Fanfic ini memuat hal yang mungkin tidak sesuai ekspektasi anda, atau mungkin hal yang anda tidak suka. Jika begitu, mohon untuk tidak tinggalkan hate comment dan tekanlah tombol kembali dengan damai.

.oOo.

Harry Potter Fanfiction

»Time Dust«

Albus menggigit bibirnya, memasang wajah ragu melihat aksi salah satu sahabatnya.

Pagi yang cerah di musim panas ini, Albus mengundang Scorpius dan Valerie ke Grimlaud Place. Mereka berdua adalah sahabat sahabat Albus dari asrama yang sama, asrama Slytherin.

Selama semester musim dingin mereka di tahun ke tiga, Albus dan dua sahabatnya memiliki proyek pribadi yang ingin di kerjakan dengan tujuan pemuasan diri. Grimlaud Place sekarang kosong karena keluarganya sedang ada di The Burrow, karena itu Albus pikir mereka bisa melakukannya disini.

"Apakah sudah selesai, Scorp?" Albus mendengar suara Valerie yang bertanya dari sampingnya. Gadis berambut perak itu menurunkan buku Makhluk Mitologi Yunani dan Sejarahnya oleh Agatha Melas dari wajah Asia nya.

Scorpius mendongakkan kepala pirang nya dari kuali. "Sebentar lagi, kok. Tinggal tunggu sampai ramuan nya berubah menjadi serbuk berwarna emas, barulah kita aduk berlawanan arah jarum jam sebanyak jarak tahun yang kita ingin jelajahi dari sekarang."

Valerie mengangguk puas dan tersenyum. Dia menutup buku nya dan mulai memperhatikan Scorpius yang bekerja dengan ramuan mereka.

Albus menghela napas. "Kalian yakin ini bekerja? Bagaimana kalau kita salah? Kita bisa terjebak dalam waktu, kan?"

"Tidak akan," jawab Valerie. "Aku yakin apa yang ada di perpustakaan Chalkias Manor tidak salah. Lagipula, Rose ikut memeriksanya."

"Rose ikut memeriksanya?" Scorpius menegak, dia bertanya dengan nada tak percaya.

"Ya. Dia bilang, dia akan mencari alasan untuk bisa lepas dari ibunya supaya bisa kesini."

Albus terkekeh dengan perkataan Valerie. Yah, ibunya Rose itu memang agak extraordinary.

Rose adalah sahabat mereka yang lain, namun berada di asrama yang berbeda dari mereka, Gryffindor. Rose adalah anak dari sahabat dekat orang tua Albus. Tapi anehnya, sifat gadis berambut merah itu mirip dengan ibunya Albus. Si Miss Know-It-All.

"Lihat! Ramuan nya berubah menjadi serbuk emas!"

Seruan Scorpius membangunkan Albus dari lamunannya. Cepat cepat Albus dan Valerie bangkit dari sofa dan menghampiri Scorpius dan kualinya.

"Wah..." Valerie tampak terkagum kagum. Bubuk emas itu terlihat indah dan berkilauan di kuali. "Mirip seperti pixie dust di film Tinkerbell!"

"Yup!" Scorpius mengangguk. "Jadi, kemana kita akan pergi?"

"Aku selalu penasaran dengan apa yang Dad ceritakan tentang saat pertama kali dia memasuki Hogwarts. Bagaimana kalau ke situ?" Usul Albus.

Albus jadi mengingat cerita ayahnya ketika pertama kali dia memasuki Hogwarts. Ayahnya bilang, saat itu ayahnya masih belum tahu banyak mengenai dirinya yang dijuluki Boy-Who-Lived dan orang tuanya yang terkenal. Padahal Ibunya yang muggleborn saja tahu banyak.

"Aku juga ingin lihat Father saat pertama kali masuk Hogwarts," timpal Scorpius. "Dan juga, Grimlaud Place no 12 dimasa itu masih kosong, kan? Kita bisa menyelinap tanpa ada yang tahu."

"Brilian!" Kata Valerie dengan semangat. "29 tahun berarti 29 adukan berlawanan arah jarum jam. Ayo kita pergi ke tahun 1991!"

"Apa? Pergi ke tahun 1991!?"

Albus membeku dari kegembiraan begitu mendengar suara itu. Albus menoleh ke arah pintu dan menemukan seorang gadis kecil berambut coklat yang agak berantakan berdiri disana. Mata hijau nya menatap mereka tajam. Itu adiknya, Lily.

"Hai, Lily!" Scorpius yang pertama kali menyapa Lily dengan senyuman ceria nya. "Kau tidak di The Burrow?"

Lily menyipitkan matanya sejenak ke arah Scorpius, lalu menghela napas. "Kalian tahu tidak? Mum pernah mengatakan bahwa hal buruk terjadi pada para penyihir yang mengacaukan waktu?"

Valerie buru buru menjawab. "Kami tahu, kok! Ini hanya proyek kecil kami, dan kami janji takkan mencampuri waktu!"

"Kau bisa ikut kami untuk memastikan, Lils."

Albus menatap dalam pada manik sang adik yang serupa dengan miliknya. Lily agak menuruni sifat ini mereka, pematuh peraturan. Namun Lily lebih lembut dan pengertian.

"Baiklah," Lily akhirnya menyerah. "Aku ikut kalian."

Albus bisa merasakan lonjakan kesenangan dari Scorpius dan Valerie. Valerie bahkan menghampiri Lily dan memeluknya erat.

"Oh, Lilu! Aku benar benar mencintaimu!"

Lily bergabung dengan mereka untuk melihat Scorpius yang mengaduk kuali. Tinggal empat kali lagi putaran sebelum tiba tiba James masuk ke kamar Albus dan menutup pintunya dengan terburu buru. Scorpius menghentikan adukan nya.

"JAAMES! KELUAR KAU!"

Itu suara Rose, kelihatan sekali kalau dia sedang marah. Dan melihat James yang panik begini, Albus tau kalau James telah melakukan sesuatu pada Rose.

"Sorry, Flower! Aku benar benar tidak sengaja!" James berteriak sembari menahan pintu kamar Albus yang di gedor gedor kuat.

"Oh, James, apa yang kali ini kau perbuat?" Tanya Lily dengan nada lelah.

James menoleh singkat hanya untuk menyadari bahwa ada empat manusia lagi dj kamar ini. "Oh! Aku hanya ingin mengerjai Dominique sedikit dengan memberi Kue Meledak, tapi Domi malah memberi kuenya pada Rose. Jadilah kue itu meledak dan mengotori wajah manisnya."

Valerie dan Scorpius terkikik geli sementara Albus dan Lily geleng geleng kepala. James selalu saja berbuat masalah.

"JAMES! BUKA PINTUNYA ATAU AKU AKAN MERAPAL BOMBARDA!" Teriak Rose dari saja dengan suara yang amat mengancam.

Tapi James tidak membuka pintunya, dia malah lari dan bersembunyi di belakang Albus. "Albie, selamatkan aku dari kematian..."

Sebelum Albus sempat mengatakan apa apa, pintu telah meledak. Rose berdiri di ambang pintu dengan rambut merah berpita nya yang berkibar kibar layaknya api yang terbakar. Wajahnya semerah rambutnya, benar benar menujukkan kalau dia sedang marah.

Rose berjalan cepat cepat menuju James tanpa memperhatikan sekitar dan tanpa sadar menyenggol keras kuali Scorpius. Serbuk emas yang ada di dalam kuali tumpah dan menjangkau semua kaki yang ada di ruangan.

"Oh, tidak! Kualinya!" Valerie berteriak, membuat mereka semua menoleh ke arah kuali.

Scorpius memasang wajah horor. "Semua saling berpegangan! Cepat atau kita akan terpisah!"

"A-apa yang—"

Tapi sebelum Rose menyelesaikan kalimatnya, James dan Lily telah lebih dulu menyambar tangannya. Dan kemudian, cahaya keemasan menelan mereka semua.

.oOo.

Harry Potter, The Boy Who Lived, atau yang saat ini Daily Prophet juluki sebagai Pembohong dan Pencari Perhatian, saat ini tengah menikmati liburan musim panas di rumah ayah baptis nya, Grimlaud Place no 12. Harry tengah bermain Exploding Snap bersama Ron dan Hermione yang membaca buku ketika mereka mendengar suara teriakan dari lantai tiga. Mereka sedang ada di lantai dua sekarang, sedangkan Orde Phoenix sedang mengadakan rapat di lantai satu, tepatnya di ruang makan.

"Kalian dengar itu?" Tanya Ron kepada Harry dan Hermione.

Hermione mengangguk. "Suara itu berasal dari lantai atas. Aneh sekali."

"Ayo kita periksa." Ajak Harry.

Harry, Ron dan Hermione keluar dari ruangan mereka dan menuju ruangan dimana suara teriakan berasal. Semakin mereka mendekat, semakin jelas mereka mendengar beberapa orang tengah berbicara.

"Astaga, itu tadi apa?"

"Ugh, aku mual. Di buku tidak di jelaskan akan ada efek seperti ini."

"Oh, tidak. Serbuknya... bukunya..."

"Sekarang bagaimana kita bisa kembali?"

"Ini semua salahmu!"

"Hah? Aku? Tapi kau yang menyenggol kuali nya!"

Harry ternganga melihat serombongan remaja dengan kepala warna warni terengah berargumen di kamar bernuansa hijau dan perak. Harry langsung mengarahkan tongkatnya pada mereka, begitupula dengan Ron dan Hermione.

"Siapa kalian?" Pertanyaan Harry langsung berhasil mengalihkan perhatian mereka berenam. Mereka semua tampak memucat melihat kehadiran Harry dan kedua sahabatnya.

Harry mendengar salah satu dari mereka bergumam, "oh, tidak..."

Suara langkah langkah kaki memasuki pendengaran Harry. Fred, George, Ginny dan beberapa anggota Orde Phoenix datang. Disana ada Snape juga, profesor Hogwarts yang sangat membenci Harry.

Para anggota Orde langsung sigap mengarahkan tongkat mereka kepada enam remaja itu. Tiga anak laki laki di sana mengangkat tangan.

"Penyusup!" Moody menggeram ke arah mereka. "Siapa kalian? Bagaimana kalian bisa masuk ke sini?"

Mereka tampak panik, lalu mendorong salah satu anak laki laki berambut coklat acak acakan dan agak mirip dengan Harry. Anak laki laki itu sepertinya yang paling tua diantara mereka.

"Ka-kami..." dia menatap Harry dan para Orde dengan ragu. "Kami... datang dengan damai..."

Anak perempuan berambut merah ber pita langsung memukul lengan anak laki laki itu. Dia menghadap Orde, "kami datang dari masa depan, dan kami terjebak sekarang."

"Rose! Hal mengerikan terjadi pada—"

"Aku tau, Lils," gadis itu memotong dengan tenang. "Tapi kita terjebak sekarang, dan kita perlu bantuan mereka untuk kembali."

"Dari masa depan? Permainan konyol macam apa lagi ini?" Snape berkata dengan tajam.

"Kami memang dari masa depan," balas satu anak laki laki yang perawakannya mirip sekali dengan Harry, bahkan matanya juga. "Kau pikir kami mau terjebak disini, saat dimana Voldemort—" semua orang berjengit, tapi dia tak peduli dan tetap melanjutkan. "—ada sedangkan di masa kami semua damai dan tentram? Hanya orang gila yang melakukannya."

Semua orang diam atas pernyataan itu. Anak itu benar, siapa yang mau ada di masa masa mengerikan seperti ini?

"Buktikan," ucap Kingsley. "Buktikan kalau kalian dari masa depan."

"Kau akan jadi menteri sihir beberapa tahun lagi," ucap anak laki laki yang mirip sekali dengan Draco Malfoy. "Father bilang padaku begitu."

"Ya, ya! Dad juga pernah cerita," kata anak laki laki berambut acak acakan. "Dan di masa kami, Mu— maksudku Hermione Granger yang menjabat sebagai Menteri Sihir."

Semua orang—kecuali Snape dan Dumbledore— menoleh ke arah Kingsley dan Hermione yang merona.

"Bloody hell, Hermione. Kau jadi menteri." Ron bergumam.

Si kembar terkekeh. "Tipe Hermione kita sekali kan, George?" Tanya Fred.

George mengangguk. "Sangat, George."

"Bagaimana kami tau kalau itu benar?" Sirius bertanya dengan nada defensif. "Kalian bisa saja mengarangnya."

"Kau bisa beri veritaserum kepada James!" Ucap anak perempuan berambut coklat. "Profesor Dumbledore atau profesor Snape juga bisa me-legilimens nya."

"Hey! Kenapa aku terus, sih?" Anak laki laki berambut acak acakan— yang Harry tau namanya James— memprotes.

"Itu karena kau yang paling tua, James. Kau harusnya melindungi kami."

"Aku khawatir itu tidak bisa dilakukan, anak anak." Profesor Dumbledore berbicara, mata biru elektrik nya menatap para 'penyusup'. "Kalian terlihat masih di bawah umur dan itu adalah tindakan ilegal untuk dilakukan."

"Kalian sedang dalam perang, profesor," ucap gadis berambut perak dengan lembut. "Tidak perlu pikirkan mana yang legal dan ilegal hanya untuk keselamatan kalian."

Keheningan tercipta sejenak diantara mereka semua. Profesor Dumbledore menatap Snape dan mengangguk pelan, Snape lalu pergi meninggalkan ruangan entah kemana.

"Bagaimana kalau kita diskusikan ini sembari makan malam? Tidak keberatan, Molly?" Ucap Profesor Dumbledore.

"Oh, ya! Tentu saja, tentu." Mrs. Weasley pergi ke bawah diikuti Tonks dan beberapa anggota Orde. Keenam tamu di persilakan lebih dulu, sementara Harry dan yang lain mengikuti dari belakang.

Saat hampir sampai di depan pintu ruang makan, mr. Weasley menghentikan mereka.

"Kalian mau kemana?"

"Kedalam tentu saja," ucap Ron dengan wajah bingung nya. "Kami juga kan perlu makan malam."

"Kau tidak akan melarang kami ikut sementara kami sudah tahu tentang mereka kan, Dad?" Tanya Ginny.

Mr. Weasley tampak bingung harus berkata apa. Wajahnya tampak ingin sekali membantah mereka semua.

"Kau tidak bisa melarang kami, Dad!" Ucap Fred menggebu.

"Ya! Mereka dari masa depan! Dan tidakkah kau sadar, Dad? Gadis kecil itu punya rambut merah Weasley," George menunjuk ke arah anak perempuan berambut merah yang memakai pita warna putih.

"Dan bukan hanya itu Mr. Weasley," Hermione untuk pertama kalinya ikut membantu mendukung argumen. "Salah satu dari tiga anak perempuan itu memiliki rambut dan fitur wajah sepertiku. Dan dua anak laki laki itu..."

Hermione melirik Harry, dan Harry sadar apa maksud dari sahabatnya itu. Dua dari tiga anak laki laki disana mirip sekali dengan Harry, hanya saja tanpa kacamata.

"Kau tidak bisa menahan kami dari generasi kami sendiri, Dad." Ron berucap, yang untuk pertama kalinya selama di sini dengan nada serius.

Mr. Weasley yang terpojokkan akhirnya menyerah. "Baiklah, baik! Kalian ikut."

Dan Harry tidak bohong bila ia merasa gugup.