Harry Potter, The Boy Who Lived Twice, The Choosen One, The Saviour, The Head of Auror, saat ini tengah menjalani quality time bersama keluarganya di The Burrow. Meski keluarga Weasley tak memiliki hubungan darah sama sekali dengannya maupun Hermione, tapi ikatan persahabatan yang kuat dengan Ron Weasley membawa Harry dan istrinya kedalam lingkaran keluarga Weasley.

The Burrow tengah merayakan pesta keberhasilan Victoire menjadi Healer trainee di St. Mungo. Ada mr dan mrs Weasley, Bill dan Charlie yang sedang bermain dengan anak anak di halaman, lalu ada Fleur yang tengah membuat makan siang bersama Lavender dan Angelina, Ginny dan Hermione yang menata piring di meja makan, lalu ada Ron, Dean, Harry dan George sendiri yang memperhatikan mereka.

"Hari ini Rose menjadi sensitive sekali," kata lavender, memulai percakapan. "Dia terus saja membicarakan tentang OWL sepanjang musim panas. Dia kan baru akan tahun ke empat, ya ampun..."

"Bukankah itu hal yang bagus?" Sahut Hermione, tertarik dengan topik yang Lavender bicarakan. "Maksudku, dia telah memikirkan OWL sejak sekarang, bukankah itu artinya dia benar benar serius dalam belajar?"

"Persis seperti dirimu dulu, Hermione," kata Angelina.

"Kalian yakin anak kalian tidak tertukar?" Kata Fleur. "Maksudku, sifat Rose lebih mirip Hermione dari pada Ron."

Ron menggerutu. "Memangnya kalian tidak ingat? Hermione kan pernah mengutukku."

"Ah, aku ingat itu!" Ginny berseru. "Hermione pernah mengutuk Ron kalau dia punya anak perempuan, anak itu akan jadi nona sok tahu seperti Hermione."

"Dan setelah itu aku hamil," kata Lavender. Semua orang tertawa sementara Ron semakin masam.

"Tapi aku tahu satu sifat Lavender yang Rose bawa," ucap Harry. "James selalu mengeluh tentang Rose yang telah dipengaruhi teman Albus untuk menyukai artis muggle dari Korea daripada dia. James bilang Rose bahkan setiap hari selalu membicarakan artis artis muggle itu dengan Lily dan teman Albus. Juga baru baru ini... Seanna."

"Anakku? Ikut bergosip!?" Ginny terlihat risih dengan fakta bahwa anaknya ikut terbawa.

"Jadi itu sebabnya Seanna sekarang sering berkutat dengan laptop nya?" Dean menepuk dahi.

Suara berisik dari luar ruang makan menarik perhatian semua orang. Louis dan Fred muncul di ambang pintu dengan rusuh.

"Siaga merah semua!" Teriak Fred dengan dramatis.

George mendekatinya dengan terburu buru. "Ada apa, nak? Apa produk Hadiah Dompet Menggigit ku tidak berfungsi?"

"George!?"

"Tenang saja, Dad, dompet itu baru saja menggigit Lucy."

"Fred!?"

"Astaga, itu tidak penting!" Louis menyela. "Yang terpenting sekarang adalah hidup James sedang di ujung tanduk! Rose yang terbakar mengejarnya sampai Grimlaud Place!"

Harry langsung mengerang. "Apalagi yang dia perbuat kali ini?"

Hermione terkekeh, dia mengelus lembut tangan Harry. "Lebih baik kau cepat, love. Kau tidak ingin rumah kita runtuh karena Rose yang mengamuk, kan?"

"Baiklah, baiklah." Harry bangkit dari duduknya. "Ayo, Ron!"

"Aku?" Rom bertanya, menunjuk wajahnya sendiri.

"Tentu saja! Kau ayahnya, kan?"

Ron mengeluh keras keras, namun tetap pergi setelah diusir oleh Lavender. Mereka berdua pergi ke Grimlaud Place menggunakan jaringan Floo.

Saat Harry sampai, keheningan lah yang menatapnya pertama kali. Ini aneh. Biasanya kalau Rose sedang meledak ledak, suara teriakannya dapat didengar sampai satu kilometer jauhnya. Tapi ini...

"Perasaanku saja, atau memang rumah ini terlalu hening?" Tanya Ron, saat sampai di Grimlaud Place. "Bukankah harusnya ada lebih dari dua orang disini?"

"Ya, harusnya ada enam orang di rumah ini. Albus mengundang Scorpius dan Valerie. Lalu tadi Lily bilang ingin mengambil buku untuk ditunjukkan pada Seanna. Ditambah Rose yang mengejar James sampai sini." Jelas Harry. Dia mulai memindai seluruh ruangan. "James! Lily! ALBUS!?"

Tidak ada sahutan. Rumah itu benar benar hening.

"Aku cek ke atas, kau cek ke halaman belakang, Ron." Harry mengomando. Ron hanya mengangguk, lalu pergi ke halaman belakang Grimlaud Place.

Harry naik ke atas tangga untuk mengecek lantai dua, dimana perpustakaan dan ruang bermain yang biasa dipakai anak anak berada. Tak ada siapa siapa disana.

Ketika berada di lantai tiga, barulah Harry melihat jejak sepatu di lantai yang menuju ke arah kamar Albus yang terbuka sedikit.

"Albus?" Harry membuka kamar anak keduanya itu, tidak ada tanda tanda anak anak disana.

Harry baru akan pergi ketika dia akhirnya melihat satu kuali tergeletak dengan bubuk bubuk berwarna emas tumpah dari dalamnya. Harry mendekat, lalu melihat buku seperti jurnal tua yang tergeletak di dekat kuali. Jurnal itu terbuka dan menunjukkan halaman yang memuat sesuatu hal yang membuat Harry sakit kepala.

SERBUK WAKTUPERCOBAAN KE 203HASIL: BERHASILBAHAN BAHAN:...

"Oh, astaga... apa yang telah anak anak itu lakukan..."

.

.

.oOo.

.

.

Hermione mengobservasi sekeliling nya dengan seksama.

Setelah berita mengenai anak tadi adalah anaknya Harry, mrs. Weasley mengiterupsi acara interogasi para anak anak masa depan dengan hidangan makan malam. Snape pamit undur diri, tapi sebelum itu memorinya tentang anak anak dan masa depan dihapus oleh profesor Dumbledore. Begitupula dengan Mad Eye Moody, Kingsley Shacklebolt, dan juga kakaknya Ron—Bill Weasley. Alasannya adalah karena resiko yang ada akan semakin besar bila informasi tentang masa depan dibawa keluar dari Grimlaud Place.

Hermione menatap anak anak dari masa depan satu persatu.

Dari ujung sebelah kiri, anaknya Harry yang tadi memperkenalkan diri dengan nama Albus duduk. Dia seperti karbon kopi dari Harry sendiri, sangat mirip. Apalagi mata hijau emerald dan rambut hitam berantakan itu. Meski Albus tidak pakai kacamata.

Disebelah kanan Albus ada gadis kecil berwajah asia yang memiliki rambut perak keriting dan mengaku sebagai keturunan dari keluarga Chalkias, keluarga darah murni tua yang berasal dari Yunani. Manik mata nya berwarna amber terang yang terlihat memukau. Gadis itu sepertinya teman dekat Albus, mengingat interaksi mereka yang sangat dekat. Atau mungkin malah mereka pacaran?

Disamping gadis perak itu ada anak laki laki yang wujudnya seperti karbon kopi dari Draco Malfoy. Bahkan Hermione yakin kalau anak itu memang memiliki hubungan dengan Malfoy. Tapi syukurnya anak itu terlihat sangat baik dan sopan, dia terlihat dekat dengan Albus dan gadis perak itu.

Selanjutnya ada anak perempuan yang kelihatannya paling muda diantara mereka. Gadis kecil itu yang memiliki rupa mirip dengan Hermione. Alisnya, bentuk wajahnya, dan rambut coklat seperti semak (namun lebih jinak) yang mirip dengan Hermione. Tapi manik mata itu, manik mata emerald yang sangat Hermione kenali dan hanya satu orang yang memilikinya. Hermione jadi merinding.

Selanjutnya adalah anak laki laki lain yang juga memiliki rupa sama seperti Harry. Dia yang tertua, memiliki rambut acak acakan namun dengan warna coklat dan manik mata coklat yang sama seperti Hermione (sekali lagi, itu membuatnya merinding). Anak itu terus mengganggu anak perempuan di sebelah kanannya.

Dan di ujung sebelah kanan, anak perempuan berambut merah yang mengenakan pita berwarna putih duduk. Anak perempuan itu Hermione yakini sebagai keturunan Weasley, itu pasti. Bentuk wajahnya mengingatkan Hermione akan seseorang, tapi Hermione lupa siapa. Yang jelas orang itu sering Hermione lihat.

"Nah, mengingat kami belum tahu masing masing dari kalian, bisa kalian memperkenalkan diri?" Kata profesor Lupin. Ah—maksudnya Remus. Hermione masih belum terbiasa dengan ini.

"Well, kalau begitu aku yang pertama mulai," kata anak laki laki dengan rambut coklat acak acakan. "Namaku James Sirius Potter, kapten Quidditch Gryffindor yang menjadi Chaser paling keren se-Hogwarts juga pro dalam Transfigurasi. Akan berada di tahun keenam saat kami masuk sekolah nanti. Jika kami berhasil kembali."

Hermione diam, merasa ngeri. James jelas jelas anak Harry, tapi sifat percaya diri itu sama sekali asing bagi Hermione.

"Sirius? Kau serius?" Sirius bertanya dengan senyuman antusias.

"Tut tut tut," James menggeleng dramatis. "Aku James, kau yang Sirius. Kau tidak menjadi pikun karena usia, kan, Grandad?"

"Definitly James!" Teriak Sirius. Pria itu lalu berjalan ke arah James dan memeluknya erat, James membalasnya. "Apakah kau memiliki gen prankster?"

"Tentu saja!" Jawab James bangga, seakan pertanyaan Sirius adalah 'apakah kau punya 12 OWL dengan nilai Outstanding semua?'.

"Wah, generasi prankster baru!" Fred dan George bergabung dalam eforia kesenangan itu.

Remus, mrs dan mr. Weasley melihat adegan itu dengan gelengan kepala, tak habis pikir dengan sifat kekanakan mereka. Ginny, Ron dan Harry terkekeh geli. Tapi anehnya, para anak anak masa depan melihat adegan ini dengan senyum lemah dan juga sorot mata sendu. Kenapa?

"Kau Potter, jadi kau juga anaknya Harry?" Tanya Ron, menginterupsi mereka.

James mengalihkan atensi nya pada Ron. "Itu benar! Aku adalah anak pertama Potter, dan paling extraordinary. Albus yang kedua, dan gadis cantik disampingku ini adalah si bungsu."

James merangkul pundak gadis kecil yang duduk di sebelah kirinya. Gadis kecil yang memiliki rupa seperti Hermione namun dengan mata yang berbeda. Oh, astaga, ini tidak benar, kan?

Hermione dapat merasakan tatapan aneh dari Remus, mr dan mrs. Weasley yang mengarah padanya.

"Namaku Lily Luna Potter, menuju tahun ke dua di Hogwarts kalau kami tidak terjebak disini. Senang bertemu kalian semua." Dia tersenyum, dan matanya berkilat senang. Hal itu menciptakan kesan anak manis yang ingin sekali Hermione peluk erat. Mrs. Weasley bahkan memekik, "manisnya!"

Sirius sekali lagi berteriak senang. "Lily!"

"Luna?" Ginny berkerut bingung.

"Kenapa, Gin?" Tanya Hermione, ikut bingung melihat Ginny.

"Tidak, aku hanya ingat tentang temanku dari asrama Ravenclaw, namanya Luna Lovegood."

"Oh, dia adalah ibu baptis ku!" Lily berseru.

Harry mengerutkan keningnya. "Tapi dia siapa? Aku tak pernah mengenalnya."

"Kau tentu tidak kenal dia," kata Albus dengan nada santai. "Kalian baru akan bertemu pertama kali saat kau mulai di tahun ke lima, Dad."

Harry mengangguk. Tapi Hermione melihat pipinya sedikit memerah karena dipanggil 'Dad' oleh Albus.

"Jadi, kalian bertiga adalah anaknya Harry," Sirius berkata dengan nada jahil. "Tapi siapa ibunya?"

Hermione memiliki perasaan tidak enak.

"Coba lihat baik baik ke arah Lily, maka kalian akan menemukan jawabannya. Lily adalah yang paling mirip dengan Mum." Kata James, kembali merangkul Lily.

Hermione belum selesai mengobservasi masing masing ekspresi mereka ketika mrs. Weasley datang memeluk Hermione dengan erat. "Oh, dear! Selamat kau punya tiga anak yang luar biasa!"

Dalam pelukan mrs. Weasley, Hermione dapat melihat kalau George memberi Fred beberapa keping galleon.

.

.

.oOo.

Terima kasih Gerry O Donut untuk review nya!Disini udah udah setengah penjelasan ya kenapa Albus manggil Ginny itu 'aunty'.Sebelumnya aku udah peringatkan kalo fanfic ini bakal memuat beberapa hal yang mungkin buat kalian gak nyaman atau pingin menghujat. Sorry untuk kalian yang gak suka sama pairing nya...