Chapter 3. Roller Coaster

.

Sekembalinya ke rumah Mito-san, Killua langsung meluncur ke kamarnya di lantai dua. Sama sekali tak dipedulikannya Leorio yang menanyakan ada apa. Di ujung matanya, ia bisa melihat Kurapika yang lekas menahan Leorio yang hendak mengejarnya—Kurapika tidak bodoh, pasti ia bisa menarik sesuatu entah-apa hanya dengan melihat ekspresinya, atau mungkin auranya, atau lebih parah lagi: bajunya yang terkena sedikit cipratan darah.

Darah Gon, suatu suara dalam dirinya menambahkan.

Pasti Leorio juga mencium sesuatu yang salah. Tidak mungkin tidak, kan, di titik ini? Entah bagaimana reaksi mereka nanti. Leorio jelas lebih dekat pada Gon daripada dirinya. Ia tak begitu tahu dengan Kurapika, tapi siapa memangnya yang akan bersisian dengannya? Sebentar lagi Gon dan Alluka datang, dan jika mereka tahu apa yang terjadi, sudah pasti mereka akan menyalahkannya. Jangan kata mereka, ia sendiri menyalahkan dirinya.

Kini setelah berhasil menenangkan diri, barulah ia menyadari apa yang ia lakukan, dan sungguh hal itu membuatnya ngeri. Tak pernah sekalipun ia merasakan kemarahan seperti ini, dan hasrat membunuh seperti ini... Bahkan dahulu sewaktu masih malang melintang di dunia hitam, ia tak pernah membunuh karena emosi. Seorang pembunuh dikatakan berdarah dingin karena ia tidak merasa, sedangkan luapan emosi tadi...

Dan karenanya, ia bahkan melukai orang yang selama ini begitu dekat dengannya... Tidak, ia nyaris membunuh... Ia berhasrat membunuh Gon.

Benar kata Illumi, satu saat ia pasti akan mengkhianati Gon. Sayangnya, itu bukan karena ia melarikan diri. Jarum yang ditanam Illumi di kepalanya sudah menghilang sejak lama, jadi tak ada alasan baginya kini untuk apa yang ia lakukan, bahkan jika dikatakan itu adalah karena insting protektifnya terhadap Alluka. Terlebih karena Alluka sendiri tidak menginginkannya.

Benarkah kata Alluka, bahwa ia telah berubah menjadi Illumi?

Di bawah terdengar keributan, jadi pastinya Gon sudah datang bersama Alluka—atau lebih tepatnya: Alluka datang membawa Gon, mungkin? Rasanya terlalu berlebihan jika ia menganggap dirinya masih diterima di rumah ini, kan, setelah apa yang ia perbuat? Killua menggosok matanya yang buram, memasukkan barang-barangnya ke tas asal saja, lantas melompat dari jendela.

.


.

Pulau Paus bodoh ini ternyata memang betulan bodoh, pikir Killua, menudungi kepalanya dari terik matahari. Sudah dua hari ia menunggu pelabuhan, tetapi tidak ada kapal berangkat. Kata petugas pelabuhan, hanya ada satu kapal yang datang seminggu sekali, dan berangkat tiga hari kemudian. Si kapal bodoh yang mengangkut Leorio dan Kurapika datang tiga hari yang lalu, jadi seharusnya kapal itu berangkat hari ini. Tapi rupanya kapal itu mengalami kerusakan, sehingga pelayaran ditunda entah hingga kapan.

Sungguh betul-betul bodoh. Jika ini terjadi di pelabuhan ramai, sudah barang tentu banyak orang protes. Bagaimana dengan penumpang yang terlantar, coba? Masalahnya, kalau Pulau Paus adalah pelabuhan ramai, sudah barang tentu bukan cuma satu kapal yang akan berlabuh. Dan masalah seperti ini tidak akan terjadi.

Killua sudah mempertimbangkan akan naik kapal tongkang yang membawa ikan dari pelabuhan ini ke daratan. Tapi rupanya kapal tongkang pun tidak datang, katanya berhubung laut sepi dalam beberapa hari terakhir, penjualan ikan sedang lesu mungkin hingga beberapa hari ke depan. Tentu saja ini salahnya, jadi ia juga tidak bisa protes. Tadi saja ia bertemu dengan nelayan yang mengeluhkan tiadanya tangkapan, dan bagaimana nasib anak-istrinya, jika kondisi ini terus berlanjut. Mau tak mau Killua merasa bersalah, dan berujung menyumbangkan lembar terakhir Jenny yang ia punya pada si nelayan malang.

Penderitaannya belum berakhir karena rupanya entah bagaimana akun rekening dengan nama palsunya terblokir, sehingga ia tak bisa menarik uang dari ATM ataupun bank. Dan ia jelas tak bisa memakai kartu kredit ataupun kartu Hunternya, berhubung yang ini sudah pasti diawasi oleh Milluki. Belum lagi, belakangan ia merasa dirinya dikuntit.

Itu pula yang membuatnya berakhir di sini: di sebuah sudut gang dekat pelabuhan, mengawasi kapal-kapal yang berjejer. Seandainya saja ia bisa meyakinkan seorang nelayan entah-siapa dengan cara entah-apa untuk menjual kapal padanya, entah dengan pembayaran apa...

"Wah, benar kata Kurapika, kau ada di sini," suara seseorang yang ia kenal menyapa dari sisi lain gang. Sesaat tubuh Killua menegang, instingnya menyatakan bahwa ia harus segera kabur. Tapi demi menyadari siapa itu, ia hanya menyurukkan wajah ke telapak tangannya, kemudian menoleh ke si empunya suara dengan mata memicing.

"Leorio...," katanya. "Tolong jangan bilang kau yang membekukan rekeningku dan membuat kapal tidak bisa berlayar..."

"Ah ya, tentu saja," dengan santainya Leorio mendekat. "Zodiac, kau tahu," ia berkata dengan enteng. "Tinggal bilang ada kriminal berkeliaran, dan aku harus mencegahnya kabur keluar pulau."

"Tapi rekeningku juga? Aku butuh hidup, tahu! Dari mana juga kau bisa tahu nama akunku, pula?" Haruskah ia bertanya? "Ah, Alluka..."

"Ya, ya, ya..."

"Dan yang membuatku dikuntit beberapa hari terakhir, kau juga?"

Leorio tidak menjawab, yang dengan sendirinya menjadi semacam konfirmasi.

"Kau tahu, itu namanya penyalahgunaan wewenang, tahu!" protesnya. "Kenapa kau tidak sekalian menaruhku di situs Blacklist Hunter, kalau begitu?"

"Hmmm, tadinya sih maunya begitu... Tapi anggap saja aku masih memandang persahabatan kita... Aku tahu keluargamu masih mencarimu."

"Cih, persahabatan apa! Kau benar-benar memperlakukanku seolah aku buronan!"

"Yang tidak salah, kan? Mengingat apa yang kaulakukan pada Gon... Gon tidak mau mengakuinya sih, bilang ia diserang beruang... Tapi kita bicara tentang Gon, jadi siapa yang percaya, ya kan?"

"Aku hanya menggoresnya sedikit!"

"Justru itu...," wajah Leorio mendadak terlihat serius. "Aku tidak tahu apa kau sadar hal ini, Killua. Apa kau tahu kalau cakarmu beracun?"

Mata Killua meremang. "Be-beracun?"

"Aku anggap kau memang tidak tahu, kalau begitu..."

Tentu saja ia tidak tahu. Sejauh ini cakarnya tidak dipakai hanya untuk melukai lebih lagi sekadar menggores, tapi membunuh. Tak pernah ada kasus korban hidup dari cakarnya, ataupun sekarat keracunan, karena mereka langsung mati detik cakarnya mengenai tubuh mereka. Mungkin orang yang pernah terkena cakarnya dan masih hidup hanya Kikyou dan Milluki, tapi toh mereka memang sudah kebal racun sejak awal.

Yang membuat semua ini wajar, sebenarnya. Nyatanya, ia toh memang mengonsumsi racun sejak bayi. Sejak meninggalkan rumah Zoldyck, memang asupan racunnya mengalami penurunan drastis. Tapi terus terang saja, beberapa jenis racun memiliki sifat adiktif, sehingga entah karena alasan itu atau karena alasan lain—mempertahankan ketahanannya terhadap racun, sebagai tindakan preventif kalau-kalau satu saat ada orang yang dendam padanya atau keluarganya dan memutuskan untuk meracuninya, misalnya—ia tetap mengonsumsi racun secara rutin walau dengan jumlah terbatas. Ah, apakah kalau begitu, semua yang ada pada dirinya beracun? Darah, keringat, urine ... uh, air mani?

Tapi ia tidak pernah mendengar kasus cakar beracun, kalau mau jujur. Racun biasanya diproduksi oleh kelenjar racun atau terkandung dalam saliva, yang akan terekskresi ke tubuh korban melalui luka. Karenanya biasanya hewan yang beracun mengalirkan racunnya melalui gigitan. Ia tahu platypus memiliki taji yang juga beracun, tapi taji itu berhubungan dengan kelenjar racun di kakinya. Apa ia juga memiliki semacam kelenjar racun di tangannya? Apakah ini genetik?

"La-lalu ... Ba-bagaimana ... Gon?"

"Racunnya kelihatannya belum benar-benar menjalar waktu ia datang, tapi kondisinya kian memburuk. Bagian yang tergores malah mulai membiru malamnya. Kurapika tidak bisa menyembuhkan racun dengan Holy Chain, kau tahu, jadi kami membawanya ke rumah sakit. Gon sudah beberapa hari ini tidak sadarkan diri."

"A-apa tidak ada penawarnya?"

"Kami bahkan tidak tahu racun apa itu. Kami hanya bisa melakukan yang terbaik."

"Seberapa besar ... kemungkinannya...?"

Ia tak bisa menyelesaikan kalimatnya. Seberapa besar kemungkinan Gon sembuh? Tidak, tepatnya seberapa lama kemungkinan Gon bisa bertahan?

Leorio tampaknya bisa membaca jalan pikirannya, karena ia menjawab, "Racunnya menyebar cepat. Dalam taraf ini, mungkin sekitar tiga hari?"

"Tiga hari?"

"Kalau ia mati, tentu saja, kau jadi terdakwa pembunuhan tingkat pertama dan kami terpaksa memburumu."

"Apa?"

"Kau tahu aturannya, Killua."

"Ta-tapi aku tidak sengaja!"

"Kau menyerang tanpa pemberitahuan dan tidak berhenti walau Gon tidak membalas, kata Alluka. Dia bahkan bilang kalau ia tidak menghalangi, kau mengancam akan memutilasi Gon."

"Alluka bersaksi melawanku?!"

"Maafkan aku, Killua..."

Tak bisa tidak, Killua tersuruk di tempatnya duduk. Gon sekarat ... karena dia, dan kini Alluka pun membencinya? Astaga, skenario macam apa ini?

"Tentu saja, jika kau tidak melawan, atau malah menyerahkan diri, aku akan pastikan kau mendapat keringanan," lanjut Leorio lagi. "Aku punya banyak koneksi, kau tahu."

Killua tak bereaksi.

"Yah, aku jelas takkan bisa melawanmu dengan kekerasan, jadi aku takkan mencoba menangkapmu atau memaksamu menyerah. Bukan berarti hunter lain takkan mencoba, sih... Aku tahu aku tak seharusnya bilang begini, tapi jika kau ingin bertemu Gon untuk terakhir kalinya... dia masih di rumah sakit, kamar 308."

"Kalian akan memasang jebakan untuk menangkapku..."

"Yah, seharusnya begitu... Tapi secara teknis, selama Gon masih hidup, namamu belum akan masuk Blacklist, jadi aku bisa pura-pura tidak melihatmu, tentu."

"Setelah itu?"

"Kita tak perlu membicarakan masa depan sekarang kan? Kau pasti tahu apa jadinya..."

Leorio tidak mengatakannya, tap sejujurnya, Killua pun tidak perlu bertanya tentang apa yang akan terjadi jika Gon tewas. Karena jawabannya hanya satu.

Jika Gon tewas, Killua akan langsung menjadi buronan. Bukankah tertulis di Peraturan Hunter baru hasil referendum, bahwa anggota Hunter yang mengancam hingga menghilangkan nyawa hunter lain, jika sang korban tidak melakukan tindakan kriminal, akan langsung dinyatakan sebagai terdakwa dan dihadapkan pada pengadilan? Masalahnya, seringkali pengadilan itu sendiri tidak terjadi, berhubung proses penangkapan tersebut berujung pada kematian.

Ah, apakah akan sampai sejauh itu? Jika Gon tewas di tangan Killua, sudah jelas Killua akan rela hati mengantarkan nyawanya pada Gon sebagai penebus dosa, dengan cakarnya sendiri.

Leorio tak berlama-lama sesudah mengatakan hal yang seakan membuat dunia Killua runtuh itu. Atau mungkin Killua sudah tak bisa merasakan apapun lagi, hingga ia tak mendengar apa yang Leorio katakan setelahnya.

Dan kini di sanalah ia: tersuruk di pojok sebuah gang, tak tahu apa yang harus ia perbuat. Lupakan soal keluar dari Pulau Paus. Bahkan jikapun ada kapal berangkat sekarang, ia tak bisa membuat dirinya bangkit.

Dua kali sudah Gon mengalami hal seperti ini. Permasalahannya sekarang, walau ada Nanika di sana, ia tak bisa serta-merta berharap Gon bisa begitu saja sembuh. Pasalnya, Nanika tidak bisa melakukan segalanya begitu saja. Untuk dapat melakukan mukjizatnya, Nanika harus memenuhi dua syarat: ia melakukannya berdasarkan permintaan seseorang atau Killua yang memerintahkannya. Ia tak tahu dan jujur tak ingin tahu seperti apa permintaan yang mungkin dikeluarkan Nanika sebagai konsekuensi pengabulan keinginan yang ia berikan sebelumnya. Tapi ini dia masalahnya: ia sudah memerintahkan Nanika untuk tak lagi meminta ataupun mengabulkan keinginan siapapun. Kalaupun ia melanggar janji tersebut, apa konsekuensi yang akan muncul nantinya?

Dan itu mengantarnya pada masalah lain: Kurapika dan Leorio. Bahkan setelah selama ini, Killua selalu menutup rapat rahasia Nanika dari mereka. Bukan cuma masalah janjinya pada keluarganya, ini juga berhubungan dengan kedudukan dua orang itu. Sebagai orang yang sama-sama punya pengaruh politis, mereka hidup dikelilingi orang-orang dengan kemampuan tinggi, sebagian malah berusaha mengincar nyawa mereka. Bukan terlalu berlebihan jika Killua takut orang-orang dengan kemampuan membaca pikiran seperti Pakunoda ada di antaranya.

Tapi sekarang keadaannya berbeda, kan? Gon lagi-lagi dalam bahaya, dan Alluka membencinya kini... Apakah masih ada kemungkinan Nanika akan menuruti perintahnya?

Ah, Alluka juga menyayangi Gon, kan? Mungkinkah Alluka kini bisa membuat permohonan sendiri untuk memulihkan Gon? Atau bahkan Nanika bertindak atas kemauannya sendiri?

.


.

Ini benar-benar bodoh, pikir Killua berkali-kali. Seluruh insting dan sel dalam tubuhnya menolak hal ini, memerintahkannya untuk lari, kabur dari pulau ini sesegera mungkin, berenang jika perlu. Tapi itu toh tak menyurutkan langkahnya untuk menembus lorong-lorong gelap dan kerumunan pepohonan yang mengantarnya menuju rumah sakit satu-satunya di Pulau Paus.

Bangunan yang dikatakan sebagai rumah sakit itu tidak dapat dikatakan besar, meski bisa digolongkan sebagai satu dari lima bangunan terbesar di Pulau Paus. Arsitekturnya yang bergaya Neoklasik menyatakan bahwa bangunan itu berasal dari era kolonial, sewaktu Pulau Paus masih menjadi wilayah jajahan salah satu negara di Benua Yorubia.

Ia menunggu tirai malam turun untuk keluar dari pekatnya tudung pepohonan, lantas menyelinap ke dalam rumah sakit. Dari hasil pengamatannya, jam penggantian shift perawat jaga dimulai sebentar lagi. Kemudian, dengan melumpuhkan seorang perawat jaga yang sedang sial dan mendudukkan tubuh pingsannya di toilet, ia pun berganti pakaian dan memasuki koridor.

Ia tahu langkah yang ia ambil sangat ceroboh. Lebih mudah baginya mengaktifkan Kanmaru dan mencari kamar Gon. Tapi ia juga tahu ada kemungkinan Kanmaru-nya dapat berimbas pada lonjakan listrik statis atau semacamnya, atau mungkin mengeluarkan gelombang elektromagnetik—siapa tahu, kan?—dan ia sungguh tak ingin mengambil resiko kekuatannya merusak peralatan apapun di rumah sakit ini. Terlebih karena saat ini ia tidak tahu apakah Gon bergantung pada peralatan seperti itu.

Kamar nomor 308 yang dikatakan Leorio berada di ujung lorong. Sejauh yang Killua lihat (ia sudah sekitar tiga kali mengecek), tidak ada penjagaan yang berarti di sana. Mungkin memang benar Leorio melepaskan penjagaan demi memberi kesempatan Killua untuk menyampaikan selamat tinggal, tapi bisa jadi kan ini jebakan, dan diam-diam nanti ia disergap begitu mendekat? Killua mungkin mantan pembunuh bayaran, tapi di situlah kata kuncinya: 'mantan'—ia jelas tidak pernah melakukan serangan diam-diam selama tiga tahun terakhir, berhubung kerjaannya hanya rekreasi. Ia memang masih mampu menghindari Illumi, yang berarti kemampuan bersembunyinya masih terasah, tapi untuk urusan lain, ia jelas aus dan karatan. Kalau Illumi yang menebar jala dan bersiap-siap menyergapnya sekarang, sudah jelas ia akan mati.

Masa bodoh, pikir Killua akhirnya. Toh ia memang akan mati menyusul Gon, kan? Atau lebih baik, bagaimana jika ia langsung saja menyerahkan dirinya setelah ini? Mungkin Leorio menepati janjinya, dan setidaknya ia akan diberi kesempatan untuk mengatakan selamat tinggal pada Gon sebelum menghadapi pengadilan yang jelas akan mengirimnya ke hadapan regu tembak. Killua lebih memilih kematian yang panjang dan menyakitkan, kalau mau jujur, jika setidaknya dengan itu ia bisa menebus dosanya dan mampu menegakkan kepala kala menghadap Gon di dunia lain kelak. Atau lebih baik: mungkin Leorio akan menaruh belas kasihan padanya dan membiarkan seseorang membunuhnya di tempat begitu Gon tewas. Lebih cepat lebih baik, bukan?

Rupanya tak lagi memikirkan mengenai keamanan dirinya sendiri sangat melegakan, begitu pikir Killua, tatkala memutuskan tak ambil peduli dan melangkahkan kaki sepanjang koridor ke arah kamar Gon. Tak ada siapa-siapa ketika ia membuka pintu kamar VVIP itu, tempat itu begitu sunyi dengan hanya suara detak jantung di mesin dan dengung ventilator memenuhi ruangan sebagai latar belakang. Lamat-lamat Killua berjalan mendekati tempat tidur Gon, berusaha keras menabahkan dirinya untuk melihat kondisi sahabatnya.

Kejadian tiga tahun lalu, ketika ia memandang tubuh Gon yang tak berdaya dari balik kaca, ketika ia menggenggam tangan Gon yang kering bak mumi, kembali membayang di depan matanya. Ia tadinya mengira itu adalah mimpi buruk yang terburuk, takkan ada yang lebih buruk dari itu. Takkan ada yang lebih buruk dari tubuh Gon yang tinggal tulang berbalut kulit yang kering menghitam karena seluruh Nen-nya terkuras, hanya bisa bertahan hidup dengan bantuan ventilator, dengan harapan hidup yang nyaris nihil hingga Nen-exorcist saja menyerah, bukan? Tapi rupanya itu tidak seberapa dibanding hal ini.

Karena yang dulu itu terjadi setelah pertempuran heroik Gon, tak lain melawan musuh terkuat di seluruh jajaran Pengawal Kerajaan para Semut Chimera. Tapi yang ini? Ini tak lain adalah salah Killua. Dan sungguh, ia tak punya alasan, sama sekali. Apa katanya di persidangan nanti, ketika hakim menanyainya mengenai motifnya melakukan ini pada sahabatnya sendiri? Karena ia cemburu hingga gelap mata melihat kedekatan Gon dan adiknya? Huh, kiranya tak cukup jika ia disiksa hingga mati di dunia. Mungkin di akhirat nanti ia akan disula di tiang pancang, sementara arwah Gon dan ribuan orang yang pernah ia bunuh memakan anggota tubuhnya satu per satu. Dan setiap kali, dagingnya akan tumbuh kembali, menyiapkannya sebagai santapan berikutnya.

Tubuh Gon yang terbujur di atas tempat tidur menyambutnya, menjadi saksi atas dosanya. Tubuh itu terbalut selimut, tapi Killua bisa melihat perban yang ketat membalut dadanya. Dalam penerangan lampu kamar yang temaram, Killua bisa melihat bibir Gon yang ungu kehitaman. Sekujur wajah, leher, dan tangannya yang tak tertutup selimut berwarna biru keunguan, pertanda racunnya sudah menyebar. Alat pendeteksi detak jantung yang dipasang di samping Gon mengeluarkan bunyi bip-bip lambat … terlalu lambat...

Di ruang itu ia tak melihat Alluka, di mana dia? Apakah ia tak bisa menolong Gon? Killus selalu menekankan pada Nanika untuk tak menggunakan kekuatannya lagi atau membongkar kekuatannya pada orang lain, tapi masakah Alluka takkan menentang aturan jika ini menyangkut nyawa Gon? Tak mungkin kan, ia tak memberi tahu Leorio dan Kurapika? Jikapun memang kekuatannya takkan muncul jika tidak melalui proses 'tiga permintaan' itu, masakah Leorio atau Kurapika takkan melakukan apapun untuk membantu Gon? Permohonan terakhir yang diajukan pada Nanika melalui mekanisme 'permintaan' adalah menyembuhkan Tsubone, itu berarti permintaan Nanika takkan macam-macam, kan?

Kalau Alluka tak bisa menolong Gon, mengapa? Apa karena Gon pernah dibangkitkan oleh kekuatan Alluka? Nyawa Gon yang sekarang bisa dikatakan adalah pinjaman, apakah itu berarti Alluka hanya bisa menolong seseorang yang di ambang kematian sekali saja?

Tapi Alluka mencintai Gon. Jikapun ia tak bisa membantunya, seharusnya ia ada di sini, kan? Ah benar, Leorio bilang ia akan memberi kesempatan pada Killua... Tapi seharusnya tak masalah membiarkan Alluka di sini, kan? Apa Leorio takut Alluka akan mengamuk melihatnya dan membuat keributan?

Adakah jalan keluar bagi hal ini? Ia akan melakukan apapun... Apapun...

"Gon," bisiknya. "Maafkan aku... Sungguh, maafkan aku... Aku benar-benar tak punya cara untuk menebusnya. Tapi jika kau bersedia menungguku sebentar saja di sana, aku pasti akan menyusulmu..."

Cukupkah itu? Apakah Gon akan bahagia dengan itu?

Bunyi dari mesin monitor denyut jantung mendadak meningkat secara cepat, namun sebelum Killua sempat menekan tombol panggil—ia sudah tak peduli apapun lagi kini—denyut itu mencapai puncak, sebelum pudar dalam garis panjang.

Killua jatuh terpuruk di sisi ranjang Gon. Pilu menyesaki dadanya begitu rupa hingga ia tak mampu bernapas.

"Gon... Oh Tuhan, Gon..."

Otaknya menyuruhnya untuk menekan tombol panggil. Langsung berlari keluar mencari perawat. Dokter. Apapun. Tapi tubuhnya menolak. Jangan kata berdiri, ia bahkan tidak dapat menggerakkan tangannya.

Setetes, dua tetes, dan lantas air mata mulai mengalir bebas tanpa mampu ia bendung.

"Gon...," bisiknya dengan suara bergetar. "Gon, kumohon kembalilah... Aku akan melakukan apapun... Jika aku bisa memutar waktu, aku akan melakukan apapun... Oh brengsek, aku bahkan akan menerima hubunganmu dengan Alluka... Kumohon, Gon, kembalilah..."

"Aku mendengarmu, Killua...," mendadak terdengar suara dari atasnya. Sesaat Killua membeku. Apa artinya itu? Apakah itu suara malaikat, ataukah roh Gon bicara dalam kepalanya? Apakah ia mulai berhalusinasi?

Tapi kemudian suatu sentuhan hinggap di tangannya, dan Killua mengejit. Sentuhan itu tidak dingin... Ia memberanikan diri mengangkat kepala, dan...

Di hadapannya, duduk di atas tempat tidur, tampak Gon dengan tubuhnya yang biru, memandang padanya dengan seringai yang tak terlukiskan.

Tak pelak, Killua berteriak dan mundur ke belakang. Apa ini? Zombie? Hantu? Apa Gon mendendam padanya dan menghantuinya?

Hantu-Gon turun dari tempat tidurnya, mencabut kabel dan selang dari tubuhnya dan melangkah mendekati Killua.

"Killua...," tangan Hantu-Gon terjulur ke arahnya. Killua sudah tak punya daya lagi untuk bergerak, tubuhnya terpaku di tempat sementara matanya membeliak nanar menatap sosok zombie itu. Apa yang akan terjadi? Apa yang ia inginkan?

Tangan hantu itu kian mendekat...

"Killua..."

Mati di tangan Hantu-Gon yang mencekiknya hingga ia kehabisan napas mungkin bukan rencana Killua untuk mati, tapi itu jelas bukan masalah. Dengan begini, Gon akan dapat membalaskan dendamnya dengan tangannya sendiri. Mungkinkah dengan begitu, ia akan termaafkan?

Killua menutup mata.

Ia bisa merasakan napas hangat di wajahnya, tangan yang terjulur melingkari lehernya, tubuh yang kian mendekat...

Lantas tangan itu melampaui lehernya, melingkari bahunya, dan tahu-tahu saja, sosok itu menariknya dalam pelukan yang ketat. Ini saatnya, pikir Killua, ketika bayangan seekor semut Chimera yang cangkangnya retak oleh kekuatan Gon mendadak melingkupi pikirannya. Ia membuangnya jauh-jauh, memasrahkan tubuhnya pada rengkuhan pemuda itu. Mungkin jika ia menumpulkan rasa sakit dan ketakutannya, serta berkonsentrasi pada masa-masa indah dalam hidupnya, ia takkan merasakan rusuknya patah menembus jantung dan paru-parunya, serta dapat pergi ke dunia sana dalam buaian sensasi pelukan hangat Gon di tubuhnya.

Mati dalam pelukan Gon, apa lagi jalan kematian yang lebih baik dari ini?

"Killua!" bukan kontak tubuh itu, melainkan seruan Gon—yang anehnya terdengar riang—membuat Killua sontak membuka mata.

Di hadapannya, sosok Gon menjelma dengan tawa lebar terkembang di wajahnya. Bukan seringai mengerikan yang tadi ia lihat, melainkan senyum lepas yang ia kenal selalu terpampang di wajah sahabatnya. Di atas wajah yang pucat dan kebiruan, senyum hangat tersebut tampak bak sebuah anomali, tapi justru itu menunjukkan persona Gon yang ia kenal.

"G... Gon?"

Sosok di hadapannya mengangkat tangan, lantas menggosok wajah dengan lengan piyamanya.

"Hyaaaahhhh, leganyaaaaaa!" serunya, seraya menurunkan lengan piyamanya yang kini sudah berubah warna. Di depan Killua, mendadak wajah hantu-Gon bertransformasi menjadi wajah yang ia kenal—dengan kulit tan yang sehat dan bibir yang kemerahan.

"G-Gon?"

"Hei Killua!" Gon menyunggingkan tawa seraya merentangkan tangannya lebar-lebar. "Kejutaaaaannn! Aku masih hiduuupppp!"

Saat itu juga kesadaran menghantam Killua, membuatnya menyurukkan wajah ke telapak tangan. "Kalian menjebakku..."

"Hehehe...," cengiran Gon yang tak tahu malu sungguh membuatnya ingin menonjoknya.

"Cih," ia ingin mengutuk dirinya. Mantan pembunuh bayaran macam apa, bisa jatuh hanya dengan jebakan beginian? Mungkin ia memang sudah aus dan berkarat...

"Alluka pintar ya merias begini... Aku benar-benar tidak menyangka," Gon menyeka sisa make up di wajahnya. "Kupikir pasti ketahuan, tidak kuduga kau benar-benar tertipu."

"Jadi semua ini..."

"Yup. Leorio punya kenalan di sini, jadi ia merancang jebakan ini. Kurapika tadinya menolak, bilang ini keterlaluan dan kau jelas takkan tertipu, apalagi pakai make up kan riskan kelihatan palsunya... Makanya kami mematikan lampu juga... Tadinya aku sempat khawatir itu akan jadi bagian yang justru merusak rencana, bagaimana ceritanya lampu kamar pasien yang sedang sekarat dimatikan, kan? Tapi Leorio bilang Killua pasti terlalu kalut untuk bisa memikirkan semua dengan kepala dingin..."

Yang benar, kalau mau jujur. Killua sungguh ingin menampar dirinya.

"Lalu soal monitor detak jantung?"

"Oh, itu rekaman...," kata Gon santai. "Lihat? Kabel ini tidak dihubungkan ke monitor...," ia menunjuk kabel yang tidak dicolokkan dengan benar. Sial. Kenapa ia tidak memperhatikan detail seperti itu? Sungguh memalukan.

"Dan suhu tubuhmu yang dingin?"

"Aku memegang balok es lama sekali, sejak Kurapika mengonfirmasi bahwa kau sudah sampai di sini, dan memang ada orang mencurigakan mundar-mandir. Tanganku sampai serasa beku, tahu!"

Brengsek. Ia benar-benar bisa termakan jebakan bodoh begitu? Ah, tunggu. "Kurapika? Apa maksudmu?"

"Yah, tahulah... Ia kan pakai Dowsing Chain-nya, jadi ia bisa meramal di mana Killua berada."

Tolol. Tolol. Tolol. Kenapa ia lupa bagian itu?

"Yang jelas, benar yang kau katakan tadi kan, Killua? Kau akan melakukan apapun?"

Killua hanya bisa mendelik.

"Kau akan merestui hubunganku dengan Alluka?"

"Brengsek. Semua ini ujungnya itu ya? Bodoh!" ia mengambil ancang-ancang memukul Gon. Yang dipukul hanya menghindar sambil tertawa-tawa.

"Aku janji aku akan menjaga Alluka dengan penuh tanggung jawab. Serius deh, Killua. Aku mana mungkin berani mempermainkan Alluka?"

Killua memasang tampang mengancam. Tapi bukannya takut seperti seharusnya, pemuda di hadapannya justru tersenyum.

"Lagipula, kalau Alluka menangis, Killua pasti sedih kan? Aku tidak ingin Killua sedih..."

Jelas Gon sudah sangat paham cara memanipulasi sahabatnya, karena hanya dengan sedikit perubahan nada kalimat saja, Killua langsung meleleh. Terlebih ketika Gon menghampirinya, mengalungkan tangan di bahunya, dan membawa Killua dalam pelukannya.

"Maafkan aku ya, Killua…," bisiknya di telinga Killua, membuat bulu kuduk Killua menari.

Killua ingin marah. Dia berhak marah. Tidak ada yang menyalahkannya jika ia mendorong Gon, memakinya karena berani-beraninya melakukan hal seperti ini, lantas meninggalkannya dan tak mau mendengar apapun lagi darinya. Tapi mana mungkin ia melakukan itu, ketika di benaknya hanya ada rasa syukur dan terima kasih yang meluap-luap. Gon hidup. Oh Tuhan, ia masih hidup…

"Tidak," ujarnya, mati-matian menahan jantungnya tetap stabil. Gon ada begitu dekat, terlalu dekat… "Aku yang seharusnya minta maaf."

"Bukan salah Killua. Ini salahku, aku yang kurang ajar, mengira tidak apa-apa melakukan hal seperti itu tanpa minta izin dulu darimu. Aku tahu Killua hanya berusaha melindungi Alluka... Aku tahu sebagai kakak, wajar jika Killua membenci serangga yang mendekati adiknya. Tapi aku sayang Alluka, aku juga sayang … sayang sekali dengan Killua. Killua adalah sahabatku nomor satu. Aku tidak mau gara-gara semua ini, Killua jadi membenciku…"

Ia mengatakan semua dengan lembut dan penuh perasaan, dan apalah Killua jika tak selalu dan selalu menyerah pada keinginan sahabatnya?

"Huh," gumamnya. "Aku memang tidak bisa bilang tidak, kan?"

"Jadi Killua merestui?" Gon berseru girang dan melepaskan Kllua dari pelukannya. Wajahnya lebih cerah dari mentari. "Benarkah? Yeaaaayy! Terima kasih, Killua!" dan dengan itu, ia mendaratkan kecupan di pipi Killua.

Jelas, semua naik-turun emosi yang sangat ekstrem dalam beberapa hari terakhir pada akhirnya berdampak pada kondisi fisik bahkan mental Killua. Kekuatan transfigurasinya pasti menyerang dirinya sendiri, karena sedetik ia merasa seluruh sinapsis neuron di otaknya memercikkan api, lantas seluruh dunianya mendadak gelap. Diiringi teriakan panik Gon, Killua pun tumbang.

.


.