The Construction Empire

Disclaimer: Bukan Punya Saya!

Warning: Gaje, AU, AR, OC, OOC, Typo, Bahasa Tak Baku, Isekai, Fantasy, Dungeon, Easy Going Life, Military, Demi-human, Elf, Dragon, Kingdom/Empress, Noble, Etc, Don't Like Don't Read! Go Back!?

Summary: Hidupnya berubah saat, Namikaze Naruto, memenangkan Lotre berhadiah 9 Miliar Yen, diburu oleh mereka yang menginginkan uangnya, karena tak tahan iapun pergi kesuatu tempat didaerah Kyoto, disana ia dapat menikmati hidupnya dengan uang yang telah ia dapatkan, saat ia sedang memeriksa tempat tinggalnya yang baru Naruto dikejutkan oleh sebuah pintu yang terhubung dengan dunia fantasy!

Chapter 01

Dipagi hari yang cerah dikamar yang cukup luas... Terlihat seorang pemuda bersurai pirang tengah menatap nomer lotre ditangannya, lalu pandangannya mengarah kesamping dan ia melihat tumpukan uang yang menggunung, jumlahnya sangat banyak hingga membuatnya tak percaya ada uang sebanyak itu didalam rumahnya. Jumlah uang yang menumpuk disana totalnya ada 9 miliar Yen! Jumlah yang lebih dari cukup untuk hidup selama 100 tahun kedepan tanpa bekerja!

Namikaze Naruto tidak dapat menahan rasa senang didalam dirinya! Ia tidak menyangka jika Tiket Lotre yang ia beli untik sekedar iseng akan tembus dan membuatnya menjadi orang kaya baru! Dengan uang sebanyak ini ia tidak perlu bekerja! Ia dapat hidup dengan nyaman dengan uang sebanyak ini!

"Dengan uang sebanyak ini, aku tidak perlu bekerja lagi! Aku dapat hidup nyaman dengan uang sebanyak ini!."

Naruto tertawa senang, dengan uang ini berlibur keliling dunia bukan lagi sebuah mimpi! Ia dapat pergi bersantai menikmati keindahan laut hawai atau menikmati kuliner dinegara Pizza Italia dan mungkin ia dapat pergi melihat Machu Pichu dinegara Peru! Kuuh! Membayangkannya saja sudah membuat dirinya gembira! Ia harus segera menyusun jadwal untuk pergi berlibur! Saat Naruto memikirkan itu, tiba-tiba delusinya terganggu oleh suara bel rumah yang berbunyi

Ting-Tong!

Ting-Tong!

Naruto tersadar dari khayalannya dan segera menuju pintu untuk melihat siapa yang datang berkunjungi, Naruto mengintip dari lubang pintu dan ia melihat seorang pria tua berjas mewah lengkap dengan cincin emas disetiap jarinya, Naruto mengerutkan dahinya melihat pria itu, siapa? Itulah yang ada didalam pikirannya.

Mungkin karena sadar diperhatikan, Pria itu mengalihkan pandangannya dan bertemu dengan mata Naruto, Pria tua itu tersenyum khas seorang pembisnis dan dengan nada yang berwibawa ia berkata.

"Selamat pagi, saya dari Organisasi Pelayanan Warga Miskin... Saat ini Kami sedang dalam masalah Finansial yang pelik... Jika anda berkenan dapatkah anda..."

Belum sempat Pria itu menyelesaikan Kata-Katanya Naruto langsung mengunci pintunya dengan kunci double lalu pergi dari sana, Organisasi Pelayanan Warga Miskin? Ia tidak pernah dengan nama organisasi yang mirip badan amal itu, dan jika ada bukankah itu aneh melihat orang yang berasal dari Organisasi Badan Amal berpenampilan layaknya orang kaya? Maaf saja darimanapun kau melihatnya itu udah jelas penipuan! Naruto menghela nafas.

"Penipuan mengatasnamakan [Badan Amal] itu sesuatu yang sering terjadi..."

Naruto berjalan kembali kekamarnya, ia harus segera menyusun jadwal liburannya, ia sudah terlalu lama belajar, belajar, belajar dan belajar, jujur saja beban stress sudah menumpuk dipundaknya, ia butuh refreshing untuk meringankan beban pikirannya, namun sayangnya itu harus terganggu sebab tiba-tiba Ponsel genggam Naruto berdering, Naruto merogoh saku celananya dan menekan tombol [Terima].

"Halo? Dengan siapa ini?"

[Kita saat ini sedang meneliti Energi Gerak Kekal untuk menciptakan Energi Hemat dan ramah lingkungan...]

"Huh? Tunggu, apa yang- "

[... Karena itu kami butuh...]

"Persetan dengan-mu sialan!?"

Naruto menutup Ponselnya dengan kesal lalu segera kembali berjalan menuju kamarnya, namun saat ia baru saja akan melangkah tiba-tiba ponselnya kembali berdering namun kali ini tidak hanya Panggilan saja namun SMS, E-Mail, Chatting dan berbagai macam bentuk Surel membanjiri Ponselnya, Naruto yang tidak dapat menahan rasa kesal didalam dirinya dengan sekuat tenaga melempar ponselnya kesamping membuat ponsel itu membentur tembok dan hancur berkeping-keping!

"Brengsek! Kalian hanya ingin Uang-ku!"

.

.

.

-TCE-

.

.

.

[Buahahaha! Oke, Aku mengerti situasimu, aku akan membantumu mencari tempat dimana kau bisa menenangkan dirimu...]

"Aku tertolong, aku mengandalkanmu, Ayah."

Setelah kejadian dimana Naruto menghancurkan ponselnya, saat ini remaja yang menjadi seorang miliarder itu tengah sibuk mengemasi barang-barangnya, ia sudah tak tahan karena setiap hari ada saja orang dafuq yang mengaku dari organisasi badan amal yang meminta donasi padanya, padahal mereka hanyalah seorang penipu sialan yang menginginkan uangnya, mungkin ia akan percaya seandainya orang yang datang memiliki penampilan layaknya orang dari badan amal namun orang-orang yang datang kerumahnya memiliki penampilan layaknya bos dari suatu perusahaan yang memiliki aset ratusan juta yen! Naruto muak dengan mereka jadi ia memutuskan untuk mengasingkan diri kesuatu tempat dan menikmati kehidupan yang damai dan tenang, dan karena itulah ia menelpon sang ayah yang merupakan orang yang ahli dalam urusan jual-beli rumah.

[... Ah, ngomong-ngomong apa kau tidak masalah dengan tempatnya yang terpencil dipuncak gunung?]

"Ya, itu tidak masalah, aku akan sangat terbantu jika kau bisa menemukan tempat yang jauh dari orang-orang yang merepotkan itu."

[Hahaha, ayah mengerti... Ayah akan mengurus semuanya jadi kau hanya perlu membawa barang-barang keperluanmu kesana, Ayah akan kirim alamatnya lewat email...]

"Terimakasih, Ayah... Aku akan mentransfer uangnya nanti, apa 30 juta cukup?"

[Itu cukup, aku akan segera mengurusnya...]

Biip!

Naruto menghela nafas dan memasuk kembali Ponselnya kesaku celananya, ia menutup kardus yang berisi perlengkapan pribadinya dan menyegelnya dengan lakban, mengangkat kardus itu dan menumpuknya disudut ruangan, Naruto mengusap keringat didahinya, ia tersenyum puas melihat semua keperluannya yang telah selesai dikemas.

"Yosh! Saatnya berangkat!"

.

.

.

-TCE-

.

.

.

"Jadi ini tempatnya?"

Dihadapan Naruto saat ini berdiri sebuah rumah gaya jepang yang cukup kuno, meski kuno tapi tempat itu terlihat dalam kondisi baik, rumah ini juga memiliki perkarangan yang cukup luas untuk menampung beberapa mobil SUV sekaligus, Naruto mengangguk puas.

"Tidak terlihat buruk, meski sudah setengah abad ditinggalkan, mari lihat isinya."

Didalam rumah, Naruto disambut oleh koridor beralaskan kayu yang terlihat masih cukup kuat, ia berjalan menuju ruang tamu, dan ia melihat ruang tamu yang cukup luas bahkan melebihi luas kamarnya yang dulu, dapurnya cukup bersih, Toiletnya juga oke! Lalu kamar tidur, itu juga bagus! Naruto mengangguk puas.

"Tempat ini sepertinya dibersihkan secara berkala, aku tidak melihat debu satupun... Ayah memang hebat menyarankanku tempat seperti ini, meski harganya cukup membuatku terkejut tapi dengan keuanganku saat ini, itu tidak masalah.."

Naruto menutup pintu kamarnya lalu kembali menyelusuri rumah, cukup lama Naruto melihat-lihat sampai pandangannya terkunci pada sebuah pintu yang terlihat cukup tua, Naruto mengerutkan dahinya, menurut yang ia lihat didalam denah rumah, seharusnya pintu itu tidak ada namun kenapa... Naruto berjalan mendekati pintu itu, ia mengenggam knop pintu lalu mendorongnya dan didalam ia melihat sebuah ruangan kosong yang cukup luas.

"Hmm~ hanya ruangan kosong rupanya..."

Naruto menghela nafas, ia kira ini semacam ruangan rahasia atau semacamnya karena tidak digambar didenah namun ternyata hanya ruangan kosong, Naruto tersenyum kecut, sepertinya ia harus mengurangi kegiatannya membaca novel fantasy, ia mulai sering berdelusi hal-hal yang berbau fantasy, Naruto menghela nafas dan masuk kedalam, namun saat kakinya menginjak ruangan itu dalam sekejap ruangan yang tadi kamar kosong berubah menjadi sebuah terowongan... Naruto terdiam melihat pemandangannya yang tiba-tiba berubah, ia mengedipkan matanya beberapa kali mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi, ia terdiam sebelum ia menggampar dirinya sendiri dan ia meringis saat merasakan rasa nyeri dipipinya.

"Ini bukan mimpi... Lalu apa yang..."

Naruto menoleh kebelakang dan ia melihat pintu yang terbuka memperlihatkan koridor kediamannya, Naruto terdiam sejenak untuk mencoba mencerna apa yang terjadi, ia menoleh kearah terowongan, lalu menatap koridor rumahnya, kembali keterowongan lalu kembali lagi kekoridor rumahnya, Naruto mengusap dagunya yang masih mulus.

"Mungkinkah tempat ini adalah ruangan rahasia yang dibangun oleh pemilik rumah ini sebelumnya untuk suatu tujuan? Tapi, aku tidak pernah melihat ruangan yang dapat berubah menjadi terowongan saat kau masuk kedalamnya... Ini aneh..."

Naruto mencoba mengerahkan sel otaknya untuk menganalisis situasi aneh ini, cukup lama ia berpikir sampai akhirnya ia memutuskan untuk menyelusuri terowongan ini, hanya dengan itulah ia dapat memuaskan rasa ingin tahu-nya tapi...

"Benar, aku harus membawa perlengkapan-ku dulu..."

Setelah mengatakan itu Naruto bergehas menuju Mobil yang ia parkir diperkarangan, ia mengambil koper yang cukup besar lalu membuka isinya, didalam koper terlihat aset perlengkapan kendo lengkap dengan pedang kendo, dan pelindung dada. Naruto mengambil pelindung dada dan Pedang kendo miliknya, ia juga mengambil tas kecil dan mengisinya dengan berbagai macam makanan, obat-obatan, minuman penambah stamina dan senter. Setelah dirasa cukup, Naruto segera kembali keruangan itu, dan seperti yang dia duga ruangan ini dilengkapi dengan semacam Visual efek yang membuat terowongan ini terlihat seperti ruangan kosong dari luar.

"Hanya saja aku tidak mengerti bagaimana mereka bisa menciptakan Visual Efek yang terlihat alami seperti ini?"

Tidak peduli sekeras apapun Naruto memikirkannya ia tidak dapat menemukan penjelasan kongret tentang hal ini, Naruto mengangkat bahu, ia bisa memikirkan cara kerja visual efek ini nanti namun saat ini yang terpenting adalah menyelusuri tempat ini, akan menjadi lelucon yang tak lucu jika ternyata terowongan ini dijadikan markas rahasia oleh para penjahat, mengingat petak rumah yang berada diatas pegunungan, juga kenyataan tidak ada seorang pun yang menempatinya selama beberapa dekade bukan hal yang mustahil jika tempat ini digunakan sebagai markas oleh para penjahat...

"Baiklah, aku dapat melawan beberapa orang sekaligus berkat pengalaman Kendo-ku yang telah aku kuasai sejak SMP, aku tidak akan kalah dalam pertarungan jarak dekat, tapi... Jika penjahat itu memiliki senjata api maka..."

Itu situasi yang tidak akan menguntungkannya, dan jika itu terjadi mari pikirkan bagaimana caranya untuk menyelamatkan diri, Naruto menghela nafas dan perlahan melangkah kedalam terowongan. Tempat ini cukup gelap dan juga pengap namun entah kenapa Naruto samar-samar merasakan sesuatu memenuhi tempat ini, namun apa itu ia tidak tahu. Naruto melangkah menyelusuri tempat itu dan setelah beberapa saat akhirnya ia melihat sebuah cahaya diujung terowongan, melihat itu Naruto mempercepat langkahnya dan saat sampai diujung, Naruto disambut oleh pemandangan hutan yang asri, Naruto melihat kesekitar dengan dahi berkerut.

"Ini... Hutan belakang rumah?"

Dibelakang rumahnya memang ada hutan namun dinilai dari panjang terowongan itu, seharusnya hanya ada gunung saja, namun ia tidak melihat pegunungan dimanapun, ia juga merasa suhu disini terasa lebih hangat dari suhu pegunungan yang seharusnya terasa dingin, Naruto mencoba mengambil ponselnya untuk memastikan posisinya lewat satelit, namun saat ia menghidupkan ponselnya ia dibuat terdiam saat melihat tanda [No Signal] dilayar ponselnya.

"Tidak ada sinyal? Apa kau bercanda? Bukankah seharusnya masih ada sinyal ditempat ini tapi kenapa..."

Naruto mengerutkan dahinya, ini aneh, dirumahnya ia masih mendapatkan sinyal namun kenapa... Tunggu, mungkinkah... Ini dunia lain? Naruto tersenyum kecut, tidak itu mustahil... Ia benar-benar harus mempertimbangkan untuk tidak terlalu banyak membaca Novel ringan Fantasy itu. Naruto menaruh kembali ponselnya kedalam saku celana-nya lalu berjalan menyelusuri hutan, cukup lama ia berjalan sampai Naruto akhirnya berhasil keluar dari hutan, dan saat ia keluar dari hutan ia dibuat terdiam melihat apa yang ada didepan matanya...

Sebuah kota-, tidak, itu sebuah desa kumuh dengan ladang-ladang kering disamping rumah-rumah yang terbuat dari kayu, terlihat orang-orang dengan pakaian yang mirip dengan pakaian seorang petualang berlalu lalang, kondisi mereka terlihat menyedihkan, mereka terlihat memiliki luka disekujur tubuh mereka, tidak hanya itu ia juga melihat beberapa orang yang kehilangan kaki atau tangan mereka, Naruto dibuat terdiam saat ia melihat salah satu dari mereka merapalkan sesuatu dan dalam sekejap sesuatu yang ia yakini sebagai sebuah lingkaran magic muncul dan dari sana air menyembur dengan deras membasahi ladang yang kering, melihat hal itu seketika Naruto terdiam, ia menekan pelipisnya yang entah kenapa terasa berdenyut.

"Baik, aku tidak ingin mempercayai ini tapi..."

Serius, ini tidak mungkin terjadi kan? Dia tidak sedang berada didunia lain seperti tokoh utama dinovel ringan fantasy yang ia baca, kan? Seseorang tolong katakan jika ini hanya bunga tidur!? Naruto tertawa hambar saat ia mencoba melarikan diri dari kenyataan, Naruto menarik nafas untuk menenangkan emosinya, jika dilihat dari penampilannya saat ini Naruto tidak ada bedanya dengan mereka, pengecualian tentang baju-nya yang lebih stylist dibandingkan pakaian mereka, dirinya membawa pedang Kendo dan pelindung dada yang terbuat dari bahan serat karbon yang lebih dari cukup untuk menghancurkan tulang rusuk manusia normal, Naruto mengangguk dalam hatinya lalu melangkah menuju desa kumuh itu.

Naruto menyapa para penduduk desa.

"Hello, aku pengembara dari suatu negara bernama Echigo!"*

[A/N: Dia ngomong pake bahasa inggris]

Seorang penduduk desa yang terlihat seperti seorang petualang dengan satu mata diperban dan tangan kanan yang terbungkus perban mengalihkan pandangannya dari ladang yang baru saja ia siram dengan sihir air kearah samping, alisnya bertautan saat ia melihat Naruto yang berjalan kearahnya dengan senyuman ramah diwajahnya, dahi pria itu berkerut bingung saat ia mendengar Naruto mengatakan kata-kata yang tidak ia pahami, pria itu menegakkan tubuhnya dan menatap lurus Naruto dengan kebingungan yang tercetak jelas diwajahnya.

"Kau ini ngomong apa, Nak?"

Naruto terdiam, itu... Bahasa Jepang! Ada apa ini?! Apa dia tidak berada didunia lain? Tapi... Sihir tadi... Tidak, Tidak, Tidak, Tidak! Ini jelas bukan Di Jepang! Tidak mungkin ada orang dinegaranya yang mampu menghasilkan air dari ketiadaan! Dan jikapun ada maka orang itu pasti akan menjadi orang yang sangat terkenal!? Naruto terdiam selama beberapa saat sebelum ia dengan canggung menatap pria didepannya dan tersenyum kikuk.

"Ah, maaf... Saya, Namikaze Naruto, seorang pedagang keliling..."

"Pedagang keliling?"

Pria itu terdiam dan menatap Naruto dari atas sampai kebawah, dari pakaian yang dipakai pemuda ini, jelas itu terlihat mahal karena ia tidak pernah melihat pakaian dengan warna seterang ini, juga hanya dengan melihatnya saja ia tahu pakaian yang dia kenakan terbuat dari bahan kualitas tinggi, namun ada hal yang membuatnya bingung, jika dia seorang pedagang, lalu dimana barang dagangannya? Lupakan barang dagangannya, ia bahkan tidak melihat kereta yang biasa dibawa oleh seorang pedagang. Pria itu menatap curiga Naruto yang langsung membuat Naruto merasa tak nyaman.

"Pedagang, huh..."pria itu bergumam dengan nada yang entah kenapa terdengar tajam membuat Naruto semakin merasa tak nyaman, pria itu menatap langsung kemata Naruto."... Jika kau seorang pedagang, lalu... Dimana barang daganganmu, Nak?." tanya pria itu dengan suara tajam membuat Naruto membeku.

Oh sial, dia tidak berpikir sampai kesana! Jika ia mengaku sebagai seorang pedagang maka ia seharusnya membawa banyak barang agar terlihat lebih menyakinkan! Kuuh... Terkutuklah kau mulut yang asal ceplos! Naruto dengan gelisah memutar otaknya dengan kecepatan tinggi, apa? Apa yang harus dia lakukan untuk menyakinkan pria didepannya, keringat dingin mengalir dipelipis Naruto saat ia merasakan tatapan curiga pria didepannya semakin intens, Naruto terus mengerahkan setiap saraf diotaknya sebelum pandangannya terarah pada tas kecil yang ia bawa.

Benar juga! Aku membawa beberapa perbekalan didalam tas ini!

Naruto tersenyum sesaat sebelum ia menatap kearah pria didepannya dan mengeluarkan senyuman yang biasa digunakan oleh seorang salaryman dinegaranya.

"Aku memang seorang pedagang, sebagai buktinya aku akan memberikan kau beberapa makanan, dan obat-obatan."

Ucap Naruto dengan senyuman pedagang diwajahnya, disaat Naruto mengatakan itu wajah pria didepannya dan beberapa orang yang sejak tadi memperhatikan dari jauh perlahan mulai menjadi cerah.

"Maaf! Aku dengar kamu mengatakan sesuatu tentang obat!"

Naruto terdiam saat telinganya menangkap sebuah suara tepat dibelakangnya, dengan pelan Naruto menoleh kebelakang dan ia menglihat seorang perempuan cantik bersurai pirang yang jatuh tepat dibelakang punggungnya yang dia kuncir rapi, mata seindah permata itu menatap kearah Naruto dengan harapan didalamnya., mengesampingkan penampilannya yang lusuh, perempuan ini memiliki kecantikan yang mempesona. Perempuan cantik itu perlahan melangkah mendekat kearah Naruto.

"Apa benar kamu ingin memberikan beberapa obat-obatan? Jika benar, tolong... Ayah saya sedang kritis..."

Ucap perempuan itu lirih, Naruto terdiam dengan mata melebar, kritis? Bukankah seharusnya ayah-nya segera dibawa kerumah sakit, juga mustahil obat-obatan yang ia bawa dapat menyembuhkan orang yang sedang kritis! Bawa dia ke dokter! Tanpa menyadari keterkejutan Naruto, pria yang tadi berbicara dengan Naruto bergegas mendekati perempuan cantik itu.

"Jeanne-sama, anda tenang saja, Tuan Pedagang ini akan menyembuhkan kepala desa..."

Oi, oi, oi! Ngomong apa nih orang! Ia tidak pernah mengatakan kalau dirinya berniat menyembuhkan kepala desa yang merupakan ayah dari perempuan cantik ini! Ia hanya membawa beberapa obat demam, mual, pusing dan sakit perut! Ia tidak memiliki obat untuk menyembuhkan orang yang sedang kritis!? Naruto mengeleng pelan mengusir pikiran dikepalanya, ini bukan saatnya memikirkan itu, ia harus melihat kondisi ayah dari perempuan cantik yang ia tahu bernama Jeanne ini...

"Tunggu sebentar, ayah anda sakit kritis?"

"Ya..."perempuan itu mengangguk lemah."Ayah saya menderita demam tinggi sejak beberapa hari yang lalu, dan kondisinya kian memburuk dari hari kehari, ia bahkan tidak mau makan... Memanggil dokter dari Kekaisaran biayanya sangat mahal, kami sudah putus asa..."

Bahu Naruto gemetar sesaat, ya ampun dari perkataan Jeanne, ia dapat menebak jika penyakit yang diderita ayahnya adalah penyakit yang serius, dengan obat-obatan yang ia bawa, itu bahkan tidak bisa mengurangi gejala penyakit itu, dan jika ia memberikan obat yang salah dan terjadi komplikasi maka... Wajah Naruto memucat, namun tidak ada yang menyadari hal itu. Jeanne mengelap air mata yang memenuhi sudut matanya dan tersenyum lemah pada Naruto.

"Terimakasih, Naruto-sama mau berbaik hati pada kami..."

"U-Uhm... Lalu, mari kita pergi ketempat ayah-mu."

"Terimakasih, kalau begitu silahkan ikuti saya.."

Naruto mengangguk pelan dan berjalan mengikuti Jeanne yang selangkah berada didepannya, disepanjang perjalanan Naruto melihat keadaan desa.

Desa ini seperti pemukiman kumuh, orang-orang disini hidup dengan keterbatasan yang menyedihkan, mereka miskin dan kekurangan makanan, beberapa orang dewasa bahkan anak-anak terlihat kurus seperti orang yang kekurangan gizi, Naruto menatap hal itu sebentar sebelum ia memutuskan mengalihkan pandangannya kedepan. Sebagai seorang manusia, melihat pemandangan itu jelas mengundang rasa empat Naruto, namun ia tidak dapat melakukan apapun dengan apa yang ia miliki saat ini.

Jika dia kembali, ia bisa membeli cukup makanan untuk semua orang didesa ini, karena melihat desa dengan luas puluhan meter ini, populasi yang hidup disini mungkin hanya sekitar ratusan orang, dengan uang yang dia miliki saat ini, Naruto lebih dari mampu untuk memberi makan ratusan ribu orang selama beberapa bulan!

'Benar, dengan itu aku bisa sedikit membantu desa ini.'

Naruto mengangguk dalam hatinya, saat Naruto terlalu dalam pikirannya akhirnya mereka berdua sampai didepan sebuah rumah kayu yang sedikit lebih besar dibandingkan rumah-rumah disekitarnya, Jeanne membuka pintu dan mempersilahkan Naruto masuk.

"Silahkan masuk, maaf rumah-nya sedikit kotor."

"Tidak masalah... Maaf menganggu..."

Naruto melangkah kedalam rumah, ia melihat interior rumah yang sederhana sebelum ia dipandu oleh Jeanne menuju kesuatu kamar, Jeanne membuka pintu dan mempersilahkan Naruto masuk, didalam, Naruto melihat seorang pria tua yang diperkirakan berada diusia tua dengan rambut putih panjang, ia terlihat tinggi dengan badan kekar yang sulit dipercaya dimiliki oleh orang yang terlihat seperti berusia sekitar 60 tahun lebih. Selain tubuhnya yang kekar, pria tua itu memiliki bekas luka dimata kanannya. Pandangan Naruto turun kebawah dan ia melihat salah satu kaki pria tua itu, kaki kanan-nya telah hilang dari pergelangan kaki sampai separuh betis, dan diganti dengan semacam kaki kayu.

Jeanne berjalan dan duduk disamping tempat tidur sang ayah, dengan pelan Jeanne meletakan tangannya diatas tangan sang ayah, dengan lembut Jeanne meremas tangan sang ayah.

"Ayah... Ini aku, Jeanne... Aku datang membawa obat untuk ayah..."

"..., eh... Obat..."

Naruto terdiam saat pria itu mengeluarkan suara erangan lemah, dinilai dari nada suaranya saja Naruto yakin penyakit Pria tua ini sudah parah dan harus segera mendapatkan perawatan intensif! Naruto berjalan menuju sisi ranjang dan berdiri disisi lain tempat tidur, Naruto memeriksa denyut nadi pria tua itu dan alisnya bertaut, ini buruk denyut nadinya lemah, suhu tubuhnya juga tinggi.

"Ini buruk, suhu tubuhnya tinggi dan denyut nadinya melemah, tidak ada respon yang bagus saat memanggilnya, tubuhnya juga sangat lemah... Dia mungkin..."Naruto mengangkat wajahnya dan menatap Jeanne yang terlihat sudah siap menangis kapan saja, air mata sudah memenuhi pelupuk matanya, hati Naruto terasa dicengkram saat melihat wajah sedih itu."... Akan segera sembuh!?" ucap Naruto seraya mengalihkan pandangannya kearah lain, kuso... Ia tidak dapat mengatakan jika ayahnya sudah tidak dapat ditolong lagi!

'Sial, aku tidak memiliki obat apapun yang cocok untuk penyakit pria ini...'

Naruto dengan panik membuka tas miliknya dan mengambil sebagian besar obat-obatan disana, sangking paniknya Naruto tidak sadar jika dia memberikan minuman penambah stamina bersamaan dengan obat demam dan pusing.

"Ini obatnya!"

-Time Skip-

"Terimakasih, Naruto-sama, berkat kamu saya bisa merasa lega... Apa Naruto-sama ingin menginap disini?"

"A-Ah... Uhm... Ya... Terimakasih..."

Naruto tidak dapat menghentikan keringat dingin yang muncul diwajahnya. Naruto baru saja memberikan sembarangan obat untuk seorang pria tua yang sedang kritis! Tidak peduli apapun yang terjadi ayah-nya akan segera mati... Saat itu terjadi, ia harus memberikan kompensasi yang sesuai untuk Jeanne-san.

"Ini ruanganmu... Silahkan beristirahat disini, jika perlu sesuatu panggil saja..."

"U-Uhm, terimakasih..."

Setelah mengatakan itu, Jeanne tersenyum kecil dan menutup pintu meninggalkan Naruto yang terdiam ditempatnya.

"Apa yang harus aku lakukan, dalam beberapa jam Ayah Jeanne akan mati karena kesalahanku, tidak ada waktu untuk kembali kerumahku dan menelpon dokter..." Naruto meringis pelan saat ia sadar jika hal itu mustahil, rumah sakit dari kediaman barunya berjarak 70km, dan jarak itu dapat ditempuh dalam waktu sejam, dan memperhitungkan ada-nya dunia lain, itu benar-benar tidak mungkin, bisa-bisa negara ini di eksploitasi dibawah kebijakan persahabatan, Naruto menghela nafas

"... Tidak ada pilihan lain, aku harus meminta maaf dan menerima hukumanku..."ucap Naruto lirih.

Ia harus memberikan kompensasi yang layak untuk Jeanne-san karena dirinya, Jeanne akan kehilangan ayahnya. Naruto setidaknya harus membayar puluhan atau bahkan ratusan juta yen untuk membiayai hidup Jeanne sampai dia menikah dan membangun keluarga sendiri, adapun merawatnya dibawah asuhan keluarga besar Namikaze namun, jika ia melakukannya maka Naruto harus membawa Jeanne kerumah keluarganya dan itu pasti akan membuat seisi kediaman Namikaze terkejut!

[Wow, Nak! Baru beberapa bulan kau memutuskan untuk mandiri sekarang kau membawa seorang wanita kerumah?!]

[Ara, Naruto-ku sudah mulai tumbuh dewasa]

Tidak, Tidak, Tidak, Tidak!? Itu tidak mungkin! Ia tidak bisa menahan rasa malu seandainya ia membawa Jeanne kehadapan kedua orang tuanya! Ia pasti akan digoda Habis-Habisan!? Saat Naruto sedang berpikir bagaimana caranya memberikan kompensasi pada Jeanne, tiba-tiba suara langkah kaki cepat terdengar dan suara pintu dibuka dengan kuat mengejutkan Naruto.

"Na-Naruto-sama! A-Ayah... Ayah!"

"A-Apa? Apa yang terjadi pada ayah-mu?"

Tidak mungkin, jangan katakan bahwa Ayah Jeanne telah berpulang kehadapan tuhan? Naruto seketika itu juga pucat pasi, tidak ia sangka jika Ayah Jeanne akan meninggal sejam setelah dia memberikan obat-obatan itu. Namun apa yang tidak Naruto sadari adalah Jeanne terlihat bahagia dan bersemangat hingga membuat nafasnya menjadi tak terkendali, Jeanne menarik nafas sejenak sebelum dengan semangat ia mengatakan.

"Ayah sudah sembuh!"

"Aku minta maaf Jeanne-san! aku seharusnya tidak memberikan obat itu! Karena diriku ayahmu sudah... Sembuh?!"

Naruto tidak dapat menahan rasa terkejutnya, bahkan matanya melebar sampai hampir lepas dari tempatnya, Ayah Jeanne sudah sembuh! Hanya sejam setelah Jeanne memberinya obat-obatan darinya dan dia sudah sembuh?! Ada apa ini sebenarnya? Jeanne mengangguk dengan semangat tanpa menyadari keterkejutan dan rasa bingung Naruto.

"Ya! Ayah sudah sembuh dan tidak hanya itu saja! Kaki Ayah! Kaki Ayah yang telah hilang akibat perang tumbuh kembali?!"

"... Huh?"

"Cepat kemari, ayah ingin bertemu denganmu..."

Tanpa mempedulikan kebingungan yang melanda Naruto, Jeanne menarik tangan Naruto dan dengan semangat berlari menuju kamar ayahnya, Naruto tidak dapat melakukan apapun karena pikirannya macet sesaat! Naruto baru sadar saat ia memasuki kamar Ayah Jeanne.

"Anda pasti yang bernama Naruto..."

Pada suara yang berwibawa dan tegas Naruto mengarahkan pandangannya pada pria tua yang bersandar pada punggung ranjang, pria tua itu kini terlihat sehat, wajahnya dipenuhi rona kehidupan, dan dia terlihat segar, pria tua itu menatap Naruto dengan lembut dan sebuah senyuman tipispun terpatri diwajahnya.

"Perkenalkan, nama saya Silvers Rayleigh, saya kepala desa didesa ini..."

And Cut~

Ya-Hallo! Kembali lagi bertemu dengan saya, Phantom!

Ini cerita baru, jangan tanya kenapa saya buat karena bagaimanapun, ide story ini muncul saat saya sedang merenung disudut rumah yang sunyi, sepi dan gelap... Alasan saya menulis Story ini dan meng-upload-nya ya, sekedar iseng aja sih~ nggak kurang nggak lebih~

Ya, itu aja sekian dari saya~ saya undur diri dulu... Ciao!?

Phantom Out

Selamat menjalankan Ibadah puasa bagi mereka yang menjalankan

Ramadhan 1440H