Judul : Saigo no Natsuyasumi..

Chapter : 6

Genre : Romance, hurt/comfort, Milf, mature, AU dan OOC.

Disclaimer : Masashi Kishimoto dan Sakurako kimino

Crossover : Naruto x Lovelive sunshine

Pairing : Naruto x Chika

Rating : M

A/N :
Jadi di chapter kali ini, mereka akan kebablabasan bikin baby.. Jangan tiru ya~ jika anda ngebet karena fict ini, saya sarankan pasangan anda jdiin mahram dlu.. pikirkan masa depan yg indah terutama karir anda, agar tak menyesal nantinya.. terutama kalian yg masih sekolah! :v (karena punya istri dan anak itu biayanya tak murah..)

.

.

.

.

.

.

.

WARNING!
18+ story, rape, not children..

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Dimana Naruto dan Chika-chan..?" tanya Minato begitu muncul di ruang makan untuk makan siang, dia tak melihat penampakan putranya dan putri bungsu keluarga Takami.

"Ah mereka pergi keluar.." jelas Kushina sambil meletakkan lauk-pauk makanan di meja.

"Benar, belakangan ini mereka sedang lengket sekali bukan.. ahaha!" Jelas seorang ibu rumah tangga dari keluarga Takami yang tersenyum penuh arti, lalu tertawa aneh bersama Kushina entah maksudnya apa.

Minato hanya tersenyum canggung melihat kedua ibu rumah tangga itu yang nampaknya sangat akrab. Minato sudah menebak kedua wanita itu memang berniat menjadi besan dengan menjodohkan anaknya yang sedang dimabuk cinta.

.

.

.

.

.

Naruto pov*

"Ha.. ah.. Chika-nee.. ssst.."

"Mmmn.. hh.. hmnhnn.."

Kami sering mendapat teguran di penginapan, akhirnya kami melakukannya di luar. Aku ingin terus melakukannya dengan Chika-nee, aku melihatnya yang mengulum kejantananku yang memasuki rongga mulutnya. Kepalanya dia gerakan maju-mundur sehingga kejantananku terasa dihisap. Mungkin dia berkata untuk tidak terlalu sering melakukannya, tapi dia tidak pernah menolak setiap kali aku terangsang. Kalau begini aku malah jadi ketagihan.

"..Ahh~" Dia mengeluarkan kejantananku dari mulutnya yang nampak terlumur oleh air liur lalu lidahnya berputar di kepala kejantananku, wajahnya yang memerah mendongak menatapku.

Ini pertama kalinya kami melakukannya di luar, dia melakukan oral ketika mengajakku ke bawah jembatan besar ketika kami berjalan-jalan di pinggir pantai. Aku menutup mataku ketika kejantannanku kembali masuk ke dalam rongga mulutnya, lalu tanganku mendorong kepalanya untuk memperdalam kulumannya hingga seluruh batang kejantananku. Rasanya sama seperti ketika dia melakukan seks, hanya saja dia menggunakan bibirnya.

"Agh.. itu enak, Chika-nee..!" Dia bergerak maju-mundur lebih cepat begitu tahu kejantananku berkedut, sampai aku merasa akan segera mengeluarkan hasratku.

"Chika-nee, aku datang..!" Aku memperdalam kulumannya ketika aku menyemburkan spermaku di dalam mulutnya, aku menahan kepalanya untuk tidak melepas kejantananku, dia terasa meneguk sperma itu dengan pasrah.

Plop.. terdengar bunyi plop ketika dia melepaskan kejantananku dari mulutnya, tangannya kemudian mengocok kejantananku, bahkan lidahnya lanjut menjilat kedua bola di bawahku. Bibirnya menunjukkan senyum seakan menggodaku.

"Ufufu~ aku menelan semuanya.. itu sangat banyak.. mnm.." dia kemudian menjilat batangku dari bawah ke atas.

Kemudian dari kejauhan terdengar suara berlari dan tawa ringan sekelompok anak yang menuju ke arah kami dari atas jembatan, aku dan Chika-nee langsung menoleh ke arah tersebut dengan terkejut.

"Oh, itu anak-anak.. kita harus menjauh.." aku berbisik pelan.

Chika-nee langsung berdiri di depanku, dia mendekat dengan berjinjit untuk mencapai telingaku. Dia berbisik dengan suara lirih.

"Hey, ayo kita pergi ke tempat lain.. kau masih belum cukup, 'bukan~?" Bisiknya yang kemudian meniup telingaku, yang seketika membuatku merinding. Sekarang dia terlihat lebih berani menggodaku.

Aku tersenyum, "Sekarang kau lebih berani menggoda, hm~?"

Aku menekan kemaluan dengan tanganku yang membuatnya mendesah, "Ahn~"

.

.

.

.

.

Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke tempat yang terpencil. Kami naik bis hingga sampai di daerah perbukitan. Kami memasuki daerah perkebunan hingga masuk ke pinggir hutan dan menemukan gubuk kayu yang sudah tidak digunakan.

Dan di sinilah kami, dengan tubuh polos yang sudah bermandikan keringat karena udara musim panas. Aku meremas dada besar Chika-nee yang membusung di bawahku. Aku menghirup bau di antara buah dadanya yang menggoda. Sambil meremas dada sebelah kirinya aku mengemut kuat dada bagian kanannya yang membuatnya mendesah semakin keras.

Aku hanya mengikuti desiran hasrat yang aku inginkan. Memainkan kedua buah mochi lembut itu yang puncak pinknya mencuat karena rangsangan. Aku memutarnya dengan tanganku, sesekali menekan dan memelintir puncaknya. Aku memutarkan lidahku di atas puncaknya yang mengeras, lalu menghisapnya dengan kuat. Aku melakukannya dengan bergantian dari kedua buah dada Chika-nee.

"Aaahn!" Chika-nee mendesah begitu aku membuka lebar selangkangannya dan langsung membiarkan lidahku menari-nari di liang senggamanya, aku memutar lidahku di sana hingga basah. Rasa Chika-nee benar-benar membuatku ketagihan, aku tidak bisa berhenti melakukannya.

Dia memalingkan wajahnya yang memerah ketika aku memasukan lidahku yang mengobok liang senggamanya, "..I-itu.. hnn~ enak~ Ah.."

Aku melirik ke atas tepat pada wajahnya, "Apa ini terasa enak untukmu..?" Lidahku berpindah pada menjilat biji kecil pada kemaluannya.

"Kyahh~" matanya menjadi sayu dan dia tersenyum seakan menikmatinya.

Aku berhenti menjilatnya lalu menunjukkan kejantananku yang sudah menegang di hadapannya, "Chika-nee, aku akan memasukannya.." wajahnya memandang kejantananku dengan malu-malu, namun dia membuka lebar kakinya dengan menahan pahanya dengan tangannya.

"Kalau begitu, buat aku merasa kenikmatan juga.." jelasnya menatapku dengan pasrah, sial hari ini dia penurut sekali, bahkan dia tidak mengomel seperti biasanya.

"Aku akan masukan sekarang.." aku langsung memposisikannya kejantananku pada liang senggama Chika-nee yang sudah sangat basah, menggeseknya di sana untuk menggodanya.

"Mmmnnn~" Chika-nee bergumam saat aku melesak masuk kejantananku, dia menatap nakal padaku dengan wajah meronanya yang sudah seperti tomat, "Ah~ luar biasa, bagian dalamku terasa dipenuhi kehangatan, Naru-chan~"aku menunduk ketika tangan Chika-nee menarik kepalaku sehingga wajah kami berdekatan.

"Apa Chika-nee enak? Aku bisa melihat wajahmu yang lebih menikmati ini dari sebelumnya~ hari ini kau bisa menikmatinya sampai puas~" kilatan mata Chika-nee sudah memperlihatkan dia sangat bernafsu, bahkan dia tak segan-segan melakukannya di gubuk tua ini.

Aku menyeringai melihatnya yang berubah menjadi wanita nakal untukku, "Un.. melakukannya tanpa pengaman ternyata benar-benar enak, Ochinchin-ku sampai meleleh di dalam, Chika-nee~!" Dalam sekali hentakan aku langsung melesakkan kejantananku masuk hingga seluruhnya terbenam di dalam otot liang senggama Chika-nee yang mencengkram erat milikku.

"Kyaan~" Chika-nee berteriak dengan nada menggoda, "Ah.. ah! Ah! Sugoi..! Ahn! Ochinpo-mu bergerak menggosokku.. ah, Naru-chan~ Chika-nee suka ini, ah! Ah!" Dia mendesah hebat begitu aku bergerak memompa tubuh berisinya, dadanya bergoyang-goyang mengikuti irama gerakanku.

Kejantananku terasa dimanjakan, aku tidak bisa berhenti menggerakkan pinggangku. Aku terkejut ketika kepala Chika-nee langsung maju dan bibirnya menyentuh bibirku dengan lembut, ibu jari tangannya mengusap pipiku lembut.

Ah, ciumannya sudah lebih hebat. Dia memainkan lidahnya di dalam mulutku, bergerak memutar atau sesekali menghisap lidahku. Tangannya memijat kepalaku seakan menikmatinya. Aku menjulurkan lidahku ketika dia menghisap ujungnya, aku melihat wajahnya yang menggoda di bawahku.

"Ah.. Naru-chan, kau sangat manis.."

"Kau pikir begitu? Wahh.."

"Iya, itu membuat Chika-nee tidak tahan untuk memakanmu~ mmnm~" ibu jari Chika-nee masuk ke dalam mulutku, dia melebarkan mulutku ketika ibu jarinya bergeser ke samping lalu menjilat bibir dan bagian dalam mulutku dengan agresif.

Jilatan Chika-nee berpindah dari bibir ke dagu hingga turun ke leherku, seakan dia menghapus peluh akibat persetubuhan kami di cuaca sepanas ini, tangannya juga sudah mulai berakhir dengan memilin puting dari dada bidangku.

"Uagh!" Aku sampai kewalahan dibuatnya sekarang, namun aku tidak mau kalah dan tetap menggerakkan pinggangku untuk mendorong kejantananku ke dalam liang kenikmatan Chika-nee yang benar-benar sudah becek hingga menimbulkan bunyi kecipak ketika aku menabrak selangkanganku di sana.

Aku kemudian terbangun dari posisi dimana Chika-nee menggapaiku, aku melebarkan selangkangannya dengan tanganku yang menggenggam erat pergelangan kakinya hingga dia terpaksa sedikit mengangkat bokongnya. Aku menyodoknya dengan lebih kuat hingga dia mendesah kencang dan tak berdaya. Aku berhenti setelah lebih dari 3 menit lalu menghentakkan pinggangku memperdalam kejantananku di dalam liang senggamanya.

"A-aku hampir sampai Naru-chan, AAAH! kimochii..!" Chika-nee berteriak kencang begitu aku mengeluarkan cairan putihku bersamaan dengan klimaksnya ke dalam tubuhnya, aku mengeluarkan kejantananku dari dalamnya hingga membuatnya ambruk seketika dengan nafas tersenggal-senggal.

Meskipun dalam keadaan lelah Chika-nee justru malah meremas dada besarnya sendiri lalu menunjukkannya padaku, dia tersenyum ketika melihat kejantananku kembali bangun, dengan wajah memerahnya dia menatap menggoda padaku dia menyodorkan dadanya ke depan seakan menawariku untuk bermain dengan gundukan besar itu.

"Oppaiku juga, setubuhi aku sambil jilat oppaiku.. Naru-chan~"

Aku menenggak ludahku sendiri melihatnya yang terlihat sangat menggiurkan. Aku langsung kembali membuka selangkangannya yang meluber cairan dari persetubuhan kami tadi. Aku kembali memasukan kejantananku ke dalamnya lalu langsung bergerak keluar-masuk dengan penuh semangat. Aku menurunkan tubuhku hingga wajahku tepat di atas dada Chika-nee yang membusung di hadapanku.

"Baiklah, aku akan melakukan apa yang kau minta.." jelasku.

Aku menjilat salah satu puncak dari dada sebelah kanannya, memutar lidahku di sana untuk merasakan tonjolan kecil yang terangsang oleh perlakuan dari lidahku, sesekali aku mencium lalu menggigit, dan melahap benda kenyal itu di dalam mulutku dan menghisapnya dengan kuat, pemilik dada besar itu mendesah keras saat hal itu merangsangnya.

Aku melakukannya bergantian antara kedua buah dada besar itu. Tanganku juga meremas dan memilin puncaknya. Kedua tanganku menangkup kedua buah dadanya, menariknya ketengah hingga kedua puncaknya menempel di tengah, aku langsung menjilatnya secara bersamaan.

"Nnm!" Gumam Chika-nee yang menatap perlakuanku pada dadanya.

Aku melepaskan permainanku pada dadanya lalu bertanya padanya sambil meremas kedua buah dadanya, "Bagaimana itu terasa, huh?"

"Ahn! Ah.. i-itu sangat kotor dan membuatku merasa aneh, sangat ecchi! " dia melihat ke bawah dimana persetebuhan kami sedang berlangsung, "Karena itu.. uh! Lagi dan lagi membuatku terangsang, Ahn! Ah! Ah!" Mendengarnya membuatku semakin bersemangat untuk terus menyodok kejantananku pada liang senggamanya, yang semakin basah karena permainan penuh semangat kami.

Chika-nee sudah berubah menjadi wanita mesum meskipun 3 minggu yang lalu dia masih bersikap normal, ini buruk. Aku berpikir aku mulai kecanduan terhadapnya.

"Kyah!" Aku mengangkat tubuhnya ke dalam gendonganku, Chika-nee langsung mengalungkan kedua tangannya di leherku agar tidak terjatuh. Aku menahan tubuhnya dengan memegang bokongnya, aku langsung bergerak naik-turun dan membuat tubuh Chika-nee berguncang-guncang, kadang aku mengubah gerakanku menjadi maju-mundur dengan cepat. Chika-nee sama sekali tidak protes, dia malah senang dan mendesah lebih keras.

"AH~~! Ah! Ah! Ah.. sugoi! Ochinpo-mu bahkan lebih dalam dari sebelumnya!" Chika-nee memelukku lebih erat, dia berbicara di samping telingahku dengan jelas, "Kau menggesekkan Ochinpo dengan menaik-turunkan tubuhku, aku menyukainya! Ahn! Ah~ aku senang melakukannya denganmu, Naru-chan~!"

Aku mulai merasa liang senggama Chika-nee mulai mencengkram erat kejantananku, begitupun denganku yang merasa akan segera mencapai puncak, aku bergerak lebih cepat dan mendengar Chika-nee yang menyebut namaku dengan keras.

"Ah.. ah~ Naru-chan! Naru-chan! Ahn~ tidak apa-apa, keluarkan di dalam.. Naru-chan~" tangannya meremas belakang leherku karena gemas.

"Agh.. Chika-nee! Chika-nee! Chika-neechan~! Aku keluar..!" Aku langsung menghentakkan kejantananku ke dalam.

"AAAAHN~!" Desahan keras Chika-nee menjadi penanda aku kembali mengeluarkan cairan putih itu di dalam tubuhnya yang masih di dalam gendonganku, cairan cinta kami meluber hingga menetes ke bawah.

Aku menurunkan kaki Chika-nee yang sudah kelelahan akibat permainan seks kami yang melelahkan, tubuh Chika-nee tergeletak lelah di bawah lantai. Tapi, tidak denganku aku masih ingin melakukannya. Ketika Chika-nee membalikkan tubuhnya aku langsung menarik bongkahan bokong berisinya untuk menungging, hal itu membuatnya terkejut terutama ketika dia melihat kejantananku yang masih tegak di hadapannya.

"Eh?! Naru-chan, kau mau lagi?"

"Tidak masalah, 'bukan? Kau sendiri bilang aku bisa melalukannya sampai puas, huh?" Aku menggesekkan kejantananku kembali di bibir kemaluannya yang basah.

"T-tapi, aku capek.."

"Gomen naa, aku sudah tidak bisa menahannya lagi..!" Aku langsung melesakkan kembali kejantananku ke dalam.

"AAAAAUUUH~" Chika-nee mendesah panjang, desahannya semakin indah ketika aku kembali bergerak keluar-masuk dengan cepat, aku menarik Chika-nee hingga menempel di tembok yang membuatnya berpegangan di sana sembari aku semakin gencar menggerakan pinggangku.

Aku meremas bokong berisi Chika-nee dengan gemas, terkadang melebarkannya untuk melihat kedua lubangnya yang menggiurkan.

"Uwoh! Ini sangat ketat, Chika-nee..! Itu mendorong kembali Ochinchin-ku!" Aku mengeluarkan kejantananku hingga hanya kepalanya yang berada di dalam, lalu aku kembali memasukannya dengan keras.

"Ahn!" Chika-nee berteriak dengan guncangan itu, aku kemudian mengangkat satu kakinya hingga dia hanya berdiri dengan satu kaki, lalu menahannya di atas dengan menggenggam erat pahanya.

Aku menggerakkan pinggangku hingga tubuhnya berguncang-guncang dengan buah dada bergoyang dengan kencang, "Tunggu! Tunggu, Naru-chan!"

"Sugoi..! Tubuhmu memang yang terbaik Chika-nee..!"

"Aaaahn!" Aku kembali mengeluarkan cairan putihku di dalam Chika-nee, "Oh tidak, kau mengeluarkannya di dalam lagi.." aku melepaskan kembali kejantananku yang membuat cairan putih kembali meluber dan mengalir menuruni paha Chika-nee.

Chika-nee mulai terlihat lemas, dia merangsek ke bawah sambil menyenderkan kepalanya di tembok. Ini belum cukup, aku masih menginginkannya. Namun, aku terkejut ketika merasakan jilatan hangat pada kejantananku, aku melihat wajah Chika-nee yang mulutnya mengulum kepala kejantananku dengan memutar lidahnya di dalam sana. Dia memperdalam kulumannya lalu kepalanya bergerak maju-mundur. Ouh, dia benar-benar menguras hasratku.

Setelah itu, kami terus menerus melakukannya berkali-kali. Setiap kali merubah posisi aku akan mengeluarkannya di dalam Chika-nee.

Ketika kami di posisi doggy style,

"Ah! Ah~ kimochi..!"

"Aku keluar, Chika-nee..!"

"Lakukan.. ah! Aaahn..!"

Ketika kami berganti posisi woman on top,

"Aku hampir sampai.. ahn! Ah~"

"Kita lakukan bersama, Chika-nee..!"

"Aaahn! Cairanmu sangat panas..!"

Sampai akhirnya, kami berganti pada posisi duduk berhadapan. Aku menaik-turunkan tubuh kami sampai aku mendorong Chika-nee yang akhirnya berada di bawahku. Matanya sudah sayu akibat nafsu dan kelelahan, dadanya bergoyang ke atas-bawah mengikuti gerakanku yang mengguncang tubuhnya. Aku mempercepat gerakanku dengan menahan tanganku di samping tubuh Chika-nee.

"Aku mencintaimu, Chika-nee.. ah!"

"Ahn.. uh! Aku mencintaimu juga, Naru-chan~ ah! Ah!"

"Aku ingin keluar di dalammu.."

"Baiklah, lakukan saja! Ahn! Ah! Ahm! Keluar di dalamku..!"

Aku terus menghujam kejantananku di dalam liang senggama Chika-nee dengan kuat, suara becek antara selangkangan kami sudah terdengar di seluruh gubuk tua itu, bahkan mungkin terdengar sampai luar.

Chika-nee memeluk punggungku dengan erat dan kakinya melingkar di pinggangku. Aku merasa akan sampai pada puncaknya yang ditandai dengan kejantananku yang mulai berkedut, ditambah otot-otot liang senggama Chika-nee yang mengetat hingga terasa menghisap kejantananku ke dalam.

"Agh..! Aku keluar..!" Aku langsung melesaknya ke dalam.

"AAAAHN! Naru-chaaaaan~~!" Chika-nee langsung berteriak begitu cairan putihku kembali memenuhi liang senggamanya.

Aku melepas kejantananku dan cairan itu kembali meluber keluar dari dalamnya, sejak awal aku sadar bahwa kami sudah melewati batas tertentu. Aku keluar di dalam sampai sembilan kali. Aku melihat Chika-nee yang tergeletak di bawahku dengan nafas tersenggal karena kelelahan.

Matanya sayu dan wajah memerah, dia menatapku dengan senyuman lembut. Rambut panjangnya sudah lepek dan berantakan, tubuhnya sudah dipenuhi peluh hingga membuat tubuhnya terlihat mengkilap.

"Akhirnya.. aku sudah lelah.. hah.. hah.." jelasnya yang kembali memelukku dengan penuh kasih sayang, "Jika aku hamil, kau harus bertanggung jawab untuk itu.." wajahnya memandangku dengan raut memohon, aku yang merasa campuk aduk bingung untuk memberi jawaban akhirnya hanya mengangguk saja.

"Kalau begitu, biarkan aku melakukannya.. sa-satu kali lagi.."

"Apa..?"

Aku menempatkan kejantananku kembali tepat di liang senggamanya, Chika-nee terlihat terkejut melihat itu.

"Kau masih ingin melakukannya?!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Normal pov*

Keesokan harinya, Naruto dan Orangtuanya memutuskan kembali ke Tokyo karena liburan musim panas Naruto akan segera berakhir. Mereka berpamitan dengan keluarga Takami setelah selesai mengemas barang ke dalam mobil. Naruto yang sudah duduk di bangku bagian belakang melihat Chika-nee yang tersenyum pasrah akan keberangkatan. Tentu saja, mereka baru saja menjadi sepasang kekasih untuk beberapa minggu. Tapi, bagaimanapun Naruto harus menyelesaikan sekolahnya terlebih dahulu.

Minato mulai tancap gas menjalankan mobilnya, dengan Kushina yang masih melambai pada keluarga Takami tersebut. Rasanya hati Naruto menjadi berat begitu meninggalkan pujaan hatinya ketika mendengar suara mesin.

Karena, sekarang dia memikirkan kemungkinan Chika-nee yang akan hamil anaknya. Entah bagaimana sekarang dia merasa bersalah pada kekasihnya itu, dan merutuki kebodohannya yang menuruti nafsu sesatnya. Sekarang Naruto hanya berharap supaya Chika-nee tidak hamil, meskipun dirinya sendiri tidak yakin.

Semalaman Naruto sudah pusing memikirkan hal ini, diumurnya yang ke-18 dia menghamili teman masa kecil sekaligus wanita yang sudah menjadi pacarnya beberapa minggu lalu. Naruto tidak takut mengaku pada Ibunya yang memang terlihat sangat mendukung, tapi mungkin Ayahnya akan pingsan mendengar berita jika Chika-nee benar-benar hamil oleh dirinya.

"Naruto, apa hubungan dengan Chika-chan semakin dekat, hm?"

Naruto menjadi salah tingkah akan godaan Ibunya, "Y-ya, kurasa begitu.." Naruto langsung mengalihkan pandangannya keluar jendela.

"Kalian sangat dekat, jadi Kaa-chan berharap dapat berita yang bagus.. hehe~" jelas Kushina yang tertawa ambigu dan kembali memandang jalanan di depannya, hal itu membuat Naruto penasaran dengan maksudnya.

Daripada tingkah Ibunya sekarang Naruto mulai memikirkan jika kekasihnya hamil dan dia harus menikahinya, namun Naruto masih menyandang status pelajar sampai bulan april nanti. Jika dia ingin menikahi Chika-nee kemungkinan di bulan april Chika-nee sudah hamil 8 bulan. Naruto kemudian menimbang tawaran gurunya beberapa bulan sebelum uts, dia melihat kedua orangtuanya di depan.

"Kaa-chan, Tou-chan.."

"Ada apa, Naruto?" Tanya Minato sambil tetap melihat ke jalanan.

"Aku sudah memutuskan rencana setelah lulus nanti.."

.

.

Sementara itu, sudah 3 bulan sejak liburan musim panas. Chika-nee kembali pada rutinitas biasanya mengurus penginapan. Sekarang dia membawa nampan makanan ke dapur penginapan setelah selesai melayani pasangan yang berbulan madu. Langkahnya kecil-kecil karena menggunakan kimono. Setelah sampai di dapur dia melihat Ibunya yang duduk di meja makan sambil memakan nasi yang atasnya dituang natto. Chika-nee langsung duduk di bangku karena lemas.

"Hah~" dia menghela napas dan menyandar kepalanya di meja makan, belakangan ini tubuhnya mudah lelah meskipun hanya melakukan pekerjaan ringan.

"Ada apa? Kau terlihat lemas.." Tanya Nyonya Takami pada anak bungsunya yang terlihat tidak baik.

"Ah tidak, aku hanya merasa lelah.." jelas Chika-nee pada Ibunya agar tidak khawatir.

"Benarkah? Apa kau sudah makan dengan cukup?" Jelas Ibunya yang menyodorkan natto itu pada Chika-nee, bau menyengat dari makanan itu tercium oleh Chika-nee yang membuatnya terkejut karena baunya benar-benar menjijikan.

"Hoeek.." Chika-nee langsung menutup mulutnya sendiri.

Bau dari natto membuatnya langsung merasa mual. Chika-nee langsung berlari kecil menuju westafel dapur, dia muntah-muntah di westafel itu dengan susah payah. Ibunya merasa khawatir dan mendekati Chika-nee yang menjadi pucat. Melihat hal ini membuat Ibunya khawatir, wanita parubaya yang mungil itu memegang dahi anak bungsunya untuk memastikan.

"Chika-chan, kau tidak terlihat baik-baik saja.. apa terjadi sesuatu?" Tanya Ibunya.

"Aku tidak yakin, belakangan ini aku sering merasa mual dan pusing.." jelas Chika-nee.

"Lebih baik kau periksa ke dokter, Kaa-chan mulai khawatir.." jelas Ibunya.

Chika-nee menggeleng pelan, "Tidak perlu, aku akan tidur sebentar saja.." jelasnya yang langsung keluar dapur, langkahnya menuju ke atas ke dalam kamarnya.

Wajahnya terlihat guratan khawatir, Chika-nee tidak ingin meyakinkan hal ini. Tapi, dia mulai merasa aneh pada tubuhnya. Kadang kala dia merasa ingin makan sesuatu yang sebelumnya tidak disukai. Kemudian dia merasa sensitif dengan bau menyengat natto, biasanya dia tidak seperi itu. Yang lebih membuatnya curiga, siklus bulanannya tidak kunjung muncul.

Setelah dia mengganti pakaiannya, sekarang di tangannya dia membawa testpack, langkahnya keluar dari kamarnya menuju toilet. Setelah selesai menampung urinnya di wadah kecil, Chika-nee mulai memakai testpack-nya untuk mengetes. Setelah itu, dia melihat hasil testpack-nya yang membuat raut wajahnya terkejut. Terdapat dua garis dari hasil yang dia lihat, menyatakan dugaannya benar. Dia hamil.

Tentu saja, dia menjadi cemas karena hamil diluar nikah. Belum lagi, dia memikirkan Naruto yang masih pelajar. Meskipun, tahun ini adalah tahun terakhir Naruto di bangku SMA, tetap saja wanita ini tidak ingin mengacaukan masa depan Naruto. Chika-nee awalnya merasa tenang karena meminum pil, tapi sepertinya efek pil itu terlambat untuk dikonsumsinya.

Apalagi sekarang sudah lewat 3 bulan, bagaimana dia bisa mengatakannya pada Naruto?

.

.

.

.

.

TBC

Hmm.. maunya END

Tapi, kepanjangan ntar..

Jadi ini belum selesai, chapter 7 akan menjadi chapter terakhir~ EROCC JANJI!