MOON'S CHILD

Disclaimer: Hunter x Hunter by Togashi

.

Rate : T

Pairing : one-sided Killua/Gon, Gon/Alluka, Kurapika/Leorio, Kurapika/Illumi

.


Chapter 1. Reuni

.

Bahkan ketika kesadarannya masih belum penuh, suara-suara itu sudah datang mengganggu. Pertama suara ombak yang sayup-sayup sampai, berpadu dengan gemerisik dedaunan. Suara orang bicara di luar ditingkah camar yang bergaok-gaok ribut. Lantas suara seseorang menaiki, tidak, berlari menaiki tangga, disusul...

"Killua, bangun!" teriakan Gon menusuk telinganya sebelum Killua sempat menarik bantal menutupi kepalanya. Killua membalikkan badan dengan wajah terganggu, berusaha menarik kembali selimutnya yang direbut secara paksa oleh makhluk sial itu. Astaga, apa salah dan dosa yang pernah ia lakukan, hingga mendapat teman yang tidak tahu bahwa liburan sama dengan bangun siang? Apa ini kutukan dari entah berapa ratus orang yang dulu pernah ia bunuh?

"Ung?" bukan cuma Killua yang merasa terganggu kelihatannya, tetapi juga sosok yang tertidur di sampingnya. Bedanya, yang ini betulan bangun. Terdengar gemerasak selimut ketika ia bangkit duduk sembari mengucek mata. "Ada apa, Gon? Pagi-pagi begini?"

"Ah, Alluka, selamat pagi," melihat gadis kecil itu, Gon menyerah dalam perang selimutnya dengan Killua. "Ini harinya, lho! Ayo bantu aku membangunkan kakakmu."

Apapun arti kata itu, sepertinya itu membuat rasa kantuk Alluka langsung hilang. "Oke, serahkan padaku!" serunya riang. Dengan setengah mengutuk, tapi masih tak mau kalah, Killua menabahkan dirinya menerima hal yang sudah pasti akan datang dan makin memejamkan mata, menarik selimut menutupi kepalanya.

Killua bisa tahan dipukuli, dicambuki, disetrum listrik, disundut rokok, disayat-sayat... Water boarding sudah menjadi bagian dari agenda mandinya setiap selesai latihan, bahkan sejak ia masih belum bisa mandi sendiri. Waktu usianya 10 tahun, ia bahkan pernah dilempar ke sarang ular dan kelabang dalam latihan yang menurut Illumi ditujukan untuk 'meningkatkan daya tahan tubuhnya terhadap racun sekaligus kekuatan mentalnya melawan rasa takut'. Tapi tidak ada latihan manapun yang pernah ia jalani, bahkan yang paling ekstrem sekalipun, yang bisa melatihnya melawan serangan paling mumpuni yang merupakan kelemahan terbesarnya ini: Jurus Seribu Jari. Beberapa detik kemudian, ia sudah menggelinjang di bawah serbuan dua pasang tangan yang menggelitiki tubuhnya.

"Bwaaaaah... Iya, iya, aku bangun!" teriak Killua, melempar bantalnya ke arah Gon. Yang diserang sama sekali tak melepaskan tawa tengilnya ketika berkelit ringan dan berlari keluar, membuat Killua kesal. Tambah kesal lagi ketika Alluka melompatinya, dengan ceria berlari mengikuti Gon seraya berteriak, "Tunggu, Gon..."

Ia sudah bersiap-siap menyusul dua bocah yang walau sudah remaja kelakuannya bak anak 5 tahun itu, ketika ia menyadari kondisi ruang kamar setelah upaya untuk membangunkan 'dua tamu yang selalu bangun siang' itu. Kalau ini terjadi di rumahnya, atau minimal di kamar hotel, ia tidak peduli. Masalahnya ini terjadi di rumah Mito-san, dan setelah sejuta kebaikan yang telah ia terima selama ini, apalah ia jika meninggalkan kamar dalam kondisi berantakan? Akhirnya, walau dengan bersungut-sungut, ia turun dari tempat tidur, merapikan sprei dan melipat selimut.

Sudah sekitar sebulan Killua dan Alluka tinggal di Pulau Paus, setelah tiga tahun melanglang buana. Tentu saja, awalnya mereka hanya berkunjung, Killua bahkan cuma berencana menginap sekitar seminggu sebelum meneruskan perjalanan lagi. Tapi Gon bersikukuh agar mereka memperpanjang waktu inap mereka, mengabaikan pernyataan Killua bahwa tidak aman bagi mereka tinggal di satu tempat terlalu lama, terlebih ia tak yakin Illumi sudah menyerah mencarinya. Sayangnya, Alluka benar-benar kerasan di sini, hingga memohon-mohon agar mereka tinggal sedikit lebih lama. Dan apalah Killua jika tak kelewat memanjakan dan selalu mengabulkan apapun keinginan adik kesayangannya itu?

Ketika ia turun, didengarnya siulan Alluka yang sedang mandi sambil bernyanyi riang seperti biasa. Dari arah dapur, ia bisa mendengar suara pisau beradu dengan talenan di tengah desis api dan suara air menggolak, tapi bukan aura tipis Mito-san yang ia rasakan, melainkan...

"Gon?" ia melongokkan kepalanya di ambang pintu dapur. Di depannya, tampak sosok sahabatnya dalam balutan apron berenda, tengah memotong-motong entah apa di tengah lautan perkakas dapur dan bahan makanan. Aroma masakan setengah jadi menguar menyaputi ruangan.

"Oh, Killua!" seru Gon ceria, tak meninggalkan perhatiannya dari apapun yang sedang ia lakukan. "Alluka di kamar mandi..."

"Ya, aku tahu," sahutnya, masuk ke dapur dan mencuri sebutir apel dari keranjang buah di meja, lantas dengan seenaknya duduk di kursi bar sembari matanya beredar ke seantero dapur. Di balik kaca oven, ia bisa melihat sebentuk pai yang masih setengah matang. Di atas kompor, sebentuk panci tinggi menguarkan aroma harum sup. Wadah yang ditutupi kain tipis di atas meja kelihatannya berisi adonan roti. Dan ia berani bertaruh, dari bahan-bahan makanan yang ada di atas meja, kelihatannya Gon juga berencana membuat ikan-entah-apa, puding, dan beberapa makanan lain. "Kau masak banyak? Memangnya ada acara apa?"

Di titik itu Gon mendesah. "Sudah kuduga Killua lupa, padahal aku sudah bilang berkali-kali."

"Apa sih?" patut diakui, Killua memang sering tidak ingat banyak hal. Terutama hal remeh-temeh, yang dalam sebulan ini banyak sekali dijejalkan Gon padanya.

Gon berbalik. Cerah wajahnya mengalahkan mentari. "Hari ini Kurapika dan Leorio datang!"


Kapan terakhir kali ia bertemu dua orang itu, ya? Leorio ... mungkin sekitar tiga tahun lalu, sebelum ia, Gon, dan Alluka pergi ke Pohon Dunia. Kurapika malah lebih lama lagi, sekitar empat tahun lalu, kalau tak salah, di Kota Yorkshin? Ia tahu dari Gon, yang tahu dari Leorio, bahwa sepulangnya dari Benua Gelap, pemuda Kurta itu kembali malang-melintang di dunia hitam. Ia masih memegang posisi sebagai salah satu Zodiac, tapi rupanya itu tidak menghalanginya untuk kembali ke pekerjaannya yang lama—bahkan boleh jadi Kurapika memanfaatkan posisinya di Dewan Pengurus Aliansi Hunter untuk mendukung pekerjaannya, atau sebaliknya. Kurapika selalu tertutup soal detail pekerjaannya, tapi dari sumber yang bisa ia percaya, Killua mendapat kesan bahwa ia sudah memasuki eselon atas dalam jaringan mafia. Entah bagaimana urusannya pemuda yang ia kenal paling menjunjung tinggi moralitas itu bisa menghalalkan segala cara demi menggapai tujuannya, yang jelas Killua juga merasa tak berhak menghakimi. Tapi jika memang informasi itu benar, posisi itu sangat berbahaya. Sebagai sesama orang yang (pernah) berkecimpung dalam dunia hitam, ia tahu banyak orang yang merasa rela melakukan segala cara, bahkan menghamburkan uang untuk menyewa pembunuh bayaran, untuk menghabisi pesaingnya. Tak heran jika mafia adalah target pertama pembunuhan, bahkan di atas politikus.

Tentu saja ia takkan mengatakan ini pada Gon.

Gon, yang saat itu tengah sibuk bulak-balik dapur-ruang makan, membawa masakan yang rasanya bisa menjamu orang sekampung, dan menatanya di atas meja. Meski Mito-san menawarkan diri, Gon bersikukuh karena ia ingin menjamu teman-temannya, ia yang akan memasak, lagipula bukankah Mito-san harus bekerja? Alhasil, urusan persiapan penyambutan tamu diurus oleh mereka bertiga: Gon mengurus masalah makanan, sedangkan Killua merapikan rumah (yang sebenarnya sudah bersih jadi tak banyak yang harus ia kerjakan), dibantu Alluka yang dengan ceria merangkai bunga di vas-vas kecil dan meletakkannya di nyaris setiap sudut rumah.

"Kenapa, Killua, kok bengong?" tegur Gon, mungkin melihatnya mengelap piring yang sama selama nyaris lima menit.

"Tidak," ucapnya, akhirnya meletakkan piring itu di meja dan mengambil piring lain. "Mereka mana ya? Kok sudah siang begini belum datang?"

Gon melirik jam besar yang terpampang di dinding ruang makan. "Biasanya kapal mendarat jam 9 di pelabuhan. Mungkin sebentar lagi... Ah, itu mereka!" serunya girang, melihat bayangan sosok dua orang itu di bukit sebelah sana dari balik jendela. Tanpa ba-bi-bu, ia meninggalkan pekerjaannya, berlari menyambut keduanya sambil berteriak-teriak. Dari jendela, ia bisa melihat Gon yang berlari menubruk Leorio, memeluknya erat, lantas beralih memeluk Kurapika, mengangkatnya dan memutarnya dua kali di udara.

Dasar Gon, sampai sekarang masih juga hobi meninggalkan pekerjaan sebelum selesai, desah Killua seraya meletakkan piring terakhir di atas meja. Roti, sup, pai, beberapa masakan ikan, buah... Ah ya, ikan panggang dan puding! Dengan sigap Killua menata sendok, garpu, dan pisau di sisi setiap piring, kemudian melangkah ke dapur untuk mengambil dua masakan yang dipersiapkan Gon dari pagi. Ikan panggang masih belum matang ketika ia mengeceknya di oven, sedangkan pudding pun masih belum cukup keras, jadi ia mengembalikan mereka ke tempat masing-masing sementara membuat pesan mental untuk mengambilnya sekitar sepuluh menit ke depan.

"... nenku belum bisa kembali. Jadi sekarang aku tinggal di sini sambil sekolah jarak jauh. Aku akan lulus SMU setengah tahun lagi!" celotehan riang Gon makin terdengar seiring kian dekatnya jarak ketiganya ke rumah.

Untuk cerita yang sebenarnya getir itu, jujur saja suaranya terdengar terlalu ceria, sehingga tak heran jika sama sekali tak terdengar tanggapan Leorio dan Kurapika. Ia masih mencerocos, kali ini bercerita soal sang ayah, yang berhenti ketika mereka mencapai pintu rumah. Itu juga kode bagi Killua untuk meninggalkan meja makan dan bersiap-siap menyambut dua sahabat lama mereka di ruang tengah.

"Nah, nah, aku bilang ada kejutan kan?" ucap Gon penuh konspirasi seraya membuka pintu rumah. Terlambat ketika Killua menyadari bahwa seharusnya ia menyembunyikan auranya, karena Leorio dan Kurapika pasti sudah merasakannya dari kaki bukit sana. Tapi demi Gon, ia memasang senyum.

"Yo!" sapanya.

Mungkin baik Leorio maupun Kurapika juga merasakan hal yang sama, karena mereka menampakkan wajah (pura-pura) terkejut.

"Killua, my man!" seru Leorio, mendekat untuk memberikan tinju dan memeluk bahunya. Killua tak pernah tahu bagaimana cara memberi salam pada Kurapika—berbeda dengan Gon, dia tidak serta-merta memeluk semua orang—jadi ia hanya melambai. "Wuah... Astaga, lama tidak ketemu, mendadak kau jadi tinggi!" pria itu menambahkan, mengukur selisih tinggi mereka.

Killua sudah mencapai telinganya sekarang. Lima belas senti lebih tinggi daripada Gon, yang baru mencapai bahu Leorio. Jelas jauh lebih tinggi ketimbang Kurapika si mungil, yang kelihatannya tidak mengalami penambahan tinggi berarti bahkan walau sudah empat tahun waktu berlalu. Tingginya paling-paling hanya terpaut lima senti dari Gon, tapi di kelompok mereka, kini ia yang paling pendek.

Sifat usil Killua langsung bangkit. "Aku masih belum berhenti tumbuh, Paman. Lihat saja, pasti aku akan melampauimu!"

"Siapa tadi yang kausebut Paman?! Awas, ya!" Leorio pura-pura meninjunya, yang tentu saja disambut derai tawa semua orang.

Leorio tidak jauh berbeda dari apa yang ia ingat sejak pertemuan terakhir mereka, pikirnya. Dia masih juga sok resmi mengenakan setelan jas ke mana-mana, padahal Kurapika saja sudah menanggalkkan baju tradisional yang menjadi ciri khasnya. Wajar, kalau mengingat dalam beberapa tahun terakhir ia beroperasi di bawah tanah. Namun alih-alih setelan serba-hitam sebagaimana pernah ia lihat di folder yang diberikan informan terpercayanya, pemuda yang dikenal sebagai Tikus Emas itu justru mengenakan pakaian kasual—sweater rajutan tipis di atas kemeja berkerah dan jeans. Dengan gaya urbannya, siapapun pasti mengira ia adalah turis yang sedang mencecap suasana kampung nelayan itu, menghindar dari hiruk-pikuk kota—entah mahasiswa atau mungkin eksekutif muda, bukannya bos mafia yang katanya termasuk satu dari sepuluh Don paling berpengaruh di dunia hitam.

Dipikir-pikir, takdir memang memiliki selera humor yang aneh. Killua, yang sudah dilatih dari kecil untuk menjadi pewaris nama besar Zoldyck, mati-matian menolak takhtanya. Sementara di sisi sana, seorang pemuda kampung yang dikenal sangat sopan justru berkembang menjadi pangeran dunia hitam. Kurapika, yang begitu lembut hingga kelihatan tak tega bahkan untuk menyakiti lalat sekalipun... Kurapika, yang ia ingat dulu tak kuasa menghabisi lawannya dan stress bukan alang-kepalang setelah membunuh Uvogin... Omong-omong, sudah berapa nyawa yang melayang di tangannya hingga detik ini?

"Hei, Killua," sodokan Leorio membuat Killua sadar bahwa sekitar satu setengah detik tadi ia malah hanyut dalam pikirannya sendiri. Moga-moga saja Leorio dan Kurapika sedang asyik mengobrol dengan Gon tadi, sehingga tidak sadar ia menghilang. "Kata Gon kau datang bareng Alluka, mana dia?"

Seolah dikomandoi, justru saat itu Alluka muncul dari entah mana, dengan vas bunga di tangannya. Melihat Leorio, ia segera meletakkan jambangan itu, meneriakkan, "Leorio-nii!" lantas berlari dan melompat memeluk leher lelaki itu. Untung saja Leorio masih cukup punya akal sehat untuk tidak memutar Alluka di tengah rumah yang penuh perabotan. Tidak seperti Gon waktu pertama kali bertemu dengan Alluka, tentu.

"Wuih, Alluka, kau sudah besar dan cantik!" puji Leorio yang membuat gadis itu tertawa tersipu. "Berapa umurmu sekarang?"

"14...," jawab Alluka riang.

"Wowww... pantas saja, aku takkan mengenalimu kalau ketemu di jalan, lho! Bagaimana jalan-jalannya?"

"Seru sekali!" deklamasi Alluka lantang, merentangkan tangannya bak kupu-kupu. "Oniichan mengajakku ke banyak tempat! Kalian mau lihat foto-fotonya?"

Gadis itu membuka folder foto di ponselnya, dengan riang menunjukkan foto-foto yang Killua larang untuk dikirim ke siapapun atau diposting di media sosial manapun. Sebenarnya semua usahanya untuk merahasiakan lokasi keberadaan mereka akan gagal kalau Milluki entah bagaimana berhasil melacak ponsel mereka dan meng-hack isi folder foto Alluka, tapi toh Killua tak kuasa melarang hobi Alluka untuk selfie dan foto-foto seperti anak remaja seusianya.

Leorio menanggapi Alluka dengan sama antusiasnya. Mereka memang hanya sekali bertemu, dahulu sekali, waktu insiden Gon. Tapi Leorio mendapat kesan yang baik sekali tentang Alluka, dan setelahnya pun mereka sering saling berhubungan via email, walau dengan supervisi Killua.

"Oh ya, Alluka, kau sudah kenal Kurapika?" Leorio memperkenalkan pemuda Kurta di sisinya. Yang ditunjuk lekas memberi hormat dengan menunduk.

"Aku sudah dengar soal Kurapika-san dari Gon dan Killu-nii!" seru Alluka, dengan manisnya mengulurkan tangan. Mungkin kebiasaan si mafia itu, ia langsung menyambutnya dan mendaratkan ciuman di tangan Alluka, yang membuat gadis itu agak merona. "Kata Gon, kau pintar sekali, tahu banyak hal!"

"Gon suka melebih-lebihkan," pemuda itu tersenyum. "Oh ya," ia merogoh tas selempang yang ia bawa. "Aku membawa ini, mudah-mudahan kau suka," ujarnya seraya menyerahkan sebentuk buku tebal ke tangan Alluka.

"Wow, 99 Kisah Mitologi Dunia. Keren! Terima kasih, Kurapika-niisan!" ia tersenyum lebar sembari memeluk Kurapika. Hanya dengan satu hadiah kecil itu, Kurapika telah berubah nama dari 'Kurapika-san' menjadi 'Kurapika-niisan", yang berarti statusnya bergeser dari sekadar 'teman kakak' menjadi 'temanku juga'. Kadang Killua ingin menepuk jidat melihat betapa gampangnya menarik simpati Alluka. "Ah ya, kalau pulang nanti, aku akan beri tahu Kalluto. Dia juga suka sekali legenda!"

"Kalluto?" tanya Kurapika seraya mengikuti gadis itu, yang dengan ringannya berputar dan menuntun Kurapika ke ruang tengah, mempersilakan kedua tamu itu duduk di sofa seolah-olah ialah si empunya rumah. Sementara itu, berperan sebagai tuan rumah yang baik, Gon mengangkat kopor Leorio dan Kurapika ke kamar tamu di lantai satu—menolak tawaran Kurapika untuk membawa barang mereka sendiri. Berhubung kamar tamu di atas sudah diisi oleh Killua dan Alluka, mereka menggunakan kamar bekas mendiang nenek Gon. Sedangkan Killua undur diri untuk mengangkat ikan panggang yang masih di oven, sementara telinganya masih awas mengikuti pembicaraan tiga orang itu.

"Adikku!" jawab Alluka riang, "Onii-chan sudah cerita soal Kalluto? Aku jarang ketemu dengannya sih... Dulu kami sering main bareng..." celotehnya.

Ia bisa mendengar Kurapika menjawab netral, walau entah bagaimana ada sesuatu yang aneh dalam nada suaranya yang tak luput dari perhatian Killua. Pasti Kurapika bingung, secara Killua tidak banyak cerita soal keluarganya. Mereka tahu mengenai dua kakaknya, tapi bahkan Gon dan Leorio baru tahu soal Alluka setelah insiden Gon. Kurapika hanya tahu soal Alluka dari cerita Leorio. Entah apa Killua pernah cerita soal adik satunya lagi, Kalluto, ia juga tidak terlalu ingat. Terutama karena Killua sendiri kurang akrab dengan adik lelaki satu-satunya itu. Kalluto adalah boneka ibunya, dan kalau mau jujur sebenarnya ia tidak begitu suka pada Kalluto justru karena ia bak Illumi versi kecil. Bisa-bisanya ia bersikap sok sempurna hingga mendapat seluruh kasih sayang sang ibu, sementara diam saja melihat kakaknya sendiri, Alluka, diperlakukan bak anak tiri.

Seterusnya pembicaraan mengalir ke urusan cerita soal masa kecil mereka dan petualangan yang pernah mereka lakukan. Untuk seseorang yang menghabiskan waktu 7 tahun dikurung di bawah tanah, dan itu dimulai sejak ia masih sangat kecil, Alluka punya memori mengenai masa kecil yang sangat baik, dan tidak seternoda yang Killua bayangkan. Atau mungkin justru karena itu? Setidaknya ia harus bersyukur, bahwa justru dengan kemampuan Nanika, Alluka terlepas dari sebagian besar latihan standar yang Zoldyck lainnya dapatkan. Mungkin itu yang membuat karakter Alluka masih begitu murni dan tak ternoda. Semurni Gon.

Kadang Killua suka bertanya, seandainya saja ia tidak dilahirkan dengan rambut putih ini, seandainya saja ia yang dirasuki Nanika. Akankah ia juga masih mempertahankan kemurniannya? Akankah itu membuatnya tak melulu terbayangi kegelapan?

Tapi tak ada gunanya menyesali hal itu kan, karena justru semua yang ia laluilah yang menjadikannya dirinya sekarang ini. Bukankah hanya dengan itu, ia bisa melindungi Alluka dan Nanika?

Tak berapa lama, Gon keluar dari lorong yang memisahkan ruang tengah dan kamar tamu, kelihatannya sudah selesai mengurus kopor-kopor. "Sudah dulu ngobrolnya! Kalian pasti belum makan apa-apa, aku sudah menyiapkan makanan!" serunya.

Mereka lekas berpindah ke meja makan, tempat beragam makanan terhidang dengan megahnya. Di meja makan persegi panjang yang diisi enam kursi itu, Gon duduk di salah satu ujung sebagaimana layaknya seorang tuan rumah, Killua dan Alluka ada di satu sisi, sementara Leorio dan Kurapika menempati sisi lain. Alluka dengan strategisnya menempatkan diri di antara Gon dan Killua, kemungkinan besar karena ia mengincar ikan panggang yang ditempatkan persis di hadapannya.

"Nah, jadi sekarang ceritakan tentang dirimu dong, Kurapika-niisan," ujar Alluka manis, kelihatannya benar-benar kesengsem dengan pangeran itu.

"Eh, cerita apa?" ditodong begitu, Kurapika jelas jadi gugup.

"Killua-nii bilang Kurapika-niisan itu ma..."

"Mama kita semua!" sambar Killua, menginterupsi pada saat yang tepat sebelum Alluka mengatakan kata 'mafia'. Bukan berarti kata itu perlu disensor, toh nyatanya semua orang di situ tahu pekerjaan Kurapika. Masalahnya, ia tidak yakin Kurapika memberi tahu Gon dan Leorio mengenai sejauh mana ia terlibat dalam dunia itu. Dan ia sungguh tak yakin benar-benar telah menutup mulutnya untuk tak menggerutu soal Kurapika di hadapan Alluka...

Semua orang di meja itu memandang Killua dengan tatapan memicing. Kini ganti Killua yang jadi salah tingkah, dan dengan gugup meneruskan, "Benar kan? Dari dulu sewaktu ujian Hunter kerjaanmu selalu mencereweti kita begini-begitu, persis emak-emak!"

Cuma Gon yang tertawa, sedangkan Leorio melongo dan Alluka mendengus sebal. Di hadapannya, Kurapika kelihatannya menangkap kode Killua, jadi ia hanya tersenyum. "Oh, maksudmu 'manager'?" ia bertanya balik dengan halusnya.

Dahi Alluka berkerut. "Sepertinya Killua-nii tidak bilang manager..."

"'Marketing', kalau begitu?" usul Kurapika lagi. "Hmmm, aku tidak mengurus penjualan, sih... Sepertinya yang pertama lebih tepat. Aku memang sekarang mengurus perusahaan Ayah..."

Mendengarnya, bukan Alluka, tapi Gon dan Leorio yang berteriak dalam waktu bersamaan.

"Manager?!"

"A-Ayah?!"

"Apa maksudmu manager? Bukannya kau bodyguard?"

"Si-siapa yang kaumaksud 'Ayah'? Bukannya keluargamu sudah meninggal?" Suatu kesadaran entah bagaimana tampak menusuk Leorio, dan ia melanjutkan dengan wajah pucat, "Ja-jangan-jangan si tua Nostrade?"

"Uhm, aku tidak bilang, ya?" Kurapika berani-beraninya bersikap sok inosens. "Yah, kalian tahu, kan ... bisnis keluarga Nostrade jadi mundur sejak Neon ... eh, itu nama putri semata wayang Ayah ... tidak bisa meramal lagi. Ayah stress dan jatuh sakit, jadi ia memintaku..."

"Menikahi putrinya, begitu?" sambar Leorio.

"Haaaaahhh, kau sudah menikah, Kurapikaaaa?" Gon langsung heboh. "Kapan? Di mana? Kok kau tidak mengundangku?"

"Kurapika-niisan sudah menikah?" Alluka ikut-ikutan, "Ne, ne, apa kau sudah punya anak?"

"A-anak?!" Mendengarnya, Leorio tampak makin pucat. "Ja-jadi itu alasanmu..."

Urat kekesalan muncul di dahi Kurapika, membuatnya memotong perkataan Leorio sebelum Killua tahu apa yang membuatnya tampak demikian shock. "Betapapun romantisnya imajinasimu, Leorio," Kurapika memberi penekanan pada kata 'romantis', "sayangnya tidak, aku tidak menikah dengan Neon apalagi punya anak darinya." Killua bisa menangkap ia menggerutu, "Bodoh! Kau seharusnya tahu itu lebih dari siapapun!"

Meski ada di sampingnya, Leorio tampaknya tidak mendengar. "Lalu?" tuntutnya.

"Um ... tadi kubilang Ayah sakit kan? Nah, bukannya meneruskan bisnis keluarga, Neon malah jatuh cinta dengan seorang aktor dan kawin lari. Jadilah Ayah mengangkatku sebagai putranya dan memintaku mengambil alih."

"Jadi ... namamu sekarang..."

"Uhm, yah...," Kurapika menggaruk pipinya. "Nama resmiku jadi Currapickt Nostrade. Dieja C-U-R-R-A-P-I-C-K-T, tapi gampangnya, semua orang juga memanggilku Kurapika, sih ..."

"Berarti kau bukan cuma manager, dong?" tembak Leorio.

"Ah, iya... Memang agak tidak jelas, secara di atas kertas, ayah angkatku masih menjadi ... um, presiden perusahaan. Jadi aku ... um, semacam CEO, mungkin?"

Di sisinya, Leorio tampak terang-terangan melongo. "Sejak kapan? Kau kok tidak pernah cerita?!" ia menuntut.

"Sejak sebelum aku masuk Zodiac? Serius, Leorio, Cheadle saja tahu..."

"Kau bilang Cheadle tapi tidak bilang aku?!"

"Kan kau yang merekomendasikan aku pada Cheadle. Bagaimana kaupikir Mizai bisa menemukanku, memangnya? Kukira kau memang sudah tahu..."

Leorio membenamkan muka pada kedua belah tangannya, di bawah cengiran Gon yang menyaksikan sirkus unik itu dengan penuh minat. Sementara itu, Alluka yang tidak tahu urusan malah mengelaborasi pertanyaan, "Ne, ne, Kurapika-niisan, perusahaanmu itu perusahaan apa, sih?"

Nah, lho.

Untungnya, Kurapika tidak kehilangan akal. "Usaha dagang dan ... um, pariwisata..."

Ha, apa yang diperdagangkan? Obat terlarang? Senjata? Barang ilegal dan barang selundupan yang dijual di pasar gelap?

Kalau begitu, keluarga Zoldyck bisa disebut perusahaan jasa, dong? Setara dengan bisnis salon atau spa... Hahaha, dalam hati Killua tertawa kering.

Kata terakhir kelihatannya menarik minat Alluka. "Oh, wisata apa?"

"Kami ... um, mengelola taman bermain." Killua ingin menyusrukkan kepalanya ke meja. Kurapika sungguh memilih padanan terburuk untuk kata "kasino dan pub".

"Wah, hebat! Nanti kalau kami main ke sana, minta diskon ya!"

"Eh, anu..."

"Ah ya, Kurapika," sambar Killua buru-buru sebelum pembicaraan jadi makin tak jelas. "Kalian berencana berapa lama tinggal di sini?"

Kurapika terlihat memberinya tatapan penuh terima kasih. "Um, sejujurnya aku tidak tahu. Mungkin sekitar seminggu? Itu kalau kau mengizinkan, Gon," ia berpaling ke arah sahabatnya.

"Tentu aku tidak keberatan! Malah kalau bisa, kau sebulan saja di sini!" balas Gon antusias.

"Um, terima kasih. Tapi aku harus ke Kakin, um ... kau tahu, urusan pekerjaan..."

Gon dan Leorio kelihatan akan bertanya, tapi untungnya mereka cukup pintar untuk menutup mulut di hadapan Alluka.

"Yaaaah...," Alluka terlihat kecewa.

"Tenang, kan kita bisa main seminggu penuh," kali ini Leorio yang mengambil alih pembicaraan.

"Ah iya, nanti gantian kami yang mengunjungi kalian, bagaimana?" tawar Gon. "Aku tidak tahu kau punya taman bermain, Kurapika, aku jadi penasaran..."

Killua mendelik pada sahabatnya. Serius, Gon tidak tahu dari tadi mereka berusaha menyensor pembicaraan?

Eh, tapi kalau tak salah, kasino milik keluarga Nostrade adalah yang terbesar se-Yorkshin, bukan? Malah bisa dikatakan terbesar sebenua... Berarti kalau main ke sana, dia bisa judi sepuasnya, dong?

Ah, tidak, tidak, ia menggelengkan kepalanya keras-keras. Mengingat ia tidak bisa mengendalikan diri kalau sudah mulai memasang taruhan, ia sudah disumpah Bisky untuk tidak pernah menyentuh judi lagi seumur hidup. Sumpahnya memang bukan kontrak nen, tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi jika ia melanggar, kan, kalau sudah berurusan dengan Bisky?

Kurapika hanya tersenyum manis, tidak menolak dan juga tak mengiyakan—oh, dia bahkan tidak bilang kalau taman bermainnya khusus untuk 21 tahun ke atas, mungkin demi menghindari pertanyaan lain. Alih-alih, ia menyendok ikan steam ke piringnya, dan berkomentar dengan ekspresi agak berlebihan untuk ukurannya, "Ah, ini enak betul, Gon... Serius kau yang masak?"

Gon mengangguk penuh semangat. "Bukan cuma ikan, semua ini aku yang masak, lho!" pamernya dengan bangga.

"Serius?"

"Iya, lah!"

"Tapi semuanya masakan ikan begini...," Leorio berkomentar. Ikan panggang, ikan goreng, ikan steam, sup ikan... Asal tahu saja, sebenarnya Gon masih menyimpan nugget ikan di kulkas.

"Hahaha, kebetulan di wilayah sekitar sini lagi surplus ikan," ia menampakkan cengirannya. "Kemarin Killua jatuh ke laut, jadilah ikan-ikan di sekitar sini pada mati kena setrum."

Kata-kata Gon membuat Kurapika dan Leorio membelalak dan mengarahkan mata pada Killua. Yang ditatap mendengus kesal, tapi sebelum ia sempat protes, adiknya sudah mendahului.

"Tidak lucu tahu, Gon!" seru Alluka, berpura-pura memukul bahu cowok itu. "Ini semua gara-gara kamu! Kan kau yang mendorong Killu-nii!"

Kalau mau dibilang, sejujurnya itu kejadian memalukan. Benar, kemarin waktu mereka latih tanding di tebing dekat laut, Gon entah bagaimana berhasil menjatuhkan Killua ke laut. Killua berani bersumpah ia tidak mengaktifkan nen-nya untuk melawan Gon, tapi ketika jatuh itu, secara refleks Killua mengaktifkan kekuatan listriknya tanpa dipanggil. Detik ketika petir di tubuhnya menyentuh air, tenaga listrik itu menjalar, menyengat mati segala makhluk hidup dalam radius 2 km. Mayat ikan-ikan malang itu dibawa ke pantai pagi tadi, menumpuk bak kjokkenmoddinger. Satu lagi tambahan dosanya pada Ibu Bumi.

Ia tidak apa-apa, sebenarnya. Tersengat listriknya sendiri, bahkan walau di dalam air, jelas bukan masalah besar. Tapi Alluka tidak sependapat, secara ia menemukan kakaknya terdampar di pantai dalam keadaan tidak sadar, sekitar setengah jam kemudian. Walau Killua berulang kali bilang itu adalah karena ia kelelahan berenang, dan bukannya pingsan tersengat listrik, ia masih juga tak percaya.

"Bukan salahku!" Gon menghindar. "Judulnya juga latihan, dia saja yang tidak memperhatikan sekeliling! Masa iya waktu menghindari seranganku, dia malah terpeleset, sih?"

"Harusnya kau juga pakai perhitungan waktu menyerang! Itu di pinggir tebing, 20 meter di atas permukaan laut, lho... Bagaimana kalau Killu-nii kenapa-kenapa?"

"Mana mungkin!"

"Mana mungkin bagaimana?"

"Ya mana mungkin Killua kenapa-kenapa kan? Toh cuma jatuh 20 meter, ke air pula..."

"Tapi di bawahnya banyak cadas... Bagaimana kalau dia salah jatuh, Gon bodoh!"

"Huh, kau itu terlalu mengkhawatirkan kakakmu... Killua sih, jangan kata cuma jatuh, ditabrak pesawat juga dia takkan mati!"

"Uuuuuh, kamu cowok paling jahat seduniaaaaaa," kini Alluka mengabaikan makanannya dan mulai memukuli Gon dengan tinjunya yang mungil. Yang dipukuli hanya mengaduh-ngaduh kesakitan seraya menutupi kepala dengan lengannya, tapi tidak benar-benar menghindar.

Tentu saja tingkah mereka membuat Kurapika dan Leorio tertawa. Killua juga, sebenarnya, walau ia menutupinya di balik dengusan kecilnya.

Kalau ibunya melihat ini, pasti ia sudah marah besar dan menghentikan adegan yang tidak sepatutnya terjadi di meja makan itu. Biar kata keluarga mereka bisa dibilang disfungsional, Kikyou selalu memaksa agar setiap ada kesempatan, seluruh anggota keluarga harus makan bersama dengan tatakrama yang benar. Semua kecuali Alluka, tentu, yang makanannya diantarkan oleh pelayan lewat lubang layaknya anjing.

Tapi kali ini ia tak hendak menerapkan tatakrama seketat itu di sini. Pertama, di sini adalah Pulau Paus, bukan Pegunungan Kukuroo. Kedua, tak bisa tidak Alluka membuatnya terenyuh. Bisa dibilang hatinya mengembang oleh sikap protektif Alluka padanya. Alluka mungkin anak paling lemah secara fisik di antara seluruh Zoldyck, tapi ia tetap adik yang paling disayangi dan paling menyayangi Killua. Dan apalah yang takkan ia berikan untuk selalu, selalu, selalu menyaksikan hal seperti ini terjadi di depan matanya?

Itu, sebelum sambil berdecak, Leorio berkomentar, "Hei, Gon, kok kau tak pernah bilang kalau kau dapat pacar?"

Gon langsung gelagapan, sementara Alluka menghentikan serangannya dan kembali ke tempat duduknya dengan wajah merah.

"Nah, nah, tidak usah sembunyi-sembunyi... Dasar kau Don Juan!" goda Leorio. "Berani juga ya kau..."

"Ti-tidak, bukan begitu...," Gon mengibas keras dengan wajah tak kalah merah dengan Alluka. "Ka-kami belum ... eh, bukan..."

"Tidak kusangka ya, waktu berlalu begitu cepat... Gon yang imut dan inosens itu sudah hilang... Aku sungguh merasa tuaaaa," Leorio mulai berakting dramatis. "Rupanya begini perasaan seorang ayah yang ditinggal putranya menikah... Aku terharuuuuu..."

"Aaaaaaa, tidak, Leoriooooo! Kau salah pahammmm..."

"Salah paham apanya? Aku benar kan? Sudah berapa lama nih, kalian jadian?"

"Makanya, dengarkan aku doooong..."

Keributan mereka, bagaimanapun, berhenti ketika terdengar suara derit tanda kaki kursi menggesek lantai. Empat pasang mata beralih menatap Killua, yang mendorong kursi dan bangkit dari duduknya.

"Killua?" tanya Kurapika dengan mata khawatir. Dan ketika ia menoleh ke sisi sana, dilihatnya Leorio yang sama khawatirnya, serta Alluka dan Gon yang penuh tanda tanya. "Kau tidak apa-apa?"

"Wajah Oniichan pucat, apa Oniichan sakit?" tanya Alluka, dengan lembut menyentuh tangannya.

"Lho, memangnya Killua bisa sakit?" Gon kelihatan bingung.

"Sudah kubilang jangan jahat begitu pada Oniichan-ku, Gon!" bentak Alluka, memukul lagi pemuda itu

"Uh, mungkin iya, dari pagi tadi aku merasa kurang enak badan," ia menyentuhkan tangannya ke dahi. "Maafkan aku, teman-teman, sepertinya aku harus kembali ke kamar..."

Entah siapa yang hendak ia tipu dengan alasan yang jelas-jelas bohong itu, sebenarnya. Di dunia ini, hanya Alluka (yep, Alluka) dan Mito-san yang percaya bahwa ia bisa sakit.

"Killua-niichan betulan bisa sakit, kok," Alluka bersikukuh, mendengar Gon sekali lagi mengemukakan kebingungannya. "Pernah waktu ulangtahunku, Killua-nii tidak datang ke kamarku, padahal aku sudah menunggu-nunggu. Waktu aku tanya pelayan, katanya Killua-nii pingsan waktu latihan, jadi tidak bisa mengunjungiku..."

Killua ingat benar kejadian yang dikatakan Alluka. Itu terjadi pada ulang tahun Alluka yang ke-7 kalau tak salah, atau 4 tahun sejak gadis itu dikurung di ruang bawah tanah. Killua sudah mempersiapkan segalanya—mulai dari kue hingga hadiah—karena ia satu-satunya anggota keluarga yang ingat ulang tahun Alluka dan mau capek-capek merayakannya. Tapi sial memang si Milluki itu. Ia memilih saat itu untuk mengusili Killua (atau mungkin membalas dendam karena Killua merusak figurine-nya) dengan mengalirkan listrik terlalu banyak sewaktu ia melatih Killua di tank air. Alhasil, Killua sampai pingsan dan melewatkan ulang tahun Alluka.

Sesungguhnya ia sudah bangun pada hari ketiga, dan sudah berencana turun ke sel Alluka untuk merayakan ulang tahun yang terlambat. Sayangnya, sang ibu menganggap itu saat yang tepat untuk memberi Killua koktail racun dengan dosis mematikan yang saat itu belum dapat ia atasi. Tak perlu dikatakan, Killua roboh lagi selama tiga hari. Pada hari ketujuh, ketika ia akhirnya bisa turun ke sel Alluka, ia mengira gadis itu marah padanya, dan sudah menabahkan diri untuk mendapatkan hukuman apapun. Tapi sebaliknya, ternyata Alluka begitu khawatir hingga menghabiskan waktu seminggu itu untuk menangis hingga matanya bengkak. Saat itu juga, ia berjanji dalam hati untuk selalu menyayangi Alluka.

Kalau mau jujur, apapun yang dilakukan Milluki dan ibunya hingga membuatnya berada dalam batas hidup dan mati seperti itu sudah biasa, banyak yang jauh lebih parah. Teman-temannya sudah tahu seperti apa masa lalunya, jadi seharusnya itu tidak membuat mereka kaget. Masalahnya, sungguh memalukan Alluka bilang begitu seolah-olah ia lemah...

Apapunlah, asal dia bisa tidak usah di sini.

"Nah, seperti dibilang Alluka... Aku permisi dulu," katanya, melangkah pergi sambil setengah pura-pura terhuyung. Dia baru berjalan sekitar dua langkah ketika terdengar kursi lain digeser.

"Tunggu, kalau kau sakit, aku akan memeriksamu," deklarasi Leorio. "Aku kan dokter," tunjuknya pada diri sendiri.

"Huh, seolah kau sudah lulus!"

"Ya memang belum sih," ia cengegesan, "Tapi aku kompeten, kok. Lagipula, kalau sampai ada penyakit yang bisa menyerangmu, Killua, itu pasti varian virus baru. Aku bisa kaya raya kalau aku menelitimu," dengan santainya ia mendekati Killua.

"Tidak usah!" ucap Killua kesal, menepis tangan Leorio yang berusaha menyentuh dahinya.

"Hei, bocah..."

"Kubilang tidak usah, terima kasih!" tegasnya lagi. Leorio terlihat akan mengatakan sesuatu, tapi berhenti oleh kode mata Kurapika. Mendengus, Killua melangkah pergi, berusaha tidak memedulikan tatapan tiga orang di belakangnya. Khususnya Gon, yang wajahnya langsung layu ketika jelas-jelas Alluka memelototinya sambil berkata, "Apa kubilang! Ini salahmu, Gon!"

Mereka tampak begitu akrab, terlalu akrab.

Seolah memang benar mengonfirmasi kecurigaan Leorio.

Killua merasa mual, dan buru-buru menapaki tangga untuk mengubur dirinya dalam selimut.