sebenarnya, aku nggak memiliki kepercayaan diri yang tinggi buat lanjutin cerita ini. tapi karena ada yang komentar menunggu kelanjutan, akhirnya aku lanjutin karena bagaimanapun aku adalah seorang pembaca dan tau betul bagaimana kesalnya ketika cerita yang kamu baca nggak tamat-tamat. jadi makasih buat yang komentar ataupun yang menunggu cerita ini.

''SISTER''

GENRE ; FAMILY ROMANCE

PAIRING ; CHANBAEK SEBAEK

NB ; CERITA INI BERASAL DARI PEMIKIRAN SAYA YANG TERPIKIRKAN SEETELAH MENDENGAR SEBUAH LAGU DARI SALAH SATU PENYANYI TERNAMA INDONESIA.


Pagi telah menjelang dan Chanyeol hanya mampu tidur untuk sebentar saja. Matanya perlahan terbuka dan terlihat Kai yang sibuk menata piring di meja makan. Setiap kali Chanyeol berkunjung ke apartemennya, Kai selalu menyiapkan sarapan secara pribadi. Banyak orang yang tidak mengetahui bahwa Kai adalah seorang koki yang handal.

Kai menatapnya sambil tersenyum. "Bangun?"

"Hmm." ucapnya malas.

"Ayo sarapan, hari ini aku membuat bubur spesial untuk tuan muda Park Chanyeol."

Chanyeol langsung tertawa dan segera bangun dari kasur besar itu. Ia selalu mendapatkan pelayanan terbaik setiap kali ia berkunjung ketempat ini.

Kai sangat manis saat berhadapan dengan Chanyeol, dan Chanyeol sangat menyadari itu. Akan tetapi jika Chanyeol ditakdirkan menjadi seorang gay, ia sudah pasti seorang dominan. Begitu pula dengan Kai, sahabatnya itu adalah seorang dominan sejati. Tidak ada jalan bagi mereka untuk bersama, bahkan jika Chanyeol akan berubah haluan suatu saat nanti.

Mereka duduk berhadapan sambil memakan sarapan, Chanyeol terlihat sangat menikmati apa yang Kai buat untuknya.

"Seperti biasa, kamu yang terbaik kalau soal masak memasak."

Kai langsung tersenyum senang, matanya perlahan menatap Chanyeol dengan dalam. Warna merah keungungan tampak jelas di dada Chanyeol sebelah kiri. Hal itu membuat Kai merasa bersalah dan khawatir jika Chanyeol mengetahuinya, Kai sangat takut jika Chanyeol membencinya.

"Maaf..." Ucapnya pelan.

Terlihat mata Kai yang mulai menunduk, sangat menyedihkan dan itu membuat Chanyeol merasa bahwa ia harus jujur. Karena ia sangat menyayangi Kai bahkan hampir setara dengan adiknya Baekhyun.

"Untuk?"

"Hanya maafkan aku saja." Ucapnya ambigu.

"Kai?"

"Ya"

"Kamu mengenalku bahkan mungkin melebihi diriku sendiri. Tapi bukan berarti aku tidak, aku mengenalmu bahkan mungkin melebihi dirimu sendiri. Aku tidak masalah dengan apapun yang kamu rasakan terhadapku, tapi aku mohon padamu untuk jangan meminta maaf. Aku tidak akan memaksamu untuk menjadi normal atau melupakan perasaanmu padaku, karena itu adalah hakmu. Tapi aku adalah Park Chanyeol yang normal dan menyukai perempuan, aku tidak akan memberikanmu harapan palsu. Karena aku sangat menyayangimu. Aku berharap kita bisa berjalan seperti biasanya."

Wajah Kai seketika berubah kaget, ia senang sekaligus sedih disaat yang bersamaan. Ia sedih karena tidak ada harapan untuknya, namun juga senang karena Chanyeol tidak jijik padanya.

"Oh ya, jangan pernah berfikir bahwa aku akan jijik padamu. Kim Kai adalah sahabat terbaik milik Park Chanyeol dan selamanya akan begitu."

"Kamu selalu bisa membaca pikiranku."

Kai tersenyum dengan sangat cerah, namun air mata perlahan jatuh kepipinya. Ia bahagia mencintai seorang Park Chanyeol. Laki-laki paling baik dan luar biasa yang pernah ia kenal.

"Yeol?"

"Ya"

"Bolehkah aku mengungkapkannya?"

Mendengar pertanyaan Kai, Chanyeol langsung kaget. Bahkan ketika Chanyeol mengetahui perasaan Kai untuknya, ia masih meminta izin pada Chanyeol untuk menyatakan perasaan. Chanyeol merasa sedih mendengar pertanyaan itu, ia menbayangkan betapa tertekannya Kai selama ini.

"Aku ingin menyatakannya agar aku merasa lega." Lanjutnya.

"Em."

Kai menatap mata Chanyeol dengan dalam, terlihat air matanya di pipi semakin jelas dan terus mengalir. Hidung dan matanya terlihat memerah. Suaranya yang serak membuat suasana semakin menyedihkan. Bahkan disaat seperti itu Kai terlihat menahan diri agar air matanya tidak jatuh terlalu banyak.

"...aku...mencintaimu. Sangat mencintaimu. Ketika kita SMA aku selalu bertanya pada diriku sendiri, kenapa aku berbeda denganmu. Kenapa aku harus menyukai laki-laki dan kenapa itu harus dirimu. Aku menahan semuanya dan berusaha agar aku terlihat normal, akan tetapi aku tidak bisa. Aku...sangat mencintaimu Park Chanyeol dan aku bahagia akan hal itu. Terima kasih karena mau menjadi temanku, terima kasih karena tidak memaksaku menjadi normal, terima kasih karena tidak menyuruhku untuk melupakan perasaanku. Aku bersyukur karena aku mencintai orang yang tepat. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Aku Kim Kai sangat mencintaimu Park Chanyeol, dan aku berharap kamu akan selalu mengingat itu."

Chanyeol langsung menangis saat mendengar pernyataan sahabatnya. Pasti sangat sulit berhadapan dengan orang yang kamu cintai setiap hari. Tapi kamu tidak memiliki kekuatan untuk menyatakannya. Chanyeol merasa bahagia menjadi orang yang beruntung karena dicintai oleh Kim Kai.

"Terima kasih."

Mereka pun menangis bersama-sama di meja makan. Mereka meratapi kebodohan mereka bertahun-tahun lamanya. Namun mereka bahagia masih bersama-sama sebagai seorang sahabat.

"Bajingan." Ucap Kai pelan. Sambil menghapus jejak air mata dipipinya.

Mendengar umpatan sahabatnya, Chanyeol langsung tertawa. Tak lama Kai pun ikut tertawa, suara mereka menggema di sudut ruangan. Mereka tidak pernah menyangka akan ada momen semacam ini.

Mereka langsung memakan sarapan mereka yang mulai mendingin. Tak lama suara dering handphone berbunyi. Chanyeol segera bangkit dan menggeser tombol hijau untuk menjawab.

"Hallo?"

"Oppa, kapan Oppa akan pulang? Aku malas harus melihat mereka disini."

"Aku akan pulang nanti malam. Ada beberapa hal yang harus Oppa kerjakan."

"Oppa?"

"Ya?"

"Apa yang Oppa lakukan dikantor? Ayah terlihat sangat stres dirumah. Aku dengar suara keributan dibawah, Ayah sepertinya memiliki banyak masalah."

Dari nada suaranya, Baekhyun terdengar sangat senang. Itu membuktikan bahwa gadis itu sangat bahagia saat melihat ayahnya menderita.

"Itu baru permulaan. Perlahan kita akan merebut semua hal yang pernah diperjuangkan ayah dalam hidupnya. Jadi Oppa berharap, berhentilah memikirkan sesuatu yang tidak penting. Biarkan Oppa yang melakukannya untukmu."

"Em!" Ucapnya semangat.

Telpon itu akhirnya terputus, hal itu membuat Chanyeol sedikit lega. Setidaknya untuk sementara waktu Baekhyun akan merasa tenang saat di rumah.

"Baekhyun?"

"Ya."

"Dia kenapa?"

"Dia hanya sedang senang."

Melihat Chanyeol sangat bahagia saat berbicara dengan Baekhyun membuat Kai khawatir. Semakin hari Chanyeol semakin bergantung pada Baekhyun, dan semakin terobsesi untuk mewujudkan apapun yang gadis itu inginkan.

"Mandilah, kita akan bersiap-siap menemui dokter yang sudah aku pesan."

"Ok."

Setelah mereka berpakain rapi, mereka segera berangkat menuju rumah sakit yang dituju. Mereka masuk melalui jalur vvip. Karena bagaimanapun Kai dan Chanyeol adalah orang yang akan menjadi pewaris kerajaan bisnis. Sangat beresiko jika ada orang yang mengetahui keberadaan mereka di rumah sakit. Akan terlalu banyak rumor yang beredar.

Mereka disambut oleh staf khusus untuk menjamin kerahasiaan tentang kedatangan mereka. Kai tidak ingin mengambil resiko rahasia kesehatan Chanyeol bocor keluar. Jika Yunho mengetahui hal itu, maka akan sulit bagi Chanyeol menjadi seorang pewaris.

"Silahkan masuk."

Gadis itu terlihat ramah dan kalem. Dia adalah Luhan, sepupu Kai dari China. Hanya saja sedikit orang yang mengetahuinya, bahkan Chanyeol pun tidak beritahu. Karena menurutnya itu sama sekali tidak penting.

Sebelum langkah kaki Kai menyentuh batas pintu. Tangan Luhan segera menahannya agar tidak ikut masuk.

"Kamu tidak boleh masuk. Park Chanyeol harus mendapatkan ketenangan dan privasi. Jadi kamu menunggu di kantorku saja."

Kai segera menuruti permintaan Luhan. Lalu pergi menunggu di kantor sambil berdoa semoga firasatnya yang buruk tidak pernah terjadi.

Tak lama Luhan masuk kedalam kantor milikinya. Ia terlihat khawatir dan bingung. Hal itu membuat Kai semakin gelisah. Ia tau bahwa hal yang paling tidak ia inginkan telah terjadi saat ini.