungkan untuk membuat ninjutsu ledakan semacam bom. Tidak butuh waktu lama bagi mereka membuat puluhan bom dalam berbagai ukuran. Salah seorang dari mereka meletakkan bom-bom itu diatas hewan kuchiyose yang aneh. Hewan itu terlihat seperti siput berbelalai dengan cangkang berduri yang tidak biasa. Ia menembakkan bom ke segala arah, seperti meriam.

'DUAR, DUAR, DUAR'

Dinding tanah kokoh yang dibuat Hiruzen dengan sokongan tangan raksasa Tonare Akimichi langsung roboh ketika puluhan bom dilemparkan ke arah mereka, menimbulkan ledakan besar disertai asap pekat yang menghalangi penglihatan.

'Apa mereka baik-baik saja?'

Asap ledakan itu sangat tebal dan pekat hingga butuh waktu lama untuk hilang. Dengan mode deteksi, Tobirama yang mengetahui mereka semua tidak terluka akibat ledakan tadi, memutuskan masuk ke pertempuran.

"Fuuton: Daittopa!"

Dengan sisa chakranya, Hiruzen mengeluarkan ninjutsu angin besar yang mengusir asap tebal disekitar mereka. Langkah tepat. Tidak ada satupun dari mereka yang merupakan tipe deteksi. Pendeknya jarak penglihatan bisa menjadi celah fatal yang bisa dimanfaatkan musuh.

"Hiruzen, kau baik-baik saja?"

Tobirama berdiri tepat di depan Hiruzen. Anak itu terlihat begitu kelelahan. Tobirama bisa memastikan dari berapa banyak chakra yang masih tersisa dalam tubuhnya. Hiruzen jatuh terduduk ke tanah dengan napas tersengal.

"Tuan Tobirama.. saya.. baik-baik saja" Hiruzen memegangi dadanya. "Maaf.. saya..."

'Uhuk, Uhuk, Uhuk'

"Kerja bagus, Hiruzen" Tobirama menoleh kearahnya.

"Tuan Tobirama, mereka sepertinya orang-orang dari Ishigakure, desa yang ada di perbatasan negara Tanah dan Angin" ujar Tonare Akimichi. "Saya pernah bertemu seseorang dengan kemampuan mirip dengan mereka saat mendapat misi ke negara Angin"

"Ishigakure.." Tobirama menatap tajam ketiga orang itu bergantian.

"Hiruzen, cukup! Jika terus bertarung, kau bisa mati!" Seru Nozu dari belakang.

Salah seorang diantara ketiga pria itu berlari sangat cepat ke arah Nozu sambil mengeluarkan sebuah sabit besar.

Nozu yang masih fokus dengan ninjutsu medis tidak bisa memasang ancang-ancang pertahanan dari serangan tiba-tiba itu. Jika pengobatannya berhenti saat itu, nyawa Koharu yang sedang dioperasi mungkin tidak tertolong.

Sabit itu terlihat makin dekat. Bagaimana Ia bisa melindungi diri dari serangan pria itu? Tobirama dan yang lain berada cukup jauh. Jika ada satu dari mereka yang ingin menghalau sabit itu, waktunya tidak akan cukup.

Tobirama melempar sebuah kunai ke arah Nozu. Bagaimana bisa sebilah kunai menghalau serangan sabit sebesar itu?

'TRAANGG'

"Hanya pengecut yang mencoba melukai ninja medis dalam pertarungan"

Nozu membelalakkan mata. Entah bagaimana caranya Tobirama bisa tiba secepat itu dan menahan serangan sabit dengan pedangnya. Pria itu bergerak mundur.

"Tobirama..."

Tobirama melirik Nozu. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu"

Ia menatap tajam pria itu. "Sebelum menyerang mereka, langkahi dulu mayatku"

"Tobirama, asap ledakan mereka bukan asap biasa" seru Nozu dari belakang. "Gunakan antidot yang tadi kuberikan pada Tonare Akimichi. Itu akan membuat tubuh bereaksi lambat terhadap racun dalam asap itu. Hiruzen sudah menghirup asap itu terlalu banyak. Efek racunnya sudah mulai bekerja"

Tonare Akimichi bergegas menghampiri Nozu sambil membawa Hiruzen yang sudah tidak sadarkan diri.

"Tonare, berikan antidot itu padaku dan tinggalah disini untuk menjaga Nozu yang sedang mengobati anak-anak itu" Tobirama menatap kedua pria lain yang kini berdiri di hadapan Tobirama. "Biar aku yang urus mereka"

Tobirama menerima sebuah botol berisi beberapa butir obat dari Tonare. "Baik, Tuan. Saya akan menjaga Nona disini"

"Hati-hati Tobirama. Hewan kuchiyose itu berbeda. Dia bisa menyemprotkan bisa beracun lewat belalainya" Nozu kembali mengerahkan chakra ke telapak tangannya yang kini sudah berlumuran darah. Ia menarik keluar sebuah benda kecil yang mirip dengan bom buatan ketiga pria itu dari dalam tubuh Koharu. "Rasanya aku pernah melihat hewan itu.. entah dimana"

"Aku percayakan anak-anak itu padamu, Nozu" Tobirama tersenyum tipis. "Ada rencana yang ingin kucoba"

Tobirama menelan satu butir obat dari botol itu. Detik selanjutnya Ia sudah terlibat pertarungan dengan orang-orang itu. Mereka beradu senjata dan ninjutsu beberapa saat lamanya, saling menyerang dan bertahan. Ninja Ishigakure itu menang dalam jumlah. Terkadang mereka menyerang Tobirama bersamaan, membuatnya cukup tertekan. Tapi bukan Tobirama Senju namanya jika Ia tidak bisa bertahan dari serangan semacam itu.

Ketiga orang itu kini berkumpul dan tengah membuat bom lagi. Serangan yang mereka timbulkan cepat dan besar. Tobirama harus mengambil keputusan cepat. Tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain menghalangi ledakan besar itu terjadi.

"Suiton: Suishoha!"

Muncul pusaran air raksasa di sekitar Tobirama. Pusaran air itu meledak dan membentuk ombak sangat besar yang diarahkan Tobirama pada lawannya. Arus air yang dihasilkan sangat kencang hingga membuat dinding tanah pelindung yang diciptakan salah seorang dari mereka roboh. Ketiga ninja itu menyelamatkan diri dengan lompat ke pepohonan terdekat yang belum tumbang sementara sang siput masuk kedalam cangkang, terombang-ambing dalam arus raksasa.

"Raiton: Kangekiha!"

Salah seorang dari pria berelemen petir mengeluarkan ninjutsu gabungan elemen air dan petir kedalam ombak raksasa yang dibuat Tobirama. Sepertinya dia ingin menggunakan elemen petir dan air dalam jumlah banyak untuk menyerang Tobirama.

"Tobirama!"

'BBBZZZZTT'

Muncul petir yang lebih besar dari dalam air. Besarnya tegangan listrik yang dihasilkan membuat cangkang siput itu pecah dan kuchiyose mereka hilang.

Tatapan Nozu berubah ngeri melihat aliran listrik luar biasa yang mampu menghancurkan apapun didepannya.

"Jika siput itu mati.. Tobirama.."

Diluar dugaan, Tobirama keluar dari aliran air bercampur petir dengan tubuh berlapis aliran listrik dan melesat luar biasa cepat menuju seorang diantara mereka yang berelemen tanah. Tobirama menebas pedang bercahaya kuning kearahnya dan mengalirkan listrik dalam jumlah besar pada pria itu, membuat pria itu jatuh tidak sadarkan diri bersama tanah liat yang sedari tadi digunakannya untuk membuat bom.

Nozu menghela napas lega melihat Tobirama yang baik-baik saja setelah mendapat serangan tadi.

"Pedang apa itu? Aku tidak pernah melihat pedang itu sebelumnya" Nozu mengerutkan dahi.

Seorang diantara mereka yang berelemen api mengambil tanah liat yang jatuh kedalam genangan air, berusaha meledakannya. Tobirama melempar beberapa shuriken kearahnya. Selagi pria itu menangkis tiap-tiap shuriken yang datang menghujam, secepat kilat Tobirama sudah berada dibelakang pria itu dan menempelkan kunai di lehernya.

"Tanah lemah terhadap petir. Bom itu sudah tidak bisa diledakkan lagi" Tobirama menekan kunainya hingga leher pria itu berdarah. "Tamatlah riwayatmu jika kunai ini memotong saluran napasmu"

Tobirama membalik kunainya dan menggunakan ujungnya yang tumpul untuk memukul jakun pria itu dengan kuat. Pria itu terlihat kesakitan dan Tobirama kembali menebas pedang berelemen petir itu kearahnya, membuat pria itu jatuh tak sadarkan diri kedalam genangan air akibat sengatan listrik.

Tobirama menatap tajam seorang diantara mereka yang tersisa. "Kau tinggal seorang diri. Aku tahu chakramu tidak banyak lagi. Pilih menyerah atau kuhabisi disini?"

Pria itu balas menatap Tobirama dengan tatapan licik. Ia mengalihkan tatapannya pada Nozu dibelakang, membuat Nozu tersentak kaget.

"Sudah kukatakan aku lawanmu" Tobirama berlari menuju pria itu. "Jika kau tidak menyerah, hadapi kematianmu disini"

"Kokuangnyo no Jutsu!"

Tobirama memberi efek ilusi pada penglihatan pria itu hingga membuatnya merasa seperti berada dalam dunia hitam gelap-gulita. Pria itu diam sementara Tobirama terus menyerangnya dari berbagai arah, menimbulkan banyak luka di tubuhnya. Walaupun genjutsu itu hanya mempengaruhi penglihatan, sulit sekali mendeteksi serangan Tobirama yang cepat dan nyaris tak bersuara dengan mengandalkan Indra lain.

"Apa yang dilakukan Tuan Tobirama?" Tanya Tonare yang memperhatikan pertarungan mereka. "Dia membuat orang itu tidak bisa menyerang balik. Luar biasa"

Bagi orang yang mengamati dari jauh, mereka tidak melihat suasana gelap gulita itu. Mereka hanya melihat Tobirama menyerang pria yang terlihat linglung itu dari berbagai arah.

"Orang itu seperti terkena efek genjutsu sharingan" jawab Nozu menganalisa suasana.

Nozu memutus benang kulit yang digunakannya untuk menjahit luka operasi Koharu dengan pisau chakra biru di telapak tangannya. Beruntung operasi yang dilakukannya berhasil. Setelah menyuntikkan antidot pada Hiruzen dan Homura, wajah mereka sudah tidak terlihat pucat walaupun masih tidak sadarkan diri.

Nozu menghela napas lega. Takdir begitu baik, Ia bisa menolong ketiga anak itu tepat waktu.

Nozu mengamati pertarungan Tobirama dan pria itu. Sepertinya ada sesuatu dalam tatapan pria itu padanya tadi. Tapi apa? Setelah pria itu melempar tatapan aneh, Ia merasa ada desiran aneh yang terasa mencekam disekujur tubuh hingga membuatnya bergidik.

Begitu pria itu dilepaskan dari genjutsu hitam, Tobirama sudah mengunci pergerakan pria itu hingga tidak mampu melawan lagi. Tobirama menempelkan pedang di lehernya.

"Kau tidak memilih menyerah, itu artinya kau memilih pilihan yang lain" ujar Tobirama serius. "Melihat kemampuanmu yang lebih dari dua orang lain, sepertinya kau pemimpin mereka. Wajar saja kau tidak menyerah hingga akhir. Aku tidak bisa membiarkan orang berbahaya sepertimu berkeliaran disekitar Konoha"

Tobirama mengayunkan pedangnya ke leher pria itu, hanya menunggu detik-detik hingga pedang itu mengantar pria paruh baya itu ke alam baka.

'TRAANGG'

Tobirama mengerutkan dahi. Ada seseorang yang melempar kunai ke arah pedang Tobirama untuk menghentikannya, membuat pedang Tobirama menjauh dari leher pria itu.

Tidak disangka, rupanya Nozu-lah yang melempar kunai itu. Ia menatap Tobirama dan pria itu bergantian dengan tatapan ngeri.

Tobirama menatap Nozu heran. "Ada apa denganmu, Nozu?"

"Tobirama, jangan bunuh dia.." ujar Nozu tiba-tiba.

"Dia orang berbahaya" balas Tobirama. Ia kembali menempelkan bilah pedangnya ke leher pria itu. "Demi keselamatan Konoha, orang seperti ini harus dibunuh"

Sejenak, Nozu terlihat ragu. Namun Ia kembali menatap Tobirama lurus.

"Dia.. pamanku, Yamada Hagoromo"

-8-8-8-

Tobirama berjalan menuju dapur. Setelah makan malam selesai, Ia berniat bicara dengan Hana. Sepertinya Hana masih mencuci piring dengan Nozu dan Mito. Sudah tiga puluh menit setelah makan malam, apa mereka belum juga selesai?

"Ada apa, Tobirama?" Nozu yang sedang menyusun piring bersih di rak menyambut Tobirama di pintu dapur. "Ada yang masih mau kau makan lagi?"

Tobirama menggeleng. "Aku ingin bicara dengan Hana jika kalian sudah selesai"

"Hanya berdua saja? Tidak mau mengajak aku dan Nozu?" Mito mengedipkan mata.

"Kita akan berbincang bersama lain waktu" Tobirama tersenyum tipis.

"Nozu, Tobirama sepertinya sangat cocok dengan Hana" Mito menyikut Nozu pelan. "Bagaimana ini? Bagaimana jika dia lebih suka pada adikmu?"

Nozu menatap Tobirama dan tersenyum. "Aku tahu itu tidak mungkin terjadi. Istrinya 'kan aku bukan Hana. Dia memang suka Hana, tapi dia pasti lebih suka padaku"

"Kak Tobirama menyukai orang-orang yang mirip dengan kak Hashirama. Itu seleranya" Hana ikut masuk dalam pembicaraan.

"Akhirnya kak Hashirama di rumah lagi! Malam ini aku mau main catur dengan kak Hashirama sampai pagi" Nozu tersenyum girang. "Kita tidak main catur biasa. Ada taruhannya! Kak Hashirama pasti senang!"

"Kalau kau bilang taruhan, tidak tidur lima hari-pun dia juga sanggup" Tobirama menggelengkan kepalanya. "Orang itu.. benar-benar"

"Ya ampun Nozu, kau seperti Hashirama perempuan" Mito menggelengkan kepala. "Pantas saja Tobirama suka padamu, Nozu. Dia sangat menyukai kakaknya, bukan?" Mito mengedip pada Tobirama.

Hana menghampiri Tobirama. "Sepertinya aku harus menyelesaikan pekerjaanku sebentar lagi. Kakak tidak keberatan menunggu?"

"Tentu" Tobirama tersenyum. "Aku akan menunggu di teras belakang"

Hana balas tersenyum. Ia kembali membantu Nozu dan Mito beres-beres di dapur sementara Tobirama berjalan menuju teras belakang.

Tobirama duduk disana, menatap bulan separuh yang bersinar terang di langit. Angin malam ini terasa cukup dingin, tapi sejuk. Hashirama sudah mengumpulkan bijuu tersisa dalam dua setengah bulan perjalanannya. Tidak lama lagi, Ia dan Hashirama akan pergi ke negara Besi untuk pertemuan lima kage.

Minggu besok, daimyo dari semua negara akan mengadakan pertemuan yang membahas perang dunia shinobi untuk yang pertama kali. Pertikaian sudah tidak dapat dihindari. Tinggal menunggu waktu hingga dimulainya perang besar itu.

Tobirama menghela napas. Melihat situasi akhir-akhir ini yang makin berbahaya, Ia sudah menyiapkan berbagai strategi perang dan pengamanan desa. Walaupun begitu, Tobirama masih saja gelisah memikirkan hari itu kian lama makin dekat. Sepertinya perang kali ini jauh lebih kejam dari perang lalu.

"Kak Tobirama, maaf membuatmu menunggu"

Tobirama menoleh dan mendapati Hana yang berjalan ke arahnya membawa nampan berisi teko kaca dan dua buah gelas. Ia tersenyum.

"Memandangi bulan di malam hari seringkali membuatku lupa waktu" Tobirama tersenyum. "Aku merasa belum lama menunggu disini"

"Sepertinya kita punya hobi yang sama. Cahaya bulan selalu terlihat anggun dan misterius, membuatku betah berlama-lama memandanginya" Hana meletakkan nampan itu di lantai dan duduk disebelah Tobirama.

"Ini dari kak Nozu. Malam ini dingin, dia tidak mau kita kedinginan karena terlalu lama berbincang di luar. Ini coklat panas"

Hana menuang minuman itu kedalam dua gelas yang dibawanya.

"Jadi, apa yang ingin kakak bicarakan denganku?" Tanya Hana. "Sepertinya hal rahasia, eh? Mengingat kakak hanya ingin bicara denganku saja"

Tobirama menatap Hana. Ia tersenyum tipis. "Aku ingin mengucapkan terima kasih untuk bantuanmu waktu itu"

"Bantuan? Bantuan yang mana?" Hana mengerutkan dahi. Sesaat kemudian, Ia menjentikkan jari. "Ah! Soal kak Nozu, ya?"

"Benar" Tobirama mengangguk. "Aku sudah memberinya kejutan, sesuatu yang dia sukai tentunya. Karena bantuanmu, aku bisa memberi semua itu dan membuatnya senang. Terima kasih banyak"

"Hahaha.. kak Nozu pasti mengira kau mencari tahu semua itu sendiri. Dia pasti sangat terkesan dengan apa yang kau beri, kak" Hana tertawa pelan. "Kau mengambil jalan belakang, tapi tidak apa-apa. Mungkin suatu hari nanti kak Nozu akan bertanya pada kak Hashirama apa saja yang kau sukai"

Tobirama tertawa pelan. "Yah, mungkin saja"

"Kalau begitu..." Hana menadahkan tangannya. "Kapan aku bisa dapat imbalan atas apa yang kulakukan untukmu?"

"Kau benar-benar mirip Nozu jika sedang berkata begitu" Tobirama meletakkan tangannya di atas tangan Hana. "Jika memang sudah ada, kau yang pertama tahu setelah kami"

"Sebenarnya aku membantumu dengan ikhlas" Hana tertawa pelan. "Tapi, belakangan ini aku melihat kakak mencoba meluangkan waktu untuk kak Nozu. Terima kasih, kak. Kau sudah memberi satu hadiah padaku dan aku akan menunggu yang lain"

Tobirama tersenyum tipis. "Karena kebaikanmu, aku akan menambahkan satu hadiah lagi. Semoga saja kau suka"

"Hadiah tambahan?" Hana kembali membulatkan mata. "Siapa yang bisa menolak hadiah tambahan?"

Tobirama tertawa pelan. Ia mengangkat sesuatu yang terbungkus kain dan memberikannya pada Hana. "Ini, terimalah"

Hana mengambil benda itu dengan antusias. Ia segera membuka kain pembungkusnya.

Sebuah gagang pedang dari logam abu-abu yang tidak biasa dengan ukiran lambang klan Senju balas menatap Hana. Ia mengerutkan dahi, memperhatikan gagang pedang itu terheran-heran.

"Ini.. gagang pedang?" Hana mengamati benda itu heran. "Tapi.. dimana bilahnya? Apa ini hanya sebagai pajangan atau pengganti gagang pedang yang rusak?"

Tobirama tertawa pelan. "Pedang ini penemuanku. Coba kau alirkan chakra pada pedang ini"

Hana mengangguk. Ia bangkit berdiri dan mencoba mengalirkan chakra ke pedang itu.

'BBZZZZTT'

"Waaahh..." Hana menjatuhkan pedang itu ke lantai karena terkejut. Aliran listrik berwarna kuning yang tadi muncul seperti bilah pedang menghilang ketika pedang itu terlepas dari tangan Hana.

Tobirama tersenyum mengamati reaksi Hana atas pemberiannya.

"Karena itulah pedang ini kuberi nama 'Raijin no Ken' (Pedang Dewa Petir)" Tobirama mengambil pedang itu dan kembali menyerahkannya pada Hana. "Pedang ini akan mengubah apapun jenis perubahan chakra penggunanya menjadi listrik. Kupikir ini bisa jadi senjata yang cukup berguna. Saat menggunakan ini, kau punya satu jenis perubahan chakra yang lain. Perlu kau ingat, petir kuat terhadap tanah tapi lemah terhadap angin"

"Kenapa harus elemen petir?" tanya Hana ingin tahu.

"Aku pernah baca manusia punya aliran listrik dalam tubuh. Aliran listrik itu berguna untuk menghantarkan sinyal dari otak ke anggota tubuh lain agar tubuh kita bergerak" balas Tobirama.

"Tubuh manusia juga tersusun dari air yang merupakan penghantar listrik. Aku memilih elemen petir karena petir dapat digunakan untuk melumpuhkan lawan lebih baik dari elemen lain. Jika petir bertegangan tinggi diarahkan ke musuh, aliran listrik dalam tubuh mereka akan terganggu. Hal itu bisa menyebabkan musuh kehilangan kesadaran, atau kemungkinan terburuknya, meninggal dunia"

Hana menatap pedang itu terkagum-kagum. "Kak Tobirama, bagaimana bisa kau memberi benda sebagus ini padaku? Kenapa bukan kau saja yang menggunakannya?"

"Karena kau orang yang suka pedang seperti aku, mungkin kau akan menyukai benda ini" balas Tobirama. "Aku sudah pernah menggunakannya pedang ini ketika melawan pamanmu kemarin. Banyak pertempuran terjadi akhir-akhir ini. Aku harap pedang ini bisa membantumu menjaga diri"

Raut wajah Hana berubah serius ketika Tobirama menyebut kejadian itu.

"Ada apa, Hana?" Tanya Tobirama heran. "Ada yang salah?"

"Tidak, kak" Hana tersenyum kecil. "Aku berterima kasih. Hadiah ini bagus sekali. Tolong ajari aku cara penggunaannya. Aku akan belajar sungguh-sungguh"

"Aku senang jika kau memang suka" ujar Tobirama senang. "Kita akan cari waktu untuk berlatih bersama"

Hana menatap Tobirama lurus. "Kak, ada yang ingin kubicarakan denganmu. Aku juga sudah membicarakan ini dengan kak Nozu, tapi sepertinya dia belum memberitahu hal ini padamu"

"Melihat raut wajahmu, sepertinya kau ingin membicarakan hal penting" terka Tobirama. "Nozu tidak mengatakan apapun padaku. Akhir-akhir ini Ia sibuk dengan berbagai kegiatan medis"

"Iya, kak. Ini.." Hana terlihat ragu. "Ini tentang paman Yamada"

Tobirama mengerutkan dahi. "Ada apa dengan Yamada Hagoromo?"

Hana menghela napas. Ia menatap Tobirama serius.

"Aku dan kak Nozu sepakat ada yang aneh darinya sejak terakhir kali kami bertemu. Karena itulah saat pertarungan itu, kak Nozu tidak bisa langsung mengenali paman. Penampilan, cara bicara, bahkan ninjutsu yang dia gunakan juga berbeda. Kak Nozu bilang dia mengenali paman dari racun kuchiyose yang digunakannya. Dari penjelasannya, tidak salah lagi siput itu salah satu hewan dari Hutan Shikkotsu, seperti Nona Katsuyu. Kak Nozu dan aku menggunakan bisa hewan itu untuk membuat obat penahan rasa sakit yang jauh lebih aman dari morfin"

"Jika bisa siput itu biasa digunakan klan Hagoromo, bagaimana bisa Nozu tidak mengenali siput itu?" Tanya Tobirama heran.

"Siput jenis itu tergolong hewan langka dan liar" balas Hana. "Walaupun sudah menyisir Hutan Shikkotsu, aku dan kak Nozu belum pernah melihat hewan itu secara langsung. Sennin siput-lah yang memberi bisa itu pada kami tiap kali kami berkunjung kesana. Hanya aku, kak Nozu, kak Nozomi dan paman Yamada yang bisa memanggil hewan kuchiyose dari Hutan Shikkotsu"

Tobirama mengangguk. Ia mencoba menelaah maksud dari setiap kata yang diucapkan Hana.

"Jujur, aku merasa orang itu berbahaya. Aku berusaha mengurangi kecurigaanku karena dia paman kalian. Walaupun Konoha mengizinkannya singgah sementara dengan alasan menjenguk keluarga, aku tetap mengawasi gerak-geriknya. Hingga saat ini, belum ada laporan dari bawahanku tentang kegiatan mencurigakan yang dilakukannya"

Tobirama mencoba mengingat-ingat. "Bukankah aku pernah bertemu dengannya waktu kakak menawarkan perjanjian kerja sama pada klan Hagoromo dulu? Aku masih ingat jelas, Yamada Hagoromo tidak seperti ini"

"Aku juga merasa begitu" gumam Hana pelan. "Kemarin dia berkata sekarang dia dan beberapa orang Hagoromo lain sudah jadi bagian dari desa Ishigakure. Dia merubah segalanya dengan tujuan agar Madara Uchiha tidak mengenalinya. Tapi, kak Madara sepertinya tidak punya keinginan untuk membunuhnya. Paman Yamada tidak pernah diikutsertakan dalam rencana yang disusun kak Madara dan kak Nozomi. Alasan itu terlihat tidak masuk akal"

Tobirama mengangguk. Ia paham betul apa maksud perkataan Hana padanya malam ini.

"Baiklah. Aku akan bicarakan ini dengan kakak" ujar Tobirama. "Bukan hanya aku, tapi kalian yang bahkan punya hubungan saudara dengan Yamada Hagoromo juga punya kecurigaan seperti itu. Aku akan terus mengawasinya dan mengabari kalian jika ada yang mencurigakan"

"Bisakah kakak menyarankan pada kak Hashirama untuk menjauhkan paman dan yang lain dari Konoha secepatnya?" pinta Hana. "Aku merasa itu baik untuk kita semua"

"Dibanding mengusirnya dari desa, aku lebih setuju untuk menjauhkan dia selama-lamanya dari Konoha" gumam Tobirama.

"Maksud kakak, membunuh paman?" Hana mengangkat alis.

Tobirama mengangguk. "Andai saja kita menemukan bukti lebih dari kecurigaan pada Yamada Hagoromo. Jika tidak ada, Konoha tidak akan menyetujuinya. Sesuai peraturan desa, kita butuh persetujuan mereka untuk mengeksekusi seseorang"

"Tapi.. paman menyerang anak muridmu, kak" ujar Hana. "Tidak bisakah itu dijadikan alasan?"

Tobirama menggeleng. "Bagian keamanan sudah menginterogasinya langsung. Kondisi desa Ishigakure yang tertinggal jadi alasan mengapa Ia mencoba menangkap Hiruzen dan temannya untuk dijadikan sandera" Tobirama melipat kedua tangannya di dada. "Yamada Hagoromo sudah minta maaf dan berjanji untuk tidak menyerang Konoha. Dari hasil diskusi, Konoha memutuskan untuk tidak mengusut kasus ini lebih jauh. Kebetulan memang tidak ada korban jiwa walaupun Koharu terluka cukup parah"

Hana mengerutkan dahi mendengar penjelasan Tobirama. Ia menghela napas.

"Aku juga memikirkan untuk bertindak diam-diam" ujar Tobirama. "Untuk saat ini, kita tidak bisa asal membunuh mereka. Ishigakure merupakan bagian Iwagakure. Kondisi lima negara besar saat ini tidak stabil. Iwagakure negara yang licik dan mata-mata mereka sangat jeli. Jika mereka menjadikan kematian Yamada Hagoromo sebagai umpan untuk memicu perang dengan negara Hi bisa gawat jadinya. Jika perang sudah terjadi, tidak ada apapun yang bisa menghentikannya"

Tobirama melirik Hana. "Untuk saat ini yang bisa kulakukan hanya mengajukan permintaan pada kakak sebagai Hokage untuk mengusir dia dan anak buahnya dari desa secara baik-baik, dengan alasan keamanan"

"Lalu bagaimana caranya supaya paman tidak kembali lagi kemari?" Hana terlihat khawatir. "Apa Konoha akan melepaskannya begitu saja? Dia bisa saja menyerang orang lain lagi"

"Aku mengerti kekhawatiranmu tapi sayangnya yang bisa kita lakukan saat ini hanya menjauhkan mereka dari desa" jawab Tobirama. "Aku sudah mempelajari jenis chakra Yamada Hagoromo dan bawahannya yang terasa mirip. Aku juga sudah berdiskusi dengan tim Kekkai untuk mengaktifkan pengamanan bila mendeteksi chakra semacam itu. Tidak akan kubiarkan mereka mendekati Konoha"

"Walaupun tidak bisa menjamin keamanan di luar sana, aku cukup lega kita bisa melakukan itu untuk Konoha" Hana menghela napas. "Terima kasih, kak Tobirama"

Tobirama mengangguk. "Akulah yang harus berterima kasih padamu. Saat aku merasa ada seseorang yang berbahaya, biasanya kakak mengira aku terlalu curiga. Jika aku memberitahu apa yang kau katakan padaku hari ini, sepertinya kakak akan mempertimbangkannya"

"Aku tahu kau bisa diandalkan, kak" Hana tersenyum kecil.

"Aku tidak bisa melakukan apa-apa jika Hokage belum setuju" Tobirama kembali meminum minumannya. "Aku hanya penasihat Hokage"

Angin malam kembali berhembus. Bulan masih bersinar terang, namun suasana malam kini terasa lebih dingin. Malam pasti sudah semakin larut.

"Ayo kita kedalam" Tobirama mengusap-usap lengannya. "Sudah semakin dingin"

Hana mengangguk. Sayup-sayup mereka mendengar suara tawa Nozu dan Hashirama dari dalam rumah.

"Sepertinya mereka sudah asyik main catur" Hana tersenyum. "Kak Nozu selalu senang jika bisa bermain dengan kak Hashirama"

"Mereka itu.." Tobirama menggelengkan kepala. "Aku tidak akan biarkan mereka tidak tidur hanya karena main catur. Bersenang-senang juga ada batasnya. Ada banyak hal yang harus dilakukan besok. Bagaimana jika mereka kurang sehat setelah bergadang?"

Hana menatap Tobirama sesaat. Ia tersenyum kecil.

"Aku tahu pikiranmu, kak" gumamnya pelan.

Tobirama mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

"Malam ini kau ingin tidur dengan kak Nozu, bukan? Karena itu kau tidak mengizinkannya main catur sampai pagi" tebak Hana. "Apa tebakanku salah?"

Kata-kata Hana membuat semburat rona merah mendadak terlihat di wajah Tobirama.

"Aku bukannya..."

"Tidak apa-apa, kak" sela Hana. "Kau tahu? Aku sering merasa pikiran kita mirip. Karena itu aku bisa menerka apa yang kau pikirkan"

Hana menatap kakak iparnya yang berambut putih itu. "Mungkin karena kemiripan itu juga, aku lebih senang bicara denganmu daripada kak Hashirama. Dia memang sangat baik. Tapi entah kenapa rasanya lebih nyaman jika bicara denganmu"

"Apa aku tidak bisa menyembunyikan sesuatu darimu karena jalan pikiran kita mirip?" Tobirama melirik Hana dan tersenyum.

"Kulihat kau sangat dekat dengan Nozu. Bukankah Nozu mirip dengan kakak? Kau tidak perlu merasa secanggung itu padanya. Kak Hashirama, dia itu.. semakin banyak yang menganggapnya kakak, dia justru makin senang"

"Tentu beda!" Balas Hana. "Kak Nozu kakak kandungku. Sebenarnya aku hanya punya hubungan denganmu yang menikah dengan kak Nozu. Jika dilihat lagi, sebenarnya hubunganku dan kak Hashirama sudah jauh"

"Tidak dengan kenyataannya" ujar Tobirama. "Tidak perlu segan jika ingin bicara dengan kakak atau denganku. Kami akan selalu mendengar keluh kesahmu karena kita keluarga"

Hana tersenyum kecil. "Kata 'keluarga' selalu terasa hangat saat didengar. Terima kasih untuk hadiahnya. Terima kasih juga untuk hari ini, kak"

Tobirama mengangguk. Ia menepuk bahu Hana pelan, lalu bangkit berdiri dan masuk kedalam rumah. Hana mengikutinya dibelakang.

Perang yang mungkin tinggal menghitung hari membuat Tobirama lebih menikmati malam-malam yang damai dan tenang seperti ini. Seburuk apapun keadaannya nanti, Ia akan melakukan yang terbaik sebagai seorang pria yang mencintai perdamaian, desa dan juga keluarganya.

-8-8-8-

"Hmm?"

"Ada apa, Nozu?" Kak Mito terlihat khawatir. "Apa ada sesuatu yang salah?"

Aku kembali memeriksa denyut nadi di tangan kiri kak Mito dengan menempelkan empat jari ke pembuluh nadinya dan menekan sedikit lebih keras.

"Hana, coba kau periksa" aku menoleh pada Hana yang tengah mengamati kami dari tadi.

Hana mengangguk. Ia melakukan hal yang sama denganku.

Terasa hening begitu Ia mencoba menganalisa apa yang dirasakannya. Tidak lama kemudian Ia menoleh ke arahku dan tersenyum.

"Jadi, kau merasakannya juga?" Aku membulatkan mata.

Hana mengangguk. Ia menatap kak Mito lembut. "Sepertinya kau memang sedang mengandung, kak Mito. Selamat atas kehamilannya"

Mata kak Mito melebar senang. Ia terlihat begitu senang hingga matanya terlihat berkaca-kaca.

"Selamat kak Mito!" Aku memeluknya. "Kau sudah jadi seorang ibu"

"Nozu, Hana, terima kasih" Ia balas memelukku. "Aku benar-benar tidak menyangka bisa secepat ini"

"Ehh? Tadi apa lagi yang kakak rasakan?" Aku melepaskan pelukanku dan menatap kak Mito lurus. "Kakak merasa mudah lelah, sering pusing, mual dan ingin muntah. Ditambah denyut nadi tangan kiri yang terasa lebih cepat dan kuat dari kondisi normal. Itu semua memang tanda-tanda awal kehamilan"

"Tapi, aku belum terlambat datang bulan" ujar kak Mito. "Aku kira hanya sedang tidak enak badan"

"Tanda kehamilan memang mirip kelelahan. Karena itu banyak orang yang tidak menyadarinya" balas Hana. "Tapi aku senang kak Mito memberitahu kami. Jika tahu dari awal, kita bisa merencanakan program sehat untuk kakak dan si bayi"

"Aku cukup yakin tujuh puluh persen" ujarku mantap. "Tapi, aku mau kak Mito menjalani pemeriksaan medis dengan tes urin dan yang lain. Hasilnya akan lebih akurat"

"Aku tidak bisa berkata apapun selain terima kasih" kak Mito terlihat terharu. "Senang sekali punya saudara seorang ninja medis"

"Sudah tugas kami untuk menjaga kalian semua tetap sehat" ujarku girang. "Termasuk si kecil yang belum lahir ini"

"Kapan kita bisa tahu jenis kelaminnya?" Tanya kak Mito penasaran.

"Biasanya baru bisa terlihat saat janin sudah berusia empat bulan keatas" jawabku. "Kakak lebih ingin anak laki-laki atau perempuan?"

"Bagiku keduanya sama saja" kak Mito tersenyum. "Hashirama sepertinya lebih ingin anak laki-laki. Tapi perempuan-pun, dia tidak keberatan"

"Besok kita akan adakan tes medis" ujar Hana. "Kakak bisa berikan hasilnya pada kak Hashirama sebagai hadiah sambutan saat dia pulang nanti"

"Dia pasti senang sekali. Kami memang sudah merencanakan ingin punya anak dalam waktu dekat" kak Mito tersenyum. "Hashirama sangat suka anak-anak. Dia pasti senang jika tahu sekarang dia adalah seorang ayah"

Aku mengangguk. "Sayang sekali kak Hashirama tidak disini. Mereka baru tiba di negara Besi lusa lalu. Pertemuan lima Kage baru dilaksanankan besok. Mungkin kak Hashirama pulang lima sampai tujuh hari lagi"

"Bagaimana ekspresi kak Hashirama begtu dia tahu hal ini, ya?" Aku menerka-nerka. "Kegirangan? Senang sampai menangis?"

"Ya, mungkin saja" Hana tertawa kecil. "Membayangkan wajah senangnya saja sudah membuatku ikut senang"

Kak Mito ikut tertawa dengan Hana, begitupula denganku.

"Apa benar sebentar lagi ada perang, kak?" Tanya Hana. "Aku begitu suka suasana tenang seperti ini. Sejak paman Yamada dan yang lain pergi, aku merasa aman. Aku ingin hidup seperti ini selamanya dengan kalian semua"

"Aku juga senang mereka bisa pergi secepat itu. Aku merasa ada yang berbeda dengan paman" balasku sambil menghela napas.

Aku menatap Hana. "Dalam pertemuan lima Kage nanti, negara Hi akan berusaha mencegah terjadinya perang dengan pembagian bijuu sebagai kompensasi dan tanda kepercayaan. Entah bagaimana respon negara lain"

"Hashirama mengumpulkan bijuu dengan segenap kemampuannya, untuk melindungi perdamaian" ujar kak Mito. "Aku harap Kage lain bisa melihat dan merasakan ketulusan hatinya"

"Aku harap mereka menerima penawaran itu" Hana menghela napas.

"Nozu, kau sendiri bagaimana?" Kak Mito bertanya padaku. "Apa sudah ada rencana punya anak?"

Pertanyaan kak Mito membuatku cukup terkejut.

"Kenapa kakak tiba-tiba menanyakan itu?" Tanyaku heran.

"Tidak apa-apa" kak Mito tersenyum tipis. "Sebentar lagi akan ada perang. Hashirama dan Tobirama, mereka berdua pasti akan sering pergi ke medan perang. Aku selalu takut dan khawatir saat membayangkannya. Aku ingin Hashirama bisa merasakan bahagianya menjadi seorang ayah sebelum ada hal buruk yang terjadi padanya akibat perang nanti"

Kak Mito menatapku lurus. "Apa kau tidak berpikir hal yang sama denganku, Nozu?"

Aku diam. Jujur kata aku belum pernah membicarakan tentang anak dengan Tobirama. Akhir-akhir ini kami sangat sibuk, hingga baru bisa bertemu malam hari. Jangankan merencanakan punya anak, menanyakan kabar masing-masing tiap hari juga kadang terlewat.

"Aku belum merencanakannya" jawabku. "Perkataan kakak memang benar. Bagaimana cara menjamin mereka selalu pulang sehat selamat dari medan perang? Hingga seorang anak lahir, butuh waktu sembilan bulan. Pasti banyak hal yang sudah terjadi selama rentang waktu itu. Memikirkannya membuatku bingung"

"Sejak menikah, Hashirama sering kali berkata Ia ingin punya anak" ujar kak Mito. Ia tersenyum sendiri. "Karena itu kami mengusahakannya"

Mata Hana berkilat jahil. Ia menatap kak Mito.

"Segiat apa kalian berusaha?" Tanya Hana tiba-tiba.

Pertanyaan Hana membuat kak Mito tersipu malu. Ia terlihat tidak bisa mengatakan apapun.

Kak Mito yang ditanya tapi entah kenapa malah aku yang merasa lebih malu.

"Tanpa harus kakak jawab, sudah kuduga kak Hashirama memang punya tenaga lebih untuk itu. Padahal dia sangat sibuk setiap hari" Hana melirik kak Mito. "Kakak hebat sekali! Bisa mengimbangi pria sekuat kak Hashirama"

"Tidak.. tidak juga" wajah Kak Mito kini benar-benar merona merah. Lagi-lagi Hana menggoda kak Mito hingga wajahnya hampir semerah rambutnya.

Hana tertawa pelan, membuatku ikut tertawa juga.

"Tidak apa-apa jika sesering itu" ujar Hana setelah berhenti tertawa. "Yang penting jangan terlalu dipaksakan. Momen romantis seperti itu harus dinikmati dan jangan dijadikan beban"

"Tapi.." kak Mito melirik kami dengan wajahnya yang masih seperti tomat. "Aku dengar tidak baik jika terlalu sering melakukannya"

"Itu tidak benar, kak" jawabku segera. "Ada penjelasan medis untuk itu. Aku tidak keberatan jika kakak ingin aku mengatakannya. Itu tertulis di buku dan sudah dibuktikan"

"Hashirama pasti sudah tahu itu. Dia juga ninja medis" Kak Mito menghela napas. "Karena itu saat aku menanyakan ini, dia hanya berkata padaku untuk tidak khawatir"

"Hmm.. rasanya senang juga membicarakan kak Hashirama saat dia tidak ada" aku tersenyum jahil dan menatap kak Mito. "Kak, ayo ceritakan.. bagaimana kak Hashirama dimatamu sebagai seorang pria?"

"Nozu, apa.. apa maksudmu?" Tanya kak Mito tersentak kaget.

"Benar juga. Kakak pernah bilang ingin membicarakan ini dengan kami setelah kak Mito menikah" ujar Hana setuju. "Sekarang karena hanya ada para perempuan disini, kita bisa lebih bebas bicara"

"Oh, iya? Aku lupa" kak Mito tertawa pelan. Ia menarik napas dalam-dalam, membuatnya lebih rileks.

Kak Mito menatapku lurus. Aku merasa ada yang tidak biasa dalam tatapannya. Apa ya? Seperti ingin membalas sesuatu.

"Aku hanya akan bicara jika Nozu juga mau bicara tentang Tobirama" ujar kak Mito dengan mata berkilat semangat.

Aku tersenyum hambar. Sudah kuduga ada yang direncanakannya. Dia ingin membalasku yang sudah membuatnya malu.

"Benar, benar! Aku setuju" Hana berseru senang. "Eh, yang itu aku malah lebih penasaran, kak" Ia menyikutku pelan.

"Jadi, bagaimana Nozu?" Tanya kak Mito. Ia tertawa pelan melihat wajahku yang mungkin sekarang juga terlihat memerah.

Bagaimana ya? Aku merasa hal ini sangat 'wanita' sekali, membicarakan pasangan dengan saudara perempuan. Aku sendiri sebenarnya merasa tertarik. Waktu seperti ini memang jarang ada, mengingat pasti ada salah seorang dari kak Hashirama atau Tobirama yang selalu pulang untuk berjaga di rumah. Tapi membayangkan wajah Tobirama sepertinya membuatku tidak bisa bicara.

'Apa tidak apa-apa ya jika aku buat urat malu ini putus?'

Aku sudah membuat pilihan.

"Baiklah, aku setuju" ujarku.

Kak Mito dan Hana tersenyum girang bersamaan. Mereka pasti sama girangnya denganku yang penasaran dengan kak Hashirama.

"Baiklah. Kita lupakan dulu soal perang. Itu belum tentu terjadi. Siapa tahu pertemuan lima Kage membawa hasil positif" ujar kak Mito. "Sekarang waktunya membicarakan pria-pria itu"

"Aku selalu penasaran" ujar Hana. "Selama ini aku hanya melihat mereka sebagai saudara laki-laki. Bagaimana perlakuan mereka pada wanitanya masing-masing? Aku ingin dengar dari kak Mito dulu, karena kakak lebih tua"

"Hashirama.." kak Mito tersenyum sendiri. "Dia pria yang unik. Sangat bersemangat tapi juga suka murung. Dia punya dua sifat berlawanan yang kadang muncul dalam satu waktu"

Kak Mito mulai tersipu malu. "Dia suka menggodaku dengan kata-kata. Dia sering merayu hingga aku tidak sanggup menolak, apalagi jika melihat sinar matanya" Ia kembali tertawa sendiri.

Apa yang dikatakan kak Mito tentang sorot mata mengingatkanku pada Tobirama. Jika dilihat, sebagai kakak beradik mereka ternyata cukup mirip.

"Hashirama sangat bersemangat, terutama jika melakukan apa yang dia suka. Termasuk dalam rencana kami untuk punya anak. Terkadang dia begitu bersemangat hingga lupa segala sesuatu di sekitarnya. Saat sadar, biasanya dia langsung murung" kak Mito tertawa pelan.

"Hashirama membuatku jatuh hati dan Nozu juga melakukan hal yang sama pada Tobirama. Kenapa kalian berdua mirip sekali? Apa karena ninja medis?"

Kak Mito melirik Hana. "Jika begitu, Hana mungkin juga bisa membuat pria yang dicintainya tergila-gila"

"Aku yakin Hana bisa melakukannya" Aku menyikut Hana yang kini terlihat malu. "Hana, apa ada seseorang yang kau sukai saat ini? Tapi aku tidak melihat ada pria yang dekat denganmu. Berarti belum ada, ya?"

Hana menatapku lurus. Ia tersenyum kecil. "Bukankah aku pernah menceritakannya?"

Aku membulatkan mata terkejut. Aku yakin tidak ada pria yang dekat dengan Hana saat ini. Atau aku yang kurang peka sebagai kakak perempuan? Ingatanku mencoba mencari-cari pria yang menyukai Hana. Aku tertegun begitu mendapati satu nama yang terlintas tiba-tiba di benakku.

Izuna Uchiha.

Hana pernah berkata padaku bahwa pria itu menyukainya. Izuna Uchiha, adik Madara. Saat bertemu dengan Madara, Ia pernah menyinggung Hana milik Izuna seorang dan hal itulah yang membuat Madara ingin menjaga Hana. Tapi...

"Kau membalas perasaannya?" Tanyaku ingin tahu.

Hana mengangguk pelan. "Aku harap dia tahu aku sudah membalasnya, kak"

"Tapi dia..." Aku menggantung perkataanku.

Jika Hana menyukai Izuna, berarti Tobirama membunuh pria yang Hana cintai dan selama ini Hana menahan perasaannya untuk tinggal bersama Tobirama karena dia sudah menikah denganku?

Hatiku mencelos. Aku tidak sadar selama ini sudah membuat Hana menderita dengan membiarkannya tinggal satu rumah bersama Tobirama, orang yang sudah membunuh pria yang dicintainya. Kematian Izuna pasti menimbulkan luka dalam untuk Hana. Bagaimana bisa aku berbuat hal sekejam itu pada adikku sendiri?

Kak Mito mengerutkan dahi mendapati perubahan suasana yang tiba-tiba terjadi diantara kami.

"Boleh aku tahu siapa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya kak Mito heran.

"Kami membicarakan dia, Izuna Uchiha" jawab Hana. "Aku tidak tahu apa kak Mito mengenalnya. Dia adik laki-laki Madara Uchiha"

"Aku jarang ke medan perang jadi aku tidak tahu persis siapa Izuna Uchiha" balas kak Mito. "Aku memang tahu Madara punya seorang adik laki-laki yang tidak kalah hebat dengannya. Tapi kudengar adiknya meninggal dalam pertempuran melawan Senju"

Kak Mito sepertinya menyadari sesuatu. Ia segera menatapku.

"Nozu, tolong katakan padaku bukan Hashirama atau Tobirama yang membunuh Izuna Uchiha"

"Tidak apa-apa, kak. Kita tidak bisa menyalahkan seseorang atas kejadian itu" Hana bergumam pelan. "Izuna bukan dibunuh Senju. Dia dibunuh oleh perang dan kekakuan yang ditanamkan klan Uchiha padanya"

Aku menggenggam tangan Hana. "Hana.. aku tidak tahu jika kau mencintai Izuna. Jika kau katakan dari dulu, aku tidak akan mau kembali ke rumah ini.."

"Karena itulah aku tidak memberitahu kakak" sela Hana. Ia menatapku dengan tatapan matanya yang teduh. "Kakak harus pulang kemari, ke rumah orang yang mencintai kakak"

Kak Mito pasti mengerti apa maksud pembicaraan kami. Ia menutup mulutnya dengan tangan.

"Jadi Hashirama dan Tobirama... Hana, apa kau.."

"Mereka sudah jadi saudara iparku" Hana tersenyum kecil. "Aku sayang mereka dan mereka juga sayang padaku. Aku tidak menyimpan dendam sedikitpun atas kematian Izuna pada mereka. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan"

Hana menepuk bahuku pelan. "Sudahlah, kak Nozu. Kakak tidak perlu merasa bersalah. Selama ini aku baik-baik saja"

"Aku merasa ada yang aneh begitu mendengar berita kematian Izuna Uchiha. Saat itu aku juga jadi sangat marah pada Tobirama karena waktu itu kau bilang Izuna adalah orang yang melindungimu di tempat Uchiha" Aku merasa bersalah. "Tidak seharusnya dia melakukan itu.."

"Izuna akan membunuh kak Tobirama jika kak Tobirama tidak membunuhnya" potong Hana. "Paham Uchiha yang sangat tertutup serta mengagungkan klan mereka dan memandang rendah yang lain benar-benar seperti racun untuk Izuna. Kakak tidak perlu merasa bersalah. Kita ada di posisi sulit. Jika bukan aku, kakak-lah yang akan ada di posisi itu"

"Hana.. maafkan aku" aku menggenggam tangannya erat penuh penyesalan.

"Tidak apa-apa, kak. Sudahlah" Hana melepaskan tangannya dari genggamanku. Jari-jarinya yang lentik kini menyentuh kalung kain hitam berbandul ungu yang melilit lehernya dengan manis.

"Ini pemberiannya untukku, saat dia menyatakan perasaan" kenang Hana. "Percayalah, kak. Dia dan kak Madara sangat berbeda walaupun mereka kakak beradik, seperti kak Hashirama dan kak Tobirama"

"Hana.. bagaimana bisa kau punya kisah sesedih itu?" Kak Mito terlihat khawatir. "Sekarang kau baru memberitahu ini pada kami. Apa selama ini kau baik-baik saja menyimpan cerita ini seorang diri?"

"Tentu" Hana mengangguk. "Aku ada di rumah dengan orang-orang hangat yang menganggapku keluarga. Aku merasa dicintai banyak orang sekarang, bukan hanya oleh Izuna"

Aku menatap Hana sambil mengutuk diriku sendiri. Aku terlalu sibuk memikirkan desa dan Tobirama hingga membuatku lupa akan adik sendiri. Hana memang tidak bercerita apapun padaku, tapi akulah yang seharusnya bertanya apakah dia punya masalah atau tidak. Aku benar-benar kakak egois.

"Tawa kalian seakan menghapus kesedihanku. Aku tidak akan melupakan Izuna, tentu saja. Tapi aku juga punya hidup baru yang harus kujalani bersama kalian. Walaupun masa lalu seringkali berusaha menarikku tenggelam, aku harus bertahan" Hana tersenyum mantap. "Izuna pasti sedang melihatku. Dia selalu ingin aku tersenyum. Aku tidak boleh sedih"

"Kak Nozu, jangan sedih begitu. Dari sini kau terlihat seperti kak Hashirama sedang murung" Hana menggenggam tanganku.

"Kau juga punya banyak masalah disini, kak" Hana menatap wajahku. "Orang-orang Senju tidak menerimamu dengan baik pada awalnya. Kau harus menghadapi kenyataan kak Tobirama sudah memiliki orang lain saat kau sudah terlanjur menikah dengannya. Aku juga tidak bisa menemanimu saat kita baru saja kehilangan kak Nozomi. Bukan hanya aku yang menderita, kita semua punya derita dan masalah masing-masing. Jangan membuatku seolah-olah lebih menderita darimu, tidak seperti itu"

"Hana..."

'SETTT'

Lampu di ruang tengah tiba-tiba mati, membuat suasana gelap gulita. Ada apa? Apa listrik di desa padam? Tatapanku segera teralih ke jendela dan mendapati lampu-lampu di luar sana masih menyala. Memang tidak ada pemadaman listrik. Apa terjadi korsleting?

'SYATTT'

Aku merasakan ada pergerakan cepat dari seseorang. Aku, Hana dan Kak Mito masih diam ditempat. Jantungku berdegup kencang. Bulu kudukku berdiri. Sepertinya ada orang lain di rumah ini selain kami.

"Kak Mito, Hana, pegang tanganku.."

"KYAAA!"

Aku begitu terkejut mendengar suara kak Mito menjerit. Ia terjatuh ke lantai membentur meja. Aku tidak bisa melihat siapa yang menyerang kami, hanya mencoba merasakan pergerakannya. Sial! Aku hanya membawa senjata kecil di kantung. Hana juga tidak membawa pedangnya. Orang itu kini menyerangku dan Hana bergantian. Kami hanya bisa menangkis serangan orang itu seadanya.

Ada seseorang yang memegang kakiku di bawah dan itu adalah kak Mito yang terjatuh di lantai. Aku menariknya berdiri disebelahku.

"Kak Mito baik-baik saja?" Tanyaku cemas. Dia sedang mengandung janin muda yang mungkin baru berusia satu bulan, sangat rentan keguguran.

"Aku baik-baik saja, Nozu. Kau tidak perlu cemas" jawabnya tersengal. Kak Mito terlihat memegangi perutnya.

"Hana, kita tidak bisa terlalu lama dalam kegelapan seperti ini. Menjauh dari kaca" aku memberi perintah sambil membawa kak Mito melompat menjauh.

"Baik, kak!" Seru Hana setuju. Ia melempar kunai untuk memecahkan kaca jendela. Sepertinya dia mengerti apa yang akan kulakukan.

"Katon : Goukakyuu no Jutsu!"

'BLAARRRR!'

Bola api biru besar keluar dari dalam rumah. Aku mengarahkannya pada sebatang pohon di halaman rumah, membuatnya terbakar hingga kami bisa melihat dalam kegelapan.

Hana merapat ke sampingku. Kami berusaha melindungi diri serta kak Mito dari serangan senjata tajam yang dilemparkan orang itu.

'Apa ada penyusup masuk kedalam desa? Kenapa tim Kekkai tidak dapat mendeteksinya?'

Dalam cahaya remang-remang dari api, aku bisa melihat orang itu besar dan tinggi. Kulitnya berwarna putih dan hitam dengan rambut panjang berwarna hitam yang diikat. Aku tidak pernah melihat orang seperti itu di Konoha. Dia pasti penyusup.

"Hati-hati, kak. Gerakannya sangat cepat" ujar Hana disebelahku. "Aku tidak bisa mengambil senjata di kamar. Aku tidak bisa meninggalkanmu dan kak Mito di sini"

'TRANG, TRANG, TRANGG'

Orang itu kembali menyerang kami bergantian. Serangannya dari segala arah dan sangat cepat. Hana mengunci pergerakan orang itu dengan dua kunai yang menahan pedang besarnya, sementara aku berusaha melukai orang itu dengan pisau chakra. Dia melepaskan pedangnya dan menjauh dari kami sangat cepat.

Serangan kami gagal.

'Tokk'

Ada sesuatu yang jatuh tepat ke atas kakiku. Aku mengambil benda itu. Benda yang entah mengapa terasa familiar. Walaupun minim cahaya, aku yakin benda itu adalah kalung dari manik-manik hitam yang selalu terlilit di gagang pedang kak Yoshimura.

'Bagaimana bisa kalung kak Yoshi jatuh dari pedang orang itu?'

To be continued..

-8-8-8-

A/N : Halo Readers semua.. saya senang sekali akhirnya kita bisa bertemu lagi.. (T_T)

Maafkan saya untuk update yang terlambat ini yaa.. (T_T)

Saya minta maaf sekali..

Saya sudah rindu sekali update dan ketemu kalian semua.. Terima kasih banyak untuk kalian yang masih setia menunggu.. (T_T)

Selamat untuk Hashirama dan Mito yang sudah punya anak yaa.. Hihihi, kelak anak mereka akan jadi orang tua Tsunade dan Nawaki.. :))

Untuk bab ini, saya menambahkan adegan action lagi.. semoga kalian bisa enjoy membacanya yaa..

Sebenarnya saya tidak terlalu bisa buat scene pertarungan, hehehe.. karena sepertinya di bab-bab selanjutnya akan ada scene pertarungan lagi, saya mohon masukan dan saran kalian jika ada yaa.. supaya scene actionnya bisa lebih bagus lagi..

Oh iya.. saya juga terinspirasi membuat scene action Tobirama memakai pedang dewa petir (Raijin no Ken) yang belum pernah sekalipun diperlihatkan Masashi Kishimoto di anime maupun manga.. padahal pedang itu salah satu benda pusaka Konoha warisan Tobirama, seperti gulungan raksasa Hashirama.. :)

Ternyata pedang itu diberikan ke Hana.. karena mereka sama-sama suka pedang.. :)

Kira-kira siapa orang yang tiba-tiba datang menyerang Nozu, Hana Mito di rumah ya? Pas banget Hashirama Tobirama lagi keluar desa.. Apa mereka yang di rumah Senju akan baik-baik saja ya? :(

Saya akan berusaha update secepatnya.. mohon maaf jika lebih lama dari biasanya yaa.. tapi saya benar-benar ingin berbagi cerita ini dengan kalian sampai tamat.. :)

See you on the next chapter!