"I still love you"

"A..a..Apa?"

Ino melepaskan pelukannya, ia termenung dan mencerna baik-baik apa yang baru saja Naruto ucapkan.

Setelah semua kejadian mengejutkan hari ini ungkapan perasaan Naruto adalah yang paling mengejutkan menurut nya.

"Naruto-kun...aku..."

Lampu lalu lintas kembali hijau, Naruto mencubit dan menggoyangkan hidung Ino gemas dengan senyum tipis di bibirnya.

"Maafkan aku...yang tadi tidak usah di anggap yah."ucap Naruto yang kembali berpaling ke depan dan fokus mengendarai motor sport nya.

Ino hanya mengangguk dan Kembali memeluk pinggang Naruto, walau sekarang pelukannya tak seerat tadi karna rasa canggungnya.

Akhirnya Ino telah sampai di rumah, ia langsung masuk ke dalam kamarnya, melempar tas ranselnya asal, lalu berjalan menuju kamar mandi.

Ia ingin menyegarkan dirinya dengan air dingin.

Beruntung ibu dan ayahnya sedang tidak ada dirumah, jadi ia tak perlu menjelaskan tentang penampilan nya yang sedikit berantakan.

Setelah Ino selesai dan telah mengganti seragam dengan baju santai rumahan, Ino lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang kamarnya.

Ino membuka ponsel yang sedari tadi siang ia silentkan dan tak sempat ia buka.

Ino sedikit tersontak kaget melihat puluhan panggilan tak terjawab serta pesan yang belum ia balas ataupun buka.

14.00 Pm

4 missed call from Naruto-kun

Massage from Naruto-kun

Naruto: Ino jadi kan kita pulang bersama?

Naruto: Ino aku datang ke kelas mu tapi kamu tidak ada... Apa kamu pulang bersama Sakura-san?

Naruto: Ino aku bertemu Sakura-san, katanya kamu tadi keluar kelas duluan, kamu di mana?

Naruto: Ino aku akan menunggu mu di depan kelas

14.30 Pm

5 missed call from Naruto-kun

Massage from Naruto-kun

Naruto: Ino kamu masih di mana?

Naruto:apa kamu di kantin?

Naruto: tunggu di sana aku akan kesana.

14.45 Pm

2 missed call from Naruto-kun

Massage from Naruto-kun

Naruto:aku sudah di kantin tapi kamu tidak ada.

Naruto:aku akan ke perpustakaan jika kamu di sana tunggu aku yah.

Masih banyak panggilan tak terjawab dan pesan yang belum di buka dan itu semua berasal dari satu orang yaitu Naruto.

Ino tersenyum simpul menatap ponselnya, cairan liquid keluar begitu saja dari mata indahnya.

Ia tak habis pikir kenapa Naruto bisa masih begitu menyukai nya, padahal Ino belum pernah membalas perasaannya bahkan pernah menolak nya.

Ino melempar ponselnya asal, lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang, ia tak ingin terus melanjutkan membaca pesan-pesan dari Naruto.

Ino memejamkan matanya, mengatur posisinya senyaman mungkin dan berharap agar cepat menuju alam mimpi.

Ino mengoleskan selai roti pada selembar roti yang ada di hadapannya, menindih satu lembar roti di atasnya lalu mulai menyantap perlahan.

"Ino sayang kenapa dengan matamu?" Tanya wanita paruh baya yang tengah menuangkan kopi pada pria yang juga tengah memakan selembar roti di hadapannya.

Mata Ino memang terlihat tidak baik, matanya sayu sembab dan sedikit bengkak, walau Ino berusaha menutupi nya dengan bedak dan krim pelembab tapi matanya tetap saja terlihat seperti orang yang sudah menangis semalaman.

"Ohhhh ini...tidak kenapa-kenapa bu, kemarin malam aku bergadang menonton drama Korea, film nya sedih banget aku sampai nangis-nangis semalaman heheh."alibi Ino dengan senyuman yang ia buat-buat.

Ibu Ino hanya geleng-geleng mendengar jawaban dari Putri semata wayangnya itu, ia lalu menghampiriku Ino dan mengusap lembut surai rambut blonde milik Ino.

"Lain kali jangan bergadang lagi yah, lihat matamu jadi bengkak gini... Nanti kamu jelek ga bakal ada yang mau loh."ucap ibu Ino seraya kembali meninggalkan Ino yang masih sibuk dengan rotinya.

Ino hanya tersenyum tipis dan mengangguk mendengar perintah ibu yang sangat ia sayangi itu.

Setelah rotinya habis Ino lalu meneguk susunya sampai tersisa kurang dari 1/4. Lalu Ino beralih menatap ayahnya yang terlihat juga sudah selesai dengan sarapannya.

"Ayah hari ini aku diantar ayah yah."pinta Ino

"Hemm... boleh aja, tapi emang kemana yang biasa mengantar?."

"Dia sedang sibuk."

Lagi-lagi Ino berbohong, karna ia pikir tidak mungkin kan jika ia bilang kekasihnya telah meninggalkannya karna ia hamil, atau ia cerita tentang pria yang kemarin mengantarnya "Naruto" itu tidak mungkin, itulah pikiran Ino saat ini.

Ino telah sampai di sekolah diantar dengan mobil oleh ayahnya.

Ino langsung memasuki sekolah setelah berpamitan pada ayahnya, Ino berjalan pelan menuju kelas nya.

"Ino-chan..."

Saat Ino berjalan di koridor dan tinggal melewati satu belokan lagi terdengar suara seorang pria yang sangat ia kenali memanggil namanya, Ino sontak langsung berpaling pada sumber suara.

Pria pirang itu langsung berjalan cepat menghampiri Ino, sebaliknya Ino malah kembali berpaling dan menerus kan kegiatan nya yaitu pergi ke kelas dengan langkah yang lebih cepat.

Tap...tap...tap...

Suara langkah setengah berlari dari Ino dan Naruto dapat dengan jelas terdengar di koridor yang saat itu memang masih sepi.

Namun siapapun tau jika pria selalu lebih dari perempuan dalam hal fisik. Termasuk kecepatan.

Naruto berhasil menangkap tangan Ino hingga langkah gadis pirang itu terhenti.

"Lepasin Naruto-kun."pekik Ino saat tangan nya dipegang oleh tangan kekar Naruto.

"Maafkan aku soal yang kemarin, abaikan saja ucapan ku, please jangan jauhi aku... Jangan jauhi aku karna kesalahan yang sama seperti dulu."ucap Naruto lirih dengan tangan yang semakin kuat menggenggam tangan putih Ino.

"Tidak apa-apa Naruto-kun, aku tidak masalah dengan yang kemarin, aku juga tidak akan menjauhi mu."

"Lalu kenapa...kenapa kau menghindari ku Ino?, Tadi pagi aku menelepon mu untuk pergi sekolah bersama lagi tapi kau menolak, dan tadi saat aku memanggilmu kenapa kau malah pergi?."

"Aku...aku... aku hanya butuh waktu untuk sendiri Naruto-kun."

"Ino-chan kau juga belum menceritakan tentang kejadian kemarin, kenapa kau bisa terkunci di gudang dengan keadaan mu yang kacau."

Ino kembali memalingkan wajahnya, Ino bingung harus menjawab apa, dia tidak ingin membahas tentang kejadian buruk kemarin.

"Naruto-kun... Bisakah kau memberikan aku waktu untuk sendiri dulu."

"Tapi aku..."

"Nanti pulang sekolah kita bertemu."potong Ino saat mendengar Naruto akan mengucap penolakan.

Untuk sesaat Naruto terdiam, ia memandang Ino lekat sebentar lalu baru mulai melepaskan genggamannya.

"Janji yah pulang sekolah."

"Iya aku janji"

Setelah tangan nya terlepas dari genggaman Naruto Ino langsung melanjutkan langkahnya menuju kelas, meninggalkan Naruto yang masih terdiam di tempatnya berdiri.

Naruto tersenyum simpul menatap punggung Ino yang semakin menjauh darinya.

"Aku juga janji..."

"Aku akan tetap mencintaimu sampai kapanpun Ino-chan."

Bersambung...

mau ngasih tau aja, kalau aku dah Hiatus di FFN :")

kalau kalian mau lanjut baca fict ini silahkan mampir ke dunia orange dan cari akun saya demam nama pena yang sama :D

mengingat kan sekali lagi kalau fict ini dah lama tamat disana.

tulisanku bisa dibilang masih sangat jelek, jdi maaf kalau masih banyak kesalahan atau penulisan yang ga nyaman di mata kalian :")

See u guys