all night

by sehooney with HunHan GS

Special for HunHan 2019 Project, Bubble March

Dedicated to Whirlbambi


Oh Sehun adalah lelaki yang menyebalkan. Tubuhnya saja yang kekar tapi soal makanan dia sering kali memilih junkfood. Memang sinting lelaki itu. Iya, saking sintingnya, aku jadi ketularan sinting. Bagaimana tidak? Aku berharap yang tidak-tidak padanya selama aku mengenalnya. Bagaimana bisa aku mengharap dia melajang seumur hidup dan akhirnya hidup denganku?!


"Dua Michelin Star Beef untuk meja tiga!"

"Tiga Menu spesial untuk meja sebelas!"

"Satu…"

Ugh, rasanya aku tidak ingin mendengar suara Do Kyungsoo yang menyebutkan jumlah dari menu pesanan dan nomor meja dari pemesan malam ini. Suara perempuan itu nyaring sekali, mampu mengalahkan bisingnya suara bahan mentah yang sedang diolah di wajan, panci, dan alat apapun itu. Oh, dan kenapa jumlah pesanannya tambah banyak? Pelanggan malam ini banyak sekali.

Menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan keras, aku akhirnya mampu menyandarkan punggungku pada dinding setelah jam kerjaku selesai. Tepat dua jam setelah peristiwa membeludaknya pesanan, aku menyelesaikan jam kerjaku dengan baik. Aku sudah ada di ruang loker dan masih mampu mendengar suara gesekan antara kompor dan alat masaknya, suara Do Kyungsoo, suara berisik para pekerja dapur, dan suara-suara lain yang berhubungan dengan dapur sebuah restoran Prancis yang ramai pengunjung. Sungguh damai sekali hidup ini.

Selesai mengistirahatkan punggung, aku segera bangkit untuk berganti pakaian dan mengemasi barang-barangku. Baru saat itu aku mengecek ponsel yang selalu kuabaikan saat aku bekerja. Bukannya mau sok sibuk. Tapi aku benar-benar butuh konsentrasi yang lebih jika sedang bekerja. Bisa-bisa aku salah memasukkan bumbu atau bahan kalau konsentrasiku buyar. Kalau begitu kan aku bisa mendapat keluhan dari pelanggan, lalu mendapat omelan pedas dari Do Kyungsoo, lalu aku bisa tertendang dari restoran yang kubangga-banggakan di depan orang tuaku ini. Urusannya sepele tapi akibatnya bisa panjang sekali. Duh

Oh, tunggu dulu. Seseorang mengirimkan pesan padaku dari tadi siang dan aku langsung tersenyum ketika mengetahui siapa yang mengirimiku pesan.

Sehun: (pict)

Sehun: Aku sedang mencoba makanan seperti ini dan semoga tidak meracuniku.

Aku berdecak geli melihat foto makanan yang dia kirimkan padaku. Tanpa berpikir pun, aku sudah tahu kalau makanan itu berasal dari restoran ini, yang tentunya adalah salah satu dari karyaku, atau karya teman-teman yang lain. Rasanya aku ingin tertawa saja membaca pesannya. Astaga, apakah dia sealergi itu pada makanan-makanan seperti ini setelah terbiasa makan makanan junkfood? Dasar aneh.

Luhan: Kalau kau keracunan, aku tidak akan bertanggung jawab karena itu bukan tanggung jawabku. :) Kau bisa pergi ke rumah sakit sendiri kan kalau keracunan?

Aku hanya membalasnya demikian. Tidak mau menghabiskan lebih banyak waktu di ruang loker, aku lantas beranjak pergi dari sana. Hari sudah malam dan aku tidak mau pulang terlalu larut karena aku percaya, dunia luar terlalu berbahaya untuk perempuan lugu dan lemah seperti aku ini.

Uhuk. Maaf, aku terlalu berlebihan.

Drrt! Drrt!

Oh. Ada pesan masuk untukku. Aku merogoh ponsel di kantung celana dan menemukan nama "Sehun" tertera di layar. Lelaki itu membalas pesanku dan aku tidak mau pikir panjang lagi untuk membukanya.

Sehun: Memangnya kau tidak khawatir kalau aku keracunan?

Luhan: Untuk apa khawatir? Kau kan bisa hidup sendiri. :b

Aku menunggu balasannya untuk beberapa detik tapi tidak ada tanda 'read' yang tertera di sebelah kiri balon percakapan terakhirku padanya. Aku menunggu, tiga puluh detik, lima puluh detik, satu me—ah, masa bodoh. Mungkin tadi dia membalas saat sempat dan sekarang sibuk lagi dengan pekerjaannya. Aku heran. Sehun bukan lelaki yang pintar dan bukan pula lelaki yang berpotensi tinggi. Singkatnya, Sehun itu biasa-biasa saja. Tapi kenapa dia bisa masuk ke perusahaan terbaik di tahun ini dan masuk pula ke tim humas yang pasti memerlukan sumber daya manusia yang terbaik dari yang terbaik?

Mungkin Sehun hanya beruntung.

Tunggu dulu! Kenapa kau selalu berlebihan dan berpikir seperti itu pada sahabatmu sendiri, Luhan?!

Sisi lain dari diriku merengut karena selaan pikiranku barusan. Sehun menyebalkan, sih…

Aku memutuskan untuk menyimpan ponselku pada saku celana dan kembali melangkah. Aku keluar dari pintu belakang. Baru saja aku melangkah keluar, aku melompat kaget ketika tiba-tiba mendengar seseorang bersuara tepat di bahuku.

"Jadi benar kau tidak khawatir padaku?"

Hei! Kenapa bisa orang ini ada di sini sekarang?!

"Ya!" tanganku sudah menjalankan tugasnya dengan baik untuk menepuk keras bahunya sementara lelaki tinggi itu kini sedang cengengesan setelah berhasil mengagetkanku. "Lakukan sekali lagi maka aku akan membunuhmu!"

Tawanya semakin menyebalkan dan aku merengut mendengarnya. Lelaki yang tadi mengirimiku pesan ini menggosok puncak kepalaku dengan akrab lalu merangkul pundakku dengan santai.

Aku melotot padanya, berharap Sehun tahu bahwa apa yang dilakukannya ini justru membuat jantungku berdisko ria dan perutku ingin memuntahkan pelangi saking gelinya. Ugh, imajinasiku semakin unik saja akhir-akhir ini. Akan tetapi, lelaki itu justru menunjukkan senyuman yang ingin rasanya kutangisi karena luar biasa manis.

Huhuhu… Ya Tuhan… Jangan beri aku cobaan seperti ini…

"Kau ini kenapa tidak mengapresiasi sapaanku padamu? Aku ini orang yang sibuk tahu."

Aku memutar bola mata malas, dia mulai membanggakan pekerjaannya. "Kalau kau sibuk, sibuk saja pada pekerjaanmu. Jangan sempatkan bertemu denganku. Bertemulah dengan orang yang lebih penting dari aku." Kubalas ngawur dan aku yakin itu justru terdengar serius di telinga Sehun.

"Bagiku kau orang yang penting dalam hidupku."

Aku mengerjap, membeku, dan dalam diriku, rasanya ada yang terasa panas dan meleleh seperti lilin. Aku menatapnya yang sedang menatapku juga dengan senyum yang sama. Rasanya seperti setiap planet yang ada dalam tata surya saling bertabrakan satu sama lain dan itu terjadi padaku. Astaga, Sehun membuatku gila dan aku benci momen seperti ini. Aku jadi tidak bisa menahan ledakan-ledakan sial di dalam diriku.

YA TUHAN… Aku ingin menangis huwaaaa

Maka dari itu, dengan kesal aku mendorong tubuhnya, lalu berjalan dengan cepat meninggalkannya. Masa bodoh dengan reaksinya, aku lebih peduli dengan diriku sendiri.

"Kenapa? Kenapa?" dia sudah berjalan mengiringiku ketika bertanya dengan heran.

Aku memilih untuk tidak menatapnya ketika menjawab, "Jangan tanya dulu. Aku mendadak bingung." dengan diriku sendiri, tentu saja. Aku melanjutkan dalam hati.

Aku tidak tahu bagaimana reaksinya. Mungkin dia ikut bingung, atau mungkin dia menganggap itu tidak terlalu penting. Tapi, dia kembali bertanya, "Kau luang malam ini?"

Aku berhenti melangkah. Begitu juga dengan Sehun. Lelaki itu menunggu jawabanku sementara aku membatu karena pertanyaannya. Tunggu, jika Sehun bertanya begitu, apakah dia sedang mengajakku berkencan? Atau… atau… dia…

"A-apa maksudmu?" aku mempertanyakan hal yang ingin kuketahui kejelasannya.

Senyumnya justru bertambah lebar. "Aku lapar. Jadi bisakah kau membuatkanku makanan?"

Aku merengut. Dasar maunya yang gratis-gratis saja. Huh!



"Kau mau makan apa?"

"Kau mau masak apa?"

"Kau yakin bisa makan makanan yang aku masak?"

"Yakin."

"Kau bilang kau akan keracunan."

"Sinting. Kau percaya saja pada omonganku." Sehun terlihat bersungut karena balasanku dan rasanya aku ingin menyemburkan tawa saking lucunya. "Masak saja apa yang ingin kau masak. Aku akan memakannya."

Aku mengangkat ibu jariku padanya lalu berlalu menuju dapur sementara Sehun duduk bersantai di ruang tengah sambil menonton televisi. Aku bisa mendengar suara kartun "We Bare Bears" dari tempatku sekarang ini. Aku tersenyum. Seleranya masih sama saja setelah bertahun-tahun aku tidak bertemu dengannya.

Iya, jadi, aku dan Sehun ini teman dari aku masih kecil. Waktu itu, aku masih berusia sembilan tahun, dan Sehun setahun lebih tua dariku. Ayahku sedang ada pekerjaan di Korea selama lima tahun jadi beliau membawa keluarga kecilnya ke Korea. Kami tinggal di kompleks yang sama dengan Sehun. Rumah Sehun berada di depan rumahku, dan keluarganyalah yang pertama kali menyambut kedatangan kami dan membantu sedikit-sedikit kekurangan kami dalam berbahasa Korea. Keluarga Sehun sangat baik padaku. Tapi tidak dengan Sehun. Sehun muda saat itu menyebalkan sekali. Dia memang teman pertamaku di Korea, tapi dia juga musuh pertamaku di Korea. Dia sering menarik rambutku, atau menyebutku tidak cantik, atau mendorong keningku sambil berkata, "Bèn" yang berarti bodoh dalam bahasa Cina ketika aku salah dalam melakukan sesuatu. Banyak hal menyebalkan yang dia lakukan padaku sebelum akhirnya aku kembali lagi ke Cina. Aku lega bisa pulang ke Cina, jujur saja. Tapi di sisi lain, aku merindukannya sampai sekarang.

Iya.

Dia orang pertama yang tiba-tiba membuatku jatuh hati hanya karena dia bilang, "Kalau kau menangis karena jatuh dari sepeda, aku akan mematahkan sepeda itu dan membuangnya ke tempat sampah!" dengan ekspresi marah, nada kesal, dan jari telunjuknya menunjuk-nunjuk sepeda merahku yang tergeletak tidak berdaya di aspal.

Lucu sekali, bukan? Aku jatuh hati padanya dengan bantuan jatuh dari sepeda.

Selain itu, Sehun juga orang pertama yang mematahkan hatiku ketika tahu bahwa Sehun membawa seorang perempuan tinggi yang cantik dan mengenalkannya padaku sebagai orang yang dia sukai. Aku tidak ingat siapa namanya, tapi dia sungguh cantik. Ketika kutanya, "Kenapa kau bisa menyukainya?" jawaban Sehun sungguh membuatku ingin menabok wajahnya yang kurang jelek itu dengan sepatuku.

"Karena dia cantik dan tinggi, tidak sepertimu yang jelek dan pendek. Oh, aku bahkan bisa mengapitmu di ketiakku sampai kau bau ketiak dan mati di pelukanku. Haha!"

Sehun memang sinting. Orang sinting yang membuatku patah hati selama dua minggu sebelum aku pulang ke Cina. Beruntung setelah itu aku bisa melupakan rasa sakit hatiku pada Sehun, tapi aku tidak bisa meninggalkan rasa sukaku padanya. Selama itu pula tiba-tiba rasa rindu dan ingin bertemu menggangguku, membuatku takut untuk menerima beberapa teman lelakiku yang menyatakan bahwa mereka suka padaku. Aku menolak mereka karena Sehun. Padahal saat itu aku sama sekali tidak tahu kabar Sehun. Apakah Sehun masih bersama perempuan tinggi dan cantik waktu itu, atau sudah berganti dengan perempuan lain, atau justru melajang?

Aku tidak tahu tapi aku berharap dia melajang dan diam-diam memikirkanku.

Tuh, kan. Aku jadi ikutan sinting karena Sehun.

"Jadi kau masak apa?" suara Sehun terdengar di belakang tubuhku. Aku yang saat itu sedang menggulung pasta dengan sumpit di tangan, lantas menoleh padanya.

"Khusus untukmu. Spaghetti aglio e olio." Aku menyebutkan nama makanannya dengan bahasa Italia dan dia kelihatan bingung. Mampus, dia tidak tahu bahasaku dan aku menemukan kelemahannya! Aku terbahak karena reaksinya.

"Ada apa?" dia bertanya, aku masih tertawa, dan dia bertanya lagi, "Apa tadi namanya? Spaghetti aiyo—" dia bingung lagi dan aku refleks mencubit pinggangnya. Dia memekik karena serangan gemasku.

"Non ti preoccupare, ha un buon sapore*." Aku menggodanya dan dia lantas memasang wajah kesal. (*translate: Jangan khawatir, rasanya enak.)

"Aku sebal kau bisa menguasai beberapa bahasa karena kau seorang koki dan kuliah di luar negeri." Omelnya sebelum meninggalkanku di dapur dan duduk kembali di sofa.

Aku terkikik. Bagus. Kalau dia membuatku jengkel karena sarkas dan omelannya yang pedas, aku bisa membuatnya jengkel dengan sedikit pengetahuanku dalam berbahasa asing. Sekarang, siapa yang pantas disebut "Bèn"?

"Jangan khawatir. Rasanya enak." Aku berkata dengan kalem ketika membawa sepiring makanan buatanku untuknya. Aku duduk di sebelahnya, masih menyodorkan piring yang mengepul-ngepul uapnya itu. Sementara Sehun mengabaikanku dan asyik dengan tontonan kartun tiga beruang beda jenis yang kadang tingkahnya mengocok perut itu. Baiklah, Sehun benar-benar ngambek.

"Itu tadi terjemahannya. Bahasa Italia." Aku menjelaskan dengan kalem. Meskipun aku senang karena berhasil membuatnya kesal, aku juga tidak tega karena dia yang bingung dan kesal karenaku. "Namanya Spaghetti aglio olio." Aku melanjutkan dengan bahasa yang mudah dicerna Sehun.

Kini, dia seperti anak kecil yang berhasil dibujuk ibunya dengan permen setelah ngambek seharian. Lucu sekali, astaga… ketika dia mengurai rengutan di bibirnya menjadi senyum cerah dan meraih piring di tanganku, aku merasa lega. Aku melihatnya makan dengan lahap dan aku tertawa.

"Kau ini lapar atau tidak ingin aku melihat kau memutahkan spaghettinya karena kurang penyedap rasa?" tanyaku. Dia menggeleng dan mengunyah makanannya dengan cepat sebelum menjawab pertanyaanku.

"Aku lapar." Dia makan sesuap lagi, mengunyah dengan cepat, menelannya, lalu kembali melanjutkan, "Sejujurnya, aku tidak suka makanan yang kurang cita rasa seperti buatanmu. Aku maklum kau tidak menggunakan banyak penyedap rasa karena kau bekerja di restoran organik."

"Tidak juga." Aku menggeleng sambil membela diri. "Aku membuat makanan seperti itu untukmu juga untuk kesehatanmu. Mana bisa kau makan makanan junkfood yang rasanya tajam-tajam itu seumur hidupmu?" kemudian aku menepuk lengannya yang keras dan berotot itu, lalu berbisik, "Malu sama otot-ototmu!"

Dia tertawa. Manis sekali.

"Aku tidak terlalu sering makan makanan seperti itu, Luhan." Dia membela dirinya sendiri. "Aku hanya suka makanan seperti itu."

"Tetap saja kau lebih banyak makan makanan junkfood daripada makanan sehat." Giliran aku yang protes. Kucubit lagi pinggangnya dengan kesal dan dia meringis karena cubitanku. "Kurangi makanan junkfood, Sehun."

"Kalau begitu masaklah setiap hari untukku."

Aku membeku dan hanya mampu menatapnya tanpa bisa membalas. Sial. Setelah aku kembali lagi ke Korea untuk bekerja, aku bertemu lagi dengan Sehun dan lelaki itu sering sekali membuatku takut berharap karena kalimat-kalimatnya. Dari awal lelaki itu menjemputku di bandara, mencarikanku apartemen kecil, membantuku pindahan, sampai enam bulan sudah aku ada di sini, Sehun seperti menggodaku tapi aku takut untuk berharap.

"Bagaimana?" dia membuyarkan lamunanku dan aku langsung mengalihkan pandangan darinya.

"Kau belum kuambilkan minum. Kau mau minum apa?" tanyaku mengalihkan topik pembicaraan yang membuatku panas dingin itu.

"Kau ada soda?"

"Baiklah. Air putih." Aku langsung berlalu setelah kudengar dia berdecak kesal padaku.

"Kalau kau ada soda, aku ingin minum itu."

"Baiklah, aku akan mengambilkan air sabun untukmu."

"Ya!" dia berseru dari ruang tengah dan aku tertawa saat kembali menghampirinya dengan segelas air putih di tangan.

"Ini air sabunnya." Aku menyodorkan gelas tadi pada Sehun.

"Sialan." Dia bersungut kesal dengan tangan yang terulur menerima gelas dari tanganku. "Kau belajar menyebalkan seperti ini dari siapa?"

Aku menggidikkan bahu sekilas. "Dari Oh Sehun." Jawabku santai dan kembali duduk di sebelahnya.

"Aku tidak semenyebalkan itu."

"Ya, kau tidak semenyebalkan itu. Aku hanya belajar darimu dan membuatnya jadi beberapa level lebih tinggi dari milikmu."

Sehun meletakkan gelas yang sudah dia minum seperempat isinya itu di meja. "Tsk. Kau belajar hal buruk."

"Dan itu darimu."

"Oh, kau salah sangka. aku baik untukmu."

Aku menatapnya sesaat karena membeku lagi dan akhirnya hanya mampu berdecak pelan. Aku mengalihkan pandangan darinya. Aku tidak ingin Sehun tahu bahwa aku berdebar-debar dan gugup setengah mati karena kalimatnya barusan. Aku juga tidak ingin melanjutkan perdebatan kecil kami karena takut Sehun akan me-skakmat-ku dengan kalimat seperti tadi.

"Kau belum makan, kan?" Sehun tiba-tiba bertanya. Aku menatapnya lagi tapi lelaki itu justru menonton acara televisi.

"Sudah." Aku menjawab santai.

"Yang benar?"

"Hu'um." Aku mengangguk dan saat itu Sehun menoleh dan langsung menatapku tepat di mata. Aku tidak bisa berpaling tiba-tiba. Matanya kelam tapi membuatku nyaman saat menyelaminya.

"Kau belum makan." Kata Sehun. "Perutmu barusan berbunyi."

"Eh?" aku gelagapan dan dapat mendengar Sehun terkikik di sebelahku.

"Kau terlalu asyik menatapku sampai tidak dengar suara perutmu?" tanyanya. Aku tidak mendengar nada iseng dan jahil di sana. Tapi aku merasa Sehun sedang menggodaku.

"Aku… aku…"

Sehun menaikkan kedua alisnya menunggu jawabanku. Sementara aku sudah berdebar-debar sendiri karena dia kelihatan sangat-sangat atraktif hanya karena menggerakkan kedua alisnya.

Mungkin karena aku tidak juga menjawab, mungkin juga karena aku menunjukkan ekspresi konyol yang tidak kusadari, Sehun tertawa geli. Sehun menyodorkan piringnya yang masih berisi spaghetti yang cukup banyak padaku. Aku lantas menatapnya tidak mengerti, refleks bertanya, "Kau sudah kenyang?"

Sehun menggeleng. "Untukmu." Jawabnya. Aku berjengit kesal karena jawabannya.

"Kau memberiku makanan sisa?!"

"Aku membaginya denganmu, tahu." Sehun membela sambil meletakkan piring itu pada pangkuannya. "Lagipula itu juga masakanmu, kan."

Aku menatapnya selidik sementara tanganku mengambil sesuap spaghetti untuk kumakan. Oh, perutku ternyata sudah mengadakan konser sedari tadi. Aku jadi membayangkan bagaimana suara merdu dari perutku yang didengar Sehun tadi. Ugh, aku malu!

"Kau memberikannya padaku bukan karena kau tidak suka makanannya, kan?" aku mencoba untuk tidak memikirkan suara perutku yang dibahas Sehun tadi dengan melontarkan pertanyaan lain.

"Aku suka." Sehun menjawab singkat. Aku semakin menatapnya selidik.

"Rasanya tidak enak, ya?"

"Enak." Sehun mengangguk-angguk lalu menoleh padaku. "Kena—oh,"

Kali ini Sehun menatapku intens. Bukan tepat di mataku, sih, tapi di wajahku. Tapi kan tetap saja itu membuatku ingin menumpahkan sisa spaghetti di piring ke wajahnya saking inginnya aku menghentikan tatapan Sehun dan tidak ingin melihat ekspresi wajahnya saat ini. Kemudian aku melihat tangan Sehun terulur dan mengangkat daguku hingga kini tatapanku berada di satu garis lurus dengan matanya. Sedetik setelah itu aku bisa merasakan ibu jarinya menyapu sudut bibir kananku, lalu turun kebawah menuju daguku.

Aku. Kehabisan. Oksigen. Jadi. Tolong. Aku. Sekarang. Juga!

"Kau ini bayi, ya? makan saja masih belepotan." Ia mengomel dengan suara yang pelan dan nada suara yang rendah. Persis seperti bergumam tapi aku bisa mendengar suaranya yang mendadak jadi… seksi?—Eh!

Aku tidak tahu bagaimana ekspresiku setelah dia melakukan itu. Tapi, aku bisa melihat dia terkikik geli dan aku jadi tidak tahan. Aku refleks bangkit, tidak mengatakan apapun, lalu kabur ke dapur sambil membawa piring tadi. Aku butuh ruang untuk menenangkan diri. Sehun membuatku tidak bisa mengontrol diri.

Aku duduk di satu dari dua kursi makan di dapur. Kuletakkan piring itu di meja, lantas menatapnya, mendesah, dan mengalihkan pandangan. Saat itulah aku melihat Sehun masuk ke dapur. Dia mengekoriku dan aku bisa merasakan cenat-cenut di kepalaku. Oh, Ya Tuhan… Beri aku kekuatan untuk mengendalikan diri saat berdekatan dengan Sehun. Lelaki itu seringkali membuatku lemah tak berdaya dan sekarang dia akan menyerangku.

"Kenapa kau di sini?"

"Aku tidak mau kau melihatku belepotan saat makan." Jawabku asal. Dia tertawa karena jawabanku.

Eh, tangannya juga bereaksi omong-omong. Tangan Sehun terulur untuk mencubit pipiku. Serangan pertama! Aku langsung menatapnya kesal sebagai pertahanan diri.

Beruntung saja, setelah itu Sehun tidak melanjutkan serangannya. Justru Sehun membiarkanku makan makanan sisa orang tampan ini dan mengajakku mengobrol hal lain. Kami mengobrol banyak hal. Selama enam bulan di Korea, kami belum pernah menghabiskan waktu berdua—sebagai teman bercerita maksudnya— karena kesibukan kami. Kami hanya menyempatkan waktu untuk bertemu sebentar saat luang, menanyakan kabar masing-masing, menanyakan hal-hal formalitas lain, lalu Sehun akan mengantarku pulang. Itu sudah lebih dari cukup untukku.

Jadi, ketika kini kami berdua mengobrol tentang banyak hal, aku merasa senang luar biasa. Akhirnya kami punya waktu yang berkualitas sebagai seorang teman.

Yah… teman. Aku tidak bisa menahan senyum getir karena kata itu.

"Kau masih sering berkirim pesan dengan temanmu?" Sehun tiba-tiba mempertanyakan hal lain setelah terjadi jeda cukup panjang diantara kami berdua.

"Teman?" Sehun mengangguk. "Teman yang mana?"

"Yang sering mengirimimu pesan."

Aku mengernyit bingung. Refleks tanganku meraih ponsel dari saku celana dan memeriksa setiap pesan dari temanku yang masuk ke inbox. Aku membiarkan Sehun melihat-lihat isi inbox-ku karena percuma saja, tidak ada yang kusembunyikan darinya. Oh, kecuali perasaanku padanya.

"Ini," Sehun menunjuk salah satu pesan dan aku langsung tersenyum membaca siapa yang mengirim pesan itu untukku.

"Oh…Yifan…" aku mengangguk-angguk, refleks memberikan senyum lebar padanya. "Dia sedang sibuk dengan pekerjaannya. Kenapa?" tanyaku, dia menggeleng. "Kenapa kau bisa tahu kalau dia sering mengirimiku pesan?"

Sehun tidak menjawab. Ia hanya berkedip-kedip, mencoba menghindari kontak mata denganku, dan aku langsung menangkap sesuatu darinya. Oh, Ya Tuhan… kapan lagi aku bisa menangkap basah sosok Sehun yang sedang salah tingkah karena pertanyaanku?

HAHAHAH! Kena kau, Oh Sehun!

Aku mencoba untuk menahan tawa sementara perutku rasanya ingin kulilit dengan tali saking gelinya.

"Tsk. Sepertinya kau salah paham." Sehun berkata tiba-tiba, membuatku menatapnya meledek, dan dia menyentil udara di depan keningku. "Wae, wae, wae? Apa yang kau pikirkan setelah aku bertanya seperti itu?"

Aku terkikik-kikik tidak ingin membalasnya, tapi justru berhenti dan membeku lagi karena tiba-tiba dia mencondongkan tubuhnya hingga wajah kami jadi dekat sekali. Aku mengerjap, tidak tahu harus berbuat apa. Aku ingin mundur tapi kenapa susah sekali menggerakkan sendi-sendiku?

Setelah Sehun membiarkan aku menyerangnya, lelaki itu justru diam-diam menyerangku balik dan itu cukup membuatku… uhm… sekarat.

Aku menelan ludah susah payah, berusaha mengendalikan diri. Kemudian, dengan susah payah dan suara tercekat dan serak dan terbata-bata, aku berkata, "A-apa harus kita ber-berbicara seperti ini?"

Dia justru tersenyum manis sekali. Gawat! Serangan mendadak!

"Jadi selama ini, kau masih menungguku?"

Mayday! Mayday! Gawat darurat!

Aku terkejut dengan pertanyaan itu. Apa maksud lelaki ini?

"A-apa—"

"Kau tidak sadar bahwa aku sadar?"

"Y-ya, kau memang sadar dan… dan h-hidup dan…"

"Sadar kalau kau menyukaiku,"

Wee woo wee woo wee woo! Seseorang tolong panggil polisi karena lelaki ini telah membunuhku!

Aku tidak bereaksi apapun tapi aku yakin ekspresiku sudah tidak karu-karuan. Aku tidak bisa mengendalikan setiap neuron yang ada di wajahku karena aku terlalu bingung saat ini. Sehun bilang dia tahu bahwa aku menyukainya, dan, darimana dia tahu? Aku tidak pernah memberitahunya, aku juga tidak punya teman yang cukup dekat selain Sehun sehingga aku bisa menceritakan rasa ini pada mereka. Sehun menebaknya? Tidak mungkin! Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikannya dan…

"Kau tanya aku tahu darimana?" tanyanya, seolah tahu aku sedang berpikir tentang hal itu sedari tadi. Kemudian, dia menunjuk mataku, lalu turun ke bibirku. "Matamu berbeda saat bersamaku. Senyummu bahkan sangat sangat dan sangat menunjukkan semuanya."

Oh. Apa aku semudah itu untuknya?

Aku speechless. Lebih tepatnya tidak tahu harus membela diri. Sebab aku sudah tertangkap basah dan Sehun akan tahu aku hanya membual kalau aku sedang membela diri. Rasanya aku ingin mengumpat karena Sehun masih tahu segala-galanya tentang aku dan aku juga tidak berubah banyak semenjak aku meninggalkan Korea dan tinggal lagi di Cina.

Mengerti bahwa aku tidak sedang dalam kondisi yang baik untuk diajak bicara, Sehun memundurkan badannya. Kini ia sudah duduk dengan normal di kursinya. Aku baru sadar bahwa aku menahan napas sedari tadi, jadi aku berusaha mengais oksigen dengan normal lagi. Sehun tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia mengecek jam tangannya, berdiri, lalu mengusap puncak kepalaku lembut.

"Aku pulang, ya. Tetanggamu pasti berpikiran aneh-aneh kalau aku tetap berada di rumahmu jam segini." Katanya.

Aku mengangguk, tidak menyuarakan apa-apa. Aku hanya mengantarnya sampai pintu depan apartemen kecilku ini. Sehun menatapku, tersenyum, lalu melambaikan tangan.

"Sampai jumpa di waktu lengang kita."

Untuk sementara waktu ini, aku tidak ingin bertemu lagi denganmu, Oh Sehun!



Insiden Sehun yang mendeklarasikan bahwa dia tahu kalau aku menyukainya sudah berlalu dua bulan lamanya. Tapi, rasa malu dan kaget saat dia mendeklarasikannya dengan santai masih kerap kurasakan, dan bahkan menghantu-hantuiku. Aku bahkan sering bergumam-gumam tidak jelas atau menyuarakan bahasa alien untuk mengalihkan perhatianku tatkala ingatan itu muncul lagi. Maaf, itu memang kebiasaan unikku.

Yah… dua bulan berlalu dan aku masih terbayang-bayang. Entah bagaimana dengan Sehun. Aku tidak tahu kabarnya. Kami jarang berkirim pesan. Terakhir kali kami berkirim pesan itu sekitar seminggu yang lalu. Itupun Sehun hanya berpamitan padaku, mengatakan bahwa besok dia akan berangkat ke Praha untuk urusan bisnis. Dari situlah aku jadi berpikir bahwa Sehun bukan pegawai kantor yang biasa-biasa saja. Dia luar biasa. Aku jadi tidak begitu heran dia bisa diterima di perusahaan terbaik di Korea.

Setelah empat jam bergelut dengan api, wajan, dan aroma sedap makanan, akhirnya aku dapat menghirup napas barang sejenak. Setidaknya semua pesanan yang masuk sudah tersaji dan kini para koki dan asisten-asistennya memiliki waktu sebentar untuk beristirahat. Diantara itu, mereka menyelipkan obrolan, lalu canda tawa, dan aku hanya ikut sekadarnya saja. Aku tidak akan berlebihan karena kalau aku berlebihan, maka yang keluar adalah candaan yang selevel dengan Sehun dan mungkin itu akan menghancurkan image kalemku di dapur restoran ini. Ugh.

"Pesanan dari meja sembilan!" suara Do Kyungsoo kembali terdengar dan itu sebagai tanda bahwa jam istirahat singkat telah berakhir. "Luhan?"

Aku lantas mendongak. "Ya, chef?"

"Kau." Kyungsoo menunjukku dan kertasnya bergantian. Aku jadi ikut menunjuk diri sendiri karenanya.

"Ada apa denganku?"

"Kau pesanannya, Luhan."

Aku mengernyit bingung. Saat itu kakiku lantas mendekati Kyungsoo yang juga melangkahkan kaki ke arahku. Kami berdua bertemu di satu titik dan Kyungsoo yang seolah tahu bahwa aku butuh kejelasan atas kalimatnya, menyodorkan kertas tadi padaku. Memang benar tertulis namaku di kertas itu. Aku semakin bingung.

Makanan apa yang bernama Luhan?

Lalu kenapa aku dipesan—oh, Ya Tuhan… ini restoran! Bukan tempat mengerikan macam pub dan… argh! AKU BUKAN MAKANAN!

"Lebih baik kau temui pelanggan ini. Kau pesanannya."

Sial. Kyungsoo terdengar seperti seorang germo. Aku jadi merinding sendiri saat berjalan keluar dari dapur masih dengan pakaian serba putih dan celemek hitam serta ikat kepala kokiku. Meja nomor sembilan, dan kulihat seorang lelaki yang kukenal sedang duduk sendiri di sana. Sehun. Oh Sehun. Lelaki itu membuatku enggan untuk terus melangkah meskipun sebenarnya aku ingin menemuinya.

Jadi, dia sudah pulang dari Praha? Dan kini dia sedang luang lalu mengunjungiku?

Aku tetap berdiri di tempat tanpa peduli dengan para pelanggan lain yang menyaksikan keberadaanku. Aku baru sadar ketika aku bersitatap dengan Sehun saat Sehun menoleh dan menyadari bahwa aku sudah keluar dari dapur. Lelaki itu tersenyum padaku, dan mengisyaratkanku untuk menghampirinya seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya diantara kami.

Otakku berpikir bahwa aku benar-benar salah kalau aku menghampirinya. Tapi kakiku segera bergerak mendekatinya sesaat setelah Sehun menurunkan tangannya.

Hei, kaki! Otakmu itu di kepalaku, bukan di lututku! Tapi kenapa kau lantas pergi menghampiri Sehun?

Oh, Ya Tuhan… jangan beri aku cobaan lagi…

"Hai." Aku menyapa kaku dan tibak berniat untuk duduk di kursi kosong di mejanya. Aku hanya berdiri di sebelahnya, dan dia kelihatan tidak suka melihatku berdiri. Aku, sih, masa bodoh. Aku sedang bekerja lalu datanglah lelaki ini, memesanku, seolah dialah yang paling berkuasa di sini.

"Kau tidak duduk?" dia bertanya dan aku lantas menggeleng.

"Aku ada banyak pekerjaan, tahu."

Sehun mendengus. "Sok sibuk,"

Lalu aku menggidikkan bahu sekilas. "Memang sibuk," balasku acuh tidak acuh. "Ada apa kau memanggilku?"

Sehun menatapku sebentar, lalu berdiri tepat di sampingku. "Kembalilah bekerja. Aku hanya ingin melihatmu saja."

What the—oh, ya Tuhan aku hampir mengumpat. Melihat Sehun lantas berlalu melewatiku begitu saja, lalu keluar dari pintu dan tidak menengok ke arahku lagi, membuatku ingin me… me… mencekik lehernya suatu saat nanti kalau aku bertemu dengannya. Aku terlalu malas untuk mengejarnya dan memintanya untuk tetap tinggal. Maaf, hidupku bukan sebuah drama di televisi!

Aku kembali lagi ke dapur tanpa memikirkan apa-apa lagi. Bagiku, aku harus menyibukkan diri supaya rasa rindu yang selalu mampir saat Sehun jauh dariku ini menghilang. Pun, aku tidak akan teringat Sehun yang mendeklarasikan hal konyol dua bulan yang lalu itu. Sebenarnya, aku ingin sekali berkata bahwa benar jika aku menyukainya. Aku ingin mengakhiri rasa suka diam-diamku ini mumpung Sehun sudah tahu dan, ya… tetap saja pada kenyataannya aku tidak mampu untuk berkata demikian. Sisi lain dari diriku selalu mencegah, beralasan bahwa persahabatan antara aku dan Sehun akan hancur kalau aku blak-blakan tentang perasaanku selama ini padanya.

Tapi, seorang perempuan dan seorang lelaki yang hanya menjalin persahabatan, pasti satu diantara mereka ada yang memendam rasa suka. Dalam kasus ini, aku yang memendam rasa itu.

Aku dilema, kawan-kawan. Tolonglah aku.


to be continued…

Hai, darls! Akhirnya project ff HunHan di ffn balik lagi yuhuuuuuuuu! Siapa yang kangen ff HunHan bertebaran di ffn lagi? Yuk cung!

Project ini berlangsung dari tanggal 8-20 Maret 2019, dan bakal diramaikan oleh author-author kesayangan kalian! Ada Catastrophe Reynah, Apriltaste, sehooney, ramyoon, Dark Eagle's Eye, dan Arthur Kingg! So, tungguin kami update dan meramaikan dunia ffn dengan ff HunHan yhaaaa *love *love *love

Hai! Aku balik dengan ff baru, sebagai 'pembukaan' project ini, dan menandai aku aktif lagi dalam dunia tulis-tulis lagi. Untuk ff Run to You, aku masih belum memastikan kapan update-nya tapi kini masih dalam proses pengerjaan. Doakan aku segera rampung dengan kesibukanku selama kuliah sebab ada beberapa matkul yang ngebut selama dua bulan ke depan :')

See you really soon!

Ps. Chapter 2 akan di update tanggal 16 Maret 2019. Stay tune!