Bab 3 : Hello, guys!

Izuna berlari sekencangnya selepas tiba di Bandara Konoha dengan mengendarai kendaraan umum, angkot. Dia masuk dan kepalanya celingak-celinguk mencari sesosok gadis berambut pink, bermata hijau zambrud yang pasti mudah untuk dicari di kerumunan orang.

Sakura? Di mana dia? Pink dan hijau, pink dan hijau.. di mana ya? Panik Izuna tapi dia mencoba menenangkan diri. Tenanglah! Nanti pasti juga ketemu.

Izuna menyalip-nyalip beberapa kerumunan orang dengan berusaha semakin masuk ke dalam bangunan. Akhirnya dia melihat seorang gadis remaja duduk di kursi dengan menyilangkan kaki dan tangan, wajah imutnya kelelahan dan mulutnya cemberut masam.

Sakurakah? Izuna sedikit ragu. Tapi memang hanya gadis itu satu-satunya yang sesuai kriteria teman sejak kecilnya. Kutanyai dulu saja!

"Hoaam!" Sakura menguap lelah sekian kalinya hari ini. Ahhh.. matanya sudah tidak tahan lagi. Ia bahkan mudah masa bodoh jika ia tertidur di sini sekarang. Ia memang membenci pagi hari. Biasanya dia selalu tidur sampai siang setelah lulus dari sekolah karena tidak ada yang mengharuskannya bangun pagi, walaupun ibu selalu mengomel setiap hari, sih. Tapi Sakura sudah kebal.

Dengan mata tertutup dia mendengar suara langkah kaki di depannya, ia membuka mata dengan semangat.

"Izuna!"

"Sakura-chan?" Balas Izuna memastikan.

Balasan Izuna membuat wajah Sakura semakin berbinar semangat. "Yey!" Ia langsung bangkit dari duduk dan memeluk teman sejak kecilnya yang sudah lama tidak berjumpa, melepas kerinduan. Setelah melepaskan pelukan ia menjawab pertanyaan Izuna.

"Benar, ini aku. Sakura Haruno. Masih mengenali wajahku?" Sakura menunjuk dirinya sendiri.

Izuna tertegun melihat sosok Sakura yang bertahun-tahun tidak ia temui. Gadis telah berubah menjadi wanita. Tubuhnya telah berubab menjadi dewasa tapi wajahnya masih baby face yang ia kenali dulu.

Melihatnya membuat Izuna tersenyum lembut akan nostalgia. "Ya. Kau tidak berubah, Sakura-chan."

"Hmph! Masa sih aku masih sama seperti dulu? Aku kan pasti sudah bertambah cantik setelah bertahun-tahun!" Sakura berkacak pinggang. Padahal Sakura bukan tipe gadis bersolek, tapi ia reflek mengatakan begini untuk menjahili Izuna. Kebiasaan lama yang terkubur dulu langsung bangkit lagi dalam waktu seperkian detik di pertemuan pertama.

"Tidak, kok Sakura-chan. Kau tidak berubah sama sekali."

"Eh? Rasanya kau yang berubah kalau begitu."

"Masa?"

"Iya. Dulu kau penurut dan selalu mengiyakan apa kata-kataku, seingatku, walaupun kita kecil. Lagipula.." Sakura memperhatikan sosok dewasa Izuna dengan teliti. "Kau sekarang lebih tinggi dariku, padahal aku tidak terlalu pendek di usiaku. Gaya rambutmu beda, sedikit dipanjangkan sampai dikuncir bawah segala! Cowok itu harusnya rambut pendek! Menurutku, hehe! Tubuhmu tidak terlalu besar dan tidak kurus, seimbang dengan berotot, wow! Gak nyangka. Wajahmu juga, masih imut tapi tampan seperti dulu, juga bertambah dewasa dan berkharisma. Kau sempurna, Izuna!"

"..Kau membuatku malu dengan pujian-pujianmu, Sakura-chan. Tapi terima kasih. Kaupun terlihat dewasa sebenarnya, tapi kau masih seperti Sakura-chan di ingatanku dulu."

"Masih sama seperti waktu aku kecil, ya? Aku tidak berubah sama sekali, Izuna?"

"Tidak."

"Begitu? Selain senampilanmu, kau juga masih sama seperti waktu kita kecil, Izuna."

"Apa hanya waktu kecil yang kau ingat, Sakura-chan? Bagaimana dengan waktu SMP?"

"Waktu SMP? Ng.. Aku sudah lupa. Sudah 5 tahun, ya? Hanya ingat kenangan saat kecil, ingatanku dulu masih fresh. Sori, nanti aku ingat-ingat lagi!"

"...Begitu. Gak apa kok, jangan terlalu dipaksain."

"Hm?" Sakura teliti memperhatikan raut wajah Izuna, ia tidak melewatkan ekpresi sedih Izuna sekilas setelah ia meminta maaf sebelum kembali ditutupi oleh senyuman lembut Serasa dipaksakan.

Sakura menggenggam kedua tangan Izuna, menghiburnya. "Jika itu memang penting. Akan kucoba keras mengingatnya nanti, tenang saja, Izuna!"

"Ah..!" Raut wajah Izuna sedikit tersipu atas hiburanku. "Itu benar-benar tidak apa-apa, Sakura. Tapi.. terima kasih." Akhirnya dia tersenyum lembut dengan murni lagi. Senyumnya lebih merekah kali ini.

"Yup!" Sakura balas senyuman Izuna yany menularinya.

Ternyata dia memang sangat imut!

Izuna melihat koper Sakura dan menawarkan membawanya. Dengan senang hati Sakura menerima, ia menguap ngantuk dan mengeluh kepada Izuna ingin segera cepat-cepat tiba di rumah dan beristirahat. Izuna kembali meminta maaf yang lagi-lagi disanggah oleh Sakura. Merekapun bergegas meninggalkan Bandara Konoha.

Sakura tertidur sebentar di angkutan umum, angkot. Izuna yang memaklumi kondisi teman sejak kecilnya meminjamkan pindaknya sebagai bantal Sakura. Beberapa menit kemudian..

"Saku. Sakura! Sakura-chan!" Izuna menyenggol-nyenggol bagian tubuh samping Sakura dengan pundak yang ia pinjami sebagai bantal.

"Engh...?" Sakura terbangun dengan bingung. "Ada apa, Izuna?"

"Bangun, kita turun di sini."

"Sudah sampai? Finally!" Sakura langsung semangat.

Sakura dan Izuna turun dari angkutan umum yang dibayar Izuna. Sakura celingak-celingukan mencari rumah Izuna karena lupa dimana tempat tinggal dia dan dirinya dulu yang mantan tetangga dan tinggal di sebelah rumah Izuna.

"Mana rumahmu, Izuna? Aku sudah lupa daerah sini."

"Bukan di sini, Sakura-chan. Kita masih harus jalan dan masuk ke gang di depan kita."

"Oh? Yahh.. masih jauh?"

"Tenang aja, dekat, kok."

Merekapun berjalan kaki dengan koper Sakura masih diseret oleh Izuna. Tidak lama kemudian seperti kata Izuna, mereka tiba di depan gerbang rumah yang mereka tuju.

"Ahh! Benar ini rumah Izuna! Kangennya! Rumah lamaku juga!"

"Bagaimana rumah lamaku, Izuna? Siapa yang menempati sekarang? Orangnya seperti apa?"

"Mereka orang baik, kok. Ibu rumah tangga dan suami PNS beserta anak laki-laki mereka yang masih SD kelas 5."

"Oh..."

"Ya udah, ayo kita masuk, Izuna. Aku lelah ingin tidur!"

Sakura sangat bersemangat dan membuka gerbang rumah Izuna sendiri yang tidak terkunci karena Izuna buka untuk keluar dari rumah menjemput Sakura. Tapi Izuna hanya diam, baik gerakan tubuh dan kata-kata.

"Izuna? Ada apa?" Membuat Sakura bingung.

Izuna menghela nafas. Yah.. cepat atau lambat juga memang teman sejak kecilnya ini harus tadi kebenarannya. Masalah kesulitan hidupnya. "Sakura-chan, kau masih ingat apa hobi ibuku walaupun dia hanya sebagai IRT biasa, kan?"

"Eh? Hobi ibumu? Oh, iya! Dia punya hobi aneh membuat penemuan unik yang selalu berakhir gagal dan aneh itu, kan?! Aku ingat!" Sakura terkikik mengingatnya. Ia mengingat insiden-insiden kala beberapa kali penemuan Bibi Mikoto Uchiha selalu membuat keluarga Uchiha, keluarga Izuna kelimpungan. Bahkan dia yang selalu dekat dengan Izuna sering kena getahnya. Karena itu paman Fugaku selalu menentang hobi aneh istrinya. "Ada apa dengan itu? Apa ibumu membuat repot lagi, Izuna? Hahaha."

"...ya. Sangat repot."

"Dia masih suka berekperimen? Kali ini dia buat apa? Tenang aja, aku ada di sini, Izuna. Aku akan membantumu seperti dulu lagi!" Sakura menepuk dadanya penuh percaya diri.

"Mm.. Ini berbeda level." Izuna menaitkan kedua alisnya, ragu-ragu.

"Heh? Ada apa sih?! Kau tidak mempercayaiku? Aku tetap masih biasa diandalkan seperti dulu, Izuna!" Sakura berkacak pinggang kesal.

"Bukan begitu maksudku, Sakura-chan! Aku bukan tidak mempercayaimu." Panik Izuna.

"Lalu kenapa dong!" tuntut Sakura.

"Sudah kubilang.. Ini berbeda level. Lebih rumit." Izuna terlihat sangat gelisah.

Sakura jadi makin penasaran dan tidak sabar. "Ah! Apapun itu, penemuan bibi Mikoto selalu mudja diatasi oleh kita! Jangan terlalu banyak mikir seperti itu, Izuna!"

"Aku masuk duluan ya!" Sakura berlari masuk ke halaman rumah menuju pintu depan.

"Ah! Sakura-chan, tunggu-" Panik Izuna di belakang, berusaha mencegah tapi terlambat.

Sakura sudah memegang kenop pintu dan membukanya. "Permisi! Bibi! Paman! Lihat siapa yang datang!" sahut Sakura dengan suara lantang dan riang.

Kedatangannya disambut oleh 5 orang pria berwajah sama dengan Izuna. Keperawakan, tinggi tubuh dan segalanya kecuali gaya rambut dan pakaian. Seakan mereka mereka kembaran Izuna.

Tapi tunggu dulu, Izuna kan akan satu-satunya dari pasangan suami istri Fugaku Uchiha daan Mikoto Uchiha?

Jadi siapa mereka ber-enam ini?!

Sakura kaget dan bingung, tapi jawaban dari semua pertanyaannya hanya 'dia' yang bisa menjawab. Dia adalah...

"IZUNAAAAAAAAAAA! APA-APAAN INIIIIIIII?!" Sakura berteriak sekencang-kencangnya.

Sementara Izuna yang masih di halaman luar rumah menghela nafas letih "Sudah kuduga akan jadi begini."

BERSAMBUNG...