Aku membuka mata saat ku rasa sinar matahari menembus kelopak mataku.

Ugh, ini sudah pagi. Jam berapa ini? Bisa bisa aku telat ke sekolah lagi nantinya. Ah, aku juga lupa mengerjakan PR Kimia! Bagaimana ini!?

Cepat cepat aku bangun dari tempat tidur ku yang entah mengapa terasa mengecil. Iya, mengecil! Aneh sekali, kan?

Aku menoleh ke sekeliling untuk mendapati suatu hal yang berbeda dari biasanya. Bukannya menemukan dinding hijau berlapis poster Boygroup Korea EXO dan juga satu lemari penuh action figure Naruto, aku malah mendapati dinding bersih serba putih yang sangat asing buatku. Ini jelas bukan kamarku, karena kamarku pasti akan beraroma jeruk dan bukannya... obat? Ini seperti rumah sakit.

Aku segera terbangun dari pikiranku ketika suara pintu yang terbuka terdengar. Aku menoleh dan terkejut mendapati kakek tua berdandan ala... Sandaime Hokage(?) dan pria yang berdandan sebagai... Iruka Sensei(?) datang menghampiriku.

Apa apaan!? Apa ini prank atau semacamnya!?

"Kau sudah bangun, Naruto?" 'Iruka' mendekatiku dan bertanya dengan nada terkesan khawatir. "Apa kau baik baik saja? Ada yang sakit? Kenapa kau diam saja?"

Kau tanya kenapa aku diam? Tentu saja karena aku sedang mencerna semua yang terjadi dihadapan ku! Kenapa juga dia memanggilku Naruto!? Naruto itu kan laki laki, dan demi Tuhan aku ini perempuan!

"Naruto?" Kali ini 'Sandaime' yang bersuara. Dia juga tampak khawatir seperti 'Iruka'. "Kau ingat siapa kami?"

Siapa? Kalau tokoh tokoh yang mereka perankan tentu saja aku ingat. Tapi sosok asli mereka? Zonk. Sebenarnya kenapa juga mereka cosplay begitu!?

"Memangnya kalian siapa?"

Ekspresi mereka saat aku mengeluarkan tiga kata itu benar benar tak terduga. Mereka shock berat, seperti melihat Kakashi yang terus terusan berteriak "masa muda harus dilewati dengan semangat api yang membara".

"S-sandaime - sama, tolong katakan kalau dia hanya bercanda." 'Iruka' tampak sulit untuk berkata kata. Dia melihat ke arah 'sandaime' dengan wajah yang sangat berharap.

'Sandaime' menghela napas. "Aku sudah duga hal ini akan terjadi. Butuh waktu sampai semua ingatannya dapat kembali."

Huh? Ingatan?

"Oh, Tuhan. Ini semua karena Mizuki! Bukan hanya gender yang dia ubah, tapi ingatannya pun dihilangkan!"

Mizuki? Seperti pernah dengar. Tapi dimana, ya? Dan 'gender yang diubah'? Maksudnya apa?

Aku terbangun kembali dari lamunan saat merasa ada tangan yang menepuk lembut kepalaku. Itu tangan 'sandaime'. Dia tersenyum hangat lalu berkata, "ku sarankan kau untuk siap siap, Naruto. Kau pastinya tidak ingin ketinggalan hari dimana kau akan mendapat tim Genin mu."

Huh? Tim Genin? Bukankah mereka terlalu mendalami peran hanya untuk sebuah lelucon?

'Sandaime' dan 'Iruka' baru akan pergi ketika satu pertanyaanku menghentikan mereka. "Kenapa kalian semua memanggilku Naruto?"

"Karena namamu adalah Naruto. Uzumaki Naruto." Setelah mengatakan itu, 'sandaime' menutup pintu.

Ugh, kenapa perasaanku jadi tidak enak begini, ya?

Aku menoleh ke samping dan mendapati sebuah paper bag juga nampan berisi sarapan diatas nakas disamping tempat tidur. Isi paper bag itu adalah jaket orange legendaris milik Naruto, celana orange, kaus putih dengan simbol api, dan lengkap dengan pakaian dalam anak perempuan. Oke, itu memalukan.

Karena aku tak begitu suka dengan pakaian rumah sakit, jadi kuputuskan untuk berganti dengan pakaian itu saja. Sekalian mandi tentunya.

Saat melewati cermin, aku terkejut. Bukan warna hitam yang lewat, melainkan warna kuning keemasan. Dan ketika aku menghadap cermin, aku hampir terkena serangan jantung.

Hilang sudah rambut hitam acak acakan seperti surai singa milikku, berganti dengan rambut kuning keemasan yang agak keriting. Mata coklat gelap yang biasa menatap balik dari cermin, berganti dengan biru langit cerah yang cantik. Pipi chubby yang sama, namun dengan tiga kumis di masing masing nya.

Ini wajah Naruto, Naruto versi perempuan. Tapi... bagaimana bisa? Mimpi kah?

Aku mencubit keras pipi Naruto (atau yang harus kusebut pipiku?), dan AWW! Itu sakit! Dan itu tandanya... ini nyata? Aku masuk kedalam tubuh Naruto versi perempuan...?

Dan kemudian aku berteriak. Sampai aku yakin seluruh desa bisa mendengar teriakanku.