Tokoh-tokoh

WARNING : Karakter OOC!

Nama : Sakura Haruno

Keluarga : Ayah dan Ibu

Hobby : Menjahili Izuna

Kesukaan : Main dengan teman-teman dan makanan manis

Dibenci : Playboy

Tujuan hidup : Menyelamatkan Izuna

Kepribadian : ceria, jahil, agak pemaksa dan blak-blakan

Nama : Izuna Uchiha

Keluarga : Ibu dan ayah (berpisah)

Hobby : Menghabiskan waktu bersama Sakura

Kesukaan : Dipuji oleh Sakura dan bisa diandalkan

Dibenci : Makanan dan minuman manis

Kepribadian : Ramah senyum, pendiam, penyendiri, mudah takut, dan terlalu baik hati sehingga mudah ditipu/manfaatkan

Julukan : si terlalu baik hati

Kepribadian ganda Izuna :

Nama : Itachi

Hobby : Belajar dan manfaatin orang

Kesukaan : belajar, makanan manis dan jalan-jalan

Dibenci : Malas-malasan

Kepribadian : Wajah ramah tapi mulut berbisa, suka manfaatin orang dan egois/mementingkan diri sendiri saja

Julukan : Mr. serius, Si bisa di andalkan, manipulator, Tukang manfaatin orang

Nama : Madara

Hobby : Eksperimen di Lab ibunya (bawah tanah) dan membuat obat-obatan (terutama obat bius dll)

Kesukaan : Sakura

Dibenci : Rival

Kepribadian : Cuek kepada semua orang kecuali Sakura. Kepribadian yang paling ditakuti dan susah dk kontrol jika menyangkut Sakura. Hanya Itachi yang bisa mengatasinya tapi Itachi juga bukan tandingannya jika Madara serius. Posesif, stalker, psiko.

Julukan : Yandere, Ilmuan gila dan orang gila

Nama : Shisui

Hobby : Main cewek, nyanyi dan dance

Kepribadian : Ceria dan supel, bermut manis dan populer

Kesukaan : Populer, cewek, karaoke dan menari DDR di game center

Dibenci : sore Loser

Julukan : Playboy, hidung belang, etc

Nama : Obito

Hobby : menjahili orang dan begadang main game

Kepribadian : Pemalas dan otaku(anime, game jepang, komik) tapi suka keributan. Bipolar yang suka berubah sesuai mood. Pemalas dan menjadi enerjik.

Kesukaan : pesta, nyantai dan game

Dibenci : Sayuran

Tujuan hidup : main-main, kebebasan, nyantai

Julukan : Biang kerok, pemalas, Malam dan Siang

Nama : Sasuke

Hobby : Latihan Beladiri dan olahraga

Kepribadian : blak-blakan, suka main tenaga walau ke cewek, dingin, cuek dan pendiam.

Kesukaan : Basket, berantem,

Dibenci : Keributan, orang lemah, cowok lembek, cewek. Sakura.

Julukan : Berandalan. Si tanpa ampun. Dll.

Bab 1 : Tunangan

Sore ini adalah sore yang tenang di musim dingin, sore hari yang seperti biasa dihabiskan menghangatkan diri di kotatsu di ruang keluarga dengan seluruh anggota keluarga, kebiasaan yang sejak dulu dilakukan di rumah keluarga Haruno selama ini.

Sangat tenang, membuat siapapun terlena. Tidak terkecuali Sakura, dan dia harap ketenangan ini akan berlanjut selamanya.

Ternyata tidak.

"APA? Tunangan?!" Teriak Sakura Haruno, dua tahun kemudian setelah dia lulus dari SMA-nya di negara air, desa Kiri. Dia sangat terkejut mendengar kabar spontan di siang bolong nan tenang ini, maklum, semua orang juga pasti bereaksi seperti Sakura akan kabar mengagetkan ini. Dia memukulkan kedua tangannya di meja kotatsu.

Sementara kedua orangtuanya santai-santai saja. Ralat, mereka terlihat senang, terutama ayahnya yang kini berpose BANZAI dengan kedua tangan di atas.

"Yup, tunangan." Jawab ibu Sakura, Mebuki Haruno. Di iringi oleh suaminya yang ber-

"Hore!" Sorak suami plus ayah Sakura, Kizashi Haruno.

Loading sebentar, kemudian...

"Oh, ibu mau nikah lagi?" Tebak Sakura. Raut wajahnya kaget dan menutup mulutnya yang manganga mengatakan : 'Ternyata..!'

Tapi kasian, ayah. Di poliandri. Batinnya, su'udon.

Kesalahpahaman dan su'udonan anak semata wayangnya membuat Mebuki menjadi marah besar.

"Jangan kabur dari kenyataan! Tentu saja ibu membicarakan tentang kamu!" Mebuki menunjuk-nunjuk kening putrinya kasar.

"Ow!" Sakura mundur agar lepas dari jari telunjuk ibunya kemudian mengusap-usap dahinya. "Sakit tahu, ibu!" Cemberutnya.

"Habisnya! Makanya jangan bicara sembarangan!" Bentak ibunya, tersinggung. Dia melipat tangan di dada.

"Iya, lagipula ibumu ini cuma milik ayah." Kizashi yang juga duduk di samping istrinya, memeluk pinggang sang wanita dan membawanya ke pelukan.

"Eh?! Sayang!" Mebuki sangat terkejut atas tindakan agresif suami dan wajahnya merona. Tapi bukannya dia merasa malu di depan anak satu-satunya, dia justru merasa terpesona. Matanya berbentuk 'love love' dan berkaca-kaca. "Sayang~"

"Istriku~" Begitu juga Kizashi.

"Ah~ Ketampanan wajahmu menbuatku meleleh, sayangku~" Mebuki menempelkan tangan kanannya di dahi seperti kesilauan, kedua kakinya terasa tidak ada tenaga dan merosot jatuh.

Untung Kizashi siap sedia menampung tubuh istrinya. "Kau boleh meleleh kapanpun kau mau, istriku. Suamimu ini akan siap sedia menjagamu." Ucap Kizashi dengan ketampanan 120% di mata Mebuki. Dia menyeringai memperlihatkan gigi-gigi putihnya, gigi di bagian kanannya terlihat paling cemerlang dan bersinar dengan suara 'Cling!'.

"Suamiku~"

"Istriku~"

Kemudian dilanjutkan oleh kemesraan absurd dari pasangan suami istri Haruno dengan adegan puji-pujian, pelukan dan diakhiri dengan Kiss.

Sementara putrinya yang sudah terbiasa dengan aksi kedua orang tuanya menepi di luar ruangan membelakangi mereka.

"Hahh~ Pasti bakal lama, nih. Ke dapur aja, ah! Laper." Sakurapun pergi.

Beberapa jam kemudian..

"Sakuraaa! Sini kamu! Ibu mau ngomong!" Teriak Mebuki.

"Iya! Iya!" Sahut malas Sakura yang sedang minum setelah menyelesaikan makan siangnya yang terlambat.

"Ehem! Seperti yang tadi ibu beritahu, kau akan ibu tunangkan. Karena.." Mebuki menjelaskan panjang lebar sementara fokus Sakura melayang kepada wajah ayahnya yang duduk di sebelah ibu, di sebrang meja. Wajah ayahnya penuh dengan lipstick merah bekas ciuman.

Apa aku juga akan menjadi pasangan absurd seperti orang tuaku jika menikah nanti?

"Jadi kau akan bertunangan dengan dia.. Sakura?"

Eww! Membayangkannya saja jijay! Lagian juga merepotkan.

"SAKURA!"

"HA?! APA?!" suara keras Mebuki membuyarkan lamunan anaknya.

"Apa yang kamu lamunkan?! Ibu sedang ngomong bukannya di dengerin! Kamu ini ya! Anak yang tidak... bla bla bla bla..."

Ahh...! Omelan ibu sama mesra-mesraan dengan ayah sama saja lamanya.

Tapi kalo mesra-mesraan aku bisa kabur. Tapi kalo di omelin gak bisa. Ahh! Mana aku harus dengerin, lagi!

"Kamu denger omongan ibu, kan? Sakura!"

"Iya, bu!" Bohong Sakura.

Kalau bilang 'tidak' nanti omelan tambah panjang.

"Jadi intinya, kamu akan di tunangkan dengan teman sejak kecilmu itu. Yang imut itu loh! Bagus kan, sayang?"

"Iya, ayah sangat setuju!" sesuai kata-katanya, Kizashi sangat semangat.

"Ta-"

"Eits, Sakura! Sebelum kamu protes, ibu akan jelaskan kenapa kami menjodohkanmu!" Mebuki mengulurkan tangan kanannya untuk mencegah protesan si anak.

"Pertama.." Mebuki menutup matanya. Beberapa detik kemudian dia membuka dengan mata dengan cepat dan raut wajahnya penuh amarah. "SAKURA!" Mebuki berteriak sangat keras.

"Y-Ya, Bu?!" Sakura sudah berfirasat buruk.

"KAMU ITU! SUDAH LULUS SEKOLAH TAPI TIDAK KULIAH!" Mebuki menunjuk-nunjuk putrinya lagi. Tapi kali ini tidak menyentuhnya.

"Eh.. males belajar lagi.. Hehe." Sakura cengengesan.

"TIDAK KERJA JUGA!"

"Lagi nunggu panggilan, bu!" Sakura membenarkan.

"ALESAN!" teriakan keras Mebuki kali ini bagaikan badai, membuat Sakura terhempas.

"Ugh...!"

"KAMU DUA TAHUN PENGANGGURAN DAN TAHUN INIPUN TIDAK ADA KEMAJUAN APAPUN! TIDAK LES MAUPUN BERBAKTI DI RUMAH! KERJANYA MALAS-MALASAN, MAIN GAME DAN TIDUR SAJA! IBU DAN AYAH RUWET LIHAT KAMU! LEBIH BAIK KAMU NIKAAAAHHHH!"

"Ugh..." menatap ke lantai, Sakura berpikir. Tidak bisa dipungkiri lagi, ibunya memang benar. Selalu benar. Tapi kali ini Sakura tidak bisa berkutik, diapun merasa dirinya cuma merepotkan saja. Lagipula dia sudah besar. Dia juga punya harga diri. Sakura melirik wajah ibunya kembali.

"APA? APA KAMU MAU PROTES LAGI, HAH?!" tanya Mebuki.

Akhirnya diapun menyerah. "Eng.. Gak. Bu."

Ahhh! Pasrah saja deh!

"Jadi karena itu, lebih baik kamu menikah saja sana, Sakura! Itu solusi terbaik buat kamu!" Ibunya menyelesaikan kalimatnya.

"Iya, ayah setuju! Lagian nak Izuna anak baik sejak dulu, dia pasti bisa menjadi suami yang bisa diandalkan. Dan kamu juga harus berubah, Sakura! Jadi rajin untuk suami kamu! Jangan ngerepotin seperti di sini! Kasian, nak Izuna!" Saran ayahnya.

"Uh.. Iya, ayah."

Apa aku sepemalas itu? Sakura gak mau ngaku.

"Ya sudah, sana kamu kepak-kepak barang kamu! Mulai hari ini kamu akan tinggal dengan calon suamimu sampai seterusnya!" perintah Mebuki.

"Hah?! Apa? Kok cepet banget mutusinnya? Bagaimana dengan Izuna dan keluarganya?!" Terlalu kaget dengan perintah ibunya, sehingga membuat Sakura berdiri dari bantal kursi.

"Oh, itu? Ibu dan ayah sudah bicarakan tentang hal kepada Mikoto kemarin. Tenang saja, tentu saja keluarga Izuna setuju. Kami kan memang dekat sejak dulu. Mereka bahkan girang dengan kabar pertunangan ini." Jelas Mebuki.

"Ugh! Ibu benar-benar gerak cepat dan terencana!"

"Hohoho! Siapa dulu, ibumu!" tawa Mebuki bangga.

"Itu keluhan, bu! Masa sih bicara kemarin dan sekarang langsung pindah? Buju buset, dah!"

"Serahlah! Pokoknya cepat berkepak dan minggat dari rumah ini malam ini juga! Hush! Hush!" Mebuki mengibas-ibaskan kedua tangannya seperti mengusir kucing.

"APA?! MALAM INI JUGA?! Bagaimana bisa?! Bawaanku kan banyak!"

"Nanti nyusul saja, kau bawa barang-barang pentingmu dulu saja. Baju atau perabotan make up kek."

"Ibu kan tahu aku gak suka make up! Aku bahkan gak punya selain pelembab mulut, pencuci muka dan pemutih tubuh."

"Makanya belajar merias diri dong!"

"Ah! Males ah, aku bukan tipe cewek feminin."

"Ck! Punya putri pemalas dan tomboy, gini nih!"

"Biar, wee!" Sakura menjulurkan lidahnya dan berlari ke lantai dua, kamarnya untuk beberes.

"Itu anak masih kaya anak kecil. Kasian nak Izuna. Ibu sakit kepala." Mebuki memijat pelipis kepalanya.

Kizashi membantunya. "Gak apa, istriku. Nak Izuna pasti bisa membuat Sakura menjadi istri yang baik. Seperti kamu, sayang." Hibur Kizashi.

"Ya, kau benar, sayang."Mebuki tersenyum mendengar suaminya yang menghiburnya.

Dengan Sakura di kamarnya.

"Baju ini.. Celana ini.. rok..? Hm.." Sakura memilih-milih berbagai pakaiannya yang mau ia kenakan nanti. Tidak mungkin juga ia membawa semua pakaiannya, terlalu banyak untuk satu koper. "Lalu pencuci wajah, sikat gigi, dan.."

"Izuna ya?" gerakan tangannya berhenti ketika dia melamunkan calon suaminya. "Bukannya aku gak mau dengan dia sih.. Hanya.. Jadi canggung. Negera api jauh, sih. Menyebrangi lautan. Gak pernah ketemu lagi sama dia sejak aku pindah ke sini. Kontakan juga enggak."

"Bagaimana ya dia sekarang?" tanyanya kepada diri sendiri.

Sakura membayangkan ingatan lamanya tentang teman sejak kecilnya itu.

Izuna yang ramah. Izuna yang baik hati dan lembut. Izuna yang murah senyum. Izuna yang pemalu dan imut.

Izuna memang menggemaskan!

"Ukh...! Jadi kangen dia! Gak tahan pengen ketemu lagi! Aku senang banget, sih! Hehe!" Sakura bersorak gemas.

Sakura menatap luar jendela, ke arah langit yang mulai gelap kala magrib tiba. Seakan berdoa ke langit, dia berkata :

"Semoga Izuna masih seperti dulu, semoga dia tidak berubah."

Bersambung...