Valia Ramadhani

Present

.

.

.

.

The Silver Girl

.

.

.

Itu adalah malam hari ketika Harry melihat sebuah taksi memasuki pekarangan rumah nomor lima yang dapat ia lihat dari jendela kamarnya.

Sekitar jam dua lebih, Harry habis mengerjakan tugas essay Sejarah Sihir dari professor Bins ketika ia mendengar suara deruan sebuah mobil. Karena penasaran, ia mengintip dari jendela. Rupanya ada sebuah taksi yang berhenti di depan rumah di sampingnya, rumah nomor lima.

Saat itu gelap, tapi Harry melihat dengan jelas. Gadis yang terlihat memiliki umur tak jauh darinya turun dari taksi itu. Rambut nya keriting berwarna perak, kontras dengan malam hari yang gelap. Ia sedang menunggu supir taksi yang tengah menurunkan kopernya dari bagasi mobil. Koper itu lumayan besar juga.

Pertanyaannya adalah, kenapa malam malam begini gadis itu mengunjungi rumah nomor lima di Privet Drive? Dan bukankah rumah itu kosong tak berpenghuni?

Oh! Harry pernah tak sengaja mendengar bibi Petunia menggosip tentang rumah nomor lima yang akan di huni sebentar lagi, tapi tidak mungkin jika penghuni baru itu adalah seorang anak yang kelihatannya seumuran dengannya kan? Bahkan Harry yakin umur gadis itu malah lebih muda darinya karena badan si gadis yang lebih kecil darinya, sedangkan Harry saja belum genap 13 tahun. Tak mungkin kan?

Karena penasaran, Harry mencoba mengintip sekali lagi dan betapa mengejutkannya.

Gadis perak itu tengah menatap lurus ke arahnya.

-oOo-

Pagi datang dan Harry begitu malas untuk terbangun. Semalam, saat tau bahwa gadis itu sepertinya sadar tengah di awasi olehnya (setidaknya begitulah pikirnya), Harry tidak bisa tidur karena berpikir betapa memalukannya ia karena ketauan mengintip.

Memang harusnya tidak ada yang patut untuk di permalukan, tapi setidaknya ia mengawasi seorang gadis malam hari untuk pertama kalinya dan ia ketahuan oleh target langsung.

Huh, ia ingin tidur lagi, tapi sepertinya tidak bisa karena ocehan bibi Petunia sudah menggelegar menuju kamarnya.

Beberapa saat kemudian, Harry turun dari kamarnya dan mendengar bibi Petunia sedang mengoceh pada paman Vernon tentang tetangga baru mereka, yang Harry yakin pasti gadis perak itu.

"... dia cukup sopan, dan dia sangat cantik. Sepertinya aku akan coba mendekatkan Duddy kita kepadanya, siapa tau dia bisa menjadi menantu keluarga Dursley."

Harry berjengit mendengarnya. Merlin, Dudley bahkan masih tiga belas! Dan Harry yakin gadis itu takkan mau, mengingat seperti apa bentuk kan Dudley. Harry langsung meringis tanpa sadar. Ya, pasti gadis itu takkan mau.

"Itu bagus. Kenapa tidak kau undang saja ia untuk makan malam disini, Petunia?" Paman Vernon sepertinya menanggapi nya dengan baik, ia bahkan memberikan usulan seperti itu.

"Oh, kau benar. Aku akan mengundangnya nanti. Duddy ku harus tampak sempurna untuk dapat memikat gadis itu." Bibi Petunia tampak begitu antusias, bahkan Dudley nampaknya tertarik dengan si tetangga baru. Harry hanya memutar bola matanya.

"Hey, kau!" Tampaknya paman Vernon sudah sadar akan kehadirannya di meja makan, "buang plastik sampah itu."

Harry mau tidak mau harus menurutinya. Ia berjalan tanpa suara mengambil plastik penuh berisi sampah itu menuju ke halaman untuk di taruh di tong sampah. Hari ini hari selasa, dan truk sampah biasa datang jam sepuluh nanti.

Saat tengah mengurus sampah sampah itu di dalam tong. Harry melihat tangan lain yang tengah memasukan plastik sampah. Tangan yang putih dan mulus.

Harry mendongak untuk melihat siapa pemilik tangan itu dan langsung di sambut oleh sepasang manik abu abu yang berada di kontur wajah asia. Surai berwarna perak pun tengah menari nari di sekitar wajah itu karena tertiup angin lembut.

"Halo." Ucap gadis itu.

Harry kikuk. Ia takut benar benar ketahuan mengintip semalam.

"H-halo." Balas nya sembari memaksa tersenyum.

"Kau dari rumah nomor empat kan? Aku Valerie Kim. Tetangga baru mu di rumah nomor lima." Ucap gadis itu ramah sambil mengulurkan tangannya.

Harry membalasnya, "Aku Harry Potter. Well, um- selamat datang?" Harry malah terkesan bertanya daripada menyambut. Dia jarang berkenalan dengan orang biasa soalnya (atau dalam hal ini; muggle).

"Terima kasih. Kau tinggal di rumah keluarga Dursley, kan? Nama belakangmu berbeda?" Tanya gadis itu penasaran, setelah mereka melepas jabat tangan.

"Well, yah- aku anak dari adik mrs. Dursley." Jawab Harry sambil menggosok tengkuknya. Topik ini agak tidak nyaman sebetulnya.

"Oh, aku mengerti." Gadis perak itu mengangguk. Dan Harry tidak tau apa yang ia mengerti.

"Sepertinya kita seumuran ya? Berapa umurmu?" Gadis itu mencoba mendapat topik lagi untuk berbicara padanya.

"Oh," Harry agak terkejut di beri pertanyaan seperti itu, "umurku tiga belas." Lebih tepatnya saat tengah malam nanti. Harry melanjutkan dalam hati.

"Wah, aku juga tiga belas. Setidaknya saat awal musim dingin nanti."

"Ouh, umur kita tak berbeda begitu jauh, ya?" Hanya itu komentar Harry. Ia merasa canggung mengobrol dengan orang baru.

"Kau sekolah di mana, Harry?" Nah, pertanyaan yang tidak di sangka sangka muncul.

"Oh! Itu... em..." apa yang mesti ia jawab? Tak mungkin ia jawab ia bersekolah di Sekolah Sihir Hogwarts, kan?

Gadis itu terlihat menunggu. Harry sudah mengeluarkan sebutir keringat dingin saat tiba tiba panggilan menggelegar dari paman Vernon terdengar.

"Maaf, aku harus pergi. Paman memanggilku." Ucap Harry tersenyum. Ia merasa sedikit lega.

"Oh? Oke." Dia terlihat agak kecewa,"senang berkenalan dengan mu Harry, kuharap kita dapat berteman baik." Ucap gadis perak itu kemudian.

"Ya, senang berkenalan dengan mu juga, Valerie."

Harry masuk ke rumah dengan perasaan aneh; seakan ada kupu kupu yang menggelitik di perut nya. Mungkin karena untuk pertama kalinya, ada muggle yang tak menganggapnya aneh.

-oOo-

Makan malam yang ditunggu keluarga Dursley akhirnya tiba. Bibi Petunia memasak beberapa makanan mewah dalam rangka untuk membuat tetangga baru terkesan. Dudley juga telah didandani untuk menarik perhatian si gadis perak.

Harry juga akan ikut dalam acara makan malam ini. Sebenarnya, bibi Petunia dan paman Vernon sama sekali tak ingin dia hadir. Tetapi karena Valerie -si tetangga baru- sudah tau tentang keberadaannya, Harry di harus kan ikut serta. Ia wajib menjaga sikap juga keabnormalannya (dalam hal ini; sihir). Mereka tak ingin ada kesalahan yang membuat gadis perak itu tak ingin dekat dengan keluarga Dursley.

"Oke, semua siap." Bibi Petunia memandang puas kerja kerasnya di meja makan, "Duddy, kau tau apa yang harus dilakukan, bukan?"

Dudley mengangguk, "aku akan membukakan pintu dan berkata 'silahkan masuk, Valerie. Selamat datang di rumah kami.'" Dudley memperagakan apa yang sudah ibunya ajarkan. Sejujurnya, Harry agak geli melihatnya.

"Bagus, sayang. Apalagi?" Tanya bibi Petunia lagi.

"Lalu aku akan coba memujinya cantik, dan aku akan menarik kursi untuknya duduk."

"Bagus, nak." Puji paman Vernon bangga. "Dan kau! Apa yang kau lakukan?" Ia menyalak ke arah Harry.

"Aku akan diam tak bersuara seolah olah tak ada disini." Jawab Harry memutar bola matanya malas.

"Dan jangan macam macam!" Paman Vernon mengancam.

Bel rumah berbunyi Setelah nya. Dudley segera pergi untuk melancarkan aksinya memikat tetangga baru. Harry bisa mendengar langkah langkah mendekat dan ia berbalik untuk melihat.

Dudley berjalan beriringan dengan Valerie menuju meja makan. Sangat lucu melihatnya, mereka sangat kontras, Dudley yang besar nya melebihi bola pantai dengan Valerie yang mungil. Harry tak lagi memperhatikan itu, ia memilih memperhatikan penampilan gadis perak.

Gadis itu memakai gaun berwarna biru berlengan setengah tiang yang terlihat simple, rambut perak se-pinggang nya ia biarkan tergerai dan jatuh lembut di belakang tubuhnya, dan ada sebuah pin hair berwarna biru polos yang menjepit poni gadis itu. Cantik.

"Silahkan duduk, Valerie." Suara Dudley menyadarkan nya. Ia melihat Valerie duduk di kursi yang telah Dudley tarik.

"Terima kasih, Dudley." Ucap Valerie tersenyum.

"Hanya ini yang kami punya untuk makan malam, maaf jika tak sesuai denganmu Valerie." Ucap bibi Petunia dengan nada menyesal yang Harry yakin itu dibuat buat.

"Tidak apa apa mrs. Dursley. Hanya dengan undangan makan malam pun sudah cukup untukku. Aku jadi tidak makan sendirian sekarang." Valerie menyanggah dengan tersenyum manis.

"Oh, sayang. Kau bisa kesini kapan saja." Harry ingin muntah. Sejak kapan bibi Petunia jadi ramah pada orang?

"Terima kasih mrs. Dursley."

Makan malam pun dimulai. Semua dilalui dalam hening, sesekali ada percakapan kecil antara bibi Petunia dan Valerie. Harry melihat bahkan Dudley menjaga makannya, pasti untuk menjaga image. Siapa yang mau dengan pria gendut yang makannya seperti babi?

"Jadi, nak, kau tinggal sendirian dirumah itu?" Paman Vernon akhirnya ikut dalam percakapan setelah makan malam.

Valerie membersihkan bibirnya memakai serbet dengan gerakan anggun. Harry melihatnya sangat dewasa, seakan bukan anak yang berumur tiga belas seperti yang dia katakan di depan tadi pagi.

"Ya, mr. Dursley. Saya tinggal sendiri disana." Ucapnya dengan senyum kecil.

"Kau mau puding, Valerie?" Bibi Petunia menawarkan puding coklat yang sebenarnya dibuat untuk Dudley tadi.

"Terima kasih, mrs. Dursley. Tapi sepertinya perutku sudah menampung banyak malam ini." Sekali lagi, Harry melihat sosok dewasa didalam diri gadis perak itu ketika dia menolak dengan halus.

"Kenapa kau tinggal sendiri, nak? Memangnya kemana orang tua mu?" Paman Vernon kembali menarik topik tentang tetangga baru.

"Orang tua ku sudah pergi mr. Dursley, mereka sudah pergi." Dia menjeda dengan tersenyum, "dan aku tinggal disini sendiri karena ingin menenangkan diri, paman ku pun sudah setuju akan hal ini."

Harry tertegun dengan informasi ini. Ia kira gadis perak itu hanya tiba lebih awal dari keluarganya, Harry sama sekali tak pernah menyangka kalau gadis itu bernasib sama dengannya. Ditinggal kedua orang tua.

"Oh, dear. Kau bisa menganggap kami sebagai orang tua kalau begitu." Ucapan bibi Petunia membuat Harry mendengus. Dia yang keponakannya sendiri saja tidak diperlakukan baik, kenapa harus orang luar?

"Terima kasih mrs. Dursley."

Semua kembali diam setelahnya. Harry melihat Valerie memperhatikan jam tangan nya.

"Oh! Kupikir aku harus pulang, ini sudah larut." Ucapnya kepada bibi Petunia dan paman Vernon seraya bangkit dari kursi.

"Bagaimana jika Dudley mengantarmu, Valerie?" Bibi Petunia menawarkan.

Valerie melihat ke arah Dudley yang tengah memperhatikan pudingnya dengan sayang.

"Kurasa Dudley masih ingin menikmati makanan penutupnya, mrs. Dursley." Valerie lagi lagi tersenyum, "Bagaimana jika Harry saja yang mengantarku? Kau sudah selesai bukan, Harry?"

Harry mendongak terkejut saat namanya disebut. Ia pikir ini tak ada dalam rancangan. Apa yang harus ia jawab? Tak mungkin bila menolak, kan?

"Er- tentu..." jawabnya tak yakin.

"Bagus. Kalau begitu aku pamit dulu mr and mrs. Dursley. Terima kasih makan malamnya."

Mr. dan mrs. Dursley tidak punya pilihan selain meng-iya-kan. Setelah melihat mereka mengangguk, Valerie berjalan pulang dengan Harry di belakangnya.

"Jangan jalan di belakang ku, Harry, kau bukan penjaga ku." Harry melihat ada binaran geli dimata abu abu itu. Ia segera menyetarakan langkahnya dengan si gadis perak karena ia juga tak mau di katai sebagai penjaga.

Mereka berdua berjalan dengan lambat dan hening. Tak ada yang mengucapkan sepatah kata pun selama perjalanan. Keadaan sangat canggung (setidaknya bagi Harry) sampai akhirnya Valerie berhenti. Mereka sudah di depan rumahnya.

"Kau mau mampir, Harry?" Tanya nya ramah. Harry hanya tersenyum kecil dan menggeleng.

"Okay. Kau bisa datang kapan saja, aku akan dengan senang hati menyambutmu." Harry hanya mengangguk sebagai jawaban. Well, tak banyak yang menawarinya berkunjung di dunia muggle, jadi ia bingung mau bereaksi apa.

"Selamat malam, Harry."

"Selamat malam juga untukmu, Valerie."

.

TBC

.

Woaaaah...! Gak nyangka bakal coba publish juga! hehe...Ini pertama kalinya aku coba publish cerita di ffn. Agak ragu sih, tapi akhirnya nekat juga :DCerita ini berlandaskan canon di buku ya, hanya ada penambahan satu karakter oc berupa silver girl aja. Ini sebagai perwujudan dari beberapa fangilrs HP yang sangat ingin berada di dalam cerita untuk menjadi tokohnya. Dan aku termasuk salah satunya, huhuuu... TT