Wish We Could Find The Restart Button

.

Disclaimer : Hikaru no Go by Hotta Yumi & Obata Takeshi, 1998

Pairing: Touya Akira/Fujisaki Akari, Touya Akira/Shindou Hikaru, Shindou Hikaru/OC

Rate : T

Summary:

Pada usia 21, Akira mendapati hidupnya jauh bergeser dari jalur yang ia yakini sejak usia 13. Tanpa gelar dan pendapatan yang layak, dan dengan status sebagai duda, ia harus berjuang sendirian membesarkan putrinya yang baru berusia dua tahun. Kembalinya seorang playboy pemilik empat gelar dalam hidupnya mengubah segalanya.

.


.

Chapter 1. Karena Setitik Nila

Shindou Hikaru dikenal dengan sifat ekspresifnya dan permainannya yang sangat eksperimental dan radikal. Karenanya, ketika ia memasuki usia puber, tidak ada yang heran mendapati bahwa ia menjadi semacam playboy cap kapak.

Rupanya benar anggapan bahwa cewek-cewek tertarik pada bad boy, karena cewek-cewek kanan dan kiri melemparkan diri mereka pada Shindou bak sekawanan ikan di sungai deras yang melontarkan diri mereka ke ujung paruh sang bangau. Atau tepatnya, Shindou yang menyerahkan dirinya di atas piring perak untuk diserbu para gadis, bak seekor domba yang dengan senang hati melemparkan dirinya ke sungai penuh piranha.

Waya meributkan betapa murahannya Shindou, dan bukan sekali ia (dan Isumi) mengomeli pemuda yang mereka anggap adik itu, mengatakan itu tidak baik untuk citranya (dan citra seluruh go-pro secara general, sebenarnya, karena bukankah Shindou dianggap sebagai duta Ki-In untuk mempromosikan go kepada anak muda?). Ditambah lagi, bagaimana jika dengan seluruh petualangan cinta itu, Shindou punya anak di usia belasan—atau lebih buruk: terkena penyakit menular?

Shindou hanya menanggapi petuah kakak angkatnya itu bak angin lalu, mengatakan ia tahu benar konsep safe sex, bahwa di usianya, bereksperimen itu sangat wajar dan sehat selama ia mengerti arti tanggung jawab, dan lain sebagainya. Jika itu tidak mempengaruhi performanya di atas goban, apa hak orang-orang untuk mengurusi kehidupan pribadinya? Faktanya, kemampuan Shindou di atas goban sudah tak bisa dibantah lagi. Pada usia 18, empat tahun setelah menjadi menjadi pro, atau 3 tahun setelah aktif kembali dalam dunia go profesional, ia berhasil menyabet gelar Gosei dan Tengen, ditambah beberapa kemenangan di kejuaraan lain seperti Agon Kiriyama Cup dan Shinjin O. Tentu saja, dengan bekal ketenaran (dan uang hadiah lomba), ditambah tampangnya yang menawan dan tubuh atletis, popularitasnya di hadapan lawan jenis juga makin meningkat.

Atau di hadapan semua gender, tepatnya. Pada tahun yang sama ketika Shindou mengantongi dua gelar, dunia go juga dikejutkan oleh fakta bahwa sang bad boy ternyata panseksual. Setelah putus entah dengan alasan apa dengan cewek ketujuhnya dalam tiga tahun terakhir, ia diketahui dekat dengan seorang model transgender, kemudian berpacaran dengan pelatihnya di gym. Ketika koran-koran gosip meributkan apa mungkin sebenarnya Shindou adalah seorang gay, yang selama ini menjadikan para cewek sebagai samaran, atau mungkin berada pada tahap mempertanyakan jati diri, ia putus dengan cowok terakhirnya dan jalan dengan seorang reporter cantik berusia 25 tahun. Reporter yang sama diketahui terobsesi meliput petualangan cinta Shindou, sehingga modus di balik hubungan mereka agak tidak jelas. Shindou memberikan pernyataan resmi pada pers bahwa ia tak merasa harus dikotak-kotakkan pada satu kategori, jadi meskipun rumor panas masih menyelimuti ke manapun ia pergi, orang tak lagi meributkan dengan siapa (atau gender apa) dia berhubungan.

Dunia go terbagi tiga: mereka yang terpesona pada Shindou dengan segala kilaunya, mereka yang membencinya karena menganggapnya aib, serta mereka yang tidak peduli dengan sisi lain Shindou dan menghormati kemampuannya. Yang manapun, sepertinya mereka menanti-nanti kapan saatnya sang merak yang berjalan anggun dengan memamerkan seluruh kemegahannya itu tersandung. Entah terkena penyakit, terlibat skandal cinta yang menghancurkan karirnya, atau menghamili seorang gadis, salah satu nasib itu pasti akan menjemputnya cepat atau lambat.

Orang bilang, justru yang berbahaya adalah orang yang diam-diam menghanyutkan. Ketika semua orang menyangka Shindou-lah sang bom waktu, skandal justru muncul dari orang yang tak disangka-sangka. Siapa lagi kalau bukan sang pangeran emas dunia go: Touya Akira.

Reputasi Touya Akira di dunia go setara atau bahkan melebihi Shindou, walau namanya lebih banyak beredar di artikel dan liputan media massa yang bersifat serius ketimbang kolom gosip dan infotainment seperti rivalnya itu, sehingga orang awam kurang mengenalnya. Menyusul gelar Ouza yang didapatkannya pada ulang tahunnya yang ke-18, pada bulan Agustus tahun berikutnya, ia merebut satu dari tiga gelar paling prestisius, yakni Meijin. Di luar go, prestasinya juga cemerlang, dibuktikan oleh keberhasilannya menjadi mahasiswa universitas negeri paling bergengsi di Jepang dengan nilai terbaik di fakultasnya pada bulan April tahun yang sama. Ia juga menguasai tiga bahasa selain Jepang, dan acap ikut serta dalam pertandingan internasional, walau belum berkesempatan menang. Kekurangannya dari sang rival hanya satu: ia adalah potret pemuda teladan yang takkan mungkin menciptakan skandal.

Atau tepatnya belum.

Pada tahun yang sama ketika Shindou mengguncang dunia go (dan dunia infotainment) dengan putus dari sang reporter, dan menjalin hubungan dengan seorang cowok—kali ini mantan pemain basket profesional, yang kebetulan juga merangkap sebagai anggota sebuah boyband ternama—dunia go diguncang oleh skandal Touya Akira. Tak lain, sang pangeran diketahui menghamili seorang gadis. Dan yang lebih menghebohkan, gadis ini adalah seorang Fujisaki Akari, aktris muda pendatang baru, yang juga dikenal sebagai teman masa kecil sekaligus salah satu mantan Shindou.

Dunia go heboh, tentu saja. Pasalnya, hubungan Touya dan Fujisaki tak pernah terekspos ke publik. Jangan kata para senior, bahkan pro muda yang sebaya dengannya tidak tahu-menahu. Oh, bahkan Shindou, sebagai rival sekaligus sahabat, pun tidak tahu mengenai hubungan mereka.

Selama ini semua orang menganggap Touya sang anak alim tak punya ketertarikan secara romantis maupun seksual dengan siapapun. Ia hanya fokus pada go dan dunia akademik, dan sepertinya hanya akan bisa menikah melalui omiai. Seorang calon istri dari keluarga terpandang sudah disiapkan untuknya jika ia menginjak usia 21, kata sebuah sumber yang terpercaya. Pertunangan yang bagaimanapun tak bisa terlaksana, karena Touya memutuskan untuk bertanggung jawab dan menikahi Fujisaki Akari. Saat itu usianya baru 18 tahun 9 bulan.

Tak terperi kemarahan Touya Sr. mendapati skandal ini. Tak perlu dijelaskan, Touya terusir dari rumah sekaligus dicoret dari daftar pewaris. Masih untung sang Meijin Ad Honorem tidak punya campur tangan dalam urusan go profesional, sehingga bahkan walau di tengah badai itu, Touya masih dapat mempertahankan karirnya. Tahun itu, ketika memasuki Liga Kisei, ia sudah menyandang status baru sebagai pria yang sudah menikah, beserta nama baru: Fujisaki Akira.

Biar kata tergolong sebagai selebriti, keluarga Fujisaki hidup dengan sederhana. Akari kehilangan banyak tawaran main film setelah skandal kehamilannya, serta harus menghadapi beberapa tuntutan hukum karena dianggap melanggar kontrak, sehingga Akira harus menopang keuangan mereka. Sayangnya, di tengah badai itu, Akira kehilangan gelarnya sebagai Ouza. Sangat beruntung selama ini ia tak banyak membelanjakan penghasilannya, sehingga setidaknya mereka bisa hidup layak dan ia juga bisa membiayai segala urusan kehamilan dan persalinan istrinya. Putri mereka lahir pada awal tahun baru, tidak sampai empat bulan setelah mereka menikah. Meneruskan tradisi nama mereka, bayi kecil itu dinamakan Fujisaki Hikari.

Kehidupan tenang keluarga Fujisaki, bagaimanapun, tidak bertahan lama. Orang-orang curiga hubungan mereka tidak didasari cinta, karena tak sampai setahun setelah menikah, mereka dikabarkan berpisah. Akari memutuskan mengadu nasib dengan merambah dunia seni peran internasional, sehingga meninggalkan putrinya untuk diurus sang mantan suami. Harga diri Akira terlalu besar untuk memohon agar ayahnya sudi kembali menerimanya dan putrinya. Alhasil, pada usia 19 tahun 5 bulan, Akira menyandang status sebagai seorang duda, tanpa nama keluarga yang jelas, serta hanya mendiami sebuah apartemen bersama putrinya yang baru berusia 4 bulan.

Sayangnya, mengurus anak dengan status sebagai single father bukan persoalan mudah, serta memakan begitu banyak waktu dan perhatian Akira. Dengan kecewa, ia harus menerima bahwa go tidak bisa menjadi prioritasnya. Tahun itu, ia kehilangan gelar Meijin-nya, tak bisa menjadi challenger pada turnamen apapun, bahkan tersingkir dari babak penyisihan beberapa turnamen sebelum mencapai Liga. Tawaran mengajar dan mengisi seminar untuknya kian menipis sejak skandal yang menimpanya, dan jumlah yang sedikit itu pun harus ia tolak karena tak bisa meninggalkan putrinya. Tak urung, kondisi ekonomi mereka pun mengalami keterbatasan, sehingga ia harus menjual apartemennya dan pindah ke apartemen lain yang lebih kecil. Masih untung ia sudah tak lagi kuliah sejak Akari melahirkan. Saat itu, ia hanya tak bisa berkonsentrasi kuliah selagi harus membantu Akari mengurus bayinya, sehingga memutuskan mengambil cuti sementara. Tapi sekarang, ketika ia tak bisa lagi membayar uang kuliah, rasanya ia harus drop out.

Meski demikian, mereka hidup dengan bahagia—atau setidaknya, begitu menurut pendapat Akira. Bagaimanapun situasi yang melatarbelakangi kelahirannya, ia menyayangi Hikari sepenuh hati dan bersumpah akan berusaha sebaik mungkin untuk membesarkan putrinya. Ia mungkin tidak punya gelar, bahkan juga tidak punya keluarga, tapi dengan Hikari di pelukannya, semua terasa sempurna.

Atau hampir sempurna.

Tak bisa tidak, ia menyesalkan hilangnya satu hal dari semua skandalnya dengan Akari. Bukan hilangnya namanya, atau gelarnya, atau hubungannya dengan sang ayah. Tapi satu: persahabatannya dengan Shindou. Rivalnya itu membencinya, sangat, sejak ia tahu mengenai hubungan tersembunyi Akira dan Akari. Ia tidak hadir pada pernikahan mereka, juga tak menjawab bahkan walau Akira berulang kali mengatakan maaf. Dengan jatuhnya performa Akira di dunia go, serta menanjaknya karir Hikaru, jarak di antara mereka kian lebar. Rasanya tak pada tempatnya jika ia masih menganggap sang pemegang tak tanggung-tanggung empat gelar itu sebagai rival.

Apapun, yang sudah terjadi biarlah terjadi. Akira harus bersyukur, Kami masih mencintainya dengan memberinya Hikari.

.


.

Notes:

Aku ga tau, kenapa aku post ini padahal belum selesai. Padahal Kelopak Wisteria Kering belum selesai, maksudnya. Ini file udah lama ngajedog di komputerku, jadi aku upload aja deh hahahaa

Silakan yang mau R&R