Chapter 19. Pulang

.

Turun dari mobil, mereka bertiga—Hikaru, Sai, dan Gen'an-sensei—melintasi gerbang besar berwarna abu-abu yang memisahkan jalanan dari pekarangan kuil, sementara sang supir pergi mencari tempat parkir. Mereka sampai pada tengah hari, ketika kuil sedang sepi-sepinya. Matahari memang sedang terik saat itu, tapi untungnya panasnya agak teredam oleh deretan tudung pohon pinus yang menaungi daerah sekitarnya. Nostalgia sepertinya membasuh Sai, karena ia mulai berkali-kali menyeka wajahnya yang basah dengan ujung lengan haori yang ia kenakan.

Luasnya pekarangan Byodo-in mungkin masih tak seberapa dibandingkan dengan Izumo-taisha, atau begitu menurut Hikaru, ketika mereka menyusuri lorong yang dipagari deretan pinus menuju area Kuil Utama. Melewati gerbang perunggu yang membatasi area tersebut, mereka langsung disambut oleh bangunan Aula Pemujaan alias Haiden, dengan atapnya yang bagaikan sepasang sayap gagak terentang menantang langit. Berdasarkan hasil browsing Hikaru semalam lewat ponselnya, bangunan ini menjadi primadona Izumo-taisha, berkat keberadaan seutas tali jerami maha-besar yang disebut shimenawa, tergantung melintang dari ujung satu pilar ke pilar lain. Gen'an-sensei mengatakan bahwa Haiden itu merupakan bangunan baru yang didirikan oleh keluarga Senge, salah satu cabang klan Izumo yang kini menjadi pengurus Izumo-taisha. Di belakang Haiden terletak Aula Utama alias Honden, tempat bersemayamnya patung Kami yang dipuja di kuil itu. Kompleks bangunan tersebut pertama kali dibangun pada era Heian akhir, tepatnya sekitar 47 tahun sebelum kelahiran Sai, dan sejak itu sudah berkali-kali dipugar walau tetap mempertahankan bentuk aslinya. Bangunan itu dahulu dikatakan sebagai kuil tertinggi di Jepang, bahkan mengalahkan Todaiji di Nara. Gaya arsitekturnya yang khas—yang disebut sebagai taisha-zukuri, ditandai oleh bentuk rumah panggung, serta keberadaan atap dari kulit kayu yang dihiasi dengan deretan kayu horizontal di puncaknya (katsuogi) dan sepasang kayu mencuat bak tanduk di kedua ujungnya (chigi)—dikatakan sebagai ciri arsitektur asli Shinto sebelum kedatangan agama Buddha di Jepang. Di museum dekat sini, demikian kata Gen'an-sensei, terdapat miniatur bangunan asli Honden yang dibangun pada masa Heian, jadi kalau mereka mau, mereka bisa berjalan-jalan ke sana sekalian napak tilas.

Gen'an-sensei memimpin mereka berdua melintasi halaman untuk menyucikan diri di temizuya, lantas menuju Haiden untuk menghaturkan sembah. Selepas itu, mereka mengitari Haiden untuk pergi ke tujuan berikutnya. Hikaru berpikir mereka akan menuju Aula Utama alias Honden, yang terletak tepat di belakang Haiden. Tapi rupanya perkiraannya salah, karena alih-alih pergi ke sana, Gen'an-sensei justru melintasi pekarangan Kuil Utama dan menuju area lain yang tidak terbuka untuk umum.

Seorang pria paruh baya ditemani seorang pemuda menyambut mereka segera begitu mereka memasuki gerbang di hadapan sebuah bangunan yang sepertinya adalah tempat tinggal keluarga pengurus kuil. Mereka tidak mengenakan kariginu sebagai atribut pendeta Shinto, tapi melihat pakaian berupa kosode putih dan hakama ungu yang mereka kenakan, kelihatannya keduanya adalah shinshoku alias pendeta di kuil ini. Gen'an-sensei langsung menghampiri mereka dan memberi salam, sehingga ini juga menjadi kode bagi Hikaru dan Sai untuk mengikuti contohnya. Dari interaksi di antara mereka, kelihatannya Gen'an-sensei dan kedua pria itu saling kenal.

Setelah rangkaian selamat datang dan pertanyaan bagaimana perjalanan mereka dan sejenisnya, barulah Gen'an-sensei berpaling padanya untuk memperkenalkan mereka.

"Seperti yang saya ceritakan lewat telepon, hari ini saya ditemani Fujiwara no Sai-sama dan muridnya, Shindou Hikaru Honinbou."

Terus terang Hikaru agak mengerung mendengar gelar 'Honinbou' yang dilekatkan padanya. Apakah itu berarti Honinbou yang baru belum ditentukan, atau Akira entah bagaimana berhasil memaksa Ki-In untuk menangguhkan pertandingan perebutan gelar demi menunggu ia kembali? Jika benar demikian, betapa bodohnya! Tapi ia tak berkata apa-apa dan menghormat.

"Nah, Shindou-sensei, Sai-sama, ini adalah Senge Takamasa, guji di kuil ini, dan Senge Kunimaro, putranya yang sekaligus juga menjadi gonguji. Keluarga Senge secara turun-temurun adalah kannushi di Izumo-taisha ini," tambahnya, mungkin menyadari bahwa sebanyak apapun Hikaru melakukan riset, ia selalu ketinggalan hal-hal penting.

"Selamat datang, Fujiwara-sama, Shindou-sensei," dari caranya menyebutkan nama Sai terlebih dahulu, sepertinya Gen'an-sensei memang sudah menceritakan perkara Sai pada mereka berdua. "Kami sudah menunggu Anda berdua. Mari, silakan ke arah sini."

Mereka melintasi pekarangan dan memasuki bangunan kediaman kepala kuil, lantas menuju ruang duduk. Tak lama setelah duduk di alas yang sudah disediakan, seorang miko datang untuk membawakan teh, dan segera undur diri tanpa menunggu diperintahkan.

"Seperti yang telah saya sampaikan," Gen'an-sensei membuka pembicaraan, "kedatangan kami kemari adalah untuk berziarah ke makam ibunda Sai-sama."

"Ah ya, kami sudah mendengar cerita mengenai Fujiwara-sama," balas Senge-sensei. "Anda adalah putra Fujiwara no Takaie, semasa beliau menjadi Izumo gon no kami, apa benar?" ia bertanya. Di titik ini Hikaru tak perlu mempertanyakan bagaimana masalah ini ditanggapi dengan begitu santai, seolah suatu hal yang biasa bahwa seseorang yang mengaku-ngaku hidup seribu tahun lalu mendadak muncul dalam wujud nyata di hadapan mereka. Kedua orang ini, bagaimanapun, adalah kannushi. Mungkin apa yang menurut orang biasa tidak lazim dan bisa dibilang mencurigakan adalah hal wajar bagi mereka.

Dihadapkan pada pertanyaan seperti itu, Sai langsung menghaturkan sembah dan bicara hormat, bahkan lebih hormat ketimbang pada siapapun juga yang pernah Hikaru lihat. "Sungguh demikian adanya, wahai Izumo no kuni no miyatsuko, Senge no mikoto," ucapnya yang dibalas oleh keterpanaan Hikaru dan dering tawa sang guji.

"Ini sudah bukan era Heian, dan keluarga kami tak lagi menyandang status sebagai keturunan dewa, jadi Anda tak perlu memanggil saya begitu."

Sai kelihatan bingung, namun kendati mengangkat tubuh dari sembahnya, ia tak berani mengangkat kepala. Hikaru bisa menangkap ia melirik sekilas meminta arahan, tapi untuk hal ini juga sesungguhnya Hikaru tak banyak bisa membantu.

"Kami telah berusaha mengecek data mengenai Izumo kokuso, shinshoku, miko, dan kuge di Izumo pada masa akhir Heian. Sayangnya, dengan minimnya data yang Anda berikan, hingga kini kami masih belum menemukan titik terang. Mungkin jika Anda bisa menyebutkan nama keluarga Anda, atau jabatan kakek Anda, kami akan sangat terbantu."

"Mohon ampuni kekurangtahuan hamba, sayangnya semua yang hamba tahu telah hamba sampaikan, o Guji-sama," jawab Sai. "Hamba tak hendak menyusahkan Okimi untuk menelusuri galur keluarga hamba atau mencari dengan tepat letak makam ibunda hamba. Andaikata hamba diperkenankan untuk berziarah dan mempersembahkan doa, rasanya itu pun sudah lebih dari apa yang dapat hamba harapkan. Takkan cukup kiranya rasa terima kasih hamba di kehidupan ini."

Kedua pendeta itu saling berpandangan mendengar sembah Sai, seakan saling bertukar percakapan dalam diam. Setelah itu, sang guji bicara dengan suaranya yang hangat, "Kalau begitu, nanti sore kita melangsungkan ritual di Honden. Jika Anda mau, kita bisa pergi berziarah ke pemakaman di dekat sini. Sementara itu, Anda berdua dapat beristirahat. Putraku Kunimaro akan menunjukkan jalan."

Itu juga berarti adalah kode bagi Hikaru dan Sai untuk meninggalkan tempat, sekaligus juga meninggalkan Gen'an-sensei hanya berdua dengan sang guji. Entah apa yang akan mereka bicarakan, sudah pasti ini urusan Sai. Hikaru hanya berharap mereka tak mulai merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuan dirinya.

Dipandu oleh sang wakil kepala kuil, mereka menyusuri lorong beranda menuju kamar yang sudah disiapkan. Koper mereka sudah ada di sana, beserta juga dua lembar futon yang tergelar di atas lantai. Hikaru tak biasanya tidur siang, tapi kali itu ia sangat lelah. Mungkin hanya sedikit merebahkan diri tak masalah, pikirnya, setelah itu ia akan mengajak Sai menjelajahi kuil. Izumo-taisha adalah salah satu kuil Shinto terbesar sekaligus tertua kedua di Jepang, pasti banyak hal menarik yang harus mereka lihat. Kalau tak salah, di sini mereka bisa melihat patung Penciptaan Dunia dan museum yang menyimpan struktur Honden asli dari era Heian beserta berbagai peralatan upacara dari zaman Nara dan lain sebagainya.

Tapi kantuk melanda Hikaru, dan sebelum ia sadari benar-benar, ia jatuh tertidur.

.


.

Ketika bangun, disadarinya Sai tidak ada di sisinya—atau di manapun di ruangan itu. Dengan panik, Hikaru bangkit dan mencari, membuka semua pintu, mengecek beranda, menyusuri halaman, semuanya.

Batin Hikaru langsung kalut bukan alang kepalang, demi mengigat ucapan Gen'an-sensei waktu itu. Izumo adalah kampung halaman Sai, kan? Sai belum cerita soal ini dan ini termasuk bagian yang tabu diucapkan, tapi ada (besar) kemungkinan Sai ingin pulang sebelum ia mendapat bencana itu, seribu tahun lalu. Bagaimana jika membawanya ke sini berarti menggenapi keinginannya sebelum meninggal, dan itu berarti menyempurnakannya sehingga ia bisa kembali ke Nirwana? Bagaimana jika Sai benar-benar lenyap kali ini?

Mendadak, kedua kakinya terasa lemas dalam kesadaran itu. Kejadian enam tahun lalu, tatkala ia tertidur dan Sai lenyap begitu saja, masih begitu segar dalam ingatan. Oh Kami, tolong katakan ini tidak benar! Ia baru mendapatkan kembali Sai, tolong jangan rebut Sai darinya!

Ia nyaris jatuh terpuruk di salah satu sudut halaman ketika didengarnya langkah kaki dan suara yang begitu dikenalnya dari lorong. Dengan penuh harap, ia bangkit dan bergegas menuju asal suara.

"Sai!" Tak terperi kelegaan yang membasuhnya, demi mendapati asal suara itu. Segera saja ia menyongsong sang guru, yang rupanya tengah berbincang dengan seorang pendeta. "Ke mana saja kau? Aku mencarimu, tahu!"

"Ah, maaf, Hikaru," ujar Sai. "Hamba melihat Hikaru begitu kelelahan, sehingga hamba tak tega membangunkan. Hamba baru saja berjalan-jalan mengitari kuil, Kunimaro-sama berbaik hati mengantar hamba melihat-lihat."

Baru Hikaru menyadari siapa yang bersama Sai, tak lain tak bukan adalah sang putra kepala kuil. Saat itu juga ia sadar bahwa Sai tak lagi mengenakan kimono panjang dengan haori yang ia pakai ke sini, melainkan kosode putih dengan hakama biru muda.

"Ah Sai, baju siapa itu?" tak tahan, ia bertanya.

"Oh, ini?" Sai menjembreng hakamanya. "Hamba dipinjami oleh Kunimaro-sama. Kimono hamba kotor, jadi tadi hamba harus bersalin untuk berdoa di Honden," terangnya. "Apa Hikaru tidak memperkenankan? Jikalau demikian halnya, hamba akan..."

Cepat Hikaru menggeleng. "Ah tidak, kau ... um," ia sedikit mengalihkan pandangan ke sisi, "cocok pakai warna itu..."

Suaranya terdengar aneh bahkan oleh telinganya sendiri, dan sekilas, ditangkapnya wajah Sai agak merona dibuatnya. Waktu terasa bergerak begitu lambat dengan adanya keduanya diselimuti kebekuan, sebelum tiba-toba terdengar deheman pelan dari sebelah mereka.

"Uhm, saya rasa sebaiknya saya pamit dulu, Sai-sama, Shindou-sensei..."

"Ah, tidak!" tahan Sai cepat. "Kunimaro-sama, bukankah Okimi tadi berkata hendak memperlihatkan pada hamba ... um ... apa itu sebutannya ... 'reppurika' Honden?"

"Replika struktur bangunan asli dari era Heian?"

"Benar, itu yang dikatakan Guji-sama."

"Ah," sang gonguji melirik ke arah Hikaru. Rasanya itu bisa menunggu..."

"Hikaru juga pasti ingin melihatnya, bukan?" Sai berpaling padanya. "Bagaimana kalau kita langsung ke sana?"

Ditembak seperti itu, tak ada alasan bagi Hikaru untuk tak mengiyakan. Mengambil geta yang terparkir rapi di rak kayu dekat beranda, ia pun mengikuti Sai dan sang gonguji untuk berjalan-jalan.

"Maaf jika kami mengganggu, Senge-sensei," Hikaru berbasa-basi. "Jika Anda ada suatu keperluan..."

"Tidak apa-apa," pendeta muda itu mengibas. "Saya memang sudah ditugaskan oleh Ayah untuk menemani Anda berdua. Omong-omong Anda tak perlu memanggil saya Sensei, Shindou-sensei. Saya yakin usia kita tidak terlalu terpaut jauh?"

Hikaru agak mengernyit. Sesungguhnya ia ingin menanyakan usia sang pendeta, atau minimal tahun kelahirannya. Tapi karena ia tahu itu tidak sopan (Akira selalu mengkritiknya soal ini), jadi ia pun tutup mulut.

"Kalau begitu ... Senge-san?"

"Begitu lebih baik, Shindou-san."

Hikaru mengangguk dan tersenyum. Kalau dari wajah dan penampilan, kelihatannya memang orang di hadapannya lebih tua sekitar 10 tahun-an ketimbang dirinya, tapi berhubung ia sendiri yang minta, rasanya tak apa-apa membuang tata krama yang ketat. Belakangan ia selalu bicara dengan gaya formal hingga rasanya ia kehilangan jatidirinya.

Senge Kunimaro mengajak mereka berdua melintasi halaman, menuju bangunan yang katanya sekarang berfungsi sebagai museum. Berbagai barang terpajang dalam etalase kaca di dinding, sebagian malah jauh lebih tua daripada barang-barang yang Hikaru lihat di Byodo-in. Wajar, sebenarnya, jika mendengar penjelasan Senge-san mengenai latar belakang dan sejarah Izumo-taisha.

"Shindou-san, aku ingin bertanya padamu, soal Sai-sama," ujar sang gonguji, ketika mereka sudah memasuki museum dan Sai berada sekitar sepuluh meter jauhnya dari mereka berdua, asyik memperhatikan pecahan-pecahan tembikar berukir yang katanya merupakan hasil ekskavasi dari daerah setempat.

Biar kata sudah menduga hal seperti itu akan hadir cepat atau lambat, mau tak mau dada Hikaru berhenti berdegup sejenak. "Jika ini mengenai kebenaran cerita Sai, aku berani bersumpah..."

"Tidak, tidak, aku—uhm, kami—percaya asal-usul beliau benar adanya. Bagaimanapun, Gen'an-osho sendiri yang mengatakannya, dan sebagai pendeta, kami sendiri memiliki kepekaan terhadap hal tersebut. Kami bisa mengonfirmasi kebenaran mengenai Sai-sama. Tapi sayangnya, tidak demikian halnya dengan pengakuannya bahwa ia tidak mengetahui siapa leluhurnya dari pihak ibu."

"Maksudnya?"

"Kami sudah berdiskusi soal ini. Menurut Sai-sama, ibunya dulu adalah miko, sedangkan kakeknya hanyalah pejabat kecil. Namun, kudengar dari Gen'an-sensei, Sai-sama bercerita bahwa pamannya adalah kannushi di Izumo-taisha, apa benar?"

Cerita Sai mengenai keluarganya di Izumo diceritakan sambil lalu, Hikaru terlalu terfokus pada bagian hubungaan Sai dengan ayahnya dan pertikaiannya dengan Michinaga, ditambah lagi sudah nyaris dua bulan semenjak saat itu, sehingga Hikaru lupa-lupa ingat mengenai bagian itu. Tapi ia mengangguk.

"Para perempuan yang menjadi miko di Izumo-taisha berasal dari berbagai latar belakang, meski biasanya berkaitan dengan keluarga inti atau keluarga yang secara turun-temurun mengabdi di sini," jelas sang pendeta. "Namun tidak demikian halnya dengan kannushi. Di kuil lain, khususnya di masa kini, kannushi bisa berasal dari latar belakang apapun, asalkan ia telah menempuh ujian di Jinja Honchou. Tapi kuil ini adalah pengecualian. Para kannushi di sini berasal dari satu garis keturunan, dan jabatan guji hanya diwariskan pada anak pertama, kecuali jika sang guji sebelumnya tidak punya anak, sehingga jabatan tersebut diwariskan kepada keponakan, kerabat terdekat, atau anak angkat. Kami memiliki catatan yang sangat rapi dan akurat mengenai pohon silsilah keluarga kami."

Rasanya Hikaru tahu ke mana ini menuju. Tak bisa menahan diri, ia menyela, "Apa maksudmu ... kau tahu siapa keluarga Sai?"

Sang pendeta tak langsung menjawab. Ia mengalihkan perhatiannya ke arah Sai, kelihatannya berusaha menilai apakah sang mantan bangsawan itu mendengarnya. Melihat Sai tampak sibuk mengamati entah-apa di etalase seberang sekitar duabelas meter dari tempatnya berdiri, ia melanjutkan dengan suara pelan.

"Tidak mengenai ibunya, sayangnya, catatan mengenai miko atau anggota keluarga perempuan kurang jelas pada masa itu, terkecuali jika ia menikahi seseorang yang berkuasa. Tetapi aku memiliki tebakan mengenai siapa paman Sai-sama, jika menyilangkan antara daftar kannushi pada akhir era Heian dengan cerita Sai-sama. Namanya adalah Izumo no Kamatari, putra Izumo no Akatsuki. Ayahnya adalah putra kedua, sehingga awalnya ia hanyalah seorang hafuribe alias kannushi kelas menengah. Namun ketika putra pamannya yang seharusnya mewarisi kuil, Izumo no Akechi, meninggal tanpa meninggalkan pewaris lain, ia pun mengambil alih jabatan guji pada awal milenium kedua. Setelah itu, garis keturunan Izumo no Kamatari terus berjalan tanpa terputus, sebelum pecah menjadi keluarga Senge dan Takajima pada 1340."

Otak Hikaru serasa mulai berasap mendengarkan penuturan itu. Tapi dari semuanya, yang bisa ia tangkap adalah ... "Maksudmu ... ibu Sai adalah ... bagian dari keluarga inti di klan Izumo?"

"Benar," angguk sang pendeta. "Lagipula, miko tidak biasanya masih tinggal di kuil jika ia sudah menikah atau memiliki anak. Mereka biasanya pulang ke keluarganya atau pergi ke keluarga suaminya. Alasan Sai-sama tinggal di kuil ini semasa kecil, pastilah karena ia memiliki hubungan sangat dekat dengan pihak administrator kuil pada masa itu."

"Apa Sai tahu hal ini?"

"Aku tidak tahu. Tapi seandainya ia tahu, kurasa wajar jika ia menyembunyikannya."

"Menyembunyikan? Untuk apa?"

Menyandarkan dirinya di tembok dan melipat tangannya di depan dada dengan gaya kasual, alih-alih menjawab, sang pendeta justru bertanya, "Shindou-san, apa kau tahu latar belakang klan Izumo?"

"Eh? Ah..."

Jujur saja Hikaru tidak tahu sama sekali. Setidaknya ia tahu bahwa Izumo bukan cuma nama daerah, tapi juga disematkan pada nama keluarga yang menjadi penguasa daerah tersebut, yang usianya mungkin lebih tua dari keluarga Fujiwara, tapi pengetahuannya cukup sampai di situ. Nilai Sejarah Jepangnya mungkin bagus waktu SMP dulu, tapi itu gara-gara Sai, dan pengetahuannya soal itu pun sudah menguap dalam sekian tahun terakhir ketika di pikirannya cuma ada go dan go.

Mungkin melihat Hikaru agak panik mendapatkan kuis dadakan begitu, sang pendeta muda itu berbelas kasih dan mulai menjelaskan, "Klan Izumo mungkin adalah klan tertua di Jepang, mengingat kuil ini bahkan lebih tua dari Kuil Agung Ise di Uji. Leluhur kami menyatakan diri mereka sebagai keturunan dari Okuninushi, putra kedua Amaterasu o mikami, sehingga klan Izumo adalah satu dari shinbetsu, alias klan yang menyatakan dirinya sebagai keturunan dewa. Izumo pernah menjadi pusat pemerintahan seluruh kepulauan, dan pernah juga menjadi daerah independen sebelum ekspansi Yamato. Pada periode Kofun, klan Izumo adalah satu dari o-uji, dan kepala keluarga kami sekaligus juga menjadi kepala kuil dan kepala pemerintahan provinsi yang bergelar o-omi. Kami mungkin tidak punya banyak pengaruh dalam pemerintahan, dan sejak era Heian, terlebih pada era Bakufu, pemerintahan administratif provinsi dipegang oleh gubernur yang ditunjuk oleh pemerintah pusat. Tapi pada masa Heian, klan kami masih memiliki status penting khususnya dalam keagamaan."

Mungkin melihat Hikaru agak melongo, antara berusaha mencerna monolog itu dan berusaha menerka apa pentingnya sejarah panjang itu dalam kasus Sai, Senge-san melanjutkan, kali ini langsung pada sasaran.

"Maksudku adalah Sai-sama kemungkinan tidak ingin mengakui ini ... bisa jadi karena ia merasa malu."

"Hah?"

Malu? Mengapa ia harus merasa malu?

Seakan mengetahui kebingungan Hikaru sekaligus juga keraguan untuk mengutarakan apa yang ada di benaknya, ia melanjutkan, "Dari apa yang bisa kusimpulkan dari apa yang disampaikan Gen'an-sensei, Sai-sama adalah semacam pion kakeknya untuk mendapatkan kembali kedudukan di ibukota, mungkin juga untuk mengembalikan pengaruh klan Izumo di pemerintahan. Hubungan sang ibu dengan Takaie, kurasa, tak hanya sekadar lahir dari cinta semata, melainkan semacam plot yang diatur sang kakek untuk tujuan tersebut. Namun rencana itu tak berhasil, karena hingga akhir pun, ibu Sai-sama tidak jua diakui sebagai istri sah. Setahuku, istri sah pertama Takaie adalah seorang wanita dari klan Minamoto, yang merupakan kerabat dekat dari Kaisar sendiri, dan baru dinikahinya setelah ia kembali dari pengasingan. Sai-sama tentunya berusaha keras untuk menggenapi keinginan kakeknya, namun ia malah mendapatkan musibah itu. Aku tidak heran jika ia merasa telah gagal, dan rendah diri untuk mengakui hubungannya dengan klan ini. Bagaimanapun, memiliki anak di luar pernikahan bagi seorang miko adalah sebuah aib, terlebih jika perempuan yang bersangkutan memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan kepala kuil, jadi kurasa Sai-sama tidak ingin mengakui hal ini agar tidak menodai nama baik ibu dan pamannya."

Aneh, tapi mau tak mau Hikaru mengakui bahwa hal itu masuk akal. Dengan hati teriris, ia mengalihkan pandangannya menatap punggung Sai, yang kini sudah beralih dari replika Honden menuju etalase berikutnya, yang kelihatannya berisi genta antik.

Ketika ia mengembalikan perhatiannya ke sang pendeta, dilihatnya orang di hadapannya itu tengah memperhatikannya dengan mata agak membelalak dan mulut setengah terbuka. Bahkan ada kerutan kecil di antara kedua matanya, yang membuat Hikaru tak nyaman.

"Ah, Senge-san, ada apa?" mendadak merasa sadar diri, Hikaru mengusap-ngusap pipi dan mulutnya. Apa ada bekas air liur di wajahnya?

"Shindou-san, kau..."

Ada nada aneh dalam suaranya yang membuat Hikaru awas dan menurunkan tangannya. Tapi bukannya melanjutkan, sang pendeta justru mengerjap dan menggeleng pelan.

"Eh, tidak... Uh, maaf...," ia tampak tersenyum, meskipun kelihatan benar agak terpaksa. "Um, intinya aku mau bilang bahwa jika asumsiku benar, Sai-sama tak lain adalah leluhur kami," ujarnya, "jadi adalah kewajiban kami untuk membantunya. Jika ada yang kalian butuhkan, jangan sungkan untuk mengatakannya padaku."

Pemuda itu kembali menyunggingkan senyum, sebelum pamit dan mendekati Sai. Hikaru bisa melihat mereka berbincang sembari berjalan ke etalase selanjutnya, sesekali Senge-san menunjuk beberapa benda, kelihatannya memberi penjelasan. Hikaru tak pelak menyadari betapa akrabnya mereka, dan betapa nyamannya Sai berada di dekatnya. Oh, bahkan sesekali ia mengangkat tangan menutupi separuh wajahnya, yang Hikaru tahu adalah untuk menyembunyikan tawanya.

Perasaan aneh menggeliat di perut Hikaru. Sai tak pernah tertawa seperti itu di hadapannya, tidak lagi semenjak ia kembali. Jangan kata versi tertawa lepas seperti dulu semasa ia menjadi hantu, ia bahkan tak pernah mengembangkan ujung-ujung bibirnya lebih dari sekadar senyuman. Di antara mereka hanya ada hubungan penuh hormat dan terima kasih, serta rindu yang tak terbayarkan.

Dan kini ia tertawa di hadapan seseorang yang asing, yang baru tadi ia temui? Oke, orang ini secara teknis adalah keluarga Sai. Mungkin Sai begitu bahagia bisa kembali setelah sekian lama, merasa ada di rumah yang penuh nostalgia, hingga ia melepaskan segala dinding sopan santun yang selama ini mengurungnya dan akhirnya, akhirnya merasa cukup nyaman untuk dapat tertawa.

Tapi apa itu berarti ia tidak merasa cukup nyaman bersama Hikaru?

Hikaru sungguh, sungguh, sungguh merindukan Sai yang dulu.

.


.

Seperti janji Senge-sensei, esoknya diadakan upacara untuk keluarga Sai. Upacara dilangsungkan di Honden, sehingga mereka harus menyucikan diri terlebih dahulu. Hikaru dan Sai sudah bangun pagi-pagi sekali, dibimbing melakukan ritual penyucian diri di mata air terdekat (yang dinginnya membuat Hikaru menggigil), lantas mengenakan kimono dan hakama yang sudah disediakan. Hikaru agak kecewa, kalau mau jujur, ia sangat berharap berkesempatan melihat Sai dalam balutan kariginu, tapi apa yang bisa ia lakukan?

Senge-san sudah menunggu mereka di pelataran Kuil Utama begitu mereka keluar rumah. Ia membimbing mereka melakukan tahap demi tahap ritual, lantas memasuki Honden, tempat sang kepala pendeta, didampingi beberapa miko, sudah bersiap di depan altar.

Upacara berjalan khusyuk, sekaligus juga emosional bagi Sai. Matanya tertutup selagi bibirnya komat-kamit melantunkaan doa dan mantra, dan Hikaru bisa melihat titik air mata menghiasi wajah halus mantan bangsawan itu. Entah apa yang ada di benak Sai saat ini, Hikaru hanya dapat menduga.

Selesai upacara, dipandu Senge-san, mereka menuju area pemakaman yang terletak tak jauh dari kawasan kuil. Tempat itu terletak di punggung sebuah bukit kecil. Jalan ke sana agak menanjak dan berkelok, anak tangganya lumayan curam, belum lagi beberapa batu yang menjadi pijakan sudah rusak termakan usia, sehingga Hikaru mesti sesekali berhenti dan mengulurkan tangannya sebagai topangan agar Sai bisa memanjat. Mereka harus bersyukur bahwa mereka datang pada musim panas, demikian kata Senge-san, karena di waktu-waktu lain, anak-anak tangga itu bisa jadi berbahaya karena licin atau berlumut.

Kira-kira setengah perjalanan mendaki bukit, barulah mereka menemui gerbang masuk ke area pemakaman. Dari titik itu, mereka disambut oleh lapis demi lapis barisan nisan dari batu dan kayu, beberapa tanpa ukiran nama, yang tampak memenuhi bukit kecil itu. Berpadu dengan pohon besar dengan akar dan daun yang menjuntai, semua itu sungguh menciptakan suasana mistis yang sangat cocok sebagai latar belakang film horor. Senge-san menjelaskan bahwa kawasan pekuburan itu telah digunakan sebagai petilasan terakhir para anggota klan Izumo sejak milenium pertama, beberapa makam bahkan berasal dari periode Nara, sehingga kawasan itu termasuk situs sejarah yang dilindungi. Tempat itu sudah tak lagi digunakan untuk menguburkan orang sejak era Edo, tapi masih dipelihara dengan baik, khususnya karena di sana juga dikuburkan beberapa tokoh ternama seperti Izumo no Okuni, seorang miko yang dianggap sebagai pelopor kabuki. Jika benar ibu Sai dimakamkan di Izumo, dan jika benar ia adalah anggota keluarga pengurus kuil seperti dugaan Senge-san, sangat mungkin di sinilah tempatnya.

Karena nyaris mustahil menemukan kuburan ibu Sai di antara tumpukan nisan itu—bisa jadi ia adalah satu di antara nisan batu yang tak bernama, belum lagi Sai mengaku tidak tahu nama ibunya, meski Hikaru meragukan hal ini—Sai hanya memberikan persembahan, lantas mengatupkan kedua tangannya dan memanjatkan doa di depan sebuah altar kecil di area pemakaman itu. Ia menghabiskan waktu cukup lama di sana, dan Hikaru merasa tidak sopan ikut-ikutan. Mungkin saja Sai sedang bicara dengan ibunya, seperti yang acap ia lakukan di makam Shuusaku, kan?

Cukup lama waktu yang Sai habiskan untuk berdoa. Ketika ia selesai, matahari sudah tinggi. Membantu Sai mengangkat ember kayu yang tadi ia pakai untuk membawa air persembahan, mereka pun kembali ke area utama. Senge-san memimpin perjalanan pulang, tetapi karena sudah terbiasa, mungkin juga karena memang agak buru-buru mengingat waktu sudah siang, ia berjalan duluan, meninggalkan Hikaru dan Sai jauh di belakang.

Perjalanan turun tak sesulit perjalanan naik, tapi sebagai murid yang baik, tentu saja Hikaru masih menawarkan tangannya untuk membantu sang guru. Namun entah mengapa, tangan Sai di genggaman tangannya terasa berbeda kini. Apakah itu suhunya? Teksturnya? Rasa di permukaan kulitnya?

Semua orang mengatakan Hikaru tumbuh pesat dalam delapan tahun terakhir, tapi kalau mau jujur, ia menyangsikannya. Ia jelas tidak pernah menjadi orang tertinggi di angkatannya, kini pun ia masih lebih pendek sekitar 5-7 sentimeter dibandingkan Akira si tiang listrik itu. Tapi berjalan di sisi Sai kini, ia baru menyadari bahwa apa yang dikatakan orang mungkin benar. Sai jelas tidak tampak setinggi dulu tanpa tate eboshinya, dan kini Hikaru tak lagi perlu mendongak untuk menatap wajahnya.

Sai tak kunjung melepas tangannya bahkan ketika mereka sudah mencapai jalan yang agak landai. Yang ada, genggaman tangannya pada tangan Hikaru kian kuat.

"Hamba benar-benar bersyukur, Kami memberikan hamba kesempatan kedua, hingga hamba diperkenankan untuk bertemu Hikaru...," ucapnya tiba-tiba, ketika mereka sudah meninggalkan bukit dan berjalan di jalan setapak menuju kuil.

Tak urung, Hikaru menoleh pada sang guru. Senyum lembut Sai menyapanya balik, bak air sejuk membasuh Hikaru. Sinar matahari yang menyelusup lewat celah-celah dedaunan memunculkan bercak-bercak cahaya pada wajahnya, menghadirkan nuansa yang begitu mistis namun menenteramkan.

"Hikaru melakukan banyak sekali hal untuk hamba, di kehidupan ini, dan kehidupan sebelumnya… Rasanya, walau berkali pun hamba bereinkarnasi, tak cukup rasanya hamba berterima kasih..."

"Ah Sai, itu lagi?" balas Hikaru jengah. "Kan sudah kubilang tidak usah basa-basi segala…"

Sai mendadak berhenti, membuat Hikaru berhenti pula.

"Tidak, Hikaru tidak mengerti," ada kekeraskepalaan yang tak asing ketika ia mengatakan ini. "Hamba baru sadar, bahwa keberadaan Hikaru begitu berarti bagi hamba. Adalah harapan dan ketulusan hati Hikaru, hal yang membuat hamba hidup kembali…"

Pastinya bukan kekeraskepalaan Sai kala mengatakannya yang membuat Hikaru membeku di tempat. Pastinya juga bukan rona pink yang membayang di wajah putih Sai, yang kemungkinan besar karena ia yang selama ini selalu diam di dalam ruangan mendadak harus berjalan jauh di bawah sinar matahari musim panas. Bukan juga mata teduh Sai, yang menatapnya dengan begitu lembut. Apakah ini juga permainan bayangan, ketika ia melihat sedikit bias sinar yang aneh di mata itu?

Tapi tangan Sai terangkat, dan jemarinya yang panjang menyentuh pipinya. Tak bisa tidak Hikaru mengejit, tapi lantas pikirannya terfokus pada hal lain. Bahwa ia tak merasakan sengatan dingin bak es seperti yang selalu ia bayangkan dari sentuhan Sai, atau bahwa ujung-ujung jemarinya memiliki tekstur yang sangat familiar… Lantas sentuhan ringan itu berubah menjadi belaian, dan kehangatan yang tak pernah ia duga melingkupi dirinya begitu rupa hingga ia tak mampu bergerak.

"Hikaru...," bisik Sai, dan perlahan, ia memejamkan matanya. Hikaru bisa melihat bulu mata Sai yang bergetar, kian lama kian jelas hingga ia bisa menghitungnya.

Entah apa yang menuntunnya, karena menurutinya, ia pun perlahan memejamkan mata.

Ah, berapa lama waktu yang dibutuhkan hanya untuk menjembatani jarak di antara mereka? Pertama ia rasakan hangat napas Sai menyentuh wajahnya. Aroma Sai—kelembutan wisteria berpadu aroma kayu di musim semi—melingkungi indera penciumannya. Lantas sesuatu dengan tekstur yang begitu halus, lembut bak kelopak mawar, menyapu bibirnya.

Ruang dan waktu tak lagi punya arti. Di sana, di bawah tudung pepohonan, seluruh semesta seakan lebur. Ia bahkan tak yakin gravitasi masih menahannya menjejak bumi. Karena dunianya, seluruh inti keberadaannya, hanya berpusat pada tekanan Sai di bibirnya.

.


.

Notes:

Tolong jangan bunuh saiaaaaa... TT 0 TT

Yang mungkin sadar kenapa nama Senge Kunimaro kerasa familiar... Yep, itu dia nama suaminya Senge Noriko (nee Takamado no Noriko Joou, salah satu putri Kekaisaran Jepang), yang sekarang sih jadi kepala pendeta di Kuil Izumo.

Nah, soal asal-usul ibu Sai, sayangnya aku ga dapet banyak data yang bisa dipake. Tadinya aku mau bikin ibunya Sai itu anaknya Minamoto no Shigenobu, yang di Wikipedia ditulis sbg istri pertama Takaie. Klan Minamoto ini nama lainnya klan Genji (as in Hikaru Genji) n termasuk percabangannya keluarga Kaisar. Tapi ga jadi karena: 1) Yep, aku dapet catatan keberadaan salah satu Minamoto di Izumo, tapi pasa jamannya Sai, aku ga nemu... 2) Kalo ibunya Sai itu Minamoto, jadi aneh dong dia ga diakuin sama Takaie, secara kerabat deket Kaisar gitu loh... Jadilah di sini, ibunya Sai aku bikin anonim aja, n bahwa sebenernya dia tuh semacam pion buat ngebawa kakeknya ke istana (n balikin pengaruh klan Izumo), tapi rencananya gagal karena begitu Takaie pulang, dia malah nikah sama putri Minamoto.