Kalian bertanya tentang rencana?

Sebenarnya, aku belum tahu apa yang harus aku lakukan. Interfere? Heuh, aku ini hanya anak kecil sekarang, yang ada aku akan langsung mati ditempat melawan Orochimaru dan dua zombie Hokage. Satu-satunya pilihan berlogika adalah dengan membuat Jiraiya tinggal sampai final ujian. Tapi bagaimana caranya?

Memanipulasi emosi, kupikir...

Aku melompat dari satu atap ke atap yang lain, langit dengan awan yang berarak mengikuti setiap langkahku. Ketika tinggal beberapa atap lagi menuju gedung Hokage, aku berhenti.

Ini adalah rencana yang ingin sekali aku lakukan semenjak aku memproses kenyataan bahwa aku adalah Uzumaki Naruto. Rencana untuk meminta penjelasan mengapa identitas orang tua ku dirahasiakan dariku sendiri. Itu benar-benar menggerogotiku. Tapi aku selalu menahan karena, yeah, buat apa? Tidak ada gunanya juga dihidupku.

Tapi sekarang aku akan memanfaatkan informasi ini supaya rencanaku berjalan.

Dari awal, aku mulai mengumpulkan hal-hal tentang Minato dan Kushina yang dapat dihubungkan padaku. Sejarah Uzumaki, informasi tentang Uzumaki mana saja yang pernah tinggal di Konoha, foto Minato yang ku robek dari buku perpustakaan, bahkan bingo book lama yang ku pinjam tanpa sepengetahuan Kakashi. Dan tadi malam, aku mulai membuat teori yang cukup meyakinkan (semoga saja).

Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan, memantapkan hati untuk melakukan ini.

"Hey, Sandaime-jiji," aku menyapa dari jendela terbuka yang ada disampingnya.

Sandaime menoleh dari tumpukan dokumen yang menggunung diatas mejanya. Senyuman muncul di bibirnya begitu melihatku, layaknya seorang kakek yang melihat cucunya. Ku kira memang begitulah Sandaime melihat Naruto, kan?

"Apa yang membuatmu mengunjungi ku pagi-pagi begini, Naruto-chan?" Tanya nya.

Aku memasuki kantornya dan berdiri dihadapan meja kayu itu, berusaha untuk memasang wajah se-blank mungkin, dan menjawab. "Aku ingin berbicara denganmu, secara privat."

Untuk sesaat, Sandaime menatap lurus ke mataku. Tanpa sadar aku berpikir kemungkinan dia bisa melihat ke pikiranku langsung dan hampir menghindari matanya. Lalu detik berikutnya aku sadar bahwa ini dunia ninja dan bukannya dunia sihir, dan itu artinya tidak ada Legilimens disini. Jadi aku tetap memaksa untuk menatap langsung matanya.

"Baiklah," katanya, melambaikan tangan pada entah siapapun itu untuk memberi privasi. "Apa yang ingin kau bicarakan?"

Dan disinilah rencanaku dimulai.

"Semenjak Mizuki mengatakan bahwa Yondaime lah yang telah menyegel Kyūbi dalam diriku, aku terus bertanya-tanya, kenapa aku? Apa karena aku yatim piatu, makanya aku menjadi kandidat yang pas? Tapi tentu Yondaime tidak sejahat itu, kan?" Aku berhenti sejenak, membiarkan teori pertama untuk meresap. Bukan untuk Sandaime, tetapi untuk diriku sendiri. Karena ini agak kejam, mengucap kalimat menyakitkan padahal aku sudah tahu dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi.

"Aku memulai riset, untuk mencari tahu alasan mengapa status jinchūriki diberikan kepadaku. Aku mencari tahu semua tentang klan ku terlebih dahulu. Ternyata, klan ku adalah klan yang unggul dalam segel. Tapi hanya dengan menggunakan alasan bahwa aku adalah Uzumaki tidaklah cukup kuat, kan? Meski aku adalah satu-satunya yang tersisa di Konoha setelah perang dunia shinobi ke 2." Oke, oke. Tarik napas, hembuskan, ulangi. Aku bisa melakukan ini. "Lalu aku bertanya-tanya, kenapa ayah dan ibuku mau menyerahkanku untuk dijadikan wadah Kyūbi? Apa mereka sebegitu tidak maunya untuk menyimpanku, makanya mereka tanpa segan memberikanku? Sejak itu fokusku berubah. Aku ingin tahu siapa mereka, orang-orang yang telah menyerahkanku untuk dijadikan penjara bagi kyūbi.

"Aku tahu kau selalu mengatakan bahwa dengan mengetahui siapa mereka, itu tidak akan membuat mereka hidup kembali. Tapi aku ingin tahu, dan aku punya segala hak untuk mengetahuinya. Hak itu seharusnya tidak bisa dirampas dariku," sejenak, aku dapat melihat tatapan penuh rasa bersalah di wajah penuh keriput milik Sandaime. "Aku mulai mencari setiap Uzumaki yang pernah hidup di Konoha, dan sejauh ini hanya ada dua yang bisa ku temukan. Uzumaki Mito dan Uzumaki Kushina.

"Uzumaki Mito adalah istri dari Shodaime Hokage, jadi otomatis itu langsung keluar dari daftarku. Jadi aku memulai pencarian informasi mengenai Uzumaki Kushina." Aku benar-benar melakukannya, apalagi semenjak aku membangkitkan kekkei genkai itu. Dan demi Tuhan, susah sekali hanya untuk mencarinya. Aku bahkan hampir ingin menerobos masuk ke fasilitas tempat dimana informasi registrasi Ninja berada. "Aku menemukannya, di Bingo Book lama milik 'Kashi-sensei. Bloody Habanero, mereka menjulukinya. Dia adalah Kunoichi yang hebat, dan memiliki Rantai Chakra sama sepertiku. Meski tak memiliki bukti, aku tahu wanita hebat ini adalah ibuku. Tapi bukan hanya itu saja yang menarik perhatianku."

Aku mengambil Bingo book milik Kakashi yang ku pinjam tanpa memberitahu dari sakuku. Aku membuka halaman yang menunjukkan informasi tentang Kushina dan menunjukkannya kehadapan Sandaime. "Disini tertulis bahwa dia memiliki hubungan dengan seseorang bernama Namikaze Minato, si Yellow Flash, Yondaime Hokage, sebagai istrinya."

Sekarang mataku memanas, dan dadaku terasa sesak. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku dapat merasakan bahwa sebentar lagi akan ada air mata di tengah percakapan ini.

"Tapi tentu itu tidak mungkin, kan? Tidak mungkin orang yang menyegel makhluk ini adalah ayahku, kan? Tapi sebanyak apapun aku menyangkalnya, sekeras apapun aku menghindarinya, aku tidak bisa mengubah kenyataan tentang orang tua ku. Apalagi setelah Teuchi-jiji mengkonfirmasi bahwa, ya, wanita berambut merah itu adalah istri dari Yondaime." Suara yang mencurigakannya seperti isakan keluar dari bibirku. Apa aku terlalu mendalami peran? Aku yakin aku tidak mengikutsertakan air mata kedalam rencana ini.

Oke, oke. Lebih baik kita lanjutkan dulu.

"Dan kemudian satu hal memukulku. Oh, aku anaknya Yondaime, pantas saja tidak ada kandidat lain yang lebih cocok daripada aku, anaknya sendiri. Karena Yondaime tidak sejahat itu untuk mengorbankan anak orang lain, kan? Jadi, yeah, wow. Aku sekarang tahu alasan dibalik mengapa akulah yang dijadikan jinchūrīkī." Dan datanglah grand final nya. "Tapi satu hal yang sangat ingin ku pertanyakaan adalah, kenapa. kau. merahasiakan. identitas. orang tua. ku?"

Sekarang aku menatap tajam ke arah Sandaime, setajam-tajamnya silet. Menggambarkan semua emosi pada wajah basah karena air mata ini sembari melakukannya.

Sandaime menghela napas, dan kemudian menjawab. "Apa yang dilakukan itu untuk keselamatanmu sendiri. Minato memiliki banyak sekali musuh setelah performa nya di Perang Dunia Shinobi ke-3. Kushina selalu diincar dikarenakan Kekkei Genkai langka Uzumaki yang berhasil dia bangkitkan. Kau seorang Jinchūrīkī, Naruto-chan. Jika musuh tahu bahwa kau juga merupakan anak dari dua orang hebat itu, maka kau akan menjadi sasaran empuk yang selalu diincar."

Aku mendengus keras-keras. Well, itu persis seperti yang ku duga. "Kau tetap bisa memberitahu ku, tahu! Itu tidak seperti aku akan langsung berlari mengelilingi dunia sambil berteriak 'hey! Aku anaknya Yondaime Hokage, si Yellow Flash dan si Bloody Habanero!'. Yada, yada, yada. Aku tidak sebodoh itu, dan itu sama sekali tidak bersetetika."

"Aku tahu, kau baru saja membuktikannya kepadaku," Sandaime berkata dengan nada lembut. Dia lalu merentangkan tangannya kearah ku. "Kemarilah."

Aku tidak berpikir, dan hanya pergi ke pelukannya. Pelukan hangat seorang kakek yang sama sekali tak pernah ku dapat di kehidupanku dulu karena Ayah dari kedua orang tuaku sudah pergi sebelum aku sempat lahir kedunia. Mungkin inilah yang saat ini kubutuhkan, pelukan penenang tanda semua akan baik baik saja.

"Maafkan aku, Naruto-chan. Kau benar, kau punya hak untuk mengetahui tentang orang tua mu dan tak seharusnya hak itu dirampas darimu." Kata Sandaime, sembari mengelus puncak kepalaku dengan lembut. "Sepertinya aku sudah terlalu tua untuk posisi ini."

"Kau bisa berikan posisi ini untukku," balasku ringan. "Atau kau bisa berikan kepada 'Kashi-sensei terlebih dahulu untuk menunggu aku dewasa."

"Kau pikir dia mau?"

"Jika kau iming-imingi dengan sepaket buku series terkutuk bernama Icha-icha? Mungkin saja."

"Patut untuk dicoba,"

Yeah, definitely worth it.

.oOo.

Kunai

, cek. Shuriken, cek. Alat fūinjutsu, cek. Segel Peledak, cek. Segek Pembeku, cek. Segel Lumpur Hisap, cek. Obat-obatan, cek. Makanan untuk tiga orang selama seminggu, cek. Selimut ekstra, cek. Kurasa sudah semua.

Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, dan aku sudah mempersiapkan bekal untuk ujian Chūnin. Sejujurnya aku hanya ingat samar-samar mengenai ujian ini. Aku hanya ingat bahwa Orochimaru akan menyusup untuk menyiapkan invasi bersama desa Suna, dan menggigit Sasuke dalam proses...

Oh!

Oh.

Shit. Aku lupa.

Bagaimana ini bagaimana ini bagaimana ini bagaimana!?

Kabur, kabur, kabur. Itu kuncinya. Melihat ada tanda-tanda ular, segera lari. Tapi bagaimana aku meyakinkan dua teman keras kepala ku!? Sial, sial, sial!

"Mau sampai kapan kau melamun, Vixen?"

Aku tersentak, menoleh ke arah jendela dan mendapati Sasuke tengah duduk di kusennya. Seriously? Ada apa dengan Ninja dan jendela? Tapi tunggu, ada hal yang berbeda dari si Duckbutt. Apa...

"Kau memakai pakaian misi baru!?" Aku melongo. Wow.

Sasuke muncul dengan menggunakan kaus turtle neck hitam yang lengannya digulung sampai siku dan celana selutut sama hitamnya. Lambang klan Uchiha tergambar di kedua lengan atasnya. Sebuah strap putih menyilang dari bahu kanan ke sisi kiri dada nya, tempat dimana sebuah Kodachi nya bertengger (dia memutuskan untuk mengganti dari Wakizashi ke Kodachi karena terlalu pendek).

Aku melongo bukan karena terkesan atau apa. Aku hanya tidak percaya dia malah menambah kesan 'gloomy' dalam gaya berpakaiannya.

"Tidak usah sok kaget, kau juga melakukannya," dia mengedikkan kepalanya kearahku.

Memang benar apa yang dikatakannya, aku juga mengganti pakaianku untuk Ujian Chūnin kali ini. Sebuah jaket oranye tanpa lengan yang bagian kerah, sisi resleting, dan karet di ujung jaket nya berwarna hitam. Aku juga memakai celana pendek warna hitam, dan sarung tangan fingerless. Oke, sepertinya Sasuke berhasil menularkan sedikit gloomy nya kepadaku.

"Yea, yea, memang benar sekali, Duckbutt," aku melambaikan tangan didepan wajahku. "Kau sudah menyiapkan semuanya, kan?"

"Ada digulungan," jawabnya. "Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu?"

Aku mengerutkan dahi mendengar pertanyaannya. "Sesuatu apa?"

"Kau ragu saat Kakashi memberikan formulir pendaftaran ujian Chūnin, tapi kau tetap menjawab 'ya' untuk Sakura," ucapnya dengan serius. "Kenapa kau ragu?"

Aku menyegel semua persiapan ku di satu gulungan, sebelum duduk di tempat tidurku, menghadap Sasuke yang sekarang melipat kedua tangannya didepan dada.

"Ujian Chūnin ini adalah tingkatan yang lebih tinggi lagi, kau tahu," aku berkata, memulai penjelasan. "Aku tahu kemampuan kita telah meningkat semenjak kita lulus, tapi apa itu cukup? Yang mengikuti ujian ini bukan hanya dari dalam Konoha saja, tapi dari berbagai desa lainnya. Dan jangan lupakan angka kematian yang tinggi di dalam ujian ini.

"Aku bukannya tidak percaya pada kemampuan tim atau apa. Tapi ku pikir, jika kita telah menjejakkan kaki di level iki, maka kita akan memasukki dunia yang lebih luas lagi. Karena itu kita harus memikirkan ini matang-matang."

"Bukannya itu bagus?" Aku menaikkan alisku pada pertanyaan itu. "Dengab menjejakkan kaki ke dunia yang lebih luas, bukannya itu berarti kita selangkah lebih dekat menuju tujuan kita? Menjadi Sanin generasi kedua?"

Aku hampir saja mengeluarkan tawa pahit. Ya, selangkah lebih dekat dimana kau pergi ke Orochimaru, menjadi lebih obsesif terhadap kekuatan untuk balas dendam, lalu kau menyesal dan menyalahkan Konoha, menjadi buronan seluruh negeri, lalu ingin menjadi Hokage untuk menghancurkan dunia. Hebat sekali.

"Yea, mungkin kau benar." Aku mengambil gulungan ku dan memasukkannya kedalam kantung Shuriken ku.

"Kau masih ragu," kata Sasuke.

"Memang,"

"Katakan padaku, apa yang harus ku lakukan untuk membuatmu tak ragu lagi?"

Aku hampir tersandung mendengar pertanyaan dengan nada serius itu. "Kau serius? Kau akan melakukannya?"

"Ya,"

Aku menatap lurus ke arah mata onyx nya. "Jika ada ular raksasa, atau orang aneh yang punya aura seperti ular, kau harus segera lari menjauh sejauh-jauhnya. Apa kau bisa melakukannya?"

"Hanya itu?" Aku mengangguk. "Baiklah."

"Yang benar?"

"Meski permintaanmu tak masuk akal sama sekali, aku akan melakukannya," kata 'untukmu' terasa menggantung di udara. Dan mau tak mau aku tersentuh karenanya.

"Terima kasih," aku berkata dengan pelan. Aku tahu tidak seharusnya aku langsung merasa lega dengan kalimatnya. Tapi setidaknya aku tahu kalau dia ingin mencoba. Sasuke mau melakukan hal yang baginya tak masuk akal, untukku.

Aww... perasaan hangat ini...

"Kenapa kalian saling menatap dalam begitu?" Dan tentu saja, Sakura harus merusak momen lembut ku bersama Sasuke. "Apa aku harus khawatir punya pesaing baru?"

Aku memang dapat merasakan nada bercanda dalam kalimatnya, tapi tentu saja itu membuatku memutar bola mataku. "Jangan khawatir. Aku sudah punya orang yang ku suka."

Sasuke menatapku datar. "Kau tahu kau tidak punya kesempatan dengan Kakashi, kan?"

"Hey!" Aku berteriak, merasa tersinggung. "Jangan patahkan semangat orang seperti itu! Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi beberapa tahun kedepan!"

"Kau benar, Naru, tak ada yang tahu apa yang akan terjadi beberapa tahun kedepan." Aku mengangguk-angguk mendengar persetujuan Sakura. "Mungkin kau akan menyukai orang lain, Shikamaru misalnya, dan menikahinya. Atau kau akan jatuh cinta pada orang diluar desa, seperti Haku, dan mengikutinya keluar desa. Siapa yang tahu."

Aku merasa ngeri dengan perkataan Sakura. Aku tahu itu memang benar, tapi kenapa dia harus menyebutkan nama Shikamaru sebagai perumpamaan nya? Dan Haku juga? Aku melempar tatapan tajam kearah Sakura.

"Apa kita serius akan mendiskusikan kehidupan cinta si Vixen sekarang?" Sasuke menginterupsi. "Ada ujian Chūnin yang sedang menunggu kita saat ini."

"Kau benar!"

Urusan cinta ku bisa menunggu kapan-kapan. Sekarang saat nya untuk menghadapi dunia yang lebih brutal untuk ditaklukan.

"Ayo berangkat!"

Chūnin Exam, here we go!

.oOo.

Here's the double!

dwii05: Sebenernya, masalah itu udah aku pikirin semenjak aku nulis chapter pertama. Tapi seiring waktu aku lupa, dan itu mempengaruhi karakter SI!Naruto disini, alias dia juga ikut lupa. Kita liat nanti ya apa yang bakal aku buat jadi trigger nya.

Yaahoo: aww, thanks dari Sakura untukmu! Aku awalnya gak merencanakan perubahan yang kayak gini, lho. Tapi akhirnya aku lakuin juga. Dan untuk Sasuke, kita tunggu gimana jalan pikirannya nanti yaa...

Saint102: awww, thank you very much... Yes I agree, Naruto-chan is really cute and I wish I could bite him (or her?)

KuroNeko2909: makasih yaa, ini update nya untuk mu ;)

Makasih ya untuk kalian yang udah sabar nunggu ceritaku. Love n hugs from vallo 3